Anda di halaman 1dari 90

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. YUMUR 28 TAHUN P 1 A 0 DENGAN TROMBOPHLEBITIS FEMORALIS DI RB HARAPAN KITA SUMBERLAWANG SRAGEN

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat tugas akhir Pendidikan Diploma III Kebidanan

satu syarat tugas akhir Pendidikan Diploma III Kebidanan Disusun Oleh : LINDA AYU SARTIKA NIM B12137

Disusun Oleh :

LINDA AYU SARTIKA NIM B12137

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA

2015

HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal

Karya Tulis Ilmiah

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. X UMUR

TAHUN

P A DENGAN TROMBOPHLEBITIS FEMORALIS

DI RB HARAPAN KITA SUMBERLAWANG

SRAGEN

Diajukan oleh :

Linda Ayu Sartika

B12137

Telah diperiksa dan disetujui Pada tanggal : Pembimbing Deny Eka Widyastuti, S.ST.,M.Kes NIK. 201188075
Telah diperiksa dan disetujui
Pada tanggal :
Pembimbing
Deny Eka Widyastuti, S.ST.,M.Kes
NIK. 201188075

ii

HALAMAN PENGESAHAN

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. X UMUR P A DENGAN TROMBOPHLEBITIS FEMORALIS DI RB HARAPAN KITA SUMBERLAWANG SRAGEN

TAHUN

Proposal Karya Tulis Ilmiah Disusun Oleh:

Linda Ayu Sartika NIM B12137

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Ujian Akhir Program D III Kebidanan Pada Tanggal

PENGUJI I

Ernawati, S.ST.,M.Kes NIK. 200886033

PENGUJI II

Deny Eka Widyastuti, S.ST, M.Kes NIK. 201188075

Tugas Akhir ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan

Mengetahui, Ka. Prodi D III Kebidanan

Retno Wulandari, S.ST NIK. 200985034

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ Asuhan Kebidana Ibu Nifas Pada Ny. Y P 1 A 0 Umur 28 tahun dengan Trombophlebitis Femoralis di RB Harapan Kita Sumberlawang Sragen” untuk memenuhi syarat tugas akhir sebagai syarat menyelesaikan pendidikan Ahli Madya Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak, Karya Tulis Ilmiah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Dra. Agnes Sri Harti, M.Si, selaku ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta.

2. Ibu Retno Wulandari, S.ST, selaku Ka. Prodi DIII-Kebidanan StiKes Kusuma Husada Surakarta.

3. Ibu Deny Eka Widyastuti, S.ST, M. Kes, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan petunjuk dan bimbingan kepada penulis.

4. RB Harapan Kita Sumberlawang Sragen, yang telah bersedia memberikan ijin pada penulis dalam pengambilan data.

5. Seluruh dosen dan staff Prodi DIII Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta atas segala bantuan yang telah diberikan.

6. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis membukaa saran demi kemajuan penelitian selanjutnya. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Surakarta, Juli 2014 Linda Ayu Sartika
Surakarta, Juli 2014
Linda Ayu Sartika

iv

Prodi D III Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta Karya Tulis Ilmiah, Juni 2015 Linda Ayu Sartika B 12.137

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. Y UMUR 28 TAHUN P 1 A 0 DENGAN TROMBOPHLEBITIS FEMORALIS DI RB HARAPAN KITASUMBERLAWANG SRAGEN TAHUN 2015

xiii+ 78 halaman +13 lampiran

INTISARI

Latar Belakang :Angka kematian ibu di Indonesia mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian ada perdarahan, infeksi, komplikasi perinium, partus macet,trauma obstetrik,emboli. Trombophlebitis femoralis pada masa nifas pada wanita penderita varicositis atau secara genetik tentan terhadap relaksi dinding vena dan statis vena. Trombophlebitis femoralis adalah penjalaran infeksi melalui vena.Jumlah ibu nifas di RB Harapan Kita Sumberlawang tahun 2014 bulan Januari sampai Desember terdapat 205 (100%), 130 orang (63,41%)ibu nifas normal dan 75 orang (36,59%) ibu nifas dengan komplikasi, 18 orang (24%) ibu nifas dengan tromboplebitis femoralis,27 orang (36%) ibu nifas dengan anemia ringan, 20 orang (26,67%) ibu nifas dengan anemia sedang, 10 orang (13,33%) ibu nifas dengan bendungan ASI. Tujuan Penelitian : Melakukan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas dengan Trombophlebitis Femoralis dengan mengunakan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah varney, mengidentifikasi kesenjangan antara teori dan praktek, mendokumentasian hasil asuhan pada ibu nifas dengan trombophlebitis femoralis dengan benar. Metode Kasus : Metode ini menggunakan laporan studi kasus. Subyek yang diambil Ny. Y dengan trombophlebitis femoralis, lokasi pengambilan kasus di RB Harapan Kita Sumberlawang Sragen, waktu pelaksanaan tanggal 29 mei 3 juni 2015, instrumen yang digunakan adalah format asuhan kebidanan ibu nifas, tehnik pengumpulan data dengan cara wawancara, dan pemeriksaan fisik. Hasil Studi Kasus :Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 6 hari secara tepat dengan pemberian KIE perawatan bayi sehari - hari, tirah baring, terapi amoxillin 3x1 500 mg, paracetamol 3x1 500 mg, furocemid 1x1 mg pagi, hasil yang dicapai Ny. Y tidak terjadi komplikasi emboli paru, sehingga ibu dalam kondisi baik dan sehat. Kesimpulan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan secara tepat, hasil yang dicapai Ny. Y tidak terjadi komplikasi emboli paru, sehingga ibu dalam kondisi baik dan tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktek.

