Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


“Sediaan Steril Obat Tetes Hidung Xylometazoline 0,1%”

Disusun oleh :

Rizqia Anggianawati

P17335116012
Dosen Pembimbing :

Septiani Puji Rahayu, S. Farm

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG

JURUSAN FARMASI

2018
Sediaan Steril Obat Tetes Hidung Xylometazoline 0,1%

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa mampu membuat formulasi sediaan, membuat sediaan dan
mengevaluasi sediaan steril Obat Tetes Hidung Xylometazoline 0,1%.

II. PENDAHULUAN
Hidung adalah organ kompleks dengan berbagai fungsi, dengan jaringan
nasal merupakan permukaan yang penuh dengan vascular dan jaringan mukosa
untuk absorpsi obat. Untuk tujuan sistemik sering diperlukan peningkat penetrasi
yang bekerja menurut berbagai mekanisme. Hidung eksternal berbentuk piramid,
disertai suatu akar dan dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka tulang, kartilago
hialin, dan jaringan fibroareolar. Septum nasal membagi hidung menjafi sisi kiri
dan kanan rongga nasal, bagian anterior septum adalah kartilago. Naris (nostril)
eksternal dibatasi oleh kartilago nasal yaitu kartilago nasal lateral terletak di
bawah jembatan hidung, dan ala besar dan ala kecil kartilago nasal mengelilingi
nostril (Agoes, 2013).
Sinus pranasal terdiri atas empat pasang (frontal, etmoid, maksilar dan
sfenoid). Sinus ini dilapisi membrane mukosa. Sinus berfungsi untuk
meringankan tulang kranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran
nasal untuk menghantarkan dan melembabkan udara yang masuk, serta
memproduksi dan memberi efek resonansi dalam produksi wicara. Sinus pranasal
mengalirkan cairannya ke meatus rongga nasal melalui duktus kecil yang terletak
di area tubuh yang lebih tinggi dari area lantai sinus. Pada posisi tegak, aliran
mucus ke dalam rongga nasal mungkin terhamba, terutama pada kasus infeksi
sinus. Duktus nasal lakrimal dan kelenjar air mata membuka ke arah meatus
inferior (Agoes, 2013).
Kulit pada bagian eksternal permukaan hidung mengandung folikel
rambut, keringat, dan kelenjar sebasea, merentang sampai vestibula yang terletak
di dalam nostril. Kulit pada bagian dalam ini mengandung rambut (vibrissae)
yang menyaring partikel dari udara yang terhisap. Pada bagian rongga nasal lebih
dalam, epitelium respiratorik membentuk mukosa yang melapisi ruang nasal
selebihnya. Lapisan ini terdiri dari epitelium bersilia dengan sel goblet yang
terletak pada lapisan jaringan ikat tervaskularisasi dan terus memanjang untuk
melapisi saluran pernapasan sampai ke bronkus. Fungsi dari membran mukosa ini
adalah untuk menyaring partikel halus, menghangatkan dan melembabkan udara
yang masuk dan resepsi bau (odor) (Agoes, 2013).
Rute nasal penghantaran obat menarik karena selalu dicari rute pemberian
obat yang tidak dapat diberikan baik secara oral maupun parenteral dari obat
hasil sintesis secara biologi, yaitu peptida dan polipeptida. Polipeptida,
sepertiinsulin yang dirusak oleh cairan saluran cerna, diberikan secara injeksi.
Mukosa nasal menunjukkan prospek yang baik untuk absorpsi sistemik dari
beberapa peptide, disamping obat nonpeptida, seperti skopolamin, hidralazin,
progesteron dan propranolol. Rute nasal memberikan pula keuntungan pada obat
nonpeptida yang diabsorpsi buruk secara oral (Agoes, 2013).
Jaringan nasal orang dewasa mempunyai kapasitas sekitar 20 ml, dengan
luas permukaan cukup besar (sekitar 180 cm2) untuk absorpsi obat yang
dimungkinkan oleh adanya “microvilli” di sepanjang sel-sel epitel kolumnar dari
mukosa nasal. Jaringan nasal penuh dengan pembuluh darah sehingga merupakan
lokasi yang menarik untuk absorpsi sistemik secara cepat dan efektif. Salah satu
keuntungan besar dari absorpsi nasal adalah mencegah terjadinya efek lintas
pertama (first pass effect) oleh hati. Identifikasi enzim metabolisme pada mukosa
nasal pada beberapa spesies hewan menunjukkan hal yang mirip dengan manusia
dan begitu juga potensi metabolisme beberapa obat secara intranasal (Agoes,
2013).
Kebanyakan sediaan intranasal mengandung agen adrenergik dan
digunakan karena aktivitas dekongestan pada mukosa nasal. Akan tetapi, dengan
pengembangan bentuk sediaan dan penghantaran baru, maka lapisan membran
mukosa merupakan tempat masuk obat baru (new entry) yang dapat
dimanfaatkan untuk sediaan sistemik. Kebanyak sediaan berbentuk larutan dan
diberikan sebagai obat tetes hidung atau obat semprot (sprays), beberapa sediaan
terdapat pula dalam bentuk jeli (Agoes, 2013).
Xylometazoline yang digunakan untuk bantuk simptomatik jangka
pendek pengobatan hidung tersumbat yang dipilih yaitu Xylometazoline
Hydrchloride (Sweetman, 2009). Xylometazoline Hydrochloride memiliki
kelarutan larut dalam air sehingga dibuat dalam bentuk tetes hidung (Kemenkes
RI, 2014). Xylometazoline memiliki aktivitas alfa adrenergik merupakan sebuah
vasokonstriktor yang mengurangi pembengkakan (inflamasi) dan penyumbatan
apabila diaplikasikan pada membran mukosa (Sweetman, 2009).

III. TINJAUAN PUSTAKA


3.1. Tetes Hidung
Guttae nasals/Nose drops (obat tetes hidung) adalah obat tetes yang
digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga
hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar, dan pengawet. Cairan
pembawa umumnya menggunakan air. Cairan pembawa sebaiknya
mempunyai pH 5,5-7,5, kapasitas dapar sedang, isotonis atau hampir isotonis.
Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan
pembawa karena dapat menimbulkan pneumonisa. Penyimpanan obat tetes
untuk hidung kecuali dinyatakan lain, disimpan dalam wadah tertutup rapat
(Syamsuni, 2006).
Kebanyakan larutan dekongestan nasal menggunakan pembawa air,
isotonis terhadap cairan nasal (lebih kurang ekivalen dengan 0,9% NaCl),
didapar untuk menjaga stabilitas obat dengan pH cairan nasal normal (pH
5,5-6,5) dan jika perlu distabilkan dan diberi pengawet. Pengawet
antimikroba digunakan sama dengan pengawet yang digunakan untuk larutan
oftalmik (Agoes, 2013).
Konsentrasi agen adrenergik dalam kebanyakan larutan dekongestan
nasal cukup rendah, berkisar antara 0,05-1,0%. Beberapa sediaan komersial
tersedia dalam bentuk untuk orang dewasa dan pediatrik, dimana konsentrasi
sediaan pediatrik sekitar separuh dari kekuatan konsentrasi untuk orang
dewasa (Agoes, 2013).
Kebanyakan obat adrenergik yang digunakan untuk larutan
dekongestan nasal adalah senyawa sinterik. Bagian terbesar larutan
digunakan untuk sediaan nasal, dikemas dalam botol tetes atau botol semprot
(sprays) plastik dengan volume 15-30 ml. Produk harus stabil dalam kontener
dan kemasan tertutup rapat bila tidak digunakan. Pasien harus diberi tahu
bahwa ada perbedaan durasi efek dekongestan topikal. Sebagai contoh
fenilefrin harus digunakan setiapn3-4 jam, sedangkan oksimetazolin yang
bekerjalama, cukup digunakan setiap 12 jam saja (Agoes, 2013).
3.2. Xylometazoline
Xylometazoline memiliki aktivitas alfa adrenergik merupakan sebuah
vasokonstriktor yang mengurangi pembengkakan (inflamasi) dan
penyumbatan apabila diaplikasikan pada membran mukosa. Xylometazoline
digunakan dalam bentuk HClnya untuk bantuan simptomatik jangka pendek
untuk hidung tersumbat (Sweetman, 2009). Xylometazoline bekerja secara
langsung, digunakan sebagai dekongestan topical karena kemampuan untuk
menurunkan konstriksi mukosa hidung, saat digunakan dalam dosis besar,
Xylometazoline dapat menyebabkan hipotensi, mungkin karena efek seperti
klonidin pusat (Katzung, 2012).
Dosis Xylometazoline untuk obat tetes hidung yaitu 2-3 tetes ke
setiap lubang hidung 2-3 kali sehari bila diperlukan, maksimal penggunaan 7
hari dan tidak direkomendasikan untuk anak dibawah 12 tahun (BNF, 2009).
Sediaan Obat Tetes Hidung Xylometazoline merupakan sediaan dengan tipe
multiple dose.

