Anda di halaman 1dari 43

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Tabel
Daftar Gambar
1. PENDAHULUAN 1
2. Kegiatan Belajar 1 : PENGERTIAN BEA METERAI 2
A. Bea Meterai Adalah Pajak 2
B. Dasar Hukum Pemungutan Bea Meterai 3
C. Bea Meteri adalah Pajak Atas Dokumen 4
D. Objek Bea Meterai 6
E. Bukan Objek Bea Meterai 7
3. Kegiatan Belajar 2 : SUBJEK, SAAT TERUTANG, DAN TARIF BEA METERAI 9
A. Subjek Bea Meterai 9
B. Saat Terutang Bea Meterai 9
C. Tarif Bea Meterai 10
4. Kegiatan Belajar 2 : PELUNASAN BEA METERAI 12
A. Pelunasan Bea Meterai dengan Menggunakan Benda Meterai 12
B. Pelunasan Bea Meterai Menggunakan Cara Lain 13
C. Akibat Apabila Ketentuan Cara Pelunasan Bea Meterai Tidak Dipenuhi 22
D. Benda Meterai yang Saat Ini Masih Berlaku di Indonesia 22
E. Pengadaan dan Pengeloaan Benda Meterai 23
F. Pengawasan Terhadap Pengelolaan dan Penjualan Benda Meterai 24
G. Pemeteraian Kemudian 26
5. Kegiatan Belajar 4 : Sanksi, Daluwarsa, Dan Ketentuan Pidana 29
A. Sanksi Atas Kewajiban Pemenuhan Bea Cukai 29
B. Daluawarsa Bea Meterai 29
C. Ketentuan Khusus 30
D. Ketentuan Pidana 31
E. Ketentuan Peralihan 32
6. Kegiatan Belajar 5: Penegakan Hukum Bea Meterai 33
A. Pemantauan Pelaksanaan Pengenaan Bea Meterai 33
B. Pembentukan Tim Verifikasi Penjualan Benda Meterai 33
C. Pemberian Izin Dan Pengawasan Penggunaan Mesin Teraan Bea 34
Meterai
D. Pemantauan Proses Penukaran Benda Meterai 36
E. Pengalihan Bea Meterai Lunas Atas Blanko Cek dan Bilyet Giro 37
Karena Perusahaan Mengganti Logo Perusahaan
F. Intensifikasi Bea Meterai 39
G. pengalihan Bea Meterai Lunas atas Blanko Cek clan Bilyet Giro 39
Karena Perusahaan Mengganti Logo Perusahaan
H. Pengalihan Bea Meterai Lunas atas Blanko Cek dan Bilyet Giro 40
Karena Perusahaan Mengubah Nama Perusahaan

HALAMAN i
PENDAHULUAN

Pajak sebagai salah satu sumber penerimaan negara yang paling besar sudah sepatutnya
dikelola dengan sebaik-baiknya agar penerimaan negara dapat terjaga kesinambungannya guna
mendukung kegiatan pemerintahan umum dan pembiayaan pembangunan yang dijalankan
Pemerintah. Jumlah penerimaan pajak pada APBN 2011 sebesar Rp...., dimana Rp 3,3 trilyun
diantaranya berasal dari penerimaan pajak lainnya termasuk bea meterai. Bila kita amati dari
kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia pada dewasa ini, pengelolaan bea meterai oleh Pemerintah
dirasa belum optimal, ini dapat dilihat dari masih banyak praktik-praktik melawan hukum yang sulit
diambil tindakannya oleh penegak hukukm, seperti pemalsuan bea meterai, ketidaklancaran
distribusi, sampai pada pembuatan dokumen yang tidak dipenuhi kewajiban bea meterainya.
Adalah tugas Direktorat Jenderal Pajak agar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang
Bea Meterai dan peraturan perundang-undangan terkait terlaksana dengan sebaik-baiknya. Untuk
itu, diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dan handal di bidang bea meterai, mengingat
permasalahan bea meterai yang tidak boleh dibilang sederhana karena kompleksitas kegiatan
ekonomi dan sosial masyarakat, jumlah penduduk, serta meliputi wilayah yang luas. Untuk
memberikan pemahaman yang utuh terhadap bea meterai, sampai saat ini masih dirasa sulit, karena
masih sedikit tersedianya literatur tentang bea meterai, baik dalam bentuk kompilasi peraturan
perundang-undangan maupun dalam bentuk buku. Dengan tersusunnya modul ini diharapkan dapat
menambah alternatif bahan bacaan tenang bea meterai guna memperluas khasanah pengetahuan
para pembacanya.
Modul ini disusun dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan ajar di lingkungan Pusdiklat
Pajak Jakarta. Mengingat batasan waktu yang tersedia untuk penyajian materi dalam diklat, maka
kedalaman isi modul ini disesuaikan dengan jumlah pelatihan yang tersedia tersebut.
Tujuan umum pembelajaran Bea Meterai ini adalah agar peserta diklat memahami
ketentuan-ketentuan perundang-undangan tentang bea meterai dan tugas-tugas DJP dalam
pengelolaan bea meterai.
Adapun Tujuan Khusus dari pembelajaran Bea Meterai ini agar peserta/mahasiswa :
1. Memahami pengertian bea meterai
2. Dapat menjelaskan subjek, saat terutang, dan tarif bea meterai
3. Dapat menjelaskan cara pelunasan bea meterai
4. Dapat menjelaskan sanksi-sanksi atas kewajiban pemenuhan bea meterai, Kedaluwarsa, dan
ketentuan Pidana
5. Dapat menjelaskan penerapan peraturan Bea Meterai

HALAMAN 1
2. Kegiatan Belajar 1

PENGERTIAN BEA METERAI

Bila kita amati dalam kehidupan sehari-hari, dari berbagai hal yang berlangsung di
masyarakat berkaitan dengan bea meterai, tampak bahwa pemahaman masyarakat tentang bea
meterai memang masih rendah. Bea meterai lebih sering dianggap sebagai suatu keharusan yang
mutlak dilakukan dalam pembuatan dokumen. “Surat perjanjian itu tidak sah karena tidak diberi
meterai” misalnya. Atau Setiap tanda terima uang harus diberi meterai supaya sah, tanpa tahu apa
yang dimaksud dengan sah itu. Mengenai pemenuhan bea meterai apakah sesuai dengan kententuan
atau tidak sering kali tidak diperhatikan oleh masyarakat. Kondisi ini tentunya harus diperbaiki
mengingat bea meterai merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang diterapkan di seluruh
indonesia. Masyarakat perlu memahami mengapa harus melunasi bea meterai dan bagaimana
ketentuan yang benar. Selanjutnya bea meterai dapat diterima sebagai salah satu jenis pajak di
Indonesia, dimana pembayarannya hanya untuk kepentingan pajak dan tidak ada kaitannya dengan
hal – hal lain diluar pajak.

A. Bea Meterai Adalah Pajak


Bea meterai adalah pajak, ini dapat dibuktikan dengan melihat ciri-ciri yang melekat pada
pengertian bea meterai dengan disandingkan dengan ciri-ciri pajak. Ciri-ciri yang melekat pada
pengertian pajak antara lain :

1. Pajak adalah peralihan kekayaan dari orang/badan ke Pemeerintah


2. Pajak dipungut berdasarkan ketentuan undang-undang serta aturan pelaksanaannya sehingga
dapat dipaksakan;
3. Dalam pembayaran pajak, tidak dapat ditunjukkan kontraprestasi langsung secara individual yang
diberikan oleh Pemerintah;
4. Pajak dipungut oleh negara, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah;
5. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemaasukannya
masih terdapat surplus, maka surplus tersebut digunakan untuk investasi publik.
6. Pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu dari Pemerintah.
7. Pajak dapat dipungut secara langsung atau tidak langsung.

HALAMAN 2
Selanjutnya tentang bea meterai dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang – Undang Nomor.
13 tahun 1985 tentang Bea Meterai :”Dengan nama bea meterai dikenakan pajak atas dokumen
yang disebut dalam undang – undang ini”. Hal ini menunjukkan bahwa UU Bea Meterai dengan
tegas menyatakan bahwa bea meterai adalah pengenaan pajak atas dokumen.

Apabila diperhatikan, pemungutan bea meterai oleh pemerintah dari masyarakat (orang atau
badan) yang membuat dokumen memang memenuhi kriteria tentang pajak diatas. Hal ini dapat
dilihat dari uraian berikut ini :

a. Bea meterai dipungut oleh pemerintah pusat, yang berwenang menertibkan benda meterai dan
mengedarkannya sebagtai alat pembayaran bea meterai yang terurtang ataupun memberikan
izin pelunasan bea meterai dengan cara lain. Memang penerbitan dan pengedaran benda
meterai tidak ditangani secara langsung oleh pemerintah, tetapi diserahkan kepada Perum Peruri
untuk mencetak benda meterai dan menunjuk PT Pos Indonesia untuk mengedarkannya. Hanya
saja tetap saja kedua hal ini dilakukan atas nama Pemerintah Pusat.
b. Hasil penjualan benda meterai maupun pembayaran sejumlah uang tertentu untuk mendapatkan
izin pelunasan bea meterai dengan cara lain semuanya masuk ke kas Pemerintah Pusat.
c. Orang atau badan yang membuat dokumen yang terutang bea meterai di pungut bea meterai
yang terutang oleh pemerintah tanpa ada balas jasa (kontra prestasi) atau pembayaran bea
meterai terutang yang dilakukannya.
d. Hasil penerimaan bea meterai bersama dengan hasil penerimaan pajak pusat lainnya digunakan
oleh Pemerintah Pusat untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan, yang hasilnya
juga dinikmati oleh pembayar bea meterai. Hal ini menunjukan sebenarnya ada kontra prestasi
yang diberikan oleh pemerintah
Ditinjau dari ciri-ciri tersebut di atas, tentu dapat dikatakan bahwa bea meterai
memenuhi kriteria pungutan yang dimaksud dalam pajak. Bea meterai adalah pajak.

B. Dasar Hukum Pemungutan Bea Meterai

Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985 merupakan pengganti dari Aturan Bea Meterai
tahun 1921 yang sampai dengan 31 desember 1985 menjadi dasar hukum pemungutan bea meterai
Indonesia. Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985 disahkan dan diundangkan di Jakarata pada
tanggal 27 Desember 1985 dan dinyatakan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1986. Undang-
Undang Nomor 13 tahun 1985 dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985
Nomor 69 dan penjelasan undang- undang ini dimuat dalam Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3313.

HALAMAN 3
Ditinjau dari hukum pajak, Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985, selanjutnya disebut
sebagai UU Bea Meterai, memiliki dua fungsi, yantu sebagai hukum pajak material dan sekaligus
sebagai hukum pajak formal, hukum pajak material mengatur tentang norma-norma yang
menerangkan keadaan-keadaan, perbuatan-perbuatan, dan peristiwa- peristiwa hukum yang haru
dikenakan pajak, siapa saja yang dikenakan pajak, serta besarnya pajak yang terutang. Dengan
perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hukum ini memuat segala sesuatu tentang timbulnya,
besarnya dan haPusnya hutang pajak dan hubungan hukum antara pemerintah dan wajib pajak,
peraturan yang memuat kenaikan- kenaikan, denda -denda dan hukuman-hukuman serta tata cara
pembebasan dan pengembalian pajak serta hak tagihan yang memiliki fiskus.

Hukum pajak formal mengatur tentang tata cara mengimplementasikan hukum pajak
material sebagai menjadi suatu kenyataan. Termasuk didalamnya penyelenggaraan pemungutan
pajak, antara lain mengenai penetapan suatu utang pajak, pengawasan pemerintah terhadap
penyelenggaraannya, kewajiban para wajib pajak baik sebelum maupun sesudah diterimanya surat
ketetapan pajak, kewajiban pihak ketiga dan prosedur dalam pemungutan pajak, hak wajib pajak,
dan sanksi terhadap wajib pajak yang melanggar, kewenangan fiskus, kewajiban fiskus, serta sanksi
terhadah fiskus yang tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Tujuan pengaturan hukum pajak formal ini adalah untuk melindungi fiskus dan wajib pajak serta
memberi jaminan agar hukum pajak material dapat diselenggaraan dengan tepat.

Dalam UU Bea Meterai dapat ditemui ketentuan tentang apa yang menjadi objek, tarif, pihak
yang terutang, saat terutang, dan cara pelunasan bea meterai yang merupakan bagian dari hukum
pajak material. Di bagian lain juga dapat ditemui ketentuan tentang ketentuan bagi pejabat yang
dalam jabatannya berhubungan dengan dokumen, sanksi administrasi bagi wajib bea meterai yang
tidak memenuhai kewajibannya sebagaimana mestinya, dan ketentuan pidana terhadap barang siapa
yang meniru dan memalsukan benda meterai, yang pada dasarnya merupakan bagian dari hukum
pajak formal.

C. Bea Meterai Adalah Pajak Atas Dokumen


Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya pasal 1 ayat (1) UU Bea Meterai menyatakan ”
dengan nama bea meterai dikenakan pajak atas dokumen yang disebut dalam undang – undang ini ”.
Hal ini menunjukkan bahwa UU Bea Meterai dengan tegas menyatakan bahwa bea meterai adalah
pengenaan pajak atas dokumen. Dengan demikian, yang dikenakan pajak adalah dokumen yang
dibuat oleh orang atau badan yang berkepentingan atas dokumen tersebut. Karena bea meterai

HALAMAN 4
adalah pajak atas dokumen, maka merupakan hal yang sangat penting unutuk memahami apa yang
dimaksud dengan dokumen.