Kata Kunci

Kepustakaan :19 (2006 2014)

: Asuhan kebidanan, Ibu nifas, Trombophlebitis femoralis

v

MOTTO

1. Ilmu lebih dari harta, ilmu akan menjaga engkau dan engkau akan menjaga harta. jika harta itu akan berkurang jika dibelanjakan, maka ilmu akan bertambah jika dibelanjakan (Sayidina Ali bin Abi Thalib).

2. Jangan jadikan kegagalan hari kemarin sebagai penghambat hari ini. Semangat untuk memebuat hari esok lebih baik, melalui hari ini.

3. Jangan selalu katakan “masih ada waktu”atau “nanti saja” lakukan segera, gunakan waktumu dengan bijak

4. Jangan pikirkan kegagalan kemarin, hari ini sudah lain, sucses pasti diraih selama semangat masih menyengat

5. Hati yang penuh syukur bukan saja merupakan kebijakan yang terbesar, melainkan merupakan induk dari segala kebijakan yang lain

6. Jadikanlah kepandaian sebagai kebahagiaan bersama, sehingga mampu meningkatkan rasa ikhlas untuk bersyukur atas kesuksesan.

PERSEMBAHAN Dengan segala kerendahan hati, Karya Tulis Ilmiah ini penulis persembahkan:

1. Babe dan mamah terima kasih untuk segalanya yang selalu memberi ku semangat, membiayai, memberi dukungan dan mendoakan sampai aku melangkah sejauh ini.

2. Kakak kuDyah ayu novitasari S.Kep yang selalu memberi semangat dan suport dalam mengerjakan karya tulis ilmiah ini.

3. Bu Ika Budi W, S.ST.,M.sc selaku pembimbing akademik yang telah membimbing saya selam 3 tahun

4. Bu Deny Eka W, S.ST, M.Kes, selaku pembimbing KTI yang telah memberikan bimbingan kepada saya dalam menyelesaikan KTI.

5. Kampus STIKES Kusuma Husada yang telah memberikan banyak pengalaman, kenangan, dan banyak ilmu dan pengetahuan.

6. Kelas 3C yang selama ini berjuang bersama-sama selama 3 tahun.

7. Teman- teman angkat 2012, aku bangga menjadi salah satu dari kalian.

vi

CURICULUM VITAE

CURICULUM VITAE Nama Tempat/ Tanggal Lahir Agama Jenis Kelamin Alamat : Linda Ayu Sartika : Sragen,

Nama Tempat/ Tanggal Lahir Agama Jenis Kelamin Alamat

: Linda Ayu Sartika : Sragen, 22 November 1994 : Islam : Perempuan : Cumpleng Rt 03/ Rw 15, Tangkil, Sragen

Riwayat Pendidikan

1. SD Negeri Tangkil 3 Sragen

LULUS TAHUN 2006 LULUS TAHUN2009 LULUS TAHUN 2012

2. SMP Muhammadiyah 1 Sragen

3. SMA Negeri 1 Sukodono

4. Prodi D-III Kebidanan STIKes Kusuma Husada angkatan 2012

vii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PERSETUJUAN

ii

HALAMAN PENGESAHAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

INTISARI

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

vii

CURICULUM VITAE

viii

DAFTAR ISI

ix

DAFTAR LAMPIRAN

x

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1

B. Perumusan Masalah

3

C. Tujuan Studi Kasus

4

D. Manfaat Studi Kasus

5

E. Keaslian Studi Kasus

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TeoriMedis

7

1. Masa Nifas

7

2. Trombophlebitis

18

3. Trombophlebitis femoralis

21

B. TeoriManajemenKebidanan

23

C. LandasanHukum

44

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. JenisStudi

45

B. LokasiStudiKasus

45

C. SubyekStudiKasus

46

D. WaktuStudiKasus

46

E. InstrumenStudiKasus

46

viii

F.

TeknikPengumpulan Data

46

 

G. Alat- alat yang dibutuhkan

50

H. JadwalPenelitian

50

BAB IV

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Kasus

52

B. Pembahasan

70

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

75

B. Saran

77

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal penelitian

Lampiran2.SuratPermohonanIjinStudiPendahuluan

Lampiran3.SuratBalasanIjinStudiPendahuluan

Lampiran4.SuratPermohonanIjin Penggunaan Lahan Lampiran5.SuratBalasan Ijin Penggunaan Lahan Lampiran 6. Surat Permohonan Menjadi Responden Lampiran 7. Surat Persetujuan Responden Lampiran 8. Lembar Pedoman Wawancara Lampiran 9. Lembar Observasi Lampiran 10. Satuan Acara Penyuluhan Lampiran 11. Leaflet Lampiran 12. Dokumentasi Studi Kasus Lampiran 13. Lembar Konsultasi

x

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Berlakang

Kematian ibu atau kematian maternal adalah kematian seorang ibu

sewaktu hamil atau dalam watu 42 hari sesudah berkhirnya kehamilan, tidak

bergantung

pada

tempat

atau

usia

kehamilan.

Indikator

yang

umum

digunakan

dalam

kematian

ibu

adalah

angka

kematian

ibu

(Maternal

Mortality

Ratio)

yaitu

jumlah

kematian

ibu

dalam

100.000

kelahiran hidup (Prawirohardjo, 2009).

