Anda di halaman 1dari 21

HOME VISITE PADA KELUARGA TN.

A DENGAN DIAGNOSA
KEPERAWATAN HALUSINASI
DI RSJD SAMBANG LIHUM

PROPOSAL

Disusun Oleh:
Aditya Prasetyo S.Kep
Akhdiyatillah S.Kep
Fazryannur S.Kep
Jhody Akhmad I. S.Kep
Muhammad Mansur S.Kep
Musyahadah S.Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN SARI MULIA BANJARMASIN


PROGRAM STUDI PROFESI NERS
2017
Pre Planning Home Visite

Home Visite adalah suatu kegiatan kunjungan rumah dimana petugas


yang akan ditugaskan akan mengunjungi rumah klien dengan tujuan agar
keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien baik di rumah sakit maupun di
rumah dan keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien.
Kunjungan rumah atau home visite pada keluarga klien yang sedang
dirawat atau pernah dirawat di Rumah Sakit Sambang Lihum merupakan salah
satu bentuk tindakan keperawatan yang bertujuan memperdayakan keluarga
sehingga keluarga dapat melakukan perawatan klien di rumah.
Adapun kegiatan kunjungan ini:
Nama Anggota Kelompok : 1. Aditya Prasetyo S.Kep
2. Akhdiyatillah S.Kep
3. Fazryannur S.Kep
4. Jhody Akhmad I. S.Kep
5. Muhammad Mansur S.Kep
6. Musyahadah S.Kep
Program : Profesi Ners Angkatan IV

Institusi : Stikes Sari Mulia Banjarmasin

Akan mengadakan kunjungan rumah pada keluarga klien yang bernama


Tn. A yang beralamat Jl. Aes Nasution , Gg. Binjai RT 005 RW 002 Sei bilu.
Kunjungan rumah akan dilakukan pada tanggal 5 Oktober 2017 Setelah
dilakukan kunjungan rumah pada Tn. A diharapkan keluarga memahami
penjelasan yang diberikan oleh perawat dan mampu melakukan perawatan klien
di rumah.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Identitas Klien
1. Inisial Klien : Tn. A
2. Usia : 27
3. Agama : Islam
4. Pendidikan :SMU
5. No. Register : 02.xx.xx
6. Tanggal Masuk RS : 18 Agustus 2017
7. Nama Penanggung Jawab : Tn. R
8. Alamat : Jl. Aes Nasution , Gg. Binjai RT 5 RW 2
Sei bilu
8. Tanggal Kunjungan : 5 Oktober 2017
9. Diagnosa Keperawatan : Halusinasi

B. Penanggung Jawab
1. Nama Keluarga : Tn. R
2. Umur : 59
3. Agama : Islam
4. Pekerjaan : Swasta
5. Status Perkawinan : Kawin
6. Hubungan Dengan Klien : Orang Tua
7. Alamat : Jl. Aes Nasution , Gg. Binjai RT 005 RW
002 Sei bilu

C. Tujuan Kunjungan Rumah


1. Tujuan Umum
a. Keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien baik di rumah sakit
maupun di rumah.
b. Keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk
pasien.
2. Tujuan Khusus
a. Memberi informasi kepada keluarga tentang perkembangan klien
selama dirawat diruang Program Khusus RSJD Sambang Lihum.
b. Menvalidasi data dan melengkapi data yang diperoleh dari klien dan
data sekunder (rekam medik dan dokumentasi keperawatan)
tentang alasan klien dirawat di rumah sakit, faktor predisposisi dan
presipitasi, genogram keluarga, persepsi keluarga tentang penyakit
yang diderita klien serta support sistem dalam keluarga, dan usaha-
usaha yang telah dilakukan keluarga.
c. Mengkaji keadaan tempat tinggal dan lingkungan sekitar.
d. Melakukan implementasi keperawatan yang berkaitan dengan
diagnosa keperawatan dan 5 tugas fungsi keluarga;
1) Keluarga dapat mengenal masalah kesehatan yang
menyebabkan klien mengalami gangguan jiwa.
2) Keluarga dapat mengambil keputusan dalam melakukan
perawatan terhadap klien.
3) Keluarga dapat merawat klien dirumah.
4) Keluarga dapat memodifikasi lingkungan fasilitas yang
terapeutik dalam merawat klien.
5) Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di
masyarakat untuk merawat kesehatan klien.
e. Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga sesuai dengan
masalah yang ditemukan pada 5 tugas fungsi keluarga.
f. Memotivasi keluarga untuk mengunjungi klien di rumah sakit dan
melanjutkan perawatan di rumah.

