Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jeruk merupakan salah satu jenis buah yang sudah lama dikenal dan
dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia dan diperdagangkan di pasar internasional,
selain menjadi komoditas perdagangan di dalam negeri. Indonesia merupakan salah
satu produsen jeruk yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk memenuhi
permintaan konsumen di dalam dan di luar negeri. Untuk dapat meningkatkan mutu
agar dapat bersaing di pasar dalam negeri atau internasional diperlukan adanya
standar mutu yang dapat diterapkan oleh petani Indonesia dan dapat diterima oleh
pasar internasional. Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3165-1992 jeruk keprok
direvisi berdasarkan usulan dari seluruh pemangku kepentingan sebagai upaya untuk
menghasilkan jeruk dengan mutu sesuai dengan permintaan pasa.
Sebagian besar masyarakat Indonesia lebih menyukai buah jeruk yang sudah
matang dengan menilai buah dari bentuk fisiologisnya yaitu ukuran buah yang besar
dengan warna yang menarik berkulit jingga terang, licin, dan rnengkilap. namun di
sisi lain memiliki kekurangan yaitu umur simpan yang relatif singkat dan mengalami
penuruan kualitas secara cepat.
Sifat buah jeruk termasuk buah yang mudah rusak setelah dipanen
menjadikan tindakan penyimpanan merupakan salah satu bagian penting dari rantai
pemasaran yang perlu mendapatkan perhatian. Selama penyimpanan selain terjadi
peningkatan kadar gula juga terjadi susut bobot dan peningkatan kelunakan buah.
Dua hal terakhir berpengaruh langsung terhadap penampilan buah yang berujung
pada layak tidaknya buah teraebut diterima oleh konsumen
Berdasarkan uraian diatas penulis telah mengadakan penelitian dengan judul:
“Pengaruh ukuran buah jeruk keprok (citrus reticulate) varietas JRM terhadap
kualitas , selama periode penyimpanan”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh ukuran buah jeruk terhadap kualitas selama periode
penyimpanan
2. Bagaimana pengaruh periode penyimpanan terhadap susut bobot buah.
3. Bagaimana pengaruh periode penyimpanan terhadap warna buah
4. Bagaimana pengaruh periode kandungan gula Total padatan terlarut (TPT)
pada buah.
5. Bagaimana pengaruh periode penyimpanan terhadap volume juice
C. Tujuan Pengamatan
1. Untuk Mengetahui pengaruh ukuran buah jeruk terhadap kualitas selama
periode penyimpanan
2. Mengetahui pengaruh penyimpanan terhadap susut bobot buah jeruk
3. Mengetahui pengaruh penyimpanan terhadap warna buah jeruk
4. Menganalisis kandungan gula Total padatan terlarut (TPT) pada buah jeruk.
5. Menghitung volume juice jeruk
1.1 Manfaat Pengamatan
1.n

1.2 waktu magang


Kegiatan magang Ini berlangsung selama 2 bulan yaitu dimulai dari tanggal 04
Juli 2018 sampai dengan tanggal 03 September 2018.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

b.Klasifikasi Jeruk

Klasifikasi Citrus reticulata. dalam sistematika tumbuhan (Van Steenis, 1975)


Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Rutales
Familia : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus reticulate

c.Nama tanaman

Nama latin : Citrus reticulate, Sinonim : Citrus nobilis, C. deliciosa, C.


chrysocarpa , Nama lokal: jeruk Keprok, jeruk Jepun, jeruk Maseh (Verheij dan
Coronel, 1992)

Pemutuan atau grading dilakukan setelah sortasi dan pencucian untuk


mengelompokan buah berdasarkan mutu yaitu, ukuran, berat, warna, bentuk, tekstur,
dan kebebasan buah dari kotoran atau bahan asing. Peranan penerintah tidak hanya
terbatas pada bidang pemasaran saja. Tetapi paling penting ialah penetapan
standarisasi buah, yang mencakup kualitas buah. Sehubumgan dengan standarisasi
buah tersebut, Standar Nasional Indonesia (SNI) menggolongkan buah jeruk kedalam
4 kelas berdasarkan bobot atau diameter buah (Tabel 1).
Tabel 1. Kriteria Jeruk JRM (SNI 01-3165-1992)
Kelas Bobot (g) Diameter (cm)
A ≥ 151 ≥ 71
B 101 – 150 61 -70
C 51 – 100 51 -60
D ≤ 50 40 – 50