Salah satu untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah

angka kematian ibu (AKI). Pada tahun 2012 AKI melonjak sangat signifikan

dari angka kematian ibu 228 per 100.000 kelahiran hidup

menjadi 359 per

100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012). Penyebab langsung kematian ibu,

yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah persalinan, yaitu

perdarahan (28%), infeksi (11%), komplikasi perinium 8%, partus macet 5%,

trauma obstetrik 5%, emboli 3%, dan ain-lain 11 (Kemenkes RI, 2013).

Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan resiko yang dihadapi ibu

selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu,

keadaan sosial ekonomi, keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang

1

2

kehamilan,

kejadian

berbagai

komplikasi

ada

kehamilan

dan

kelahiran,

tersedianya

dan

penggunaan

fasilitas

pelayanan

kesehatan

termasuk

pelayanan prenatal dan obstetri. Tingginya angka kematian ibu menunjukan

keadaan sosial ekonomi

yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan

termasuk

pelayanan

prenatal

dan

obstetri

yang

rendah

pula

(Dinkes Jateng, 2012).

 

Masa

nifas

(puererium)adalah

setelah

kelahiran

plasenta

dan

berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil

dan

di

mulai

sejak 2

jam

setelah

lahirnya

plasenta sampai

6

minggu

(Dewi dan Sunarsih,2013).

 
 

Tromboflebitispasca

partum

lebih

umum

terjadi

pada

wanita

penderita varikositis atau yang mungkin secara genetik rentan terhadap

relaksasi dinding vena dan stasis vena. Kehamilan menyebabkan stasis vena

dengan sifat relaksasi dinding vena akhibat efek progesteron dan tekanan

pada vena oleh uterus ( Dewi dan Sunarsih, 2011).

Trombophlebitis adalah penjalaran infeksi melalui vena. Hal ini

terjadi

pada

masa

nifas

karena

terbukanya

vena-vena

selama

proses

persalinan sehingga memudahkan masuknya mikroorganisme dapat dengan

mudah dan cepat menjalar keseluruhtubuh melalui sistem peredaran darah

dan menyebabkan infeksi pada organ tertentu (Maritalia, 2012). Asuhan masa

nifas di perlukan dalam periode ini karena merupakan masa untuk memenuhi

kebutuhan ibu dan bayinya. Diperkirakan sekitar 50 % kematian ibu terjadi

dalam 24 jam pertama post partum (Dewi dan Sunarsih, 2011).

3

Berdasarkan hasil studi kasus pendahuluan yang dilakukan di RB

Harapan Kita Sumberlawang tahun 2014 bulan Januari sampai Desember

terdapat 205 ibu nifas(100%) , 130 orang (63,41%)ibu nifas normal dan 75

orang (36,59%) ibu nifas dengan komplikasi, 18 orang (24%) ibu nifas

dengan tromboplebitis femoralis,27 orang (36%) ibu nifas dengan anemia

ringan, 20 orang (26,67%) ibu nifas dengan anemia sedang, 10 orang

(13,33%) ibu nifas dengan bendungan ASI.

Berdasarkan

data

diatas,

angka

kejadian

ibu

nifas

dengan

tromboplebitis femoralis rendah, tetapi

penulis tertarik untuk mengambil

kasus ini karena trombophlebitis femorais

bisa menjadi komplikasi yaitu

emboli

paru.

Maka

penulis

mengambil

kasus

dengan

judul”Asuhan

Kebidanan pada Ibu Nifas Pada Ny.Y Umur 28 Tahun P1 A0 dengan

tromboplebitis femoralis di RB Harapan Kita Sumberlawang”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas,perumusan

masalah dalam studi kasus ini adalah :”Bagaimana Asuhan Kebidanan Ibu

Nifas Pada Ny Y Umur 28 Tahun P 1 A 0 dengan trombophlebitis femoralis di

RB

Harapan

Kita

Sumberlawang

Manajemen Varney?”.

dengan

menggunakan

pendekatan

4

C. Tujuan Studi Kasus

1. Tujuan Umum

Penulis mampu melakukan asuhan kebidanan ibu nifas pada Ny,Y Umur

28

Tahun

P 1 A 0

dengan

trombophlebitis

femoralis

menggunakan

pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney,

2. Tujuan Khusus

a. Penulis mampu:

1)

Melakukan pengkajian data pada ibu nifas pda Ny.Y umur 28

Tahun P 1 A 0 dengan trombophlebitis femoralis.

 

2)

Melakukan

interpretasi

data

yang

meliputi

diagnosa

kebidanan,masalah,dan kebutuhan yang dapat terjadi pada Ny.Y

Umur 28 Tahun P 1 A 0 dengan trombophlebitis femoralis.

 

3)

Melakukan tindakan diagnosa potensial yang dapat terjadi ibu

nifas pada Ny.Y Umur 28 Tahun P 1 A 0 dengan trombophlebitis

femoralis.

4)

Melakukan tindakan segera ibu nifas pada Ny.Y Umur 28 Tahun

P 1 A 0 dengan trombophlebitis femoralis.

 

5)

Menyusun

Rencana

tindakan

asuhan

kebidanan

yang

menyeluruh ibu nifas pada Ny.Y Umur 28 Tahun P 1 A 0 dengan

trombophlebitis femorais.

5

6)

Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan dengan aman,sesuai

dengan rencana kebidanan ibu nifas pada Ny.Y Umur 28 Tahun

P 1 A 0 dengan trombophlrbitis femoralis.

