Anda di halaman 1dari 40

BUKU 2

TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN


RUMAH KHUSUS

(DRAFT)

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT


DIREKTORAT JENDERAL PENYEDIAAN PERUMAHAN
DIREKTORAT RUMAH KHUSUS
KATA PENGANTAR

Tata Bangunan Dan Lingkungan Rumah Khusus ini


dilengkapi dengan tahapan teknis mengenai tata bangunan dan
lingkungan rumah khusus. Buku ini menjadi satu bagian yang tidak
terpisahkan dengan Buku Pedoman Petunjuk Teknis
Pembangunan Rumah Khusus lainnya.

Tata Bangunan Dan Lingkungan Rumah Khusus ini


dimaksudkan untuk digunakan sebagai acuan bagi perencana,
pelaksana dan masyarakat, dalam proses perencanaan tata
bangunan lingkungan Rumah Khusus yang mengatur ketentuan
minimal sarana dan prasarana lingkungan perumahan dengan
mempertimbangkan aspek kesehatan, keamanan, dan
kenyamanan dalam proses perencanaan lingkungan perumahan,
serta disusun mengacu pada peraturan perundang-undangan
yang berlaku saat ini, serta SNI dan literatur lainnya yang terkait
pembangunan rumah khusus.

Kami menyadari bahwa Tata Bangunan Dan Lingkungan


Rumah Khusus ini masih memiliki kekurangan dalam materi dan
kerangka penyajian. Tentunya segala apresiasi dalam bentuk kritik
dan saran dapat menjadi masukan berharga dalam
penyempurnaan petunjuk teknis ini selanjutnya.

Jakarta, Juli 2017


Ketua Tim Teknis

(Ir. Efendi Manurung, M.Si.)

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................... i


DAFTAR ISI ..................................................................................ii

BUKU 2
TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN RUMAH KHUSUS
1. RUANG LINGKUP ................................................................ 1
2. ACUAN NORMATIF ............................................................. 1
3. ISTILAH DAN DEFINISI........................................................ 2
4. PERTIMBANGAN DALAM PERENCANAAN SITE ............... 5
4.1. DEMOGRAFI .............................................................. 5
4.1.1. Kependudukan ............................................... 5
4.1.2. Kajian Sosial Budaya Penduduk .................... 5
4.2. PERTIMBANGAN FISIK ............................................. 6
4.2.1. Topografi ........................................................ 6
4.2.2. Geografi ......................................................... 6
4.2.3. Iklim................................................................ 6
4.2.4. Rawan Bencana Alam.................................... 7
5. PERENCANAAN LOKASI..................................................... 7
5.1. KETENTUAN LOKASI RUMAH KHUSUS .................. 7
5.2. KEPADATAN LOKASI ................................................ 9
5.3. KOMPOSISI PERUNTUKAN ...................................... 9
5.4. BANGUNAN ............................................................. 10
5.4.1. Rumah Khusus Tunggal ............................... 10
5.4.2. Rumah Khusus Kopel .................................. 11
5.4.3. Rumah Khusus Deret ................................... 12
5.5. POLA PERENCANAAN LOKASI .............................. 14
5.5.1. Struktur Lokasi ............................................. 14
5.5.2. Pola Kapling dan penataan pola jalan ......... 16
5.6. PENGOLAHAN LAHAN BERKONTUR .................... 17
5.7. KETENTUAN PRASANA DAN UTILITAS ................. 20
5.7.1. Transportasi dan Drainase ........................... 20
5.7.2. Air Bersih ..................................................... 25
5.7.3. Air Kotor ....................................................... 27
5.7.4. Persampahan ............................................... 29
5.7.5. Jaringan Listrik ............................................. 30
5.7.6. Jaringan Telepon dan Komunikasi ............... 31

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | ii


5.8. KETENTUAN SARANA LINGKUNGAN .................... 32
5.8.1. Sarana Pendidikan ....................................... 32
5.8.2. Sarana Sosial, Rekreasi dan Ruang
Terbuka ........................................................ 32
5.8.3. Sarana Kesehatan ....................................... 33
5.8.4. Sarana Ibadah ............................................. 33
5.8.5. Sarana Perdagangan dan Niaga .................. 34
5.8.6. Pelayanan Administrasi Lokal ...................... 34

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | iii


BUKU 2
TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
PEMBANGUNAN RUMAH KHUSUS

1. RUANG LINGKUP
Pedoman Teknis Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah
Khusus ini meliput acuan yang dapat digunakan dalam proses
perencanaan tata bangunan lingkungan Rumah Khusus yang
mengatur ketentuan minimal sarana dan prasarana lingkungan
perumahan dengan mempertimbangkan aspek kesehatan,
keamanan, dan kenyamanan dalam proses perencanaan
lingkungan perumahan.

2. ACUAN NORMATIF
Pedoman Teknis Perencanaan Lingkungan Rumah Khusus
ini mengacu pada:
 SNI 03-1728-1989, Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan
Bangunan Gedung
 SNI 02-2406-1991, Tata Cara Perencanaan Umum Drainase
Perkotaan
 SNI 03-3241-1994, Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat
Pembuangan Akhir Sampah
 SNI 03-1736-2000, Tata cara perencanaan struktur bangunan
untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah
dan gedung
 SNI 03-6572-2001, Tata Cara Perencanaan Sistem Ventilasi
dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung
 SNI 06-2459-2002, Spesifikasi Sumur Resapan Air Hujan
Untuk Lahan Pekarangan
 SNI 03-1733-2004, Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Perumahan Perkotaan
 SNI 03-6981-2004, Tata cara perencanaan lingkungan
perumahan sederhana tidak bersusun di daerah perkotaan
 SNI-3242-2008, Tata Cara Pengelolaan Sampah di
Permukiman

