Anda di halaman 1dari 9

Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

KECERNAAN IN-VITRO BAHAN KERING DAN ORGANIK SERTA KONSENTRASI VFA TOTAL PADA
PAKAN KAMBING YANG DISUPLEMENTASI Saccharomyces cerevisiae
( Effect supplemented Saccharomyces cerevisiae on Apparent Digestibility and Volatile Fatty
Acids in Goat Feed )
Anton Budi Prasetyo*, Caribu Hadi P, Titin Widiyastuti
Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
antonbudip.neuz@gmail.com*

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kecernaan bahan kering dan organik dan konsentrasi VFA
pakan kambing yang disuplementasi Saccharomyces cerevisiae dengan kecukupan mineral
chromium dan selenium organik. Materi penelitian ini adalah cairan rumen kambing, pakan
kambing dengan kandungan PK 11,17% dan TDN 55,97 %, Saccharomyces cerevisiae (preparat
komersial dengan konsentrasi 107 sel/gram), mineral chromium dan selenium organik. Penelitian ini
disusun menggunakan 5 perlakuan dan 4 ulangan, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Perlakuan ransumnya adalah R0 : ransum kontrol (PK 11,17% dan TDN 55,97 % + Cr organik + Se
organik); R1 (R0 + 2 g S.cerevisiae /Kg pakan); R2 (R0 + 4 g S.cerevisiae /Kg pakan); R3 (R0 + 6 g
S.cerevisiae /Kg pakan); R4 (R0 + 8 g S.cerevisiae /Kg pakan). Parameter yang diamati dalam
penelitian ini meliputi kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik serta konsentrasi VFA
total. Hasil penelitian menunjukan bahwa suplementasi Saccharomyces cerevisiae memberikan
pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik serta
VFA total. Kecernaan bahan kering 33.65 % (R0); 32.49 % (R1) ; 32.84 % (R2); 35.67 % (R3); 35.36 %
(R4) dan kecernaan bahan organik 30.77 % (R0); 29.99 % (R1); 31.54 % (R2); 33,8 % (R3); 34.28 %
(R4). VFA total 121.5 mM (R0); 157.5 mM (R1); 131.8 mM (R2); 116.5 mM (R3); 119 mM (R4).
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penambahan S.cerevisiae pada ransum kambing dengan
kecukupan chromium dan selenium organik dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dan
bahan organik, tetapi tidak meningkatkan konsentrasi VFA total.

Kata kunci : Saccharomyces cerevisiae, fermentasi rumen, kromium organik, selenium organik

ABSTRACT
This research was conducted to investigate the digestibilities of dry matter and organic matter, and
CFA concentration of goat feed that was supplemented by Saccharomyces cerevisiae at the
sufficiency supply of organic chromium and selenium minerals. This research material is goat
rumen fluid, feed the goats with the content of 11.17% and TDN PK 55.97%, Saccharomyces
cerevisiae (commercial preparations with a concentration of 107 cells / g), chromium mineral and
organic selenium. The study was compiled using the 5 treatments and 4 replications, using a
completely randomized design (CRD). Treatment rations were R0: control ration (PK 11.17% and
55.97% TDN + Cr + organic organic Se), R1 (R0 + 2 S.cerevisiae g / kg diet); R2 (R0 + 4 g S.cerevisiae /
kg feed), R3 (R0 S.cerevisiae + 6 g / kg diet); R4 (R0 S.cerevisiae + 8 g / kg diet). Parameters observed
in this study include the digestibility of dry matter and organic matter digestibility and total VFA
concentration. The ANOVA showed that supplementation of Saccharomyces cerevisiae provide a
significant influence (P <0.01) the digestibility of dry matter and organic matter and total VFA.
33.65% dry matter digestibility (R0), 32.49% (R1), 32.84% (R2), 35.67% (R3), 35.36% (R4) and organic
matter digestibility of 30.77% (R0), 29.99% (R1), 31.54% (R2), 33.8% (R3), 34.28% (R4). 121.5 mM
total VFA (R0), 157.5 mM (R1); 131.8 mM (R2), 116.5 mM (R3), 119 mM (R4). The conclusion of this
study is the addition of S.cerevisiae on goat ration with sufficient chromium and organic selenium
1
Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

can increase the digestibility of dry matter and organic matter, but it does not increase the
concentration of total VFA.