7)

Melakukan evaluasi terhadap asuhan kebidanan ibu nifas pada

Ny.Y Umur 28 Tahun P 1 A 0 dengan trombophlebitis femoralis.

b. Penulis mampu menganalisa kesenjangan antara teori dan praktek

dan

kasus

nyata

di

lapangan

termasuk

faktor

pendukung

dan

penghambat pada ibu nifas pada Ny.Y Umur 28 Tahun.P 1 A 0 dengan

trombophlebitis femoralis.

D. Manfaat Studi Kasus

1. Manfaat Bagi Penulis.

Dapat

menerapkan

teori

yang

di

peroleh

di

kampus

dalam

praktek.dilahan,serta memperoleh pengalaman secara langsung dalam

masalah

memberikan

asuhan

kebidanan

pada

ibu

nifas

dengan

trombophlebitis sesuai dengan manajemen atau prosedur yang sudah

ada.

2. Bagi profesi

Di harapkan dapat menjadi pertimbangan bagi profesi bidan dalam

upaya meningkatkan mutu dalam memberikan asuhan kebidanan pada

ibu nifas dengan thrombophlebitis femoralis.

6

3. Bagi Institusi

a. RB.Harapan Kita

Untuk menambahkan informasi dan refensi sehingga dapat

menambahkan

pengetahuan

tentang asuhan

dengan trombophletis femoralis.

b. Pendidikan

kebidanan

ibu

nifas

 

Di

gunakan

sebagai

tambahan

wacana

atau

referensi.

Sehingga

dapat

menambah

pengetahuan

tentang

asuhan

trombophlebitis femoralis.

 

E.

Keaslian Studi Kasus

Sepengetahuan penulis,

penulis belum menemukan keaslian studi

kasus

dengan judul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas pada Ny.Y Umur 28 Tahun P 1 A 0

dengan Trombophlebitis Feomoralis”.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Medis

1. Masa Nifas

a. Pengertian

1)

Masa nifas (puerpenium) adalah masa setelah kelahiran plasenta

dan berakhir ketika alat-alat landungan kembali seperti keadaan

sebelum hamil dan mulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta

sampai 6 minggu (Dewi dan Sunarsih, 2011).

2)

Masa nifas ( peurperium ) masa setelah pulih kembali, mulai

 

dari

persalinan

selesai

sampai

alat-alat

kandungan

kembali

seperti

pra-hamil.Lama

masa

nifas

ini

yaitu

6-8

minggu

(Wulandari dan Handayani, 2011).

 

b. Tujuan Asuhan Masa Nifas

 

Menurut Dewi dan Sunarsih (2011),antara lain :

 

1)

Mendeteksi

adanya

perdarahan

masa

nifas

untuk

menghindarakan atau mendeteksi adanya kemungkinan adanya

perdarahan postpartum dan infeksi.

 

2)

Menjaga

kesehatan

ibu

dan

bayinya,

baik

fisik

maupun

psikologis.

 

7

8

3)

Melaksanakan skrining secara komprehensif dengan mendeteksi

masalah, mengobati dan merujuk bila terjadi komplikasi pada

ibu maupun bayinya.

 

4)

Memberikan pendidikan kesehatan diri tentang perawatan diri,

nutrisi KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan

perawatan bayi sehat.

 

5)

Memberikan

pendidikan

mengenai

laktasi

dan

perawatan

payudara.

6)

Memberikan konseling mengenai KB.

 

c. Tahapan Masa Nifas

Menurut Wulandari dan Handayani (2011), nifas di bagi tiga tahapan

yaitu :

a) Peurpenium dini

Kepulihan dimana ibu telah di perbolehkan berdiri dan berjalan-

jalan.

b) Peurpenium Intermedial

Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8

minggu

c) Remote Peurpenium

waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama

bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

9

d. Perubahan Masa Nifas

1)

Uterus

 

Perubahan pada uterus adalah proses kembalinya uterus

 

dalamkeadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini

dimulai segera.setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot

polos uterus. Pada tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis

tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilikus, besar uterus kira-kira

sama besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu beratnya

kira-kira 100 gr ( Dewi dan Sunarsih, 2011).

 

2)

Vulva Vagina

 
 

Vulva vagina mengalami penekanan serta pergangan

 

yang sangat besar selama proses persalinan dan akan kembali

secara bertahap dalam 6-8 minggu post partum, penurunan

hormon eksterogen pada masa post partum berperan dalam

penipisan

mukosa

vagina

dan

hilangnya

rugae,

dan

rugae

akan terlihat kembali pada sekitar minggu keempat(Dewi dan

Sunarsih,2011)

 

3)

Lochea

Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas

dan

mempunyai

basa

/

alkalis

dapat

membuat

organisme

berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada

vagina normal (Dewi dan Sunarsih, 2011).

10

4)

Perubahan pada sistem pencernaan

a) Nafsu makan

Ibu

biasanya

merasa

lapar

segera

setelah

sehingga

ia

boleh

mengkonsumsi

makanan

melahirkan

ringan,

ibu

sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan

pada 1-2 jam post partum ( Dewi dan Sunarsih,2011).

b) Konstipasi

Sering terjadi konstipasi pada ibu setelah melahirkan di

sebabkan karena terjadinya penurunan tonus otot selama

proses persalinan. Selain itu, enema sebelum melahirkan,

kurang

asupan

nutrisi

dan

dehidrasi

serta

dugaan

ibu

terhadap timbulnya rasa nyeri disekitar anus/perinium setiap

kali BAB juga mempengaruhi defekasi secara spontan.