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |1


3. ISTILAH DAN DEFINISI
1. Penataan lingkungan adalah suatu usaha untuk
memperbaiki, mengubah, dan mengatur kembali lingkungan
tertentu yang sesuai dengan prinsip pemanfaatan ruang
secara optimal.
2. Persyaratan teknis adalah persyaratan kenyamanan dan
keselamatan bangunan hunian, sarana dan prasarana
lingkungan serta utilitas umum.
3. Persyaratan ekologis adalah persyaratan yang berkaitan
dengan keserasian dan keseimbangan, baik antara
lingkungan buatan dengan lingkungan alam maupun dengan
lingkungan sosial budaya, termasuk nilai-nilai budaya
bangsa yang perlu dilestarikan.
4. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar
lokasi lindung, baik yang berupa lokasi perkotaan maupun
perdesaaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang
mendukung perikehidupan dan penghidupan.
5. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang
dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.
6. Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat
tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga.
7. RSH adalah Rumah Sederhana Sehat, yang memenuhi
ketentuan dasar kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan
kesahatan bangunan serta penghuninya.
8. Rumah Instan adalah rumah yang dibangun dengan sistem
pabrikasi komponen-komponennya, selanjutnya komponen-
komponen tersebut dirakit di lapangan tanpa mengalami
modifikasi terhadap komponen-komponen tersebut.
9. Rumah tunggal ( hunian tidak bertingkat) adalah Rumah
yang mempunyai persil sendiri dan salah satu dinding
bangunan induknya tidak dibangun tepat pada batas persil.
10. Rumah Khusus kopel ( hunian gandeng dua) adalah dua
unit Rumah Khusus lengkap, dimana salah satu sisi
bangunan induknya menyatu dengan sisi satu bangunan lain
atau satu tempat kediaman lain, dan masing-masing
mempunyai persil sendiri.
11. Rumah Khusus deret ( hunian gandeng banyak) adalah
beberapa Rumah Khusus lengkap dimana satu atau lebih
dari sisi bangunan induknya menyatu dengan sisi satu atau

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |2


lebih bangunan lain atau tempat kediaman lain, tetapi
masing-masing mempunyai persil sendiri.
12. Kapling tanah matang adalah sebidang tanah yang telah
dipersiapkan sesuai dengan persyaratan pembakuan dalam
penggunaan, penguasaan, pemilikan tanah dan rencana tata
ruang lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian
untuk membangun bangunan.
13. Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik
lingkungan yang memungkinkan lingkungan permukiman
dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
14. Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang, yang
berfungsi untuk menyelenggarakan dan mengembangkan
kehidupan ekonomi, sosial dan budaya.
15. Utilitas adalah pelayanan seperti air bersih, air limbah, gas,
listrik dan telepon, yang pada umumnya diperlukan untuk
beroperasinya suatu bangunan dan lingkungan permukiman.
16. Utilitas umum adalah fasilitas umum seperti PUSKESMAS,
taman kanak-kanak, tempat bermain, pos polisi, yang
umumnya diperlukan sebagai sarana penunjang pelayanan
lingkungan.
17. Aksesibilitas adalah Kemudahan pencapaian yang
disediakan bagi semua orang, termasuk yang memiliki
ketidakmampuan fisik atau mental, seperti penyandang
cacat, lanjut usia, ibu hamil, penderita penyakit tertentu,
dalam mewujudkan kesamaan kesempatan.
18. Jalan adalah jalur yang direncanakan atau digunakan untuk
lalu lintas kendaraan dan orang.
19. Jalan kolektor adalah jalur selebar  7 m yang melayani
angkutan pengumpulan/pembagian dengan ciri-ciri
perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan
jumlah jalan masuk dibatasi.
20. Jalan lokal adalah jalur yang melayani angkutan setempat
dengan ciri-ciri perjalanan dekat, kecepatan rata-rata
rendah, dan jumlah jalan masuk dibatasi.
21. Jalan lingkungan adalah jalur selebar  4 m yang ada
dalam satuan permukiman atau lingkungan perumahan.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |3


22. Jalan lokal sekunder adalah jalur selebar  3.0-7.0 m yang
merupakan jalan poros perumahan menghubungkan jalan
arteri/kolektor/lokal dan pusat lingkungan permukiman.
23. Jalan lokal sekunder II dan III adalah jalur selebar  3.0-6.0
m penghubung jalan arteri/kolektor/lokal dengan pusat
kegiatan lingkungan permukiman, menuju akses yang lebih
tinggi hirarkinya.
24. Jalan lingkungan I adalah jalur selebar  1.5 - 2.0 m
penghubung pusat permukiman dengan pusat lingkungan I
atau pusat lingkungan I yang lainnya; atau menuju Lokal
Sekunder III.
25. Jalur lingkungan II adalah jalur dengan lebar  1.2 m
penghubung pusat lingkungan I ke II; menuju pusat
lingkungan II yang lain dan akses yang lebih tingi hirarkinya.
26. Daerah manfaat jalan (damaja) adalah merupakan ruang
sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar tinggi dan
kedalaman ruang batas tertentu. Ruang tersebut
diperuntukkan bagi median, perkerasan jalan, jalur pemisah,
bahu jalan, saluran tepi jalan, trotoar, lereng, ambang
pengaman, timbunan dan galian, gorong-gorong,
perlengkapan jalan dan bangunan pelengkap lainnya.
27. Daerah milik jalan (damija) adalah merupakan ruang
sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu
yang dikuasai Pembina Jalan. Ruang tersebut diperuntukkan
DAMAJA dan pelebaran jalan, penambahan jalur lalu lintas
di kemudian hari.
28. Daerah pengawasan jalan (dawasja) adalah merupakan
ruang sepanjang jalan diluar DAMIJA yang dibatasi oleh
lebar dan tinggi tertentu, dan diperuntukkan bagi pandangan
bebas pengemudi dan pengamanan konstruksi jalan.
29. Bahu jalan adalah bagian dari jalan yang terletak pada tepi
kiri atau kanan jalan dan berfungsi sebagai; lajur lalu lintas
darurat, tempat berhenti sementara, ruang bebas samping,
penyangga kestabilan badan jalan, jalur sepeda. Selain itu
untuk saluran air minum, saluran air limbah, jaringan listrik,
telepon, gas, dan lain-lain, ditempatkan diantara garis
sempadan pagar dengan saluran air hujan.
30. Badan jalan adalah bagian jalan yang meliputi seluruh jalur
lalu lintas, median dan bahu jalan.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |4


31. Jalur pedestrian adalah jalur dengan lebar  1.5 m yang
digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda, secara
aman, nyaman dan tak terhalang.
32. Jalur pemandu (guiding blocks) adalah jalur yang
digunakan penyandang tuna netra, untuk memberikan
panduan arah dan tempat tertentu.
33. Ruang terbuka adalah wadah yang dapat menampung
kegiatan tertentu dari warga lingkungan baik secara individu
atau kelompok.

4. PERTIMBANGAN DALAM PERENCANAAN SITE


4.1. DEMOGRAFI
4.1.1. Kependudukan
Data dan informasi yang diperlukan menyangkut aspek
kependudukan adalah:
 jumlah penduduk;
 jumlah penduduk menurut usia;
 jumlah penduduk menurut jenis kelamin;
 jumlah penduduk menurut pendidikan;
 jumlah penduduk menurut agama;
 jumlah kepala keluarga;
 jumlah anggota keluarga per KK;
 tingkat pendapatan penduduk; dan
 jenis pekerjaan penduduk
 Jumlah kepadatan penduduk dalam lingkup kecamatan/ desa/
kelurahan

Keluaran dari hasil analisis dan informasi ini adalah: jenis


sarana; kebutuhan luas ruang sarana; bentuk/ jenis sarana;
kebutuhan luas lahan sarana; program ruang bangunan sarana;
kebutuhan perkembangan lingkungan; fasilitas/sarana
lingkungan; dan peningkatan kemampuan kerja.

