Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS BIAYA, VOLUME, DAN LABA

MAKALAH

MATA KULIAH AKUNTANSI MANAJERIAL

OLEH :
KELOMPOK I

1. PETRUS Y. R. MOSA
2. MARKUS A. MALI

SEMESTER VI

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI BISNIS

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG, 2016

0
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, perlindungan,
serta tuntunan-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan baik serta
tepat pada waktunya.
Makalah yang berjudul “Analisis Biaya, Volume, dan Laba” ini disusun secara
sistematis dan komprehensif. Beberapa referensi pula coba ditelaah dan disajikan dalam
bentuk makalah ini. Oleh karena itu, dengan adanya makalah ini diharapkan para pembaca
akan memperoleh pengetahuan serta pemahaman tentang topik ‘Analisis Biaya, Volume, dan
Biaya’ dalam lingkup mata kuliah Akuntansi Manajerial.
Komitmen penulis adalah menyusun suatu tulisan berupa makalah yang dapat
bermanfaat bagi para pembaca. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan guna
tercapainya suatu tulisan yang lebih baik lagi.

Kupang, 9 Maret 2016

Penulis

1i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ----------------------------------------------------------------------------i

DAFTAR ISI ---------------------------------------------------------------------------------------ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang -----------------------------------------------------------------------------3

1.2 RumusanMasalah -------------------------------------------------------------------------3

1.3 Tujuan ---------------------------------------------------------------------------------------3

BAB II ISI

2.1 Pokok – pokok Analisis BVL----------------------------------------------------------4

2.2 Analisis Titik Impas ---------------------------------------------------------------------7

2.3 Asumsi – asumsi dalam Analisis BVL -----------------------------------------------8

2.4 Konsep Bauran Penjualan --------------------------------------------------------------9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan -------------------------------------------------------------------------------10

3.2 Saran --------------------------------------------------------------------------------------11

DAFTAR PUSTAKA

ii
2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Jumlah laba yang diperoleh merupakan indikator keberhasilan bagi perusahaan yang
orientasinya mencari laba. Agar diperoleh laba sesuai yang dikehendaki, perusahaan perlu
menyusun perencanaan laba yang baik. Hal tersebut ditentukan oleh kemampuan perusahaan
untuk memprediksi kondisi usaha pada masa yang akan datang yang penuh ketidakpastian,
serta mengamati kemungkinan faktor – faktor yang dapat mempengaruhi laba perusahaan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi laba yakni biaya, harga jual, dan volume. Dalam
penyusunan perencanaan laba, manajemen perlu mengetahui sejauh mana keterkaitan faktor –
faktor tersebut dan pengaruhnya terhadap laba perusahaan. Dengan pengetahuan akan faktor
– faktor yang berpengaruh tersebut dapat membantu manajer untuk penusunan perencanaan
laba.
Lebih lanjut, makalah ini pada dasarnya berisikan materi terkait analisis biaya, volume,
dan laba dalam lingkup mata kuliah akuntansi manjerial. Melalui makalah ini dijelaskan
terkait faktor – faktor yang mempengaruhi laba, sekaligus membantu menjelaskan bagaimana
penyusunan perencanaan laba perusahaan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1 Apa saja pokok – pokok analisis biaya-volume-laba?
1.2.2 Bagaimana analisis titik impas?
1.2.3 Bagaimana asumsi – asumsi dalam analisis biaya-volume-laba?
1.2.4 Bagaimana konsep bauran penjualan dalam analisis biaya-volume-laba?
1.3 TUJUAN
1.3.1 Memberikan penjelasan kepada pembaca terkait pokok – pokok analisis biaya-
volume-laba.
1.3.2 Memberikan penjelasan kepada pembaca terkait analisis titik impas.
1.3.3 Memberikan penjelasan kepada pembaca terkait asumsi – asumsi dalam analisis
biaya-volume-laba.
1.3.4 Memberikan penjelasan kepada pembaca terkait konsep bauran penjualan dalam
analisis biaya-volume-laba.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 POKOK – POKOK ANALISIS BIAYA-VOLUME-LABA


