Anda di halaman 1dari 20

“ HIPERTENSI “

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PENDERITA HIPERTENSI


DENGAN KEPATUHAN MELAKSANAKAN PENGOBATAN HIPERTENSI DI
PUSKESMAS CIMAHI SELATAN

Dosen : Drs.Refdanita, M.Si

Dibuat Oleh :

Ayu Lestari (16334745)

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI FARMASI
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan
rahmat,serta penyertaan-Nya,sehingga makalah “HIPERTENSI” ini dapat kami selesaikan.
Dalam penulisan makalah ini kami berusaha menyajikan bahan dan bahasa yang
sederhana,singkat serta mudah dicerna isinya oleh para pembaca.kami menyadari bahwa makalah
ini jauh dari sempurna serta masih terdapat kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan makalah
ini.Maka kami berharap adanya masukan dari berbagai pihak untuk perbaikan dimasa yang akan
mendatang.
Akhir kata,semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dipergunakan dengan
layak sebagaimana mestinya.

Jakarta , 22 Maret 2018

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan masalah yang ditemukan pada
masyarakat baik di negara maju maupun berkembang termasuk Indonesia. Hipertensi merupakan
suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan
diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg. Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis
yaitu hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder
yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, dan gangguan
anak ginjal. Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang terus
menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu,
hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala (Sidabutar,
2009).
Berdasarkan data dari WHO tahun 2000, menunjukkan sekitar 972 juta orang atau 26,4%
penduduk dunia menderita hipertensi, dengan perbandingan 50,54% pria dan 49,49 % wanita.
Jumlah ini cenderung meningkat tiap tahunnya (Ardiansyah, 2012). Data statistic dari Nasional
Health Foundation di Australia memperlihatkan bahwa sekitar 1.200.000 orang Australia (15%
penduduk dewasa di Australia) menderita hipertensi. Besarnya penderita di 1 negara barat seperti,
Inggris, Selandia Baru, dan Eropa Barat juga hampir 15% (Maryam, 2008). Di Amerika Serikat
15% ras kulit putih pada usia 18-45 tahun dan 25-30% ras kulit hitam adalah penderita hipertensi
(Miswar, 2004).
Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, prevalensi hipertensi di Indonesia tahun
2004 sekitar 14% dengan kisaran 13,4 - 14,6%, sedangkan pada tahun 2008 meningkat menjadi 16-
18%. Secara nasional Provinsi Jawa Tengah menempati peringkat ke-tiga setelah Jawa Timur dan
Bangka Belitung. Data Riskesdas (2010) juga menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian
nomor tiga setelah stroke dan tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab
kematian pada semua umur di Indonesia (Depkes, 2010).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Cimahi, kasus hipertensi
dibeberapa Puskesmas yang ada di Kota Cimahi menunjukkan peningkatan, dari 12 Puskesmas
yang ada di Kota Cimahi, ada 8 Puskesmas yang angka kejadian hipertensinya meningkat yaitu
Puskesmas Cigugur Tengah, Cimahi Selatan, Cipageran, Padasuka, Cibeureum, Cimahi Utara,
Melong Asih, dan Leuwigajah. Dari 8 Puskesmas tersebut, Puskesmas yang paling tinggi
mengalami peningkatan kasus hipertensi dalam kurun waktu satu tahun adalah Puskesmas Cimahi
Selatan. Pada tahun 2010 kasus hipertensi di Puskesmas Cimahi Selatan sebanyak : 2.396 kasus dan
pada tahun 2011 meningkat menjadi 4.562 kasus, dalam kurun waktu kasus hipertensi di
Puskesmas Cimahi Selatan mengalami peningkatan sebanyak : 2.166 kasus. Berdasarkan hasil studi
pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada 15 orang penderita hipertensi, didapatkan hasil bahwa
9 orang penderita hipertensi masih kurang patuh dalam melakukan pengobatan, mereka mengatakan
bahwa mereka melakukan kontrol dan meminum obat jika mereka mengalami gejala hipertensi
seperti : pusing, nyeri di tengkuk dan mengalami sulit tidur, namun jika gejala berkurang mereka
menghentikan pengontrolan dan tidak minum obat lagi, mereka menghentikan pengobatan atas
keinginan sendiri tanpa mengkolsultasikan terlebibih dahulu kepada dokter atau petugas kesehatan,
jika mereka merasa pusing mereka hanya menggunakan obat warung untuk menghilangkan gejala
pusing tersebut. Dari 9 orang penderita hipertensi yang tidak patuh melaksanakan pengobatan, ada 4
orang yang sudah lebih dari 3 bulan tidak melakukan kontrol dan tidak meminum obat. Mereka
mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui berapa tekanan darah yang dikatakan dan tidak
mengetahui komplikasi yang dapat terjadi akibat hipertensi.
Mereka hanya mengetahui bahwa mereka harus mengurangi makanan yang tinggi
garam dan tidak mengetahui hal apa lagi yang harus dilakukan untuk mengendalikan tekanan
darahnya. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian masalah :
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan
Pengobatan Hipertensi Di Puskesmas Cimahi Selatan Tahun 2012 “.
BAB II
TINJAUN PUSTAKA

