Anda di halaman 1dari 8

Kasman Suherman dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 827-834, September 2013

KONSENTRASI VFA TOTAL DAN AMONIA PADA ONGGOK YANG DIFERMENTASI


DENGAN Aspergillus niger SECARA IN VITRO

(VFA TOTAL CONCENTRATION AND AMMONIA ON FERMENTED TAPIOCA WASTE


WITHAspergillus nigerBY IN VITRO)

Kasman Suherman*, Suparwi dan Titin Widiyastuti


Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
*kasuherman@gmail.com

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan level terbaik penggunaan
Aspergillus niger pada fermentasi onggok terhadap konsentrasi VFA total dan konsentrasi
amonia.Penelitian dilakukan secara in vitro dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan
5 ulangan. Perlakuan penelitian adalah O0 = Onggok tanpa difermentasi O1 = Onggok difermentasi
dengan level Aspergillus niger 2 % + urea 2 % + mineral 6 % O2 = Onggok difermentasi dengan level
Aspergillus niger 4 % + urea 2 % + mineral 6 % O3 = Onggok difermentasi dengan level Aspergillus
niger 6 % + urea 2 % + mineral 6 %. Konsentrasi VFA total dan amonia memiliki rataan 228,35 mM
dan 6,23 mM. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan Aspergillus
nigerberpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsentrasi VFA total dan amonia
onggokfermentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan Aspergillus
niger dalam fermentasi onggok berpengaruh sangat nyata terhadap konsentrasi VFA total dan
konsentrasi amonia. Level terbaik penambahan Aspergillus niger dalam fermentasi onggok untuk
meningkatkan konsentrasi VFA total dan konsentrasi amonia yaitu pada level 1,7-2,3 % karena
pada level tersebut mampu meningkatkan konsentrasi VFA total dan konsentrasi amonia lebih
tinggi dari pada penambahan level Aspergillus niger lainnya.

Kata kunci: onggok, Aspergillus niger, fermentasi, konsentrasi VFA total dan konsentrasi amonia

ABSTRACT
The aim this research was to knowing effect and the best level of additionAspergillus niger
on fermentation tapioca waste about VFA total concentration and ammonia concentration.
Research of in vitro with a completely randomized design (CRD) of four treatments and five
replications. Treatments research is O0 = Tapioca waste not fermented O1 = Fermented tapioca
waste with level Aspergillus niger 2% + urea 2 % + minerals 6 % O2 = Fermented tapioca waste with
level Aspergillus niger 4% + urea 2 % + minerals 6 % O3 =Fermented tapioca waste with level
Aspergillus niger 6% + urea 2 % + minerals 6 %. VFA total concentration and ammonia
concentrationown average value were 228,35 mM and 6,23 mM.The results of the Analysis of
Variance showed that fermentation by Aspergillus niger on tapioca waste were highly significant
(P<0.01) from VFA total concentration and ammonia concentration of fermented tapioca waste.
Based on the results of research can be concluded that the use of Aspergillus niger in fermentation
tapioca waste affected highly significant on concentration vfa total and concentration ammonia.
The best level of addition of Aspergillus niger fermentation in tapioca waste for increase the VFA
total concentration and ammonia concentration was at the level 1,7-2,3 % because at the level
was able to increase the concentration VFA total and concentration ammonia higher than of the
addition level of Aspergillus niger other.

Keyword: Tapioca waste, Aspergillus niger, fermentation, VFA total concentration and ammonia
concentration