IV. FORMULASI
1. Xylometazoline Hydrochloride
Struktur Kimia

(British Pharmacopoeia, hlm.6420.pdf)


Pemerian Serbuk hablur, putih hingga hampir putih; tidak berbau.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.1325)
Kelarutan Larut dalam air, mudah larut dalam etanol,agak sukar larut
dalam kloroform; praktis tidak larut dalam benzene dan
dalam eter.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.1325)
Stabilitas
 Panas Melebur diatas suhu 300°C disertai peruraian.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.1325)
 Hidrolisis Xylometazoline rentan terhadap hidrolisis, yang
dipengaruhi pH dan suhu tinggi. Cukup stabil dalam
asam/media netral (pH 5-7) sedangkan di media basa, laju
hidrolisis meningkat.
(Nalus 1mg.ml nasal spray, solution premier Research
Cembit, Germany, 2012).
 Cahaya Terlindung dari cahaya.
(British Pharmacopoeia, hlm.6420.pdf)
 pH stabilitas 5,0-6,6
API (USP NF 31, hlm.3483.pdf)

Inkompatibilitas Berinteraksi dengan obat golongan MAOI atau dengan obat


golongan antidepresan.
(Martindale, hlm.1575.pdf)
pH sediaan 5,0-7,5
berdasarkan (USP NF 31, hlm.3483.pdf)
farmakope
Bentuk sediaan yang Otradrops®, Otrivine
telah didistribusikan (British National Formulary 56th Ed, hlm.651.pdf)
Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat dan terlindug dari cahaya.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.1326.pdf)
Kesimpulan :
Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : Garam
Bentuk sediaan (lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : Larutan
Cara sterilisasi sediaan : Metode panas basah, menggunakan alat autoklaf pada suhu
121°C selama 15 menit, 15 psi
Kemasan : Wadah Obat Tetes Hidung
Tipe administrasi sediaan injeksi : Topikal
Tipe sediaan : Multiple dose
2. Natrium Klorida
Pemerian Serbuk kristal putih tidak berwarna, rasa asin, hablur
berbentuk kubus..
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.903)
Kelarutan Sedikir larut dalam etanol 1:10, dalam gliserin 1:250,
dalam etanol 95% 1:2,8 , dalam air 1:2,6 suhu 100°C.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.903)
Stabilitas
 Panas Stabil terhadap panas.
(Hope 6th Ed, hlm.637.pdf)
 Hidrolisis/ Dapat teroksidasi ole chlorine bebas dari larutan asam pada
Oksidasi Natrium Klorida.
(Hope 6th Ed, hlm.637.pdf)
 Cahaya Satbil terhadap cahaya.
(Hope 6th Ed, hlm.637.pdf)
 pH Stabil terhadap pH injeksi 4,5-7,0
(Hope 6th Ed, hlm.637.pdf)
Kegunaan Pengisotonis
(Hope 6th Ed, hlm.637.pdf)
Inkompatibilitas Larutan natrium klorida berair bersifat korosif terhadap zat
besi. Dapat bereaksi membentuk endapan dengan garam
perak, timbal, dan merkuri. Oksidator kuat membebaskan
klorin dari larutan natrium yang diasamkan klorida.
Kelarutan antimikroba metilparaben pengawet menurun
dalam larutan natrium klorida berair dan viskositas gel
karbomer dan larutan hidroksietil selulosa atau
hidroksipropil selulosa dikurangi dengan penambahan
natrium klorida.
(Hope 6th Ed, hlm.639.pdf)

3. Benzalkonium Klorida
Pemerian Bubuk amorf putih, atau putih kekuninan, gel tebal atau
serpihan agar-agar.
(Hope 6th Ed, hlm.57.pdf)
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol, bentuk
anhidrat mudah larut dalam benzene dan agak sukar larut
dalam eter.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.158.pdf)
Stabilitas
 Hidrolisis/ Benzalkonium klorida bersifat higroskopis dan dapat
Oksidasi dipengaruhi oleh cahaya, udara dan logam.
(Hope 6th Ed, hlm.57.pdf)
Benzalkonium klorida dapat dipengaruhi oleh cahaya.
 Cahaya (Hope 6th Ed, hlm.57.pdf)
4,0-10
 pH (Hope 6th Ed, hlm.57.pdf)
Kegunaan Pengawet
(Hope 6th Ed, hlm.57.pdf)
Inkompatibilitas Tidak kompatibel dengan aluminium, surfaktan anionik,
sitrat, kapas, fluorescein, hidrogen peroksida,
hypromellose, iodida, kaolin, lanolin, nitrat, surfaktan
nonionik dalam konsentrasi tinggi, permanganat, protein,
salisilat, garam perak, sabun, sulfonamide, tartrates, zinc
oxide, zinc sulfate, beberapa campuran karet, dan beberapa
campuran plastik.
(Hope 6th Ed, hlm.57.pdf)

4. Na2EDTA
Pemerian Bubuk kristal putih, tidak berbau dengan rasa sedikit asam.
(Hope 6th Ed, hlm.243.pdf)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, sedikit larut
dalam etanol (95%); larut dalam 11 bagian air.
(Hope 6th Ed, hlm.243.pdf)
Stabilitas
 Panas Kehilangan air kristalisasi ketika dipanaskan hingga 120°C.
(Hope 6th Ed, hlm.243.pdf)
 Hidrolisis/ Tidak stabil saat kondisi lembab.
(Hope 6th Ed, hlm.243.pdf)
 pH 4,0-5,5
(British Pharmacopoeia, hlm.2051.pdf)
Kegunaan Chelating Agent
(Hope 6th Ed, hlm.243.pdf)
Inkompatibilitas Disodium edetat sebagai asam lemah, menggantikan
karbon dioksida dari karbonat dan bereaksi dengan logam
untuk membentuk hidrogen. Ini tidak bercampur dengan
oksidator kuat, basa kuat, ion logam, dan paduan logam.
(Hope 6th Ed, hlm.243.pdf)

5. Povidon
Pemerian Serbuk higroskopis berwarna putih sampai putih krem, tidak
berbau atau berwarna.
(Hope 6th Ed, hlm.582.pdf)
Kelarutan Mudah larut dalam asam, klorofrom, etanol (95%), keton,
methanol dan air. Praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon
dan mineral oil.
(Hope 6th Ed, hlm.582.pdf)
Stabilitas
 Panas Povidone berubah menjadi gelap pada pemanasan 150°C.
(Hope 6th Ed, hlm.582.pdf)
 Oksidasi Serbuk higroskopis
(Hope 6th Ed, hlm.582.pdf)
 pH pH efektif 3,0-7,0
(Hope 6th Ed, hlm.582.pdf)
Kegunaan Peningkat viskositas
(Hope 6th Ed, hlm.581.pdf)
Inkompatibilitas Povidone kompatibel dengan berbagai solusi anorganik
garam, resin alami dan sintetis, dan bahan kimia lainnya.
(Hope 6th Ed, hlm.582.pdf)

6. Natrium Fosfat
Pemerian Kristal tidak berbau, tidak berwarna/berwarna putih.
(Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)
Kelarutan Larut dalam 1 bagian air.
(Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)
Stabilitas
 Panas Akan melebur membentuk dekomposisi pada suhu 205°C.
(Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)
 Hidrolisis Stabil terhadap air.
(Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)
 pH 4,1-4,3 untuk 5% w/v larutan air.
(Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)
Kegunaan Dapar
(Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)
Inkompatibilitas Campuran dengan nitometana bersifat eksplosif.
(Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)

7. Asam Fosfat
Pemerian Cairan kristal seperti sirup, tidak berwarna, tidak berbau..
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.155.pdf)
Kelarutan Dapat bercampur dengan air dan alkohol.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.155.pdf)
Stabilitas
 Panas Akan melebur dan mejadi kristal yang berwarna putih pada
suhu yang rendah.
(Hope 6th Ed, hlm.503.pdf)
 pH 1,6
pKa = 2,15; 7,04; 12,3
(Hope 6th Ed, hlm.503.pdf)
Kegunaan Dapar
(Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)
Inkompatibilitas Asam fosfat inkompatibel dengan kalium tartrat, alkali dan
karbonat basa alkali dan bikarbonat, asetat dan sulfide.
Inkompatibiltas juga termasuk oksidator, basa, reduksi agen
dan nitrat. Ini berpotensi meledak dalam kombinasi dengan
nitrat logam.
(Hope 6th Ed, hlm.503.pdf)