1. Pengertian Dokumen
Pasal 1 ayat (2) UU Bea Meterai memberikan definisi dokumen sebagai kertas yang berisikan
tulisan yag mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan, atau kenyataan bagi
seseorang dan atau pihak-pihak yang berkepentingan. Definisi ini memberikan pengertian
dokumen secara sempit, yaitu terbatas pada kertas yang berisikan tulisan. Dikatakan secara
sempit karena dalam kehidupan sehari-hari dokumen tidak hanya terbatas dalam bentuk kertas
yang berisikan tulisan, tetapi juga bentuk lain seperti film, rekaman vidio, kaset, dan sebagainya.

Pengertian dokumen secara harfiah dapat dilihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
disusun oleh Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pedidikan
Nasional, dokumen memiliki tiga pengertian, yaitu:

a. Surat yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti keterangan (seperti
kelahiran, surat nikah, dan surat perjanjian);
b. Barang cetakan atas naskah karangan yang dikirim melalui pos; atau
c. Rekaman suara, gambar di film, dan sebagainya yang dapat dijadikan bukti keterangan.
Hanya saja, karena secara umum yang digunakan oleh masyarakat (setidaknya sampai
dengan 1983 pada saat UU Bea Meterai dibuat) adalah kertas sebagai dokumen yang
membuktikan adanya perbuatan hukum, keadaan, atau kenyataan bagi seseorang dan atau
pihak-pihak yang berkepentingan, maka dokumen yang dikenakan pajak dalam UU Bea Meterai
dibatasi hanya pada kertas yang berisi tulisan.

2. Jenis-Jenis Surat / Dokumen


Dokumen sebagaimana didefinisiskan dalam Pasal 1 ayat (2) UU Bea Meterai oleh
masyarakat luas dikenal sebagai surat atau akta. Untuk dapat memahami dokumen secara lebih
komprehensif, perlu juga diketahui tentang pembagian surat.

Surat dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu surat di bawah tangan dan surat autentik.
Selanjutnya surat dibawah tangan dapat dibedakan menjadi surat biasa dan akta di bawah
tangan, dan surat autentik dapat dibedakan menjadi akta autentik dan surat dinas. Lebih lanjut,
akta autentik dibagi menjadi dua, yaitu akta autentik menurut Hukum Publik dan akta autentik
menurut Hukum Perdata. Untuk mempermudah pemahaman mengenai dokumen dapat
diperhatikan skema pada gambar 1 di bawah ini:

HALAMAN 5
Gambar 1: Skema Surat

SURAT

SURAT DI BAWAH TANGAN SURAT AUTENTIK

SURAT BIASA AKTA DI BAWAH TANGAN AKTA AUTENTIK SURAT DINAS

AKTA AUTENTIK AKTA AUTENTIK


MENURUT HUKUM MENURUT HUKUM
PEBLIK PERDATA

Keterangan :

 Surat adalah serangkaian kata-kata dalam bentuk tulisan yang mengandung maksud tertentu
dari pembuatnya.
 Surat di bawah tangan adalah surat yang tidak dibuat oleh pejabat umum
 Surat Autentik adalah surat yang dibuat oleh pejabat umum
( Pejabat umum adalah pejabat yang diangkat oleh Pemerintah dan ditugaskan serta diberi
wewenang untuk melakukan sebagian dari pekerjaan pemerintah untuk membuat akta yang
berkaitan dengan peeristiwa atau perbuatan hukum)
 Akta adalah surat yang ditandatangani , yang khusus dibuat untuk dijadikan bukti tentang
suatu peristiwa atau perbuatan hukum.

D. Objek Bea Meterai


Sebagaimana telah dikemukan di awal kegiatan belajar ini, Pasal 1 UU Bea Meterai
menyebutkan bea meterai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen yang dipakai oleh masyarakat
dalam lalu lintas hukum. Objek bea meterai adalah dokumen. Jika tidak dibuat dokumen, maka tidak
ada masalah pengenaan bea meterai. Selanjutnya UU Bea Meterai mengisyaratkan bahwa yang
menjadi objek bea meterai bukan perbuatan hukumnya, seperti perjanjian jual beli, perjanjian sewa-
menyewa, menerima uang, melakukan pemborongan pekerjaan, dan sebagainya; melainkan
dokumen yang dibuat untuk melakukan telah terjadi perbuatan itu, seperti akta jual beli, akta atau

HALAMAN 6
surat perjanjian sewa-menyewa, kuitansi, surat perjanjian pemborongan pekerjaan, dan sebagainya.
Isi surat perjanjian yang tidak mungkin dapat dilaksanakan, misalnya saja jual beli tanah di bulan
atau perjanjian mengenai perbuatan yang dilarang, tidak menjadi penghalang untuk mengenakan
bea meterai atas surat perjanjian mengenai hal-hal tersebut.
Dalam praktik di masyarakat di mungkinkan dua pihak atau lebih mengadakan perjanjian
tersebut, tetapi tanpa membuat dokumen yang berkaitan dengan perjanjian dimaksud (tanpa surat
perjanjian). Terhadap keadaan ini tidak ada permasalahan mengenai bea meterai karena yang
dikenakan bea meterai adalah dokumen, bukan perjanjian yang diadakan tersebut.
1. Dokumen yang DikenakanBea Meterai
Sesuai dengan pasal 2 UU Bea Meterai dokumen yang dikenakan bea meterai adalah :
a. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai
alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan, atau keadaan yang bersifat perdata.
b. Akta-akta notaris sebagai salinannya.
c. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkap-
rangkapnya.
d. Surat yang memuat jumlah Uang, yaitu;
1) Yang menyebutkan penerimaan uang;
2) Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank;
3) Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank; dan
4) Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi
atau diperhitungkan.
e. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep , dan cek.
f. Efek dalam nama dan bentuk apapun
Jumlah uang ataupun harga nominal yang disebut pada huruf d, e, dan f diatas juga
dimaksudkan termasuk jumlah uang atau harga nominal yang dinyatakan dalam mata uang asing.
Untuk menentukan nilai rupiahnya, jumlah uang atau harga nominal tersebut dikalikan dengan
nilai tukar yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang berlaku pada saat dokumen itu dibuat,
sehingga dapat diketahui apakah dokumen tersebut dikenakan atau tidak dikenakan bea
meterai.
E. Bukan Objek Bea Meterai
Pasal 4 UU Bea Meterai menentukan tidak dikenakan bea meterai atas dokumen, antara lain:
a. dokumen yang berupa :
1) surat penyimpanan barang;

HALAMAN 7
2) konosemen;
3) surat angkutan penumpang dan barang;
4) keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen sebagaimana dimaksud
dalam angka 1), angka 2), dan angka 3);
5) bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;
6) surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim;
7) surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat sebagaimana dimaksud
dalam angka 1) sampai angka 6).
b. segala bentuk Ijazah;
c. tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang ada
kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan
pembayaran itu;
d. tanda bukti penerimaan uang Negara dari kas Negara, Kas Pemerintah Daerah, dan bank;
e. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan
dengan itu dari Kas Negara, Kas Pemerintahan Daerah dan bank;
f. tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi;
g. dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh
bank, koperasi, dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut;
h. surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Jawatan Pegadaian;
i. tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

HALAMAN 8
3. Kegiatan Belajar 2.

SUBJEK, SAAT TERUTANG, DAN TARIF BEA METERAI

A. Subjek Bea Meterai

Pasal 6 UU Bea Meterai menentukan bahwa Bea Meterai terhutang oleh pihak yang
menerima atau pihak yang mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang
bersangkutan menentukan lain.
Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 6 tersebut dijelaskan subjek bea meterai untuk tiap-tiap jenis
dokumen sebagai berikut:
a. Dalam hal dokumen dibuat sepihak, misalnya kuitansi, Bea Meterai terhutang oleh penerima
kuitansi.
b. Dalam hal dokumen dibuat oleh 2 (dua) pihak atau lebih, misalnya surat perjanjian di bawah
tangan, maka masing-masing pihak terhutang Bea Meterai atas dokumen yang diterimanya.
c. Jika surat perjanjian dibuat dengan Akta Notaris, maka Bea Meterai yang terhutang baik atas asli
sahih yang disimpan oleh Notaris maupun salinannya yang diperuntukkan pihak-pihak yang
bersangkutan terhutang oleh pihak-pihak yang mendapat manfaat dari dokumen tersebut, yang
dalam contoh ini adalah pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Jika pihak atau pihak-pihak
yang bersangkutan menentukan lain, maka Bea Meterai terhutang oleh pihak atau pihak-pihak
yang ditentukan dalam dokumen tersebut.

B. Saat Terutang Bea Meterai


Saat terutang bea meterai sangat perlu diketahui karena akan menentukan besarnya tarif
bea meterai yang berlaku dan juga berguna untuk menentukan daluarsa pemenuhan bea meterai
dan denda admininistrasi yang terutang. Saat terutang bea meterai ditentukan oleh jenis dan di
mana suatu dokumen dibuat. Pasal 5 UU Bea Meterai menentukan saat terutang bea meterai
sebagai berikut:

a. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu diserahkan;
Lebih jauh dijelaskan bahwa yang dimaksud saat dokumen itu diserahkan termasuk juga bahwa
pada saat itu dokumen tersebut diterima oleh pihak untuk siapa dokumen itu dibuat, bukan pada
saat ditandatangani, misalnya kuintansi, cek, dan sebagainya.
b. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak, adalah pada saat selesainya dokumen
dubuat, yang ditutup dengan pembubuhan tanda tangan dari yang bersangkutan. Sebagai contoh
surat perjanjian jual beli. Bea Meterai terhutang pada saat ditandatanganinya perjanjian
tersebut.
c. Dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia.

HALAMAN 9
C. Tarif Bea Meterai
Tarif bea meterai pada dasarnya dibagai dua, yaitu (1) tarif berdasarkan jenis dokumen dan
(2) tarif berdasarkan jumlah nominal yang disebutkan dalam dokumen tersebut. Pembagian ini
memang tidak disebutkan secara jelas dalam UU Bea meterai, namun secara implisit dapat dilihat
dalam Pasal 2, yaitu dokumen yang merupakan surat ya.ng dibuat dengan tujuan untuk digunakan
sebagai barang bukti di pengadilan, seperti akta notaris dan akta PPAT dikenakan tarif yang sama
tanpa melihat isi dari dokumen tersebut. Selain itu dokumen yang memuat jumlah uang akan
dikenakan tarif bea meterai berdasarkan jumlah uang yang termuat dalam dokumen itu.
Tarif bea meterai ditetapkan dengan undang-undang. Berdasarkan tarif-tarif yang dikenakan
atas dokumen-dokumen sebagaimana tersebut pada Pasal 2 UU Bea Meterai, tarif bea meterai
adalah Rp 1.000,- dan Rp 500,-.

Selanjutnya dalam Pasal 3 UU BeaMeterai disebutkan bahwa dengan Peraturan Pemerintah


dapat ditetapkan besarnya tarif Bea Meterai dan besarnya batas pengenaan harga nominal yang
dikenakan Bea Meterai, dapat ditiadakan, diturunkan, dinaikkan setinggi-tingginya enam kali atas
dokumen-dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Berdasarkan ketentuan ini, seiring dengan
adanya perkembangan ekonomi nasional, pemerintah telah mengadakan dua kali penyesuaian tarif
dan besarnya harga nominal yang dikenakan bea meterai, yaitu perbahan pertama dengan Peraturan
Pemerinth Nomor 7 tahun 1995, tarif bea meterai diubah menjadi Rp 1.000,-- dan Rp 2.000,--
Perubahan kedua diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2000 ,yaitu tarif bea meterai
ditentukan sebesar Rp 3.000,-- dan Rp 6.000,-.
Perkembangan tarif bea meterai per jenis dokumen tercantum dalam tabel 1 berikut:
Tabel 1 Perbandingan Tarif Bea Meterai dari Waktu ke Waktu

Tarif Bea Meterai


N
Dokumen UU No. 13 PP No. 7 Th. PP No. 24
o.
Th. 1985 1995 th. 2000
1. Surat Perjanjian dan surat-surat lainnya (a.l. Rp 1.000,00 Rp 2000,00 Rp 6.000,00
Surat Kuasa, surat hibah, surat pernyataan)
yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan
sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan,
kenyataan/keadaan yang bersifat perdata.
2, Akta Notaris dan salinannya Rp 1.000,00 Rp 2000,00 Rp 6.000,00
3. Akta yang dibuat PPAT termasuk rangkapannya Rp 1.000,00 Rp 2000,00 Rp 6.000,00
4, Surat yang memuat sejumlah uang lebih dari Rp 1.000,00 Rp 2000,00 Rp 6.000,00
a. Rp 1 juta (harga nominal yang dinyatakan
dalam mata uang asing)
a. Yang menyebutkan penerimaan uang;
b. Yang menyatakan pembukuan uang atau
penyimpanan uang dalam rekening di

