Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

INSTALASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH (IPAL)

INDUSTRI FARMASI

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Industri Farmasi Dan Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB)

Dosen Pengampu: Mayor Unsyura D. B, M.Farm., Apt.

DI SUSUN OLEH

1. Agnesia Pertiwi 1843700247 10. Nurjiana La Puka 1843700255


2. Anissa Nur F 1843700214 11. Nursanidar 1843700210
3. Amna 1843700233 12. Ransri Taro 1843700237
4. Dirmayanti 1843700228 13. Siti Haryati 1843700249
5. Edi Kiswanto M 1843700212 14. Viqah 1843700245
6. Elvira Yusdi 1843700201 15. Widya Damayanti 1843700246
7. Febriyanto Rerung1843700202 16. Vetry Christin R 1843700234
8. Jemi Bron 1843700216 17. Yetti Nurul K 1843700208
9. Nuraini 1843700231

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin, rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah dengan judul
“Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri Farmasi” ini disusun dengan tujuan untuk
melengkapi tugas pada mata kuliah Industri Farmasi Dan CPOB. Melalui makalah ini, kami
berharap agar kami dan pembaca mampu mengenal lebih jauh mengenai Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Industri Farmasi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
proses penyusunan makalah ini khususnya kepada dosen Industri Farmasi Dan CPOB, yaitu,
Mayor Unsyura D. B, M.Farm., Apt yang bersedia membimbing dan mengarahkan kami
dalam penyusunan makalah ini.

Demikianlah makalah ini kami hadirkan dengan segala kekurangan dan kelebihan. Oleh
sebab itu kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini sangat kami
harapkan. Semoga makalah yang telah kami susun ini dapat memberikan manfaat dan
pengetahuan baru bagi pembaca dan penulis yang lain.

Penyusun

i
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................…. iii
DARTAR GAMBAR ............................................................................…. iv

I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 2
B. Rumusan Masalah................................................................................. 2
C. Tujuan................................................................................................... 2

II PEMBAHASAN
A. INDUSTRI FARMASI SEBAGAI PENGHASIL LIMBAH………... 3
B. KLASIFIKASI LIMBAH FARMASI ……………………………….. 3
1. Larutan Padat ……………………………………………………. 3
2. Limbah Cair Industri Farmasi……………………………………. 4
3. Limbah Gas Atau Debu …………………………………………. 4
C. PENGERTIAN AIR LIMBAH……………………………………….. 4
D. SUMBER AIR LIMBAH……………………………………………. 5

E. KARAKTERISTIK AIR LIMBAH INDUSTRI FARMASI………... 5

F. DAMPAK BUANGAN AIR LIMBAH…………………………….. 6

G. PENGOLAHAN AIR LIMBAH…………………………………….. 7


1. Pengolahan Air Limbah Industri Farmasi……………………… 8
2. Tujuan Pengolahan Air Limbah…………………………………` 11
3. Syarat Pengolahan Air Limbah…………………………………. 11

4. Tahap Pengolahan Pada Instalasi Pengolahan Air Limbah


(IPAL) Industri Farmasi.................................................................. 11
5. Limbah Bahan berbahaya dan beracun (B3) Industri Farmasi….. 17

ii
III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………………… 18
B. Saran………………………………………………………………....... 18

IV DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 19

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagi Usaha Dan Atau Kegiatan Industri Farmasi

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Desain IPAL Industri Farmasi

iv
v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peningkatan kebutuhan akan obat di Indonesia telah menyebabkan peningkatan jumlah
dan kegiatan industri farmasi. Peningkatan jumlah dan kegiatan industri farmasi ini tentu
saja akan mempengaruhi kehidupan lingkungan yang bersinggungan langsung maupun
berdekatan dengan lokasi industri farmasi tersebut.