2.1. Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas
140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg ( Brunner & Suddart, 2002 ). Berdasarkan
penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua macam yaitu hipertensi primer dan sekunder.Hipertensi
primer adalah hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya, sedangkan hipertensi
sekunder adalah hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain seperti gagal jantung, gagal ginjal ,
atau kerusakan sistem hormon tubuh.Faktor resiko yang mendorong terjadinya hipertensi adalah
genetik, stress, obesitas, konsumsi makanan yang tinggi garam, merokok, konsumsi alkohol dan
kurang olahraga ( Muhammadun, 2010 ).
Penyakit hipertensi terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, tidak hanya di
Indonesia, namun juga di dunia. Sebanyak 1 milliar orang di dunia atau 1 dari 4 orang dewasa
menderita penyakit hipertensi. Bahkan diperkirakan jumlah penderita hipertensi akan meningkat
menjadi 1,6 milliar menjelang tahun 2025. Hampir di semua Negara kurang lebih 10-30%
penduduk dewasa mengalami hipertensi.
Hipertensi sangat erat hubungannya dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Gaya hidup
sangat berpengaruh pada bentuk perilaku atau kebiasaan seseorang yang mempunyai pengaruh
positif maupun negatif pada kesehatan. Hipertensi belum banyak diketahui sebagai penyakit yang
berbahaya, padahal hipertensi termasuk penyakit pembunuh diam-diam, karena penderita hipertensi
merasa sehat dan tanpa keluhan berarti sehingga menganggap ringan penyakitnya. Sehingga
pemeriksaan hipertensi ditemukan ketika dilakukan pemeriksaan rutin saat pasien datang dengan
keluhan lain. Dampak gawatnya hipertensi ketika telah terjadi komplikasi, jadi baru disadari ketika
telah menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung koroner, fungsi ginjal,
gangguan fungsi stroke. Hipertensi pada dasarnya mengurangi harapan hidup para penderitanya.
Penyakit ini menjadi muara beragam penyakit degeneratif yang bisa mengakibatkan kematian.
Hipertensi selain mengakibatkan angka kematian yang tinggi juga berdampak kepada mahalnya
pengobatan dan perawatan yang harus ditanggung para penderitanya. Perlu pula diingat hipertensi
berdampak pula bagi penurunan kualitas hidup. Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan
tidak mendapatkan pengobatan secara rutin dan pengontrolan secara teratur, maka hal ini akan
membawa penderita ke dalam kasus-kasus serius bahkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus
menerus mengakibatkan kerja jantung ekstra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadi kerusakan
pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata (Wolff, 2006).
2.2 Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan gaya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah.
Tekanan ini bervariasi sesuai dengan pembuluh darah terkait dan denyut jantung. Tekanan darah
paling tinggi terdapat pada arteri-arteri besar yang meninggalkan jantung dan secara bertahap
menurun sampai ke arteriol. Akhirnya setelah mencapai kapiler, tekanan ini sedemikian rendah
sehingga tekanan ringan dari luar akan menutup pembuluh darah ini dan mendorong darah keluar.
Tekanan darah hampir selalu dinyatakan dalam millimeter air raksa (mmHg) karena manometer air