D. Rencana Tindakan Keperawatan Keluarga


Keluarga merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan
asuhan keperawatan pada pasien dengan Halusinasi. Dukungan keluarga
selama pasien dirawat di Rumah Sakit sangat dibutuhkan sehingga pasien
termotivasi untuk sembuh. Demikian juga saat pasien tidak lagi dirawat di
rumah sakit (dirawat di rumah). Keluarga yang mendukung pasien secara
konsisten akan membuat pasien mampu mempertahankan program
pengobatan secara optimal. Namun demikian jika keluarga tidak mampu
merawat pasien, pasien akan kambuh bahkan untuk memulihkannya lagi
akan sangat sulit. Untuk itu perawat harus memberikan pendidikan
kesehatan kepada keluarga agar keluarga mampu menjadi pendukung yang
efektif bagi pasien dengan resiko prilaku kekerasan baik di rumah sakit
maupun dirumah.
1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien.
2. Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, tanda dan
gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi dan cara merawat klien
halusinasi.
3. Berikan kesempatan pada keluarga untuk memperagakan cara merawat
klien dengan halusinasi langsung dihadapan klien.
4. Buat perencanaan pulang dengan keluarga.

E. Strategi Komunikasi
SP 1 Keluarga:
1. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Jeaskan pengertian, tanda dan gejala, serta proses terjadiya halusinasi
(Gunakan booklet)
3. Jelaskan cara merawat pasien dengan halusinasi
4. Latih cara merawat halusinasi : Menghardik
5. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan beri pujian
SP 2 Keluarga:
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat/melatih pasien menghardik
beri pujian
2. Jelaskan 6 benar cara memberikan obat
3. Latih cara memberikan/ membimbing minum obat
4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan beri pujian
SP 3 Keluarga :
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat/melatih pasien dalam
menghardik dan memberikan obat. Beri pujian
2. Jelaskan cara bercakap-cakap dan melakukan kegiatan untuk
mengontrol halusinasi
3. Latih dan sediakan waktu untuk bercakap-cakap dengan pasien
terutama saat halusinasi
4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan berikan pujian.
SP 4 Keluarga :
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat/melatih pasien dalam
menghardik, memberikan obat, dan bercakap-cakap. Beri pujian
2. Jelaskan follow up ke RSJ/PKM, tanda kambuh , rujukan
3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan berikan pujian
SP 5 – 12 Keluarga :
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat/melatih pasien dalam
menghardik memberikan obat, bercakap-cakap, kegiatan harian dan
berikan pujian. Beri pujian
2. Nilai kemampuan keluarga untuk merawat klien
3. Nilai kemampan keluarga melakukan control ke RSJ/PKM
Orientasi:
a. Salam dan perkenalan.
b. Memberikan informasi tentang kondisi klien selama di RSJD
Sambang Lihum.
c. Memvalidasi data dan melengkapi data yang diperoleh dari klien
dan data sekunder mengenai:
1) Alasan masuk rumah sakit
2) Faktor predisposisi dan presipitasi
3) Psikologi dan lingkungan
4) Genogram
5) Persepsi keluarga tentang klien
6) Pengetahuan keluarga terhadap cara merawat klien
7) Support sistem dalam keluarga
8) Kapan terakhir keluarga menjenguk klien
9) Upaya-upaya yang telah dilakukan keluarga untuk merawat
klien
10) Kendala-kendala yang dialami keluarga saat merawat klien’
11) Harapan keluarga
12) Persiapan keluarga terhadap kepulangan klien
Percakapan:
“Assalamu’alaikum Bapak/Ibu. Saya A perawat yang merawat
anak Bapak/Ibu.”
“Oke, Hari ini kita akan berdiskusi tentang perkembangan anak
Bapak/Ibu selama di RSJD Sambang Lihum, apa masalah yang
anak Bapak/Ibu alami dan bantuan apa dapat yang Bapak/Ibu
berikan”
“Kita mau berdiskusi dimana? Berapa lama waktu Bapak/Ibu?
Bagaimana kalau 30 menit?”
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini? Apa pendapat