Fakto-faktor

tersebut

sering

menyebabkan

timbulnya

konstipasi pada ibu nifas dalam minggu pertama. Kebiasaan

defekasi teratur perlu dilatih kembali setelah tonus otot

kembali normal (Maritalia, 2012)

c) Perubahan perkemihan

Hari pertama biasanya ibu mengalami kesulitan buang air

kecil, selain khawatir nyeri jahitan juga karena penyempitan

saluran kencing akhibat penekanan kepala bayi saat proses

melahirkan (Anggraini, 2010)

11

e. Kebutuhan dasar masa nifas

Kebutuhan dasar masa nifas menurut Dewi dan Sunarsih (2011)

antara lain :

1)

Kebutuhan nutrisi dan cairan

Ibu menyusui tidaklah terlalu ketat dalam mengatur nutrisnya,

yang terpenting bharus memenuhi sebagai berikut:

a) Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan

nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85 kal

diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan.

b) Memerlukan

tambahan

20

gr

protein

diatas

kebutuhan

normal ketika menyusui, sumber protein dapat diperoleh

dari protein hewani dan protein nabati.

c) Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter per hari dalm

bentuk air ptih, susu, dan jus buah (anjurkan ibu untuk

minum setiap kali menyusui).

d) Pil zat besi (Fe) harus diminum, untuk menambah zat gzi

setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.

e) Minum kapsul vitamin

A (200.000 unit) sebanyak 2 kali

yaitu pada 1 jam setelah melahirkan dan 24 jam stelahnya

agar dapat memberikan vitamin A kepaada bayinya melalui

ASI.

12

2)

Kebutuhan ambulasi

Ambulansi dini disebut juga early ambulation yaitu kebijakan

untuk selekas mungkin membimbing klien keluar dari tempat

tidurnya dan membimbingnya klien keluar dari tempat tidurnya

dan membimbingnya klien keluar dari tempat tidur dalam 24-48

jam postpartum ( Ambarwati dan Wulandari, 2010)

3)

Kebutuhan eliminasi

Kebutuhan eliminasi menurut Ambarwati dan Wulandari (2010)

terdiri atas :

a) Miksi

Miksi disebut normal bila dapat buang air kecil spontan

setiap 3-4 jam. Ibu diusahakan dapat buang air kecil sendiri,

bila tidak dilakukan dengan tindakan :

(1)

Dirangsang dengan mengalirkan air kran di dekat klien.

(2)

Mengompres air hangat di atas simpisis.

Bila tidak berhasil dengan cara diatas maka dilakukan

katerisasi. Karenan prosedure katerisasi membuat

klien

tidak nyaman dan resiko infeksi saluran kencing tinggi

untuk itu kataresasi tidak dilakukan sebelum lewat 6 jam

post partum. Di douwer kateter diuganti setelah 48 jam.

b) Defekasi

Biasanya 2-3 hari post postpartum masih sulit buang air

besar. Jika klien pada hari ketiga belum juga buang air besar

13

maka diberikan laksan supositoria dan minum air hangat.

Agar dapat dibuang air besar secara teratur dapat dilakukan

deanagn diit tertur, pemberian cairan yang banyak, makanan

cukup serat, olah raga.

4)

Kebutuhan persoanal hygine

Menurut Maritalia (2012) ibu nifas dianjurkan untuk :

a) Menganjurkan ibu setiap selesai BAK dan BAB siramlah

vagina dengan air bersih dari arah depan ke belakang

hingga tidak ada sisa-sisa kotoran menempel.

b) Bila keadaan vagina terlalu kotor, cucilah dengan sabun

atau cairan antiseptik yaitu berfungsi untuk menghilangkan

mikroorganisme yang terlanjur berkembangbiak didaerah

tersebut.

c) Bila keadaan luka perinium terlalu luas atau ibu dilakukan

episiotomi, dapat dilakukan denagn cara duduk berendam

dalam caqiran antiseptik selama 10 menit setelah BAK atau

BAB.

d) Mengganti pembalut setiap selesai BAK dan BAB atau

minimal 3 jam sekali atau bila ibu sudah merasa tidak

nyaman.

e) Keringkan vagina dengan tisu atau handuk lembut setiap

kali selesai membasuh agar tetap kering dan kenankakan

pe,balut yang baru.

14

f) Bila ibu membutuhkan salep antibiotik, dapat dioleskan

sebelum memakai pembalut yang baru.

5)

Kebutuhan istirahat tidur

Menurut Anggraini (2010) hal-hal yang dapat dilakukan ibu

adalah sebagi berikut :

a) Wanita pasca persalinan harus cukup istirahat, delapan

paasca persalinan ibu harus tidur terlentang untuk mencegah

perdarahan.

b) Anjurkan ibu mengkonsumsi makanan yang bermutu tinggi

dan cukup kalori, cukup protein dan banyak hal.

c) Anjurkan ibu untuk mencegah kelelehan yang berlebihan,

usahakan untuk rileks dan istirahat yang cukup, terutama

saat bayi sedang tidur.

6)

Kebutuhan seksual

Anjurkan aktifitas sexsual

yang dapat dilakukan oleh ibu nifas

menurut Ambarwati dan Wulandari (2010) sebagai berikut :

a) Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri

begitu darah merah berhenti dan ibu dapat satu atau dua

jarinya

ke

dalam

vagina

tanpa

rasa

nyeri,

begitu

ibu

merasakan aman untuk memulai melakukan suami istri

kapan saja ibu siap.

b) Banyak

budaya

yang

mempunyai

tradisi

menunda

hubungan suami istri sampai waktu tertentu setelah 40 hari

15

atau 6 minggu setelah persalinan, keputusan tergantung

kepada psangan yang bersangkutan.

c) Kerjasama

dengan

pasangan

dalam

merawat

dan

memberikan kasih sayang pada bayinya sangat dianjurkan.