raksa telah dipakai sejak lama sebagai rujukan baku untuk pengukuran tekanan. Sebenarnya tekanan
darah berarti daya yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh.
Terkadang tekanan dinyatakan dalam sentimeter air (cm H2O) (Guyton & Hall, 2008:172).
Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan cara langsung maupun tidak langsung.
Cara langsung pengukuran tekanan darah dilakukan dengan memasukkan kateter arteri ke dalam
arteri kemudian diukur tekanannya. Sedangkan cara tidak langsung dilakukan dengan menggunakan
sphygmomanometer dan stetoskop (Smeltzer & Bare, 2002:731). Cara pengukuran tekanan darah
secara tidak langsung dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
A. Cara Palpasi (metode Riva Rocci)
Pada metode ini semua pakaian harus dibebaskan dari lengan atas dan manset dipasang
pada lengan. Saluran karet dari manset kemudian dihubungkan dengan manometer. Kemudian
raba arteri radialis pada pergelangan tangan dan tekanan dalam manset kemudian diturunkan
memutar tombol pada pompa perlahan-lahan yaitu dengan kecepatan sekitar 3 mm/detik. Ketika
denyut arteri radialis teraba kembali, itu menunjukkan tekanan darah sistolik. Metode palpasi
harus dilakukan sebelum melakukan auskultasi untuk menentukan tinggi tekanan sistolik yang
diharapkan. Palpasi dilakukan bila tekanan darah sulit didengarkan tetapi dengan palpasi tekanan
diastolik tidak dapat ditentukan dengan akurat (Smeltzer & Bare, 2002:732).
B. Cara Auskultasi
Metode standar dalam pengukuran tekanan darah seseorang dengan metode auskultasi
pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Korotkov pada tahun 1905. Metode
auskultasi dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolik dengan lebih akurat. Untuk
mengauskultasi tekanan darah, ujung stetoskop yang berbentuk corong atau diafragma diletakkan
pada arteri brakialis, tepat di bawah lipatan siku (rongga antekubital), yang merupakan titik
dimana arteri brakialis muncul di antara kedua kaput otot biseps. Dalam cara auskultasi ini harus
diperhatikan bahwa terdapat suatu jarak paling sedikit 5 cm antara manset dan tempat
meletakkan stetoskop. Manset dikempiskan dengan kecepatan 2 sampai 3 mmHg per detik,
sementara kita mendengarkan awitan bunyi berdetak yang menunjukkan tekanan darah sistolik.
Bunyi tersebut yang dikenal sebagai bunyi Korotkoff, terjadi bersamaan dengan detak jantung
dan akan terus terdengar dari arteri brakialis sampai tekanan dalam manset turun di bawah
tekanan diastolik. Pada titik tersebut bunyi akan menghilang. Dalam praktik sebenarnya bunyi
menjadi lebih sember (karakternya berubah) saat distolik tercapai dan kemudian menghilang
sekitar 10 mmHg di bawah tekanan diastolik. Hilangnya bunyi sangat dekat dengan tekanan
diastolik yang sebenarnya (Smeltzer & Bare, 2002:732).
C. Cara Osilasi
Metode ini dilakukan dengan cara melihat osilasi air raksa pada manometer. Manset
dipompa sampai tekanannya 10-20 mmHg melebihi tekanan sistolik yang ditentukan dengan
metode Riva Rocci. Tekanan manset diturunkan perlahan-lahan sambil memperhatikan air raksa
manometer. Saat timbulnya osilasi pada manometer menunjukkan tekanan sistolik. Tekanan
manset terus diturunkan sampai osilasi menghilang yang menunjukkan tekanan diastole
(Smeltzer & Bare, 2002:732).