Jeruk yang disimpan hendaknya bebas dari lecet kulit, memar, busuk dan
kerusakan lainnya. Untuk mendapatkan hasil yang baik, suhu ruang penyimpanan
dijaga agar stabil. Suhu optimum untuk penyimpanan buah jeruk adalah 5 – 10oC.
Jika suhu terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan buah (chiling injury).
Jika kelembaban rendah akan terjadi pelayuan atau pengkeriputan dan jika
terlalu tinggi akan merangsang proses pembusukan, terutama apabila ada variasi suhu
dalam ruangan. Kelembaban nisbi antara 85-90% diperlukan untuk menghindari
pelayuan dan pelunakan pada beberapa jenis sayuran. Beberapa produk bahkan
memerlukan kelembaban sekitar 90-95%. Kelembaban udara dalam ruangan
pendinginan dapat dipertinggi antara lain dengan cara menyemprot lantai dengan air.
Kelembaban yang tepat akan menjamin tingkat keamanan bahan yang disimpan
terhadap pertumbuhan mikroba. Sirkulasi udara diperlukan secukupnya untuk
membuang panas yang berasal dari hasil respirasi atau panas yang masuk dari luar.
BAB III
DESKRIPSI DATA DAN METODE KEGIATAN

3.1 Gambaran Umum BA

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) terletak di


Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Batu, Jawa Timur. Posisi Balitjestro berada pada
4 km dari Kota Batu dengan ketinggian tempat ± 950 m di atas permukaan laut, yang
letaknya persis di bawah kaki gunung Panderman.
Pada awalnya Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika adalah
kebun milik swasta Belanda, yang pada tahun 1930 – 1940 diambil alih
pengelolaannya oleh Departement van Landsbouw, Nijverheid, en Handel dengan
komoditas yang diusahakan pada waktu itu adalah kopi dan buah-buahan.
Tahun 1941 – 1957 status instansi ini berada di bawah Jawatan Perkebunan
Rakyat dengan komoditas tanaman perkebunan rakyat yang pada umumnya
merupakan tanaman semusim, seperti tanaman sayur-sayuran, tanaman hias, dan
tanaman perkebunan seperti kopi dan kina.
Pada tahun 1958 – 1961 Kebun Percobaan ini berada di bawah Jawatan
Perkebunan Rakyat Malang dan pada tahun 1961 – 1967, statusnya berubah menjadi
Lembaga Penelitian Tanaman Sayur-Sayuran dan Buah-Buahan di bawah koordinasi
Dinas Pertanian Malang.
Kemudian pada tahun 1967 – 1980 berubah status menjadi Kebun Percobaan
Hortikultura Tlekung di bawah Lembaga Penelitian Hortikultura (LPH) Cabang
Malang. Tahun 1981 LPH Cabang Malang beserta Kebun Percobaan Tlekung
bergabung dengan Lembaga Penelitian Pertanian Perwakilan Kendalpayak (LP3)
menjadi Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Malang.
Pada tahun 1985 – 1994 Kebun Percobaan Tlekung ditingkatkan menjadi Sub
Balai Penelitian Hortikultura (Sub Balithorti) Tlekung dengan status Echelon IV yang
merupakan salah satu UPT bereselon IV-A yang berada di bawah Balai Penelitian
Tanaman Hortikultura di Solok, Sumatera Barat.
Tahun 1994 nama Sub Sub Balithorti Tlekung berubah menjadi Instalasi
Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Tlekung berada di bawah
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di Karangploso-Malang. Sejak tahun 2002 –
2005 IP2TP Tlekung kemudian berubah nama menjadi Loka Penelitian Tanaman
Jeruk dan Hortikultura Subtropik di Tlekung, yang berinduk langsung di bawah Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hortikultura di Jakarta.
Seiring dengan kebijaksanaan Pemerintah melalui Departemen Pertanian,
yang menetapkan Jeruk sebagai komoditas nasional dan strategis untuk
