Anda di halaman 1dari 3

Percobaan yang kedua menggunakan metode Nelson-Somogy.

Karbohidrat
dapat dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode Nelson-Somogy. Metode ini
dapat menghitung kadar suatu gula pereduksi didalam sampel. Data yang diperoleh
dalam percobaan ini berupa absorbansi yang dikonversi menjadi konsentrasi melalui
kurva standar Xilosa. Xilosa digunakan untuk membuat kurva standar, karena xilosa
merupakan monosakarida dan gula pereduksi. Menurut Wade (2009) semua
monosakarida adalah gula pereduksi, namun tidak semua disakarida adalah gula
pereduksi karena terdapat disakarida dengan ikatan glikosida yang sulit berpotensi
bebas sehingga sulit untuk mengalami oksidasi. Kurva standar digunakan sebagai
linier range untuk menentukan konsnetrasi sampel.
Xilosa dibuat konsentrasi yang bervariasi yaitu 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, 20
ppm, 25 ppm, dan 30 ppm. Variasi konsentrasi tersebut digunakan untuk membuat
kurva standar antara absobansi dan konsentrasi. Akuades digunakan dalam percobaan
ini untuk membandingkan hasil antara larutan sampel yang mengandung gula
pereduksi dan tidak mengandung gula pereduksi. Sampel yang digunakan diberi label
B. Sampel tersebut juga yang akan diukur konsentrasinya (kadar gula reduksi).
Sampel dimasukkan ke dalam 2 tabung dengan volume yang sama.
Semua larutan ditambahkan reagen Nelson. Reagen Nelson memiliki warna
larutan biru sehingga penambahan reagen Nelson ke dalam sampel menyebabkan
warna biru pada setiap larutan. Warna biru tersebut terjadi akibat adanya Cu 2+
didalam reagen yang memiliki warna spesifik biru. Reagen Nelson berisi kupro
oksida yang berfungsi sebagai oksidator gula reduksi. Prinsip kerja metode Nelson-
Somogy yaitu gula pereduksi ketika dipanaskan dengan alkalin temabaga tartrat
mereduksi Cu dari Cu2+ menjadi Cu+ sehingga terbentuk Cu2O. ketika Cu2O
direaksikan dengan asam arsenomolibdat, asam molibdat tereduksi menjadi
molibdenum blue. Warna biru yang terjadi dapat diukur dengan spektrofotometer
menggunakan panjang gelombang tertentu (Somogyi, 1952).
Reduksi kupri sulfat dari larutan Nelson-Somogy oleh karbohidrat dalam
suasana basa menghasilkan Cu+ berupa endapan merah bata Cu2O, reaksi yang terjadi
sebagai berikut:
O O
+ 2CuO (aq) + Cu2O (s)
R H R OH

Gambar 4.1 Raksi reduksi kupro oksida oleh gula reduksi (sumber).
Larutan dalam tiap tabung reaksi kemudian dipanaskan. Fungsi pemanasan
adalah untuk mempercepat proses reaksi reduksi kupro oksida menjadi kupri oksida
dalam larutan dengan reagen Nelson. Hasil yang diperoleh yaitu larutan berubah
warna dari biru menjadi berwarna hijau dan terdapat sedikit endapan merah bata pada
laruta xilosa dan sampel B. Hal ini dikarenakan semua Cu 2+ telah tereduksi menjadi
Cu+. Kedua kation tersebut memiliki muatan yang berbeda sehingga penyerapan
energi dari keduanya juga pada frekuensi yang berbeda, sehingga warna
komplementer nya juga berbeda. Hasil yang berbeda ditunjukkan pada tabung yang
mengandung akuades karena akuades tidak mengandung gula reduksi, sehingga tidak
ada yang mereduksi kupri oksida menjadi kupro oksida. Larutan dengan konsentrasi
5 ppm dan akuades memiliki warna biru, sedangkan semakin pekat konsentrasi
larutan xilosa, maka warna hijau semakin tampak. Hal ini dikarenakan konsentrasi
berbeda maka kadar gula pereduksinya juga berbeda sehingga kupri oksida yang
mengalami reduksi jumlahnya berbeda. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin
banyak kadar gula reduksi dalam suatu larutan, sehingga pada penambahan reagen
Nelson dengan jumlah yang sama, gula reduksi yang dapat mereduksi kupri oksida
jumlahnya berbeda. Sampel B dengan konsentrasi yang sama memiliki warna yang
berbeda, sampel B pada tabung 1 berwarna lebih kehijauan dibanding dengan sampel
B pada tabung 2. Hal ini karena kemungkinan pengukuran volume yang tidak tepat
sehingga ada perbedaan konsentrasi yang sangat kecil, yang dapat mempengaruhi
hasil reduksi.
Endapan kupro oksida ini menentukan jumlah dari gula reduksi dalam suatu
gula. Kupro oksida harus dilarutkan tanpa bercampur dengan zat lain yang tidak
diinginkan agar dapat dibaca absorbansinya oleh spektrofotometer. Hal ini
dikarenakan prinsip dari pengukuran menggunakan spektrofotometer, yaitu
pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada
panjang gelombang spesifik. Kupro oksida dapat dilarutkan dengan mereaksikan nya
dengan arsenomolibdat. Larutan harus didinginkan terlebih dahulu untuk mencegah
kemungkinan ada komponen senyawa yang rusak atau habis karena menguap. Reaksi
antara endapan kuprooksida dengan arsenomolibdat adalah reaksi reduksi
arsenomolibdat oleh kupro oksida menghasilkan molybdine blue. Perubahan warna
larutan yang terjadi yaitu dari hijau menjadi biru lagi, kecuali pada akuades. Akuades
mengalami perubahan warna dari biru menjadi hijau. Hal ini dikarenakan adanya
penambah
Warna biru ini diukur absorbansinya pada panjang gelombang 540 nm karena
pada panjang gelombang tersebut molibdene blue memiliki absorbansi optimum.
Kurva standar xilosa ditunjukkan pada gambar 4.2.

Gambar 4.2 Kurva Standar Xilosa


Berdasarkan kurva tersebut, semakin tinggi konsentrasi suatu gula pereduksi
maka semakin tinggi nilai absorbansinya, karena semakin banyak partikel yang
menyerap sinar monokromatis. Kurva yang dihasilkan memiliki nilai R2= 0,8852
sehingga kurang linier. Hal ini disebabkan kemungkinan karena pada saat
pengenceran volume kurang tepat yang diakibatkan oleh injeksi yang sering macet.
Absorbansi sampel B bila dibandingkan dengan absorbansi larutan gula
reduksi, maka nilainya mendekati dengan nilai absorbansi xilosa pada konsentrasi
10-15 ppm. Nilai konsentrasi sampel dapat dicari dengan mensubstitusi nilai
absorbansi kedalam persamaan y = 0.0217x + 0.2743. Berdasarkan perhitungan,
sampel B memiliki konsentrasi 14,5 ppm.