Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada akhir Zaman Es terakhir , sekitar 12.000 tahun yang lalu, terjadi
peralihan atau revolusi kehidupan dimulai. Dimulai dari keadaan social
ekonomi, teknologi , terlibat pergeseran dari makanan pengumpulan makanan
yang memproduksi. Pada zaman ini manusia mulai hidup menetap, mengenal
teknik memproduksi makanan, mulai memahami interaksi sosial, bercocok
taman, dan memproduksi kerajinan tangan. Hingga mengenal teknologi
Astronomi untuk mengetahui posisi matahari dan kepercayaan (agama).
Zaman Neolitikum dimulai dari Benua Eropa, hingga menyebar ke seluruh
dunia. Kehidupan manusia dahulu tentunya tidak terlepas dari kebudayaan.
Pada zaman praaksara belum ditemukan keterangan tertulis, sehingga hasil
kebudayaan manusia praaksara inilah yang dapat dijadikan sumber sejarah.
Kehidupan manusia pada zaman prasejarah ini memang masih sangat primitif
dan sederhana. Pada masa neolitikum, terjadi perubahan terhadap
kebudayaan-kebudayaan tersebut. Sering juga disebut zaman Neolitikum
adalah sebuah revolusi kebudayaan. Manusia yang hidup pada zaman itu
sudah beralih dari food gathering menjadi food producing.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditentukan rumusan masalah
untuk makalah ini adalah :
1. Apa Pengertian Zaman Neolithikum?
2. Bagaimana Ciri-Ciri Zaman Neolitikum?
3. Bagaimana Cara Hidup?
4. Bagaimana Kebudayaan di Zaman Neolithikum?
5. Apa saja Peninggalan-Peninggalan Di Zaman Neolitikum?
6. Bagaimana Sosial Ekonomi pada Zaman Neolitikum?
7. Bagaimana Teknologi pertanian Zaman Neolitikum?
8. Bagaimana Teknologi industri Zaman Neolitikum?
9. Bagaimana Stoneheage atau monumen simbolik Zaman Neolitikum?

1
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka dapat
ditentukan tujuan penulisan untuk makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui Pengertian Zaman Neolithikum
2. Untuk mengetahui Ciri-Ciri Zaman Neolitikum
3. Untuk mengetahui Cara Hidup
4. Untuk mengetahui Kebudayaan di Zaman Neolithikum
5. Untuk mengetahui Peninggalan-Peninggalan Di Zaman Neolitikum
6. Untuk mengetahui Sosial Ekonomi pada Zaman Neolitikum
7. Untuk mengetahui Teknologi pertanian Zaman Neolitikum
8. Untuk mengetahui Teknologi industri Zaman Neolitikum
9. Untuk mengetahui Stoneheage atau monumen simbolik Zaman Neolitikum

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Zaman Neolithikum


Zaman ini di sebut juga zaman batu baru, perkembangan kebudayaan
pada zaman ini sudah lebih maju lagi, seiring dengan datangnya rumpun
Proto Melayu dari wilayah Yunan, di Cina Selatan, ke wilayah Asia Tenggara
termasuk Indonesia.orang-orang Proto Melayu ini datang dengan membawa
serta hasil budaya berupa kapak persegi dan kapak lonjong serta
menyebarkannya di daerah-daerah yang mereka lalui dan tuju.
Dikatakan bahwa neolithikum itu adalah suatu revolusi yang sangat
besar dalam peradaban manusia. Perubahan besar ini ditandai dengan
berubahnya peradaban penghidupan food-gathering menjadi foodproducing.
Pada saat orang sudah mengenal bercocok tanam dan berternak. Pertanian
yang mereka selenggarakan mula-mula bersifat primitif dan hanya dilakukan
di tanah-tanah kering saja. Pohon-pohon dari beberapa bagian hutan di
kelupak kulitnya dan kemudian dibakar. Tanah-tanah yang baru dibuka untuk
pertanian semacam itu untuk beberapa kali berturut-turut ditanami dan
sesudah itu ditinggalkan.
Orang-orang Indonesia zaman neolithikum membentuk masyarakat-
masyarakat dengan pondok-pondok mereka berbentuk persegi siku-siku dan
didirikan atas tiang-tiang kayu, dinding-dindingnya diberi hiasan dekoratif
yang indah-indah, Walaupun alat-alat mereka masih dibuat daripada batu,
tetapi alat-alat itu dibuat dengan halus, bahkan juga sudah dipoles pada kedua
belah mukanya.
Disebut kebudayaan Batu Muda (Neolitikum) sebab semua alatnya
sudah dihaluskan. Mereka sudah meninggalkan hidup berburu dan mulai
menetap serta mulai menghasilkan makanan (food producing). Mereka
menciptakan alat-alat kehidupan mulai dari alat kerajinan menenun, periuk,
membuat rumah, dan mengatur masyarakat. Alat yang dipergunakan pada
masa ini adalah kapak persegi dan kapak lonjong. Daerah penemuan kapak

