Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di dalam upaya penarapan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin
diperlukan sarana yang efektif dan efisien berupa pendidikan. Maka, seluruh
aspek yang berkaitan dengan pendidikan harus berdasarkan misi ajaran Islam.
Dalam perjalanan Islam, kita temui kegiatan pendidikan mulai tingkat dasar
sampai perguruan tinggi yang berhasil melahirkan para ilmuwan ensiklopedik
yang karya-karyanya masih banyak kita jumpai dijadikan referensi pendidikan
hingga saat ini. Munculnya para ilmuwan tersebut tentunya dengan adanya konsep
dan sistem pendidikan di dalamnya.
Pada makalah ini, penulis berupaya menggali konsep dan sistem pendidikan
dari beberapa tokoh pendidikan Islam klasik. Pemikiran para tokoh tersebut
menunjukkan bahwa pendidikan adalah hal penting universal yang tidak akan
berakhir karena zaman yang selalu berkembang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pemikiran Filsafat Al-Ghazali?
2. Bagaimana Pemikiran Filsafat Ibnu Sina?
3. Bagaimana Pemikiran Filsafat Ibnu Khaldun?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui Pemikiran Filsafat Al-Ghazali.
2. Untuk mengetahui Pemikiran Filsafat Ibnu Sina.
3. Untuk mengetahui Pemikiran Filsafat Ibnu Khaldun.

1
2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemikiran Filsafat Al-Ghazali


Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-
Ghazali, lahir di sebuah kota kecil dekat Thus yang terletak di Provinsi Khurasan,
Persia pada tahun 450 H atau 1058 M. Al-Ghazali sudah dikenal sebagai pecinta
ilmu pengetahuan dan pencari kebenaran hakiki sejak kecil. Ia merupakan ulama
yang taat berpegang teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah serta menghias dirinya
dengan tasawuf. Ia banyak mempelajari pengetahuan umum seperti Ilmu Kalam,
Filsafat, Fiqh, Tasawuf, dan sebagainya. Namun akhirnya ia lebih terarik kepada
Fiqih dan Tasawuf.1 Ia banyak mencurahkan perhatian pada pendidikan sehingga
ia mempunyai konsep pendidikan. Untuk mengetahui konsep pendidikan Al-
Ghazali dapat kita fahami dari beberapa aspek pendidikan, yaitu tujuan
pendidikan, kurikulum, metode, etika guru, dan etika murid.
1. Tujuan Pendidikan
Terdapat dua tujuan pendidikan menurut pemikiran Al-Ghazali yaitu
tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara kepada Allah dan
kesempurnaan insani yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. 2
Dalam pandangannya, sasaran pendidikan adalah kesempurnaan dunia dan
akhirat dengan jalan ilmu yang dapat mendekatkan dia kepada Allah sehingga
ia bahagia diakhirat kelak. Jiwa agamis dan sufinya yang terkendali telah
mempengaruhi pandangannya tentang nilai-nilai hidup yaitu bahwa modal
kebahgiaan di dunia dan akhirat tak lain adalah ilmu. Maka ilmu adalah hal
utama karena untuk mengetahui wujud perantara kebahagiaan amal.
2. Kurikulum
Konsep kurikulum ilmu pengetahuan yang digagas Al-Ghazali terbagi
menjadi tiga bagian3, yaitu:
a. Ilmu-ilmu yang terkutuk yaitu yang tidak ada manfaatnya dunia maupun
akhirat, seperti ilmu sihir, ilmu nujum, dan ilmu ramalan. Dikatakan
1
Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat Pendidikan
Islam), (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2001), cet. II, hlm.85.
2
H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta; Bumi Aksara, 1991), cet. I, hlm. 87.
3
Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, hlm. 88.

2
3

tercela karena ilmu-ilmu tersebut menimbulkan mudharat (kessusahan)