827
Kasman Suherman dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 827-834, September 2013

PENDAHULUAN
Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ternak ruminansia adalah dengan pemberian
pakan yang bermutu. Sejauh ini, pola pemberian pakan belum sesuai dengan kebutuhan ternak.
Dengan kata lain, masalah utama upaya peningkatan produksi ternak ruminansia adalah sulitnya
penyediaan pakan yang berkesinambungan baik dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik
(Chen et al., 1990). Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mencari
sumber pakan alternatif.
Indonesia merupakan salah satu penghasil ubi kayu terbesar di dunia. Berdasarkan data dari
Departemen Pertanian (2011) produksi ubi kayu pada Desember 2011 mencapai 20.924.159 ton.
Onggok merupakan limbah pabrik tepung tapioka yang belum termanfaatkan secara optimal.
Ketersediaan onggok terus meningkat sejalan meningkatnya produksi tapioka. Peningkatan
produksi onggok sejalan dengan peningkatan produksi tapioka, hal ini dikarenakan setiap ton ubi
kayu menghasilkan 250 kg tapioka dan 114 kg onggok.
Onggok sebagai hasil sampingan pembuatan tepung tapioka selain harganya murah, tersedia
cukup, mudah didapat, dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Menurut Rasyid et al.
(1996), onggok merupakan bahan sumber energi yang mempunyai kadar protein kasar rendah,
tetapi kaya akan karbohidrat yang mudah dicerna (BETN) bagi ternak.
Aspergillus niger merupakan kapang yang cocok hidup pada substrat yang mengandung
sumber pati tinggi, sehingga pati pada onggok dapat digunakan sebagai sumber energi untuk
pertumbuhan dan perkembangan kapang tersebut. Pertumbuhan yang baik dari kapang
diharapkan memproduksi enzim selulase dalam jumlah yang banyak sehingga dapat digunakan
untuk merombak dan menurunkan serat kasar (Nurhayati et al., 2011). Pemanfaatan kapang
Aspergillus niger sebagai starter dalam proses fermentasi ini dirasa paling cocok dan sesuai dengan
tujuan fermentasi, yaitu untuk menurunkan kadar serat dan sekaligus dapat meningkatkan kadar
protein kasar onggok (Tampoebolon, 2009).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai level
Aspergillus niger pada fermentasi onggok terhadap konsentrasi VFA total dan konsentrasi amonia
dan mengetahui level terbaik penambahan Aspergillus niger dalam fermentasi onggok yang dapat
meningkatkan konsentrasi VFA total dan konsentrasi amonia secara invitro. Manfaat penelitian ini
untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah agroindustri yaitu onggok sebagai sumber bahan
pakan ternak ruminansia dan sebagai informasi ilmiah mengenai taraf penggunaan Aspergillus
niger pada proses fermentasi onggok ditinjau dari konsentrasi VFA total dan amonia.

METODE
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah500 g onggok, 500 ml cairan rumen sapi, 15 g
Aspergillus niger, 10 g urea, 25 g mineral mix, 500 ml air panas, 500 ml larutan McDougall’s,
gasCO2, 50 ml H2SO4 pekat, 600 ml pepsin HCl, 100 ml asam borat, 100 ml Na2CO3, 100 ml H2SO4
0,1 N, 100 ml H2SO4 15 %, 250 ml NaOH 0,5 N, 100 ml HCl 0,5 N dan 5000 ml aquadest.
Alat yang digunakan dalam penelitian adalah penggiling onggok, kantong plastik, nampan
plastik, kompor listrik, timbangan analitik, oven, termos, kain blacu, erlenmeyer, sentrifuge,
shakerwaterbath, kertas saring Whatman 41, cawan conwey, destilator, gelas ukur, pipet ukuran
10 ml, pipet ukuran 1 ml, filler dan tempat supernatan.