Bapak/Ibu tentang anak Bapak/Ibu?”
“Jadi Pak/Bu , Perkembangan Tn. A selama dirawat di RS
sudah sangat baik, beliau mengikuti program dengan baik,
untuk saat ini beliau mengatakan sudah tidak mengalami
bisikan-bisikan lagi. Saat ini beliau sedang menjadi ketua tim
pasien dimana beliau bertindak sebagai koordinator kegiatan
seluruh pasien di ruangan, beliau memimpin dengan baik dan
sejauh ini tidak ada kendala yang dirasakan beliau”
“Sebelumnya bisakah Bapak/Ibu menceritakan tentang kenapa
Tn. A dibawa ke RSJD Sambang Lihum ?
“Apakah Bapak/Ibu mengetahui apa yang menyebabkan Tn. A
mengalami hal tersebut ?”
“Apakah hal tersebut merupakan pengaruh lingkungan ?
“Apakah ada diantara keluarga yang mengalami hal seperti Tn.
A?
“Bagaimana pendapat Bapak/ibu tentang Tn. A saat mengalami
hal ini ?
“Saat hal tersebut terjadi apa upaya yang Bapak/ibu lakukan
untuk membantu anak Bapak/ibu ?
“Bagaimana dukungan dari keluarga untuk Tn. A ?
“Kapan terakhir menjenguk Pak/Bu ?
“Adakah kendala dalam merawat Tn.A sebelum masuk RS ?
“Ada kah persiapan Bapak/Ibu untuk merawat Tn. A saat pulang
dari RS?
1. Kerja:
“Baik Bapak/Ibu, Saya akan jelaskan tentang halusinasi Tn. A dan hal-
hal yang perlu diperhatikan.”
“Bapak/Ibu, halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya
rangsangan, dimana seseorang merasa melihat, mendengar, membau,
ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu rangsangan
yang tertuju kepada kelima indera tersebut.”
“Halusinasi dapat terjadi saat menyendiri atau sedang melamun. Kalau
Tn. A kapan terjadinya?”
“Kalau Tn. A sedang sendiri dan melamun, dan biasanya setelah itu dia
akan melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada? apa
yang bisa Bapak/Ibu lakukan?”
“Bila hal tersebut terjadi sebaiknya Bapak/Ibu tetap tenang, bicara
lembut tapi tegas, ada beberapa cara untuk mengatasi halusinasi ,
antara lain dengan menghardik, minum obat, dan menganjurkan
bercakap-cakap dengan orang lain atau ajak bicara. Untuk menghardik,
bila halusinasi berbentuk bisikan, ajarkan untuk melawan bisikan
tersebut dengan menutup telinga dan mengatakan “Pergi ! , Pergi ! ,
Kamu Tidak Nyata !”. “Selanjutnya untuk minum obat harus
menggunakan prinsip 5 benar obat, yang pertama benar pasien, benar
obat, benar dosis, benar waktu, dan benar cara pemberian. “Dan
terakhir untuk menganjurkan bercakap cakap atau mengajak bicara, bila
terdapat tanda-tanda segera ajak bicara misal membicarakan sesuatu
yang disukai Tn. A , hal-hal yang terjadi disekitar dll.
“Nah, Bapak/Ibu bila tanda-tanda halusinasi itu muncul. Bapak/Ibu bisa
bantu Tn. A dengan cara cara yang saya informasikan dan
mengingatkan jadwal latihan cara mengontrol halusinasi”
“Kalau Ny. T bisa melakukkan latihannya dengan baik jangan lupa dipuji
ya.”
“Nah, Bila Tn. A masih berhalusinasi setelah beberapa cara tadi
dilakukan, segera bawa ke puskesmas atau RSJ.
“Dan apabila obat habis , kontrol ulang ke puskesmas/RSJ ya bu untuk
dilakukan perencanaan selanjutnya
2. Evaluasi dan Terminasi:
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita berdiskusi tentang
merawat Tn. A?”
“Sekarang coba Bapak/Ibu sebutkan kembali cara merawat Anak
Bapak/Ibu?”
“Bagus sekali Pak/Bu. Semoga kita Bersama bisa meningkatkan
kesehatan jiwa Tn. A ya Pak/Bu. kalau begitu kami permisi dulu ya bu
Assalamu’alakum Wr Wb.”
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Masalah Utama
Halusinasi
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian
Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses diterimanya rangsang
sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh penginderaan atau
sensasi: proses penerimaan rangsang (Stuart, 2007).
Perubahan persepsi sensori ditandai oleh adanya halusinasi. Beberapa
pengertian mengenai halusinasi di bawah ini dikemukakan oleh
beberapa ahli:
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan
(stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di
telinganya padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari,
2005).
Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan.
Klien merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa
kecap meskipun tidak ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima
indera tersebut (Izzudin, 2005).
Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah
(Stuart, 2007).
2. Faktor Predisposisi dan Faktor Presivitasi
a. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi
adalah:
1) Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan
dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai
dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:
a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan
otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi
pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan
dengan perilaku psikotik.
b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter
yang berlebihan dan masalah-masalah pada system
reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal
menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak
manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis,
ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian
depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan
anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
2) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau
keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas
adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup
klien.
3) Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita
seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan,
bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.
b. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan
setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi,
perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian
individu terhadap stressor dan masalah koping dapat
mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006).
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan
halusinasi adalah:
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang
mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme
pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan
untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh
otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap
stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan
perilaku.
3) Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam
menanggapi stressor.
3. Tanda dan Gejala
Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi
adalah sebagai berikut:
– Bicara sendiri.
– Senyum sendiri.
– Ketawa sendiri.
– Menggerakkan bibir tanpa suara.
– Pergerakan mata yang cepat
– Respon verbal yang lambat.
– Menarik diri dari orang lain.
– Berusaha untuk menghindari orang lain.
– Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.
– Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan
darah.
– Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa
detik.
– Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.
– Sulit berhubungan dengan orang lain.
– Ekspresi muka tegang.
– Mudah tersinggung, jengkel dan marah.
– Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.
– Tampak tremor dan berkeringat.
– Perilaku panik.
– Agitasi dan kataton.
– Curiga dan bermusuhan.
– Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan.
– Ketakutan.
– Tidak dapat mengurus diri.
– Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.
4. Rentang Respon
Adaptif Maladaptif
 Pikiran logis  Distorsi pikiran  Gangguan
 Persepsi kuat  Ilusi/pengindraan yang pikir/delusi/waham
 Emosi Konsisten salah  Halusinasi
dengan  Reaksi emosi  Sulit berespon
 Pengalaman berlebihan  Perilaku
 Perilaku sesuai  atau kurang disorganisasi
 Berhubungan  Perilaku aneh/tidak  Isolasi sosial
sosial biasa
 Menarik diri

