Anda di halaman 1dari 31

PROPOSAL HOME VISITE PADA KLIEN TN.

T DENGAN

PERILAKU KEKERASAN DI RUANG TENANG PRIA

RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SAMBANG LIHUM TAHUN 2016

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK III

1. ARDIANTO, S.Kep
2. FRAS HINANG HAWI RAMI, S.Kep
3. LILI KARINA, S. Kep
4. NI WAYAN RIA YUSNIA DEWI, S. Kep
5. SUFYAN HIDAYAT, S. Kep
6. SUPRI HAWINI, S. Kep
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN BANJARMASIN

PROGRAM STUDI PROFESI NERS SARJANA KEPERAWATAN

2016

LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal Home Visite Pada Klien Tn. T Dengan Perilaku Kekerasan Diruang Tenang

Pria Rumah Sakit Jiwa Daerah Sambang Lihum Ini Telah Diperiksa Dan Disetujui.
Banjarmasin, Juni 2016

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Lanawati, S.Kep, Ners Achmad Syamsudin, S.Kep, Ners

Mengetahui,

Kepala Bidang Keperawatan

Murjani, S.Kep,.MM
BAB I
PENDAHULUAN
PERILAKU KEKERASAN
A. Masalah Utama
Perilaku Kekerasan
B. Proses Terjadinya Masalah

1. Definisi

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan

tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,

orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan

perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. Pengungkapkan kemarahan

secara tidak langsung dan konstrukstif pada waktu terjadi akan melegakan

individu dan membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya.

Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit diri

sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal.

Sedangkan menurut Carpenito 2006, perilaku kekerasan adalah keadaan

dimana individu-individu beresiko menimbulkan bahaya langsung pada

dirinya sendiri ataupun orang lain. Individu melakukan kekerasan akibat

adanya frustasi yang dirasakan sebagai pemicu dan individu tidak mampu

berpikir serta mengungkapkan secara verbal sehingga mendemonstrasikan

pemecahan masalah dengan cara yang tidak adekuat (Rawlins and Heacoco,

2007).
2. Fase-Fase

Depkes (2000) mengemukakan bahwa stress, cemas dan marah

merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap

individu. Stress dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan

perasaan tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan dapat

menimbulkan kemarahan yang mengarah pada perilaku kekerasan. Respon

terhadap marah dapat diekspresikan secara eksternal maupun internal.

Secara eksternal dapat berupa perilaku kekerasan sedangkan secara internal

dapat berupa perilaku depresi dan penyakit fisik.

Mengekspresikan marah dengan perilaku konstruktif dengan

menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa

menyakiti orang lain, akan memberikan perasaan lega, menurunkan

ketegangan, sehingga perasaan marah dapat diatasi (Depkes, 2006). Apabila

perasaan marah diekspresikan dengan perilaku kekerasan, biasanya

dilakukan individu karena ia merasa kuat. Cara demikian tentunya tidak

akan menyelesaikan masalah bahkan dapat menimbulkan kemarahan yang

berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku destruktif, seperti

tindakan kekerasan yang ditujukan kepada orang lain maupun lingkungan.

Perilaku yang tidak asertif seperti perasaan marah dilakukan individu

karena merasa tidak kuat. Individu akan pura-pura tidak marah atau

melarikan diri dari rasa marahnya sehingga rasa marah tidak terungkap.

Kemarahan demikian akan menimbulkan rasa bermusuhan yang lama dan


pada suatu saat dapat menimbulkan destruktif yang dapat ditujukan pada

diri sendiri (Depkes, 2006).

3. Tanda dan Gejala

Perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala perilaku

kekerasan :

a. Fisik

1) Muka merah dan tegang

2) Mata melotot atau pandangan tajam

3) Tangan mengepal

4) Rahang mengatup

5) Postur tubuh kaku

6) Mengatupkan rahang dengan kuat

7) Jalan mondar-mandir

b. Verbal

1) Bicara kasar

2) Suara tinggi, membentak atau berteriak

3) Mengancam secara verbal atau fisik

4) Mengumpat dengan kata-kata kotor

5) Suara keras

6) Ketus

c. Perilaku

1) Melempar atau memukul benda/orang lain


2) Menyerang orang lain

3) Melukai diri sendiri/orang lain

4) Merusak lingkungan

5) Amuk/agresif

d. Emosi

Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan

jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi,

menyalahkan dan menuntut.

e. Intelektual

Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.

f. Spiritual

Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain,

menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli dan kasar.

g. Sosial

Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

h. Perhatian

Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.