8. Aqua Pro Injeksi


Pemerian Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.
(Hope 6th Ed, hlm.766.pdf)
Kelarutan Bercampur atau dapat bercampur dengan pelarut polar.
(Hope 6th Ed, hlm.766.pdf)
Stabilitas
 Panas Stabil terhadap panas.
(Hope 6th Ed, hlm.766.pdf)
 Hidrolisis Dapat bereaksi dengan zat yang rentan terhadap hidrolisis.
(Hope 6th Ed, hlm.766.pdf)
 Cahaya Secara kimiawi stabil pada segala kondisi fisik.
(Hope 6th Ed, hlm.766.pdf)
 pH 5,0-7,0
(Hope 6th Ed, hlm.766.pdf)
Kegunaan Pembawa
(Hope 6th Ed, hlm.766.pdf)
Inkompatibilitas Air dapat bereaksi dengan logam alkali dan logam alkali
dan oksidanya, seperti kalsium oksida dan magnesium
oksida. Air juga bereaksi dengan garam-garam anhidrat
untuk terbentuk hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan
bahan organik tertentu dan kalsium karbida.
(Hope 6th Ed, hlm.768.pdf)

V. PENDEKATAN FORMULA

No Nama Bahan Jumlah Kegunaan Rentang Kadar


1. Levofloksasin 0,1264% Zat aktif -
2. Benzalkonium 0,01% Pengawet 0,01-0,02%
Klorida (Hope 6thEd, (Hope 6thEd,
hlm.56.pdf) hlm.56.pdf)
3. Natrium Klorida 0,3113% Pengisotonis ≤ 0,9%
(Hope 6thEd, (Hope 6thEd,
hlm.636.pdf) hlm.637.pdf)
4. Povidone 2% Eye drops 2-10%
(Hope 6th Ed,
hlm.181.pdf)
5. Na2EDTA 0,01% Chelating Agent 0,005-0,1%
(Hope 6thEd, (Hope 6thEd,
hlm.242.pdf) hlm.243.pdf)
6. Asam Fosfat 0,7174% Dapar -
7. Natrium Fosfat 0,0552% Dapar -
8. Water For Ad 100% Pembawa
Injection (Hope 6thEd, -
hlm.766.pdf)

VI. PERHITUNGAN TONISITAS, OSMOLARITAS, DAPAR


a. Perhitungan Dosis
Dosis Xylometazolin untuk hidung tersumbat (BNF, 2009)
2-3 tetes ke setiap lubang hidung 2-3 kali sehari bila diperlukan, maksimal
penggunaan 7 hari. Tidak direkomendasikan untuk anak dibawah 12 tahun.
0,1
x 100 ml = 0,1 gram/100 ml = 100 mg/100 ml
100 𝑚𝑙
Kesetaraan Xylometazolin Hydrochloride
𝐵𝑀 𝑋𝑦𝑙𝑜𝑚𝑒𝑡𝑎𝑧𝑜𝑙𝑖𝑛𝑒 𝐻𝐶𝑙
x Bobot Xylometazoline
𝐵𝑀 𝑋𝑦𝑙𝑜𝑚𝑒𝑡𝑎𝑧𝑜𝑙𝑖𝑛𝑒
280,8
x 0,1 gram = 0,1149 gram
244,382

Bobot Xylometazoline Hydrochloride 0,1149 gram/100 ml


0,1149 𝑔𝑟𝑎𝑚
x 10 ml = 0,0115 gram/10 ml = 11,5 mg/10 ml
100 𝑚𝑙

1 tetes setara dengan 25-75 μl = 0,025-0,075 ml (Ramington, 2012)


0,025 𝑚𝑙 𝑥 2
Dosis: 2 tetes = 𝑥 11,5 𝑚𝑔 = 0,0575 mg
10 𝑚𝑙
0,075 𝑚𝑙 𝑥 2
= 𝑥 11,5 𝑚𝑔 = 0,1725 mg
10 𝑚𝑙
0,025 𝑚𝑙 𝑥 3
3 tetes = 𝑥 11,5 𝑚𝑔 = 0,0863 mg
10 𝑚𝑙
0,075 𝑚𝑙 𝑥 3
= 𝑥 11,5 𝑚𝑔 = 0,2588 mg
10 𝑚𝑙

Kesimpulan :
Jumlah Xylometazoline Hydrochloride dalam 2-3 tetes adalah 0,0575 mg –
0,1725 mg sampai 0,0863 mg – 0,2588 mg
b. Perhitungan Dapar
pH Xylometazoline HCl = 5,0-6,6
pH sediaan = 6,0
pKa = 7,2
Mr Asam Fosfat = 98,0 (Hope 6th Ed, hlm.503.pdf)
Mr Natrium Fosfat = 119,98 (Hope 6th Ed, hlm.659.pdf)
[Garam]
pH = pKa + log [Asam]

[Garam]
6 = 7,2 + log [Asam]
[Garam]
6 – 7,2 = log [Asam]
[Garam]
- 1,2 = log [Asam]
[Garam]
anti log (- 1,2) = [Asam]

[Garam] = 0,0631 [Asam]


Ka x H
β = 2,303 x C [[Ka+H]2 ]
10−7,2 x 10−6
0,01 = 2,303 x C [[10−7,2 + 10−6 ]2 ]

10−7,2 x 10−6
0,01 = 2,303 x C x [[10−7,2 + 10−6 ]2 ]

0,01 = 0,1285 C
C = 0,0778
C = [Garam] + [Asam]
0,0778 = 0,0631 [Asam] + [Asam]
0,0778 = 1,0631 [Asam]
[Asam] = 0,0732 M
[Garam] = 0,0631 [Asam]
= 0,0631 x 0,0732
= 0,0046 M
Mr H3PO4 = 98,0
Mr NaH2PO4 = 119,98
gram 1000
Asam Fosfat = x volume
Mr
gram 1000
0,0732 = x
98,0 100

gr = 0,7174 gram
0,7174 𝑔𝑟𝑎𝑚
x 100% = 0,7174%
100 𝑚𝑙
gram 1000
Natrium Fosfat = x volume
Mr
gram 1000
0,0046 = x
119,98 100

gr = 0,0552 gram
0,0552 𝑔𝑟𝑎𝑚
x 100% = 0,0552%
100 𝑚𝑙

c. Perhitungan Tonisitas-Osmolaritas
 Perhitungan Kadar Kemurnian Xylometazoline Hydrochloride
Kadar Xylometazoline
0,1
x 100 ml = 0,1 gram/100 ml = 100 mg/100 ml
100 𝑚𝑙

Kesetaraan Xylometazolin Hydrochloride


𝐵𝑀 𝑋𝑦𝑙𝑜𝑚𝑒𝑡𝑎𝑧𝑜𝑙𝑖𝑛𝑒 𝐻𝐶𝑙
x Bobot Xylometazoline
𝐵𝑀 𝑋𝑦𝑙𝑜𝑚𝑒𝑡𝑎𝑧𝑜𝑙𝑖𝑛𝑒
280,8
x 0,1 gram = 0,1149 gram
244,382

Bobot Xylometazoline Hydrochloride 0,1149 gram/100 ml

Kadar Xylometazoline Hydrochloride 90,0-110,0% (USP NF 31,


hlm.3483.pdf)
Dilebihkan 10% = 0,1149 gram + (10% x 0,1149 gram)
= 0,1149 gram + 0,0115 gram
= 0,1264 gram
0,1264 𝑔𝑟𝑎𝑚
Kadar akhir = x 100% = 0,1264%
100 𝑚𝑙

 Tonisitas
1. Xylometazoline Hydrochloride (Metode Liso)
17 𝑥 2
E= x 0,1264% = 0,0513%
280,8

2. Benzalkonium Klorida (Metode NaCl Equivalent)


Nilai E = 0,16%/1%
Nilai E dalam formula = 0,01% x 0,16% = 0,0016%
3. Na2EDTA (Metode NaCl Equivalent)
Nilai E = 0,070%/0,5%
Nilai E dalam formula = 0,01% x 0,070% = 0,0007%
4. Povidone (Metode NaCl Equivalent)
Nilai E = 0,01%/1%
Nilai E dalam formula = 2% x 0,01% = 0,02%
5. Asam Fosfat (Metode Liso)
17 𝑥 4,3
E= x 0,7174% = 0,5351%
98,0

6. Natrium Fosfat (Metode NaCl Equivalent)


Nilai E = 0,29%/1%
Nilai E dalam formula = 0,0552% x 0,29% = 0,0160%

Total Tonisitas Sediaan = 0,0153% + 0,0016% + 0,02% + 0,0007% +


0,5351% + 0,0160%
= 0,5887% (Hipotonis)

NaCl yang dibutuhkan = 0,9% - 0,5887% = 0,3113%

0,3113
Bobot NaCl yang dibutuhkan = x 100 ml = 0,3113 gram
100

 Osmolaritas
1. Xylometazoline HCl = 0,1264 gram/100 ml = 1,264 gram/L
BM Levofloksasin = 280,8
Jumlah ion = 2
1,264 𝑥 1000 𝑥 2
Osmolaritas = = 9,0028 mOsmol/L
280,8