Key words: Saccharomyces cerevisiae, rumen fermentation, organic chromium, organic selenium

PENDAHULUAN
Meningkatnya tingkat pendidikan atau pengetahuan serta pendapatan masyarakat
membawa dampak pada semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya gizi yang
menyebabkan terjadinya pergeseran pola konsumsi rumah tangga ke arah peningkatan konsumsi
protein hewani seperti daging, susu dan telur. Perubahan pola konsumsi yang menyertai
peningkatan jumlah penduduk Negara Indonesia ini, merupakan penyebab utama peningkatan laju
kebutuhan dalam negeri akan produk peternakan terutama susu seperti ditunjukkan oleh
peningkatan konsumsi susu dalam negeri. Data Departemen Pertanian tahun 2009 menunjukkan
produksi susu nasional hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi susu nasional sebesar
23,45% atau sebanyak 2,19 kg per per kapita per tahun dan sisanya dipenuhi dengan susu impor.
Laju pertumbuhan rata-rata konsumsi susu mencapai 7.0 persen per tahun lebih tinggi dari laju
pertumbuhan produksi susu nasional yang hanya 3.29 persen per tahun.
Kambing yang dipelihara di Indonesia sebagian besar adalah kambing PE. Kambing PE
dikenal sebagai kambing bertipe badan besar dan penghasil susu yang cukup potensial. Sementara
ini, pengembangan kambing PE sebagai penghasil susu belum banyak diperhatikan dan
pemeliharaannya masih bersifat tradisional. Pakannya sebagian besar hanya rumput lapangan saja
sehingga belum bisa mencukupi kebutuhan fisiologis ternak terutama dari sumber energi dan protein.
Produksi susu kambing PE Indonesia berkisar antara 0.45 - 2.2 kg/ekor/hari dengan komposisi:
total padatan 17.8%, protein 4.97%, dan lemak 5.27% (Sukarini, 2006).
Pakan alternatif diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas
kambing di daerah marginal pada musim kemarau. Salah satu pakan alternatif yang digunakan
adalah suplemen katalitik untuk meningkatkan aktivitas fermentabilitas rumen dan populasi
bakteri. “Suplemen katalitik” adalah pemberian bahan pakan dalam jumlah kecil bahan kering
ransum, dan diharapkan berguna dan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan
produktivitas ruminansia (Preston dan Leng, 1987).
Chromium merupakan mineral mikro esensial bagi manusia dan ternak yang dibutuhkan
dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak secara normal. Selenium mempunyai fungsi
memproteksi membrane sel dan subseluler dari kerusakan oksidatif, sehingga mempertahankan
dari kerusakan sel-sel kelenjar mammae dan produksi susu yang tinggi dapat dipertahankan.
Berdasarkan hasil penelitian Caribu (2001) suplementasi chromium dan selenium organik pada
pakan sapi perah dengan level pemberian Se 0,3 ppm dan Chromium 1,5 ppm diketahui dapat
meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik, dan mempengaruhi konsentrasi VFA.
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kecernaan bahan kering dan bahan organik pada
pakan kambing yang disuplementasi Saccharomyces cerevisiae dengan kecukupan mineral
chromium dan selenium secara in-vitro Mengkaji konsentrasi VFA pada pakan kambing yang
disuplementasi Saccharomyces cerevisiae dengan kecukupan mineral chromium dan selenium
secara in-vitro.