4. Rentang Respon

Rentang respon terbagi dua yaitu respon adaptif dan respon maladatif.
a. Respon adaptif meliputi :

1) Asertif (pernyataan)

Respon marah dimana individu mampu menyatakan atau mengungkapkan

rasa marah, rasa tidak setuju, tanpa menyalahkan atau menyakiti orang

lain. Hal ini biasanya akan memberikan kelegaan.

2) Frustasi

Respon yang terjadi akibat individu gagal dalam mencapai tujuan,

kepuasan, atau rasa aman yang tidak biasanya dalam keadaan tersebut

individu tidak menemukan alternatif lain.

b. Respon maladatif meliputi :

1) Pasif

Suatu keadaan dimana individu tidak mampu untuk mengungkapkan

perasaan yang sedang di alami untuk menghindari suatu tuntutan nyata.

2) Agresif

Perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan individu untuk

menuntut suatu yang dianggapnya benar dalam bentuk destruktif tapi

masih terkontrol.

3) Amuk

Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilang kontrol,

dimana individu dapat merusak diri sendiri, orang lain maupun

lingkungan.
5. Faktor Penyebab

a. Faktor Predisposisi

1) Teori Biologis

a) Faktor neurologis, beragam komponen dari sistem syaraf seperti

sinaps, neurotransmitter, dendrit, axon terminalis mempunyai peran

memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-pesan yang

akan memengaruhi sifat agresif. Sistem limbik sangat terlibat dalam

menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respon agresif.

b) Faktor genetik, adanya faktor gen yang diturunkan melalu orang tua,

menjadi potensi perilaku agresif. Menurut riset Kazuo Murakami

(2007) dalam gen manusia terdapat potensi agresif yang sedang tidur

dan akan bangun jika terstimulasi oleh faktor eksternal. Menurut

penelitian genetik tipe karyo-type XYY, pada umumnya dimiliki oleh

penghuni pelaku tindak kriminal serta orang-orang yang tersangkut

hukum akibat perilaku agresif.

c) Irama sirkadian tubuh, memegang peranan pada individu. Menurut

penelitian pada jam-jam tertentu manusia mengalami peningkatan

cortisol terutama pada jam-jam sibuk seperti menjelang masuk kerja

dan menjelang berakhirnya pekerjaan sekitar jam 9 dan jam 13. Pada

jam tertentu orang lebih mudah terstimulasi untuk bersikap agresif.

d) Faktor biokimia tubuh, seperti neurotransmitter di otak (epinephrin,

norepinephrin, dopamin, asetilkolin, dan serotonin) sangat berperan


dalam penyampaian informasi melalui sistem persyarafan dalam tubuh,

adanya stimulasi dari luar tubuh yang dianggap mengancam atau

membahayakan akan dihantar melalui impuls neurotransmitter ke otak

dan meresponnya melalui serabut efferent. Peningkatan hormon

androgen dan norepinephrin serta penurunan serotonin dan GABA

pada cairan serebrospinal vertebra dapat menjadi faktor predisposisi

terjadinya perilaku agresif.

e) Brain Area disorder, gangguan pada sistem limbik dan lobus temporal,

sindrom otak organik, tumor otak, trauma otak, penyakit ensefalitis,

epilepsi ditemukan sangat berpengaruh terhadap perilaku agresif dan

tindak kekerasan.