Industri farmasi adalah industri yang menghasilkan produk yang memiliki nilai terapeutik
bagi manusia dan atau hewan. Produk-produk tersebut antara lain:
1. Senyawa kimia dan produk botani yang digunakan dalam pengobatan
2. Sediaan farmasi (tablet, kapsul, sirup, injeksi, salep, krim, infus, dll)
3. Produk diagnostik in vitro dan in vivo
4. Produk biologi seperti vaksin dan sera

Proses dan kegiatan yang dilakukan industri farmasi sangat beragam, tergantung dari
produk yang dihasilkan. Masing-masing industri farmasi tersebut menghasilkan limbah
yang berlainan dengan karakteristik yang berlainan pula.

Limbah dapat diartikan sebagai produk sampingan yang dihasilkan dari suatu aktivitas
produksi. Salah satu limbah yang dihasilkan oleh Industri Farmasi adalah Limbah Air.

Air limbah industri farmasi merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang
sangat potensial. Oleh karena itu, air limbah tersebut perlu diolah terlebih dahulu sebelum
dibuang ke saluran umum. Masalah yang sering muncul dalam hal pengelolaan limbah
adalah terbatasnya dana yang ada untuk membangun fasilitas pengolahan limbah serta
biaya operasional. Dalam Undang-undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab III, Pasal 5, Ayat (2) ditegaskan bahwa:
Setiap orang berkewajiban memelihara lingkungan hidup dan mencegah serta
menanggulangi kerusakan dan pencemarannya. Ketentuan ini masih banyak dilanggar
oleh kalangan industri.
Berdasarkan uraian tersebut diatas kami akan membahas lebih lanjut mengenai Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri Farmasi.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah industri farmasi sebagai penghasil limbah?
2. Bagaimana klasifikasi limbah farmasi?
3. Apakah pengertian air limbah?
4. Dari mana sumber air limbah?
5. Bagaimana karakteristik air limbah industri farmasi?
6. Apa saja dampak buangan dari air limbah?
7. Bagaimana pengolahan air limbah industri farmasi?

C. Tujuan
1. Mengetahui bahwa industri farmasi adalah salah satu penghasil limbah
2. Mengetahui klasifikasi limbah farmasi
3. Mengetahui pengertian air limbah
4. Mengetahui sumber air limbah
5. Mengetahui karakteristik air limbah industri farmasi
6. Mengetahui dampak dari buangan air limbah
7. Mengetahui cara pengolahan air limbah industri farmasi dengan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Industri Farmasi

BAB II

PEMBAHASAN

A. Industri Farmasi Sebagai Penghasil Limbah

Industri farmasi adalah salah satu penyumbang limbah terbesar dalam lingkungan
terutama berkaitan dengan limbah cair. Hal ini dikarenakan industri farmasi dalam
proses produksinya menggunakan berbagai macam pereaksi kimia. Kegiatan utama
industri farmasi adalah mengolah bahan baku menjadi produk berupa obat atau bahan
baku obat, namun akibat pengolahan ini terbentuk pula limbah. Adanya limbah
industri farmasi, terutama limbah cairnya akan berkaitan erat dengan masalah
pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran badan air yang disebabkan oleh
limbah cair yang dibuang tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.

Berkaitan dengan kegiatan yang berjalan di industri farmasi, sebaiknya limbah


industri farmasi diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan. Dengan
demikian diperlukan adanya fasilitas atau instalasi pengolahan limbah sehingga pada
saat ke lingkungan limbah industri tersebut telah memenuhi kriteria baku mutu yang
telah ditetapkan.

B. Klasifikasi Limbah Farmasi

1. Larutan Padat

Limbah padat industri farmasi dapat bersumber dari:

a. Obat-obat kadaluarsa

b. Kegiatan produksi, meliputi: Kegagalan produksi, debu bahan formulasi yang


terkumpul dari dust collector dan vacuum cleaner, bekas kemasan bahan baku
dan bahan pembantu serta kemasan yang rusak

c. Kegiatan laboratorium, contohnya agar dari sampel kadaluarsa

d. Kegiatan kantin karyawan, terdiri dari kotoran/sampah dapur

e. Kegiatan administrasi perkantoran, terdiri dari arsip-arsip kadaluarsa

f. Sampah kebun atau halaman

2. Limbah Cair Industri Farmasi berasal dari:

a. Kegiatan produksi

b. Kegiatan laboratorium

c. Kegiatan sarana penunjang

d. Limbah domestik pencucian

e. Limbah kantin

3. Limbah gas atau debu berasal dari :

a. Kegiatan sarana penunjang: Gas yang berasal dari sisa pembakaran bahan
bakar boiler.
b. Kegiatan produksi: Debu yang berasal dari kegiatan proses, antara lain dari
proses granulasi, proses pencetakan tablet, proses coating dan proses massa
kapsul.

