Anda di halaman 1dari 6

ISSN Online 2407-6279 Jurnal Galung Tropika, 6 (1) April 2017, hlmn.

66 - 71
ISSN Cetak 2302-4178

EVALUASI KECERNAAN IN VITRO BAHAN KERING DAN BAHAN


ORGANIK FERMENTASI RUMPUT TAIWAN DAN KULIT PISANG
DENGAN MENGGUNAKAN TRICHODERMA SP.

In Vitro Digestibility Evaluation of Dry Ingredients and Organic Matter


Fermented by Taiwanese Grass and Banana Peels Using Trichoderma Sp.
Bahri
Email: bahrienrekang@gmail.com
Program Studi Ilmu Peternakan, Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan
Universitas Muhammadiyah Parepare
Jl.Jenderal Ahmad Yani KM.6 Parepare

Nurhaeda
Email: nurhaedajasman@yahoo.co.id
Program Studi Ilmu Peternakan, Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan
Universitas Muhammadiyah Parepare
Jl.Jenderal Ahmad Yani KM.6 Parepare

Rahmawati Semaun
Email: rahmapasca@yahoo.com
Program Studi Ilmu Peternakan, Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan
Universitas Muhammadiyah Parepare
Jl.Jenderal Ahmad Yani KM.6 Parepare

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengaruh fermentasi rumput taiwan dan
kulit buah pisang dengan penambahan Trichoderma sp. terhadap kecernaan bahan kering
dan bahan organik secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap
dengan tiga ulangan dan empat taraf perlakuan, yaitu 100% rumput taiwan, 90% rumput
taiwan + 10% kulit buah pisang, 80% rumput taiwan + 20% kulit buah pisang, 70% rumput
taiwan + 30% kulit buah pisang. Hasil analisis ragam daya cerna bahan kering secara in
vitro fermentasi rumput taiwan dan kulit buah pisang dengan menggunakan Trichoderma
sp. menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata. Nilai rata-rata daya cerna bahan kering
secara in vitro rumput taiwan dan kulit buah pisahan dan bahan organik adalah yang
tertinggi adalah perlakuan 70% rumput taiwan + 30% kulit pisang, yaitu 39.61%.
Perlakuan yang sama juga memberi perlakuan daya cerna tertinggi, yaitu 30.99%.
Kata kunci: bahan kering; bahan organik; kulit pisang; rumput taiwan;
Trichoderma sp.

ABSTRACT

The research aim is to know the influence of the fermented fruit leather and taiwan
grass bananas with the addition of Trichoderma sp. against the dry ingredients and
digestibility of organic materials in vitro. This study used a randomized complete design
with three replicates, and four levels of treatment, i.e. 100% taiwan grass, 90% taiwan
Evaluasi Kecernaan In Vitro Bahan Kering dan Bahan Organik Fermentasi Rumput Taiwan 67
dan Kulit Pisang dengan Menggunakan Trichoderma sp

grass + 10% banana peels, 80% taiwan grass + 20% banana peels, 70% taiwan grass +
30% banana peels. The results of the analysis of digestibility in dry ingredients in vitro
fermentation of taiwan grass and banana peels leather using Trichoderma sp. showed the
treatment give significant effect. The average value of the dry ingredients in vitro
digestibility of taiwan grass and organic matter was highest in the treatment of taiwan
grass 70% + 30% banana peels, namely 39.61%. The same treatment also give the highest
organic matter, i.e. 30.99%.
Keywords: banana peels; dried materials; organic materials; taiwan grass;
Trichoderma sp.