HALAMAN 10
bank;
c. Yang berisi beerisi pembeitahuan saldo
rekening di bank, dan
d. Yang berisi pengakuan bahwa utang uang
seluruhnya atau sebagian telah dilunasi
atau diperhitungkan.
4. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp Rp 500,00 Rp 1.000,00 Rp 3.000,00
b. 250.000,00 tetapi tidak lebih dari Rp
1.000.000,00
4c Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp Rp 500,00 Tidak Tidak
100.000,00 tetapi tidak lebih dari Rp terutang dikenakan
250.000,00
4d Surat yang memuat jumlah uang tidak lebih Tidak Tidak Tidak
dari Rp 1.00.000,00 terutang terutang dikenakan

5a Surat berharga seperti wesel, promes,dan Rp 1.000,00 Rp 2000,00 Rp 6.000,00


aksep yang hargaa nominalnya lebih dari Rp
1.000.000,00
5b Surat berharga seperti wesel, promes, dan Rp 500,00 Rp 1000,00 Rp 3.000,00
aksep yang hargaa nominalnya lebih dari Rp
250.000,00 tetapi tidak lebih dari Rp
1.000.000,00
5c Surat berharga seperti wesel, promes,dan Rp 500,00 Tidak Tidak
aksep yang hargaa nominalnya tidak lebih dari terutang dikenakan
Rp 250000,00
5d Surat berharga seperti wesel, promes,dan Tidak Tidak Tidak
aksep yang hargaa nominalnya tidak lebih dari terutang terutang dikenakan
Rp 100.000,00
6a Cek dan bilyet giro yang harga nominalnya Rp 1000,00 Rp 1000,00 Rp 3.000,00
lebih dari Rp 1.000.000,-
6b Cek dan bilyet giro yang harga nominalnya Rp500,00 Rp 1000,00 Rp 3.000,00
lebih dari Rp 250.000,- terapi tidak ebih dari Rp
1.000.000,--
6c Cek dan bilyet giro yang harga nominalnya Rp 500,00 Rp 1000,00 Rp 3.000,00
lebih dari Rp 100.000,00 tetapi tidak lebh dari
Rp 250.000,00
6d Cek dan bilyet giro yang harga nominalnya Tdk terutang Rp 1000,00 Rp 3.000,00
tidak lebih dari Rp 100.000,- *)
7a Efek yang harga nominalnya lebih dari Rp Rp 1.000,00 Rp 2.000,00 Rp 6.000,00
1.000.000
7b Efek yang harga nominalnya lebih dari Rp Rp 500,00 Rp 1.000,00 Rp 3.000,00
250.000.,00 tetapi tidak lebih dari Rp
1,000,000,00
7c Efek yang harga nominalnya lebih dari Rp Rp 500,00 Tidak Rp 3.000,00
100.000.,00 tetapi tidak lebih dari Rp terutang
250000,00
7d Efek yang harga nominalnya tidak lebih dari Rp Tidak Tidak Rp 3.000,00
100.000.,00 terutang terutang
8. Dokumen yang akan digunakan sebagai alat Rp 1.000,00 Rp 2000,00 Rp 6.000,00
bukti di muka pengadilan melputi :

HALAMAN 11
a. Surat-surat biasa dan surat kerumah-
tanggaan;
b. Surat-surat yang semula tidak
dikenakan bea meterai berdasarkan
tujuannya, jika digunakan untuk
tujuan lain atau digunakan oleh orang
lain, selain dari masksud semula.

Keterangan :
*) Berdasarkan Peraturan Pemerintah anomor 13 Tahun 1989 tentang Perubahan Besarnya Tarif
Bea Meterai dan besarnya bea meterai atas batas harga nominal yang dikenakan bea meterai ata cek dan
bilyet giro, diubah menjadi Rp 500,00 dengan tidak memperhatikan besarnya hyang dikenakan besrga
nominal.rnya.

4. Kegiatan Belajar 3.

PELUNASAN BEA METERAI

Secara umum bea meterai atas dokumen yang terutang dilunasi denga dua cara, yaitu
dengan menggunakan benda meterai atau menggunakan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan. Pada umumnya bea meterai atas dokumen dilunasi dengan benda meterai menurut tarif
yang ditentukan dalam undang-undang dan pelaturan pemerintah. Benda meterai yang dapat
digunakan untuk melunasi bea meterai yang terutang adalah meterai tempel dan kertas meterai.
Disampig itu, dengan Keputusan Menteri Keuangan dapat ditetapkan cara lain bagi pelunasan bea
meterai, misalnya membubuhkan tanda tera sebagai pengganti benda meterai diatas dokumen
dengan mesin-teraan, sesuai dengan pelaturan perundang-undangan yang ditentukan untuk itu.

A. Pelunasan Bea Meterai dengan Menggunakan Benda Meterai


Benda meterai yang dapat digunakan sebagai sarana pelunasan benda meterai terutang
adalah benda meterai sebagaimana dimaksud dalm Pasal 1 ayat (2) huruf b UU Bea Meterai, yaitu
meterai tempel dan kertas metereai yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

1. Meterai Tempel
Pelunasan bea meterai dengan menggunakan meterai tempel dilakukan sesuai dengan Pasal 7
ayat( 3) – (6) UU Bea Meterai, yaitu sebagai berikut.
a. Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen yang
dikenakan Bea Meterai.
b. Meterai tempel direkatkan di tempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan.

HALAMAN 12
c. Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan, dan tahun
dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan ada di
atas kertas dan sebagian lagi di atas meterai tempel.
d. Jika digunakan lebih dari satu meterai tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di
atas semua meterai tempel dan sebagian di atas kertas.
Letak perekatan meterai tempel bergantung kepada dimana letak tanda tangan akan
dibubuhkan diatas kertas yang bersangkutan. Pada umumnya di bawah tulisan yang sudah
selesai. Jika suatu dokumen yang dibubuhi meterai tempel harus ditanda-tangani oleh lebih dari
satu orang, penanda tanga pertama harus mempergunakan meterai tempel tersebut.
2. Kertas Meterai
Pelunasan bea meterai dengan menggunakn kertas meterai dilakukan sesua dengan Pasal 7
ayat (7) – (8) UU Bea Meterai, yaitu dengan cara menuliskan dokumen yang menjadi objek bea
meterai pada kertas meterai yang ditentukan. Tanda tangan pihak yang membuat dokumen tersebut
dilakukan di atas kertas meterai, pada bagian yang sesuai dengan dokumen yang dibuat (tidak
ditentukan harus pada sisi tertentu dari kertas meterai). Jika isi dokumen yang dikenakan bea
meterai terlalu panjang untuk dimuat seluruhnya di atas kertas meterai yang digunakan, maka untuk
bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan kertas tidak ber meterai. Suatu dokumen yang
menggunakan beberapa helai kertas (misalnya akta pendirian sebuah perseroan terbatas) dan akta
pendirian tersebut menggunakan kertas meterai, maka hanya bagian awal (helai pertama) saja yang
menggunakan meterai, kemudia helai-helai berikutnya dapat menggunakan kertas biasa tanpa
meterai. Kertas meterai yang sudah digunakan, tidak boleh digunakan lagi.

Kertas meterai yang sudah diguakan tidak boleh digunakan lagi. Hal ini berarti bahwa sehelai
kertas meterai hanya dapat digunakan untuk sekali pemakai, sekalipun dapat saja terjadi tulisan atau
keterangan yang dimuat dalam kertas meterai tersebut hanya menggunakan sebagian saja dari
kertas meterai. Andaikan bagian yang masih kosong atau tidak terisi tulisan atau keterangan akan
dimuat tulisan atau keterangan lain, maka atas pemuatan tulisan atau keterangan lain tersebut
terutang bea meterai tersendiri yang besarnya disesuaikan dengan besarnya tarif bea meterai yang
berlaku. Jika sehelai kertas meterai karena suatu hal tidak jadi digunakan dan dalam hal ini belum
ditandatangani oleh pembuat atau yang berkepentingan, sedangkan dalam kertas meterai telah
terlanjur ditulis dengan beberapa kata atau kalimat yang belum merupakan suatu dokumen yang
selesai, kemudian tulisan yang ada pada kertas meterai tersebut dicoret dan dimuat tulisan atau
keterangan baru, maka kertas meterai yang demikian dapat digunakan dan tidak perlu dibubuhi
meterai lagi.

HALAMAN 13
Apabila ketentuan tentang bentuk, ukuran, warna meterai tempel, dan kertas meterai,
demikian pula pencetakan, serta tata cara pelunasan bea meterai tidak dipenuhi, maka dokumen
yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai.

B. Pelunasan Bea Meterai Menggunakan Cara Lain


Pelunasan bea meterai lainnya adalah dengan menggunakan cara lain yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan. Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 104/KMK.04/1986 tanggal
22 Februari 1986, pelunasan bea meterai degan menggunakan cara lain adalah dengan
menggunakan mesin teraan meterai atau alat lain dengan teknologi tertentu, yang penggunaannya
harus mendapat izin tertululis dari Direktur Jendral Pajak. Izin penggunaan diberikan kepada pemakai
yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh Direktur Jendral Pajak. Ketentuan dengan cara
lain ini telah mengalami berbagai perubahan, seiring dengan perkembangan teknologi yang dapat
dipergunakan untuk memperlancar pelunasan bea meterai. Terakhir, ketentuan mengenai
pemeteraian dengan cara lain diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor
133b/KMK.04/2000 tanggal 28 April 2000 sebagai berikut:

1) Pemeteraian dengan cara lain dilakukan dengan tiga cara, yaitu:


a. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan mesin teraan meterai;
b. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan teknologi percetakan; atau
c. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan sistem komputerisasi
2) Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan cara lain harus mendapat ijin tertulis dari
Direktur Jenderal Pajak.
3) Hasil pencetakan tanda Bea Meterai Lunas harus dilaporkan kepada Direktur Jenderal Pajak;
Pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan menggunakan teknologi percetakan
dilaksanakan oleh Perusahaan Umum (Perum) Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri)
dan/atau Perusahaan sekuriti yang mendapat ijin dari Badan Koordinasi Pemberantasan
Uang Palsu (Botasupal) yang di tunjuk oleh Bank Indonesia.
4) Bea Meterai yang telah dibayar atas tanda Bea Meterai Lunas yang tercetak pada dokumen
yang tidak terutang Bea Meterai ataupun yang belum digunakan untuk mencetak tanda Bea
Meterai Lunas, dapat dialihkan untuk penggunaan berikutnya.
5) Penerbit dokumen dengan tanda Bea Meterai Lunas yang Bea Meterainya tidak atau kurang
dilunasi harus melunasi Bea Meterai yang terutang berikut dendanya 200 % (dua ratus
persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan cara menyetorkannya ke
Kas Negara atau Bank Persepsi.

HALAMAN 14
6) Bea Meterai kurang bayar atas cek, bilyet giro, dan efek yang tanda Bea Meterai Lunasnya
dibubuhkan sebelum 1 Mei 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan Meterai
atau dengan menggunakan meterai tempel.
1. Tata Cara Pelunasan dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan
Meterai
Ketentuan pelaksanaan tentang Tata Cara Pelunasan Bea Meterai dengan Membubuhkan
Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai tercantum dalam Keputusan Direktur
Jenderal Pajak Nomor Kep - 122b/Pj./2000 sebagai berikut :
a. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin
teraan meterai hanya diperkenankan kepada penerbit dokumen yang melakukan
pemeteraian dengan jumlah rata-rata setiap hari minimal sebanyak 50 dokumen.
b. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan
tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai harus mengajukan permohonan ijin
secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dengan mencantumkan
jenis/merk dan tahun pembuatan mesin teraan meterai yang akan digunakan, serta
melampirkan surat pernyataan tentang jumlah rata-rata dokumen yang harus dilunasi Bea
Meterai setiap hari.
c. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan
tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai harus melakukan penyetoran Bea
Meterai di muka minimal sebesar Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak Ke Kas Negara melalui Bank Presepsi.
d. Penerbit dokumen yang mendapatkan ijin penggunaan mesin teraan meterai mempunyai
kewajiban sebagai berikut :
(1) Menyampaikan laporan bulanan penggunaan mesin teraan meterai kepada Kepala
Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat tanggal 15 setiap bulan.
(2) Menyampaikan laporan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat paling
lambat satu bulan setelah mesin teraan meterai tidak dipergunakan lagi atau terjadi
perubahan alamat/tempat kedudukan pemilik/pemegang ijin penggunaan mesin
teraan meterai.
e. Ijin penggunaan mesin teraan meterai berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal
ditetapkannya, dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.
f. Bea meterai yang belum dipergunakan karena mesin teraan meterai rusak atau tidak
dipergunakan lagi, dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan meterai lain atau

HALAMAN 15
pencetakan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan ataupun dengan sistem
komputerisasi.
g. Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai, harus mengajukan
permohonan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat dengan
mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan.
h. Penggunaan mesin teraan meterai tanpa ijin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak dikenakan
sanksi pidana berdasarkan Pasal 14 Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea
Meterai.
i. Bea Meterai kurang bayar yang disebabkan oleh kelebihan pemakaian dari deposit yang
disetor dikenakan sanksi denda administrasi sebesar 200 % dari Bea Meterai kurang bayar,
dan pencabutan ijin penggunaan mesin teraan meterai.
j. Penggunaan mesin teraan meterai yang melewati masa berlakunya ijin yang diberikan,
dikenakan sanksi pencabutan ijin.
k. Penyampaian laporan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat yang melewati batas
waktu yang telah ditentukan dikenakan sanksi pencabutan ijin.
Seiring dengan perkembangan teknologi digital pada berbagai perlatan perkantoran,
termasuk dalam teknologi mesain tera, maka untuk mengantisipasi perkembangan teknologi tesebut,
telah diterbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per - 45/Pj/2008 Tentang Tata Cara
Pelunasan Bea Meterai Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan
Meterai Digital.
Pada prinsipnya hal-hal yang diatur dalam peraturan ini sama dengan hal-hal yang diatur
dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep - 122b/Pj./2000 tanggal 29 Oktober 2009.
Namun terdapat beberapa hal baru yang diatur antara lain :
a. Aplikasi Kode Deposit; adalah aplikasi yang diinstal dalam server milik distributor Mesin
Teraan Meterai Digital yang ditempatkan pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak yang
berfungsi sebagai penerbit Kode Deposit Mesin Teraan Meterai Digital setelah mendapat
informasi hasil verifikasi pembayaran deposit dari Aplikasi e- meterai;
b. Aplikasi e- meterai adalah aplikasi yang diinstal dalam server milik Direktorat Jenderal Pajak
yang melayani pendaftaran Mesin Teraan Meterai Digital, verifikasi pembayaran deposit, dan
pelaporan Bea Meterai, yang dapat diakses melalui portal intranet Direktorat Jenderal Pajak,
c. Petugas Kantor Pelayanan Pajak meneliti dan meng-input data yang disampaikan oleh wajib
Pajak ke Aplikasi e- meterai.