3
persegi di Indonesia bagian barat adalah di Lahat (Sumatra), Bogor,
Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya, Pacitan, dan Lereng Gunung Ijen.
Adapun kapak lonjong banyak ditemukan di Indonesia bagian timur, seperti
di Papua, Tanimbar, Seram, Serawak, Kalimantan Utara, dan Minahasa.
B. Ciri-Ciri Zaman Neolitikum
 Peralatan sudah dihaluskan dan diberi tangkai.
 Alat yang digunakan antara lain kapak persegi dan lonjong.
 Pakaian terbuat dari kulit kayu dan kulit binatang.
 Perhiasan terbuat dari kulit kerang, terrakota dan batu.
 Tempat tinggal menetap (sedenter).
 Memiliki kemampuan bercocok tanam.
 Menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme.
C. Cara Hidup
Cara hidup zaman neolithikum membawa perubahan-perubahan besar,
karena pada zaman itu manusia mulai hidup berkelompok kemudian menetap
dan tinggal bersama dalam kampung. Berarti pembentukan suatu masyarakat
yang memerlukan segala peraturan kerja sama. Pembagian kerja
memungkinkan perkembangan berbagai macam dan cara penghidupan di
dalam ikatan kerjasama itu. Dapat dikatakan pada zaman neolithikum itu
terdapat dasar-dasar pertama untuk penghidupan manusia sebagai manusia,
sebagaimana kita dapatkan sekarang.
D. Kebudayaan di Zaman Neolithikum
1. Religi (Kepercayaan)
Pada masa ini kepercayaan masyarakat semakin bertambah, bahkan
masyarakat juga mempunyai konsep tentang apa yang terjadi dengan
seseorang yang telah meninggal yaitu penghormatan dan pemujaan kepada
roh nenek moyang sebagai suatu kepercayaan yang disebut dengan
Animisme. Serta kepercayaan bahwa benda-benda disekitar kita memiliki
jiwa atau kekuatan yang disebut dengan Dinamisme.

4
2. Ekonomi
Dengan dikenalnya sistem bercocok tanam, maka ada banyak
waktu yang terluang yaitu waktu antara musim tanam hingga datangnya
musim panen. Pada saat itulah mereka mulai mengembangkan
perekonomian mereka dengan mengenal sistem barter, dimana terjadi
pertukaran barang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Sistem barter merupakan langkah awal bagi munculnya sistem
perdagangan/ sistem ekonomi dalam masyarakat. Untuk memperlancar
diperlukan suatu tempat khusus bagi pertemuan antara pedagang dan
pembeli yang pada perkembangannya disebut dengan pasar. Melalui pasar
masyarakat dapat memenuhi sebuah kebutuhan hidupnya.
3. Adat Istiadat
Peninggalan kebudayaan manusia pada masa bercocok tanam
semakin banyak dan beragam, kebudayaan semakin berkembang pesat,
manusia telah dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan
kebudayaan yang lebih baik dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya,
pada masa Neolithikum budaya manusia telah maju dengan pesat.
Berbagai macam pengetahuan telah dikuasai, misalnya pengetahuan
tentang perbintangan, pranatamangsa (cara menentukan musim
berdasarkan perbintangan atau tanda-tanda lainnya), pelayaran, kalender
(menentukan hari baik atau buruk).
4. Kesenian
Banyak unsur-unsur kebudayaan Neolithikum yang masih hidup
hingga sekarang. Salah satunya adalah kesenian seperti pertenunan dengan
menggunakan tenun gendong. Unsur-unsur lainnya yang dapat disebutkan
dan masih hidup hingga sekarang misalnya gamelan dan wayang.
E. Peninggalan-Peninggalan Di Zaman Neolitikum
1. Beliung Persegi
Sesuai dengan namanya, alat ini mempunyai penampang berbentuk
persegi panjang. Alat ini ditemukan dihampir seluruh bagian Indonesia,
terutama di wilayah Barat.Alat ini terbuat dari batu Chalcedon. Bagian