2. Benzalkonium Klorida = 0,01 gram/100 ml = 0,1 gram/L


BM = 360,0
Jumlah ion = 2
0,1 𝑥 1000 𝑥 2
Osmolaritas = = 0,5556 mOsmol/L
360

3. Na2EDTA= 0,01 gram/100 ml = 0,1 gram/L


BM = 336,2
Jumlah ion = 3
0,1 𝑥 1000 𝑥 3
Osmolaritas = = 0,8923 mOsmol/L
336,2

4. Povidon = 2 gram/100 ml = 20 gram/L


BM = 2500
Jumlah ion = 1
20 𝑥 1000 𝑥 1
Osmolaritas = = 8 mOsmol/L
2500

5. Natrium Klorida = 0,3113 gram/100 ml = 3,113 gram/L


BM = 58,44
Jumlah ion = 2
3,113 𝑥 1000 𝑥 2
Osmolaritas = = 106,5366 mOsmol/L
58,44

6. Asam Fosfat = 0,7174 gram/100 ml = 7,174 gram/L


BM = 98,0
Jumlah ion = 3
7,174 𝑥 1000 𝑥 3
Osmolaritas = = 219,6122 mOsmol/L
98,0

7. Natrium Fosfat = 0,0552 gram/100 ml = 0,552 gram/L


BM = 119,98
Jumlah ion = 3
0,552 𝑥 1000 𝑥 3
Osmolaritas = = 13,8023 mOsmol/L
119,98

Osmolaritas Total = 9,0028 + 0,5556 + 0,8923 + 8 + 106,5366 +


219,6122 + 13,8023
= 358,4018 mOsmol/L (Hipertonis)

VII. PENIMBANGAN
Dibuat 6 wadah obat tetes hidung = 1 wadah @ 10 ml
Ditambahkan = 10 ml + 0,7 ml = 10,7 ml
Total volume sediaan yang dibuat = 6 botol x 10,7 ml = 64,2 ml ~ 100 ml

Penimbangan dibuat sebanyak 100 ml berdasarkan pertimbangan volume injeksi


dan kehilangan selama proses produksi
No Nama Bahan Jumlah yang ditmbang
1. Xylometazoline HCl 0,1264
x 100 ml = 0,1264 gram
0,1264% 100
Kelarutan 10-30
10 ml x 0,1264 gram = 1,264 ml ~ 5 ml
2. Benzalkonium Klorida 0,01
100
x 10 ml = 0,01 gram
0,01%
Kelarutan 1:1 (FI Ed V, hlm.211.pdf)
0,9 ml x 0,01 gram = 0,009 ml ~ 2 ml
3. Natrium Klorida 0,3113
100
x 100 ml = 0,3113 gram
0,3113%
Kelarutan 2,6 bagian air (FI Ed V, hlm.103.pdf)
2,6 ml x 0,3113 gram = 0,8716 ml ~ 2 ml
4. Na2EDTA 0,01% 0,01
x 100 ml = 0,01gram
100
Kelarutan 11 bagian air (Hope 6th Ed, hlm.243.pdf)
11 ml x 0,01gram = 0,11 ml ~ 2 ml
5. Povidon 2% 2
100
x 100 ml = 2 gram
Kelarutan 1-10
10 ml x 2 gram = 20 ml
6. Natrium Fosfat 0,0552% 0,0552
100
x 100 ml = 0,0552 gram
Kelarutan 1:1
1 ml x 0,0552 gram = 0,0552 ml ~ 2 ml
7. Asam Fosfat 0,7174% 0,7174
x 100 ml = 0,7174 gram
100
Kelarutan 10-30
10 ml x 0,7174 gram = 7,174 ml ~ 10 ml
8. Aqua Pro Injeksi Ad 100 ml

VIII. STERILISASI
a. Alat
Nama Alat Cara Sterilisasi Waktu Sterilisasi Jumlah
Gelas Ukur 100 ml Metode panas kering, Selama 1 jam 1
menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
Gelas Ukur 10 ml Metode panas kering, Selama 1 jam 1
menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
Batang Pengaduk Metode panas kering, Selama 1 jam 6
menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
Labu Erlenmeyer Metode panas kering, Selama 1 jam 2
250 ml menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
Beaker glass 250 ml Metode panas kering, Selama 1 jam 2
menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
Beaker glass 50 ml Metode panas kering, Selama 1 jam 6
menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
Kaca Arloji Metode panas kering, Selama 1 jam 6
menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
Spatel Metode panas kering, Selama 1 jam 6
menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
Pipit Tetes Metode panas basah, Selama 15 menit, 4
menggunakan autoklaf pada suhu 15 psi
121°C
Tutup Pipet Tetes Metode filtrasi menggunakan Gas Selama 1 jam 4
Chlorine Dioxide (CD), 70-85%
RH, 10-30 mg/L, 80 kPa, 30-
32°C
Membran Filtrasi Metode panas basah, Selama 15 menit, 1
0,45 μm menggunakan autoklaf pada suhu 15 psi
121°C
Membran Filtrasi Metode panas basah, Selama 15 menit, 1
0,22 μm menggunakan autoklaf pada suhu 15 psi
121°C
Labu Ukur 100 ml Metode panas kering, Selama 1 jam 2
menggunakan alat oven pada
suhu 170°C
b. Wadah
Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi
Wadah Obat Tetes 6 Desinfeksi, direndam alcohol 70% selama
Hidung 24 jam
Tutup Wadah Obat 6 Desinfeksi, direndam alcohol 70% selama
Tetes Hidung 24 jam

c. Bahan

Nama Bahan Jumlah Cara Sterilisasi


Xylometazoline HCl 0,1264 gram Metode panas basah, menggunakan autoklaf
pada suhu 121°C selamat 15 menit, 15 psi abs
Povidon 2 gram Metode panas basah, menggunakan autoklaf
pada suhu 121°C selamat 15 menit, 15 psi abs
Benzalkonium 0,01 gram Metode panas basah, menggunakan autoklaf
Klorida pada suhu 121°C selamat 15 menit, 15 psi abs
Natrium Klorida 0,3113 gram Metode panas basah, menggunakan autoklaf
pada suhu 121°C selamat 15 menit, 15 psi abs
Na2EDTA 0,01 gram Metode panas basah, menggunakan autoklaf
pada suhu 121°C selamat 15 menit, 15 psi abs
Natrium Fosfat 0,0552 gram Metode panas basah, menggunakan autoklaf
pada suhu 121°C selamat 15 menit, 15 psi abs
Asam Fosfat 0,7174 gram Metode panas basah, menggunakan autoklaf
pada suhu 121°C selamat 15 menit, 15 psi abs
Air 150 ml Destilasi sebanyak 6 kali

IX. PROSEDUR PEMBUATAN


Ruang Prosedur
Grey Area 1. Semua alat dan wadah dicuci bersih, dibilas dengan aquadest
Grade C dan dikeringkan.
(Sterilisasi Alat) 2. Wadah obat tetes mata dikalibrasi 5,5 ml dengan air, air
dibuang dan botol dikeringkan.
3. Beaker glass utama 250 ml dikalibrasi dengan air sebanyak
100 ml air, air dibuang dan beaker glass dikeringkan.
4. Bagian mulut beaker glass 100 ml, beaker glass 50 ml, labu
erlenmeyer 250 ml, gelas ukur 100 ml, gelas ukur 10 ml,labu
ukur 100 ml, labu ukur 50 ml, botol vial 10 ml dan pipet tetes
disumbat dengan aluminium foil.
5. Semua alat dan bahan dibungkus dengan kertas perkamen,
kecuali kertas saring.
6. Dilakukan sterilisasi.
7. Setelah disterilisasi, alat dimasukkan kedalam lemari khusus
barang steril dan di transfer ke ruang dispensing dengan
isolator.
White Area Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan ditimbang dengan
Grade C timbangan analitik yang sudah dikalibrasi :
(Ruang 1. Xylometazoline HCl ditimbang sebanyak 0,1264 gram pada
Penimbangan) kaca arloji ditutup menggunakan kertas perkamen dengan
penimbangan tidak langsung, diberi label nama dan jumlah
bahan.
2. Benzalkonium klorida ditimbang sebanyak 0,01 gram pada
kaca arloji ditutup menggunakan kertas perkamen dengan
penimbangan tidak langsung, diberi label nama dan jumlah
bahan.
3. Natrium klorida ditimbang sebanyak 0,3113 gram pada kaca
arloji ditutup menggunakan kertas perkamen dengan
penimbangan tidak langsung, diberi label nama dan jumlah
bahan.
4. Na2EDTA ditimbang sebanyak 0,01 gram pada kaca arloji
ditutup menggunakan kertas perkamen dengan penimbangan
tidak langsung, diberi label nama dan jumlah bahan.
5. Povidon ditimbang sebanyak 2 gram pada kaca arloji ditutup
menggunakan kertas perkamen dengan penimbangan tidak
langsung, diberi label nama dan jumlah bahan.
6. Asam Fosfat ditimbang sebanyak 0,7174 gram pada kaca arloji
ditutup menggunakan kertas perkamen dengan penimbangan
tidak langsung, diberi label nama dan jumlah bahan.
7. Natrium Fosfat ditimbang sebanyak 0,0552 gram pada kaca
arloji ditutup menggunakan kertas perkamen dengan
penimbangan tidak langsung, diberi label nama dan jumlah
bahan.
Bahan-bahan dimasukkan kedalam pass box yang berada diruang
penimbangan untuk diambil pada ruang dispensing.