2
Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

METODE PENELITIAN DAN ANALISIS


Materi
Materi yang digunakan dalam penelitian adalah cairan rumen kambing, pakan kambing
dengan kandungan PK 11,17% dan TDN 55,97 %, Saccharomyces cerevisiae (preparat komersial
dengan konsentrasi 107 sel/gram), mineral chromium dan selenium organik, perangkat analisis
konsentrasi VFA dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Ransum yang digunakan akan
disuplementasi dengan selenium sebanyak 0,3 ppm dan chromium sebanyak 1,5 ppm.
Tabel 1. Komposisi Ransum Kontrol
Bahan PK (%) SK (%) TDN (%) Level PK (%) SK (%) TDN (%)
Konsentrat 16,77 18,08 60,69 30 5,03 5,42 18,21
Rumput lapang 8,77 27,88 53,95 70 6,14 19,52 37,77
Cr organik (ppm) - - - 1.5 - - -
Se organik (ppm) - - - 0.3 - - -
Total 100 11,17 24,94 55,97

Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 2 tahap. Tahap pertama adalah tahap
persiapan, yaitu sintesis selenium dan chromium organik dengan yeast dan tahap kedua adalah
dengan metode eksperimental secara in vitro menggunakan metode Tilley and Terry (1963).

Rancangan Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan metode eksperimental secara in vitro dengan rancangan
dasar yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (Steel dan Torrie, 1980) setiap perlakuan
diulang 4 kali. Perlakuan yang diuji adalah:
R0 = ransum kontrol
R1 = R0 + 2 g S.cerevisiae /Kg pakan
R2 = R0 + 4 g S.cerevisiae /Kg pakan
R3 = R0 + 6 g S.cerevisiae /Kg pakan
R4 = R0 + 8 g S.cerevisiae /Kg pakan
Sesuai dengan rancangan yang digunakan dan perlakuan yang diuji maka model matematisnya
adalah:

Yij =  +  i +  ij

Keterangan:
Yij = Peubah yang diukur dari perlakuan ke i dan ulangan ke j
 = Nilai tengah produk fermentasi (VFA total, KBK dan KBO)
i = Pengaruh perlakuan ke- i
 ij = Galat percobaan
i = 1 – 5 ( banyaknya perlakuan )

3
Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

j = 1 – 4 ( banyaknya ulangan )
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji akan dilakukan Analisis
Variansi (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Orthogonal Polynomial.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kecernaan Bahan Kering dan Kecernaan Bahan Organik
Proses pencernaan makanan utama bagi ternak ruminansia adalah proses pencernaan
dalam rumen dan dilakukan oleh mikroba. Koefisien cerna bahan kering dan bahan organik tersaji
pada Tabel 4. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, kecernaan bahan kering dan bahan
organik pada ransum kontrol sebesar 33,65% (KBK) dan 20,77% (KBO). Nilai kecernaan bahan
kering dan bahan organik R1 dan R2 tidak jauh berbeda dengan ransum kontrol sedangkan hasil dari
perlakuan R3 dan R4 mengalami peningkatan, hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi pemberian
Saccharomyces cerevisiae pada pakan kambing dapat meningkatkan kecernaan pakan. Hasil
penelitian ini sejalan dengan pendapat Fadel (2007) yang menunjukan bahwa Saccharomyces
cerevisiae meningkatkan Kecernaan Bahan Organik dan NDF dibandingkan dengan ransum kontrol.
Beberapa penelitian dengan perlakuan penambahan Saccharomyces cerevisiae menunjukan
peningkatan populasi dari bakteri selulolitik di dalam rumen ( Miller, et al., 2002; Dawson, 1990;
Newbold, 1990). Enjalbert et al. (1999) menunjukan hasil yang berbeda, dengan menggunakan
metode in situ menghasilkan kesimpulan bahwa ransum yang di suplementasi Saccharomyces
cerevisiae tidak menunjukan hasil yang signifikan antara perlakuan dengan ransum kontrol.
Tabel 2. Rataan Kecernaan Bahan Kering dan Kecernaan Bahan Organik
Variabel
Perlakuan
KBK (%) KBO (%)
R0 33.65 ± 1.53 30.77 ± 0.36
R1 32.49 ± 0.81 29.99 ± 1.31
R2 32.84 ± 0.44 31.54 ± 0.39
R3 35.67 ± 1.09 33.80 ± 0.94
R4 35.36 ± 0.91 34.28 ± 0.86

36
35
34
KBK ( % )

33
32
31
30
0 2 4 6 8
Penam bahan Saccharom yces cerevis iae (g)

Gambar 1. Kurva persamaan kubik kecernaan bahan kering

4
Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

36
34
KBO ( % )

32
30
28
26
0 2 4 6 8
Penambahan Saccharomyces cerevisiae (g)

Gambar 2. Kurva persamaan kubik kecernaan bahan organik.