7) Latihan senam nifas

Menurut Anggraini (2010) latihan senam nifas dapat diberikan

hari kedua, misalnya :

a) Ibu terlentang lalu kedua kaki ditekuk, kedua tangan ditaruh

diatas dan menekan perut. Lakukan pernapasan dad lalu

pernapasan perut.

b) posisi

Dengan

yang

sama,

amgkat

bokong

lalu

taruh

kembali.

Kedua

kaki

diluruskan

dan

disilangkan

lalu

kencangkan otot seperti menahan miksi dan defekasi.

c) Duduklah pada kursi, perlahan bungkukkan badan sambil

tangan berusaha menyentuh tumit.

f. Kunjungan masa nifas

Menurut

Ambarwati

dan

Wulandari

(2010),

kunjungan

masa nifas dilakukan paling sedikit empat kali, hal ini dilakukan

untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah

terjadinya masalah.

a) Kunjungan pertama dilakukan 6-8 jam setelah persalinan.

Tujuan kunjungan pertama masa nifas antara lain:

(1) Mencegah perdarahan pada waktu nifas karena atonia uteri.

16

(2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdaran,rujuk bila

perdarahan lanjut.

(3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota

keluarga bila terjadi perdarahan banyak.

(4)

Pemberian ASI awal.

(5)

Melakukan hubungan antara ibu dan bayi.

b) Kunjungan kedua dilakukan (6 hari setelah persalinan)

Tujuan kunjungan kedua antara lain:

(1) Memastikan

involusio

uteri

berjalan

normal,

uterus

berkontraksi, fundus uetri dibawah umbilcus, tidak ada

perdarahan dan tidak berbau.

(2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

abnormal.

(3) Memastikan

istirahat.

ibu

mendapat

cukup

makan,

cairan

dan

(4) Mamastikan ibu menyusui bayinya dengan baik dan tidak

menunjukan tanda-tanda penyakit.

(5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi,

tali

pusat,

menjaga

bayi

merawat bayi sehari-hari.

supayatetap

hangat

dan

17

c) Kunjungan ke tiga (2-3 minggu setelah persalinan)

Tujuan kunjungan ketiga antara lain :

(1) Memastikan

involusi

uteri

berjalan

nomal,

uterus

berkontrkaksi,

fundus

uteri

berkontraksi,

fundus

uteri

dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan dan tidak berbau.

(2)

Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

abnormal.

(3)

Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan

istirahat.

(4) Memastikan ibu menyusui bayinya dengan baik dan tidak

menunjukan tanda-tanda penyakit.

(5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi, tali pusat, menjagabayi supaya tetap hangat.

d) Kunjungan ke empat (4-6 minggu setelah persalinan)

(1) Menanyakan pada ibu tentang penyakit-penyakit yang ibu

(2)

dan bayin alami.

Memberi konseling KB secara dini.

(3) Tali pusat harus tetap kering, ibu perlu diberi tahubahaya

menumbuhkan sesuatu pada tali pusat bayi, misal minyak

atau bahan lain, jika ada kemerahan pada pusat, perdarahan

tercium bau busuk, bayi segera dirujuk.

(4) Perhatikan kondisi umum bayi, apakah ada ikterus atau

tidak.

18

(5) Bicarakan pemberian ASI dengan ibu dan perhatikan apakah

bayi menetek dengan baik.

g. Komplikasi masa nifas

1)

Infeksi nifas

Infeksi

nifas

adalah

peradangan

yang

terjadi

pada

organ

reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikrooeganisme

atau virus ke dalam organ reproduksi tersebut selama proses

persalinan dan masa nifas (Maritalia, 2010)

2)

Perdarahan post partum

Perdarahan post partum menurut Ambarwati dan Wulandari

(2010) yaitu, Perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24

jam setelah bayi lahir. Perdarahan dibagi menjadi dua tahap

yaitu:

a) Perdarahan Post partum primer (early post aprtum) yang

terjadi dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir.

b) Post partum sekunder ( late post partum ) terjadi setelah 24

jam pertama sejak bayi lahir.

2.

Trombophlebitis

a. Pengertian

Tromboplebitis adalahpenjalaran infeksi melalui vena. Hal

ini terjadi pada masa nifas karena terbukanya vena-vena selama

19

proses persalinan sehingga memudahakan masuknya mikroorganisme

pathogen (Maritalia, 2012).

b. Macam- macam Trombophlebitis

Menurut maritalia (2012), trombophlebitis ada 2 macam yaitu :

1)

Trombophlebitis Pelvic

Vena-vena

dinding

rahim

ligamentum

latum

seperti

vena

ovarica,

vena

uterina,

vena

hipogastrika.

Vena

ovarica

merupakanvena

paling

sering

meradang

karena

vena

ini

mengalirkan darah dari luka ke bekas plasenta. Penjalarannya

yaitu dari vena ovarica kiri ke vena renalis, vena ovarica kanan

cava inferior.

2)

Trombophlebitis Femoralis

Vena-vena tungkai seperti vena femoralis, poplitea, dan saphena.

Peradangan pada vena ini berasal trombophlebitis vena shapena

magna atau peradangan

vena femoralis

sendiri.

Dapat

juga

terjadi karena aliran darah yang agak lambat didaerah lipat paha

akhibat

vena

tertekan

lig.inguinale.