2) Teori Psikologis

a) Teori Psikoanalisa

Agresivitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh

kembang seseorang (life span hystori). Teori ini menjelaskan bahwa

adanya ketidakpuasan fase oral antara usia 0-2 tahun dimana anak tidak

mendapat kasih sayang dan pemenuhan air susu yang cukup cenderung

mengembangkan sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai

kompensasi adanya ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak

terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak

berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah. Perilaku

agresif dan tindak kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka


terhadap rasa ketidakbedayaannya dan rendahnya harga diri pelaku tindak

kekerasan.

b) Imitation, Modeling and Information Processing Theory

Menurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang dalam lingkungan

yang menolelir kekerasan. Adanya contoh, model dan perilaku yang ditiru

dari media atau lingkungan sekitar memungkinkan individu meniru

perilaku tersebut. Dalam suatu penelitian beberapa anak dikumpulkan

untuk menonton tayangan pemukulan pada boneka dengan reward positif

(makin keras pukulannya akan diberi coklat). Setelah anak-anak keluar

dan diberi boneka ternyata masing-masing anak berperilaku sesuai dengan

tontonan yang pernah dialaminya.

c) Learning Theory

Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadap lingkungan

terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respon ayah saat menerima

kekecewaan dan mengamati bagaimana respons ibu saat marah. Ia juga

belajar bahwa dengan agresivitas lingkungan sekitar menjadi peduli,

bertanya, menanggapi, dan menganggap bahwa dirinya eksis dan patut

untuk diperhitungkan.

3) Teori Sosiokultural

Dalam budaya tertentu seperti rebutan berkah, rebutan uang receh, sesaji

atau kotoran kerbau di keraton, serta ritual-ritual yang cenderung mengarah

pada kemusyrikan secara tidak langsung turut memupuk sikap agresif dan
ingin menang sendiri. Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan

menerima perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam

masyarakat merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan. Hal

ini dipicu juga dengan maraknya demonstrasi, film-film kekerasan, mistik,

tahayul dan perdukunan (santet, teluh) dalam tayangan televisi.

4) Aspek Religiusitas

Dalam tinjauan religiusitas, kemarahan dan agresivitas merupakan dorongan

dan bisikan setan yang sangat menyukai kerusakan agar manusia menyesal

(devil support). Semua bentuk kekerasan adalah bisikan setan melalui

pembuluh darah ke jantung, otak dan organ vital manusia lain yang dituruti

manusia sebagai bentuk kompensasi bahwa kebutuhan dirinya terancam dan

harus segera dipenuhi tetapi tanpa melibatkan akal (ego) dan norma agama

(super ego).

b. Faktor Presipitasi

Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan seringkali berkaitan

dengan :

1. Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas

seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian

massal dan sebagainya.

2. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.
3. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak

membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melakukan

kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

4. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan

menempatkan dirinya sebagai seorang yang dewasa.

5. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan

alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi

rasa frustasi.

6. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan

tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan keluarga.

6. Pemeriksan Penunjang

Pemeriksaan tanda vital, tekanan darah, respirasi, suhu, nadi.

7. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Somatik

Menurut (Depkes RI, 2006, hal 230) menerangkan bahwa terapi somatik

adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan

tujuan mengubah perilaku yang maladaptif menjadi perilaku adaptif dengan

melakukan tindakan yang ditujukan pada kondisi fisik klien, tetapi target

terapi adalah perilaku klien.

Menurut Depkes (2006), jenis obat psikofarmaka adalah:

1) Chlorpromazine (CPZ, Largactile): indikasi untuk mensupresi gejala-

gejala psikosa seperti agitasi, ansietas, ketegangan, kebingungan,


insomnia, halusinasi, waham dan gejala-gejala lain yang biasanya

terdapat pada penderita skizofrenia, manic depresif gangguan

personalitas psikosa involution, psikosa masa kecil. Kontra indikasi

sebaiknya tidak diberikan kepada klien dengan keadaan koma, keracunan

alkohol, barbiturate atau narkotika. Efek samping yang sering terjadi

misalnya lesu dan mengantuk, mulut kering, hidung tersumbat,

konstipasi, amenorrhea pada wanita.

2) Haloperidol: indikasinya yaitu manifestasi dari penggunaan psikotik.

Kontra indikasinya depresi system saraf pusat atau keadaan koma,

penyakit Parkinson, hipersensitif terhadap haloperidol. Efek samping

yang sering terjadi adalah mengantuk, kaku, tremor, lesu, letih, gelisah.

Efek samping yang jarang adalah konstipasi, hipertensi, alergi, reaksi

hematologi.