HALAMAN 16
d. Petugas Kantor Pelayanan Pajak mencetak Surat Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas
Dengan Mesin Teraan Meterai Digital dari Aplikasi e- meterai.
e. Wajib Pajak setelah membayar deposit Mesin Teraan Meterai Digital akan memperoleh Kode
Deposit paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal pembayaran deposit dilakukan.
f. izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital berlaku
selama 4 (empat) tahun sejak tanggal ditetapkan, dan dapat diperpanjang selama memenuhi
persyaratan.
g. Kepala Kantor Pelayanan Pajak dapat menerbitkan surat pemberitahuan akan berakhirnya
izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital. Surat
pemberitahuan tersebut dikirimkan kepada Wajib Pajak paling lambat 1 (satu) bulan sebelum
batas waktu berakhirnya izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin
Teraan Meterai Digital.
h. Apabila sampai dengan berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan Wajib Pajak
tidak melakukan perpanjangan izin pembubuhan, maka Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib
mengirim Surat Teguran kepada Wajib Pajak paling lambat 5 (lima) hari sejak berakhirnya
batas waktu berlakunya izin pembubuhan.
i. Wajib Pajak yang tidak melakukan perpanjangan izin pembubuhan dalam jangka waktu 15
(lima belas) hari sejak tanggal pengiriman Surat Teguran, dikenakan sanksi penangguhan
perpanjangan izin pembubuhan selama 1 (satu) tahun dimulai sejak tanggal diterbitkannya
Surat Keputusan Penangguhan Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas
Dengan Mesin Teraan Meterai Digital.
j. Surat Keputusan Penangguhan Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas
Dengan Mesin Teraan Meterai Digital harus diterbitkan paling lambat akhir bulan setelah
bulan berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan.
k. Penangguhan Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin
Teraan Meterai Digital diatur sebagai berikut:
1) Apabila sampai dengan berakhirnya batas waktu berlakunya izin pembubuhan tanda Bea
Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital Wajib Pajak belum juga melakukan
perpanjangan izin pembubuhan, maka Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib mengirim
Surat Teguranpaling lambat 5 (lima) hari sejak berakhirnya batas waktu berlakunya izin
pembubuhan.
2) Wajib Pajak harus menindaklanjuti Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada huruf C
yaitu dengan melakukan perpanjangan izin pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas

HALAMAN 17
dengan Mesin Teraan Meterai Digital dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari sejak
tanggal Surat Teguran dikirim.
3) Apabila Wajib Pajak tidak menindaklanjuti Surat Teguran sampai dengan batas waktu
yang ditentukan sebagaimana dimaksud pada huruf D, maka Kepala Kantor Pelayanan
Pajak wajib mengenakan sanksi penangguhan perpanjangan izin pembubuhan selama 1
(satu) tahun dimulai sejak tanggal diterbitkannya Surat Keputusan Penangguhan
Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai
Digital.
4) Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus nnencrbitkan Surat Keputusan Penangguhan
Perpanjangan Izin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai
Digital kepada Wajib Pajak paling lambat akhir bulan setelah bulan berakhirnya batas
waktu berlakunya izin pembubuhan Mesin Teraan Meterai Digital yang telah selesai
masa penangguhan perpanjangan izin pembubuhannya, dapat digunakan lagi oleh Wajib
Pajak.
5) Dengan berlakunya Peraturan Direktur Jenderal pajak ini, Keputusan Direktur Jenderal
Pajak Nomor KEP-122b/PJ./2000 tentang Tata Cara Pelunasan Bea Meterai Dengan
Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai sepanjang
mengatur tata cara pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai
Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Manual, dinyatakan masih berlaku sampai dengan
tanggal 28 April 2010.
6) Saldo deposit yang masih tersisa karena Mesin Teraan Meterai Manual yang digunakan
sampai dengan tanggal 28 April 2010 belum habis, dapat dialihkan ke setoran jenis pajak
yang lain dengan cara pemindahbukuan (Pbk).
Prosedur pengalihan saldo deposit diatur sebagai berikut:

a) Wajib Pajak harus mengajukan Surat Permohonan Pengalihan Deposit kepada


kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar, dengan:
- Mencantumkan jumlah saldo deposit yang akan dialihkan, dan
- Memberitahukan perhitungan ke setoran pajak yang lain untuk dilakukan
pemindahbukuan atas saldo deposit yang akan dialihkan.
b) Untuk mengetahui jumlah saldo deposit yang dialihkan Petugas Kantor
Pelayanan Pajak wajib melakukan penelitian fisik dan administrasi terhadap
Mesin Teraan Meterai Manual yang hasilnya dibuatkan Berita Acara
sebagaimana dimaksud dalam lampiran 10 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak

HALAMAN 18
Nomor SE-07/PJ.5/2001 tanggal 18 April 2001 tentang Pembubuhan Tanda Bea
Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai.
c) Berdasarkan Berita Acara sebagaimana dimaksud pada huruf b Kepala Kantor
Pelayanan Pajak menerbitkan Surat Pengalihan Saldo Deposit Bea Meterai
sebagaimana dimaksud dalam lampiran 13 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
Nomor SE-07/PJ.5/2001 tanggal 18 April 2001 tentang Pembubuhan Tanda Bea
Meterai Lunas Dengan Mesin Teraan Meterai.
d) Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib menyelesaikan pemindahbukuan (Pbk)
terhadap saldo deposit yang dialihkan dan mengirimkan Surat Pengalihan Saldo
Deposit Bea Meterai paling lambat 10 (lima) hari kerja sejak Surat Permohonan
Pengalihan di terima lengkap oleh Kantor Pelayanan Pajak.
l. Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan mempunyai daya
laku surut sejak tanggal 29 April 2008.
2. Tata Cara Pelunasan Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan Teknologi
Percetakan.
Ketentuan pelaksanaan tentang tata cara pelunasan bea meterai dengan membubuhkan
tanda bea meterai lunas dengan tekonologi percetakan diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal
Pajak nomor Kep - 122c/Pj./2000 sebagai berikut :
a. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi
percetakan hanya diperkenankan untuk dokumen yang berbentuk cek, bilyet giro, dan efek
dengan nama dan dalam bentuk apapun.
b. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda
Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan harus melakukan pembayaran Bea Meterai di
muka sebesar jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai, dengan enggunakan Surat
Setoran Pajak ke Kas Negara melalui Bank Presepsi.
c. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda
Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan, harus mengajukan permohonan ijin secara
tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen yang akan dilunasi
Bea Meterai dan jumlah Bea Meterai yang telah dibayar.
d. Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) dan perusahaan sekuriti
yang melakukan pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas pada cek, bilyet giro, atau efek dengan
nama dan dalam bentuk apapun, harus menyampaikan laporan bulanan kepada Direktur
Jenderal Pajak paling lambat tanggal 10 setiap bulan.

HALAMAN 19
(1) Bea Meterai kurang bayar atas cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam
bentuk apapun yang tanda Bea Meterai Lunasnya dibubuhkan sebelum tanggal 1
Mei 2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan meterai atau dengan
menggunakan meterai tempel.
(2) Bea Meterai kurang bayar atas cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam
bentuk apapun yang tanda Bea Meterai Lunasnya dibubuhkan sejak tanggal 1 Mei
2000 harus dilunasi dengan menggunakan mesin teraan meterai atau dengan
menggunakan meterai tempel dengan ditambah denda administrasi sebesar 200%
dari Bea Meterai kurang bayar tersebut.
(3) Pelunasan denda administrasi seperti tersebut pada ayat (2) di atas dilakukan
dengan menyetorkan ke Kas Negara melalui Bank Persepsi dengan menggunakan
Surat Setoran Pajak.
(4) Bea Meterai yang telah dibayar atas tanda Bea Meterai Lunas yang tercetak pada
cek, bilyet giro, dan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang belum
dipergunakan dapat dialihkan untuk pengisian deposit mesin teraan Meterai,
pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas lainnya dengan teknologi percetakan atau
pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi.
(5) Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai, harus
mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan
mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan.
e. Penerbit dokumen yang melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda
Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan tanpa ijin tertulis Direktur Jenderal Pajak
dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 14 Undang-undang Nomor 13 tahun 1985
tentang Bea Meterai.
f. Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) atau perusahaan
sekuriti yang melakukan pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas tanpa adanya ijin tertulis
dari Direktur Jenderal Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 14 Undang-
undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai dan pencabutan ijin penunjukan
sebagai pelaksana pembubuhan tanda BeaMeterai Lunas dengan teknologi percetakan.
g. Penyampaian laporan bulanan kepada Direktur Jenderal Pajak yang melewati batas waktu
yang telah ditentukan dikenakan sanksi pencabutan ijin penunjukan sebagai pelaksana
pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi percetakan.

HALAMAN 20
3. Tata Cara Pelunasan Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Sistem
Komputerisasi
Ketentuan Pelaksanaan Tata Cara Pelunasan Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai
Lunas Dengan Sistem Komputerisasi Diatur Dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep -
122d/PJ./2000 Tanggal 1 Mei 2000 sebagai berikut::
a. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem
komputerisasi hanya diperkenankan untuk dokumen yang berbentuk surat yang memuat jumlah
uang sebagaimana dimaksud Pasal 1 huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000
dengan jumlah rata-rata peMeteraian setiap hari minimal sebanyak 100 dokumen.
b. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda
Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi, harus mengajukan permohonan ijin secara
tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan mencantumkan jenis dokumen dan perkiraan
jumlah rata-rata dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai setiap hari.

c. Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda
Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi harus melakukan pembayaran Bea Meterai di
muka minimal sebesar perkiraan jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap bulan,
dengan menggunakan Surat Setoran Pajak ke Kas Negara melalui Bank Presepsi.
d. Penerbit dokumen yang mendapatkan ijin pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda
Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisasi harus menyampaikan laporan bulanan tentang
realisasi penggunaan dan saldo Bea Meterai kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat
tanggal 15 setiap bulan.
e. Ijin pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem
komputerisasi berlaku selama saldo Bea Meterai yang telah dibayar pada saat mengajukan ijin
masih mencukupi kebutuhan pe meteraian 1 (satu) bulan berikutnya.
f. Penerbit dokumen yang mempunyai saldo Bea Meterai kurang dari estimasi kebutuhan satu
bulan, harus mengajukan permohonan ijin baru dengan terlebih dahulu melakukan pembayaran
Bea Meterai di muka minimal sebesar kekurangan yang harus dipenuhi untuk mencukupi
kebutuhan 1 (satu) bulan.
g. Bea Meterai yang belum dipergunakan karena sesuatu hal, dapat dialihkan untuk pengisian
deposit mesin teraan meterai, atau pencetakan tanda Bea Meterai Lunas dengan teknologi
percetakan.
h. Penerbit dokumen yang akan melakukan pengalihan Bea Meterai sebagaimana dimaksud ayat
(1), harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak dengan
mencantumkan alasan dan jumlah Bea Meterai yang akan dialihkan.

HALAMAN 21
i. Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan sistem
komputerisasi tanpa ijin tertulis Direktur Jenderal Pajak dikenakan sanksi pidana berdasarkan
Pasal 14 ndang-undang Nomor 13 tahun 1985 tentang Bea.
j. Bea Meterai kurang bayar yang disebabkan oleh kelebihan pemakaian dari pembayaran di muka
yang dilakukan, dikenakan sanksi denda administrasi sebesar 200 % dari Bea Meterai kurang
bayar.
k. PembubuhanTanda Bea Meterai Lunas dengan sistem komputerisai yang melewati masa
berlakunya
ijin yang diberikan, dikenakan sanksi pencabutan ijin.
l. Penyampaian laporan kepada Direktur Jenderal Pajak yang melewati batas waktu yang telah
ditentukan dikenakan sanksi pencabutan ijin.