White Area Bahan diambil dari pass box di White Area. Meja dibersihkan
Grade C terlebih dahulu dengan cairan desinfektan dan meja dibagi menjadi
(Ruang 3 area yaitu area bersih, area kerja dan area kotor.
Pencampuran) 1. Pembuatan air dapar (100 ml)
a. Asam Fosfat sebanyak 0,7174 gram dilarutkan dalam 10 ml
Water For Injection (diukur dengan gelas ukur 10 ml)
dengan beaker glass 250 ml.
b. Natrium Fosfat sebanyak 0,0552 gram dilarutkan dalam 2
ml Water For Injection (diukur dengan gelas ukur 10 ml)
dengan beaker glass 50 ml. Lalu dimasukkan kedalam
beaker glass stok dapar, dibilas 2x sebanyak 2 ml.
c. Dapar dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml, ditambah
Water For Injection sampai tanda batas.
2. Dilakukan pengecekan pH dapar, apabila pH terlalu asam maka
ditambahkan Natrium Fosfat dan apabila terlalu basa maka
ditambahkan Asam Fosfat.
3. Xylometazoline HCl sebanyak 0,1264 gram dilarutkan dalam 5
ml air dapar (diukur dengan gelas ukur 10 ml) dengan beaker
glass utama, aduk menggunakan batang pengaduk hingga larut.
4. Benzalkonium klorida sebanyak 0,01 gram dilarutkan dalam 2
ml air dapar (diukur dengan gelas ukur 10 ml) dengan beaker
glass 50 ml, aduk menggunakan batang pengaduk hingga larut.
Lalu dimasukkan kedalam beaker glass utama, dibilas 2x
sebanyak 2 ml.
5. Na2EDTA sebanyak 0,01 gram dilarutkan dalam 2 ml air dapar
(diukur dengan gelas ukur 10 ml) dengan beaker glass 50 ml,
aduk menggunakan batang pengaduk hingga larut. Lalu
dimasukkan kedalam beaker glass utama, dibilas 2x sebanyak 2
ml.
6. Natrium klorida sebanyak 0,3113 gram dilarutkan dalam 2 ml
air dapar (diukur dengan gelas ukur 10 ml) dengan beaker glass
50 ml, aduk menggunakan batang pengaduk hingga larut. Lalu
dimasukkan kedalam beaker glass utama, dibilas 2x sebanyak 2
ml.
7. Povidon sebanyak 2 gram dilarutkan dalam 10 ml air dapar
(diukur dengan gelas ukur 10 ml) dengan beaker glass 50 ml,
aduk menggunakan batang pengaduk hingga larut. Lalu
dimasukkan kedalam beaker glass utama, dibilas 2x sebanyak 2
ml.
8. Larutan dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml, beaker glass
utama dibilas 2x sebanyak 2 ml.
9. Air dapar ditambahkan hingga tanda batas.
10. Larutan disaring menggunakan kertas saring rangkap 2,
ditampung menggunakan labu erlenmeyer 250 ml.
11. Labu erlenmeyer yang berisi larutan ditutup bagian mulutnya
menggunakan alumunium foil.

Grey Area 1. Labu erlenmeyer berisi larutan dilakukan sterilisasi


(Ruang Sterilisasi) menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit, 15
psi abs
White Area 1. Larutan dalam labu erlenmeyer dimasukkan kedalam buret
Grade A/B steril. Ujung dari buret ditutup menggunakan alumunium foil.
(Ruang Filling) Jarum buret didesinfeksi.
2. Larutan dimasukkan kedalam wadah obat tetes hidung sebanyak
10,7 ml masing-masing.
3. Wadah obat tetes hidung ditutup, dibawa ke ruang penutupan
melalui transfer box.

Grey Area 1. Sediaan dilakukan evaluasi.