3) Trihexipenidil: indikasinya untuk penatalaksanaan manifestasi psikosa

khususnya gejala skizofrenia. Kontra indikasinya pada depresi susunan

saraf pusat yang hebat, hipersensitif terhadap flobhenazine atau ada

riwayat sensitive terhadap phenotiazine. Intoksikasi biasanya terjadi

gejala-gejala sesuain dengan efek samping yang hebat. Pengobatan over

dosis hentikan obat berikan terapi simptomatis dan suportif, atasi

hipotensi dengan levarternal hindari menggunakan ephineprine.


b. Terapi Kejang Listrik

Terapi kejang listrik atau elektronik convulsive therapy (ECT) adalah

bentuk terapi kepada klien dengan menimbulkan kejang grand mall dengan

mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis

klien. Terapi ini pada awalnya untuk menangani skizofrenia membutuhkan

20-30 kali terapi biasanya dilaksanakan adalah tiap 2-3 hari sekali (seminggu

2 kali).

8. Pohon Masalah
Resiko menciderai diri sendiri,
orang lain dan lingkungan

Perilaku kekerasan

Gangguan aktivitas
motorik

Kerusakan interaksi
sosial

Defisit perawatan
diri

Regiment terapi tidak


efektif Berduka disfungsional

Koping individu tidak efektif


BAB II

PRE PLANNING HOME VISITE

A. Latar belakang

Menurut WHO sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna baik

fisik, mental dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Menurut

UU Kesehatan RI no. 23 tahun 1992, sehat adalah keadaan sejahtera tubuh, jiwa,

social yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan

ekonomis. Sakit adalah ketidakseimbangan fungsi normal tubuh manusia,

termasuk sejumlah system biologis dan kondisi penyesuaian.

Kesehatan jiwa adalah satu kondisi sehat emosional psikologis, dan social

yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping

yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosionl (Videbeck, 2008).

Gangguan jiwa didefenisikan sebagai suatu sindrom atau perilaku yang

penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitakan dengan adanya

distress (misalnya gejala nyeri) atau disabilitas (kerusakan pada satu atau lebih

area fungsi yang penting) (Videbeck, 2008). Setiap saat dapat terjadi 450 juta

orang diseluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, syaraf maupun

perilaku dan jumlahnya terus meningkat.

Pada study terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-

negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa parah tidak dapat
pengobatan apapun pada tahun utama(Hardian, 2008). Masalah kesehatan jiwa

merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan

dengan masalah kesehatan lain yang ada dimasyarakat.

Dari 150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan data Departemen

Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan mental emosional.

Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat

kurangnya layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang

semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan

Indonesia khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari

juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008).

Salah satu tindakan untuk memberikan pelayanan keperawatan kepada klien

yang mengalami gangguan jiwa yaitu Home Visite. Home visite adalah suatu

kegiatan kunjungan rumah dimana petugas kesehatan yang akan datang

ditugaskan akan mengunjungi rumah klien dengan tujuan untuk mendapatkan

informasi dari keluarga kemudian memvalidasi data yang telah dicapai. Selain itu

membantu keluarga dengan memberikan informasi tentang hal-hal yang

berkaitan dengan perawatan keluarga pada klien khususnya perawatan di rumah.

Kunjungan rumah atau home visite pada keluarga klien yang sedang dirawat

atau pernah dirawat di rumah Sakit Sambang Lihum Banjarmasin merupakan


salah satu bentuk tindakan keperawatan yang bertujuan memperdayakan keluarga

sehingga keluarga dapat melakukan perawatan klien dirumah.

B. Tujuan

1. Tujuan umum

Keluarga dapat merima dan merawat anggota keluarga yang mengalami

gangguan jiwa serta dapat terlibat dalam perawatan klien baik di rumah sakit

maupun di rumah dan menjadi system pendukung yang efektif untuk klien.