baik bagi pemiliknya maupun orang lain. Al-Ghazali menuturkan bahwa
mempelajari filsafat bagi setiap orang tidaklah wajib karena orang yang
belajar ilmu tersebut akan sakit apabila memakan makanan yang belum
waktunya dimakan atau bermacam-macam yang belum bisa dicerna oleh
perutnya dan ini dapat membahayakannya.
b. Ilmu-ilmu yang terpuji yaitu ilmu yang membahas peribadatan, seperti
ilmu yang berkaitan dengan kebersihan diri dari cacat dan dosa, ilmu
tentang cara-cara mendekatkan diri kepada Allah dengan beramal yang
diridhai-Nya serta untuk bekal akhirat. Al-Ghazali membaginya ke
dalam dua bagian yaitu: (1) Wajib ‘ain yaitu segala jenis ilmu agama
mulai dari kitab Allah, ibadat pokok seperti shalat, puasa, zakat, dan
sebagainya. (2) Fardlu kifayah yaitu ilmu yang bisa diabaikan untuk
kelancaran semua urusan seperti ilmu kedokteran, pembagian wasiat dan
warisan dan sebagainya. Ilmu-ilmu tersebut jika tidak ada seorangpun
dalam suatu penduduk yang mempelajarinya, maka berdosalah seluruh
penduduk tersebut dan begitupun sebaliknya.
c. Imu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu atau sedikit karena jika
dipelajari secara mendalam akan muncul kekacauan keyakinan bahkan
menyebabkan kekafiran seperti ilmu filsafat. Ilmu filsafat tersebut
menurut Al-Ghazali diantaranya matematika, logika, ilahiyat, fisika,
politik dan ilmu etika.
3. Metode Pengajaran
Dengan dasar prinsipnya bahwa pendidikan adalah hubungan erat antara
guru dan murid, maka faktor keteladanan yang utama menjadi bagian dari
metode pengajaran yang amat penting. Al-Ghazali mengatakan bahwa makhluk
paling mulia di dunia ini adalah manusia yang mulia hatinya. Mengajar adalah
bentuk pengabdian kepada Allah dengan mematuhi perintah-Nya yaitu
menyempurnakan, menghias, mensucikan dan mendorong manusia taat kepada
Allah.
4. Kriteria Guru yang Baik

3
4

Al-Ghazali membagi kriteria yang baik tersebut menjadi dua bagian yaitu
secara umum dan secara khusus.4 Secara umum, guru yang baik adalah yang
dapat diserahi tugas mengajar, selain cerdas juga sempurna akalnya, serta baik
akhlaknya dan kuat fisiknya. Sedangkan secara khusus terdapat kriteria-kriteria
berikut:
a. Rasa kasih sayang
b. Tidak menuntut upah atas jerih payahnya sesuai Rasulullah SAW. yang
hanya mengharap ridha Allah SWT.
c. Pengarah yang benar dan jujur
d. Simpatik, halus, lemah lembut dengan tidak mencaci, memaki dan dengan
kekerasan.
e. Teladan atau panutan bagi murid-muridnya.
f. Memahami kemampuan, bakat, tabi’at, dan kejiwaan muridnya.
g. Berpegang teguh dengan prinsip dan berusaha merealisasikannya.
5. Sifat Murid yang Baik
Seorang murid yang baik, ciri-cirinya adalah berjiwa bersih, mejauhkan
diri dari persoalan duniawi, tawadhu’ atau rendah hati, menghindari ilmu
perdebatan, mendahulukan pelajaran yang wajib, belajar secara bertahap,
menguasai satu ilmu sebalum berpindak kepada ilmu yang lain, dan mengenal
nilai kelebihan dari ilmu yang dipelajarinya.
6. Interdisipliner Keilmuan Al-Ghazali
Al-Ghazali diberi gelar kehormatan Hujjat Al-Islam atas pembelaan Islam
saat membantah kaum batiniyat dan kaum filsuf. Karya tulisnya meliputi
berbagai disiplin ilmu yang berpengaruh besar terhadap pemikiran umat Islam.
a. Maqasid al-Falasifah, karangan pertama yang berisi masalah filsafat.
b. Tahafut al-Falasifah, berisi kecaman keras filsafat dan para filusuf.
c. Mi’yar al-‘Ilm.
d. Ihya ‘Ulum Ad-Din, perpaduan panduan fiqh, tasawuf, dan filsafat.
e. Misykat al-Anwar yang berisi pembahasan akhlak tasawuf.
f. Ayyuha al-Walad, dan lain-lain.5
Walaupun usianya pendek namun kontribusi terhadap Islam sangat banyak
dan tidak sedikit yang dialihbahasakan dan tetap hidup di tengah-tengah dunia
ilmiah.