C. Akibat Apabila Ketentuan Cara Pelunasan Bea Meterai Tidak Dipenuhi


Pelunasan bea meterai, baik dengan menggunakan benda bea meterai maupun dengan cara
lain, harus memenuhi ketentuan yang telah dikemukakan di atas. Apabila ternyata ketentuan
pelunasan bea meterai tidak dipenuhi, maka dokumen tersebut dinyatakan tidak ber meterai dan
tentunya dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Undang-Undang bea meterai
dengan tegas menentukan apabila ketentuan tentang cara pelunasan bea meterai tidak dipenuhi,
maka berlaku ketentuan di bawah ini.
1) Dalam hal pemenuhan dengan menggunakan benda bea meterai tidak memenuhi ketentuan,
maka dokumen yang bersangkutan dianggap tidak ber meterai (Pasal 7 ayat (9) UU Bea Meterai).
Hal ini berakibat akan dikenakan sanksi berupa denda administrasi sebesar 200% dari bea
meterai yang tidak dibayar.
2) Dalam hal pemenuhan dengan menggunakan mesin teraan meterai atau cara lainnya
sebagaimana dimaksudkan dalm Pasal 7 ayat (2) huruf b UU Bea Meterai dilakukan tanpa izin,
maka berdasarkan Pasal 14, perubahan tersebut merupakan kejahatan sehingga dapat diancam
dengan pidana penjara selama-lamanya tujuh tahun.

D. Benda Meterai yang Saat Ini Masih Berlaku di Indonesia


Benda meterai yang saat ini masih berlaku di Indonesia sebagai sarana pelunasan bea
meteai adalah benda meterai desain tahun 2005, yang diterbitkan berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 dan mulai diberlakukan sejak tanggal 1 April 2005. Satu hal yang
perlu diperhatikan dalam peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 adalah peraturan
tersebut pada dasarnya hanya mengubah ketentuan tentang meterai tempel, yaitu mengganti
meterai tempel desain tahun 2002 dengan desain tahun 2005. hanya saja ternyata dalam ketentuan

HALAMAN 22
penutup peraturan tersebut menyatakan bahwa Keputusan Menteri Keuangan Nomor
323/KMK.03/2002 dinyatakan tidak berlaku. Hal ini berarti dasar hukum pemberlakuan kertas
meterain desai tahun 2002 juga dinyatakan tidak berlaku lagi.

Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 tentunya kurang


sesuai dengan UU Bea Meteai yang menentukan bahwa kertas meterai juga merupakan sarana
pelunasan bea meterai terutang. Oleh karena inu, Menteri Keuangan kemudian melakukan
perubahan atas aturan dimaksud dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
90/PMK.03/2005 tentang Perubahan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005, yang
ditetapkan tanggal 5 Oktober 2005 dan berlaku pada tanggal ditetapkan.

Peraturran Menteri Keuangan Nomor 90/OMK.03/2005 mengubah Pasl 4 Peraturan Menteri


Keuangan Nomor 15/PMK.03/2005 sehingga menjadi berbunyi: “Pada saat Peraturan Menteri
Keuangan ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 323/KMK.03/2002, tentang
Bentuk, Ukuran, dan Warna Benda Meterai Desain Tahun 2002, sepanjang yang mengatur mengenai
meterai tempel dinyatakan tidak berlaku.” Dengan demikian, sebenarnya ketentuan tentang kertas
meterai yang diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 323/KMK. 03/2002 tetap berlaku.
Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90/PMK.03/2005 memberikan kepastian
hukum tentang tetap berlakunya kertas meterai sebagai sarana pelunasan bea meterai terutang. .

E. Pengadaan dan Pengeloaan Benda Meterai


Pengadaan, Pengelolaan, dan penjualan benda meterai tidak dilaksanakan sendiri oleh
Direktorat Jenderal Pajak sebagai instansi yang mengelola pajak pusat, melainkan diserahkan kepada
instansi lain yang dipandang berkompeten dalam hal pengadaan maupun pengelolaan dan penjualan
benda meterai. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1986 tentang
Pengadaan, Pengelolaan, dan Penjualan Benda Meterai yang ditetapkan pada tanggal 5 Juni 1986
dan mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1986. Dalam peraturan pemerintah tersebut disebutkan
bahwa pencetakan dalam rangka pengadaan benda meterai dilaksanakan oleh Perum Percetakan
Uang Republik Indonesia (Peruri). Tata cara dan persyaratan pencetakan benda metera diatur lebih
lanjut oleh Menteri Keuangan. Sementara itu, pengelolaan dan penjualan benda meterai
dilaksanakan oleh Perum Pos dan Giro. Tata cara dan persyaratan pengelolaan dan penjualan benda
meterai diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan.

Saat ini tata cara dan persyaratan pengelolaan dan penjualan benda meterai diatur oleh
Menteri Keuangan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nimor 133a/KMK.04/2000

HALAMAN 23
tentangPengadaan, Pengelolaan, dan Penjualan Benda Meterai, dan ditetapkan tanggal 28 April 2000
dan mulai berlaku tanggal 1 Mei 2000. sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan tersebut
pencetakan dalam rangka pengadaan benda meterai dilaksanakan oleh Perusahaan Umum (Perum)
Percatakan Uang Republik Indonesia (Perurit). Hasil pencetakan benda meterai dilaporkan kepada
Direktur Jenderal Pajak. Tata cara dan persyaratan pencetakan diatur lebih lanjut oleh Direktur
Jenderal Pajak. Adapun pengelolaan dan penjualan benda meterai dilaksanakan oleh PT Pos
Indonesia dan atau badan usaha lain yang ditunjuk. Hasil penjualan dan persediaan Benda Materai
dilaporkan kepada Direktur Jenderal Pajak.
Sebagai imbalan atas perannya mengelola dan menjual benda meterai maka kepada PT Pos
Indonesia diberikan provisi atas penjualan benda meteai. Besarnya provisi penjualan benda meterai
ditetapkan oleh Direktur Jendersl Pajak. Untuk melaksanakan ketentuan ini Direktur Jenderal Pajak
telah mengeluarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor 448/PJ./2000 tanggal 17 Oktober
2000 tentang Besarnya Provisi Penjualan Benda Meterai. Dalam keputusan tersebut diatur provisi
penjualan benda meterai desain tahun 2000 kopur Rp. 3.000,00 dan Rp.6000,00 sebesar Rp.110,00
(seratus sepuluh rupiah) per lembar/keping. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Agustus
2000.

Benda meterai yang tidak berlaku lagi dan benda meterai yang rusak, cacat, atau kotor
sehingga tidak jelas lagi ciri-ciri keasliannya dimusnahkan berdasarkan keputusan Direktur Jenderal
Pajak, dan Tata cara pemusnahan benda meterai ditetapkam oleh Direktur Jenderal Pajak.
Pelaksanaan pemusnahan dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak, yang terdiri dari unsur Direktur
Jenderal Pajak, PT Pos Indonesia, dan Perum Peruri. Biaya pemusnahan dibebankan pada mata
anggaran Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

F. Pengawasan Terhadap Pengelolaan dan Penjualan Benda Meterai

Sehubungan dengan pengelolaan dan penjualan pada meterai milik Direktorat Jenderal Pajak
yang dilakukan oleh PT Pos Indonesia ( Persero ), Direktur Jenderal Pajak telah mengeluarkan Surat
Edaran Dirjen Pajak NOMOR SE - 23/PJ.53/2003 Tentang Pengelolaan dan Panjualan Benda Meterai
pada tanggal 17 September 2003. Dalam surat edaran tersebut disebutkan bahwa PT Pos Indonesia (
Persero ) mempunyai kewajiban antara lain :
1. Menjual benda meterai dan menyetorkan seluruh uang hasil penjualannya setiap hari ke
rekening giro atas nama kas negara c.q. Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya
meliputi tempat kedudukan Kantor Pos Pemeriksa ; dan
2. Menyampaikan laporan bulanan penjualan dan persediaan benda meterai beserta bukti setor
uang hasil penjualan, yang dapat berupa Surat Setoran Pajak (SSP) standar bagi Kantor Pos

HALAMAN 24
Pemeriksa yang belum on line atau SSP khusus bagi Kantor Pos Pemeriksa yang sudah on line,
kepada Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pos
Pemeriksa, paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
Dalam rangka pengawasan terhadap kewajiban PT Pos Indonesia (Persero) tersebut.
3. Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pos Pemeriksa
wajib melaksanakan hal-hal di bawah ini:
1) Mencocokan jumlah penjualan benda meterai yang tercantum pada laporan yang
disampaikan Kantor Pos Pemeriksa dengan lembar ketiga SSP standar atau SSP khsus atas
hasil penjualan benda meterai dan meneliti MAP/kode jenis pajak dan kode jenis storan
yang tercantum pada SSP tersebut.
a) Mencocokan bukti setor atas hasil penjualan benda meterai yang dilaporkan oleh Kantor
Pos Pemeriksa dengan lembar kedua SSP standar atau SSP khusus dari KPKN;
b) Menatausahakan laporan penjualan benda meterai beserta bukti setor atas hasil
penjualan benda meterai dengan baik.
4. Kantor Pelayanan Pajak wajib menyampaikan surat teguran kepada Kantor Pos Pemeriksa dalam
hal:
a) Kantor pos pemeriksa belum menyampaikan laporan bulanan penjualan dan persediaan
beda meterai sampai dengan batas waktu yang ditentukan; dan atau
b) Kantor pos pemeriksa tidak menyetorkan hasil penjualan benda meterai setiap hari ke
rekening giro atas nama kas negara c.q. Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya
meliputi tempat kedudukan Kantor Pos Pemeriksa.
5. Dalam rangka meneliti kebenaran laporan bulanan penjualan dan persediaan benda meterai dan
memantau persediaan benda meterai di wilayah kerjanya, Kantor Pelayanan Pajak bersama-
sama dengan Kantor Pos Pemeriksa wajib melakukan verifikasi atas penjualan dan pesediaan
benda meterai, dengan ketentuan sebagai berikut.
 Verifikasi penjualan dan persediaan benda meterai dilakukan secara berkala setiap
tiga bulan sekali (setiap triwulan) paling lambat 21 hari setelah berakhirnya triwulan
yang bersangkutan.
 Hasil verifikasi penjualan dan pesediaan benda meterai dicantumkan dalam berita
acara yang ditandatangani kedua belah pihak dan dituangkan dalam laporan
Verifikasi Penjualan dan Persediaan Benda Meterai.
 Berita acara dan laporan Verifikasi Pejualan dan Pesediaan Benda Meterai
disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah DJP dengan tembusan disampaikan
kepada Manajemen Prangko dan Meterai PT Pos Indonesia (Persero) dan Direktur
PPN dan PTLL paling lambat akhir bulan pada bulan dilakukannya verifikasi.

HALAMAN 25
6. Kepala Kantor Wilayah DJP wajib mengawasi pelaksanaan veifikasi penjualan dan persediaan
benda meterai di wilayah kerjanya dan wajib menyampaikan Laporan Triwulanan Penjualan dan
Persediaan Benda Meterai kepada Direktur PPN dan PTLL paling lambat tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah bulan diterimanya Laporan Verifikasi Penjualan dan Persediaan Benda
Meterai. Hal ini perlu dipahami dan dilaksanakan oleh pejabat pajak terkait demi tertib
administrasi pengelolaan benda meterai.

G. Pemeteraian Kemudian
Pemeteraian kemudian merupakan salah satu cara pelunasan bea meterai selain pelunasan
dengan menggunakan benda meterai dan pelunasan dengan cara lain. Hal ini untuk memberikan
kemudahan Wajib Pajak dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-undang Nomor
13 Tahun 1985 yang menyatakan : Pemeteraian kemudian dilakukan atas:
a. Dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat
pembuktian di muka pengadilan.
b. Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya.
c. Dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia.

