Anda di halaman 1dari 4

Janganlah Menghindari Tempat Tidur Suami

almanhaj.or.id/2069-janganlah-menghindari-tempat-tidur-suami.html

JANGANLAH MENGHINDARI TEMPAT


TIDUR SUAMI

Oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim
ُ ‫ُﱠ‬
‫ش َزْوِﺟَﻬﺎ ﻟََﻌﻨَْﺘَﻬﺎ اْﻟَﻤَﻼﺋَِﻜُﺔ َﺣﱠﺘﻰ‬
َ ‫ إَِذا َﺑﺎﺗَِﺖ اﻟَﻤْﺮأَُة َﻫﺎ ِﺟَﺮةً ﻓَِﺮا‬: ‫ﺻﱠﻠﻰ اﱠﷲ َﻋﻠَْﯿِﻪ َو َﺳﱠﻠَﻢ‬ َ َ ِ ‫َﻋْﻦ اَِﺑﻲ ُﻫَﺮْﯾَﺮةَ َر‬
َ ‫ ﻗَﺎل اﻟﻨَِﺒﱡﻰ‬: ‫ﺿَﻲ اﷲ َﻋْﻨُﻪ ﻗَﺎل‬
‫ َﺣﺘَﻰ ﺗَْﺮِﺟَﻊ‬،‫ َوِﻓﻰ ِرَواَﯾِﺔ‬،‫ُﺗﺼِﺒَﺢ‬.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : Apabila seorang wanita menghindari tempat tidur suaminya pada malam hari,
maka para malaikat melaknatnya hingga pagi hari”. Dalam suatu riwayat yang lain
disebutkan : “Sehingga dia kembali” [1]

Wahai Ukhti Mukminah!


Ini merupakan wasiat yang sangat berharga dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang diberikan kepada para wanita Muslimah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memperingatkan mereka agar tidak menjauhi tempat tidur suami tanpa ada udzur menurut
ukuran syari’at, seperti sakit yang keras. Bahkan haid bukan merupakan udzur untuk
menjauhi tempat tidur suami. Sebab suami memiliki hak untuk mencumbui istrinya selain
yang ditutupi kain bawah.

Islam yang hanif adalah agama Allah yang kekal, menghendaki agar hubungan suami istri
antara laki-laki dan wanita menjadi kuat, kekal dan mantap. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menjelaskan kepada kita masalah-masalah yang bisa menyusupkan kelemahan
dan keretakan dalam hubungan tersebut. Sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
juga telah memberikan batasan hak-hak kepada suami atas istri dan hak-hak istri atas
suaminya, sehingga hubungan itu benar-benar menjadi harmonis.

Diantara hak-hak suami atas istrinya adalah hak di tempat tidur. Ini merupakan hak suami
dalam kaitannya dengan senggama. Sebenarnya hak ini merupakan hak persekutuan
antara laki-laki dan wanita secara bersama-sama. Tapi adakalanya terjadi perselisihan
antara suami dan istrinya, sehingga kadang-kadang menimbulkan pertengkaran dan
keretakan. Dan, kadang-kadang suami menjauhi tempat yang ditempati istrinya karena
hendak mencari ketenangan, sampai akhirnya keduanya berkumpul kembali di tempat
tidur. Dalam keadaan seperti ini bisa jadi suami berusaha untuk memperbaiki keretakan itu
dan berbaikan kembali dengan istrinya. Namun hati sang istri masih dikuasai syetan,
sehingga dia tidak mau menerima keadaan ini, sehingga dia menolak ajakan suami untuk
mengadakan hubungan suami istri. Dengan cara seperti itu, berarti sang istri telah masuk

1/4
ke dalam laknat para malaikat, sementara dia tidak menyadarinya. Maka dengarkanlah
hadits berikut ini, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke atas tempat tidur, lalu dia (istri) tidak mau
mendatanginya, lalu dia (suami) marah kepadanya malam itu, maka para malaikat
melaknatnya hingga pagi hari” [2]

Hal ini merupakan masalah yang sangat besar di sisi Allah, yaitu tatkala suami mengajak
istrinya ke tempat tidur, lalu sang istri menolak atau pura-pura sakit (padahal tidak sakit).
Wanita Mukminah yang benar harus bisa melupakan perselisihan dan kembali patuh
kepada suaminya karena mengharap pahala dari Rabb-nya.