B. Pemikiran Filsafat Ibn Sina

4
Ibid, hlm.95
5
Asep Sulaiman, Mengenal Filsafat Islam, (Bandung: Yrma Widya, 2016), hlm. 71-72.

4
5

Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali al-Husayn Ibnu Abdullah Ibnu Ali Ibnu
Sina dengan nama pendek Abu Ali dan dikenal pula dengan Asy-Syaikh Ar-Rais.
Istilah Sina dihubungkan dengan nama tempat kelahirannya, yaitu Afshana6. Ibnu
Sina lahir pada tahun 370 H/980 M. Dalam sejarah pemikiran Islam, ia dikenal
sebagai intelektual Muslim yang banyak mendapat gelar.7
Menurut sejarah hidup yang ditulis muridnya, Jurjani, Ibnu Sina belajar
berbagai ilmu sejak kecil seperti ajaran religius, filsafat, dan ilmiah. Ia telah
diperknalkan aliran sunni karena guru fikihnya, Isma’il Al-Zahid adalh seorang
sunni. Ia juga telah mempelajari ilmu dasar logika, geometri, dan astronomi oleh
gurunya, An-Natili.8 Karya-karya Ibnu Sina diantaranya adalah: Al-Qanun fi Ath-
Thibb (sumber medis terpenting selama lima abad, awal abad 11 H), Asy-Syifa
merupakan karya detail yang memuat ilmu ligika, fisika, matematika, dan
metafisika serta kitab An-Najah merupakan ringkasan dari Asy-Syifa yang berisi
logika, fisika, dan metafisika yang dipersiapkan sendiri oleh Ibnu Sina sedangkan
matematika dipersiapkan oleh Al-Jurjani.9 Pemikiran Ibnu Sina dalam pendidikan
antara lain mengenai tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, guru, dan
pelaksanaan hukuman dalam pendidikan. Kelima aspek tersebut dapat
dikemukakan sebagai berikut.

1. Tujuan Pendidikan
Menurut Ibnu Sina, tujuan pendidikan harus diarahkan pada kesempurnaan
yaitu perkembangan fisik, intelektual, dan budi pekerti. 10 Hal ini dimaksudkan
untuk mempersiapkan seseorang agar sukses hidup bersama masyarakat
dengan bekerja sesuai keahlian yang dipilih menurut keahlian, bakat, kesiapan,
kecenderungan, dan potensi yang dimilikinya.11
2. Kurikulum

6
Sa’id Ismai’l Ali, al-Falsafah at-Tarbiyah ‘ind Ibn Sina, (Mesir: Dar al- Ma’arif, 1969),
hlm. 31
7
Gelar yang diberikan para ahli sejarah antar lain: As- Syaikh ar-Rais”, Al-Hakim at-
Masyhur, At-Thib an- Nathasyi, dan Al-‘Alim an- Nafsy’.
8
Asep Sulaiman, Mengenal Filsafat Islam, (Bandung: Yrma Widya, 2016), hlm. 52.
9
Ibid, hlm. 53.
10
Ibn Sina, As-Siyasah fi at-Tarbiyah, (Mesir: Majalah al-Masyrik, 1906), hlm. 1076.
11
Ibid, hlm. 1218.

5
6

Crow dan Crow mengartikan kurikulum sebagai rancangan pengajaran


yang berisi sejumlah pelajaran yang disusun secara sistematik sebagai syarat
menyelesaikan program pendidikan tertentu.12
Konsep Ibnu Sina mengenai kurikulum berdasarkan tingkat perkembangan
usia anak. Untuk usia tiga sampai lima tahun perlu diberikan mata pelajaran
olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara dan kesenian. 13 Kemudian untuk
usia enam sampai empat belas tahun mencakup pelajaran al-Qur’an, pelajaran
agama, sya’ir, dan olahraga.14 Sedangkan untuk usia empat belas tahun ke atas
pelajaran yang harus diberikan adalah yang berkaitan dengan keahlian
seseorang yang dapat dikembangkan.15
Dari uraian tersebut tampak tiga ciri konsep kurikulum pendidikan Ibnu
Sina. Pertama, konsep kurikulum yang tidak terbatas menyusun pelajaran
namun juga penjelasan tujuan pembelajaran tersebut. Kedua, bersifat pragmatis
fungsional, yakni melihat segi kegunaan ilmu bagi masyarakat dengan tujuan
lulusan siap difungsikan dalam berbagai lapangan pekerjaan di masyarakat.
Ketiga, konsep kurikulum yang dipengaruhi pengalaman Ibnu Sina yang telah
mempelajari berbagai ilmu pendidikan ia tuangkan dalam kurikulumnya
dengan tujuan setiap orang yang mempelajari ilmu dan keahlian menempuh
cara sebagaimana yang ia lakukan.
3. Metode Pengajaran
Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin,
demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan.
Sedangkan ciri penting dari metode pengajaran Ibnu Sina adalah
memperlihatkan keinginannya untuk keberhasilan pengajaran, sesuai dengan
usia dan bidang studi, memperhatikan bakat minat anak, serta mencakup
pelajaran menyeluruh dari usia anak sampai perguruan tinggi.
4. Konsep Guru
Dalam hal ini, Ibnu Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah guru
yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap

12
Crow dan Crow, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990), Edisi III,
hlm. 75.
13
Ibn Sina, As-Siyasah fi at-Tarbiyah, (Mesir: Majalah al-Masyrik, 1906), hlm. 159.
14
Ibid, hlm. 117.
15
Ibid, hlm. 1074.

6
7

mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari bermain-main di depan


muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, bersih, dan suci murni.16
Ibnu Sina menambahkan konsep seorang guru sebaiknya dari kaum pria
yang terhormat, menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam
membimbing anak, adil, hemat waktu, gemar bergaul dengan anak-anak, tidak
keras hati dan senantiasa menjaga penampilan.17 Hal ini diangkat dari
kepribadian Ibnu Sina yang memiliki akhlak baik dan juga cerdas serta ilmu
yang luas.
5. Konsep Hukuman dalam Pengajaran
Pada dasarnya, Ibnu Sina tidak berkenan menggunakan hukuman dalam
pengajaran karena sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Ibnu
Sina memperbolehkan hukuman dengan cara yang sangat hati-hati yang hanya
berlaku dalam keadaan terpaksa.18
6. Interdisipliner Keilmuan Ibn Sina
Ibn Sina dikenal sebagai seorang ulama’ yang sangat produktif. Karya-
karya beliau mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan, diantaranya ilmu
kedokteran, filsafat, ilmu jiwa, fisika, logika, politik, dan sastra Arab. Beberapa
karya beliau dalam bidang filsafat yaitu Al-Majmu’, Asy-Syifa dan An-Najah,
Al-Hashbil wa al-Mahshul, dan al-Birr wa al-Ism. Sedangkan dalam bidang
kedokteran beliau menulis karya dengan judul Al-Qanun fii al-Thibb, yang
dijadikan satu-satunya rujukan dalam bidang kedokteran di Eropa selama
kurang lebih lima abad. Dalam bidang logika beliau juga mengarang kitab
dengan judul Al-Isaquji atau ilmu logika Isagoji. Begitu banyak karya yang
telah beliau hasilkan sehingga beliau mendapat penghargaan oleh badan dunia
UNESCO berupa namanya digunakan sebagai bintang penghargaan dalam
memajukan ilmu pengetahuan dan pendidikan yaitu Avicenna Award.19
Dengan kecerdasan intelektual Ibn Sina dapat mengintregasikan berbagai
ilmu yang ia kuasai untuk menciptakan konsep-konsep pendidikan
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

16
Ibid, hlm. 1456.
17
Ibid, hlm. 1074.
18
Ibid, hlm. 1228.
19
Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat Pendidikan
Islam), (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2001), cet. II, hlm. 65