Halusinasi merupakan salah satu mal adaptif individu berada dalam


rentang respon neurobiology. Jadi merupakan persepsi paling adaptif
jika klien sehat, persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan
menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima
melalui panca indera. Klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu
stimulus itu tidak ada, di antara kedua respon tersebut adalah respon
individu yang karena sesuatu hal mengalami kelainan persepsi yaitu
salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya yang disebut sebagai
ilusi. Klien mengalami ilusi jika interpretasi yang dilakukannya terhadap
stimulus pancaindera tidak akurat sesuai stimulus yang diterima.
5. Fase Halusinasi
Fase Halusinasi Karakteristik Perilaku klien
Fase 1 : Klien mengalami perasaan Tersenyum atau tertawa
Comforting mendalam seperti ansietas, yang tidak sesuai.
Ansietas Sedang kesepian rasa bersalah dan Mengerakan bibir tanpa
Halusinasi takut dan mencoba untuk suara. Pergerakan mata
menyenangkan berfokus pada pikiran yang cepat. Respon verbal
menyenangkan untuk yang lambatjika sedang
meredakan ansietas. Individu asyik. Diam dan asyik
mengenali bahwa pikiran- sendiri.
pikiran dan pengalaman
sensori berada dalam kendali
kesadaran jika ansietas dapat
ditangani. Nonpsikotik.
Fase II: Pengalaman sensori Meningkatnya tanda-tanda
Condemning menjijikan dan menakutkan. sistem syaraf otonom akibat
Ansietas Berat Klien mulai lepas kendali dan ansietas seperti peningkatan
Halusinasi mungkin mencoba untuk denyut jantung, pernapasan
menjadi menjijikan mengambil jarak dirinya dan tekanan darah. Rentang
dengan sumber yang perhatian menyempit. Asyik
dipersepsikan. Klien mungkin dengan pengalaman sensori
mengalami dipermalukan dan kehilangan kemampuan
oleh pengalaman sensori dan membedakan halusinasi dan
menarik diri dari orang lain. realita.
Psikotik ringan.
Fase III: Klien berhenti menghentikan Kemauan yang dikendalikan
Controlling perlawanan terhadap halusinasi akan lebih diikuti.
Ansietas Berat halusinasi dan menyerah Kesukaran akan
Pengalaman pada halusinasi tersebut. Isi berhubungan dengan orang
sensori menjadi halusinasi menjadi menarik. lain. Rentang perhatian
berkuasa Klien mungkin mengalami hanya beberapa detik atau
pengalaman kesepian jika menit. Adanya tanda-tanda
sensori halusinasi berhenti. fisik, ansietas berat
Psikotik berkeringat, tremor, tidak
mampu mematuhi perintah.
Fase IV : Pengalaman sensori menjadi Perilaku teror akibat panik .
Conquering Panik mengancam Jika klien Potensi kuat suicide atau
Umumnya menjadi mengikuti perintah halusinasi. homicide. Aktivitas fisik
melebur dalam Halusinasi berakhir dari merefleksikan isi halusinasi
halusinasinya. beberapa jam atau hari jika seperti perilaku kekerasan,
tidak ada intervensi agitasi, menarik diri, atau
terapeutik. katatonia.
Psikotik Berat. Tidak mampu berespon lebih
dari satu orang
(Stuart, 2007)
6. Jenis Halusinasi
Jenis Halusinasi Karakteristik
Pendengaran Mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering
suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang
jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien,
bahkan sampai ke percakapan lengkap antara dua
orangatau lebih tentang orang yang mengalami
halusinasi . Pikiran yang terdengar di mana klien
mendengar perkatan bahwa pasien disuruh untuk
melakukan sesuatu kadang-kadang dapat
membahayakan.
Penglihatan Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar
peometris, gambar kartoon, bayangan yang rumit atau
kompleks. Bayangan bisa menyenangkan atau
menakutkan seperti melihat monster.
Penghidu Membaui bau-bauan tertentu bau darah, urin atau feses,
umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan.
Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang
atau domensia.
Pengecapan Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau
feses.
Pearabaan Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus
yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah,
benda mati, atau orang lain.
Visceral Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau
arteri, pencernaan makanan,
Kinesthetic Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak
(Stuart, 2007)
7. Penatalaksanaan
a. Menciptakan lingkungan yang terapeutik untuk mengurangi tingkat
kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi,
sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual
dan usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa pasien di sentuh
atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau
emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien,
bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya
hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang
akan di lakukan.
b. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat
merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan
dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding,
majalah dan permainan.
c. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan
dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan
sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati
agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang
di berikan.
d. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah
yang ada Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat
dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab
timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada.
Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga
pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.
e. Memberi aktivitas pada pasien misalnya pasien di ajak
mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah
raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat
membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk
hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal
kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
f. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan.
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang
data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan
dalam proses keperawatan, misalnya dari percakapan dengan
pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-
laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-
suara itu tidak terdengar jelas.
g. Sebaiknya perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri
dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada.
Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan
petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran
yang di berikan tidak bertentangan.
C. Pohon Masalah

D. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul


– Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
– Perubahan sensori perseptual : halusinasi.
– Isolasi sosial : menarik diri

E. Data yang Perlu Dikaji


– Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
Data subjektif: Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang
lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak
lingkungannya.
Data objektif: Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-
barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang
disekitarnya.
– Perubahan sensori perseptual : halusinasi.
Data Subjektif:
 Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan
dengan stimulus nyata.
 Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang
nyata.
 Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus.
 Klien merasa makan sesuatu.
 Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya.
 Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar.
 Klien ingin memukul/ melempar barang-barang.
Data Objektif:
 Klien berbicara dan tertawa sendiri.
 Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu.
 Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan
sesuatu.
 Disorientasi.
– Isolasi sosial : menarik diri
Data Subjektif:
 Klien mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi.
 Klien mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain.
 Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain.
Data Objektif:
 Klien terlihat lebih suka sendiri.
 Bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan.
 Ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.