(Ruang Evaluasi) 2. Sediaan diberi etiket dan brosur.
3. Sediaan dikemas menggunakan kemasan sekunder.
X. DATA PENGAMATAN EVALUASI SEDIAAN
 Evaluasi Fisika
1. Evaluasi Fisika
A. Jenis Evaluasi : Uji Penetapan pH (Farmakope Indonesia Edisi V,
hlm.1563)
B. Prinsip Evaluasi : Pengukuran pH menggunakan potensiometri (pH
meter) yang sesuai, yang mampu mengukur harga pH sampai 0,02 unit
pH menggunakan elektrode indikator yang peka, elektroda kaca dan
elektrode pembanding yang sesuai.
C. Prosedur :
 Pembakuan pH meter
1. Sel diisi dengan larutan dapar untuk pembakuan pada suhu yang
sama dengan larutan uji.
2. Kendali pada suhu larutan dipasang.
3. Kontrol kalibrasi di atur
4. Elektrode dan sel dibilas beberapa kali dengan larutan dapar untuk
pembakuan kedua.
5. Sel diisi dengan larutan tersebut pada suhu yang sama dengan
larutan uji.
6. Harga pH dibaca.
 Pengukuran pH larutan uji
1. Elektroda dan sel dibilas beberapa kali dengan larutan uji.
2. Sel diisi dengan sedikit larutan uji.
3. Harga pH dibaca.
D. Jumlah Sample : 3 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : 5,0-6,6
F. Hasil Pengamatan : pH1 = 6,23
pH2 = 6,23
pH3 = 6,23
Rata – rata = 6,23 ± 0
G. Kesimpulan : Memenuhi syarat
2. Evaluasi Fisika
A. Jenis Evaluasi : Penetapan Kejernihan (Farmakope Indonesia Edisi V,
hlm.1521)
B. Prinsip Evaluasi : Pemeriksaan dilakukan deengan metode visual
menggunakan latar belakang putih dan hitam dibantu cahaya untuk
melihat partikel viabel yang terdapat dalam sediaan.
C. Prosedur :
1. Metode yang digunakan adalah metode visual.
2. Penetapan dilakukan dengan menggunakan tabung reaksi alas datar
dengan diameter 15-25 mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat
dari kaca netral.
3. Larutan uji dibandingkan dengan larutan suspense padanan yang
dibuat segar dengan tinggi 40 mm.
4. Kedua larutan dibandingkan dibawah cahaya yang terdifusi 5 menit
setelah pembuatan suspense padanan dengan tegak lurus ke arah
bawah tabung menggunakan latar belakang berwarna hitam.
5. Difusi cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi padanan I
dapat dibedakan dari air dan suspensi padanan II dapat dibedakan dari
suspensi padanan I.
D. Jumlah Sample : 1 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : Larutan dianggap jernih apabila sama dengan air atau
larutan yang digunakan dalam pengujian dengan kondisi yang
dipersyaratkan, atau jika opalesen tidak lebih dari suspensi padanan I.
F. Hasil Pengamatan: Larutan sediaan jernih
G. Kesimpulan : Memenuhi syarat
3. Evaluasi Fisika
A. Jenis Evaluasi : Uji Bahan Partikulat (Farmakope Indonesia Edisi V,
hlm.1494)
B. Prinsip Evaluasi : Menghitung partikel asing subvisibel dalam rentang
ukuran tertentu dengan memanfaatkan sensor penghamburan cahaya dan
pengumpulan sample. Jika tidak memenuhi batas yang ditetapkan, maka
dilakukan pengujian mikroskopik.
C. Prosedur :
 Persiapan pengujian
1. Bahan uji disiapkan.
2. Penutup luar, pita segel dan semua etiket kertas yang dapat
terlepas dilepaskan,
3. Bagian luar wadah dibilas dengan air suling atau air deionisasi
yang tersaing.
4. Wadah dilindungi dari cemaran sekitarnya hingga analisis sesuai.
5. Isi wadah yang diuji dikeluarkan dengan cara yang mempunyai
kemungkinan paling kecil menghasilkan partikel yang dapat
masuk kedalam sampel.
6. Isi wadah yang penutupnya dapat dilepas dapat dikeluarkan
langsung dengan cara membuka penutupnya.
7. Sampel dari produk yang dikemas dalam wadah plastic lentur
diambil dengan cara memotong mulut atau salah satu sudut wadah
dengan pisau atau gunting bersih yang sesuai.
 Penetapan produk sediaan cair < 25 ml
1. Wadah disiapkan seperti tertera pada persiapan pengujian.
2. Bahan partikulat dari tiap unit dicampur.
3. Isi dari 10 unit atau lebih dicampurkan kedalam wadah yang
bersih untuk memperoleh volume tidak kurang dari 20 ml.
4. Larutan gabungan di awaudarakan dengan cara disonifikasi
selama kurang lebih 30 detik atau dengan cara mendiamkan
larutan sa,pai bebas gelembung udara.
5. Isi wadah diaduk perlahan-lahan secara manual atau mekanis,
jangan sampai gelembung udara atau cemaran masuk.
6. Sekurang-kurang tiga alikot diambil masing-masing tidak kurang
dari 5 ml, lalu dituang kedalam sensor penghitung pengaburan
cahaya.
D. Jumlah Sample : 1 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : Tidak boleh terdapat partikulat di dalam sediaan
F. Hasil Pengamatan: Tidak terdapat partikulat pada latar belakang hitam
dan latar belakang putih (dilakukan secara manual).
G. Kesimpulan : Memenuhi syarat
4. Evaluasi Fisika
A. Jenis Evaluasi : Uji Kebocoran (Goeswin Agoes, hlm. 191-192)
B. Prinsip Evaluasi : Dilakukan dengan memasukan wadah obat tetes mata
dalam posisi terbalik kedalam beaker glass, digunakan kertas saring
sebagai alas.
C. Prosedur :
1. Wadah obat tetes hidung diletakkan dengan posisi terbalik diatas
kertas saring atau kapas.
2. Jika terjadi kebocoran maka kertas saring atau kapas akan basah.
D. Jumlah Sample : 1 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : Kertas saring tetap kering
F. Hasil Pengamatan : Kertas saring tidak basah
G. Kesimpulan : Memenuhi syarat
5. Evaluasi Fisika
A. Jenis Evaluasi : Uji Penetapan Volume Injeksi (Farmakope Indonesia
Edisi V, hlm.1570)
B. Prinsip Evaluasi : Dilakukan dengan menggunakan gelas ukur dan
membalikkan botol diatas gelas ukur untuk melihat volume akhir yang
didapat.
C. Prosedur :
1. Isi tiap wadah diambil dengan jarum suntik hipodermik kering
berukuran tidak lebih dari tiga kali volume yang akan diukur dan
dilengkapi jarum suntuik no. 21 panjang tidak , 2,5 cm.
2. Gelembung udara dikeluarkan dari jarum suntik.
3. Isi dalam alat suntik dipindahkan tanpa mengosongkan bagian jarum.
4. Dipindahkan ke gelas ukur kering sehingga volume yang diukur
sekurang-kurangnya 40% volume dari kapasitas yang tertera.
5. Cara lain, isi alat suntik dapat dipindahkan kedalam gelas piala kering
yang telah ditara.
6. Volume dalam ml diperoleh dari hasil perhitungan berat dalam gram
dibagi bobot jenis cairan.
7. Isi dari dua atau tiga wadah 1 ml atau 2 ml dapat digabungkan untuk
pengukuran dengan menggunakan jarum suntik kering dengan
menggunakan jarum suntik kering terpisah untuk mengambil isi tiap
wadah.
8. Isi dari wadah 10 ml atau lebih dapat ditemukan dengan membuka
wadah.
9. Isi dipindahkan secara langsung kedalam gelas ukur atau gelas piala
yang telah ditara.
D. Jumlah Sample : 3 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada
wadah bila diuji satu per satu, atau bila wadah volume 1 ml dan 2 ml,
tidak kurang dari jumlah volume wadah yang tertera pada etiket bila isi
digabung.
F. Hasil Pengamatan : V1 = 11 ml
V2 = 11 ml
V3 = 11 ml
Rata-rata = 11 ± 0 ml
G. Kesimpulan : Memenuhi syarat
6. Evaluasi Fisika
A. Jenis Evaluasi : Viskositas
B. Prinsip Evaluasi : Dilakukan dengan menggunaka viskometer kapiler
dan menghitung waktu larutan mengalir.
C. Prosedur :
1. Pengukuran menggunakan alat viskometer kapiler
2. Larutan dimasukkan kedalam viskometer kapiler
3. Larutan ditarik hingga mencapai tanda batas atas.
4. Hitung waktu larutan mengalir sampai larutan mencapi tanda batas
bawah.
D. Jumlah Sample : 3 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : 4,4-8,3 mPas = 0,044-0,083 dPas
F. Hasil Pengamatan :
ŋ1 𝜌1 . 𝑡1
= 𝜌2 .
ŋ2 𝑡2

𝑡1 = waktu air : 8,98; 8,36; 8,97 (X = 8,77)


𝑡2 = waktu sediaan : 9,30; 10,10; 10,20 (X = 9,8667)
ŋ1 = 0,89
𝜌1 = 1
𝜌2 = 1, 0265
0,89 1 𝑥 8,77
= 1,0265 𝑥 9,8667
ŋ2

ŋ = 0,7911 mPas
G. Kesimpulan : Tidak memenuhi syarat
7. Evaluasi Fisika
A. Jenis Evaluasi : Bobot Jenis (Farmakope Indonesia Edisi V,
hlm.1553)
B. Prinsip Evaluasi : Didasarkan pada perbandingan bobot zat di udara pada
suhu yang tela ditetapkan terhadap bobot cair dengan volume dan suhu yang
sama.
C. Prosedur :
1. Didasarkan pada perbandingan zat di udara pada suhu yang telah
ditetapkan terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama.
2. Piknometer kosong ditimbang, hasil timbangan dicatat.
3. Piknometer diisi dengan water for injection lalu ditimbang, hasil
timbangan dicatat.
4. Piknometer dikeringkan, diisi dengan sediaan obat tetes mata, hasil
timbangan dicatat.
5. Dilakukan sebanyak 3 kali.
6. Piknometer dibersihkan dan dikeringkan
7. Hasil dihitung.
D. Jumlah Sample : 3 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : Mendekati bobot jenis air
F. Hasil Pengamatan :
W1 = Piknometer kosong
W2 = Piknometer + aquadest
W3 = Piknometer + larutan sediaan
W1 = 11,4664 gram
W2 = 21,1964 gram
W3(1) = 21,405 gram
W3(2) = 21,4822 gram
W4(3) = 21,4758 gram
𝑊3−𝑊1
Bobot Jenis = 𝑊2−𝑊1
21,405 𝑔𝑟𝑎𝑚−11,4664 𝑔𝑟𝑎𝑚
Bobot Jenis(1) = 21,1964 𝑔𝑟𝑎𝑚−11,4664 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 1,0214 gram
21,4822 𝑔𝑟𝑎𝑚−11,4664 𝑔𝑟𝑎𝑚
Bobot Jenis(2) = 21,1964 𝑔𝑟𝑎𝑚−11,4664 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 1,0294 gram
21,4758 𝑔𝑟𝑎𝑚−11,4664 𝑔𝑟𝑎𝑚
Bobot Jenis(3) = 21,1964 𝑔𝑟𝑎𝑚−11,4664 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 1,0287 gram

Rata-rata = 1,0265 ± 0,0036 gram


G. Kesimpulan : Memenuhi syarat
 Evaluasi Kimia
8. Evaluasi Kimia
A. Jenis Evaluasi : Uji Identifikasi (Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.
118)
B. Prinsip Evaluasi : Dilakukakn dengan menggunakan Kromatografi
Lapis Tipis.
C. Prosedur :
1. Ditotolkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 5μl)
larutan uji dan larutan baku dimasukkan kedalam bejana.
2. Lempeng dimasukkan kedalam bejana yang berisi fase gerak.
3. Lempeng diangkat, tandai batas rambat dan biarkan fase gerak
menguap.
4. Lempeng disemprot dengan larutan p-nitrobenzendiazonium
tetrafluoroborat, yang dibuat dengan menambahkan 250 mg p-
nitrobenzendiazonium tetrafluoroborat kedalam 5 ml air, dikocok dan
disaring.
5. Lempeng disemprot dengan larutan Natrium Karbonat P (1 dalam 10).
D. Jumlah Sampel : 3 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : Harga Rf bercak utama larutan uji sesuai dengan
larutan baku.
F. Hasil Pengamatan : Tidak dilakukan evaluasi
G. Kesimpulan : Tidak dilakukan evaluasi
9. Evaluasi Kimia
A. Jenis Evaluasi : Penetapan Kadar (Farmakope Indonesia Edisi V, hlm.
1188.pdf)
B. Prinsip Evaluasi : Menghitung jumlah dalam mg Xylometazoline
Hydrochloride dalam sediaan tetes hidung.
C. Prosedur :
1. Larutan baku dan larutan uji masing-masing dipipet 5 ml kedalam
labu terukur 10 ml, uapkan diatas tangas air bersuhu 40°, dengan
bantuan aliran gas nitrogen P sampai kering.
2. Residu dilarutkan dalam masing-masing labu dengan 0,5 ml etanol
mutlak P.
3. Etanol mutlak P 0,5 ml dimasukkan kedalam labu terukur 10 ml
ketiga sebagai blanko.
4. Larutan Natrium Hidroksida P 0,5 ml ditambahkan kedalam masing-
masing labu (1 dalam 25) dicampur.
5. Ditambahkan masing-masing 5,0 ml larutan Natrium Nitroferoksida P
(1 dalam 200), dikocok.
6. Setelah tepat 10 menit, larutan Natrium Bikarbonat P 10 ml
ditambahkan kedalam masing-masing labu, digoyangkan.
7. Dibiarkan 10 menit.
8. Masing-masing diencerkan dengan air sampai tanda, dikocok.
9. Dibiarkan 15 menit.
10. Diukur serapan larutan menggunakan kuvet 1 cm pada panjang
gelombang serapan maksimum kurang lebih 565 nm.
11. Dihitung jumlah dalam mg Xylometazoline HCl dalam tetes hidung
yang digunakan dengan rumus :
𝑐 𝐴𝑣
0,05 (𝑣) ( 𝐴𝑠 )