Analisis variansi menunjukan bahwa perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata


(P<0,01) terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik. Hasil Uji Orthogonal
Polynomial menunjukan respon kubik pada KBO dengan persamaan Y = 30.780107 - 1.3831696 X +
0.56848214 X^2 - 0.04257813 X^3, R² = 83.68 %, r = 0.91, titik belok (1.4540900 , 29.839934),
(7.4469149 , 34.421894). Hasil uji Orthogonal Polynomial pada KBO tidak berbeda dengan hasil uji
pada KBK dengan persamaan Y = 33.744214 - 1.9305060 X + 0.65477679 X^2 - 0.04833333 X^3, R²
= 62.9857 % , r = 0.7936, Tititk belok (1.8553016 , 32.107712), (7.1761023 , 35.748101). Hasil KBK
dan KBO tiap – tiap perlakuan tidak jauh berbeda dengan ransum kontrol, terjadi kenaikan nilai
kecernaan bahan kering dan bahan organik dari R1 sampai R4 sesuai dengan level penambahan
Saccharomyces cerevisiae, semakin tinggi level penambahan Saccharomyces cerevisiae semakin
tinggi kecernaan bahan kering dan bahan organiknya. Nilai kecernaan bahan kering dan kecernaan
bahan organik yang tidak jauh berbeda dengan kontrol dapat disebabkan oleh komposisi ransum
yang digunakan, bahan pakan yang digunakan adalah tepung rumput lapang dan konsentrat
dengan perbandingan 70 : 30. Bahan pakan dengan kandungan serat yang semakin tinggi, maka
akan semakin rendah daya cernanya. Komponen penyusun bahan berserat tersebut mengandung
lignin, sehingga semakin tinggi kandungan serat dalam bahan pakan, kandungan lignin juga
meningkat. Disamping itu rendahnya kandungan nutrisi dalam ransum terutama kandungan PK
(tabel 2.) mengakibatkan kurang mampunya mikroba rumen bekerja secara optimal sehingga
proses fermentasi tidak optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Tamminga (1992) bahwa tingkat
fermentasi pakan di dalam rumen dapat optimal, apabila kandungan PK pakan sebesar 15%
sedangkan dalam penelitian ini kandungan PK ransum sebesar 11,17%.
Probiotik maupun Cr organik dan Se organik yang diberikan mengandung mikroba, baik
bakteri asam laktat maupun fungi yang berguna bagi fungsi pecernaan rumen. Suplementasi kultur
fungi akan menimbulkan efek stimulan beberapa bakteri rumen secara spesifik (Miller-Webster et
al., 2002). Peningkatan populasi dan biodiversitas mikroba rumen akan meningkatkan aktivitas
mikroba sehingga daya cerna ransum meningkat. Peningkatan sumber protein terdegradasi dari
probiotik dan Cr organik sebagai bahan baku sintesis mikroba juga dapat meningkatkan populasi
mikroba rumen sehingga aktivitas pencernaan meningkat.

5
Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

Konsentrasi VFA (Volatile Fatty Acids)


Proses pencernaan karbohidrat di dalam rumen ternak ruminansia akan menghasilkan
energi berupa VFA dengan proporsi molar VFA secara umum mengikuti kondisi normal (Hungate,
1966), Asam lemak volatil (VFA) merupakan sumber energi utama bagi ternak ruminansia dan
dihasilkan dari proses fermentasi pakan dalam rumen (Orskov dan Ryle, 1990). Konsentrasi VFA
total dalam rumen berkisar 70 – 150 mM, VFA yang dihasilkan dalam proses fermentasi rumen
terdiri dari beberapa macam asam lemak (fatty acids), yang proporsinya dapat dianalisis dengan
menggunakan kromatografi. Banyak hal yang mempengaruhi komposisi VFA, salah satunya adalah
komposisi populasi mikroba rumen.
Tabel 3. Konsentrasi VFA Total
Perlakuan Produksi VFA Total (mM)
R0 121.5 ± 9.2
R1 157.5 ± 15.0
R2 131.8 ± 6.2
R3 116.5 ± 6.2
R4 119 ± 6.2