C. Pengertian Air Limbah

Menurut Ehless dan Steel, Air limbah atau air buangan adalah sisa air dibuang yang
berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada
umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi
kesehatan manusia serta mangganggu lingkungan hidup.

Batasan lainnya mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan
sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan
industri, bersama-sama dengan air tanah, air pemukiman dan air hujan yang mungkin
ada (Haryoto Kusnoputranto, 1985).

Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa
dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti
industri, perhotelan, dan sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya
besar, karena kurang lebih 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan
manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar).
Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan kembali ke sungai dan laut dan akan
digunakan oleh manusia lagi. Oleh karena itu, air buangan ini harus dikelola dan atau
diolah secara baik.

D. Sumber Air Limbah

Air limbah ini dapat berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi sebagai berikut:

1. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air
limbah yang berasal dari pemukiman penduduk.

2. Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari berbagai
jenis industri, salah satunya Industri Farmasi yang mana akibat proses
produksi. Zat-zat yang terkandung di dalamnya sangat bervariasi sesuai dengan
bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri, antara lain: nitrogen,
sulfide, amoniak, lemak garam-garam zat pewarna, mineral, logam berat, zat
pelarut dan sebagainya. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengolahan jenis air
limbah ini, agar tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit.

3. Air buangan kotapraja (municipal wastes water), yaitu air buangan yang berasal
dari daerah; perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum,
tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang terkandung
dalam jenis air limbah ini sama dengan jenis air limbah rumah tangga.

E. Karakteristik Air Limbah Industri Farmasi

Karakteristik air limbah industru farmasi penting untuk diketahui, karena hal ini akan
menentukan pengolahan yang tepat, sehingga tidak mencemari lingkungan hidup.
Secara garis besar dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Mengandung sisa pencucian

2. peralatan seperti desinfektan,

3. Bahan sterilisasi dan deter-gen.

4. Memiliki nilai BOD yang tinggi

5. Mengandung antibiotik, dan bahan kimia lainnya.

6. Memiliki kandungan padatan yang tinggi.

F. Dampak Buangan Air Limbah

Air limbah yang tidak menjalani proses pengolahan yang benar tentunya dapat
menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dampak tersebut antara lain:

1. Gangguan Kesehatan

Air limbah dapat mengandung bibit penyakit yang dapat menimbulkan


penyakit bawaan air. Selain itu di dalam air limbah mungkin juga terdapat zat-
zat berbahaya dan beracun yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi
makhluk hidup yang mengkonsumsinya. Adakalanya, air limbah yang tidak
dikelola dengan baik juga dapat menjadi sarang vector penyakit (misalnya
nyamuk, lalat, kecoa, dan lain-lain).

2. Penurunan Kualitas Lingkungan


Air limbah yang dibuang langsung ke air permukaan (misalnya sungai dan
danau) dapat mengakibatkan pencemaran air permukaan tersebut. Sebagai
contoh, bahan organik yang terdapat dalam air limbah bila dibuang langsung ke
sungai dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen yang terlarut didalam
sungai tersebut. Dengan demikian menyebabkan kehidupan di dalam air yang
membutuhkan oksigen akan terganggu, dalam hal ini akan mengurangi
perkembangannya. Adakalanya, air limbah juga dapat merembes ke dalam air
tanah, sehingga menyebabkan pencemaran air tanah. Bila air tanah tercemar,
maka kualitasnya akan menurun sehingga tidak dapat lagi digunakan sesuai
peruntukannya.