7
8

C. Pemikiran Filsafat Ibn Khaldun


Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abdu al-Rahman ibn Muhamad ibn
Muhamad ibn Muhamad ibn al-Hasan ibn Jabir ibn Muhamad ibn Ibrahim ibn
Khalid ibn Utsman ibn Hani ibn Khattab ibn Kuraib ibn Ma`dikarib ibn al-Harits
ibn Wail ibn Hujar atau lebih dikenal dengan sebutan Abdur Rahman Abu Zayd
Muhamad ibnu Khaldun. Lahir di Tunisia pada awal Ramadhan 732 H atau
bertepatan dengan 27 Mei 1332 M. Berdasarkan silsilahnya, Ibn Khaldun masih
memiliki hubungan darah dengan dengan Wail bin Hajar, salah seorang sahabat
nabi yang terkemuka. Keluarga Ibn Khaldun yang berasal dari Hadramaut,
Yaman. Ini terkenal sebagai keluarga yang berpengetahuan luas dan berpangkat
serta menduduki berbagai jabatan tinggi kenegaraan. 20
Pada tahap awal kehidupannya, ibnu Khaldun memperoleh pendidikan dari
keluarganya sendiri, gurunya yang pertama adalah ayahanya sendiri.21Pada usia
sekitar tujuh tahun beliau belajar membaca dan sekaligus belajar membaca al-
Qur’an, kemudian belajar bahasa, filsafat, manthiq, ilmu pasti, ilmu syar’i, hadits,
sehingga pada usia 20 tahun Ibnu Khaldun menjadi ilmuwan yang dikagumi.
Dalam perjalanan hidupnya Ibn Khaldun telah menghasilkan banyak karya
mengenai pemikiran, salah satu karya beliau yang fenomenal ialah Muqaddimah.
Pada bab VI dalam Muqaddimahnya Ibn Khaldun menyatakan bahwa ilmu
pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang semata-mata bersifat pemikiran dan
perenungan, akan tetapi ilmu dan pendidikan merupakan gejala konklusif yang
lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya dalam tahapan
kebudayaan. Menurutnya bahwa ilmu dan pendidikan tidak lain merupakan gejala
sosial yang menjadi ciri khas jenis insani.
1. Pengertian Pendidikan
Di dalam kitab Muqaddimahnya Ibnu Khaldun mengatakan “Barang siapa
tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman”, maksudnya
barangsiapa tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan
bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh,

20
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran ekonomi Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2016), cet. 2, hlm. 391
21
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan Pendidikan,
terjemah: Herry Noer Ali (Bandung: Diponegoro. 1987), hlm. 13

8
9

dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan
bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan
mengajarkannya.22
Dari pendapat beliau, meskipun tidak dikatakan definisi pendidikan secara
jelas. Namun dapat diketahui bahwa pendidikan bukan hanya merupakan proses
belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding, tetapi pendidikan adalah suatu
proses, di mana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati
peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman.
2. Tujuan Pendidikan
Secara umum Ibnu Khaldun merumuskan tujuan pendidikan sebagai
berikut:
a. Untuk mengembangkan intelektulitas peserta didik. Beliau memandang
bahwa aktivitas ini sangat penting agar terbukanya pikiran dan kematangan
individu. Kemudian, kematangan ini akan mendapatkan faidah bagi
masyarakat. Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa ”Manusia secara esensial
adalah bodoh dan menjadi berilmu melalui pencarian pengetahuan”.23
Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Nahl: 78: “Dan Allah mengeluarkan
kamu dari perut ibu mu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan
Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. Pernyataan Ibnu
Khaldun ini didasarkan pada pemikiran bahwa: “Manusia adalah termasuk
jenis binatang dan bisa dibedakan dari jenisnya karena kemampuannya untuk
berpikir”.24 Dengan demikian, pencarian ilmu pengetahuan merupakan suatu
keniscayaan, karena ilmu pengetahuan dan pengajaran merupakan hal yang
alami di dalam peradaban manusia.
b. Memperoleh ilmu pengetahuan sebagai alat untuk membantunya hidup
dengan baik di dalam masyarakat maju dan berbudaya. Sebagaimana yang
telah dijelaskan sebelumnya, bahwa manusia berbeda dengan makhluk
lainnya karena kemampuannya untuk berpikir.
3. Materi pendidikan

22
Ibid., 527
23
Ibid., 532
24
Ibid., 532

9
10

Materi adalah merupakan salah satu komponen operasional pendidikan,


dalam hal ini Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan dari
segi sumbernnya menjadi dua macam yaitu:

a. Ilmu-ilmu tradisional (Naqliyah). Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari


al-Qur’an dan Hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah
menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena
informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas syari’at yang diambil dari al-
Qur’an dan Hadits. Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu
antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh,
ilmu kalam, ilmu bahasa Arab, ilmu tasawuf, dan ilmu ta’bir mimpi25.