2. Tujuan khusus

a. Memberi informasi kepada keluarga tentang perkembangan klien selama

di ruang tenang pria RSJD Sambang Lihum

b. Memvalidasi data dan melengkapi data dan melengkapi yang diperoleh

dari klien dan data sekunder (rekam medic dan dokumentasi keperawatan)

mengenai :

1) Alasan klien dirawat di rumah sakit

2) Factor predisposisi dan presipitasi

3) Genogram keluarga

4) Persepsi keluarga tentang penyakit yang diderita oleh klien

5) Harapan keluarga terhadap klien

c. Melakukan inplementasi keperawatan yang berkaitan dengan diagnosa

keperawatan dan 5 tugas fungsi perkembangan keluarga


1) Keluarga dapat mengenal masalah kesehatan yang menyebabkan

klien mengalami gangguan jiwa

2) Keluarga dapat mengambil keputusan dalam melakukan perawatan

terhadap klien

3) Keluarga dapat merawat klien di rumah

4) Keluarga dapat memodifikasi lingkungan fasilitas yang terapeutik

dalam merawat klien

5) Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di

masyarakat untuk merawat kesehatan klien

d. Memberikan pendidikan kesehatan sesuai dengan masalah kesehatan

yang ditemukan saat pengkajian.

e. Memotivasi keluarga untuk mengunjungi klien di rumah sakit dan

melanjutkan perawatan di rumah apabila klien sudah pulang dari rumah

sakit.

f. Mengkaji keadaaan rumah dan lingkungan sekitar


C. Rencana Pelaksanaan kegiatan

a. Hari : Kamis, 16 Juni 2016

b. Waktu : 09.00 - Selesai

c. Tempat : Jl. Balitan, Banjarbaru

2. Petugas : Petugas yang melakukan home visite adalah mahasiswa

STIKES Suaka Insan Banjarmasin yang sedang menjalani

praktek klinik di RSJ Sambang Lihum terdiri dari :

1) Ardianto, S.Kep

2) Fras Hinang Hawi Rami, S.Kep

3) Lili Karina, S. Kep

4) Ni Wayan Ria Yusnia Dewi, S. Kep

5) Sufyan Hidayat, S. Kep

6) Supri Hawini, S. Kep


BAB II

RANCANGAN PELAKSANAAN

A. Identitas

1. Pasien

Nama (Inisial klien) : Tn. T

Usia : 27 Tahun

Agama : Kristen protestan

Pendidikan : SMA

No.Register : 01.15.xx

Tanggal MRS : 24 Mei 2016

Rencana Tanggal Kunjungan : Kamis, 16 Juni 2016

Alamat : Jl. Balitan, Banjarbaru

Diagnosa Keperawatan : Resiko Perilaku Kekerasan

2. Penanggung Jawab

Nama keluarga : Tn. F. S

Pekerjaan : Swasta

Hubungan dengan klien : Adik

Alamat : Jl. Balitan, Banjarbaru


B. Pengkajian Keluarga

1. Memberikan informasi tentang perkembangan klien

2. Memvalidasi dan melengkapi data yang diperoleh dari klien dan dokumentasi

medic tentang :

a. Riwayat keluarga

b. Factor predisposisi dan presipitasi

c. Genogram

d. Alasan masuk rumah sakit

e. Persepsi keluarga terhadap penyakit yang diderita klien

f. Harapan keluarga terhadap klien

3. Melaksanakan pengkajian tentang pengetahuan keluarga tentang perawatan

klien dirumah dikaitkan terhadap 5 tugas perkembangan keluarga.

4. Memeberikan pendidikan kesehatan terhadap keluarga

5. Memotivasi keluarga untuk melanjutkan perawatan dirumah.

C. Rencana Tindakan Keperawatan

Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang masalah

keperawatan terkait dengan resiko perilaku kekerasan dengan uraian SP keluarga.

1. Keluarga dapat mengenal masalah pada klien dengan resiko perilaku

kekerasan

2. Keluarga dapat mengambil keputusan untuk berperan aktif dalam merawat

klien selama dirumah.


3. Keluarga dapat merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.

4. Keluarga dapat memodifikasi lingkungan rumah dalam merawat klien.

5. Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat.