828
Kasman Suherman dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 827-834, September 2013

Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental secara in vitro(Tilley dan
Terry, 1963). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri atas:
O0 = Onggok tanpa difermentasi
O1 = Onggok difermentasi dengan level Aspergillus niger 2 % + urea 2 % + mineral 6 %
O2 = Onggok difermentasi dengan level Aspergillus niger 4 % + urea 2 % + mineral 6 %
O3 = Onggok difermentasi dengan level Aspergillus niger 6 % + urea 2 % + mineral 6 %
Pembuatan onggok fermentasi, 100 gr onggok yang telahdigiling dimasukan ke dalam
baskom ukuran sedang, onggok selanjutnya ditambah urea 2 % dan mineral mix 6 %kemudian
diaduk sampai rata, 100 ml air hangat ditambahkan pada campuran tadi kemudian diaduk sampai
rata dan dibiarkan sebentar sampai temperatur campuran kira-kira 37°C,kemudian ditambahkan
(inokulum) dengan Aspergillus niger dan diaduk kembali, apabila sudah rata dipindahkan ke
dalam baki plastik dan diinkubasi pada suhu ruang selama 4-5 hari, jika sudah terbentuk miselium,
maka onggokfermentasi tersebut dihancurkan dengan cara diremas-remas selanjutnya
dikeringkan pada oven temperatur 600C kemudian digiling, untuk dilanjutkan dengan uji in vitro.
Percobaan in vitro, 2 g sampel onggok fermentasi dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer,
ditambah 24 ml larutan Mc Dougall’s dengan pH 6,8 kemudian ditutup rapat dan didiamkan
selama 10 menit dalam shaker waterbath agar temperaturnya 39°C, selanjutnya ditambahkan 32
ml cairan rumen, kemudian gas CO2 dialirkan kedalam erlenmeyer secukupnya, erlenmeyer
ditutup kembali dan dimasukkan lagi kedalam shaker waterbath, pengaliran gas CO2 ini diulang
setiap 4 jam sekali; (4) inkubasi dilakukan selama 24 jam pada temperatur 38°C-39°C, setelah
inkubasi ditetesi HgCl2 atau H2SO4 pekat untuk menghentikan aktivitas fermentasi oleh mikroba;
(5) Kemudian disentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 5.000 rpm untuk memisahkan
supernatan dan residu; (6) Supernatan dimasukkan ke dalam tempat supernatan dan dimasukkan
ke dalam lemari pendingin sebelum dianalisis konsentrasi VFA dan N-NH3.
Peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah Konsentrasi VFA total dengan menggunakan
metode destilasi uap (Departemen of Dairy Sciences, 1966) dan konsentrasi amonia dengan
menggunakan metode mikro difusi conwey (Departemen of Dairy Sciences, 1966). Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi. Jika perlakuan berpengaruh nyata terhadap
peubah yang diuji, maka dilanjutkan dengan uji orthogonal polynomial (Steel dan Torie, 1996).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Komposisi Nutrien Onggok Fermentasi Aspergillus niger
Hasil analisis proksimat menunjukkan komposisi nutrien onggok yang mengalami perubahan
setelah difermentasi dengan Aspergillus niger. Komposisi nutrien onggok sebelum dan sesudah
fermentasi tersaji pada Tabel 1. Kandungan bahan kering (BK) dari masing-masing perlakuan
mengalami penurunan dari 85,31 % menjadi 58,08 %, 71,46 % dan 65,09 %. Penurunan BK pada
masing- masing perlakuan juga diikuti dengan penurunan kadar serat kasar dari 21,29 % menjadi
10,50%, 13,80 % dan 10,04 %. Sedangkan kandungan protein dan abu mengalami peningkatan
setelah fermentasi. Kandungan protein mengalami peningkatan dari 2,38 % menjadi 8,34 %, 7,46
% dan 9,31 %. Kandungan abu meningkat dari 2,35 % menjadi 5,29 % , 6,09 % dan 6,56 %.

829
Kasman Suherman dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 827-834, September 2013

Tabel 1. Hasil Analisis Proksimat Onggok yang Difermentasi dengan Aspergillus niger
% BK
Perlakuan Air (%) BK (%)
Protein Lemak Serat Abu BETN
O0 14,69 85,31 2,38 12,63 21,29 2,35 61,35
O1 41, 92 58,08 8,34 1,21 10,50 5,29 74,66
O2 28,54 71,46 7,64 0,07 13,80 6,09 72,40
O3 34,91 65,09 9,31 2,56 10,04 6,56 71,54
Sumber: Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Unsoed Purwokerto
(2013)

Konsentrasi VFA Total Onggok Fermentasi Aspergillus niger


VFA merupakan produk akhir fermentasi karbohidrat dan merupakan prekursor sumber
energi utama ruminansia. Peningkatan jumlah VFA menunjukkan mudah atau tidaknya pakan
tersebut difermentasi oleh mikroba rumen. Seperti dinyatakan oleh Hartati (1998) bahwa
produksi VFA di dalam cairan rumen dapat digunakan sebagai tolok ukur fermentabilitas pakan.
Konsentrasi VFA total hasil penelitian ini tersaji pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan Konsentrasi VFA Total Onggok Fermentasi Aspergillus niger