b. Ilmu-ilmu filsafat atau rasional (Aqliyah). Ilmu ini bersifat alami bagi
manusia, yang diperolehnya melalui kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini
dimiliki semua anggota masyarakat di dunia, dan sudah ada sejak mula
kehidupan peradaban umat manusia di dunia. Menurut Ibnu Khaldun ilmu-
ilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu yaitu: a. Ilmu
logika, b. Ilmu fisika, c. Ilmu metafisika dan d. Ilmu matematika. Walaupun
Ibnu Khaldun banyak membicarakan tentang ilmu geografi, sejarah dan
sosiologi, namun ia tidak memasukkan ilmu-ilmu tersebut ke dalam
klasifikasi ilmunya.26
Pandangan Ibnu Khaldun terhadap materi ilmu pengetahuan
menunjukkan keseimbangan antara ilmu syari’at (agama) dan ilmu ‘aqliyah
(filsafat). Maka dapat dipahami bahwa kehidupan akan seimbang bila
manusia mampu menyeimbangkan antara ilmu syariat dan imu ‘aqliyah.
Dalam hal ini menunjukkan pentingnya mengenal ilmu-ilmu tersebut kepada
murid sejak dini.

4. Interdisipliner Keilmuan Ibn Khaldun


Ibnu Khaldun terkenal sebagai ilmuwan besar adalah karena karyanya
“Muqaddimah”. Rasanya memang aneh ia terkenal justru karena
muqaddimahnya bukan karena karyanya yang pokok (al-‘Ibar), namun
25
Ibid., 543
26
Ibid., 543

10
11

pengantar al-‘Ibarnyalah yang telah membuat namanya diagung-agungkan


dalam sejarah intelektualisme. Karya monumentalnya itu telah membuat para
sarjana baik di Barat maupun di Timur begitu mengaguminya. Sampai-sampai
Windellband dalam filsafat sejarahnya menyebutnya sebagai “Tokoh ajaib yang
sama sekali lepas, baik dari masa lampau maupun masa yang akan datang”.

Selain itu, Ibn Khaldun dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi
Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Beliau dikenal pula sebagai ahli
politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-
pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah
dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo
(1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya.27

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tujuan pendidikan menurut pemikiran Al-Ghazali yaitu tercapainya
kesempurnaan insani yang bermuara kepada Allah dan kesempurnaan
insani yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan
adalah hubungan erat antara guru dan murid, maka faktor keteladanan
yang utama menjadi bagian dari metode pengajaran yang amat penting.
Secara umum, Al-Ghazali mengatakan bahwa guru yang baik adalah yang
dapat diserahi tugas mengajar, selain cerdas juga sempurna akalnya, serta
baik akhlaknya dan kuat fisiknya.
2. Ibnu Sina mengemukakan bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada
kesempurnaan yaitu perkembangan fisik, intelektual, dan budi pekerti.
Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin,
demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan.
Sedangkan ciri penting dari metode pengajaran Ibnu Sina adalah
memperlihatkan keinginannya untuk keberhasilan pengajaran, sesuai
dengan usia dan bidang studi, memperhatikan bakat minat anak. Ibnu Sina
27
Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat Pendidikan
Islam), (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2001), cet. II, hlm. 64

11
12

mengatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas,
beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap mendidik anak,
berpenampilan tenang, jauh dari bermain-main di depan muridnya, tidak
bermuka masam, sopan santun, bersih, dan suci murni.
3. Menurut Ibn Khaldun pendidikan adalah suatu proses, di mana manusia
secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa
alam sepanjang zaman. Secara singkat Ibn Khaldun mebagi tujuan
pendidikan menjadi dua, yaitu: untuk mengembangkan intelektulitas
peserta didik, dan sebagai alat untuk membantunya hidup dengan baik di
dalam masyarakat maju dan berbudaya. Maka materi pendidikan yang
digagas oleh Ibn Khaldun adalah keseimbangan antara ilmu syar’iyah
dengan ilmu aqliyah.

12
13

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Sa’id Ismai’l. 1969. al-Falsafah at-Tarbiyah ‘ind Ibn Sina. Mesir: Dar al-
Ma’arif, 1969

Arifin, H.M..1991. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1991. cet I

Crow dan Crow. 1990. Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Edisi III

Ibn Sina. 1906. As-Siyasah fi at-Tarbiyah. Mesir: Majalah al-Masyrik

Karim, Adiwarman Azwar. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. (Jakarta: PT


RajaGrafindo Persada, 2016). cet. 2.

Nata, Abudin. 2001.Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat
Pendidikan Islam), Jakarta; Raja Grafindo Persada. 2001). cet. II

Sulaiman, Asep. 2006. Mengenal Filsafat Islam . Bandung: Yrma Widya

Sulaiman, Fathiyyah Hasan. 1987. Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan
Pendidikan, terjemah: Herry Noer Ali. Bandung: Diponegoro

13