1. Ketentuan Pelaksanaan Pemeteraian kemudian

Ketentuan pelaksanaan tentang pemeteraian kemudian diatur dalam Keputusan Menteri


Keuangan RI Nomor 476/Kmk.03/2002 Tentang Pelunasan Bea Meterai dengan Cara Pemeteraian
Kemudian yang ditetapkan dan mulai berlaku pada tanggal 19 November 2002 sebagai berikut:
a. Pemeteraian kemudian wajib dilakukan oleh pemegang dokumen sebagaimana dimaksud pasal
10 UU Bea Meterai dengan menggunakan meterai Tempel atau Surat Setoran Pajak dan harus
disahkan oleh Pejabat Pos.
b. Lembar kesatu dan lembar ketiga Surat Setoran Pajak yang digunakan untuk pemeteraian
kemudian harus dilampiri dengan daftar dokumen yang dimeteraikan kemudian dan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Setoran Pajak dimaksud.
c. Pengesahan atas pemeteraian kemudian dapat dilakukan setelah pemegang dokumen
membayar denda :
1) Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya,
wajib membayar denda sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau
kurang dilunasi.
2) Dalam hal pemeteraian kemudian atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan
digunakan di Indonesia, baru dilakukan setelah dokumen digunakan, maka pemegang

HALAMAN 26
dokumen wajib membayar denda sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang
terutang.
3) Denda sebagaimana dimaksud dalam a) dan b) dilunasi dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak.
d. Besarnya Bea Meterai yang harus dilunasi dengan cara pemeteraian kemudian adalah:
1) Atas dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat
pembuktian di muka pengadilan adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan
peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan.
2) Atas dokumen yang tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya adalah sebesar Bea
Meterai yang terutang;
3) Atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia adalah sebesar
Bea Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian
kemudian dilakukan.
2. Tata Cara Pemeterian Kemudian dengan menggunakan Meterai Tempel
Tata cara pemeteraian kemudian dengan menggunakan meterai tempel diatur dalam
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-02/PJ/2003 tanggal 6 januari 2003, sebagai
berikut :
a. Pemegang dokumen membawa dokumen yang akan dilunasi dengan Cara pemeteraian
kemudian kepada Pejabat pos pada Kantor Pos terdekat;
b. Pemegang dokumen melunasi Bea Meterai vang terutang atas dokumen yanq
dimeteraikan kemudian tersebut sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 476/KMK.03/2002 tentang Pelunasan Bea Meterai
Dengan Cara Pemeteraian Kemudian dengan cara menempelkan Meterai Tempel pada
dokumen yang akan dimeteraikan kemudian.
c. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau Kurang dilunasi sebagaimana
mestinya Wajib membayar denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak
atau kurang dilunasi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak dengan kode jenis MAP
0174.
d. Dokumen telah dimeteraikan kernudian dan SSP dicap "TELAH DIMETERAIKAN
KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 sebagaimana diatur
Iebih lanjut dengan KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 476/KMK.03/2002" oleh
Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan, nama terang dan Nomor Pegawai Pos yang
bersangkutan.
3. Pemeteraian Kemudian dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) diatur dalam Keputusan
Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-02/PJ/2003 tanggal 6 januari 2003, sebagai berikut :

HALAMAN 27
a. Membuat daftar dokumen yang akan dimeteraikan kemudian.
b. Membayar Bea Meterai yang terutang berdasarkan daftar tersebut sesuai ketentuan di
dalam Pasal 4 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 476/KMK.03/2002 tentang
Pelunasan bea Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian dengan menggunakan SSP.
c. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagairnana
mestinya vvajib membayar denda administrasi sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak
atau kurang dilunasi dengan menggunakan SSP terpisah dengan SSP yang digunakan
untuk memeteraikan kemudian.
d. Cara pengisian SSP adalah sebagai berikut
1) SSP yang digunakan untuk melunasi pemeteraian kemudian, diisi dengan Kode
Jenis Pajak (MAP) 0171.
2) SSP yang digunakan untuk membayar denda administrasi, diisi dengan Kode
Jenis (MAP) 0174.
e. Daftar dokumen yang dimeteraikan kemudian dan SSP yang telah digunakan untuk
membayar pemeteraian kemudian dicap "TELAH DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI
UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 1985 sebagaimana diatur lebih lanjut dengan
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 476/KMK.03/2002" oleh Pejabat Pos disertai
dengan tanda tangan, nama terang dan Nomor Pegawai Pejabat Pos yang bersangkutan.

5. Kegiatan Belajar 4

HALAMAN 28
SANKSI, DALUWARSA, DAN KETENTUAN PIDANA

F. Sanksi Atas Kewajiban Pemenuhan Bea Cukai


Salah satu daya paksa yang dapat dilakukan oleh fiskus untuk menerapkan pajak terhadap
masyarakat atau wajib pajak adalah adanya sanksi yang tegas terhadap barang siapa yang melakukan
pelanggaran ketentuan perpajakan. Hal ini juga berlaku dalam pengenaan dan pemungutan bea
meterai. Pasal 8 UU Undang Bea Meterai dengan tegas mengatur bahwa dokumen yang bea
meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya dikenakan denda administrasi sebesar
200% dari bea meterai yang tidak atau kurang dibayar. Pemegang dokumen dimaksud harus
melunasi bea meterai yang terutang berikut dendanya dengan cara pemeteraian kemudian.
Pengenaan sanksi denda ini dapat dilihat pada contoh di bawah ini.

1. Dokumen yang menurut ketentuan dikenakan bea mcterai Rp 6.000,00 tetapi temyata tidak
diberi meterai. Besarnya pemeteraian kemudian yang harus dilakukan terhadap dokumen
tersebut adalah sebesar Rp 18.000,00 dengan perincian sebagai berikut:
 Bea Meterai yang tidak dibayar = Rp. 6.000,00
 Denda Administrasi 200 % = Rp. 12.000,00
 Jumlah = Rp. 18.000,00
2. Jika dokumen sebagaimana contoh 1 diatas hanya diberi meterai Rp. 3.000,00 maka besarnya
pemeteraian kemudian adalah Rp. 9.000,00 dengan perincian sebagai berikut:
o Bea Meterai yang kurang dibayar = Rp. 3.000,00
o Denda Administrasi 200 % = Rp. 6.000,00
o Jumlah = Rp. 9.000,00

G. Daluwarsa Bea Meterai

Berdasarkan Pasal 12 UU Bea Meterai kewajiban pemenuhan bea meterai dan denda
administrasi yang terutang daluwarsa setelah lampau waktu lima tahun, terhitung sejak tanggal
dokumen dibuat. Ditinjau dari segi kepastian hukum daluwarsa lima tahun dihitung sejak
tanggal dokumen dibuat, berlaku untuk seluruh dokumen termasuk kuitansi. UU Bea Meterai
menentukan bahwa yang daluwarsa adalah kewajiban pemenuhan bea meterai dan denda
administrasi yang terutang. Hal ini berarti apabila dokumen yang dibuat, baik sepihak maupun
oleh beberapa pihak, merupakan dokumen yang harus dikenakan bea meterai, tetapi ternyata
tidak dipenuhi oleh pihak pembuat pemegang dokumen tersebut dalam jangka lima tahun dan
tidak terjadi sengketa, maka setelah lewat lima tahun kewajiban bea meterai atas dokumen
tersebut menjadi tidak berlaku lagi.
Ketentuan saat daluwarsa kewajiban pemenuhan bea meterai tersebut di atas, dalam
praktiknya mungkin mengalami kendala, yaitu apabila ketentuan daluwarsa tersebut dikaitkan

HALAMAN 29
dengan saat terutang bea meterai atas dokumen yang dibuat sepihak, dalam hal ini kwitansi
misalnya. Kutitansi terutang, apabila nilai nominalnya sudah memenuhi ketentuan, terutang bea
meterai saat diserhakan dan diterima oleh pihak pembayar. Permasalahan akan timbul apabila
tanggal saat menyerahkan/saat diterima tidak sama dengn tanggal kuitansi.
Dokumen yang dibuat di luar negeri pada dasarnya tidak terutang bea meterai pada
saat dokumen tersebut dibuat di luar negeri. Kewajiban bea meterai Indonesia baru timbul pada
saat dokumen tersebut dipergunakan di Indonesia. Dengan demikian, tentunya daluwarsa bea
meterai Indonesia atas dokumen tersebut tidak bisa dihitung sejak tanggal dibuatnya dokumen
tersebut (di luar negeri), melainkan seharusnya dihitung sejak tanggal dipergunakan di Indone-
sia. Apabila dokumen tersebut dipergunakan di Indonesia enam tahun setelah dibuat di luar
negeri, tentunya apabila menurut ketentuan tentang daluwarsa bea meterai menurut UU Bea
Meterai, maka pemenuhan kewajiban bea meterai di Indoesia telah daluwarsa sehingga
dokumen tersebut dapat dipergunakan di Indonesia tanpa perlu membayar bea meterai
Indonesia. Hal ini tentunya bertentangan dengan ketentuan Pasal 12 UU Bea Meterai yang
menegaskan bahwa justru pada saat dokumen dipergunakan di Indonesia (walaupun setelah
enam tahun sejak dokumen dibuat di luar negeli) pada saat itulah terutang bea meterai
Indonesia.

H. Ketentuan Khusus

Dalam UU Bea Meterai terdapat ketentuan khusus bagi para pejabat tertentu yang tidak
dibenarkan untuk melakukan sesuatu jika dokumen yang diajukan kepadanya ternyata bea
meterainya tidak atau kurang dilunasi sesuai dengan tarif yang berlaku. Sesuai Pasal 11 UU Bea
Meterai pejabat pemerintah, hakim, panitera, juru sita, notaris, dan pejabat umum lainnya,
masing-masing dalam tugas atau jabatannya tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan di
antaranya:
1. Menerima, mempertimbangkan, atau menyimpan dokumen yang bea meterainya tidak atau
kurang dibayar;
2. Melekatkan dokumen yang bea meterainya tidak atau kurang dibayar sesuai dengan
tarifnya pada dokumen yang lain yang berkaitan;
3. Membuat salinan, tembusan, rangkapan, atau petikan dari dokumen yang bea meterainya
tidak atau kurang dibayar; atau

4. Memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang tidak atau kurang dibayar sesuai
dengan tarif bea meterainya.

HALAMAN 30
Ketentuan Pasal 11 ini menunjukkan bahwa mereka juga harus turut mengawasi
pelaksanaan UU Bea Meterai. Dalam pekerjaan sehari-hari para pejabat tersebut memiliki
kewenangan tertentu yang diberikan oleh undang-undang dan peraturan lainnya untuk
mengesahkan ataupun mempergunakan dokumen, yang pada umumnya merupakan objek bea
meterai. Oleh karena itu, untuk mengamankan penerimaan negara dari sektor bea meterai,
para pejabat tersebut memiliki kewajiban untuk tidak menggunakan dokumen yang bea
meterainya belum dilunasi sebagaimana mestinya.
Pelanggaran terhadap ketentuan di atas dikenakan sanksi administratif sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagi para pejabat yang dimaksud apabila me-
langgar atau tidak mengindahkan ketentuan itu dikenakan sanksi administratif sesuai dengan
peraturan perundangundangan yang berlaku bagi masing-masing pejabat yang bersangkutan.
Misalnya bagi pegawai negeri sipil dapat diterapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No. 30 Tahun 1980. Bagi Notaris dapat diterapkan Peraturan Jabatan Notaris (Stbl 1860 No.3).

I. Ketentuan Pidana

Sebagaimana dengan jenis pajak lainnya, pada bea meterai juga terdapat kemungkinan
terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait terutama oleh wajib pajak bea
meterai. Untuk menjaga agar ketentuan dalam bea meterai dapat dijalankan secara benar,
maka terhadap pihak yang melakukan tindak pidana dikenakan sanksi pidana sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Sesuai Pasal 13 dan 14 UU Bea Meterai, ketentuan berkaitan dengan
tindak pidana di bidang bea adalah sebagai berikut::
1. Dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana :
a. barangsiapa meniru atau memalsukan meterai tempel dan kertas meterai atau meniru dan
memalsukan tanda tangan yang perlu untuk mensahkan meterai;
b. barangsiapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk diedarkan atau memasukan
ke Negara Indonesia meterai palsu, yang dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan hak;
c. barangsiapa dengan sengaja menggunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan,
menyediakan untuk dijual atau dimasukan ke Negara Indonesia meterai yang mereknya,
capnya, tanda-tangannya, tanda sahnya atau tanda waktunya mempergunakan telah
dihilangkan seolah-olah meterai itu belum dipakai dan atau menyuruh orang lain
menggunakan denganmelawan hak;
d. barang siapa menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas yang diketahuinya digunakan
untuk melakukan salah satu kejahatan untuk meniru dan memalsukan benda meterai.

HALAMAN 31
Tindak Pidana sebagaimana dimaksud di atas adalah kejahatan.
2. Barang siapa dengan sengaja menggunakan cara lain sebagaimana dimaksud dalam pasal 7
ayat (2) huruf b tanpa izin Menteri Keuangan, dipidana dengan pidana penjara selama-
lamanya 7 (tujuh) tahun.

Pasal 13 UU Bea Meterai tidak menentukan besarnya hukuman dan juga tidak
mencantumkan kualifikasi perbuatannya. Hal ini diserahkan kepada hakim yang
mengadilinya sesuai dengan ketentuan dalam KUHP.

E. Ketentuan Peralihan

Pasal 15 UU Bea Meterai mengatur tentang ketentuan peralihan pemberlakuan UU Bea


Meterai yang baru. Hal ini perlu diatur untuk mencegah kevakuman bea meterai pada awal
pemberlakuan bea meterai yang baru sesuai dengan UU Bea Meterai. Atas dokumen yang tidak
atau kurang dibayar bea meterainya yang dibuat sebelum UU Bea Meterai berlaku, bea
meterainya tetap terutang berdasarkan Aturan Bea Meterai 1921( Zegel- verordening 1921 ).
Pelaksanaan ketentuan ini diatur oleh Menteri Keuangan.
Walaupun ketentuan peralihan ini dengan tegas dicantumkan, untuk melaksanakan
ketentuan tersebut perlu diperhatikan mengenai kapan saat terutangnya bea meterai
sebagaimana yang dimaksudkan dalam Pasal 5 UndangUndang Bea Meterai, sebagaimana
contoh di bawah ini.

1. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak adalah pada saat dokumen itu diserahkan. Oleh
karena itu, kuitansi, cek dan sebagainya, yang walaupun dibuat (ditandatangani) dalam
bulan Desember 1985, tetapi baru diserahkan dalam bulan Januari 1986 berlaku ketentuan
UndangUndang Bea Meterai.

2. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak adalah pada saat selesainya dokumen itu
dibuat. Oleh karena itu, kontrak pemborongan yang ditandatangani pada tanggal 31
Desember 1985 atau sebelumnya, berlaku ketentuan ABM 1921.

3. Dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia. Dengan
demikian, dokumen, misalnya surat perjanjian kredit yang dibuat.
6. Kegiatan Belajar 5.