4.1.2. Sosial Budaya Penduduk


Data yang diperlukan meliputi:
 karakteristik sosial budaya;
 deskripsi historis;
 struktur dan pola hidup kemasyarakatan;

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |5


 deskripsi konteks dan karakter sosial budaya setempat
(rutinitas adat, aktifitas, norma adat setempat, dan lain-lain);
dan
 pola penyebaran penduduk.

Keluaran dari hasil diatas serta informasi ini adalah pola dan
zoning lingkungan; kriteria dan karakter perumahan yang
kontekstual pada karakter setempat; pola tata ruang dari
bangunan dan sarana lingkungan; kebutuhan jenis sarana
lingkungan; kebutuhan program ruang pada sarana lingkungan;
dan distribusi sarana komunikasi dan transportasi.

4.2. PERTIMBANGAN FISIK


4.2.1. Topografi
Data yang diperlukan
 kondisi fisik permukaan tanah (Tidak labil);
 kemiringan lahan;
 lapisan geologis tanah (layering); dan
 kedalaman muka air tanah.

Keluaran dari hasil diatas serta informasi ini adalah


pembentukan muka tanah; bentuk bangunan dan lokasi;
rancangan sistem drainase; rancangan jalan; rancangan sistem
sanitas; tata ruang; pembatasan lahan yang boleh terbangun.

4.2.2. Geografi
Data yang diperlukan meliputi;
 letak geografis lokasi perencanaan terhadap lokasi lain;
 sarana yang ada di sekitar area sesuai dengan tata guna
lahan; dan
 batas administrasi.

Keluaran dari hasil diatas serta informasi ini adalah jarak


sarana; jumlah sarana; radius/ruang lingkup layanan sarana; dan
hubungan ketata ruangan lokasi perencanaan dengan lingkungan
sekitar.

4.2.3. Iklim
Data yang diperlukan meliputi:
 orientasi matahari;
 lama penyinaran matahari;

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |6


 temperatur rata-rata;
 kelembaban;
 curah hujan rata-rata;
 musim;
 iklim mikro; dan
 kecepatan angin.

Keluaran dari hasil diatas serta informasi ini adalah lokasi ;


bentuk bangunan; orientasi bangunan; tata letak bangunan;
ventilasi; bukaan untuk penerangan alami siang hari; hubungan
sirkulasi antar bangunan/sarana lingkungan; dan kriteria
penyelesaian fisik dan karakter bangunan dan sarana lingkungan.

4.2.4. Rawan Bencana Alam


Rawan Bencana Alam yaitu potensi bencana alam pada
lokasi perencanaan, Data yang diperlukan meliputi;
 angin puyuh;
 gempa bumi;
 banjir;
 longsor; dan
 bencana alam lainnya.

Keluaran dari hasil diatas yang dikumpulkan adalah tinggi


muka tanah; stuktur/konstruksi; tata letak bangunan.

5. PERENCANAAN LOKASI
5.1. KETENTUAN LOKASI RUMAH KHUSUS
Ketentuan lokasi pembangunan rumah khusus di daerah
adalah sebagai berikut:
a) Kondisi topografi dan geologi tanah proyek pembangunan
perumahan harus mampu mendukung fisik bangunan, serta
prasarana dan sarana lingkungan perumahan yang
memenuhi persyaratan struktur/konstruksi bangunan dan
tanah yang akan dibangun.
b) Lokasi tidak berada pada lokasi lindung atau daerah
konservasi yang telah ditetapkan pemerintah, terutama di
daerah resapan air dan bersinggungan dengan hutan lindung
atau lokasi suaka alam dan margasatwa, atau disesuaikan
dengan Peraturan Daerah yang berlaku.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |7


c) Tersedianya tanah yang cukup untuk pembangunan
perumahan dalam suatu lingkungan yang memiliki
kelengkapan prasarana dan sarana, serta utilitas bangunan
dan lingkungannya.
d) Lokasi lahan proyek pembangunan perumahan harus
mempunyai akses yang mudah dihubungkan dengan
jaringan prasarana dasar, seperti: air bersih, air kotor,
drainasi lingkungan, listrik, telepon, dan jalan utama,
misalnya jalan propinsi, jalan kabupaten/kota, dan jalan
umum yang memudahkan arus pergerakan kegiatan
penghuni sehari-hari dengan kegiatan pusat-pusat wilayah
kabupaten/kota.
e) Lokasi lahan proyek pembangunan harus dilengkapi dengan
informasi data tanah, seperti: struktur tanah/batuan, sondir,
jenis vegetasi, dan kemungkinan penyediaan sumber air
apabila di lokasi dan sekitar proyek tidak ada jaringan air
bersih (PAM).
f) Lokasi bebas dari lokasi yang berdampak rawan bencana,
seperti banjir musiman dan luapannya, gempa, erosi dan
longsor, angin, tsunami, polusi industri, dan bencana lain.
g) Lokasi lahan yang dibangun di atas tanah dengan
kemiringan tertentu, harus diatur sedemikian rupa sehingga
proyek pembangunannya tidak akan menimbulkan
kerusakan dan dampak negatif terhadap lingkungan
perumahan dan wilayah disekitarnya.
h) Untuk lokasi dengan ketinggian lahan antara 750 - 1000 m di
atas permukaan laut, ditetapkan kemiringan lahan tidak
melebihi 15% dengan ketentuan: tanpa rekayasa untuk
lokasi yang terletak pada lahan bermorfologi datar-landai
dengan kemiringan 0-8%, diperlukan rekayasa teknis untuk
kemiringan 8-15%,
i) Persyaratan lingkungan perumahan dan permukiman harus
didukung dengan:
 ketersediaan air bersih terjamin baik kualitas maupun
kuantitasnya,
 tidak terganggu polusi air, udara dan suara,
 mempunyai aksesibilitas yang mudah dan aman untuk
mencapai tempat kerja, sekolah dan pusat kegiatan
lainnya,
 tidak mengganggu jalur penerbangan.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |8


j) Lokasi proyek mudah dilalui kendaraan berat, seperti:
buldoser, eskavator, dan truk angkutan bahan bangunan dan
galian.
k) Lingkungan perumahan harus dapat memberikan:
 Kemudahan bagi setiap orang mencapai tempat/bangunan
yang bersifat umum dalam suatu lingkungan;
 Kegunaan bagi setiap orang dapat menggunakan tempat
atau bangunan yang bersifat umum.
 Keselamatan bagi setiap orang dapat menggunakan
tempat atau bangunan yang bersifat umum.
 Kemandirian bagi setiap orang dapat mencapai tempat
atau bangunan yang bersifat umum tanpa bantuan orang
lain.