Analisis Biaya-Volume-Laba adalah alat yang sangat berguna bagi manajer untuk
menjalankan fungsinya. Alat ini membantu mereka untuk memahami hubungan antara biaya,
volume, dan laba organisasi dengan memfokuskan hubungan lima elemen yakni harga
produk, volume atau tingkat aktivitas, biaya variabel per unit, total biaya tetap, dan bauran
produk yang dijual.
Karena analisis Biaya-Volume-Laba membantu manajer untuk memahami hubungan
antara biaya, volume, dan laba, alat analisis ini sangat berguna dalam proses pembuatan
keputusan. Keputusan ini termasuk produk apa yang akan dibuat atau dijual, bagaimanakah
kebijakan penentuan harganya, apakah strategi pemasaran digunakan, tipe fasilitas produksi
apa yang diperlukan.
2.1.1 Margin Kontribusi
Margin kontribusi adalah jumlah yang tersisa dari penjualan dikurangi dengan biaya
variabel. Jumlah tersebut akan digunakan untuk menutup biaya tetap dan laba untuk
periode tersebut. Sebagai contoh, perusahaan X melakukan penjualan speaker. Setiap unit
speaker yang terjual memberikan tambahan margin kontribusi sebesar Rp. 100 per unit.
UNIT
1 2 ..350 351
PENJUALAN Rp 250 Rp 500 Rp 87.500 Rp 87.750
BIAYA VARIABEL Rp (150) Rp (300) Rp(52.500) Rp 52.650
MARGIN KONTRIBUSI Rp 100 Rp 200 Rp 35.000 Rp 35.100
BIAYA TETAP Rp(35.000) Rp(35.000) Rp(35.000) Rp (35.000)
RUGI/LABA BERSIH Rp(34.900) Rp(34.800) Rp - Rp 100

Dari contoh tersebut, terlihat jelas bahwa setiap unit terjual akan mengurangi besarnya
kerugian sebesar margin kontribusi per unit. Pada saat telah tercapai titik impas, setiap
tambahan unit yang terjual akan meningkatkan laba sebesar margin kontribusi.
2.1.2 Rasio Margin Kontribusi
Selain disajikan berdasarkan perunit, penjualan, biaya variabel dan margin kontribusi
dapat disajikan dalam persentase penjualan. Margin kontribusi sebagai persentase
penjualan disebut rasio margin kontribusi. Adapun rasio margin kontribusi dihitung
dengan membagi margin kontribusi dengan penjualan.
Rasio margin kontribusi sangat berguna karena menunjukkan bagaimana margin
kontribusi akan dipengaruhi oleh perubahan total penjualan.

4
Beberapa manajer lebih suka menggunakan rasio margin kontribusi daripada margin
kontribusi per unit. Rasio margin kontribusi memiliki manfaat dalam situasi manajer
harus membuat trade off antara peningkatan penjualan satu produk dengan peningkatan
penjualan produk lain.
2.1.3 Beberapa Aplikasi Konsep Biaya-Volume-Laba
Untuk memahami beberapa konsep Biaya-Volume-Laba dan pengaruhnya terhadap
margin kontribusi dapat dijelasakan dengan ilustrasi berikut.
PER UNIT % PENJUALAN
HARGA JUAL Rp 250 100%
BIAYA VARIABEL Rp (150) 60%
MARGIN KONTRIBUSI Rp 100 40%

1. Perubahan Biaya Tetap dan Volume Penjualan


Dimisalkan volume penjualan perusahaan X saat ini adalah 400 unit. Manajer
penjualan pun menganggap bahwa peningkatan anggaran iklan sebesar Rp. 10.000 akan
meningkatkan penjualan bulanan Rp. 30.000. Haruskah anggaran iklan dinaikkan?
VOLUME PENJUALAN
PENINGKATAN %PENJUALAN
SEKARANG DITAMBAH IKLAN
PENJUALAN Rp 100.000 Rp 130.000 Rp 30.000 100%
BIAYA VARIABEL Rp (60.000) Rp (78.000) Rp (18.000) -60%
MARGIN KONTRIBUSI Rp 40.000 Rp 52.000 Rp 12.000 40%
BIAYA TETAP Rp (35.000) Rp (45.000) Rp (10.000)
LABA BERSIH Rp 5.000 Rp 7.000 Rp 2.000
Dengan asumsi tidak ada faktor lain yang berubah, peningkatan anggaran iklan akan
disetujui apabila meningkatkan laba sebesar Rp. 2000.
2. Perubahan Biaya Variabel dan Volume Penjualan
Dimisalkan, dalam penjualan 400 unit, manajemen memikirkan menggunakan
komponen yang berkualitas lebih tinggi yang akan meningkatkan biaya variabel (dan
oleh karenanya mengurangi margin kontribusi) sebesar Rp. 10 per unit. Manajer
memperkirakan bahwa kualitas yang lebih tinggi akan meningkatkan penjualan menjadi
480 unit per bulan. Haruskah komponen yang lebih berkualitas digunakan?
Peningkatan biaya variabel sebesar Rp. 20 akan mengakibatkan margin kontribusi
menurun dari Rp. 100 ke Rp. 90.
Margin kontriibusi total yang dihharapkan dengan adanya
komponen yang lebih berkualitas: 480 x Rp. 90 Rp 43.200
Margin kontribusi total saat ini: 400 x Rp. 100 Rp (40.000)
Peningkatan margin kontrribusi Rp 3.200