PENEGAKAN HUKUM BEA METERAI

Bea meterai merupakan pajak yang menjadi salah satu sumber penerimaan negara

HALAMAN 32
yang memberikan kontribusi penerimaan yang cukup besar. Hal ini menuntut fiskus sebagai
pejabat negara yang diberi tugas dan kewenangan untuk menatausahakan bea meterai harus
dapat memasyarakatkan, memantau, dan mengawasi agar bea meterai dapat dilaksanakan
secara benar oleh masyarakat. Untuk pengamanan dan kelancaran pelaksanaan ketentuan
tentang bea meterai, fiskus perlu memerhatikan dan melakukan beberapa tindakan di
antaranya :
A. Pemantauan Pelaksanaan Pengenaan Bea Meterai.
Langkah-langkah pemantauan diperlukan dalam rangka menjamin keamanan
penerimaan negara berkaitan dengan pelaksanaan pemenuhan kewajiban bea meterai oleh
masyarakat. Pemantauan dapat berupa:

1. Melakukan pengamatan di tempat-tempat penjualan benda meterai untuk memantau


kemungkinan beredarnya benda meterai palsu;

2. Secara cermat mengawasi penggunaan mesin teraan bea meterai;

3. Segera mengadakan penyuluhan terhadap pengusaha hotel, rumah makan, pedagang


(partai dan eceran), pabrikan, dan pengusaha lainnya yang membuat nota, faktur yang
juga berfungsi sebagai tanda terima uang bahwa mereka harus membubuhkan meterai
tempel pada nota / faktur tersebut sesuai dengan UU Bea Meterai;

4. Memantau pemeteraian cek, bilyet giro, surat yang menyatakan pembukuan uang dan
penyimpanan uang dalam rekening di bank, serta surat yang berisi pemberitahuan saldo
rekening di bank, apakah telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

B. Pembentukan Tim Verifikasi Penjualan Benda Meterai


Sebagaimana telah dikemukakan wewenang penjualan dan pengelolaan peredaran
benda meterai diserahkan kepada PT Pos Indonesia (Persero). Untuk memastikan bahwa
penjualan dan pelaporan penjualan benda meterai dilakukan secara benar, fiskus memiliki
tugas untuk memantau pelaksanaan penjua1an benda meterai. Guna melaksanakan tugas ini,
Direktur Jenderal Pajak membentuk tim verifikasi penjualan benda meterai dengan pertim-
bangan bahwa untuk ketertiban dan kelancaran pelaksanaan verifikasi penjualan benda
meterai, perlu dibentuk tim yang bertugas melaksanakan penelitian, penatausahaan, dan pela-
poran terhadap hasil penjualan benda meterai yang telah dilakukan oleh PT Pos Indonesia
(Persero). Hal ini dituangkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-
565/PJ.53/1998 tentang Pembentukan Tim Verifikasi Penjualan Benda Meterai yang ditetapkan
pada tanggal 22 Oktober 1998 dan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

HALAMAN 33
Berdasarkan keputusan ini, Direktur Jenderal Pajak membentuk tim verifikasi penjualan
benda meterai yang anggota-anggotanya terdiri dari unsur Direktorat Jenderal Pajak dan PT Pos
Indonesia (Persero). Unsur Direktorat Jenderal Pajak beranggotakan Kepala Subdit PPN Jasa dan
Pajak Tidak Langsung Lainnya (PTLL), Kepala Bagian Keuangan Kantor Pusat Direktorat Jenderal
Pajak, Kepala Seksi Pajak Tidak Langsung Lainnya, Kasubag Pembukuan dan Verifikasi, Kaur
Pengadaan Bagian Perlengkapan, dan Pelaksana Subdit PPN Jasa dan ITLL. Unsur PT Pos Indo-
nesia (Persero) terdiri dari Manajer Keagenan, Manajer Verifikasi, Manajer Prangko, Manajer
Tarif & HI', Manajer Pandapos, dan Asman Pandapos.
Tim verifikasi penjualan benda meterai mempunyai tugas-tugas antara lain:
a. Melaksanakan penelitian, baik secara administrasi maupun fisik atas hasil penjualan
benda meterai dan persediaan benda meterai;
b. Melakukan pencatatan, penatausahaan, dan pelaporan yang berhubungan dengan
pelaksanaan tugas pada huruf a; dan
c. Melaporkan hasil pelaksanaan verifikasi penjualan dan persediaan benda meterai
kepada Direktur Jenderal Pajak.

C. Pemberian Izin Dan Pengawasan Penggunaan Mesin Teraan Bea Meterai


Pemberian izin penggunaan mesin teraan bea meterai dilakukan atas dasar pertimbangan
kemudahan dan pemberian pelayanan yang secepatya kepada para pemakai mesin teraan bea
meterai. Dan memberikan jaminan keamanan yang memadai bagi penerimaan negara. Mesin
teraan bea meterai merupakan mesin buatan manusia yang mungkin saja mengalami kerusakan
dalam pemakaiannya. Apabila terjadi kerusakan salah satu implikasi yang perlu diperhatikan
adalah status deposit pembayaran dimuka untuk mendapatkan izin pemakaian mesin tersebut,
apakah masih dapat digunakan, dianggap hangus, atau dapat diminta kembali oleh pemilik / atau
pemegang izin mengunakan mesin teraan bea meterai.

Pada dasarnya apabila mesin teraan bea meterai rusak masih menyimpan deposit atau sisa
deposit, maka sisa deposit tersebut dapat dipakai untuk pengisian deposit yang akan dilaksanakan
kemudian, setelah mesin teraan bea meterai diperbaiki dan dapat dipergunakan dengan
semestinya. Dengan demikian, tidak dilakukan pengembalian atas pembayaran bea meterai
yang telah disetor.

Untuk setiap pembukaan dan pemasangan segel mesin teraan bea meterai baik untuk
keperluan perbaikan mesin teraan bea meterai yang bersangkutan maupun untuk pengisian
deposit, dibuat Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel dan dicatat pada buku register

HALAMAN 34
pengisian deposit mesin teraan bea meterai. Setiap pengisian deposit mesin teraan bea
meterai dicatat juga dalam Kartu Pengawasan Pengisian Deposit Mesin Teraan bea meterai.
Untuk pengawasan, terhadap pemakai mesin teraan bea meterai yang ada dilakukan
pendataan sehingga dapat diketahui jumlah pemakai, jumlah mesin teraan bea meterai, merek
mesin teraan, dan ketertiban pengiriman laporan pemakaian mesin teraan.

Terhadap para pemilik / pemegang izin mesin teraan bea meterai perlu dilakukan
pengawasan agar mereka tidak menyalahgunakan izin yang diberikan kepadanya. Dalam rangka
meningkatkan pengawasan terhadap para pemilik pemegang izin menggunakan mesin teraan
bea meterai, fiskus harus mengefektifkan sarana administrasi pengawasan yang sudah ada
untuk menghindari penyimpangan yang mungkin terjadi dalam penggunaan mesin teraan bea
meterai. Berkaitan dengan pengawasan tersebut ada beberapa langkah yang perlu dilakukan
oleh fiskus, sebagaimana di bawah ini :
a. Fiskus harus mengawasi kepatuhan para pemegang izin pemilik mesin teraan bea meterai
dalam memenuhi kewajiban menyampaikan laporan bulanan. Dalam hal pemegang lzin
tidak mematuhi kewajibannya, fiskus harus segera mengirim surat peringatan dan
dilanjutkan dengan mengirim surat teguran sesuai dengan ketentuan yang belaku. Apabila
peringatan dan teguran tidak diindahkan, fiskus segera melakukan penyegelan terhadap
mesin teraan bea meterai milik pemegang izin pemilik mesin teraan bea meterai tersebut.

b. Izin penggunaan mesin teraan bea meterai diberikan untuk jangka waktu dua tahun untuk
mesin teraan manual dan empat tahun utuk mesin teraan digital, sebagaimana ditentukan
dalam surat keputusan pemberian izinnya, dan dapat diperpanjang lagi. Apabila batas
waktu dua tahun/empat tahun hampir habis, atau angka depositnya sudah mendekati
angka pembilang akhir, fiskus mengingatkan kepada yang bersangkutan untuk menyetor
kembali dan mengajukan permohonan perpanjangan izinnya.

c. Apabila izin tidak akan diperpanjang, fiskus segera melakukan penyegelan dan pencabutan
izin pemakaiannva.
d. Apabila deposit yang telah dibayarkan oleh pemegang Izin pemilik mesin teraan bea
meterai hampir habis sebelum jangka waktu dua tahun berdasarkan laporan
bulanannya, fiskus harus menganjurkan kepadanya untuk segera menyetor kembali
dalam waktu tujuh hari sebelum depositnya habis dan selanjutnya dilakukan
pembukaan segel dan pengisian deposit yang baru dengan dibuatkan Berita Acara
Pembukaan Segel Mesin teraan bea meterai serta memperpanjang / memperbaharui
izin pemakaiannya.

HALAMAN 35
e. Terhadap pemegang izin pemilik mesin teraan bea meterai yang melaporkan bahwa
mesin teraan bea meterainya rusak, fiskus harus melakukan pemeriksaan untuk
memastikan kebenaran laporan tersebut. Pemeriksaan dilakukan dengan cara
melakukan pembukaan segel mesin teraan untuk mengetahui jumlah deposit yang
masih tersedia, untuk selanjutnya dikompensasikan untuk pengisian deposit mesin
teraan bea meterai yang baru, atau terus digunakan hingga habis setelah mesin yang
rusak tersebut diperbaiki.
f. Untuk menjaga kerapihan dokumen pemegang izin mesin teraan meterai, fiskus perlu
membuat berkas khusus bagi setiap pemilik / pemegang izin mesin teraan bea
meterai, yang menampung dokumen-dokumen berupa: arsip Surat Keputusan
Pemberian Izin, surat setoran deposit, laporan bulanan, arsip surat peringatan, arsip
surat teguran, arsip Surat Keputusan Perpanjangan Izin, arsip Berita Acara
Pemasangan Segel, arsip Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel, serta surat--
surat lain yang berkenaan dengan pemilik mesin teraan

D. Pemantauan Proses Penukaran Benda Meterai


Benda meterai yang dapat digunakan sebagai sarana perunasan bea meterai selalu
mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini dapat terjadi karena adanya per-
ubahan tarif bea meterai terutang yang diatur dengan peraturan pemerintah, untuk
menghindari upaya pemalsuan dari pihak yang tidak bertanggung jawab, maupun karena
alasan teknis perubahan angka tahun dari abad ke-20 menjadi abad ke-21. Umumnya apabila
dilakukan perubahan desain benda meterai tidak begitu saja membuat benda meterai desain
yang lama (sebelumnya) menjadi tidak berlaku pada saat keputusan Menteri Keuangan tentang
desain benda meterai yang baru dikeluarkan atau diberlakukan. Selalu ada jangka waktu
pemberlakuan benda meterai yang lama agar tidak terjadi kekosongan benda meterai di
masyarakat. Selanjutnya apabila masa ·berlaku benda meterai desain lama telah terlampaui
benda meterai desain lama masih dapat ditukarkan dengan benda meterai desain yang baru
dengan nilai tukar yang sarna sampai jangka waktu tertentu. Penukaran dapat dilakukan pada
kantor-kantor pos di seluruh Indonesia.
Dalam praktik masih sering dijumpai Kantor pos melakukan penjualan benda meterai
desain lama walaupun masa berlaku benda meterai tersebut telah berlalu. Hal ini tentunya
tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, fiskus harus senantiasa memantau penjualan benda
meterai dan meminta kantor pos untuk segera menghentikan penjualan tersebut Apabila

HALAMAN 36
benda meterai desain lama temyata masih ada di kantor-kantor pos, fiskus harus meminta IT
Pos Indonesia (Persero) untuk segera menariknya ke gudang Kantor Pusat IT Pos Indonesia
(Persero) di Bandung.
Penukaran benda meterai desain lama dengan benda meterai desain yang baru dapat
dilakukan apabila masa berlaku benda meterai desain lama sebagai sarana pelunasan bea
meterai telah dilampaui. Apabila jangka waktu tersebut masih belum dilampaui, benda
meterai desain lama tidak dapat ditukarkan dengan desain yang baru karena pada dasamya
dalam jangka waktu tersebut benda meterai desain lama masih dinyatakan sebagai sarana
pelunasan bea meterai. Apabila sampai batas waktu terakhir penukaran benda meterai desain
lama terlampaui dan temyata masyarakat masih memiliki benda meterai desain lama, orang
atau badan yang memiliki benda meterai tersebut tidak dapat lagi melakukan penukaran
dengan benda meterai desain baru. Hal ini perlu disampaikan kepada masyarakat umum agar
memahami kapan saat penukaran benda meterai desain lama dapat dilakukan.