200
157.5
150 131.8
121.5 116.5 119
VFA (mM)

100

50

0
0 2 4 6 8
Penambahan Saccharomyces cerevisiae (g)

Gambar 3. Kurva persamaan kubik konsentrasi VFA total.

Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan konsentrasi VFA yaitu sebesar 121,8 mM (R 0);
157,5 mM (R1); 131,8 mM (R2); 116,5 mM (R3); 119 mM (R4), dari rataan tersebut dapat dilihat
rataan terbesar pada perlakuan R1 dan rataan terkecil pada perlakuan R3. Hasil analisis ragam
menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) terhadap konsentrasi VFA total.
Hasil uji orthogonal polynomial menunjukan respon kubik dengan persamaan Y = 122.675 +
34.072917 X - 10.90625 X² + 0.82552083 X^3, R² = 73.8248 %, r = 0.8592, titik belok = (2.0299326 ,
153.80529), (6.7776383 , 109.63305). Berdasarkan hasil penelitian ini, jumlah VFA yang dihasilkan
dari tiap perlakuan telah dapat mendukung pertumbuhan mikroba hal ini sesuai dengan pendapat
Sutardi ( 1980) yang menyatakan kisaran produk VFA cairan rumen untuk mendukung
pertumbuhan mikroba yaitu 80 sampai 160 mM.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulansih ( 2010 )
yang menunjukan bahwa pakan yang ditambahkan Cr-organik dan disuplementasi yeast
Saccharomyces cerevisiae sebanyak 1 mg, 2 mg dan 3 mg / kg ransum terjadi peningkatan
konsentrasi VFA dengan rataan 142,6 mM. Pada hasil penelitian R1 menghasilkan konsentrasi VFA

6
Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

sebesar 157,5 mM karena pada perlakuan penelitian ini ditambahkan lagi Saccharomyces
cerevisiae dalam ransum kontrol yang sudah terdapat Cr-organik yang disuplementasi dengan
Saccharomyces cerevisiae, sehingga aktifitas mikroba di dalam cairan rumen juga meningkat (El
Hassan et al., 1996; Newbold et al., 1996).
Bedasarkan data yang diperoleh perlakuan R1 menghasilkan konsentrasi VFA tertinggi yaitu
sebesar 157.5 mM, 131,8 mM (R2), 119.5 (R3) dan 116 (R4). Berdasarkan uji BNJ terdapat
perbedaan yang nyata pada konsentrasi VFA total antara R0 dengan R1 dan R2, masing-masing
meningkatkan sebesar 29.30 % dan 8.48 %. Berdasarkan perlakuan yang diberikan, semakin tinggi
level pemberian Saccharomyces cerevisiae konsentrasi VFA yang dihasilkan rendah, hal tersebut
dapat disebabkan oleh populasi mikroba di dalam rumen. Banyak penelitian yang menunjukan
bahwa penambahan Saccharomyces cerevisiae pada pakan ternak ruminansia dapat membantu
meningkatkan populasi mikroba di dalam rumen. Hasil penelitian Kamel et al., (2000)
menunjukkan bahwa penambahan Saccharomyces cerevisiae akan menstimulasi proliferasi
(pembelahan) mikroba rumen yang dapat mempengaruhi peningkatan kecernaan dinding sel dan
mengubah pola fermentasi rumen. Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendegradasi pakan
yang masuk ke dalam rumen menjadi produk-produk sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh
mikroba maupun induk semang, VFA total merupakan salah satu produk dari hasil dari pemecahan
karbohidrat dalam pakan.
Adanya penambahan level Saccharomyces cerevisiae menyebabkan populasi mikroba
berkembang lebih cepat, sehingga proses fermentasi di dalam rumen tidak optimal, hal ini sejalan
dengan pendapat Agus (1997) yang menyatakan bahwa apabila fermentasi di dalam rumen kurang
optimal, maka VFA rumen yang dihasilkan cenderung rendah. Selain itu, populasi bakteri
Streptococcus dalam rumen yang meningkat akan membebaskan sejumlah asam laktat dan
terakumulasi di dalam rumen sehingga terjadi penurunan pH di dalam rumen yang menyebabkan
beberapa jenis mikroba terhambat pertumbuhannya. Owen dan Zinn (1988) menyatakan bahwa
konsentrasi VFA total ditentukan juga oleh pH rumen. Tingkat pH rumen relatif tinggi pada ternak
yang mengkonsumsi hijauan, terutama hijauan yang berasal dari limbah pertanian.