5
atas atau pangkal biasanya tidak digosok. Bagian bawah atau tajaman
digosok dan diasah hingga tajam dan halus. Cara penggunaanya adalah
batu ini diikat pada setangkai kayu sehingga menyerupai cangkul. Alat ini
berguna untuk melubangi kayu dan jika yang berukuran kecil dapat
digunakan untuk mengukir.
2. Kapak Lonjong
Sebagian besar kapak lonjong dibuat dari batu kali, dan warnanya
kehitam-hitaman. Bentuk keseluruhan dari kapak tersebut adalah bulat
telur dengan ujungnya yang lancip menjadi tempat tangkainya, sedangkan
ujung lainnya diasah hingga tajam. Untuk itu bentuk keseluruhan
permukaan kapak lonjong sudah diasah halus.Ukuran yang dimiliki kapak
lonjong yang besar lazim disebutdengan Walzenbeil dan yang kecil
disebut dengan Kleinbeil, sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan
kapak persegi. Daerah penyebaran kapak lonjong adalah Minahasa,
Gerong, Seram, Leti, Tanimbar dan Irian. Dari Irian kapak lonjong
tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia, sehingga para arkeolog
menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan Neolithikum
Papua. Memiliki fungsi ekonomi: antara lain sebagai alat untuk
menangkap ikan. Terbuat dari batu serpih, tulang, dan kemunginan besar
juga kayu yang diruncing bagian ujungnya dan dibuat bergerigi pada
bagian pinggirnya. Jadi memiliki bentuk yang berbeda dengan mata panah
untuk berburu. Banyak ditemukan di dalam gu-gua yang ada di daerah
pantai atau sungai.
3. Tembikar (Periuk belanga)
Bekas-bekas yang pertama ditemukan tentang adanya barang-
barang tembikar atau periuk belanga terdapat di lapisan teratas dari bukit-
bukit kerang di Sumatra, tetapi yang ditemukan hanya berupa pecahan-
pecahan yang sangat kecil. Walaupun bentuknya hanya berupa pecahan-
pecahan kecil tetapi sudah dihiasi gambar-gambar. Di Melolo, Sumba
banyak ditemukan periuk belanga yang ternyata berisi tulang belulang
manusia.