No Perlakuan Rataan konsentrasi VFA total (mM)
1 O0 217,8
2 O1 259,2
3 O2 225,6
4 O3 210,8
Rataan 228,35

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan konsentrasi VFA total masing-masing perlakuan
adalah O0 (217,8 mM); O1 (259,2 mM); O2 (225,6 mM); dan O3 (210,8 mM). Hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan rataan konsentrasi VFA total dari 217 mM (O 0) menjadi 259
mM (O1) dan 225,6 mM (O2), pada O3 terjadi penurunan yaitu menjadi 210,8 mM, namun
demikian masih diatas kisaran normal untuk mendukung pertumbuhan mikroba rumen karena
menurut Sutardi (1980) kisaran normal VFA cairan rumen normal yang mendukung pertumbuhan
mikroba adalah 80-160 mM. Menurut Enari (1983) Aspergillus niger telah diketahui dapat
menghasilkan enzim pendegradasi serat. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Purwanti (2012)
yang menyatakan Aspergillus niger mampu menghasilkan enzim-enzim ekstraseluler
sepertiselulase, amylase, pektinase, amiloglukosidae, glukosaoksidase dan katalase. Enzim yang
berpengaruh terhadap peningkatan konsentrasi VFA total dari onggok fermentasi Aspergillus niger
yaitu enzim selulase. Enzim tersebut dapat merombak karbohidrat struktural (selulosa dan
hemiselulosa) menjadi gula yang lebih sederhana. Sehingga karbohidrat yang lebih sederhana
tersebut didalam rumen akan lebih mudah difermentasi oleh mikroba rumen menjadi VFA.
Peningkatan terjadi pada onggok perlakuan yang difermentasi dengan Aspergillus niger
pada level 2 % dan 4 %. Sedangkan pada level 6 % terjadi penurunan konsentrasi VFA total. Hal
tersebut menunjukkan bahwa dengan penambahan level Aspergillis niger yang semakin tinggi
tidak meningkatkan konsentrasi VFA total. Penurunan konsentrasi VFA total pada level 6 %
dimungkinkan ada hubungannya dengan sintesis protein mikroba. Hal tersebut di dukung oleh
pernyataan Sinaga (2002) bahwa penurunan VFA diduga berhubungan dengan kecernaan zat