D. Strategi Komunikasi
1. Fase Orientasi

a. Salam terapeutik

Memperkenalkan diri dengan terlebih dahulu memberikan salam dan

menjelaskan bahwa perawat merupakan mahasiswa dari STIKES Suaka

Insan Banjarmasin yang sedang praktek di RSJ Sambang Lihum di ruang

tenang pria dan merupakan perawat praktek yang merawat klien selama 4

minggu. Menjelaskan tujuan dan kontrak waktu bila keluarga bisa

menerima kedatangan mahasiswa.

b. Validasi informasi tentang klien

Mengkaji dan memvalidasi data tentang klien antara lain: alasan klien di

bawa ke RSJ Sambang Lihum, faktor predisposisi dan presipitasi,

psikologi dan lingkungan, persepsi keluarga tentang klien, pengetahuan

keluarga terhadap cara merawat klien, support system dalam keluarga,

kapan keluarga terakhir menjenguk klien, kendala-kendala yang dialami

keluarga selama saat merawat klien, harapan keluarga, persiapan keluarga

terhadap kepulangan klien dan mendiskusikan dengan keluarga hal-hal

yang dapat dilakukan dirumah.


c. Kontrak

Mahasiswa dan keluarga membuat kesepakatan tentang topik yang akan

dibicarakan terkait dengan masalah keperawatan dan perkembangan

kondisi klien dan waktu yang diperlukan untuk membicarakan masalah

klien serta memilih tempat yang nyaman bagi keluarga dan perawat untuk

berbincang-bincang.

2. Fase Kerja

a. Tindakan keperawatan

Mendiskusikan dengan keluarga tentang penegrtian resiko perilaku

kekerasan yang dialami klien, tanda dan gejala RPK, proses terjadinya

RPK dan cara merawat klien RPK.

SP untuk keluarga :

a. Pertemuan 1

1. Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien

2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala dan proses terjadinya

perilaku kekerasan

3. Jelaskan cara merawat pasien perilaku kekerasan

4. Latih satu cara merawat PK dengna melakukan kegiatan

fisik tarik napas dalam dan pukul bantal/kasur

5. Anjurkan untuk membantu sesuai jadwal kegiatan dan

memberikan pujian
b. Pertemuan 2

1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat/melatih pasien

cara fisik, beri pujian

2. Jelaskan 6 benar cara memberikan obat

3. Latih cara memberikan obat

4. Anjurkan membantu sesuai jadwal kegiatan dan

memberikan pujian

c. Pertemuan 3

1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat / melati pasien

fisik 1 dan 2 dan memberikan obat, berikan pujian

2. Latih keluarga cara membimbing : cara berbicara yang baik

3. Latih keluarga cara membimbing kegiatan spiritual

d. Pertemuan 4

1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat /melatih pasien

fisik 1 dan 2, memberikan obat, cara bicara yang baik dan

kegiatan spiritual, beri pujian

2. Jelaskan follow up ke RSJ/PKM, tanda kambuh, dan

rujukan

3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan berikan

pujian
e. Pertemuan 5

1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat / melatih pasien

fisik 1 dan 2, memberikann obat, cara bicara yang baik dan

kegiatan spiritual, dan follow up, beri pujian

2. Nilai kemampuan keluarga merawat pasien

3. Nilai kemampuan keluarga melakukan kontrol ke

RSJ/PKM

1) Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas di rumah termasuk

minum obat

2) Menjelaskan Follow-up klien setelah pulang kapan perlu mendapan

bantuan : halusinasi tidak terkontrol, dan resiko menciderai orang lain

3. Fase Terminasi

a. Evaluasi respon subjektif

Menanyakan perasaan keluarga setelah berbicara dan berdiskusi dengan

perawat

b. Evaluasi respon objektif

Keluarga dapat menyebutkan peran serta keluarga dalam merawat klien,

cara-cara merawat klien, mendemonstrasikan cara merawat klien, dapat

menyebutkan tempat yang dikunjungi bila sembuh

c. Rencana tindak lanjut

Meminta keluarga untuk dapat melakukan perawatan klien di rumah

seperti yang telah didiskusikan dengan perawat saat kunjungan rumah.


E. Strategi Pelaksanaan Keluarga

1. Orientasi

a. Salam terapeutik

“Selamat pagi Bapak/Ibu”

b. Perkenalan

“Perkenalkan nama kami Fras Hinang Hawi Rami, Lili Karina, Ni

Wayan Ria Yusnia Dewi, Sufyan Hidayat, Supri Hawini, kami

mahasiswa STIKES Suaka Insan Banjarmasin perawat yang merawat

keluarga Bapak/Ibu di RSJ Sambang Lihum”

c. Evaluasi/Validasi

“Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini ? Apa pendapat Bapak/Ibu

tentang Tn. T”

d. Kontrak

1) Topik

“hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang Tn.T

alamidan bantuan apa yang Bapak/Ibu bisa berikan”

2) Tempat

“kita mau diskusi dimana ?, bagaimana kalau diruang tamu,

boleh ?”