Dalam menafsirkan firman Allah : ‘Wanita-wanita shalihah adalah yang taat”, para ulama
mengatakan, “Maksudnya memenuhi hak suami. Qunut disini artinya taat. Begitu pula yang
dikatakan bila dalam do’a, “Maka hendaklah kita benar-benar memperhatikan wasiat
Nabawi ini.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke
tempat tidur”, Ibnu Abu Jumrah berkata, “Yang jelas, tempat tidur disini merupakan kiasan
dari senggama. Ini merupakan kiasan tentang hal-hal yang biasanya dianggap
mengundang rasa malu di dalam Al-Qur’an dan Sunnah” [3]

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Lalu ia (istri) tidak mau mendatanginya”,
dalam riwayat lain disebutkan : “Lalu dia (suami) marah kepadanya malam itu”, menurut Al-
Hafizh, dengan adanya tambahan –di dalam riwayat lain di atas—merupakan sebab
terjadinya laknat. Sebab pada saat itu ada ketetapan tentang kedurhakaan istri. Lalu halnya
andaikata suami tidak marah, entah karena memang ada udzur yang bisa dimakluminya
atau karena dia sendiri yang meninggalkan haknya.

Menurut Ibnu Abu Jumrah rahimahullah menyebutkan beberapa faidah dalam hadits ini.

1. Di dalamnya terkandung dalil tentang terkabulnya do’a para malaikat, entah baik atau
entah buruk.

2. Di dalamnya terkandung pengertian bahwa kesabaran laki-laki untuk tidak bersenggama


lebih lemah daripada kesabaran wanita.
3. Di dalamnya terkandung dalil bahwa gangguan yang paling sering menggelitik kaum
laki-laki adalah kehendak untuk menikah. Maka hendaknya para wanita membantu dalam
hal ini.

4. Di dalamnya terkandung isyarat keharusan taat kepada Allah dan sabar dalam beribadah
kepada-Nya, sebagai balasan terhadap pengawasan Allah kepada hamba-Nya. Sebab
Allah tidak membiarkan sedikit pun dari hak-Nya kecuali dijadikan orang yang siap
melaksanakannya. Sehingga para malaikat dijadikan melaknat orang yang membuat
hamba-Nya marah, karena salah satu syahwatnya tidak dipenuhi. Maka setiap hamba
harus memenuhi hak-hak Rabb-nya yang dituntut darinya. Kalau tidak, alangkah
malangnya nasib sekian banyak orang miskin yang membutuhkan pertolongan orang kaya
yang seharusnya banyak kebaikannya.

2/4
Kelangsungan kehidupan antara suami istri merupakan jaminan kelangsungan kasih
sayang antara keduanya. Kasih sayang ini merupakan luapan cinta yang benar, dengan
saling meluapkan rasa kasih dan sayang antara kedunyanya dan rasa saling memberi
sehinga terciptalah saling pengertian, ridha dan memahami.

Seorang suami mengungkapkan sarana yang dapat mengawetkan kasih sayang kepada
istrinya, seraya mengatakan di dalam syairnya.

Ulurkan maafmu biar langgeng rasa kasih


usah bicarakan rupaku kala aku marah

Usah mengadu lalu kau pergi entah ke mana


hingga kesat hatiku dan berubah warna

Kulihat ada cinta dan perih di hati


andaikan menyatu cinta tak kan pergi

Siapa yang memperhatikan hak dan kewajiban-kewajiban suami istri dalam kehidupan
Islam, tentu akan mendapatkan bahwa hak dan kewajiban itu berimbang dan selaras. Yang
harus dilakukan ialah melaksanakan apa yang telah dikabarkan Islam dan sesuai dengan
akhlak yang terpuji.