5.2. KEPADATAN LOKASI


a) Ditentukan luas lahan lokasi yang dapat dibagi kapling adalah
60% dari luas total lahan, sedang 40% sisanya harus
digunakan unutk kebutuhan sarana dan prasarana
lingkungan, atau mengikuti ketentuan daerah yang berlaku.
b) sedangkan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah 60%
dari luas kapling, bilamana luas lokasi perumahan sangat
luas, dimungkinkan dalam satu hamparan KDB bangunan
dapat diatur sesuai dengan perencanaan namun KDB akhir
tidak diperkenankan lebih dari 60%,
c) KDB harus digambarkan dalam blok-blok yang berbeda
peruntukannya.

5.3. KOMPOSISI PERUNTUKAN


a) Blok peruntukan adalah bagian dari unit lingkungan
perumahan sebagai bentuk dari pemanfaatan ruang tertentu
yang dibatasi oleh jaringan pergerakan kegiatan kehidupan,
serta jaringan prasarana dan sarana pendukung
lingkungannya.
b) Blok peruntukan dapat dibentuk berupa pola penataan
kaveling yang disesuaikan dengan kondisi fisik geomorfologis
lokasi lahan atau lingkungannya. Sebagai acuan ketentuan
ini dapat menggunakan tabel mengenai acuan peruntukan
berdasrkan kemiringan lereng.
c) Blok peruntukan dan pola penataan kaveling memperhatikan
estetika arsitektur dan lingkungan, sehingga terbentuk suatu
lokasi yang serasi dan kenyamanan dalam ruang.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus |9


d) Setiap blok peruntukan dimungkinkan memiliki perbedaan
KDB yang secara total harus tetap 60% dari luas kapling.

Tabel 1 Tipe Bangunan yang Sesuai Kemiringan Lereng


Saran fungsi dan
Kemiringan
Saran pembangunan lahan tipologi bangunan
lereng
permukiman
0–3%  Sistem drainase sulit  Lokasi rekreasi dan
dipecahkan, sehingga tidak ruang terbuka
digunakan pada
pembangunan berskala besar.
3–8%  Hampir semua jenis/tipe  Semua tipe/jenis
bangunan dapat dilakukan rumah dapat
dengan perataan tanah. dibangun.
 Baik untuk bangunan sistem  Dapat digunakan
drainase sederhana dapat blok/petak lahan
bekerja pada kemiringan ini dengan tipe
bangunan tunggal.
8 – 15 %  Diperlukan turap (retaining  Sebaiknya
wall) di sekitar jalan dan lahan tipe/jenis bangunan
parkir. deret untuk
 KDB dibatasi. permukiman padat.
 Untuk tipe
bangunan tunggal
dan kopel masih
dapat digunakan
dengan
pengawasan ketat.

5.4. BANGUNAN
5.4.1. Rumah Khusus Tunggal
Merupakan sebuah tempat tinggal lengkap, dimana masa utama
tidak diletakkan tepat pada salah satu batas persil, atau tidak
menyatu dengan dengan sisi bangunan yang lain. Pada
bangunan tunggal, ketentuan unutk masa tambahan
dimungkinkan sisi-sisi masa tambahan tersebut berdempetan
dengan salah satu atau dua sisi masa tambahan tersebut
berhimpit dengan salah satu atau dua sisi persil.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 10


Gambar 1 Rumah Khusus Tunggal

5.4.2. Rumah Khusus Kopel


Merupakan dua buah tempat kediaman lengkap,
dimana kedua masa tersebut saling berdampingan dan
menyatu pada salah satu sisi kedua masa tersebut. dua
buah tempat kediaman lengkap, dimana salah satu sisi
bangunan induknya menyatu dengan sisi satu bangunan
lain atau satu tempat kediaman lain, dan masing-masing
mempunyai persil sendiri. Ketentuan lain untuk rumah kopel
yang salah satu sisinya berhimpitan dengan masa
bangunan lainnya, maka dengan pertimbangan
pengembangan masa bangunan dimasa mendatang sangat
disarankan masing-masing masa memiliki dinding terpisah,

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 11


selanjutnya antara dua pasangan dinding yang
berdampingan tidak diperkuat dengan spesi/adukan.

Gambar 2 Rumah Khusus Kopel

5.4.3. Rumah Khusus Deret


Merupakan beberapa buah tempat tinggal, dimana
sisi-sisi masa bangunannya saling bergandengan. Panjang
bangunan rumah deret sebanyak-banyaknya adalah 20 unit
rumah tinggal atau panjang deratan rumah-rumah tersebut
tidak lebih dari 75 meter jumlah lantai lebih dari atau sama
dengan dua, pendekatan rumah maisonet ditekankan untuk
lokasi dengan lahan kecil akan tetapi memiliki kepadatang
bangunan yang relatif tinggi, luas lahan minimum untuk

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 12


maisonet (rumah sederhana susun) minimum 36 m 2, atau
dapat disesuaikan dengan peraturan daerah setempat.

Gambar 3 Rumah Khusus Deret

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 13


Gambar 4 Ketentuan Jarak bangunan antar rumah

5.5. POLA PERENCANAAN LOKASI


5.5.1. Struktur Lokasi
 Radial, bentuk ini memiliki sebuah pusat yang
merupakan pusat perkembangan unti-unit selanjutnya
secara konsentrik, biasanya kepadatan berkurang
kearah luar pusat.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 14


 Memusat/kluster, bentuk ini menghubungkan tiap
keleompok ruang yang sama tinggi kepada ruang
terbuka, ruang terbuka dapat memisahkan atau
mengikat kelompok-kelompok. Dalam hal ini kelompok
hunian diikatkan oleh ruang terbuka.

 Linier, bentuk ini menyatukan perumahan yang sama


tingginya dengan sirkulasi dalam sebuah pola linier.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 15


 Simpul, bentuk ini menghubungkan tiap
kelompokdemngan kelompoknya sendiri dengan
menggunakan ruang terbuka dengan fungsi sebagi
penyangga dan pemisah.