830
Kasman Suherman dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 827-834, September 2013

makanan, dimana VFA tersebut digunakan sebagai sumber energi mikroba untuk mensintesis
protein mikroba dan digunakan untuk pertumbuhan sel tubuhnya. Sedangkan pada level 2 %
penggunaan VFA sebagai sumber energi mikroba lebih sedikit karena konsentrasi amonianya lebih
rendah dibanding pada level 6 % yang merupakan salah satu faktor dari tingginya kandungan VFA
pada level 2 %, karena menurut Ranjhan (1977) hasil fermentasi karbohidrat (VFA) digunakan oleh
mikroba sebagai sumber energi dan kerangka karbon dari asam amino protein mikroba, sehingga
semakin tinggi konsentrasi amonia dalam rumen maka akan semakin banyak VFA yang digunakan
sebagai kerangka karbon dari asam amino protein mikroba.
Hasil analisis variansi (Tabel 5) menunjukkan bahwafermentasi onggok dengan Aspergillus
nigerberpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsentrasi VFA total onggok, yang dapat
diartikan bahwa semakin tinggi level Aspergillus nigeryang digunakan untuk fermentasi onggok
mempengaruhi perubahan konsentrasi VFA total dengan kecenderungan terjadi penurunan
konsentrasi VFA total seiring dengan bertambahnya level penggunaan Aspergillus nigerpada
proses fermentasi. Penambahan Aspergillus niger pada level 6 % mengakibatkan penurunan
konsentrasi VFA total.Berdasarkan uji orthogonal polynomial pengaruh tersebut bersifat kubik
dengan persamaan garis Y = 217.8 + 55.083333 X - 21.1 X2 + 1.9541667 X3 (r2 = 77,88 % dan r =
0,88), titik maksimumnya terjadi pada level penambahan Aspergillus niger 1,7 % dengan
konsentrasi VFA total sebesar 260,1 mM dan titik beloknya pada level penambahan Aspergillus
niger 5,4 % dengan konsentrasi VFA total sebesar 207,6 mM. Titik maksimum level penambahan
Aspergillus niger 1,7 % menunjukkan bahwa pada level tersebut merupakan titik puncak level
penambahan Aspergillus niger terbaik yang dapat meningkatkkan konsentrasi VFA total onggok,
setelah mencapai titik tersebut cenderung terjadi penurunan konsentrasi VFA total. Walaupun
level penambahan Aspergillus niger 1,7 % tidak digunakan dalam perlakuan pada penelitian ini
namun berdasarkan kurva respon kubik menunjukkan bahwa level tersebut merupakan level
terbaik untuk meningkatkan konsentrasi VFA total karena enzim selulolitik yang dihasilkan
Aspergillus niger bekerja dengan efektif pada level tersebut sehingga mampu mendegradasi lebih
banyak serat kasar dan mampu meningkatkan konsentrasi VFA total onggok lebih tinggi.
Kemudian titik beloknya terjadi pada level penambahan Aspergillus niger 5,4 %, setelah titik belok
terjadi peningkatan konsentrasi VFA total walaupun kecenderungan naiknya sangat kecil sekali
yaitu 207,6 mM pada titik belok (level 5,4 %) naik menjadi 210,8 mM pada level 6 %. Koefisien
korelasi (r) adalah 0,88 menunjukkan keeratan hubungan antara tingkat konsentrasi VFA total
onggok dan Aspergillus nigeryaitu sebesar 88 % dan memiliki sifat hubungan dimana semakin
tinggi level Aspergillus nigermenyebabkanpenurunan konsentrasi VFA total onggok (Gambar 1).

Konsentrasi Amonia Onggok Fermentasi Aspergillus niger


Protein bahan pakan yang masuk ke dalam rumen akan mengalami proteolisis oleh enzim-
enzim protease menjadi peptida, lalu dihidrolisis menjadi asam amino yang kemudian secara cepat
dideaminasi menjadi amonia. Kemudian akan digunakan oleh mikroba rumen dalam pembentukan
protein mikroba (Sinaga, 2002). Produksi konsentrasi amonia pada penelitian ini tersaji pada
Tabel 3.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan konsentrasi amonia masing-masing perlakuan
adalah O0 (1,64 mM); O1 (7,72 mM); O2 (6,82 mM); dan O3 (8,74 mM). Hasil penelitian
menunjukkan adanya peningkatan rataan konsentrasi amonia dari 1,64 mM (O 0) menjadi 7,72 mM

831
Kasman Suherman dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 827-834, September 2013

(O1) dan 6,82 mM (O2) dan 8,74 mM (O3). Peningkatan konsentrasi amonia ini berbanding lurus
dengan meningkatnya kandungan protein onggok terfermentasi Aspergillus niger karena amonia
merupakan hasil hidrolisis protein pakan oleh mikroba rumen yang dideaminasi menjadi amonia.
Hasil dari analisis proksimat onggok terfermentasi Aspergillus niger menunjukkan terjadinya
peningkatan kadar protein onggok dari 2,38 % (O0) menjadi 8,34 % (O1), 7,64 % (O2) dan 9,31 %
(O3). Menurut Noferdiman (2008) peningkatan kandungan protein onggok sejalan dengan
pertumbuhan kapang (jamur) dikarenakan tubuh jamur terdiri dari elemen yang mengandung
nitrogen. Selain itu, enzim yang dihasilkan oleh jamur juga merupakan protein.