E. Pengalihan Bea Meterai Lunas Atas Blanko Cek dan Bilyet Giro Karena Perusahaan
Mengganti Logo Perusahaan
Dalam kegiatan bisnis dimungkinkan suatu perusahaan mengganti logo perusahaan
karena alasan tertentu. Salah satu dampak dari perubahan logo ini adalah terkait dengan
penggunaan izin pelunasan bea meterai dengan cara lain, apakah tetap dapat dipergunakan
atau tidak, mengingat salah satu iclentitas perusahaan terse but, yaitu logo perusahaan telah
mengalami perubahan
Demi tertib administrasi pemberian izin pelunasan bea meterai dengan cara lain,
perusahaan dapat meminta kepada DirekturJenderal Pajak untukdiberikan izin yang baru
dengan. logo perusahaan yang baru. Dalam hal ini akan diberikan izin yang baru, di mana
pembayaran di muka yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut untuk memperoleh izin
sebelumnya dapat dialihkan untuk pembayaran di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro
guna mendapatkan izin yang baru sehubungan dengan perubahan logo perusahaan.
Untuk maksud ini, pihak perusahaan harus mengadakan stock opname bersama-sama
dengan pejabat Direktorat Jenderal Pajak sehingga diperoleh kepastian mengenai jumlah
blanko cek dan bilyet giro yang telah dipergunakan dan jumlah yang masih dalam persediaan.
Sisa blanko cek dan bilyet giro harus dimusnahkan dengan disaksikan oleh pejabat Direktorat
Jenderal Pajak dengan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan Blanko Cek dan Bilyet Giro
tersebut. Hari, tanggal, dan jam pemusnahan harus diberitahukan oleh pihak perusahaan
dimaksud kepada Direktur Jenderal Pajak, melalui Kantor Pelayanan Pajak setempat. Segala

HALAMAN 37
biaya yang timbul dari pemusnahan blanko cek dan bilyet giro menjadi beban perusahaan
tersebut.
c. Pengalihan Bea Meterai Lunas atas Blanko Cek dan Bilyet Giro Karena Perusahaan
Mengubah Nama Perusahaan
Selain pengalihan karena adanya perubahan logo perusahaan, pengalihan
pembayaran di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro guna mendapatkan izin
pelunasan bea meterai, dengan cara lain juga dapat dilakukan oleh perusahaan yang
mengubah nama perusahaan. Karena alasan tertentu dimungkinkan perusahaan
melakukan perubahan nama perusahaan. Dengan mengubah nama perusahaan salah satu
implikasi yang terjadi adalah dalam hal penggunaan izin pelunasan bea meterai dengan
cara lain oleh perusahaan sebelum nama perusahaan diubah tidak otomatis dapat
digunakan oleh perusahaan setelah melakukan perubahan nama. Izin yang telah diberikan
sebelumnya otomatis dibatalkan, tetapi perusahaan tersebut dapat mengajukan
permohonan baru untuk mendapatkan izin kembali pelunasan bea meterai dengan cara
lain. Karena pada dasamya perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang sama hanya
melakukan perubahan nama, Direktur Jenderal Pajak akan memberikan izin kepada
perusahaan tersebut.

Pada saat perusahaan melakukan perubahan nama, dimungkinkan masih terdapat


deposit pembayaran di muka bea meterai apabila jumlah dokumen yang dimeteraikan
kurang dari pembayaran di muka yang telah dilakukan perusahaan tersebut. Dalam hal
demikian, kelebihan pembayaran tersebut tidak hilang, tetapi juga tidak dapat diminta
kembali atau direstitusi oleh perusahaan dengan nama lama. Hal yang mungkin dilakukan
adalah perusahaan dengan nama yang baru mengajukan permohonan pemakaian
pengalihan pembayaran di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro guna mendapatkan
izin pelunasan bea meterai dengan cara lain sehubungan dengan adanya perubahan nama
perusahaan. Tata cara pengajuan dan pengalihan pembayaran di muka dimaksud sama
dengan pengalihan pernbayaran di muka karena perusahaan melakuka perubahan logo
perusahaan.
F. Intensifikasi Bea Meterai
Sebagai instansi yang diberi kewenangan untuk mengelola pajak, Direktorat Jenderal
Pajak harus selalu berusaha untuk meningkatkan penerimaan pajak. Hal ini juga dilakukan
terhadap bea meterai. Sehubungan dengan pelaksanaan UUBea Meterai serta peraturan
pelaksanaannya fiskus dapat melakukan upaya intensifikasi bea meterai atas dokumen yang
menjadi objek bea meterai yang dibuat oleh institusi tertentu.
a. Menghimbau kepada penerbit dokumen untuk segera mengenakan bea meterai atas

HALAMAN 38
dokumen yang diterbitkan;
b. Memberitahukan kepada penerbit dokumen bahwa pemenuhan kewajiban bea
meterai atas dokumen yang diterbitkan dapat dilakukan dengan cara pembubuhan
tanda bea meterai lunas dengan sistem kamputerisasi;
c. Bilamana dalam pemeriksaan pajak ditemukan dokumen yang bea meterainya tidak
atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya, atas dokumen tersebut wajib dikenakan
bea meterai dengan ditambah denda administrasi sebesar 200 % dari bea meterai
yang tidak atau kurang dibayar dengan cara pemeteraian kemudian.
G. pengalihan Bea Meterai Lunas atas Blanko Cek clan Bilyet Giro Karena Perusahaan
Mengganti Logo Perusahaan
Dalam kegiatan bisnis dimungkinkan suatu perusahaan mengganti logo perusahaan
karena alasan tertentu. Salah satu dampak dari perubahan logo ini adalah terkait dengan
penggunaan izin pelunasan bea meterai dengan cara lain, apakah tetap dapat dipergunakan
atau tidak, mengingat salah satu identitas perusahaan tersebut, yaitu logo perusahaan telah
mengalami perubahan.
Demi tertib administrasi pemberian izin pelunasan bea meterai dengan cara lain,
perusahaan dapat meminta kepada Direktur Jenderal Pajak untuk diberikan izin yang baru
dengan. logo perusahaan yang baru. Dalam hal ini akan diberikan izin yang baru, di mana
pembayaran di muka yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut untuk memperoleh izin
sebelumnya dapat dialihkan untuk pembayaran di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro
guna mendapatkan izin yang baru sehubungan dengan perubahan logo perusahaan.
Untuk maksud ini, pihak perusahaan hams mengadakan stock opname bersama-
sama dengan pejabat Direktorat Jenderal Pajak sehingga diperoleh kepastian mengenai
jumlah blanko cek dan bilyet giro yang telah dipergunakan dan jumlah yang masih dalam
persediaan. Sisa blanko cek dan bilyet giro harus dimusnahkan dengan disaksikan oleh
pejabat Direktorat Jenderal Pajak dengan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan Blanko Cek
dan Bilyet Giro tersebut. Hari, tanggal, dan jam pemusnahan harus diberitahukan oleh
pihak perusahaan dimaksud kepada Direktur Jenderal Pajak, melalui Kantor Pelayanan
Pajak setempat. Segala biaya yang timbul dari pemusnahan blanko cek dan bilyet giro
menjadi beban perusahaan tersebut.

H. Pengalihan Bea Meterai Lunas atas Blanko Cek dan Bilyet Giro Karena Perusahaan
Mengubah Nama Perusahaan
Selain pengalihan karena adanya perubahan logo perusahaan, pengalihan pembayaran

HALAMAN 39
di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro guna mendapatkan izin pelunasan bea meterai,
dengan cara lain juga dapat dilakukan oleh perusahaan yang mengubah nama perusahaan.
Karena alasan tertentu dimungkinkan perusahaan melakukan perubahan nama perusahaan.
Dengan mengubah nama perusahaan salah satu implikasi yang terjadi adalah dalam hal
penggunaan izin pelunasan bea meterai dengan cara lain oleh perusahaan sebelum nama
perusahaan diubah tidak otomatis dapat digunakan oleh perusahaan setelah melakukan
perubahan nama. Izin yang telah diberikan sebelumnya otomatis dibatalkan, tetapi
perusahaan tersebut dapat mengajukan permohonan baru untuk mendapatkan izin kembali
pelunasan bea meterai dengan cara lain. Karena pada dasarnya perusahaan tersebut
merupakan perusahaan yang sama hanya melakukan perubahan nama, Direktur Jenderal
Pajak akan memberikan izin kepada perusahaan tersebut

Pada saat perusahaan melakukan perubahan nama, dimungkinkan masih terdapat


deposit pembayaran di muka bea meterai apabila jumlah dokumen yang dimeteraikan kurang
dari pembayaran di muka yang telah dilakukan perusahaan tersebut. Dalam hal demikian,
kelebihan pembayaran tersebut tidak hilang, tetapi juga tidak dapat diminta kembali atau
direstitusi oleh perusahaan dengan nama lama. Hal yang mungkin dilakukan adalah
perusahaan dengan nama yang baru mengajukan permohonan pemakaian pengalihan
pembayaran di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro guna mendapatkan izin pelunasan
bea meterai dengan cara lain sehubungan dengan adanya perubahan nama perusahaan. Tata
cara pengajuan dan pengalihan pembayaran di muka dimaksud sama dengan pengalihan
pernbayaran di muka karena perusahaan melakukan perubahan logo perusahaan.

I. Pengalihan Bea Meterai Lunas atas SuratKolektif Saham


Saham sebagai tanda kepemilikan seseorang atau suatu badan.pada suatu perusahaan
dapat dibuat dalam bentuk surat kolektif saham. Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-
Undang Bea Meterai, surat kolektif saham, yang merupakan salah satu contoh efek,
merupakan bentuk dokumen yang dikenakan bea meterai. Pelunasan bea .meterai terutang
dapat dilakukan dengan pembubuhan tanda bea meterai lunas dengan mesin teraan bea
meterai atau teknologi percetakan sesuai dengan izin yang diberikan oleh Direktur Jenderal
Pajak.

Bentuk surat kolektif saham adalah sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada saat
diterbitkannya saham tersebut. Pada penerbitan tersebut bea meterai harus dilunasi oleh
pemegang saham. Dalam praktik bisnis dimungkinkan adanya perubahan bentuk sura kolektif

HALAMAN 40
saham, antara lain disebabkan oleh adanya perubahan peraturan yang ditetapkan oleh bursa
efek dan adanya perubahan modal dasar dari daftar pemegang saham perseroan. Hal ini
berakibat surat kolektif saham yang telah diterbitkan sebelumnya dinyatakan tidak
berlaku/tidak dapat dipakai lagi. Salah satu konsekuensi dari hal ini terkait dengan pelunasan
bea meterai yang telah dilakukan atas surat kolektif saham yang lama.

Perusahaan menerbitkan surat kolektif saham dalam jumlah tertentu, sesuai dengan
kebutuhan,dana yang diinginkan dari pihak luar perusahaan.Pada saat diterbitkan perusahaan
telah melunasi bea meterai terutang atas seluruh saham yang diterbitkan. Saham tersebut
dapat ditawarkan secara terbatas ataupun secara terbuka melalui bursa efek.
Dalam praktik dimungkinkan saham yang telah dicetak tidak laku seluruhnya dibeli oleh
pihak luar perusahaan. Apabila karena suatu hal terjadi perubahan bentuk surat kolektif saham,
surat kolektif saham yang lama yang belum laku tidak berlaku lagi. Dalam kondisi demikian, bea
meterai yang telah dilunasi pada saat pencetakan surat saham yang lama dan ternyata belum
dibeli oleh pihak luar perusahaan dapat dialihkan pada pencetakan bilyet giro yang baru milik
perusahaan yang menerbitkan saham dimaksud. Hal ini dimaksudkan agar perusahaan tersebut
tidak dirugikan karena adanya perubahan bentuk surat saham kolektif yang lama.

Untuk maksud pengalihan, ini perusahaan dimaksud dapat mengajukan permohonan


mengalihkan bea meterai lunas atas saham kolektif sejumlah surat kolektif lama yang belum
digunakan. Atas permohonan ini, petugas pajak akan melakukan pemeriksaan, dan berdasarkan
hasil pemeriksaan Direktur Jenderal Pajak (atau pejabat yang berwenang) akan memberikan
izin pengalihan dimaksud. Pengalihan dilakukan sesuai dengan jumlah bea meterai yang telah
dilunasi atas surat saham yang belum digunakan dan pengalihan dilakukan untuk pencetakan
blanko bilyet giro yang baru atau pelunasan bea meterai atas dokumen dengan menggunakan
mesin teraan bea meterai. Pengalihan dilakukan sesuai dengan tarif bea meterai yang berlaku
pada saat pengalihan. Surat kolektif saham lama yang belum digunakan dimusnahkan oleh
petugas pajak dengan disaksikan oleh wajib pajak dan untuk itu dibuatkan berita acara
pemusnahannya.

J. Bea Meterai atas Kartu Kredit

Salah satu dokumen yang menjadi objek bea meterai adalah tanda terima pembayaran
tagihan (billing statement) kartu kredit. Tanda terima ini selain berfungsi sebagai bukti
penerimaan uang juga berfungsi sebagai dokumen yang berbentuk surat yang berisi pengakuan
bahwa utang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan. Ketentuan

HALAMAN 41
tentang batas nilai nominal uang yang menentukan terutang atau tidaknya dan berapa tarif bea
meterai yang terutang atas dokumen tersebut disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku pada
saat dibuatnya dokumen dimaksud. Pelunasan bea meterai atas dokumen tersebut dapat
dilakukan dengan sistem komputerisasi ataupun dengan menggunakan meterai temple.

Nilai dalam tagihan kartu kredit yang dipergunakan sebagai harga nominal yang
dikenakan bea meterai adalah nilai pembayaran yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit
dalam satu periode tagihan karena jumlah tersebut menunjukkan suatu pengakuan dari
penerbit kartu kredit atas pelunasan sebagian atau seluruh utang pemegang kartu kredit.
Sebagai contoh, pada bulan Juli 2001 pemegang kartu kredit melakukan pembayaran
sebanyak tiga kali dengan jumlah sebesar Rp1.500.000,00. Maka, bea meterai yang dikenakan
atas tagihan kartu kredit yang memuat pembayaran tersebut adalah sebesar Rp. 6.000,00.

HALAMAN 42