5.5.2. Pola Kapling dan penataan pola jalan


 Rectangular/Grid
Pola grid dapat membagi
lalu lintas secara merata,
dan ukuran kapling lebih
mudah unutk mendapatkan
ukuran yang seragam,
namun untuk kondisi lahan
berkontur pola ini kurang
efisien

 Loop Sistem loop lebih


mengurangi persimpangan
lalu lintas, sehingga
membuka peluang
kelancaran lalu lintasnya,
sistem ini sangat baik
diterapkan pada lahan
dengan kondisi lahan
berkontur.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 16


 Cul de Sac
Tujuannya adalah untuk
membatasi kendaraan,
panjang jalan cul de sac
dianjurkan tidak lebih tidak
lebih dari 300 meter, pola ini
lebih dimungkinkan pada
kondisi topografi yang
berkontor, sehingga
pekerjaan cut and fill dapat
dikurangi.

 Court
Sistem Court lebih
mengurangi persimpangan
lalu lintas, serta membuka
ruang terbuka/taman didepan
kaplingsehingga membuka
peluang kelancaran lalu
lintasnya, sistem ini sangat
baik diterapkan pada lahan
dengan kondisi lahan
berkontur. Pola ini lebih boros
lahan.

 Curvilinear
Sistem Curvilinear lebih
memberikan sequen visual
yang baik pada lingkungan,
sistem ini sangat baik
diterapkan pada lahan
dengan kondisi lahan
berkontur.

5.6. PENGOLAHAN LAHAN BERKONTUR


a) hindari penempatan bangunan pada puncak sebuah bukit,
karena pada daerah ini memiliki angin yang cukup besar.
b) bilamana diperlukan membangun diatas lahan berkontur
maka, beberapa alternatif penanganannya, seperti:

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 17


 Land Fill (pengurugan), dilakukan pengurugan dengan
tanah dari luar sampai dengan lahan permukaan menjadi
relatif rata.
 Cut (Memotongan), tanah dipotong untuk selanjutnya sisa
tanah dibuang, dipotong sampai dengan lahan datar.
 Potong dan Urug (Cut and Fill), dilakukan pemotongan dan
tanah hasil pemotongan tidak dibuang keluar akan tetapi
ditempatkan pada tempat landai sehingga lahan menjadi
relatif datar.
 Pondasi Bertahap (Stepped), membuat pondasi beton
yang bertrap.
 Pondasi Cerucuk (Kayu/Bambu).

c) penggunaan lahan berkontur harus disesuaikan dengan


ketentuan fungsi sesuai dengan kapasitasnya. Untuk lokasi
dengan ketinggian lahan antara 750-1000 m di atas
permukaan laut, ditetapkan kemiringan lahan tidak melebihi
15 % (tabel 2.) dengan ketentuan:

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 18


 tanpa rekayasa untuk lokasi yang terletak pada lahan
bermorfologi datar-landai dengan kemiringan 0-8%,
 diperlukan rekayasa teknis untuk kemiringan 8-15%.

Tabel 2 Kesesuaian Penggunaan Lahan Berdasarkan Kemiringan


Lereng

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 19


5.7. KETENTUAN PRASANA DAN UTILITAS
5.7.1. Transportasi dan Drainase
Ketentuan prasarana transportasi jaringan jalan adalah
sebagai berikut:
a) lokasi perumahan hurus mudah dicapai oleh kendaraan, jalan
pencapaian kendaraan jika terdapat beberapa jalan, maka
jalur tempuh yang paling efektif yang harus dipilih dengan
kriteria;
 jalan yang mana yang menghubungkan paling singkat
kearah kota terdekat atau pusat kegiatan terdekat,
 jalan yang mana yang memiliki kapasitas yang cukup
unutk menampung lalu lintas tambahan,
 jalan yang mana yang merupakan jalur tempuh yang
paling baik pemandangannya,
 jalan yang mana yang memilki jarak pandangan yang
cukup waktu meninggalkan atau memasuki tapak.
b) jalan masuk utama dengan jalan terdekat yang sudah ada
sebaiknya dibuat sebagi berikut;
 memotong dengan sudut tegak lurus, serta pandangan
kesekitar jalan yang luas.
 Cukup panjang untuk memungkinkan pengaturan
sementara kendaraan-kendaraan menunggu kesempatan
untuk ke jalan utama,
 Terbuka secara visual, agar pengendara dapat berhati-hati
dengan tujuannya dapat memperlambat kendaraannya.
c) persyaratan klesifikasi jalan
Tabel 3 Klasifikasi Jalan Lingkungan
Badan Lebar Lebar Bahu Sempadan
Jalan Perkerasan Jalan Bangunan Minimum
Klasifikasi Jalan (m)
minimum Jalan Minimum
(m) Minimum (m) (m) Maisonet RSH
Jalan lokal sekunder
 Jalan Setapak 1,50 1,50 - 2,75 1,75
 Jalan Kendaraan 3,50 3,00 0,25 2,75 1,75
Jalan Lokal sekunder II 5,00 4,50 0,25 3,50 2,50

Jalan Kolektor Sekunder 7,00 6,50 0,25 4,50 3,50

Jalan Arteri sekunder 8,00 7,50 0,25 5,00 4,00

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 20


BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 21
b) Geometrik Jalan dan konstruksi

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 22


Gambar Konstruksi Perkerasan Jalan

Ketentuan prasarana jaringan drainase adalah bahwa


setiap lingkungan atau lokasi perumahan harus dilengkapi
jaringan drainase, sesuai SNI 02-2406-1991 tentang Tata Cara
Perencanaan Umum Drainase Perkotaan, minimum:
 Saluran pembuangan air hujan harus direncanakan
berdasarkan frekuensi intensitas curah hujan 5 tahunan dan
daya resap tanah.
 Pada permukaan tanah di sekeliling bangunan harus dibuat
saluran air hujan atau selokan yang berhubungan langsung
dengan saluran air hujan lingkungan (drainase).
 Saluran air hujan menggunakan sistem terbuka, dengan
kedudukan terpisah dari saluran pembuangan air limbah/air
kotor kamar mandi, cuci, dan kakus.
 Saluran pembuangan air hujan dapat merupakan saluran
terbuka atau tertutup, ketentuan teknis;
- Saluran terbuka berbentuk ½ lingkuran dengan ukuran
minimum diameter 20 cm;
- Bentuk bulat telur ukuran minimum 20/30 cm;

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 23


- Bahan saluran; tanah liat, beton, pasangan batu bata,
dan bahan lain;
- Kemiringan saluran minimum 2%;
- Kedalaman saluran 40 cm;
- Ketentuan lainya sesuaikan dengan SNI 02-2406-1991,
tentang Tata Cara Perencanaan Umum Drainase
Perkotaan.
 Apabila saluran tertutup, maka pada setiap perubahan aliran
harus dilengkapi dengan lubang pemeriksaan, dan pada
saluran yang lurus lubang pemeriksaan ditempatkan pada
jarak setiap 50 meter.
- Bahan saluran dari PVC, Beton, Tanah Liat, dan bahan
lain;
- Kemiringan saluran minimum 2%;
- Kedalaman saluran minimum 30 cm.