2.3 Manifestasi Klinis Hipertensi


Secara umum pasien dapat terlihat sehat atau beberapa di antaranya sudah mempunyai
faktor risiko tambahan, tetapi kebanyakan asimptomatik. Menurut Elizabeth J. Corwin (2005),
manifestasi klinis yang timbul setelah mengetahui hipertensi bertahun-tahun antara lain:
a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat tekanan darah
intrakranium.
b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.
c. Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf.
d. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus.
e. Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.
2.4 Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi tekanan darah didasarkan pada The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) untuk pasien dewasa (umur
= 18 tahun) berdasarkan rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada dua atau lebih
kunjungan klinis (Chobaniam AV et al, 2003). Klasifikasi tekanan darah mencakup empat kategori,
dengan nilai normal pada tekanan darah sistolik (TDS) <120 mmHg dan tekanan darah diastolik
(TDD) <80 mmHg. Prehipertensi tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi mengidentifikasi
pasien-pasien yang tekanan darahnya cenderung meningkat ke klasifikasi hipertensi di masa yang
akan datang.
2.5 Faktor Risiko Hipertensi
Faktor risiko yang dapat mempengaruhi hipertensi dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol
1. Umur
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang semakin besar risiko
terserang hipertensi. Umur lebih dari 40 tahun mempunyai risiko terkena hipertensi
(Yundini, 2006). Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih besar
sehingga prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40%
dengan kematian sekitar 50% di atas umur 60 tahun (Nurkhalida, 2003). Tekanan darah
sedikit meningkat dengan bertambahnya umur merupakan hal yang wajar. Hal ini
disebabkan oleh perubahan alami pada jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi
bila perubahan tersebut disertai faktor-faktor lain maka bisa memicu terjadinya
hipertensi (Staessen A Jan et al, 2003).
2. Jenis kelamin
Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat angka yang
cukup bervariasi. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4% perempuan,
sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7%
wanita (Yundini, 2006). Ahli lain mengatakan pria lebih banyak menderita hipertensi
dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan darah sistolik
(Nurkhalida, 2003). Sedangkan menurut Arif Mansjoer, dkk, pria dan wanita menapouse
mempunyai pengaruh yang sama untuk terjadinya hipertensi. Riwayat Keluarga
Menurut Nurkhalida, orang-orang dengan sejarah keluarga yang mempunyai hipertensi
lebih sering menderita hipertensi. Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi
(faktor keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi terutama pada hipertensi
primer.
3.Keluarga
Keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko
hipertensi 2-5 kali lipat (Chunfang Qiu et al, 2003). Genetik Peran faktor genetik
terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi
lebih banyak pada kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel
telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial)
apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan
menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan
timbul tanda dan gejala (Chunfang Qiu et al, 2003). Faktor yang dapat diubah/dikontrol
Merokok Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Selain dari lamanya, risiko
merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok yang dihisap per hari. Merokok lebih
dari satu pak rokok sehari berisiko 2 kali lebih rentan mengalami hipertensi dari pada
mereka yang tidak merokok (Price & Wilson, 2006). Nikotin dan karbon monoksida
yang diisap melalui rokok, masuk ke dalam aliran darah dan merusak lapisan endotel
pembuluh darah arteri serta mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi
(Nurkhalida, 2003).
4. Konsumsi garam
Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme timbulnya hipertensi.
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena menarik cairan di luar sel
agar tidak keluar, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Seseorang
yang mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang ditemukan tekanan darah rata-rata
rendah, sedangkan asupan garam sekitar 7-8 gram tekanan darahnya rata-rata lebih
tinggi. Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110
mmol natrium atau 2400 mg/hari (Nurkhalida, 2003).
5. Konsumsi lemak jenuh
Konsumsi lemak jenuh meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan
kenaikan tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam
makanan yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh
secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain yang
bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah (Sheps, 2005).
6. Konsumsi alkohol
Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Konsumsi alkohol harus diwaspadai
karena survei menunjukkan bahwa 10% kasus hipertensi berkaitan dengan konsumsi
alkohol (Khomsan, 2003). Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih
belum jelas. Namun diduga, peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel
darah merah serta kekentalan darah merah berperan dalam menaikkan tekanan darah
(Nurkhalida, 2003).
7. Kurang Olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena olahraga
teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah.
Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita hipertensi karena
meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung
mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus
bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung
harus memompa, makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri (Sheps, 2005).
8. Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis,
yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila stress menjadi
berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi. Stres dapat
merangsang kelenjar adrenal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung
berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika
stres berlangsung cukup lama, tubuh berusaha mengadakan penyesuaian
sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis. Gejala yang muncul dapat
berupa hipertensi atau penyakit maag (Gunawan, 2005).
9. Obesitas
Obesitas merupakan salah satu faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi. Pada
obesitas tahanan perifer berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis
meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah. Obesitas meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak
darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini
berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat
sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri. Kelebihan berat badan juga
meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan
insulin menyebabkan tubuh menahan natrium dan air (Sheps, 2005; Yundini, 2006).
2.6 Patofisiologi Hipertensi
Beberapa faktor dapat mempengaruhi konstriksi dan relakasi pembuluh darah yang
berhubungan dengan tekanan darah. Bila seseorang emosi, maka sebagai respon korteks adrenal
mengekskresikan epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi. Selain itu, korteks adrenal
mengekskresi kortisol dan steroid lainnya yang bersifat memperkuat respon vasokonstriktor
pembuluh darah. Vasokonstriksi menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal sehingga terjadi
pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah oleh enzim
ACE (Angiotensin Converting Enzyme) menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan
retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua
faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Rohaendi, 2008).
2.7 Komplikasi Hipertensi
Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endotel arteri dan
mempercepat aterosklerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk rusaknya organ tubuh seperti
jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh darah besar. Bila penderita hipertensi memiliki faktor-
faktor resiko kardiovaskular lain, maka akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat
gangguan kardiovaskularnya tersebut (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan, 2006).
Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat hipertensi antara lain:
A. Stroke
Stroke dapat terjadi akibat perdarahan di otak, atau akibat embolus yang terlepas dari
pembuluh darah non otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi
kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan
sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang. Arteri-arteri otak
yang mengalami ateroskelosis dapat melemah dan kehilangan elastisitas sehingga
meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma.
B. Infark miokardium
Penyakit ini dapat terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerotik tidak dapat
menyuplai darah yang cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang
menghambat aliran darah melalui arteri koroner. Karena hipertensi kronik dan hipertrofi
ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat
terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Hipertrofi ventrikel dapat menimbulkan
perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia,
hipoksia jantung, dan peningkatan pembentukan pembekuan darah.