5
Berdasarkan informasi tersebut, sebaiknya perusahaan menggunakan komponen yang
lebih berkualitas. Karena biaya tetap tidak berubah, lab bersih akan meningkat sebesar
Rp. 3200 karena adanya peningkatan margin kontribusi.
3. Perubahan Biaya Tetap, Harga Jual, dan Volume Penjualan
Dimisalkan, untuk meningkatkan penjualan, manajer penjualan akan menurunkan
harga jual Rp. 20 per unit dan meningkatkan anggaran iklan sebesar Rp. 15000 per
bulan. Manajer penjualan beranggapan bahwa jika kedua program tersebut dilaksanakan
maka penjualan meningkat menjadi 600 unit per bulan. Apakah rencana tersebut layak
dilaksanakan?
Margin kontribusi total dengan harga jual yang
lebih rendah : 600 unit x Rp. 80 Rp 48.000
Margin kontribusi total saat ini : 400 unit x Rp. 100 Rp (40.000)
Peningkatan margin kontribusi Rp 8.000
Perubahan biaya tetap
Dikurangi peningkatan biaya iklan Rp (15.000)
Pengurangan Laba Bersih Rp 7.000
Berdasarkan informasi tersebut, perusahaan tidak layak untuk melaksanakannya.
4. Perubahan Biaya Variabel, Biaya Tetap, dan Volume Penjualan
Dimisalkan, manajer penjualan menentukan bahwa tenaga penjualan akan diberi
komisi sebesar Rp. 15 per unit yang terjual untuk menggantikan gaji tetap sekarang ini
berjumlah Rp. 6000 per bulan. Manajer penjualan percaya bahwa perubahan ini akan
meningkatkan penjualan sebesar 15% menjadi 460 unit per bulan. Apakah program
tersebut layak dijalankan?
Apabila gaji tenaga penjualan ditentukan berdasarkan komisi akan mempengaruhi
baik biaya tetap maupun biaya variabel. Biaya tetap akan berkurang Rp. 6000 dari Rp.
35000 menjadi Rp. 29000. Biaya variabel per unit akan meningkat Rp. 15 dari Rp. 150
menjadi Rp. 165 dan margin kontribusi per unit akan turun dari Rp. 100 menjadi Rp. 85.
Margin kontribusi total dengan harga jual yang
lebih rendah : 460 unit x Rp. 85 Rp 39.100
Margin kontribusi total saat ini : 400 unit x Rp. 100 Rp (40.000)
Peningkatan margin kontribusi Rp (900)
Perubahan biaya tetap
Dikurangi peningkatan biaya iklan Rp (6.000)
Pengurangan Laba Bersih Rp 5.100
Berdasarkan informasi tersebut, program tersebut dapat dijalankan.

6
5. Perubahan dari Harga Regular
Dimisalkan, perusahaan mendapatkan kesempatan menjual dalam partai besar
sejumlah 150 unit apabila terjadi kesepakatan harga. Penjualan ini tidak akan
mengganggu penjualan reguler. Berapakah harga jual yang ditetapkan apabila
perusahaan menginkan peningkatan laba sebesar Rp. 3000?
Biaya Variabel per unit Rp 150
laba yang diharapkan per unit : Rp. 3000 x 150 Rp 20
Harga jual yang ditentukan per unit Rp 170
2.1.4 Mengapa Margin Kontribusi Penting?
Analisis BVL mencari kombinasi biaya variabel, biaya tetap, harga jual, dan volume
penjualan yang paling menguntungkan. Pengaruh margin kontribusi menjadi
pertimbangan utama dalam menentukan kombinasi yang optimal dari berbagai macam
faktur yang mempengaruhi tersebut.
Besarnya margin kontribusi per unit memiliki pengaruh yang besar terhadap langkah
– langkah yang akan diambil perusahaan untuk meningkatkan laba. Pengaruh margin
konrtibusi ini menjadi kunci beberapa pembuatan keputusan.