6
Hasil budaya lainnya dari zaman ini adalah semakin majunya
tradisi gerabah, yang berfungsi sebagai wadah untuk keperluan rumah
tangga. Namun di beberapa tempat, gerabah di gunakan sebagai tempat
menyimpan tulang belulang manusia seperti yang di temukan di wilayah
pantai selatan Jawa (antara Yogya, Pacitan), Kandang Lembu di
Banyuwangi, Melolo (Sumba), dan Minanga Sipakka di Sulawesi Barat.
Sedangkan di Gilimanuk (Bali) ditemukan gerabah yang digunakan
sebagai bekal kubur. Kira-kira 2000 tahun SM, telah datang bangsa-
bangsa baru yang memiliki kebudayaan lebih maju dan tinggi derajatnya.
Mereka dikenal sebagai bangsa Indonesia Purba.
Menurut kajian oleh Barbarra Harrison, kebanyakan bekas keramik
ini ada kaitan dengan upacara pengebumian Neolitik iaitu sebagai bekas
untuk pembakaran mayat ataupun sebagai cenderamata pengebumian.
Adalah menjadi tradisi lama komuniti Melanau sekiranya salah seorang
daripada mereka meninggal dunia, simati akan diberikan pakaian dan
dibaringkan di ruangan rumah. Satu pinggan biru dan putih diletak di
bawah kepalanya, sementara pinggan seramik diletakkan di bawah kedua-
dua tangan dan kakinya. Berhampiran dengan si mati diletakkan objek-
objek tembaga dan seutas manik purba diikat pada pergelangan tangan
mayat. Beberapa hari kemudian, mayat tersebut dibawa keluar daripada
rumah itu dan disimpan di ruang khas untuk jangkamasa yang minimum
dalam tahun yang sama. Kemudian tulang-tulangnyadikumpulkan ke
dalam sebuah tempayan besar. Manakala yang lain seperti pinggan,
mangkuk dan manik dikebumikan bersama-sama dengan tempayan
tersebut. Kesemua artifak hasil penggalian merupakan sumber
pembelajaran yang amat berguna di Muzium Sarawak. Artifak-artifak
tersebut diklasifikasikan kepada 9 kelas utama berdasarkan warna
sepuh/glasir dan teksturnya.
Tembikar ini banyak ditemukan diwilayah Sumatra dan Jawa.
Periuk ini kemungkinan digunakan untuk meletakkan berbagai hasil

7
panen. Sedang di Sumbawa, banyak ditemukan periuk yang berisi tulang
belulang manusia.
4. Kapak Bahu
Kapak jenis ini hampir sama seperti kapak persegi, hanya saja di
bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Sehingga menyerupai
bentuk botol yang persegi. Daerah kebudayaan kapak bahu ini meluas dari
Jepang, Formosa, Filipina terus ke barat sampai sungai Gangga. Tetapi
anehnya batas selatannya adalah bagian tengah Malaysia Barat. Dengan
kata lain di sebelah Selatan batas ini tidak ditemukan kapak bahu, jadi
neolithikum Indonesia tidak mengenalnya, meskipun juga ada beberapa
buah ditemukan yaitu di Minahasa.
5. Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah)
Jenis perhiasan ini banyak di temukan di wilayah jawa terutama
gelang-gelang dari batu indah dalam jumlah besar walaupun banyak juga
yang belum selesai pembuatannya. Bahan utama untuk membuat benda ini
di bor dengan gurdi kayu dan sebagai alat abrasi (pengikis) menggunakan
pasir. Selain gelang ditemukan juga alat-alat perhisasan lainnya seperti
kalung yang dibuat dari batu indah pula. Untuk kalung ini dipergunakan
juga batu-batu yang dicat atau batu-batu akik.
6. Pakaian dari kulit kayu
Pada zaman ini mereka telah dapat membuat pakaiannya dari kulit
kayu yang sederhana yang telah di perhalus. Pekerjaan membuat pakaian
ini merupakan pekerjaan kaum perempuan. Pekerjaan tersebut disertai
pula berbagai larangan atau pantangan yang harus di taati. Sebagai contoh
di Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan beberapa tempat lainnya
ditemukan alat pemukul kulit kayu. Hal ini menunjukkan bahwa orang-
orang zaman neolithikum sudah berpakaian.
7. Kapak persegi
Banyak di temukan di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Nusa
Tenggara. Bahan dasar adalah batu api (chalcedon) dengan buatan yang
sangat halus karena diasah. Kebudayaan kapak persegi diperkirakan