2.8 Penatalaksanaan Hipertensi


Penatalaksanaan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dapat
dilakukan dengan dua jenis yaitu:
A. Penatalaksanaan Farmakologis
1. Diuretik
Obat-obatan jenis ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh melalui urin.
Dengan demikian, volume cairan dalam tubuh berkurang sehingga daya pompa jantung
lebih ringan (Dalimartha et al, 2008). Menurut Hayens (2003), diuretik menurunkan tekanan
darah dengan cara mengurangi jumlah air dan garam di dalam tubuh serta melonggarkan
pembuluh darah. Sehingga tekanan darah secara perlahan-lahan mengalami penurunan.
Selain itu, jumlah garam di dinding pembuluh darah menurun sehingga menyebabkan
vasodilatasi. Kondisi ini membantu tekanan darah menjadi normal kembali.
2. Penghambat adrenergik (ß-bloker)
Mekanisme kerja antihipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa
jantung. Jenis beta bloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap
gangguan pernapasan seperti asma bronkial (Lenny, 2008). Pemberian ß-bloker tidak
dianjurkan pada penderita gangguan pernapasan seperti asma bronkial karena pada
pemberian ß-bloker dapat menghambat reseptor ß 2 di jantung lebih banyak dibandingkan
reseptor ß 2 di tempat lain. Penghambatan ß 2 ini dapat membuka pembuluh darah dan
saluran udara (bronki) yang menuju ke paru-paru. Sehingga penghambatan ß 2 dari aksi
pembukaan ini dengan ß-bloker dapat memperburuk penderita asma (Hayens, 2003).
 Vasodilator
Agen vasodilator bekerja langsung pada pembuluh darah dengan merelaksasi otot
pembuluh darah. Contoh yang termasuk obat jenis vasodilator adalah prasosin dan
hidralasin. Kemungkinan yang akan terjadi akibat pemberian obat ini adalah sakit kepala
dan pusing (Dalimartha et al, 2008). Penghambat enzim konversi angiotensin (ACE
inhibitor) Obat ini bekerja melalui penghambatan aksi dari sistem renin-angiotensin.
Efek utama ACE inhibitor adalah menurunkan efek ACE. Kondisi ini akan menurunkan
perlawanan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah (Hayens, 2003).
 Antagonis Kalsium
Antagonis kalsium adalah sekelompok obat yang berkerja mempengaruhi jalan masuk
kalsium ke sel-sel dan mengendurkan otot-otot di dalam dinding pembuluh darah
sehingga menurunkan perlawanan terhadap aliran darah dan tekanan darah. Antagonis
kalsium bertindak sebagai vasodilator (Hayens, 2003). Golongan obat ini menurunkan
daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang
termasuk golongan obat ini adalah nifedipin, diltiasem dan verapamil. Efek samping yang
mungkin timbul adalah sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah (Lenny, 2008).
B. Penatalaksanaan Non Farmakologis
Menurut Dalimartha et al (2008), upaya pengobatan hipertensi dapat dilakukan
dengan pengobatan non farmakologis, termasuk mengubah gaya hidup yang tidak sehat.
Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang sangat penting untuk mencegah tekanan
darah tinggi dan merupakan bagian yang penting dalam penanganan hipertensi (Ditjen
Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan, 2006). Penatalaksanaan non farmakologis
hipertensi antara lain:
1. Menurunkan faktor risiko yang menyebabkan aterosklerosis seperti berhenti merokok,
pengurangan asupan makanan berlemak, dan mengurangi asupan alkohol (Nurkhalida,
2003).
2. Meningkatkan olahraga dan aktifitas fisik seperti jogging dan berenang. Dianjurkan
untuk olahraga teratur, minimal 3 kali seminggu, dengan demikian dapat menurunkan
tekanan darah walaupun berat badan belum tentu turun (Nurkhalida, 2003). Olahraga
dapat menimbulkan perasaan
santai dan mengurangi berat badan sehingga dapat menurunkan tekanan darah (Gunawan,
2005).
3. Perubahan pola makan
a. Mengurangi asupan garam dengan memperbanyak makanan segar, mengurangi
makan yang diproses, dan memilih produk dengan kandungan natrium rendah (Sheps,
2005).
b. Diet rendah lemak jenuh yang dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi
lemak tidak jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan
lain yang bersumber dari tanaman, Memperbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan dan
susu rendah lemak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa mineral
bermanfaat mengatasi hipertensi. Kalium dibuktikan erat kaitannya dengan penurunan
tekanan darah arteri dan mengurangi risiko terjadinya stroke. Selain itu, mengkonsumsi
kalsium dan magnesium bermanfaat dalam penurunan tekanan darah. Banyak konsumsi
sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung banyak mineral dapat
mengatasi hipertensi (Khomsan, 2003; Nurkhalida, 2003). Menghilangkan stres. Stres
menjadi masalah bila tuntutan dari lingkungan sudah melebihi kemampuan kita untuk
mengatasinya. Perubahan pola hidup dengan membuat perubahan dalam kehidupan rutin
sehari-hari dapat meringankan beban stres (Sheps, 2005).
BAB III
DATA DAN PEMBAHASAN
3.1 Metode

Penelitian ini menggunakan metode deksriptif korelasi yaitu suatu metode penelitian yang
dilakukan denngan tujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap penderita
hipertensi dengan kepatuhan melaksanakan pengobatan hipertensi di Puskesmas Cimahi Selatan
Tahun 2012. Waktu penelitian dilakukan dari bulan mei sampai dengan bulan juni 2012. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah kros seksional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua
kunjungan kasus hipertensi selama tahun 2011 yaitu berjumlah 4.562 kasus. Sampel yang
digunakan adalah 98 orang penderita hipertensi. Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan cara
accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dengan tehnik
wawancara dan Observasi.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian masalah :
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan
Pengobatan Hipertensi Di Puskesmas Cimahi Selatan Tahun 2012 “.