270 (1,7%; 260,1 mM)


Konsentrasi VFA (mM)

250 (5,4%; 207,6 mM)

230

210

190 Y = 217.8 + 55.083333 X - 21.1 X2 + 1.9541667 X3


r2 = 77.88 %
170

150
0 1 2 3 4 5 6

Level Aspergillus niger (%)

Gambar 1. Hubungan Antara Penambahan Level Aspergillus niger dengan


Konsentrasi VFA Total Onggok

Tabel 3. Rataan Konsentrasi Amonia Onggok Fermentasi Aspergillus niger


No Perlakuan Rataan konsentrasi amonia (mM)
1 O0 1,64
2 O1 7,72
3 O2 6,82
4 O3 8,74
Rataan 6,23

Hasil penelitian menunjukkan bahwa level Aspergillus niger yang optimal untuk proses
fermentasi adalah 2 % yaitu dapat meningkatkan konsentrasi amonia menjadi 7,72 mM. Pada
penambahan level Aspergillus niger 2 % sudah dapat meningkatkan konsentrasi amonia walaupun
pada level Aspergillus niger 6 % terjadi peningkatan konsentrasi amonia yang lebih tinggi karena
pada level 6 % akan membutuhkan starter Aspergillus niger lebih banyak sehingga kurang efisien.
Selain itu pada level 4 % terjadi penurunan konsentrasi amonia menjadi 6,82 mM. Hal tersebut
menunjukkan bahwa penambahan Aspergillus niger dengan level 2 % pada onggok perlakuan itu
sudah cukup.
Hasil analisis variansi (Tabel 9) menunjukkan bahwafermentasi onggok dengan Aspergillus
nigerberpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsentrasi amonia onggok yang dapat
diartikan bahwa semakin tinggi level yang digunakan untuk fermentasi onggok mempengaruhi
perubahan konsentrasi amonia dengan kecenderungan terjadi peningkatan konsentrasi amonia

832
Kasman Suherman dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 827-834, September 2013

seiring dengan bertambahnya taraf penggunaan Aspergillus nigerpada proses fermentasi. Namun
cenderung terjadi penurunan pada penambahan level 4 % dan meningkat kembali pada level 6 %.
Berdasarkan uji orthogonal polynomial pengaruh tersebut bersifat kubik dengan persamaan garis
Y = 1.64 + 6.4183333 X - 2.0975 X2 + 0.20416667 X3 (r2 = 97,35% dan r = 0,9866), titik
maksimumnya terjadi pada level penambahan Aspergillus niger 2,3 % dengan konsentrasi amonia
sebesar 7,79 mM dan titik beloknya terjadi pada level penambahan Aspergillus niger 4,5 % dengan
konsentrasi amonia sebesar 6,65 mM. Titik maksimum level penambahan Aspergillus niger 2,3 %
menunjukkan bahwa pada level tersebut merupakan titik puncak penambahan Aspergillus niger
terbaik yang dapat meningkatkkan konsentrasi amonia onggok, setelah mencapai titik tersebut
tingkat konsentrasi amonia cenderung menurun pada level penambahan Aspergillus niger 4 % dan
cenderung terjadi kenaikan kembali pada level penambahan Aspergillus niger 6 % (Gambar 2).
Walaupun level penambahan Aspergillus niger 2,3 % tidak digunakan dalam perlakuan pada
penelitian ini namun berdasarkan kurva respon kubik menunjukan bahwa level tersebut
merupakan level terbaik untuk meningkatkan konsentrasi amonia karena pada level tersebut
Aspergillus niger dapat tumbuh secara optimal sehingga mampu meningkatkan kandungan protein
onggok lebih besar karena enzim yang dihasilkan dan sebagian besar tubuh Aspergillus niger
merupakan protein. Protein tersebut didalam rumen akan dihidrolisis menjadi asam amino
kemudian dideaminasi oleh mikroba rumen menjadi amonia sehingga peningkatan protein onggok
dapat meninggkatkkan konsentrasi amonia onggok. Kemudian titik beloknya terjadi pada level
penambahan Aspergillus niger 4,5 %, setelah titik belok cenderung terjadi kenaikan konsentrasi
amonia yaitu 6,65 mM pada titik belok (level 4,5 %) dan 8,74 mM pada level 6 %. Koefisien korelasi
(r) adalah 0,9866 menunjukkan keeratan hubungan antara tingkat konsentrasi amonia onggok dan
level penambahan Aspergillus nigeryaitu sebesar 98,66 % dan memiliki sifat hubungan dimana
semakin tinggi level Aspergillus niger dapat menyebabkanpenurunan konsentrasi amonia onggok,
tetapi peningkatan level tertentu dapat meningkatkkan kembali konsentrasi amonia akan tetapi
cenderung lambat.