3) Waktu

“Berapa lama waktu Bapak/Ibu bisa diskusi ? Bagaiman kalau

30 menit”
2. Fase kerja

“apa yang Bapak/Ibu rasakan menjadi masalah dalam merawat Tn. T ? apa

yang Bapak/Ibu lakukan?”

“ya, gejala yang dialami oleh Tn. T itu dinamakan perilaku kekerasan”

“tanda-tandanya muka merah dan tegang, mata melotot atau pandangan tajam

tangan mengepal, rahang mengatup, postur tubuh kaku, bicara kasar, suara

tinggi, membentak atau berteriak, mengancam secara verbal atau fisik,

mengumpat dengan kata-kata kotor, melempar atau memukul benda/orang

lain, menyerang orang lain, melukai diri sendiri/orang lain, merusak

lingkungan, amuk/agresif”

“kedua Tn.T latih untuk minum obat secara teratur. Jangan menghentikan obat

tanpa konsultasi. Terkait dengan obat ini kami juga sudah melatih Tn. T untuk

minum obat secara teratur, jadi bapak/ibu dapat mengingatkan kembali.

Obatnya ada 3 macam , ini yang warnanya orange namanya CPZ (Clopomazin

Hidroksida) diminum 3 kali sehari, pagi jam 9, siang jam 2, malam jam 7.30,

gunanya agar merasa tenang. Ini yang warnanya putih namanya

Trihexiphediyl (THP) diminum 2 kali sehari, jam minumnya pagi jam 9 dan

malam jam 2, gunanya agar rileks dan tidak kaku, sedangkan yang warna biru

namanya Haloperidol (HLP) jam minumnya sama dengan THP, gunanya agar

pikiran tenang dan marah berkurang. Obat diminum setelah makan. Minum

obat tidak boleh berhenti, kecuali dokter yang menyuruh berhenti. Kalau

obatnya tidak diminum (putus obat) akan menyebabkan kekambuhan” antal”


“Ketiga, bapak/ibu kami telah melatih Tn. T untuk mengontrol marahnya

dengan cara bicara dengan baik, caranya seperti ini : kalau marahnya sudah

tersalur melalui tarik napas dalam atau pukul bantal, dan sudah lega, maka

kita perlu untuk berbicara dengan orang lain, kami mau memvalidasi cerita

dari Tn. T tentang keluarganya, benarkah ceritanya seperti yang kami dengar”

“keempat, bantu Tn .T untuk melakukan kegiatan ibadah atau berdoa setiap

hari”

“terakhir, bila ada tanda-tanda perilaku kekerasan mulai muncul, lakukan

tindakan yang kami ajarkan tadi seperti tarik napas dalamdan pukul bantal,

obat, verbal, spiritual. Ya bagus sekali bapak/ibu. Dan jika obatnya akan habis

bapak/ibu segera bawa Tn.T berobat ke pelayanan kesehatan terdekat”

3. Terminasi

a. Evaluasi Subjektif

“bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita berdiskusi dan latihan

mengontrol perilaku kekerasan Tn.T ?, Apakah bapak/ibu mengerti

tentang masalah yang dialami Tn. T? dan bagaimana peran bapak/ibu

dalam membantu proses penyembuhannya?”

b. Evaluasi Objektif

“bapak/ibu, coba jelaskan kembali apa yang sedang anak/saudara

bapak/ibu alami? Dan bagaimana peran bapak/ibu dalam membantu

proses penyembuhan? Apa yang harus bapak/ibu lakukan bila gangguan

itu muncul?”
c. Rencana Tindak lanjut

“Bagus sekali bapak/ibu. Bagaimana kalau nanati bila bapak/ibu bertemu

Tn. S untuk mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan pada Tn.

T, baiklah terimakasih Bapak/Ibu kami permisi pamit mau kembali

pulang, selamat siang”


DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Kusumawati dan Hartono. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika
Diakses Rabu 2 Desember 2015 Pukul 20.45