3.2 Hasil Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen. Tehnik dalam analisis ini adalah tabulasi silang dengan uji Chi Square dengan
alpha = 0,05.
1.Hubungan Pengetahuan Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan Pengobatan
Hipertensi.

Tabel 1. Hubungan Pengetahuan Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan


Pengobatan Hipertensi Di Puskesmas Cimahi Selatan Tahun 2012.
Pengetahuan Kepatuhan Melaksanakan Total Nilai P
Pengobatan Hipertensi

Patuh Tidak patuh


n % n % n %
Kurang 10 32,3 21 67,7 31 100 0,031
Cukup 9 39,1 60,9 14 23 100

Baik 27 61,4 17 38,6 44 100


Jumlah 46 46,9 52 53,1 98 100
Dari tabel diatas ternyata ada sebanyak 21 orang penderita hipertensi (67,7%) yang
pengetahuannya kurang serta tidak patuh dalam melaksanakan pengobatan hipertensi dan
sebanyak 17 orang penderita hipertensi (38,6%) yang pengetahuannya baik serta tidak patuh dalam
melaksanakan pengobatan hipertensi. Hasil uji statistik pada a = 0,05 ternyata ada hubungan
antara pengetahuan penderita hipertensi dengan kepatuhan melaksanakan pengobatan hipertensi ( p
< 0,05 ).

2.Hubungan Sikap Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan Pengobatan Hipertensi

Tabel 2. Hubungan Sikap Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan


Pengobatan Hipertensi Di Puskesmas Cimahi Selatan Tahun 2012
Kepatuhan Melaksanakan Total Nilai P
Pengobatan Hipertensi
Sikap
Patuh Tidak patuh
n % n % n %
Positif 31 59,6 21 40,4 52 100
Negatif 15 32,6 31 67,4 46 100 0,031
Jumlah 46 46,9 52 53,1 98 100

Dari tabel 2 ternyata ada sebanyak 31 orang penderita hipertensi (67,4%) yang memiliki sikap
negative serta tidak patuh dalam melaksanakan pengobatan hipertensi, dan ada sebanyak 21 orang
penderita hipertensi (40,4%) yang memiliki sikap positif serta tidak patuh dalam melaksanakan
pengobatan hipertensi. Hasil uji statistik pada a = 0,05 ternyata ada hubungan antara sikap
responden dengan kepatuhan melaksanakan pengobatan hipertensi ( P < 0,05 )

3.2 Pembahasan

1.Hubungan Pengetahuan Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan 1.Hubungan


Pengetahuan Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan Pengobatan Hipertensi Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang pengetahuannya kurang, tidak patuh
melaksanakan pengobatan hipertensi.Kemudian dari hasil analisis data dengan menggunakan uji
statistik chi square pada a=0,05, didapatkan nilai p = 0,031 artinya bahwa ada hubungan
pengetahuan penderita hipertensi dengan kepatuhan melaksanakan pengobatan hipertensi. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan tentang hipertensi maka kepatuhan dalam
melaksanakan pengobatan hipertensinya akan semakin baik. Sebaliknya jika pengetahuan penderita
hipertensi tentang hipertensi kurang,maka kepatuhan dalam melaksanakan pengobatan
hipertensinya akan semakin kurang atau bahkan tidak patuh. Penelitian ini diperkuat dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Agus ( 2006), yang meneliti tentang hubungan tingkat pengetahuan
tentang hipertensi dengan kepatuhan pasien dalam melaksanakan pengobatan hipertensi.
Berdasarkan hasil penelitiannya pada 44 responden didapatkan sebagian besar responden ( 59,1%)
memliki tingkat pengetahuan tinggi dan sebesar 68,2% responden patuh dalam melaksanakan
pengobatan.Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang
hipertensi dengan kepatuhan pasien melaksanakan pengobatan hipertensi.
Pemahaman yang menyeluruh mengenai penyakit hipertensi, cara kerja obat ,kebiasaan
hidup dan mengontrol hipertensi secara teratur sangatlah penting diketahui oleh penderita
hipertensi, karena ketidakpatuhan pada program terapi merupakan masalah besar bagi penderita
hipertensi. Konsep bahwa penyakit hipertensi hanya dapat di kontrol dan tidak dapat disembuhkan
penting untuk diketahui oleh pasien. Bimbingan dan penyuluhan secara terus menerus diperlukan
agar penderita hipertensi patuh melaksanakan pengobatan ( Brunner & Suddart, 2002 ). Pemahaman
yang menyeluruh terhadap penyakit hipertensi diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan pasien
dalam melaksanakan pengobatan hipertensi.
Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sebelum seseorang
mengadopsi perilaku baru, ia harus lebih tahu terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut
bagi dirinya ( Notoatmodjo, 2007). Maka kepatuhan penderita hipertensi dalam melakukan
pengobatan akan dapat dipertahankan dalam jangka waktu lama (bersifat langgeng), jika penderita
hipertensi mempunyai pengetahuan yang baik terhadap hipertensi.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Eliana, Khasanah & Pertiwi (2007) menjelaskan
teori yang dikemukakan oleh Wibowo ( 1999) bahwa ketaatan atau kepatuhan dalam melakukan
pengobatan dan kontrol kesehatan pada individu salah satunya disebabkan karena adanya
pemahaman pada diri individu tersebut mengenai resiko penyakit dan tujuan pengobatan. Hal ini
terbukti, bahwa penderita hipertensi di Puskesmas Cimahi Selatan yang mempunyai pengetahuan
kurang sebagian besar ( 67,7%) tidak patuh melakukan pengobatan hipertensi dan sebagian besar
(61,4%) penderita hipertensi yang mempunyai pengetahuan baik, patuh melakukan pengobatan
hipertensi. Maka dapat disimpulkan bahwa kepatuhan penderita hipertensi di Puskesmas Cimahi
Selatan dalam melakukan pengobatan hipertensi salah satunya dipengaruhi oleh pengetahuan
mereka terhadap penyakitnya. Oleh sebab itu , diperlukan pendidikan kesehatan untuk
meningkatkan kepatuhan penderita hipertensi dalam melakukan pengobatan hipertensi. Pendidikan
kesehatan merupakan suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan perilaku masyarakat yang
kondusif terhadap kesehatan. Tujuan pendidikan kesehatan pada akhirnya bukan hanya untuk
mencapai “ melek kesehatan ( health literacy ) “ pada masyarakat saja. Namun lebih penting ialah
mencapai perilaku kesehatan ( healthy behavior ). Kesehatan bukan hanya untuk diketahui (
knowledge) dan disikapi ( attitude ), melainkan harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari
(practice). Berarti tujuan pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau
masyarakat sehingga sesuai dengan norma-norma hidup sehat ( Notoatmodjo, 2007).