SIMPULAN
Penambahan Saccharomyces cerevisiae pada ransum kambing dapat meningkatkan
kecernaan bahan kering dan bahan oranik, tetapi menurunkan konsentrasi VFA total. Perlu
dilakukan evaluasi lebih lanjut pengaruh penambahan Saccharomyces cerevisiae terhadap
populasi mikroba di dalam rumen dan produk fermentasi lainnya seperti N-NH3 dan gas CO2 dan
CH4.

DAFTAR PUSTAKA
Agus, A. 1997. Pengaruh Tipe Konsentrat Sumber Energi dalam Ransum Sapi Perah Berproduksi
tinggi terhadap Produksi dan Komposisi Susu. Buletin Peternakan. 21 I : 45-54.
BPS [Badan Pusat Statistik]. 2009. www.bps.go.id. Diakses pada 12 Agustus 2011.
Carro, M.D., P. Lebzien and K. Rohr. 1992. Effects of yeast culture on rumen fermentation,
digestibility and doudenal flow in dairy cows fed a silage based diet. Livest. Prod. Sci.,
32:219-229.

7
Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

Dawson, K.A., 1993. Current and future role of yeast culture in animal production: A review of
research over the last six years. ln: Biotechnology in the Feed lndustry, ed. T.P. Lyons, Alltech
Technical Publications, Nicholasville, Kentucky, p: 269-291
El Hassan, S.M., Newbold, C.J., Edwards, I.E., Topps, J.H., Wallace, R.J. 1996. Effect of Yeast Culture
on Rumen Fermentation, Microbial Protein Flow from The Rumen and Live-weight Gain in
Bulls Given High Cereal Diets. Anim. Sci. 62, 43-48.
Fadel, A.M.A. 2007. Effect of Supplemental Yeast (Saccharomyces cerevisiae) Culture on NDF
Digestibility and Rumen Fermentation of Forage Sorghum Hay in Nubian Goat's Kids. J.
Agric. And Biol. Sci.,3: 133-137.
Haddad, S.G. and S.N. Goussous, 2005. Effect of yeast culture supplementation on nutrient intake
and Rumen Fermentation of Forage Sorghum Hay in Nubian Goat's Kids. J. Agric. and Biol.
Sci., 3: 133- 137
Harris, B. and D.W. Webb, 1990. The effect of feeding a concentrated yeast culture product to
lactating dairy cows. J. Dairy Sci., 73: 266.
Hartadi, H., Soedomo R., Soekanto, L. dan Allen, DT. 1994. Tabel-tabel dari Komposisi Bahan
Makanan Ternak untuk Indonesia. UGM Press. Yogyakarta.
Hungate, R.E. 1996. Polysacharide Storage and Growth Eficiency in Ruminococus Albus. J. Bact.86-
848-54
Johnson, B.J. and B.D. Rops, 2003. The effects of energy source and yeast (Biosaf Sc 47) on feedlot
performance during the receiving period. Sited in: http:/www.asas.org/Midwest. Diakses
pada 15 Agustus 2011.
Kamel H.E.M., A.M. El-Waziry and J. Sekine, 2000. Effect of Saccharomyces cerevisiae on Fibre
Digestion and Ruminal Fermentation in Sheep Fed Berseem Hay (Trifolium alexandrinum) as
a Sole Diet. Asian-Aus. J. Anim. Sci. C: 139-142
Kim, H.S., B.S. Ahn, S.G. Chung, Y.H. Moon and S.S. Lee, 2006. Effect of yeast culture, fungal
fermentation extract and nonionic surfactant on performance of Holstein cows during
transition period. Anim. Feed Sci. Technol., 126:23- 29.
Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Temak. PT. Pembangunan. Jakarta.
Lynh, H.A. and S.A. Martin, 2002. Effecfts of Saccharomyces cerevisiae culture and Saccharomyces
cerevisiae live cells on in vitro mixed ruminal microoorganism fermentation. J. Dairy Sci., 85:
2603-2608.
McDonald, P.R. Edward and J. Greenhalagh. 2002. Animal Nutrition 6 th edition. New York.
Miller-Webster, T., W.H. Hoover, M. Holt and J.E. Nocek, V ZWZ. 2002. lnfluence of yeast culture on
ruminal microbial metabolism in continuous culture. J. Dairy Sci., 85: 2009-2014.
Newbold, C.J., Wallace, R.J., McIntosh, F.M., 1996. Different Strains of Saccharomyces cerevisiae
Differ in their Effect on Ruminal Bacterial Numbers in vitro and in Sheep. J. Anim. Sci. 73,
1811-1818.
Paryad A. and Rashidi M. 2009. Effect of Yeast (Saccharomyces cerevisiae) on Apparent Digestibility
and Nitrogen Retention of Tomato Pomace in Sheep. Pakistan Journal of Nutrition 8(3):273-
278
Prayitno, C.H. 2001. Performance produksi susu sapi perah yang mendapat suplementasi
chromium dan selenium organik pada ransumnya. Seminar Pengembangan Agribisnis
Peternakan. Purwokerto
8
Anton Budi Prasetyo dkk/Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):1-9, April 2013