8
masuk ke indonesia melalui jalan barat, yaitu dari Yunan ke Semenanjung
Malaka, lalu masuk ke Jawa melalui Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara dan Maluku. Para arkeolog memperkirakan bahwa benda
tersebut di buat sebagai lambang kebesaran, jimat, alat upacara, atau alat
tukar. Misalnya : Beliung, Pacul dan Torah untuk mengerjakan kayu.
Ditemukan diSumatera, Jawa, bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan
Kalimantan.
Fungsi:
 Sebagai cangkul/pacul.
 Sebagai alat pahat/alat untuk mengerjakan kayu sebagaimana lazimnya
pahat.
 Bahan untuk membuat kapak disamping dibuat dari batu api/chalcedon
yang hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, azimat atau
tanda kebesaran.
Asal-usul penyebaran kapak persegi melalui suatu migrasi bangsa
Asia ke Indonesia. Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern
atas dasar penampang lintangnya yang berbentuk persegi panjang atau
trapesium. Penampang kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran, ada
yang besar dan kecil. Yang ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan
fungsinya sebagai cangkul/pacul. Sedangkan yang ukuran kecil disebut
dengan Tarah/Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat/alat untuk
mengerjakan kayu sebagaimana lazimnya pahat.Bahan untuk membuat
kapak tersebut selain dari batu biasa, juga dibuat dari batu api/chalcedon.
Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari calsedon hanya dipergunakan
sebagai alat upacara keagamaan, azimat atau tanda kebesaran. Kapak jenis
ini ditemukan di daerahi Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku,
Sulawesi dan Kalimantan.
F. Sosial Ekonomi pada Zaman Neolitikum
Manusia pada zaman Neolitikum sudah mulai hidup menetap
(sedenter), menetap di satu pedesaan, mempunyai lahan masing-masing untuk
bercocok tanam dan beternak dan hidup berkelompok. Manusia pada zaman

9
itu mulai mengenal interaksi sosial, hidup bertetangga. Jika sebelumnya
manusia pada Zaman Paleolitikum mencukupi kebutuhan pokok dengan
berburu, pada Zaman Neolitikum manusia beralih dari berburu (Food
Gathering) ke memproduksi makanan (Food Producing). Manusia mulai
mengenal sistem bercocok tanam seperti Holtikultur (Bercocok tanam di
dataran tinggi), menggunakan lahan kering untuk peternakan hewan seperti
Domba, Ayam, Kambing, Sapi, dan Babi. Pada zaman ini manusia mulai
mengenal jenis bahan pokok makanan, dan tiap belahan dunia memiliki ciri
khas yang berbeda. Manusia pada Zaman Neolitikum tidak meninggalkan
tradisi berburu, mereka masih melakukan tradisi berburu. Contohnya seperti
mencari ikan di laut. Hasil dari bercocok tanam adalah berbagai jenis
tanaman penunjang makanan pokok, sedangkan untuk hasil beternak adalah
telur, daging, susu, yoghurt, dan olahan lainnya.
G. Teknologi pertanian Zaman Neolitikum
Pada zaman Neolitikum awal, di daerah Tropis dan Subtropis, para
petani pada zaman itu membuka lahan dengan sistem “Tebang-bakar”. Selain
itu, peralatan lain yang dipakai yaitu kapak batu besar dan adzes. Seiring
dengan perkembangan waktu, peralatan yang digunakan untuk bercocok
tanam semakin berkembang. Contohnya batu serpihan kecil yang dijadikan
satu digabungkan dengan arit. Ada juga yang digabungkan dengan batu yang
lebih besar, batu tersebut dipoles sehingga membentuk seperti kapak, batu
gerinda, mortar, serta palu yang bentuknya lebih sempurna.
Semua benda ini ditemukan di situs Neolitikum. Digunakan juga
tanduk hewan untuk memangkas rerumputan dan penggali tanah. Mereka
mengumpulkan biji tanaman, ditumbuk hingga halus, ditanam hingga
menunggu panen.
Setiap belahan dunia mempunyai tanaman khas masing-masing.
Seperti di Asia Timur laut, memproduksi gandum, barley, kacang polong. Di
Afrika memproduksi millet dan sorghum. China Utara memproduksi Millet
dan kacang kedelai, sedangkan di Asia tenggara memproduksi beras dan
kacang-kacangan. Di Mesoamerika memproduksi jagung dan kentang.