2.Hubungan Sikap Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Melaksanakan Pengobatan Hipertensi


Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar dari responden yang sikapnya negative,
tidak patuh melaksanakan pengobatan hipertensi. Kemudian dari hasil analisis data dengan
menggunakan uji statistik chi square pada a=0,05, didapatkan nilai p = 0,013 artinya bahwa ada
hubungan sikap penderita hipertensi dengan kepatuhan melaksanakan pengobatan hipertensi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin positif sikap seseorang tentang hipertensi maka
kepatuhan dalam melaksanakan pengobatan hipertensinya akan semakin baik. Sebaliknya jika sikap
penderita hipetensi tentang hipertensi negative, maka kepatuhannya dalam melaksanakan
pengobatan hipertensinya akan semakin kurang atau bahkan tidak patuh. Penelitian ini diperkuat
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2011), yang meneliti tentang pengaruh
konseling obat terhadap kepatuhan pasien hipertensi di poliklinik khusus RSUP DR.M Djamil
Padang. Berdasarkan hasil penelitiannya kepada 50 orang responden, didapat hasil bahwa
konseling dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap dan akan berpengaruh terhadap kepatuhan
pasien hipertensi dalam melaksanakan pengobatan.
Selain itu berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi, Sulchan & Salawati
(2005) yang meneliti tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan ketaatan dan derajat
hipertensi penderita di Puskesmas Sumberlawang Kabupaten Sragen, didapat hasil bahwa ada
hubungan yang bermakna antara sikap dengan ketaatan ( nilai p = 0,000). Penelitian ini
membuktikan bahwa kepatuhan penderita hipertensi di Puskesmas Cimahi Selatan dalam
melakukan pengobatan salah satunya dipengaruhi oleh sikap. Berdasarkan hasil penelitian didapat
bahwa lebih dari setengahnya ( 59,6%) penderita hipertensi yang mempunyai sikap positif patuh
melakukan pengobatan dan penderita hipertensi yang mempunyai sikap negatif sebagian besar (
67,4%) tidak patuh melakukan pengobatan.
Disamping itu, penelitian ini menunjukkan bahwa ada sebanyak 21 responden (40,4%),
yang sikapnya positif namun tidak patuh melaksanakan pengobatan hipertensi, dan ada sebanyak 15
responden (32,6%) yang sikapnya negatif namun patuh melaksanakan pengobatan. Hal ini
menunjukkan bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan atau perilaku, akan tetapi merupakan
predisposisi suatu perilaku. Sikap masih merupakan suatu reaksi tertutup atau tingkah laku yang
tertutup. Sikap merupakan suatu reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
stimulus atau objek ( Notoatmodjo, 2007 ). Dengan adanya hubungan sikap dengan kepatuhan
melaksanakan pengobatan, maka penderita hipertensi seharusnya menumbuhkan sikap positif
terhadap penyakit hipertensi. Sikap dapat berubah sesuai dengan perubahan aspek kognitif atau
aspek afektif. Namun faktor eksternal sangat berpengaruh dalam mengarahkan sikap seseorang,
dengan sadar atau tidak sadar individu yang bersangkutan akan mengadopsi sikap tertentu. Faktor
eksternal pada dasarnya berpijak pada suatu proses yang disebut strategi persuasi. Persuasi
merupakan usaha pengubahan sikap seseorang dengan memasukkan ide, pikiran, pendapat dan
bahkan fakta baru lewat pesan-pesan komunikatif. Pesan yang disampaikan dengan sengaja
dimaksudkan untuk menimbulkan kontraindikasi dan inkonsistensi diantaran komponen sikap
seseorang dan perilakunya, sehingga menganggu kestabilan sikap dan membuka peluang terjadinya
perubahan yang diinginkan ( Azwar, 2009 ).
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah Ada hubungan antara pengetahuan
penderita hipertensi dengan kepatuhan 2. Ada hubungan antara sikap penderita hipertensi dengan
kepatuhan melaksanakan pengobatan hipertensi di Puskesmas Cimahi Selatan ( p < 0,05 )