Prayitno, C.H., N. Hidayat dan A.Muktiani. 1999. Studi Suplementasi Probiotik Saccharomyces
cerevisiae dan Starbio dalam Pakan Terhadap Kecernaan dan Aktivitas Fermentasi Rumen
Domba. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Bidang Ilmu Hayat, IPB – Bogor.
Preston, T.R. dan R.A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production System With Available Resources
in the Tropics and Sub Tropics. First Printed. International Colour Production. Penambul
Books, Armidale, Australia. p.49-50.
Sukarini, I. A. M. 2006. Produksi dan Kualitas Air Susu Kambing Peranakan Etawah Yang Diberi
Tambahan Urea Molases Blok dan atau Dedak Padi Pada Awal Laktasi. Animal Production 8:
196-205.
Tamminga, S. 1992. Nutrition managemen of dairy cows as a contribution to pollution control. J.
Dairy Sci. 75: 345-357.
Tilley, J.M.A and Terry, R.A. 1963. A two stage technique for the in vitro digestion of forage crops.
J. Br. Grssld Soc. 18: 104 –111
Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirakusumo dan S. Lebdosoekotjo. 1986. Ilmu
Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Weiss, W.P., D.L. Frobose and M.E. Koch. 1997. Wet tomato pomace ensiled with corn plants for
dairy cows. J. Dairy Sci., 80: 2896-2900.
Williams, P.E.V. and C.J. Newbold. 1990. Rumen Probiotis The Effect of Novel Microorganisms on
Rumen Fermentation and Ruminant Productivity. In: Recent Advances in Animal Nutrition.
Haresigru W. and Cole, D.I.A. (Eds ), Butenvorths, London pp: 2ll.
Wina. 2000. Pemanfaatan ragi (yeast) sebagai pakan imbuhan untuk meningkatkan produktivitas
ternak ruminansia. Wartazoa (9)2: 50-56.
Ratnaningsih, A. 2000. Pengaruh Pemberian S.cerevisiae dan bioplus pada ransum ternak domba
terhadap konsumsi bahan kering, kecernaan dan konversi ransum (in vitro). Skripsi Fakultas
Peternakan Universitas Padjajaran. Bandung.