10
H. Teknologi industri Zaman Neolitikum
Manusia Zaman Neolitikum mulai dapat memanfaatkan barang
mentah menjadi barang jadi. Seperti pemanfaatan bulu Domba, pemintalan
menjadi benang , membuat alat tenun, pewarnaan dengan teknik pencelupan,
dan menenun kain dengan mesin tenun. Sehingga muncul produksi tekstil di
Zaman Neolitikum . selain itu, bahan pakaian yang mereka produksi didesain
juga secara individu. Indrusti tekstil ini dilakukan oleh kaum perempuan
hingga zaman Revolusi Industri 10.000 tahun kemudian. Selain industri
tekstil, juga ada industry kerajinan tangan. Yaitu Tembikar, yang juga
berasal dari zaman Neolitikum di beberapa bagian di seluruh dunia, adalah
teknologi baru lain yang membentuk bagian penting revolusi Neolitikum. Jika
masyarakat Paleolitikum telah menghasilkan keramik dipecat-tanah liat, tapi
tidak ada pemgembangan di zaman Paleolitikum.
Di Zaman Neolitikum mengembangkan lebih lanjut dari teknik ini.
Tembikar berbentuk Guci atau peti berkembang dan digunakan untuk
teknologi penyimpanan untuk menyimpan dan membawa bahan pertanian
menggunakan kapal laut. Masyarakat Neolitik digunakan mortar dan plester
untuk konstruksi bangunan, dan tembikar muncul dari teknik plesteran
diterapkan pada keranjang. Seiring berkembangnya waktu berkembang
industry manufaktur dan industry keramik. Tembikar adalah bagian dari
"pyrotechnology," teknik pembuatannya yaitu dengan cara membentuk tanah
liat dengan kombinasi air, kemudian dibakar dengan suhu 900 derajat celcius.
Kemudian pada periode perunggu dan besi, bahan pembuatan tembikar dari
tanah liat diganti dengan besi dan perunggu. Terdapat banyak teknik dalam
Zaman Neolitikum, ratusan bahkan ribuan teknik dan teknologi besar dan
kecil yang dipadukan untuk menghasilkan budaya dan revolusi kehidupan.
Masyarakat Neolitikum membangun struktur permanen dari kayu,
batu bata lumpur, dan batu, yang dilakukan oleh pengrajin. Mereka memutar
tali dan membuat kerajinan dengan teknik ikat menggunakan tembaga
mentah. Teknologi yang diciptakan menghasilkan alat sejenis kapak yang
terbuat dari logam. "Ice man”, mumi membeku yang ditemukan di gletser

11
Pegunungan Alpen pada tahun 1991 pertama kali diduga adalah pengrajin
Zaman Perunggu karena kapak tembaga halus yang dibawanya ketika
muminya ditemukan tewas. Diperkirakan Mumi itu berassal dari Eropa
sekitar tahun 3300 SM.
I. Stoneheage atau monumen simbolik Zaman Neolitikum
"Stonehenge" atau batu yang menggantung adalah bukti teknologi
peninggalan manusia zaman Neolitikum di Inggris. Waktu yang diperlukan
untuk menyelesaikan monument ini 30 juta jam kerja, setara dengan 10.000
tenaga kerja. Untuk membuatnya digunakan alat parit dan dibuat tanggul
dengan diameter 350 meter dan tanah yang digali sebanyak 3500 meter.
Pembangun pertama Stonehenge dibangun Heel Stone, diperkirakan beratnya
35 ton. Delapan puluh dua "bluestones" dengan berat sekitar lima ton masing-
masing dibawa ke Situs menggunakan aliran air dari sungai Wales, sejauh
240 kilometer (150mil). 30 bagian dari lingkaran batu luar Stonehenge
ditimbang di lingkungan 25 ton, dan 30 bagian atas cincin beratnya tujuh ton
masing-masing.
Di dalam lingkaran batu berdiri lima trilithons besar atauraksasa tiga-
batu. Rata-rata Trilithon tegak berat 30 ton dan terbesar beratnya lebih dari 50
ton. The monolit besar dibawa dari 40 kilometer (25 mil) darat dari
Marlborough Downs, ada beberapa analisa salah satunya adalah pengaruh
dari gletser kuno untuk mengangkut batu-batu ke situs stonheage berada. Para
pembangun Stonehenge meletakkan monumen pada lingkaran yang benar,
dan dianalisa menggunakan beberapa pengukuran geometri sederhana dan
praktis untuk meletakkan batu-batu di stoneheage.
Stoneheage digunakan sebagai pusat keagamaan untuk menyembah
matahari. William Stukley (1687-1765) yang meneliti gerak matahari di
stoneheage. Matahari terbit setiap hari dari titk yang berbeda. Titik matahari
bergerak sepanjang cakrawala selama setahun dan masing-masing pada
pertengahan tahun musim panas.
Dilihat dari pusat kudus di Stonehenge, naik pada titik paling utara,
yang tepat di mana pembangun menempatkan Heel Stone. Astronomi utama