D. Jumlah Sampel : 3 wadah obat tetes hidung


E. Persyaratan : Tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%
dari jumlah di etiket.
F. Hasil Pengamatan : Tidak dilakukan evaluasi
G. Kesimpulan : Tidak dilakukan evaluasi
 Evaluasi Biologi
10. Evaluasi Biologi
A. Jenis Evaluasi : Uji Sterilitas (Farmakope Indonesia Edisi V,
hlm.1363)
B. Prinsip Evaluasi : Sampel yang berupa cairan dilewatkan ke suatu
membran steril yang memiliki ukuran tertentu yang dapat menahan
lewatnya bakteri. Membran tersebut kemudian diinokulasikan ke media
pengujian, kemudian diamati pertumbuhan mikroorganisme.
C. Prosedur :
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Diisi wadah/beberapa wadah yang akan diuji kedalam satu membrane
atau beberapa membrane.
3. Jika perlu diencerkan dengan pengencer steril yang dipilih sesuai
volume yang digunakan pada uji kesesuaian metode.
4. Disaring segera kemudia jika sediaan mempunyai daya antimikroba
maka dicuci memberan tidak kurang dari 3 kali dengan sejumlah
volume pengencer yang digunakan pada uji kesesuaian metode. Setiap
pencucian tidak lebih dari 5 x 100 ml per membrane.
5. Seluruh membran untuk dipindahkan kedalam media dipotong
menjadi dua bagian yang sama secara aseptik, kemudian dimasukan
masing-masing bagian kedalam media yang sesuai.
6. Media dipindahkan kedalam membran pada alat penyaring.
7. Media diinkubasi selama tidak kurang dari 14 hari.
D. Jumlah Sample : 2% atau 10 wadah, diambil yang lebih kecil
E. Persyaratan : Jika tidak terjadi pertumbuhan mikroba, maka bahan
uji memenuhi persyaratan sterilitas
F. Hasil Pengamatan : Tidak dilakukan evaluasi
G. Kesimpulan : Tidak dilakukan evaluasi
11. Evaluasi Biologi
A. Jenis Evaluasi : Uji Efektivitas Pengawet (Farmakope Indonesia Edisi
V, hlm.1356)
B. Prinsip Evaluasi : menghitung perubahan dalam nilai log jumlah
koloni/ml untuk setiap mikroba. Ditetapkan dengan prosedur ALT jumlah
koloni yang ada dari setiap sediaan uji.
C. Prosedur :
1. Dilakukan dalam tiap 5 wadah asli bila volume sediaan tiap wadahnya
mencukupi dan wadah sediaan dapat ditusuk secara aseptic.
2. Inokulasi tiap wadah dengan satu inokulasi baku yang telah disiapkan
dan diaduk.
3. Volume suspense inokulan yang ddigunakan anatar 0,5% dan 1,0%
dari volume sediaan.
4. Kadar mikroba uji yang ditambahkan pada sediaan (kategori 1-3)
seperti halnya kadar akhir sediaan uji setelah halnya kadar akhir
sediaan uji setelah diinokulasi antara 1x105 dan 1x106 koloni/ml.
5. Kadar awal mikroba “viabel” dalam setiap sediaan uji diperkirakan
berdasarkan kadar mikroba dalam inokula standar ditetapkan dengan
metode ALT.
6. Wadah yang sudah diinokulasi, diinkubasi pada suhu 22,5°±2,5°C
7. Ssampel diambil dari setiap wadah pada interval yang sesuai.
8. Dicatat setiap perubahan penampilan yang diamati pada interval
tersebut.
9. Ditetapkan dengan prosedur ALT jumlah koloni yang ada dari setiap
sediaan uji.
10. Dengan menggunakan jumlah koloni/ml terhitung pada awal
pengujian, dihitung perubahan dalam nilai log jumlah koloni/ml untuk
setiap mikroba.
D. Jumlah Sample : 5 wadah obat tetes hidung
E. Persyaratan : Untuk sediaan injeksi, bakteri : Koloni tidak kurang
dari1,0 log reduksi dari jumlah hitungan awal pada hari ke-7, tidak kurang
dari 30 log reduksi dari hitungan awal pada hari ke-14 dan tidak
meningkat sampai dengan hari ke-28. Kapang dan khamir : koloni tidak
meningkat dari jumlah hitungan awal sampai dengan hari ke-28.
F. Hasil Pengamatan : Tidak dilakukan evaluasi
G. Kesimpulan : Tidak dilakukan evaluasi