dikembangkan menuju substitusi impor, yang dalam perspektif politik nasional
kebijakan ini bertujuan untuk mendorong masyarakat untuk lebih mencintai, memilih,
dan mengkonsumsi komoditas nasional yang dihasilkan dari tanah airnya sendiri,
maka berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.13/Permentan/OT.140/3/2006 1
Maret 2006 Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik ditingkatkan
statusnya menjadi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika sebagai UPT
bereselon III-A, dengan mandat yang baru yakni melaksanakan penelitian tanaman
jeruk dan buah subtropika antara lain: anggur, apel, dan kelengkeng. Dan pada tahun
2008 mulai melaksanakan penelitian stroberi.
Nama pejabat yang memimpin unit kerja dan nomenklatur organisasi berdasarkan
periode waktu tersebut disajikan berikut ini:
1. Nitihardjo, Jawatan Perkebunan Rakyat Malang, 1958 – 1961
2. Sekar, Jawatan Perkebunan Rakyat Malang, 1962 – 1975
3. Martono, Kebun Percobaan Tlekung, 1976 – 1981
4. Slamet, Kebun Percobaan Tlekung, 1982 – 1984
5. Ir. Soenarso, MS, Tahun Sub Balai Penelitian Hortikultura Tlekung, 1985 –
1993
6. Ir. Arry Supriyanto, MS, Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi
Pertanian Tlekung, 1994 – 2001
7. Ir. Arry Supriyanto, MS, Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropik
Tlekung, 2002 – 2005
8. Ir. Arry Supriyanto, MS, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah
Subtropika, 2005 – 2008
9. Dr. Hardiyanto, MSc, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika,
2008 – 2012.
10. N
11. 0
12.
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika menerima pelajar dan
mahasiswa yang akan melaksanakan magang (kerja praktek) dan penelitian buah
jeruk dan subtropika. Penelitian yang dilakukan merupakan skripsi, tesis, disertasi
maupun kerjasama. Sesuai dengan tugas dan fungsi Balitjestro, bidang studi yang
diterima untuk magang (kerja praktetk) dan bimbingan penelitian adalah bidang ilmu
agronomi, ilmu tanah, biologi molekuler, kultur jaringan, pemuliaan tanaman, hama
dan penyakit, pasca panen, agribisnis, administrasi, akuntansi, informasi teknologi,
statistika, dan perbenihan.
Balitjestro menerapkan kuota banyaknya pelajar dan mahasiswa yang diterima
magang yaitu maksimal 30 orang dalam 1 bulan. Penempatan magang di Kebun
Percobaan Tlekung (Batu), Kebun Percobaan Punten (Batu), Kebun Percobaan Kliran
(Batu), Kebun Percobaan Banaran (Batu) dan Kebun Percobaan Banjarsari
(Probolinggo). Peserta magang (kerja praktek) tidak dipungut biaya (gratis).

Syarat dan Ketentuan;

1. Mengajukan surat resmi kepada Kepala Balitjestro, dan akan dijawab dengan
surat penerimaan.
2. Lama magang dan penelitian sesuai dengan kebutuhan peserta ( > 1 bulan),
dianjurkan minimal 3 bulan agar bisa masuk dalam penelitian di Balitjestro.
3. Selama magang tidak boleh mengambil mata kuliah di kampus (kehadiran di
Balitjestro 100%)
4. Peserta wajib menandatangani dan mengikuti peraturan dan ketentuan magang
yang berlaku di Balitjestro.
5. Peserta wajib menyerahkan laporan hasil magang dan penelitian sebanyak 2
jilid (1 untuk pembimbing dan 1 untuk perpustakaan) dan softcopy dalam
bentuk CD/DVD.
6. Hak publikasi kerja praktek atau magang menjadi milik Balitjestro
sepenuhnya atau nama pertama dari Balitjestro (kecuali skripsi atau penelitian
ada aturan dan perjanjian tersendiri).