4.2 Saran
1. Puskesmas Cimahi Selatan
Peneliti menyarankan kepada Puskesmas Cimahi Selatan untuk lebih meningkatkan lagi
kepatuhan penderita hipertensi dalam melakukan pengobatan dengan melakukan penyuluhan
kesehatan secara rutin. Saat pasien melakukan pengobatan ke puskesmas, penyuluhan dapat
dilakukan dengan cara memberikan penjelasan/informasi selengkap-lengkapnya mengenai
hipertensi dan rencana pengobatan yang akan dilakukan dengan memberikan leaflet atau informasi
secara tertulis. Selain itu penyuluhan dapat juga dilakukan pada saat kegiatan posbindu.Disamping
itu dapat juga melakukan strategi home care pada pasien hipertensi, karena ketika dilakukan
observasi kerumah, pasien mengatakan bahwa dengan adanya kunjungan ini pasien merasa
diperhatikan oleh petugas kesehatan, sehingga timbul keinginan untuk melakukan control kembali
ke puskesmas.

2. Penderita Hipertensi
Bagi penderita hipertensi diharapkan agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang
hipertensi dan penyakit lain yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi melalui berbagai media agar
dapat mengendalikan berbagai dampak negative yang dapat terjadi, sehingga lebih patuh melakukan
pengobatan hipertensi. Selain itu mereka harus untuk dilakukan kunjungan rumah oleh petugas
kesehatan, karena dengan adanya kunjunngan ke rumah kondisi pasien akan terpantau dan menjadi
bahan evaluasi untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam melakukan pengobatan. Sehingga
diharapkan adanya peningkatan kesehatan pada pasien hipertensi serta mencegah terjadinya
komplikasi akibat hipertensi.
BAB V
DAFTAR PUSTAKAN

Adib, M. 2009. Cara Mudah Memahami dan Menghindari Hipertensi, Jantung dan Stroke.
Yogyakarta. Dianloka Pustaka.

Alamatsier, Sunita.2005. Penuntun Diet . Jakarta PT. Gramedia Pustaka Utama

Anonim. Hindari Hipertensi Konsumsi Garam 1 Sendok Teh Perhari.2009. tersedia di


http://www.dinkesbonebolango.org.diperoleh tanggal 29 Januari 2012.

Agus, Era 2006,Hubungan Tingkat Pengtahuan Tentang Hipertensi Dengan Kepatuhan Pasien
Dalam Melaksanakan Pengobatan Hipertensi Di Puskesmas Gubug. Tersedia di
http://digilib.unimus.ac.id, diperoleh tanggal 2 Februari.

Azwar, Saifuddin,2009. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya.Yogjakarta Pustaka Pelajar.

Budiman .2011. Penelitian Kesehatan.Bandung. PT.Refika Aditama.

Dewi, Arum Tunggal,Sulchan,Salawati, Trixie.2005.Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap


Dengan Ketaatan dan Derajat Hipertensi Penderita di Puskesmas Sumberlawang Kecamatan
Sumberlawang Kabupaten Sragen,terdapat di http://digilib.unimus.ac.id. Diperoleh tanggal 22
Januari 2012.

Eliana, Arifa, Khasanah, Uswatun & Pertiwi, Ratna. 2007. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Stroke Dengan Perilaku Mencegah Stroke Pada Klien
Hipertensi di RSU PKU Muhammadiyah Yogjakarta, 3(2), 92-93

Hartono, Bambang. Hipertensi Pembunuh Diam-Diam, 2011. Tersedia di http://www


Health.kompas.com. diperoleh tanggal 21 Januari 2012.

Hidayat, A, Azis Alimul.20027. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta; Salemba
Medika.