Tabel 4 Konstruksi Penampang Saluran Air Hujan

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 24


5.7.2. Air Bersih
Persyaratan air bersih untuk keperluan rumah tangga dan
keamanan kebakaran:
 Kebutuhan air bersih harus mencukupi lingkungan
perumahan dari perusahaan air atau sumber lain sesuai
ketentuan.
 Kapasitas mininum adalah 100 liter/orang/hari.
 Tersedia jaringan lingkungan hingga sambungan rumah.
 Pipa yang ditanam dalam tanah digunakan PVC, GIP,
fibreglass.
 Untuk komersial jarak antara kran kebakaran maks.100 m.
 Untuk perumahan jarak antara kran maks. 200 m. Apabila
tidak dimungkinkan kran, maka harus dibuat sumur
kebakaran.
 Perencanaan hidran sesuai SNI 03-1745-1989 tentang Tata
Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan Bahaya
Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung.

1) PDAM/PAM
 Air bersih/air minum yang digunakan berasal dari jaringan
perusahaan pengelolaan air minum (PDAM/PAM).
 Setiap perencanaan unit rumah harus tersedia jaringan
air minum/air bersih yang dihubungkan dengan jaringan

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 25


PAM, dilengkapi meter air yang letaknya mudah
dilakukan pemeriksaan oleh petugas PAM.
 Rencana lokasi pembangunan yang menggunakan
fasilitas PAM harus mendapat rekomendasi dari PAM.

2) Sumur pantek
 Sumur pantek hanya melayani maksimum 4 (empat) unit
rumah dengan syarat debit air mencukupi pada musim
kemarau.
 Jarak antara dinding sumur pantek dengan pembuangan
air kotor dan dinding rembesan tangki septik minimum 10
meter.

3) Artesis
 Sumur artesis harus mampu melayani seluruh unit rumah
dengan syarat debit air mencukupi pada musim kemarau.
 Jarak antara sumur artesis dengan jaringan air kotor
terdekat, dinding tangki septik minimum 25 (dua puluh
lima) meter.
 Penggunaan sumur artesis harus mendapat rekomendasi
dari Gubernur atau instansi yang berwenang.

4) Mata air
 Mata air yang digunakan harus memenuhi syarat debit air
dan tersedia bak penyadap, serta jaringan air atau pipa
distribusi.
 Bak penyadap dan jaringan air harus terhindar dari
pengotoran dan kerusakan fisik/konstruksi, terutama
jaringan yang melewati wilayah di luar lokasi
pembangunan.
 Penggunaan mata air harus mendapat rekomendasi dari
pemerintah daerah dan PAM.
 Air bersih/air minum yang digunakan bukan berasal dari
pengelolaan PDAM/PAM seperti: sumur artesis dan mata
air, harus dikelola oleh kelompok pengguna air atau
disebut PAM Swakarsa, yang kualitas airnya telah
direkomendasikan oleh instansi berwenang.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 26


5.7.3. Air Kotor
1) Limbah Perkotaan
 Apabila kemungkinan membuat tangki septik tidak ada,
maka lingkungan perumahan harus dilengkapi dengan
sistem pembuangan air limbah lingkungan atau harus
dapat disambung pada sistem pembuangan air limbah
kota atau dengan cara pengolahan lain.
 Sistem pembuangan air limbah kota dan sistem
pembuangan air limbah lingkungan harus dapat melayani
kebutuhan pembuangan dengan persyaratan sebagai
berikut:
- Ukuran pipa minimum 200 mm;
- Sambungan pipa harus rapat air;
- Pada jalur pipa pembawa harus dilengkapi dengan
lubang pemeriksa pada tiap pengganti arah pipa dan
minimum pada jarak setiap 50 meter pada bagian pipa
yang lurus;
- Air limbah harus melalui sistem pengolahan
sedemikian rupa sehingga memenuhi standar yang
berlaku sebelum dibuang keperairannya terbuka.

2) Limbah Rumah Tangga


 Setiap lingkungan atau lokasi perumahan harus
dilengkapi dengan sistem pembuangan air limbah yang
memenuhi ketentuan perencanaan plambing yang
berlaku.
 Rembesan dari tangki septik dapat disambung pada
sistem pembuangan air limbah kota atau dengan cara
pengolahan lain
 Pembuangan air limbah/air kotor dari kamar mandi dan
cuci harus dialirkan ke saluran pembuangan lingkungan
(riool) dengan sistem terbuka atau tertutup
 Pembuangan air limbah/air kotor dari kakus harus
dialirkan ke tangki septik yang dilengkapi dengan bak
rembesan.
 Saluran dari kakus ke tangki septik maupun dari
rembesan ke pembuangan lingkungan menggunakan
sistem tertutup.
 Pada jarak tertentu atau pada sudut-sudut bangunan
rumah harus dibuatkan bak kontrol/bak pemeriksa.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 27


 Saluran pembuangan air limbah/air kotor dari kamar
mandi dan cuci dibuat terpisah dari saluran pembuangan
kakus.

3) Tangki Septik Bersama dan Bidang resapan Bersama


 Apabila kemungkinan membuat tangki septik tidak ada,
maka lingkungan perumahan harus dilengkapi dengan
sistem pembuangan air limbah lingkungan.
 Apabila tidak memungkinkan untuk membuat bidang
resapan pada setiap rumah, maka harus dibuat bidang
resapan bersama yang dapat melayani beberapa rumah.
 Perencanaan jaringan air limbah dan sarana-sarananya
harus mengacu pada SNI-03-2398-2002 tentang Tata
Cara Perencanaan Tangki Septik dengan Sistem
Resapan, serta pedoman tentang pengelolaan air limbah
secara komunal pada lokasi perumahan yang berlaku.
 Ketentuan-ketetua lain yang belum diatur dalam buku ini
dapat mengacu pada peraturan Daerah setempat.
 Persyaratan Tengki Septik Bersama
o Muka air tanah harus cukup rendah;
o Jarak minimum antara bidang resapan bersama
dengan sumur pantek adalah 10 meter (tergantung
dari sifat tanah dan kondisi daerahnya);
o Tangki septik harus dibuat dari bahan rapat air;
o Kapasitas tangki septik tergantung oleh; kualitas air
limbah, waktu pengendapan, banyaknya campuran
yang mengendap dan frekuensi pengambilan lumpur;
o Ukuran tengki septik bersama sistem tercampur untuk
jumlah ± 50 orang adalah; Panjang 5,00 m, lebar
2,50 m, kedalaman total 1,80 m dan tinggi air dalam
tangki minimum 1 m. Untuk pengurasan ± 2 tahun
sekali;
o Ukuran tangki septik bersama sistem terpisah, untuk
jumlah orang ± 50 orang adalah; Panjang 3,00 m,
lebar 1,50 m, kedalaman 1,8 m;
o Ukuran bidang resapan adalah; Panjang 10,00 m,
lebar 9,60 m, dan dalam 0,70 m.
 Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan sanitasi
sesuai dengan SNI 03 – 2398-1991 tentang Tata Cara
Perencanaan Tangki Septik.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 28