2.2 ANALISIS TITIK IMPAS


Salah satu bentuk analisis hubungan biaya, volume, dan laba adalah analisis impas.
Impas merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu kondisi usaha, pada saat
perusahaan tidak memperoleh laba, tetapi tidak menderita rugi. Dengan perkataan lain, impas
terjadi pada saat jumlah penghasilan perusahaan sama dengan besarnya jumlah biaya
perusahaan. Berdasarkan hasil analisis impas, perusahaan dapat mengetahui jumlah penjualan
minimum agar perusahaan tidak menderita rugi.
Perhitungan Titik Impas
Terdapat dua metode perhitungan titik impas di antaranya sebagai berikut.
 Metode Persamaan
Laba = Penjualan – (Biaya Tetap + Biaya Variabel) atau
Penjualan = Biaya Variabel + Biaya Tetap + Laba
 Metode Margin Kontribusi
Biaya Tetap
Titik Impas (Unit) =
Margin Kontribusi Per Unit

7
2.3 ASUMSI – ASUMSI DALAM ANALISIS BIAYA-VOLUME-LABA
Ada sejumlah asumsi yang perlu dipahami jika kita hendak menggunakan analisis
BVL dalam memecahkan persoalan – persoalan yang dihadapi perusahaan. Berikut beberapa
asumsi yang dimaksud.
a. Tingkah laku biaya dan pendapatan bersifat linier atau garis lurus.
b. Biaya dapat dipisahkan dengan akurat menjadi biaya variabel dan biaya tetap.
c. Komposisi penjualan konstan
d. Jumlah persediaan tidak berubah dalam arti bahwa jumlah yang diproduksi akan dapat
dijual seluruhnya.
e. Produktivitas dan efisiensi mesin dan pekerja tidak berubah dalam batas – batas yang
relevan.
f. Nilai uang konstan (tidak memperhitungkan nilai waktu uang)
g. Dalam perusahaan dengan multi produk, bauran penjualannya tetap.

Risiko dan Ketidakpastian


Salah satu asumsi penting dalam analisis BVL adalah bahwa harga dan biaya
diketahui dengan pasti. Dengan demikian maka garis biaya dan penjualan merupakan garis
linier dan setiap perubahan kuantitas yang diproduksi ataupun dijual akan menambah biaya
dalam jumlah yang sama. Asumsi ini tentu sangat jarang terjadi. Risiko dan ketidakpastian
adalah bagian dari keputusan bisnis dan setiap pengusaha akan selalu bermain – main dengan
hal tersebut.
Adapun dua metode untuk mengukur risiko tersebut adalah margin of safety dan
operating leverage.
 Margin of Safety
Margin of safety didefinisikan sebagai kelebihan budget penjualan sesungguhnya di
atas volume penjualan break even point. Margin of safety juga memberi petunjuk tentang
sampai seberapa banyak penjualan boleh turun sebelum perusahaan mengalami kerugian.
Rumusnya:
Margin of Safety = Total Penjualan – Penjualan BEP
 Operating Leverage
Operating leverage dapat digunakan untuk beberapa tujuan. Operating leverage adalah
ukuran sensitivitas laba bersih terhadap persentase perubahan penjualan. Operating
leverage bertindak sebagai multiplier. Jika operating leverage tinggi, persentase kecil
peningkatan penjualan dapat menghasilkan persentase yang lebih besar peningkatan laba.