PENDAHULUAN Penelitian ini bertujuan untuk


mengetahui pengaruh fermentasi rumput
Pakan merupakan salah satu taiwan (Pennisetum purpureum) dan kulit
faktor penting dalam usaha peternakan. pisang kepok dengan penambahan
Pada usaha peternakan ternak ruminansia, Trichoderma sp. terhadap kecernaan
ketersedian pakan sepanjang tahun sangat bahan kering dan bahan organik secara in
diperlukan guna memenuhi kebutuhan vitro. Kegunaan penelitian ini adalah agar
ternak. Salah satu Hijaun Makanan dapat memberikan informasi kepada
Ternak (HMT) yang memiliki tingkat masyarakat, khususnya petani dan/atau
produksi yang tinggi dan dapat peternak tentang teknologi pakan yang
mencukupi kebutuhan pakan ternak yaitu berkualitas pada ternak ruminansia
rumput Rumput Taiwan (Pennisetum dengan menggunakan Tricoderma sp.
purpureum), adapun jumlah produksinya sebagai pakan fermentasi yang
dapat mencapai 20-30 ton/ha/tahun (Ella, dikombinasikan rumput taiwan dengan
2002). Rumput ini merupakan bahan kulit pisang kepok.
sumber serat yang masih memiliki
kandungan nilai nutrisi cukup tinggi, di METODE PENELITIAN
samping itu rumput gajah merupakan
jenis rerumputan parenial yang Penelitian ini dilaksanakan pada
ketersediannya melimpah pada musim bulan Juni sampai bulan Juli 2014. Proses
hujan. fermentasi rumput taiwan (Pennisetum
Lahan untuk penanaman hijauan purpureum) dan kulit pisang kepok
semakin sempit disebabkan alih fungsi dengan penambahan Trichoderma sp.
lahan. Limbah pertanian juga semakin dilaksanakan di laboratorium
melimpah dan masih diabaikan Agroteknologi Fakultas Pertanian,
masyarakat, sehingga dapat menjadi salah Peternakan dan Perikanan Kampus
satu alternatif bahan pakan yang dapat Universitas Muhammadiyah Parepare
diberikan pada ternak. Diantaranya (UMPAR). Analisis secara in vitro bahan
adalah melimpahnya limbah organik kering dan bahan organik dilakukan di
seperti kulit pisang yang masih memiliki Laboratorium Kimia dan Makanan
cukup nutrisi. Kulit pisang yang cukup Ternak Fakultas Peternakan Universitas
melimpah dan terabaikan adalah pisang Hasanuddin (UNHAS) Makassar
kepok. Sulawesi Selatan.
68 Bahri, et al.

Bahan yang digunakan adalah secara bergantian, masing-masing bahan


rumput taiwan (Pennisetum purpureum), dikukus selama 10 menit. Cara
kulit pisang kapok, inokulan pengukusan yaitu pertama-tama didihkan
Trichoderma sp, air, alkohol 96%, dan air didalam panci hingga suhu uap
bahan- bahan kimia yang digunakan mencapai 90oC, kemudian rumput taiwan
dalam analisis in vitro. Alat yang dan kombinasi kulit pisang kepok
digunakan dalam penelitian ini adalah dikukus selama 10 menit. Setelah selesai
mesin pencacah (chopper), ember, dikukus, bahan didinginkan sekitar 5
timbangan, gelas ukur, karung, kompor menit kemudian ditambahkan
dan panci. Trichoderma sp. sesuai perlakuan yaitu
Penelitian dilaksanakan secara 1% dari total bahan pakan yang akan
eksperimen menggunakan Rancangan difermentasi. Rumput taiwan dengan
Acak Lengkap (RAL), terdiri 4 perlakuan level kulit pisang kepok dicampur dengan
dan 3 ulangan, sehingga ada 12 satuan Trichoderma sp. sampai merata sesuai
percobaan. Perlakuan masing-masing perlakuan lalu difermentasi secara aerob
ditambah 1% Trichoderma sp. yaitu selam 4 hari.
sebagai berikut:
T0 = Kontrol (100% rumput taiwan) Analisis Data
T1 = Perlakuan 1 ( 90% rumput taiwan + Data yang diperoleh dianalisis
10 % kulit pisang kepok) secara statistik dengan menggunakan uji
T2 = Perlakuan 2 ( 80% rumput taiwan + F dan jika perlakuan berpengaruh nyata
20% kulit pisang kepok) dilakukan uji Beda Nyata Terkecil
T3 = Perlakuan 3 (70% rumput taiwan + (Gasperz, 1991).
30% kulit pisang kepok)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan penelitian
Hasil
Semua alat yang digunakan
terlebih dahulu dibersihkan dan dicuci Hasil analisis ragam daya cerna
dengan detergen, kemudian dibilas bahan kering (BK) dan daya cerna bahan
dengan air bersih dan selanjutnya organik (BO) secarain vitro rumput
dikeringkan, kemudian disemprotkan taiwan (Pennisetum purpureum) dan kulit
dengan alkohol 96% sesaat sebelum pisang kepok pada kombinasi berbeda
digunakan. Kulit pisang kepok yang akan yang difermentasi dengan Trichoderma
difermentasi terlebih dahulu dicacah sp.,menunjukkan hasil yang berbeda
dengan ukuran 1-3 cm menggunakan nyata pada (P<0,05), dapat dilihat pada
mesin pencacah. Rumput taiwan Tabel 1.
kombinasi kulit pisang kepok kemudian
dilayukan selama 12 jam pada ruang Daya Cerna Bahan Kering (BK)
Secara In Vitro
terbuka. Setelah itu rumput taiwan
dikombinasi dengan level kulit pisang Daya cerna bahan kering (BK)
kepok sesuai perlakuan kemudian rumput taiwan (Pennisetum purpureum)
dikukus dengan menggunakan panci dan kulit pisang kepok pada kombinasi
Evaluasi Kecernaan In Vitro Bahan Kering dan Bahan Organik Fermentasi Rumput Taiwan 69
dan Kulit Pisang dengan Menggunakan Trichoderma sp