Pada

trombophlebitis

femoralis dapat terjadi oedema ekstermitas bawah yang dimulai

pada jari kaki naik ke kaki, betis, dan paha. Biasanya hanya 1

kaki yang bengkak, tapi dapat juga keduanya.

c. Tanda dan gejala trombophlebitis

Menurut Dewi dan Sunarsih (2011) tanda dan gejala tromboplebitis

yaitu :

20

1)

Kemungkinan peningkatan suhu ringan.

 

2)

Takikardi ringan.

 

3)

Awitan

tiba-tiba

nyeri

sangat

berat

terjadi

pada

tungkai

diperburuk dengan pergerakan atau saat berdiri.

 

4)

Edema pergelangan kaki, tungkai, dan paha.

5)

Tanda

homan

pasti,

tanda

homan

diperiksa

dengan

menempatakan satu tangan dilutut ibu dan memberikan tekanan

ringan untuk menjaga kaki tetap lurus. Jika terdapat nyeri betis

saat dorsifleksi kaki, tanda ini positif.

 

6)

Nyeri saat penekanan betis.

 

7)

Nyeri tekan sepanjang aliran pembuluh darah yang terkena

dengan pembuluh darah dapat teraba.

d. Faktor Trombophlebitis :

Menurut Marmi (2011) adalah sebagai berikut :

1)

Obesitas

2)

Peningktan umur maternal dan tingginya paritas

3)

Riwayat sebelum nya mendukung

4)

Anastesi dan pembedahan dengan kemungkinan trauma yang

lama pada keadaan pembuluh vena

5)

Anemi maternal

6)

Hipotermi atau penyakit jantung

7)

Endometritis

21

e. Penanaganan Trombophlebitis

Menurut Dewi dan Sunarsih (2011) :

1)

Tirah baring

2)

Elevasi ekstermitas yang terkena

3)

Kompres panas

4)

Stoking elastis

5)

Analgesia jika dibutuhkan

f. Evaluasi

Menurut Dewi dan Sunarsih (2011) :

1) Penurunan suhu.

2)Berkurangnya rasa nyeri pada tungkai.

3) Berkurangnya oedema pada kaki ,tungkai, dan paha.

4) Berkurangnya nyeri tekan pada betis.

5) Berkurangnya nyeri tekan sepanjang aliran pembuluh darah.

3. Trombophlebitis femoralis

a. Pengertian

Trombophlebitis

feomoralis

adalah

Vena-vena

tungkai

seperti vena femoralis, poplitea, dan saphena. Peradangan pada vena

ini berasal trombophlebitis vena shapena magna atau peradangan

vena femoralis sendiri. Dapat juga terjadi karena aliran darah yang

agak lambat didaerah lipat paha akhibat vena tertekan lig.inguinale.

Pada trombophlebitis femoralis dapat terjadi oedema ekstermitas

22

bwah yang dimulai pada jari kaki naik ke kaki, betis, dan paha.

Biasanya hanya 1 kaki yang bengkak, tapi dapat juga keduanya

(Maritalia,2012).

b. Tanda dan gejala Trombophlebitis femoralis

Menurut Dewi dan Sunarsih (2011) adalah sebagai berikut :

1)

Kemungkinan peningkatan suhu ringan.

 

2)

Awitan

tiba-tiba

nyeri

sangat

berat

terjadi

pada

tungkai

diperburuk dengan pergerakan atau saat berdiri.

 

3)

Tanda

homan

pasti,

tanda

homan

diperiksa

dengan

menempatakan satu tangan dilutut ibu dan memberikan tekanan

ringan untuk menjaga kaki tetap lurus. Jika terdapat nyeri betis

saat dorsifleksi kaki, tanda ini positif.

 

4)

Nyeri saat penekanan betis.

 

5)

Nyeri tekan sepanjang aliran pembuluh darah yang terkena

dengan pembuluh darah dapat teraba.

c. Komplikasi trombophlebitis femoralis

 

Resiko

terbesar

pada

trombophlebitis

femoralis

adalah

emoboli

paru,

trauma

sekali

terjadi

pada

trombophlebitis

vena

profunda dan kecil kemungkinan nya terjadi pada trombophlebitis

superfisial ( Dewi dan Sunarsih, 2011).

d. Patofisioogi trombophlebitis

Patofisiologis terjadinya trombosis vena adalah sebagai berikut :

Menurut Dewi dan Sunarsih (2011) :

23

1. Stasis vena.

2. Kerusakan pembuluh darah.

3. Aktivitas faktor pembekuan.

Faktor yang sangat berperan terhadap timbulnya suatu trombosis vena adalah statis aliran darah dan hiperkoagulasi.

e. Penanaganan Trombophebitis Femoralis :

Menurut Dewi dan Sunarsih (2011) :

1)

Tirah baring

2)

Elevasi ekstermitas yang terkena

3)

Kompres panas

4)

Stoking elastis

5)

Analgesia jika dibutuhkan

f. Evaluasi

Evaluasi yang diharapkan

dalam melakukan asuhan kebidanan

dengan kasus trombophlebitis femoralis yaitu hilangnya masalah pada

pasien nifas dengan trombophlebitis femoralis yaitu sembuhnya nyeri

betis dan bengkak nya (Dewi dan Sunarsih, 2011).

B. Teori Manajemen Kebidanan

1.