8
Rumusnya:
Margin Kontribusi
Tingkat Operating Leverage =
Laba Bersih
Tingkat operating leverage adalah ukuran bagaimanakah pengaruh perubahan volume
penjualan terhadap laba.
2.4 KONSEP BAURAN PENJUALAN
2.4.1 Definisi Bauran Penjualan
Istilah bauran penjualan berarti proporsi relatif produk – produk perusahaan yang
terjual. Manajer akan selalu berusaha mencapai kombinasi atau bauran yang akan
memberikan laba terbesar. Kebanyakan perusahaan memiliki beberapa produk dan tingkat
laba masing – masing produk berbeda. Laba tergantung pada bauran penjualan
perusahaan. Laba yang lebih besar akan diperoleh bila produk dengan margin yang lebih
besar mendapatkan proporsi yang besar dari total penjualan.
Perubahan bauran penjualan akan menyebabkan variasi laba yang diperoleh
perusahaan. Pergeseran bauran penjualan dari produk yang memiliki margin yang tinggi
ke produk yang memiliki margin rendah dapat menyebabkan laba menurun meskipun
tingkat penjualan, begitu juga sebaliknya. Pertimbangan untuk mencapai volume
penjualan tertentu sangat berbeda dengan pertimbangan untuk menjual bauran produk
yang memberikan laba tinggi.
2.4.2 Bauran Penjualan dan Analisis Titik Impas
Jika perusahaan menjual lebih dari satu jenis produk, analisis titik impas lebih
kompleks. Alasannya adalah bahwa produk yang berbeda memiliki harga jual, biaya, dan
margin kontribusi yang berbeda pula. Konsekuensinya, titik impas akan bergantung pada
bauran berbagai macam produk yang dijual.

9
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
3.1.1 Analisis Biaya-Volume-Laba adalah alat yang sangat berguna bagi manajer untuk
menjalankan fungsinya. Alat ini membantu mereka untuk memahami hubungan
antara biaya, volume, dan laba organisasi dengan memfokuskan hubungan lima
elemen yakni harga produk, volume atau tingkat aktivitas, biaya variabel per unit,
total biaya tetap, dan bauran produk yang dijual.
3.1.2 Analisis BVL mencari kombinasi biaya variabel, biaya tetap, harga jual, dan
volume penjualan yang paling menguntungkan. Pengaruh margin kontribusi
menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kombinasi yang optimal dari
berbagai macam faktur yang mempengaruhi tersebut. Besarnya margin kontribusi
per unit memiliki pengaruh yang besar terhadap langkah – langkah yang akan
diambil perusahaan untuk meningkatkan laba.
3.1.3 Ada sejumlah asumsi yang perlu dipahami jika kita hendak menggunakan analisis
BVL dalam memecahkan persoalan – persoalan yang dihadapi perusahaan.
Diantaranya : a) Tingkah laku biaya dan pendapatan bersifat linier atau garis lurus;
b) Biaya dapat dipisahkan dengan akurat menjadi biaya variabel dan biaya tetap; c)
Komposisi penjualan konstan; d) Jumlah persediaan tidak berubah dalam arti
bahwa jumlah yang diproduksi akan dapat dijual seluruhnya; e) Produktivitas dan
efisiensi mesin dan pekerja tidak berubah dalam batas – batas yang relevan; f) Nilai
uang konstan (tidak memperhitungkan nilai waktu uang); g) Dalam perusahaan
dengan multi produk, bauran penjualannya tetap.
3.1.4 Ada dua metode untuk mengukur risiko adalah margin of safety dan operating
leverage.
3.1.5 Salah satu bentuk analisis hubungan biaya, volume, dan laba adalah analisis impas.
Berdasarkan hasil analisis impas, perusahaan dapat mengetahui jumlah penjualan
minimum agar perusahaan tidak menderita rugi. Dua metode yang digunakan untuk
menghitung titik impas adalah metode persamaan dan metode margin kontribusi.
3.1.6 Jika perusahaan menjual lebih dari satu jenis produk, analisis titik impas lebih
kompleks. Alasannya adalah bahwa produk yang berbeda memiliki harga jual,
biaya, dan margin kontribusi yang berbeda pula. Konsekuensinya, titik impas akan
bergantung pada bauran berbagai macam produk yang dijual.

10
3.2 SARAN
Makalah ini berisikan pokok bahasan “Analisis Biaya-Volume-Laba”. Para pembaca
yang ingin memperdalam pengetahuan terhadap pokok bahasan tersebut disarankan untuk
menjadikan makalah ini sebagai salah satu sumber referensi sebagai bahan rujukan guna
menambah wawasan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Garrison & Noreen. 2000. Akuntansi Manajerial. Jakarta : Salemba Empat


Hariadi, Bambang. 2002. Akuntansi Manajemen. Yogyakarta: BPFE

12