10
Konsentrasi Amonia (mM)

9 2,3%; 7,79 mM
4,5%; 6,65 mM
8
7
6
5
4
3
Y = 1.64 + 6.4183333 X - 2.0975 X2 + 0.20416667 X3
r2 = 97.35 %
2
1
0 1 2 3 4 5 6

Level Aspergillus niger (%)

Gambar 2. Hubungan Antara Penambahan Level Aspergillus niger dengan


Konsentrasi Amonia Onggok

833
Kasman Suherman dkk /Jurnal Ilmiah Peternakan 1(3): 827-834, September 2013

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan Aspergillus niger dalam
fermentasi onggok berpengaruh sangat nyata terhadap konsentrasi VFA total dan konsentrasi
amonia. Level terbaik penambahan Aspergillus niger dalam fermentasi onggok untuk
meningkatkan konsentrasi VFA total dan konsentrasi amonia yaitu pada level 1,7-2,3 % karena
pada level tersebut mampu meningkatkan konsentrasi VFA total dan konsentrasi amonia lebih
tinggi dari pada penambahan level Aspergillus niger lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Chen, C. P.1990. Management of Forage for Animal Production Under Tree Crops. In; proc,
Integrated Tree Croping and Small Ruminant Production System. INIQUES L. C and M. D.
SANCHEZ (Eds). SR-CRSP. University California Davis. USA. Pp. 10-23.
Departemen of Dairy Sciences. 1966. General Laboratory Procedures. University of Wisconsin.
USA. Pp. 36-70.
Departemen Pertanian. 2011. Data komoditas produksi ubi kayu nasional. www.deptan.go.id.
Diakses tanggal 16 Oktober 2012.
Enari, T. M. 1983. Microbial Cellulase: W.M. Fogarty (Ed.). Microbial Enzymes and Biotechnology.
Applied Science Pub. New York.
Noferdiman, Y. Rizal, Mirzah, Y. Heryandi, dan Y. Marlida. 2008. Penggunaan Urea Sebagai Sumber
Nitrogen pada Proses Biodegradasi Substrat Lumpur Sawit Oleh Jamur Phanerochaete
chrysosporium. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan. XI(4):175-181.
Nurhayati, C. U. Wirawati dan D. D. Putri. 2011. Kajian Fermentasi Campuran Bungkil Inti Sawit
dan Onggok dengan Lama Fermentasi dan Level Penambahan Mineral Berbeda. Seminar
Nasional Sains dan Teknologi IV (Prosiding). Politeknik Negeri Bandung. Lampung.
Purwanti, F. W. 2012. Kualitas Nutrien Onggok yang Difermentasi Aspergillus niger dengan
Penambahan Level Urea dan Zeolit Yang Berbeda. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
(Tidak dipublikasikan).
Ranjhan., S. M. 1980. Animal Nutritition and Feeding practice in India. 2nd Ed. Vikas publishing
House put Ltd. New Delhi. PP. 93-104.
Rasyid, G., A. B. Sudarmadji, dan Sriyana. 1995. Pembuatan dan Pemanfaatan Onggok sebagai
Pakan Ternak. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Karangploso. Malang.
Sinaga, J. I. 2002. Pengaruh Penggunaan Onggok Fermentasi Dalam Ransum Terhadap Peformance
Itik Peking Umur 1 hari - 8 minggu. Skripsi. Jurusan Peternakan USU. Medan. (Tidak
dipublikasikan).
Steel, R. G. D. and J. H. Torrie. 1996. Principles and Procedures of Statistics, a Biometrical
Approach. Mc Graw-Hill Book Company. New York.
Tampoebolon, B. I. M. 2009. Kajian Perbedaan Aras dan Lama Pemeraman Fermentasi Ampas Sagu
dengan Aspergillus niger Terhadap Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar. Seminar
Nasional Kebangkitan Peternakan (Prosiding). Universitas Dipenogoro. Semarang.
Tilley, J. M. and R. A. Terry. 1963. A Two Stage Technique for The In Vitro Degistion of Forage
Crops. Journal of British Grassland Society. 18 (2): 104.

834