12
monumen orientasi ke arah matahari terbit pertengahan musim panas
dikonfirmasi tahun dan belum diperdebatkan sejak Stukeley. Pada tahun
1960, bagaimanapun, kontroversi muncul klaim untuk Stonehenge sebagai
Neolitik astronomi "Observatorium" canggih dan "Komputer." Masalah ini
tetap diperdebatkan saat ini, tapi kesepakatan luas ada setidaknya beberapa
arti astronomi yang lebih besar untuk Stonehenge, khususnya yang berkaitan
dengan melacak gerakan siklis matahari dan bulan. Monumen tampaknya
telah dibangun untuk menandai ekstrim dan titik rata-rata pergerakan
musiman dari kedua benda langit bersama cakrawala saat mereka naik dan
ditetapkan. Dengan demikian, monumen di Stonehenge menandai tidak hanya
kenaikan matahari pada titik balik matahari musim panas, tetapi munculnya
matahari pada titik balik matahari musim dingin dan di musim gugur dan
musim semi ekuinoks. Hal ini juga menunjukkan pengaturan matahari pada
waktu tersebut, dan melacak lebih rumit gerakan bulan bolak-balik di
sepanjang cakrawala, menandai empat ekstrem yang berbeda untuk gerakan
bulan.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di ats, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut: 1) Disebut kebudayaan Batu Muda (Neolitikum) sebab semua alatnya
sudah dihaluskan. 2) Cara hidup zaman neolithikum membawa perubahan-
perubahan besar, karena pada zaman itu manusia mulai hidup berkelompok
kemudian menetap dan tinggal bersama dalam kampung. 3) Pada masa ini
kepercayaan masyarakat semakin bertambah, bahkan masyarakat juga
mempunyai konsep tentang apa yang terjadi dengan seseorang yang telah
meninggal yaitu penghormatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang
sebagai suatu kepercayaan yang disebut dengan Animisme. 4) Dengan
dikenalnya sistem bercocok tanam, maka ada banyak waktu yang terluang
yaitu waktu antara musim tanam hingga datangnya musim panen. 5) pada
masa Neolithikum budaya manusia telah maju dengan pesat. Berbagai macam
pengetahuan telah dikuasai, misalnya pengetahuan tentang perbintangan,
pranatamangsa (cara menentukan musim berdasarkan perbintangan atau
tanda-tanda lainnya), pelayaran, kalender (menentukan hari baik atau buruk).
6) Banyak unsur-unsur kebudayaan Neolithikum yang masih hidup hingga
sekarang. Salah satunya adalah kesenian seperti pertenunan dengan
menggunakan tenun gendong
B. Saran
Kita sebagai mahasiswa sudah seharusnya mempelajari apa saja yang
terjadi pada zaman dahulu untuk mengetahui asal muasal kebudayaan kita
sehari-hari. Kehidupan sejarah masa lalu harus dijadikan pedoman supaya
kita tidak hidup terbelakang seperti dulu, tetapi harus semakin maju dan maju
seperti alur zaman. Kita dapat belajar dari kesalahan nenek moyang dan tidak
mengulanginya lagi.

14
DAFTAR PUSTAKA

James E. McClellan III and Harold Dorn.2006. Science and technology in world
history an introduction. Baltimore : The Johns Hopkins University Press.
Buku paket sejarah Kelas X
Koentjaraningrat. 2004. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Jambatan

15