5.7.4. Persampahan
1) Sampah Individual/Rumah Tangga
 Setiap unit rumah harus disediakan tempat sampah,
diletakkan di halaman tanpa mengurangi nilai estetika
lingkungan.
 Tempat sampah dapat dibuat dari plastik, mudah
dibersihkan, mudah diangkat, diputar atau ditumpahkan.
 Volume tempat sampah minimum 40 liter berbentuk
geometrik, silinder atau kubus.
 Bak sampah harus ada tutup dan pada bagian bawah
tersedia lubang pembuangan air.
 Kapasitas minimum tempat sampah rumah tangga 0,02
m3, berdasarkan jumlah orang dan banyaknya buangan
sampah untuk seluruh kota ± 0,002 m3/orang/hari.
Tepat sampah dibuat dari bahan rapat air.
Pemenpatannya mudah dicapai oleh petugas
kebersihan dan tidak mengganggu lalu lintas.
2) Sampah Komunal/Lingkungan Permukiman
 Setiap lokasi perumahan harus dilayani sistem
pengelolaan sampah yang mengacu pada SNI 19-2454-
2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional
Pengolahan Sampah Perkotaan, dan SNI 03-3242-1994
tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah di
Permukiman, SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara
Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah.
 Pada jalan lingkungan utama dan jalan lingkungan
pembagi atau tempat kegiatan umum, harus disediakan
tempat sampah berupa tong (bin) terbuat dari
fibreglass, diberi warna biru untuk sampah basah
(organik), dan kuning untuk sampah kering. Jarak
tempat sampah maksimum 25 m.
 Kapasitas tempat sampah lingkungan minimum ber-
volume 2 m3, berdasarkan jumlah rumah yang dilayani
200 rumah. Penempatan sampah lingkungan setiap
jarak ± 150 m.
 Fasilitas pengangkutan sampah dapat berupa gerobak
dorong, becak, dan mobil pengangkut sampah.
 Jumlah dan kapasitas angut tergantung pada jumlah
dan frekuensi sampah yang diangkut.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 29


 Jangka waktu pengangkutan dari tiap-tiap rumah atau
tempat pengumpulan sampah harus diatur maksimum 2
(dua) hari sekali.
3) Tempat Pembuangan Sampah Sementara
 Setiap lingkungan permukiman minimum harus
disediakan satu tempat pembuangan sampah
sementara (TPS). Lokasinya mudah dijangkau oleh
petugas kebersihan lingkungan (RT/RW) maupun
perusahaan pengelola sampah.
 Volume TPS harus mampu menampung timbulan
sampah lingkungan dan harus dapat terangkut setiap
hari ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA).
 TPS ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan polusi bau dan mengganggu kesehatan
lingkungan.
 Lahan TPS harus mudah dibersihkan, kedap air, lantai
terbuat dari beton tumbuk dan dapat dibebani oleh
kontainer atau truk pengangkut sampah.

5.7.5. Jaringan Listrik


 Perencanaan instalasi travo/gardu dan tiang listrik mengacu
pada peraturan yang ditetapkan PLN.
 Perlu disediakan lahan untuk pemasangan instalasi
travo/gardu.
 Tiang listrik dipasang di daerah milik jalan, tidak mengganggu
pedestrian dan tidak dipasang pada kaveling rumah.
 Jaringan listrik harus mampu melayani lingkungan
permukiman.
 Kebutuhan daya listrik setiap lingkungan perumahan harus
mendapatkan daya listrik dari PLN atau dari sumber lain.
 Setiap unit rumah harus dapat dilayani daya listrik min. 90 VA
per jiwa. Untuk sarana lingkungan 40% dari total kebutuhan
rumah tangga,
 Lokasi permukiman bebas dari jaringan listrik tegangan tinggi.
Apabila lokasi terdapat jalur tegangan tinggi, maka rencana
lingkungan permukiman mengacu pada peraturan PLN.
 Harus tersedia jaringan listrik lingkungan dan hunian, dengan
penempatan tiang listrik berada di daerah milik jalan,

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 30


 Dibutuhkan gardu listrik untuk setiap 200 KVA daya listrik
yang ditempatkan pada lahan yang bebas dari kegiatan
umum,
 Tersedia penerangan jalan dengan kuat penerangan 500 lux
dan tinggi > 5 meter dari muka tanah,
 Jarak antar tiang rata-rata 40 meter. Untuk penyesuaian
dengan keadaan permukaan tanah jalan dan sebagainya,
maka dapat diabil jarak tiang antara 30 meter sampai dengan
45 meter,
 Jarak antar kawat penghantar (konduktor) terhadap unsur-
unsur didalam lingkungan antara lain bangunan, pohon, jarak
tiang dan lain-lain harus sesuai dengan peraturan PLN yang
berlaku. Penepatan tiang dan penarikan kawat harus
sempurna dan tinggi kawat minimum 7 meter diatas
permukaan tanah,
 Pada jarak dan tempat-tempat tertentu yang dipandang perlu
harus diberi penerangan dengan persyaratan-persyaratan
yang sesuai dengan standar lingkungan,
 Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan
instalasi listrik, harus sesuai dengan SNI No. 225-1987,UDC
621.3 tentang Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia
1987,
 Ketentuan yang terkait dengan perencanaan penyediaan
listrik:
o SNI 04-6267.601-2002 tentang Istilah Kelistrikan – Bab
601: Pembangkitan, Penyaluran dan Pendistribusian
Tenaga Listrik – Umum.
o SNI 04-8287.602-2002 tentang Istilah Kelistrikan – Bab
602: Pembangkitan,
 SNI 04-8287.603-2002 tentang Istilah Kelistrikan – Bab 603:
Pembangkitan, Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik
– Perencanaan dan Manajemen Sistem Tenaga Listrik.