3. Gangguan Terhadap Keindahan

Adakalanya air limbah mengandung polutan yang tidak mengganggu kesehatan


dan ekosistem, tetapi mengganggu keindahan. Contoh : air limbah yang
mengandung pigmen warna yang dapat menimbulkan perubahan warna pada
badan air penerima. Walaupun pigmen tersebut tidak menimbulkan gangguan
terhadap kesehatan, tetapi terjadi gangguan keindahan terhadap badan air
penerima tersebut.

Kadang-kadang air limbah dapat juga mengandung bahan-bahan yang bila


terurai menghasilkan gas-gas yang berbau. Bila air limbah jenis ini mencemari
badan air, maka dapat menimbulkan gangguan keindahan pada badan air
tersebut.

4. Gangguan terhadap kerusakan benda

Adakalanya air limbah mengandung zat-zat yang dapat dikonversi oleh

bakteri anaerobik menjadi gas yang agresif seperti H2S. Gas ini dapat
mempercepat proses perkaratan pada benda yang terbuat dari besi dan
bangunan air kotor lainnya. Dengan cepat rusaknya air tersebut maka biaya
pemeliharaannya akan semakin besar juga, yang berarti akan menimbulkan
kerugian material.
Untuk menghindari terjadinya gangguan-gangguan diatas, air limbah yang dialirkan
ke lingkungan maka perlu dilakukan pengolahan air limbah sebelum mengalirkannya.

G. Pengolahan Air Limbah


Demi menghindari pencemaran terhadap lingkungan, maka industri farmasi perlu
melakukan pengolahan terhadap limbah yang dihasilkannya mulai dari limbah padat,
cair dan gas. Berikut akan dibahas bagaimana pengelolaan limbah cair:

Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani pengolahan


terlebih dahulu. Untuk dapat melaksanakan pengolahan air limbah yang efektif
diperlukan rencana pengelolaan yang baik. Pengelolaan air limbah dapat dilakukan
secara alamiah maupun dengan bantuan peralatan. Pengolahan air limbah secara
alamiah biasanya dilakukan dengan bantuan kolam stabilisasi sedangkan pengolahan
air dengan bantuan peralatan misalnya dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air
Limbah/ IPAL (Waste Water Treatment Plant / WWTP).
1. Pengolahan Air Limbah Industri Farmasi
Pengolahan limbah cair industri dapat dibagi menjadi dua, pengolahan menurut
tingkat perlakuan dan pengolahan menurut karakteristiknya.
a. Pengolahan berdasarkan tingkat perlakuan
Menurut tingkatan prosesnya, pengolahan limbah dapat digolongkan menjadi
5 tingkatan. Namun, tidak berarti bahwa semua tingkatan harus dilalui karena
pilihan tingkatan proses tetap bergantung pada kondisi limbah yang diketahui
dari hasil pemeriksaan laboratorium. Dengan mengetahui jenis-jenis parameter
dalam limbah, dapat ditetapkan jenis peralatan yang dibutuhkan. Berikut
beberapa tahapan pengolahan air limbah.
1. Pra-pengolahan (pre-treatment)
Pada tahap ini, saringan kasar yang tidak mudah berkarat dan berukuran ±
30×30 cm untuk debit air 100 m2 per jam sudah cukup baik. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik, saringan dapat dipasang secara seri
sebanyak dua atau tiga saringan. Ukuran messnya (besar lubang kawat
tikus) dapat dibandingkan dengan kawat kasa penghalang nyamuk.
Saringan tersebut diperiksa setiap hari untuk mengambil bahan yang
terjaring. Contoh bahan-bahan yang terjaring dapat berupa padatan
terapung atau melayang yang ikut bersama air. Bahan lainnya adalah
lapisan minyak dan lemak di atas permukaan air.
2. Pengolahan primer (primary treatment)
Pada tahapan ini dilakukan penyaringan terhadap padatan halus atau zat
warna terlarut maupun tersuspensi yang tidak terjaring pada penyaringan
terdahulu.

Pengolahan secara kimia dilakukan dengan cara mengendapkan bahan


padatan melalui penambahan zat kimia. Reaksi yang terjadi akan
menyebabkan berat jenis bahan padatan menjadi lebih besar daripada air.
Tidak semua reaksi dapat berlaku untuk semua senyawa kimia (terutama
senyawa organik).