berbeda yang difermentasi dengan memiliki daya cerna bahan kering yang
Trichoderma sp. Menunjukkan hasil yang cukup tinggi. Ini sejalan dengan pendapat
berbeda nyata (P<0,05). Jika dilihat dari Hidayat dkk., (2007) yang menyatakan
persentase kenaikan daya cerna bahan bahwa kulit buah pisang kepok memiliki
kering (BK) rumput taiwan (Pennisetum nilai kecernaan yang lebih tinggi yaitu
purpureum) dan kulit pisang kepok pada 39,02% dibandingkan dengan limbah
kombinasi berbeda yang difermentasi pertanian yang lain. Lebih lanjut
dengan Trichoderma sp., menunjukkan dikemukakan bahwa salah satu upaya
peningkatan yang cukup baik dengan untuk meningkatkan kandungan nutrisi
model perlakuan yang diterapkan di mana dari kulit pisang adalah dengan
kandungan daya cerna bahan kering yang melakukan fermentasi secara biologis
tertinggi ke terendah yaitu pada dengan menggunakan mikroba
perlakuan 70% rumput taiwan + 30% selulolitik.
kulit buah pisang (T3), 80% rumput Tabel 1 menunjukkan adanya
taiwan + 20% kulit buah pisang (T2), kecenderungan peningkatan kecernaan
90% rumput taiwan + 10% kulit buah bahan kering yakni 39,59% pada
pisang (V) dan kontrol (T0), masing- perlakuan 70% rumput taiwan + 30%
masing sebesar 39.61%, 36.4%, 33.22%, kulit buah pisang. Hal ini disebabkan
dan 32.61%. selama proses fermentasi, kapang (jamur)
Terjadinya peningkatan kecernaan akan terus melakukan pertumbuhan dan
BK pada perlakuan penambahan 70% perkembangan serta memproduksi enzim
rumput taiwan + 30% kulit pisang kepok pemecah serat. Selama fermentasi kapang
difermentasi dengan Trichoderma sp. membutuhkan zat organik (terutama
disebabkan karena proporsi kulit pisang karbohidrat terlarut) untuk metabolisme
kepok yang lebih tinggi. Hal ini termasuk pertumbuhan sel. Aktivitas
disebabkan kulit pisang kepok sendiri metabolisme diindikasikan dengan
70 Bahri, et al.