5.7.6. Jaringan Telepon dan Komunikasi


 Pemasangan jaringan telepon ke lokasi proyek harus
mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh PT. Telkom.
 Pemasangan jaringan dan panel box telepon harus disediakan
pada lokasi dengan luas lahan yang cukup untuk kegiatan
pengawasan dan perbaikan sambungan.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 31


 Setiap lingkungan Rukun Warga (RW) atau 40 unit rumah
disarankan tersedia 1 (satu) buah telepon umum kartu atau
coin.
 Untuk lokasi permukiman minimum 1 (satu) buah warung
telekomunikasi.
 Kebutuhan sambungan telepon setiap lingkungan rumah perlu
dilayani sambungan telepon rumah dan telepon umum.
 Rasio penyediaan telepon adalah 0,13 sambungan telepon
rumah per jiwa atau dengan menggunakan asumsi
berdasarkan tipe rumah sebagai berikut:
 Dibutuhkan minimum 1 sambungan telepon umum untuk
setiap 250 jiwa penduduk yang ditempatkan pada pusat-pusat
kegiatan lingkungan.

5.8. KETENTUAN SARANA LINGKUNGAN


5.8.1. Sarana Pendidikan
 Sarana yang berfungsi menampung kegiatan peningkatan
kualitas pendidikan anak-anak dan remaja, dapat berupa: TK,
Sekolah Dasar, SMP, SMU, dan yang sederajat.
 Dalam hal ini pengembang memiliki kewajiban menyediakan
lahan untuk sarana pendidikan berdasarkan besaran lokasi
yang akan dibangun. Lihat tabel dibawah ini.

Tabel 5 Kebutuhan Lahan Untuk Sarana Pendidikan


Luas
Radius
Penduduk Lahan Standar
No. Jenis Sarana pencapaian Lokasi
(jiwa) Min. (m2 per jiwa)
(m’)
(m2)
Di tengah
Taman
1. 1.250 500 0,28 500 m’ kelompok
Kanak-kanak
warga
Sekolah
2. 1.600 2.000 1,25 1.000 m’ -Idem-
Dasar
3. SLTP 4.800 9.000 1,88 1.000 m’
4. SMU 4.800 12.500 2,6 3.000 m’
Di tengah
Taman
5. 2.500 150 0,09 1.000 m’ kelompok
Bacaan
warga

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 32


5.8.2. Sarana Sosial, Rekreasi dan Ruang Terbuka
 Lahan yang tidak diijinkan mendirikan bangunan dan
berfungsi sebagai paru-paru lingkungan, berupa: taman
lingkungan, tempat bermain anak, lapangan terbuka untuk
olahraga
 Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah
penduduk.

Tabel 6 Kebutuhan Lahan Sarana Olahraga dan Ruang Terbuka


Luas Standar
Penduduk Radius
No. Jenis Sarana Lahan (m2 per Lokasi
(jiwa) pencapaian
Min. (m2) jiwa)
Taman/Tempat Di tengah
1. 250 250 1 100 kelompok
Bermain
tetangga.
Taman/Tempat Di pusat
2. 2.500 1.250 0,5 1.000 kegiatan
Bermain
lingkungan.
Taman dan Lap.
3. 30.000 9.000 0,3
Olahraga
4. Jalur Hijau 15 m Menyebar

5.8.3. Sarana Kesehatan


 Lahan berfungsi menampung kegiatan peningkatan kualitas
kesehatan, berupa: posyandu, puskesmas, poliklinik, balai
pengobatan, praktek dokter, BKIA, apotik.
 Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah
penduduk.

Tabel 7 Kebutuhan Lahan Sarana Kesehatan


Luas
Standar Radius
Penduduk Lahan
No. Jenis Sarana (m2 per penca- Lokasi
(jiwa) Min.
jiwa) paian (m’)
(m2)
Di tengah
1. Posyandu 1.250 60 0,048 500 kelompok
tetangga
Balai Pengobatan Di tengah
2. 2.500 300 0,12 1.000
Warga kelompok

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 33


Luas
Standar Radius
Penduduk Lahan
No. Jenis Sarana (m2 per penca- Lokasi
(jiwa) Min.
jiwa) paian (m’)
(m2)
tetangga

Tempat Praktek
6. 5.000 - - 1.500 -idem-
Dokter

5.8.4. Sarana Ibadah


 Lahan berfungsi menampung kegiatan peningkatan ritual
sesuai ketentuan pemerintah, berupa: mushola, mesjid,
gereja, wihara, dan lain sejenisnya.
 Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah
penduduk.

Tabel 8 Kebutuhan Lahan Sarana Peribadatan


Luas Radius
Penduduk Lahan Standar penca-
No. Jenis Sarana (jiwa) Min. (m2 per paian Lokasi
(m2) jiwa) (m’)
Musholla/ Di pusat
1. 250 100 0,36 100
Langgar lingkungan
Di pusat
2. Mesjid Warga 2.500 600 0,24 1.000
lingkungan
Sarana ibadah
3. Tergantung sistem kekerabatan dan adat istiadat setempat
lain

5.8.5. Sarana Perdagangan dan Niaga


 Berupa lahan berfungsi menampung kegiatan peningkatan
pelayanan ekonomi dan kualitas produksi untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari penghuni, yaitu dapat berupa: kios
atau warung kelontong, makanan dan jajanan pasar,
sembilan bahan pokok/sembako,
 kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah
penduduk.

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 34


Tabel 9 Kebutuhan Lahan Sarana Perdagangan dan Niaga
Luas
Standar Radius
Penduduk Lahan
No. Jenis Sarana (m2 per penca- Lokasi
(jiwa) Min.
jiwa) paian (m’)
(m2)
100 Di pusat
1. Warung 250 0,4 100
lingkungan
Di pusat
2. Pertokoan 6.000 3.000 0,5 2.000
lingkungan
Perbelanjaan
3. (toko/pasar 30.000 10.000 0,33
lingkungan)

5.8.6. Pelayanan Administrasi Lokal


 Berupa lahan berfungsi menampung kegiatan peningkatan
kualitas pelayanan administrasi lokal, dapat berupa: balai
RT/RW, balai pertemuan, karang taruna, kelurahan,
kecamatan, satgas keamanan lingkungan, satgas
penanggulangan bencana alam (banjir, kebakaran, gempa),
bencana kerusuhan sosial-etnis, dan lain sejenisnya.
 Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah
penduduk.

Tabel 10 Kebutuhan Sarana Pelayanan Administrasi Lokal


Luas
Standar Radius
Penduduk Lahan
No. Jenis Sarana (m2 per penca- Lokasi
(jiwa) Min.
jiwa) paian
(m2)
Balai warga/ Di pusat
1. 2.500 300 0,12 100
pertemuan lingkungan
Serbaguna/ Di pusat
2. 30.000 500 0,017
Karang Taruna lingkungan

BUKU 2 – Tata Bangunan dan Lingkungan Rumah Khusus | 35