XI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan Obat Tetes Hidung
Xylometazoline 0,1%. Pembuatan sediaan Obat Tetes Hidung Xylometazoline
ditujukan untuk pengobatan hidung tersumbat (Sweetman, 2009).
Xylometazoline yang digunakan untuk bantuk simptomatik jangka pendek
pengobatan hidung tersumbat yang dipilih yaitu Xylometazoline Hydrchloride
(Sweetman, 2009). Xylometazoline Hydrochloride memiliki kelarutan larut
dalam air sehingga dibuat dalam bentuk tetes hidung (Kemenkes RI, 2014).
Dalam pembuatan sediaan ditambahkan eksipien/zat tambahan yang dapat larut
dalam air. Eksipien/zat tambahan yang digunakan diantaranya yaitu Natrium
Klorida sebagai pengisotonis, Benzalkonium Klorida sebagai pengawet,
Na2EDTA sebagai peningkat efektivitas pengawet, Povidone sebagai peningkat
viskositas, Asam Fosfat dan Natrium Fosfat sebagai dapar.
Pada pembuatan obat tetes hidung ditambahkan Natrium Klorida sebagai
pengisotonis dikarenakan Xylometazoline Hydrchloride bersifat hipotonis.
Kebanyakan larutan dekongestan nasal menggunakan pembawa air, isotonis
terhadap cairan nasal (lebih kurang ekivalen dengan 0,9% NaCl). Sediaan obat
tetes hidung harus bersifat isotonis (Agoes, 2013). Pada pembuatan ditambahkan
pengisotonis Natrium Klorida sebanyak 0,6978%. Natrium Klorida sebagai
pengisotonis memliki kelarutan 1:2,6 bagian dalam air (Kemenkes RI, 2014). .
Pada pembuatan obat tetes hidung ditambahkan dapar dikarenakan
Xylometazoline Hydrochloride memiliki pH stabilitas 5,0-6,6. Rentang pH
tersebut kurang dari dua, sehingga harus ditambahkan dapar. Dapar berfungsi
untuk mempertahankan pH yang diinginkan. Dapar borat dan dapar sitart tidak
digunakan dalam sediaan obat tetes hidung karena akan menyebabkan toksisitas
pada cilia. Dapar yang digunakan yaitu dapar fosfat yang memiliki nilai pKa 7,2
mendekati pH stabilitas bahan aktif (Rowe dkk, 2009).
Dosis Xylometazoline untuk obat tetes hidung yaitu 2-3 tetes ke setiap
lubang hidung 2-3 kali sehari bila diperlukan, maksimal penggunaan 7 hari dan
tidak direkomendasikan untuk anak dibawah 12 tahun (BNF, 2009). Sediaan
Obat Tetes Hidung Xylometazoline merupakan sediaan dengan tipe multiple
dose. Dalam sediaan ditambahkan pengawet yaitu Benzalkonium Klorida
sebanyak 0,01% (Rowe dkk, 2009).
Dalam pembuatan ditambahkan Benzalkonium Klorida sebagai pengawet,
maka dibutuhkan peningkat efektivitas dari Benzalkonium Klorida. Dalam
sediaan ditambahkan Na2EDTA sebagai pengingkat efektivitasnya. Na2EDTA
yang digunakan sebanyak 0,01%. Na2EDTA memiliki kelarutan dalam air 11
bagian (Rowe dkk, 2009).
Xylometazoline memiliki nilai Log P = 3,2 sehingga kurang dari 10 dan
BM = 280,84 sehingga kurang dari 1000, dapat menyebabkan waktu kontak
sediaan obat tetes hidung di epithel region hanya sebentar. Diperlukan peningkat
viskositas untuk meningkatkan waktu kontak obat tetes hidung. Peningkat
viskositas yang digunakan yaitu povidon sebanyak 2%. Povidon sebagai
peningkat viskositas memiliki kelarutan mudah larut dalam air (Rowe dkk,
2009).
Pembawa yang digunakan yaitu water for injection dikarenakan dalam
pembuatan sediaan obat tetes, semua bahan dan alat harus dalam keadaan steril.
Water dibuat dengan cara destilasi sebanyak 6 kali. Sediaan dalam wadah obat
tetes hidung masing-masing yang dibuat memiliki volume 10 ml dalam sediaan
ditambahkan 0,7 ml untuk memenuhi syarat penetapan volume injeksi. Volume
sediaan ditambahkan hingga 100 ml bertujuan untuk mencegah terjadinya
kehilangan volume sediaan pada saat proses pembuatan. Pada proses pembuatan
larutan disaring dengan menggunakan kertas saring rangkap 2. Penyaringan
dilakukan supaya larutan jernih dan tidak ada zat yang terbawa kedalam filtrat
(Syamsuni, 2006).
Sterilisasi larutan mata yang digunakan untuk mata yang luka sangat
penting (Syamsuni, 2006). Dilakukan sterilisasi akhir dengan menggunakan alat
autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit dengan tekanan 15 psi. Dilakukan
sterilisasi akhir dikarenakan semua bahan eksipien dan zat aktif dapat dilakukan
sterilisasi dengan metode panas basah. Sterilisasi akhir dalam sediaan obat tetes
mata dilakukan sebelum filling dikarenakan wadah obat tetes hidung yang bukan
terbuat dari kaca. Setelah sterilisasi selesai, maka dilakukan evaluasi. Evaluasi
yang dilakukan yaitu uji penetapan pH, penetapan kejernihan, uji bahan
partikulat, uji kebocoran, uji penetapan volume injeksi, uji viskositas dan uji
bobot jenis
Evaluasi penetapan pH dilakukan menggunakan potensiometri (pH meter)
yang sesuai, yang mampu mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH
menggunakan elektrode indikator yang peka, elektroda kaca dan elektrode
pembanding yang sesuai. Hasil yang didapatkan yaitu pH1 = 6,23; pH2 = 6,23;
pH3 = 6,23 dan rata-rata = 6,23 ± 0 sehingga memenuhi syarat dikarenakan pH
sesuai dengan bahan aktif atau masuk kedalam rentang pH bahan aktif yaitu 5,0-
6,6.
Evaluasi penetapan kejernihan dilakukan dengan menggunakan metode
visual menggunakan latar belakang putih dan hitam disinari dari samping.
Kotoran berwarna akan terlihat pada latar belakang putih, sedangkan kotoran
tidak berwarna akan terlihat pada latar belakang hitam (Syamsuni, 2006).
Penetapan kejernihan bertujuan untuk melihat partikel viabel yang terdapat dalam
sediaan. Hasil yang didapatkan yaitu sediaan jernih sehingga memenuhi syarat.
Evaluasi uji bahan partikulat dilakukan untuk menghitung partikel asing
subvisbel dalam rentang ukuran tertentu dengan memanfaatkan sensor
penghamburan cahaya dan pengumpulan sampel (Kemenkes RI, 2014). Dalam
praktikum ini dilakukuan dengan pengamatan secara manual. Hasil yang
didapatkan tidak terdapat partikulat dalam sediaan sehingga memenuhi syarat.
Evaluasi uji kebocoran dilakukan dilakukan dengan membalikkan posisi
wadah obat tetes hidung meletakkan diatas kertas saring dan dimasukkan
kedalam beaker glass kecil. Hasil yang didapatkan bahwa kertas saring tetap
kering sehingga memenuhi syarat. Syarat dari uji kebocoran yaitu kertas saring
tidak boleh basah (Kemenkes RI, 2014).
Evaluasi uji penetapan volume injeksi dilakukan dengan menggunakan
gelas ukur dan membalikkan botol diatas gelas ukur untuk melihat volume akhir
yang didapat. Hasil yang didapatkan yaitu volume pertama 11 ml, volume kedua
11 ml dan volume ketiga 11 ml dan rata-rata volume yaitu 11 ± 0 ml sehingga
memenuhi syarat. Syarat uji penetapan volume injeksi yaitu volume tidak kurang
dari volume yang tertera pada wadah bila diuji satu per satu, atau bila wadah
volume 1 ml dan 2 ml, tidak kurang dari jumlah volume wadah yang tertera pada
etiket bila isi digabung (Kemenkes RI, 2014).
Evaluasi uji bobot jenis didasarkan pada perbandingan bobot zat di udara pada
suhu yang telah ditetapkan terhadap bobot cair dengan volume dan suhu yang sama.
Hasil yang didapatkan yaitu bobot jenis pertama adalah 1,0214 gram, bobot jenis kedua
adalah 1,0294 gram, bobot jenis ketiga adalah 1,0287 gram dan rata-rata bobot jenis
yaitu 1,0265 ± 0,0036 gram sehingga memenuhi syarat dikarenak bobot jenis sediaan
obat tetes hidung tersebut lebih besar dibandingkan dengan bobot jenis air.
Evalausi uji viskositas dilakukan dengan menggunakan viskometer
kapiler. Didapat rata-rata waktu air mengalir yaitu 8,77 dan rata-rata waktu
sediaan obat tetes hidung mengalir yaitu 9,8667. Bobot jenis air yaitu 1 dan bobot
jenis dari sediaan obat tetes hidung yaitu 1,0265 gram. Hasil yang didapatkan
yaitu viskositas sediaan obat tetes hidung adalah 0,7911 sehingga tidak
memenuhi syarat dikarenakan viskositas sediaan obat tetes hidung lebih kecil
dibandingkan viskositas air. Hal ini bisa disebabkan karena peningkat viskositas
yang digunakan yaitu Povidon kurang, konsentrasi dari Povidon sebagai
peningkat viskositas yang digunakan dalam pembuatan sediaan obat tetes hidung
hanya 2%. Diketahui viskositas air adalah 0,89. Syarat uji viskositas yaitu 4,4-8,3
mPas atau 0,044-0,083 dPas (Sinko, 2006).

XII. KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan steril injeksi adalah sebagai berikut :

No. Nama Bahan Jumlah Kegunaan

1. Xylometazoline HCl 0,1264% Zat Aktif


2. Benzalkonium Klorida 0,01% Pengawet
3. Natrium Klorida 0,3113% Pengisotonis
Peningkat efektivitas
4. Na2EDTA 0,01% pengawet
5. Povidon 2% Peningkat viskositas
6. Asam Fosfat 0,7174% Dapar
7. Natrium Fosfat 0,0552% Dapar
4 Water For Injection ad 100 % Pembawa

Jenis sterilisasi yang digunakan dalam pembuatan Obat Tetes Hidung


Xylometazoline 0,1% adalah sterilisasi akhir dengan menggunakan autoklaf
dengan suhu 121oC selama 15 menit, tekanan 15 psi.
Dari evaluasi didapatkan bahwa Obat Tetes Hidung Xylometazolin 0,1%
memenuhi syarat.
XIII. DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Goeswin. (2013). Sediaan Farmasi Steril. Bandung: Penerbit ITB.


BNF. (2009). British National Formulary Edisi (57th ed). England : British
Medical Association Royal Pharmaceutical of Great Britain.
British Pharmacopoeia Commisiony. (2009). London: The British
Pharmacopoeia Commission.
Kementrian Kesehatan RI. (2014). Farmakope Indonesia edisi V. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Rowe, Raymond C et al. (2009) . Handbook Of Pharmaceutcal Exicipient (6th
ed). London: The Pharmaceutical Press.
Sinko, Patrick J. (2006). Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Martin. Edisi
ke-5. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Sweetman, Sean C. (2009). Martindale (36th ed). London: The Pharmaceutical
Press.

Syamsuni, H.A. (2006). Ilmu Resep. Jakarta: ECG.

The United State Pharmacopeial Convention. (2006). The United States


Pharmacopeia (30th Ed). United States.
XIV. DESIGN KEMASAN, ETIKET, BROSUR
Kemasan
Etiket
Brosur
Uji penetapan kejernihan Uji penetapan kejernihan Uji kebocoran
pada latar belakang putih pada latar belakang hitam

Uji Penetapan pH pada sediaan

Piknometer kosong Piknometer+Aquadest Piknometer + Sediaan

Viskositas Sediaan Obat Tetes Hidung