Pengolahan secara fisika dilakukan melalui pengendapan maupun


pengapungan yang ditujukan untuk bahan kasar yang terkandung dalam air
limbah. Penguapan dilakukan dengan memasukkan udara ke dalam air dan
menciptakan gelembung gas sehingga partikel halus terbawa bersama
gelembung ke permukaan air. Sementara itu, pengendapan (tanpa
penambahan bahan kimia) dilakukan dengan memanfaatkan kolam
berukuran tertentu untuk mengendapkan partikel-partikel dari air yang
mengalir di atasnya.

3. Pengolahan sekunder (secondary treatment)


Tahap ini melibatkan proses biologis yang bertujuan untuk menghilangkan
bahan organik melalui proses oksidasi biokimia. Di dalam proses biologis
ini, banyak dipergunakan reactor lumpur aktif dan trickling filter
4. Pengolahan tersier (tertiary treatment)
Pengolahan tersier merupakan tahap pengolahan tingkat lanjut yang
ditujukan terutama untuk menghilangkan senyawa organik maupun
anorganik. Proses pada tingkat lanjut ini dilakukan melalui proses fisik
(filtrasi, destilasi, pengapungan, pembekuan, dan lain-lain), proses kimia
(absorbs karbon aktif, pengendapan kimia, pertukaran ion, elektrokimia,
oksidasi, dan reduks), dan proses biologi (pembusukan oleh bakteri dan
nitrifikasi alga).

b. Pengolahan berdasarkan karakteristik

Proses pengolahan berdasarkan karakteristik air limbah dapat dilakukan


secara:
1. Proses fisik, dapat dilakukan melalui:

a. Penghancuran

b. Perataan air (misalnya: mengubah system saluran dan membuat


kolam)

c. Penggumpalan (misalnya: menggunakan alumunium sulfat dan


ferrosulfat)

d. Sedimentasi

e. Pengapungan

f. Filtrasi

2. Proses kimia, dapat dilakukan melalui:

a. Pengendapan dengan bahan kimia

b. Pengolahan dengan logoon atau kolam

c. Netralisasi

d. Penggumpalan atau koagulasi

e. Sedimentasi (misalnya dengan discrete settling, floculant settling,


dan zone settling)

f. Oksidasi dan reduksi

g. Klorinasi Penghilangan klor (biasanya menggunakan karbon aktif


atau natrium sulfat)

h. Pembuangan fenol

i. Pembuangan sulfur

3. Proses biologi, dapt dilakukan dengan:

a. Kolam oksidasi
b. Lumpur aktif (mixed liquid suspende solid / MLSS)

c. Trickling filter

d. Lagoon

e. Fakultatif

4. Proses fisika kimia biologi

5. Pengolahan tingkat lanjut

2. Tujuan Pengolahan Air Limbah


Adapun tujuan dari pengelolaan air limbah itu sendiri, antara lain:
1. Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga.
2. Melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air.
3. Menghindari pencemaran tanah permukaan.
4. Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vektor penyakit.
3. Syarat Pengolahan Air Limbah
Sementara itu, sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi
persyaratan berikut:
a. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum.
b. Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan.
c. Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air di
dalam penggunaannya sehari-hari.
d. Tidak dihinggapi oleh vektor atau serangga yang mengakibatkan penyakit.
e. Tidak terbuka dan harus tertutup.
f. Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap.