F. Diagnosis Keperawatan Jiwa


1. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
G. Rencana Tindakan Keperawatan dan Strategi Pelaksanaan
SP PASIEN SP KELUARGA
Pertemuan 1
1. Identifikasi halusinasi : dengan 6. Diskusikan masalah yang
mendiskusikan : Isi, Frekuensi, dirasakan keluarga dalam
waktu terjadi, situasi penderita, merawat pasien
perasaan, dan respon 7. Jeaskan pengertian, tanda dan
2. Jelaskan cara mengontrol gejala, serta proses terjadiya
halusinasi : Hardik, obat, halusinasi (Gunakan booklet)
bercakap-cakap, melakukan 8. Jelaskan cara merawat pasien
kegiatan dengan halusinasi
3. Latih cara mengontrol halusinasi 9. Latih cara merawat halusinasi :
dengan menghardik Menghardik
4. Masukkan pada jadwal kegiatan 10. Anjurkan membantu pasien sesuai
untuk latihan menghardik jadwal dan beri pujian
Pertemuan 2
1. Evaluasi kegiatan menghardik. 5. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
Beri pujian merawat/melatih pasien
2. Latih cara mengontrol halusinasi menghardik beri pujian
dengan obat (jelaskan 6 benar 6. Jelaskan 6 benarcara memberikan
obat, jenis, guna, dosis, frekuensi, obat
kontinuitas minum obat) 7. Latih cara memberikan/
3. Jelaskan pentingnya penggunaan membimbing minum obat
obat pada gangguan jiwa 8. Anjurkan membantu pasien sesuai
4. Jelaskan akibat jika obat tidak jadwal dan beri pujian
diminum sesuai program
5. Jelaskan akibat putus obat
6. Jelaskan cara berobat
7. Masukkan pada jadwal kegiatan
untuk latihan menghardik , dan
minum obat. Beri pujian
Pertemuan 3
1. Evaluasi kegiatan menghardik dan 5. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
minum obat. Beri pujian merawat/melatih pasien dalam
2. Latih cara mengontrol halusinasi menghardik dan memberikan obat.
dengan bercakap-cakap ketika Beri pujian
halusinasi muncul 6. Jelaskan cara bercakap-cakap dan
3. Masukkan pada jadwal kegiatan melakukan kegiatan untuk
untuk latihan menghardik, minum mengontrol halusinasi
obat, dan bercakap-cakap 7. Latih dan sediakan waktu untuk
bercakap-cakap dengan pasien
terutama saat halusinasi
8. Anjurkan membantu pasien sesuai
jadwal dan berikan pujian.
Pertemuan 4
1. Evaluasi kegiatan menghardik dan 4. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
minum obat dan bercakap-cakap. merawat/melatih pasien dalam
Beri pujian menghardik, memberikan obat,
2. Latih cara mengontrol halusinasi dan bercakap-cakap. Beri pujian
dengan melakukan kegiatan 5. Jelaskan follow up ke RSJ/PKM,
harian (mulai 2 kegiatan) tanda kambuh , rujukan
3. Masukkan pada jadwal kegiatan 6. Anjurkan membantu pasien sesuai
untuk latihan menghardik, minum jadwal dan berikan pujian
obat, dan bercakap-cakap dan
kegiatan harian
Pertemuan 5 sd 12
1. Evaluasi kegiatan menghardik dan 4. Evaluasi kegiatan keluarga dalam
minum obat dan bercakap-cakap, merawat/melatih pasien dalam
dan melakukan kegiatan harian. menghardik memberikan obat,
Beri pujian bercakap-cakap, kegiatan harian
2. Latih kegiatan harian dan berikan pujian. Beri pujian
3. Nilai kemampuan yang telah 5. Nilai kemampuan keluarga untuk
mandiri merawat klien
4. Nilai apakah halusinasi terkontrol 6. Nilai kemampan keluarga
melakukan control ke RSJ/PKM
DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Achir Yani. (2000). Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa
Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia

Hawari, Dadang. (2001). Pendekatan Holistik pada gangguan Jiwa Skizofrenia.


Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Isaacs, Ann. (2005). Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Keliat, Budi Anna. (2006) Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga


University Press.

Townsend, Mary. C. (2000). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts Of Care.


Edisi 3. Philadelphia: F. A. Davis Company

Stuart dan Laraia. (2007). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi 6.
St. Louis: Mosby Year Book.

Anonim. (2009). Modul Pelatihan Asuhan Keperwatan Jiwa: Pendekatan Strategi


Pelaksanaan Tindakan Keperwatan. Bogor: BLU Rumah Sakit DR H.
Marzoeki Mahdi.