Selagi maing-masing pihak melaksanakan tanggung jawabnya, tentu akan menebarkan


kasih sayang antara suami istri. Semoga apa yang dinukil Ibnu Abdi Rabbah dari Imran bin
Hathan berikut ini, mengandung nasihat.

Imran pernah berkata kepada istrinya, seorang wanita yang amat cantik dan masih muda.
Sementara itu, dia sendiri adalah laki-laki yang sama sekali tidak memiliki ketampanan
yang bisa menarik minat wanita, “Sesungguhnya aku dan engkau akan masuk surga Insya
Allah”

Istrinya bertanya. “Bagaimana itu terjadi?”

Dia menjawab, “Aku diberi istri secantik dirimu, lalu aku bersyukur, dan engkau diberi suami
macam aku lalu engkau sabar”.

Seorang A’raby pernah ditanya tentang wanita, sedang dia memiliki pengetahuan yang
mendalam tentang seluk beluk wanita. Maka dia menjawab, “Wanita yang paling utama
adalah yan paling tinggi apabila berdiri, yang paling besar apabila sedang duduk, yang
plaing benar apabila berbbicara, yang bersikap halus apabila sedang marah, apabila
tertawa dia hanya tersenyum, apabila berkarya di memperindah karyanya, yang mentaati
suaminya, yang berada di rumahnya, terhormat di tengah kaumnya dan hina tatkala
sendirian. Banyak kasih sayangnya, banyak anaknya dan urusannya terpuji”.

Lalu dia ditanya, “Berilah kami gambaran sejahat-jahatnya wanita!”.

Dia menjawab, “Sejahat-jahat wanita adalah yang tertawa tidak karena tertarik (kepada
sesuatu), mengatakan yang dusta, mengajak bertengkar suaminya, hidung di langit dan
pantat di air”.

3/4
Begitulah sebaik-baik wanita, yaitu yang taat kepada suami dan yang memenuhi haknya.
Dan, sejahat-jahat wanita adalah yang congkak dan merasa tinggi dari suaminya.

Alangkah indahnya perkataan Abu Darda kepada istrinya, Ummu Darda : “Apabila engkau
melihatku marah maka ridhalah, dan apabila kulihat engkau marah, maka aku akan ridha
kepadamu. Kalau tidak, kita tidak akan rukun”.

Maka jadilah wanita yang selalu memenuhi panggilan suami selagi dia meminta sesuatu
padamu. Maka mengapa engkau tidak membuatnya ridha? Wanita Muslimah adalah
wanita yang tampak menarik apabila dipandang suaminya. Apabila suami menyuruhnya
kepada suatu yang baik dan mubah,maka dia patuh, apabila suami tidak ada di sisinya
karena bepergian atau yang lain, maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya. Wanita
shalihah adalah wanita yang membantu suami dalam urusan dunia dan akhirat. Seorang
penyair berkata :

Sebaik-baik urusan dunia manusia


yang membantu kelurusan urusan akhiratnya
hati yang bersyukur
lidah yang berdzikir
istri shalihah yang membantunya

Wahai ukhti Muslimah!


Begitulah seharusnya kita hidup bersama wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
yang dapat kita ambil manfaatnya tentang bagaimana sikap istri dalam menyenangkan
suaminya dan apa kebaikan serta kebahagian yang bisa diciptakan bagi keduanya.

[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid Ibrahim, Penerjemah Kathur Suhardi,
Terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan kelima 1999]
_______
Footnote
[1]. Isnadnya hasan shahih, ditakhrij Al-Bukhary, 7/39, Muslim, 8/10, Ahmad, 2/386, Ad-
Darimy, 2./150, Al-Baihaqy, 7/292 dalam As-Sunan, Lafazh yang disebutkan di sini bagi
Muslim.
[2]. Isnadnya shahih, ditakhrij Al-Bukhary, 4/141, Muslim, 10/8, Ahmad, 2/480, Abu Daud,
hadits nomor 2141, Al-Baihaqy, 7/292
[3]. Fathul Bary, 9/294

4/4