4. Tahap Pengolahan Pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri


Farmasi
Limbah cair yang berasal dari pencucian peralatan, mesin tangki, dan lain-lain
ditanggulangi dengan peralatan waste water treatment plane. Sebelum limbah
tersebut mengalir ke sungai maka limbah diproses terlebih dahulu pada peralatan
tersebut melalui proses equalisasi, netralisasi, presipitasi, sedimentasi, kolam
aerob-fakultatif, bak kontrol, tempat lumpur, dissolved air flotation dan filtrasi.
a. Equalisasi
Air limbah sebelumnya dilakukan penyaringan untuk menghilangkan benda-
benda kasar dan minyak, kemudian diendapkan sebentar agar partikel-partikel
awal yang kasar tidak ikut pada proses selanjutnya tetapi untuk limbah yang
berasal dari antibiotik dilakukan proses penghilangan racun(detoksikasi).
Penyaringan ini juga berguna untuk menyaring kandungan lemak pada air
limbah. Setelah itu barulah air limbah masuk pada tangki ekualisasi, pada
proses ini dilakukan pengadukan agar air limbah yang berasal dari berbagai
sumber tersebut menjadi sama (homogen).
b. Netralisasi
Setelah air limbah sudah homogen karakteristiknya maka dilakukan
netralisasi. Netralisasi bertujuan agar pH air limbah berada pada kondisi netral
sehingga mudah untuk diolah. pH yang diinginkan sekitar 6,5-8,5 agar pada
saat proses aerobik pH tersebut optimal bagi mikroorganisme. Netralisasi
diberikan larutan kimia tergantung pH awal limbah, jika asam maka
ditambahkan NaOH dan jika basa ditambah H2SO4. Namun pada proses ini
terbentuk endapan yang akan langsung dialirkan pada bak sludge untuk
kemudian dikelola lebih lanjut.
c. Presipitasi
Air limbah kemudian masuk ke dalam bak presipitasi. Pada bak ini air limbah
diberikan penambahan bahan kimia lime (kombinasi dari kalsium klorida,
magnesium klorida, alumunium klorida, dan garam-garam besi). Hal ini
bertujuan untuk mengurangi bahan-bahan terlarut organik dan kandungan
logam berat seperti sulfat, flourida dan fosfat dengan cara mengendapkan
limbah. Kemudian dilanjutkan pada bak sedimentasi.
d. Sedimentasi
Proses pengendapan limbah setelah melalui proses presipitasi. Air limbah
didiamkan minimal 8 jam agar limbah benar-benar terpisah dari lumpurnya.
Pengendapan limbah dengan penambahan koagulan dan flokulan. Kemudian
lumpur tersebut dialirkan ke bak sludge dan air limbah dialirkan lagi untuk
proses selanjutnya, yaitu aerob-fakultatif.

e. Aerob-Fakultatif
Pada kolam ini dibuat dengan kedalaman dengan massa penahanan 20 hari
atau lebih. Kolam ini diberikan mikroorganisme untuk merombak limbah
tersebut. Sumber oksigen berasal dari ganggang yang berada diatas perairan .
Proses ini digunakan juga sebagai stabilisasi.
f. Bak Kontrol
Pada bak kontrol ini berfungsi sebagai pengecekan kualitas limbah sebelum
dibuang ke sungai. Pengecekan limbah dimaksudkan agar limbah cair tersebut
memenuhi baku mutu limbah cair kegiatan industri farmasi. Jika belum
memenuhi maka limbah dikembalikan kepada proses awal IPAL diatas sampai
dengan akhir.
Lampiran 1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 tahun 2014 Tentang
Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan Atau Kegiatan Industri Farmasi
g. Pengolahan Lumpur

Lumpur yang berasal dari bak lumpur kemudian dilakukan dissolved air
flotation ,tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan
diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Kemudian selanjutnya
lumpu tersebut melewati tahapan filtration yang bertujuan untuk
menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi
volume lumpur. Setelah itu lumpur tersebut dibakar pada insenerator.
Penyaringan dan pengendapan(FeSO4) Outlet

Sedimentasi Bak
Air
Limbah Equalisasi Netralisasi Presipitasi Kolam
Formula
Aerob-Fakultatif Kontrol
si

Sungai

INLET

Sludge

Limbah B3

Asam/Basa Sludge de-watering

Dissolved
Air air-flotation
Limbah Detoksikasi
Formulasi
Antibiotik
Filtrasi

Sludge disposal

Gambar 1. Design IPAL Industri Farmasi Insinerasi Landfill


5. Limbah Bahan berbahaya dan beracun (B3) Industri Farmasi

Selain limbah yang dapat diolah sebenarnya sebagian besar yang dihasilkan oleh
kegiatan industri farmasi merupakan limbah berbahaya dan beracun yang perlu
dikelola lebih lanjut agar tidak membahayakan lingkungan.