3.2 Organisasi Balitjestro


Organisasi Balitjestro terdiri dari Kepala Balitjestro, Koordinator Program,
Kepala TU, Kepala Yantek dan Jasa Penelitian dan Kelompok Peneliti Fungsional
3.2 Metode Pelaksanaan
Pengamatan ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 24 juli 2018 s/d 03
Agustus, dilakukan selama 5 kali dalam selang waktu10 hari, bertempat di
laboratorium SPG , Balitjestro, tlekung , jawa timur
3.3 Alat Dan Bahan
Alat yang dlgunakan pada pengamatan ini adalah pipet volume, pisau,gelas
ukur,saringan, chromameter,refractometer, Tabung Erlenmeyer.
Bahan yang digunakan pada pengamatan ini adalah buah jeruk varietas JRM
30 Buah terdiri dari kelas B diameter 61-70 cm, 30 kelas C 51-60, dan 30 Buah kelas
D 40-50 cm, tissue, aquades

3.3 Prosedur Kerja


-Membuat Jus
1. jeruk dikupas dan diambil sarinya dengan cara menyaring kedalam gelas kimia
sebanyak 9 gelas

2. dianalisis kadar gula, diambil sebanyak 25 ml kedalam Erlenmeyer.


Perlakuan

Pengamatan ini terdiri atas 3 macam perlakuan yaitu perlakuan buah dengan diameter
61-70, diameter 51-60 , dan 40-50masing-masing berjumlah 24 buah pada
penyimpanan biasa. Selanjutnya perlakuan penyimpanan 16 hari, setelah panen.
Masing-masing perlakuan 3 kali ulangan dan tiap ulangan menggunakan 3 buah jeruk
JRM yang diambil secara acak.

Parameter pengamatan
1.warna
2. susut bobot
3. diamati perubahan mutunya selama penyimpanan
4 kadar gula (%)
Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) dengan 4
perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan adalah lama penyimpanan yaitu 0 hari, 5
hari, 10
hari dan 15 hari. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan varians
( ANOVA ) dan apabila ada perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan
pada taraf significan 5 %.
Metode Analisis

Pengukuran Kadar Gula dengan Refraktometer


Nilai kadar gula dapat diukur dengan menggunakan refraktometer. Lensa
refraktometer sebelum digunakan dibilas terlebih dahulu dengan air destilata
dan dikeringkandengan menggunakan tissue. Kalibrasi refraktometer dilakukan
dengan air destilata. Setelah refraktometer dibersihkan dan dikalibrasi, sampel
produk diteteskan pada lensa refraktometer. Hasil pengukuran sampel dibaca
dengan melihat tampilan skala pada refraktometer. Setelah selesai pengukuran
kadar gula pada sampel produk maka lensa refraktometer dibilas kembali dengan
air destilata, dikeringkan kemudian disimpan ketempat semula.

Pengukuran Warna dengan Chromameter


Penetapan warna pada produk minuman sari buah jeruk diukur dengan
menggunakan chromameter (lightness (L)) dan dinyatakan dalam satuan persen
(%). Metode pengukuran dengan chromameter adalah metode penyinaran dengan
sensor sinar yang dikenakan pada sampel, yang secara otomatis nilai derajat putih
akan ditampilkan dalam layar monitor. Area pengukuran pada chromameter
berdiameter 8 mm dan digunakan 0° sudut pandangan.Alat chromameter ini
dikalibrasi menggunakan kontrol atau standar warna yaitu barium sulfat.Setelah
itu, sampel dimasukkan ke dalam kotak pengukur untuk mengetahui derajat
putihnya, tiap sampel diukur 3 kali pengulangan.Alat chromameter menggunakan
sistem notasi warna Hunter dicirikan dengan 3 parameter L, a, b, masing-
masing dengan kisaran 0 sampai 100. Notasi L menyatakan parameter
kecerahan (light) dengan rentang nilai 0 (hitam) sampai 100 (putih). Nilai L
menyatakan cahaya pantul yang menghasilkan warna akromatik putih,abu-abu,
dan hitam Notasi a menyatakan warna kromatik campuran merah hijau, dengan
nilai +a (positif) dari 0 sampai 100 untuk warna merah, dan nilai –a (negatif)
dari 0 sampai -80 untuk warna hijau. Notasi b menyatakan warna kromatik
campuran biru, kuning, dengan nilai +b (positif) dari 0 sampai +70 untuk warna
kuning dan nilai –b (negatif) dari 0 sampai -70 untuk warna biru.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1