terbentuknya H2O pada proses respirasi dengan bantuan enzim dari mikroba
(Enari, 1983). (jasad renik) untuk melakukan oksidasi,
Penggunaan Trichoderma sp. reduksi, hidrolisa dan reaksi kimia
dalam proses fermentasi dapat berdampak lainnya, sehingga terjadi perubahan kimia
pada peningkatan kecernaan bahan kering pada suatu substrat organik dengan
pakan ternak. Hal ini sesuai dengan menghasilkan produk tertentu dan
pernyataan Harman dkk., (2006) yang menyebabkan terjadinya perubahan sifat
menyatakan peningkatan kecernaan bahan tersebut. Proses fermentasi bahan
bahan pakan disebabkan adanya proses pangan oleh mikroorganisme
fermentasi dengan fungi Trichoderma sp. menyebabkan perubahan-perubahan yang
Fermentasi tersebut mampu menguntungkan seperti memperbaiki
meningkatkan atau memperbaiki nilai mutu bahan pakan baik dari aspek gizi
gizi suatu bahan pakan. Penggunaan maupun daya cerna serta meningkatkan
Trichoderma sp. karena memiliki daya simpannya.
kemampuan untuk menghasilkan Proses fermentasi pakan,
berbagai enzim ekstraseluler, khususnya komposisi pakan dan aktifitas mikroba
selulase yang dapat mendegradasi dalam proses fermentasi juga menjadi
polisakarida kompleks. faktor dalam peningkatan daya cerna
bahan organik. Salah satu faktor yang
Daya Cerna Bahan Organik Secara In berpengaruh adalah nutrien dalam
Vitro substrat, selain itu mikroba membutuhkan
Daya cerna bahan organik rumput energi untuk dapat merombak senyawa
taiwan (Pennisetum purpureum) dan kulit kompleks menjadi senyawa sederhana di
pisang kepok pada kombinasi berbeda mana energi ini didapatkan dari bahan
yang difermentasi dengan Trichoderma organik substrat yang tersedia, seperti
sp. menunjukkan hasil yang berpengaruh senyawa gula sederhana (Sukardi dkk.,
nyata. Jika dilihat dari persentase 2000). Perbedaan nilai kecernaan bahan
kenaikkan kecernaan bahan organiknya, kering dan bahan organik suatu pakan
maka perlakuan yang mendapatkan berhubungan dengan komposisi kimia,
proporsi penambahan kulit pisang kepok hal ini dikarenakan bagian yang berserat,
yang lebih banyak menunjukkan hasil lignin dan kandungan silika yang tumbuh
yang lebih tinggi pada 70% rumput sebagai akibat dari perbedaan spesies
taiwan + 30% kulit pisang kepok (T3). dalam genotif tingkat pertumbuhan,
Peningkatan daya cerna bahan organik kondisi lingkungan, tempat tumbuh dan
pada perlakuan tersebut, yaitu 30,99% sistem pengolahan akan menurunkan
disebabkan dalam proses fermentasi kecernaan (Anggorodi, 1990).
terjadi penguraian zat-zat makanan yang
sukar larut sehingga kecernaan dapat KESIMPULAN
meningkat. Hal ini sesuai dengan
Berdasarkan hasil dan
pendapat Winarno dan Fardiaz (1980)
pembahasan, maka dapat disimpulkan
yang menyatakan bahwa, fermentasi
sebagai berikut:
adalah segala macam proses metabolik
Evaluasi Kecernaan In Vitro Bahan Kering dan Bahan Organik Fermentasi Rumput Taiwan 71
dan Kulit Pisang dengan Menggunakan Trichoderma sp

1) Kecernaan in vitro bahan kering dan Tricodherma


bahan organik rumput taiwan species_Opportunistic, Avirulent
(Pennisetum purpureum) dan kulit Plant Symbionts. Nature Review
Microbiology Volume 2.
pisang kepok pada kombinasi
www.nature.com. Diakses
berbeda yang difermentasi dengan tanggal 20 Januari 2014.
Trichoderma sp. yang tertinggi pada Hidayat, Alimul, dan Azis. 2007. Metode
perlakuan 70% rumput taiwan + 30% Penelitian Keperawatan dan
kulit pisang kapok. Teknik Analisa Data. Jakarta.
2) Perlakuan menunjukkan bahwa hasil Salemba Madika.
kecernaan in vitro bahan kering dan Sukardi, Slamet, Haryono, dan B. Suhadi.
2000. Analisis Bahan Makanan
bahan organik berkolerasi positif
dan Pertanian. Pusat Antar
dengan hasil tertinggi pada perlakuan Universitas Pangan dan Gizi
yang sama. Universitas Gadjah Mada.
Liberty, Yogyakarta. http:// s2
DAFTAR PUSTAKA .wp .com /i/favicon .ico?m
=1311975824g. (Diakses, 22
Anggorodi. 1990. Ilmu Makanan Ternak April 2014)
Dasar Umum. Gramedia. Winarno dan Fardiaz. 1980. Analisi
Jakarta. http://www.e- Bahan Makanan Ternak, Limbah
bookspdf.org/download/ilmu- Pertanian.
nutrisi-makanan-ternak.html http://wordpress.com/2010/08/1
(Diakses, 15 April 2014). 7/sumber-bahan-makanan-
Ella, A. 2002. Produktivitas dan Nilai ternak/. (Diakses, 21 April
Nutrisi Beberapa Jenis Rumput 2014).
dan Leguminosa Pakan yang
Ditanam pada Lahan Kering
Iklim Basah. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Sulawesi
Selatan, Makassar.
Enari, T.M. 1983. Microbial cellulase.
In: Microbial Enzymes and
Biotechnology. W.N. Fogarty
(Ed.). Applied Science
Publisher, New York.
Gasperz, V. 1991. Metode Perancangan
Percobaan untuk Ilmu-Ilmu
Pertanian, Ilmu-Ilmu Teknik dan
Biologi. CV.armico, Bandung.
(Diakses, 20 April 2014).
Harman. G. E, Howell., C. R. Viterbo., I.
Chet., dan M. Lorito. 2006.