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah sisa
usaha dan atau kegiatan yang merupakan zat, energi, dan atau komponen lain
yang karena sifat, konsentrasi, dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia
dan makhluk hidup lain (PP No. 101 Tahun 2014 Tentang Pengolahan Limbah
Bahan Berbahaya Dan Beracun). Adapun sumber sumber dari limbah B3 tersebut
berasal dari sludge IPAl, oli bekas, bahan baku kadaluwarsa, Pengolahan limbah
tersebut awalnya dibakar pada rotarkiln merupakan salah satu jenis insenerator.
Setelah itu baru abu dari sisa pembakaran pada insenerator dibawa ke suatu
perusahaan pengolahan limbah B3 untuk kemudian dikelola melalui penimbunan
atau landfill.

a. Insenerator

1. Efisiensi pembakaran > 99,95%;

2. Temperatur pada ruang bakar utama (primary chamber) minimum 800℃


(temperatur operasional);

3. Temperatur pada ruang bakar kedua (secondary chamber) minimum


1000℃ (temperatur operasional), dengan waktu tinggal minimum 2
(dua) detik;

4. Memiliki alat pengendali pencemaran udara (misal: wet scrubber);

5. Ketinggian cerobong minimum 14 meter dari permukaan tanah; dan

6. Memenuhi baku mutu emisi.  Pengolahan limbah sitotoksik


(genotoksik) pada temperatur > 1200 ℃.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Industri Farmasi merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah. Jika limbah
tersebut langsung dibuang ke lingkungan maka dapat menyebabkan pencemaran
lingkungan. Limbah-limbah pada industri ini di dapat dari proses berlangsungnya
produksi ataupun yang berasal dari kegiatan domestik atau non produksinya. Limbah
yang dihasilkan oleh industri farmasi ini dapat berbentuk padat, cair dan gas. Limbah cair
yang dapat mencemari sumber air maka limbah cair tersebut perlu dilakukan suatu
pengolahan limbah. Kualitas air limbah farmasi sangat bervariasi akibat
keanekaragaman bahan baku, proses produksi dan juga produk yang dihasilkan.
Pengolahan limbah cair memerlukan suatu teknologi pengolahan yang tepat, maka
diperlukan suatu design IPAL yang tepat juga. Design IPAL yang layak dengan
melibatkan 3 pengolahan limbah yaitu cara fisika, kimia dan biologi. Selanjutnya
pengolahan limbah diklasifikasikan lagi menjadi pretreatment, primary treatment system,
secondary treatment system dan tertiary treatment system.

Pada design IPAL yang dibuat maka terdapat beberapa tahapan proses pengolahan
sebelum akhirnya dibuang ke sungai. Tahapan-tahapan proses tersebut meliputi proses
equalisasi, netralisasi, presipitasi, sedimentasi, kolam aerob-fakultatif, bak kontrol, tempat
lumpur, dissolved air flotation dan filtrasi.

B. Saran

Pemerintah sebaiknya ikut ambil alih dalam hal mengawasi pengelolaan limbah farmasi.
Pemerintah juga harus mengawasinya secara sungguh-sungguh. Jangan sampai terjadi
pembuangan limbah yang asal-asalan tanpa mempertimbangkan resiko-resiko yang akan
terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim, Dr. Slamet , 2009, Pengolahan Limbah Industri Farmasi, tersedia online,
http://download.fa.itb.ac.id (6 November 2018).

Pedoman Teknis Instalasi Pengolahan Air Limbah, Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Jakarta: 2011, tersedia online
(Diakses 6 November 2018).

Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014, tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya Dan Beracun, tersedia online (Diakses, 7 November 2018).

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia nomor 5 tahun 2014, tentang Baku
Mutu Air Limbah, tersedia online (Diakses, 8 November 2018).

Priyamdo Bambang, Drs., Apt. PT. Berlico Mulia Farma, Yogyakarta: 2014. Pengelolaan
Limbah Industri Farmasi, tersedia online (Diakses, 8 November 2018)