Pengertian

 

Manajemen

kebidanan

adalah

pendekatan

yang

digunakan

oleh

bidan

dalam

menerapkan

metode

pemecahan

masalah

secara

sistematis,mulai

dari

pengkajian,

analis

data,

diagnosa

24

kebidanan,

perencanaan,

pelaksanaan

( Ambarwati dan Wulandari, 2010)

dan

evaluasi

2. Proses Asuhan Manajemen Kebidanan

a. langkah pertama :Pengkajian data

Pengkajian

data

adalah

mengumpulkan

semuadata

yang

dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan langkah

pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat dari

semua sumber yang berkaitan dengam kondisi pasien (Ambarwati

dan Wulandari, 2010)

1)

Data Subyektif (anamnesa)

a)

Identitas

 

Menurut

Ambarwati

dan

Wulandari

(2010),

 

identitas

untuk

mengetahui

status

klien

secara

lengkap

sehingga sesuai dengan sasaran, meliputi :

1)

Nama

:

Nama jelas lengkap, bila perlu

 

nama

panggilan

sehari-hari

agar

tidak

keliru

dalam

memberikan penanganan.

2)

Umur

:

Di catat dalam tahun untuk

 

mengetahui

adanyaresiko

seperti kurang dari 20 tahun,

alat-alatreproduksi

belum

matang,

mental

dan

25

psikisnyabelum

siap.

Sedangkan umur lebih dari 35

tahun

rentan

sekali

untuk

terjadi perdarahandalam masa

3)

Agama

:

nifas.

 

Untuk mengetahui keyakinan

pasien

tersebut

untuk

membimbing

atau

4)

Suku bangsa

:

mengarahkan pasien berdoa.

 

Berpengaruh

pada

adat-

istiadat atau kebiasaan sehari-

5)

Pendidikan

:

hari.

 

Berpengaruh dalam tindakan

kebidanan

danuntuk

mengetahui

sejauh

mana

tingkat

intelektualnya,

sehingga

bidan

dapat

memberikan konseling sesuia

6)

Pekerjaan

:

dengan pendidikannya.

 
 

Gunanya

untuk

mengetahui

mengukur

tingkat

sosial

ekonominya, karena ini juga

mempengaruhi

dalam

gizi

26

7)

Alamat

:

pasien tersebut.

 

Ditanyakan

untuk

mempermudah

kunjungan

b) Keluhan utama

rumah bila diperbolehkan.

Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang

berkaitan dengan masa nifas (Ambarwati dan Wulandari,

2010).

Keluhan

pada

ibu

nifas

dengan

trombophlebitis

femoralis yaitu nyeri sangat berat pada tungkai dan bengkak

pada

pergelangan

kaki,tungkai,dan

paha

(Dewi dan Sunarsih,2011).

 

c) Riwayat penyakit

 

(1)

Riwayat penyakit sekarang

 

Data-data

ini

diperlukan

untuk

mengetahui

kemungkinan

adanya

penyakit

yang

ada

hubunganya

dengan

masa

nifas

dan

bayinya

(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

 

(2)

Riwayat penyakit sistemik

 

Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan

adanya

riwayat

atau

penyakit

akut,

kronis

seperti

:

Jantung,

DM,

Hipertensi,

Asma,

yang

dapat

mempengaruhi

masa

nifas

(Ambarwati dan Wulandari, 2008).

27

(3)

Riwayat penyakit keluarga

 

Data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan

adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan

kesehatan

pasien

dan

bayinya,

yaitu

apabila

ada

penyakit keluarga yang menyertainya (Ambarwati dan

Wulandari, 2010)

 

(4)

Riwayat keturunan kembar

 

Untuk

mengetahui

ada

tidaknya

keturunan

kembar

dalam keluarga (Sulistyawati, 2011).

(5)

Riwayat operasi

 

Untuk mengetahui riwayat operasi yang pernah dijalani

ibu (Taufan, 2011).

d) Riwayat menstruasi

Dikaji untuk mengetahui riwayat menstruasi antara

lain

adalah

manarche,

siklus

menstruasi,

lamanya

menstruasi, banyaknya darah, keluhan utama yang dirasakan

saat haid( Sulistyawati,2013).

e) Riwayat KB

Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB

dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan

selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah

28

masa

nifas

ini

dan

beralih

ke

kontrasepsi

apa

(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

 

f) Riwayat perkawinan

 
 

Untuk

mengetahui

berapa

kali

menikah,

status

menikah syah atau tidak, karena yang jelas akan berkaitan

dengan psikologisnya sehingga akan mempengaruhi proses

nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2010).

g) Riwayat kehamilan, persalinan nifas yang lalu

Untuk mengetahui berapa kali ibu hamil, apakah

pernah abortus jumlah anak, cara persalinan

yang lalu,

penolong

persalinan,

keadaan

nifas

yang

lalu

(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

h) Riwayat kehamilan ini

Dikaji untuk mengetahui hari pertama haid terakhir

dan apakah siklus menstruasi normal, gerakan janin(kapan

mulai dirasakan dan apakah ada perubahan yang terjadi),

masalah dan tanda-tanda bahaya, keluhan-keluhan lazim

pada kehamilan, penggunaan obat-obatan (termasuk jamu-

jamuan)

serta

kekhawatiran

lain

(Dewi dan Sumarsih, 2011).

i) Riwayat persalinan sekarang

Untuk

mengetahui

tanggal

yang

dirasakan

persalinan,

jenis

persalinan, jenis kelamin anak, keadaan bayi meliputi PB,

29

BB,

penolong

persalinan.

Hal

itu

perlu

dikaji

untuk

mengetahui apakah proses persalianan mengalami kelainan

atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini

(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

j) Pola kebiasaan sehari-hari

(1) Nutrisi

Menggambarkan

tentang

pola

makan

dan

minum,

frekuensi,

banyaknya,

jenis

makanan,

makanan

pantangan(Anggraini, 2010).

(2) Eliminasi

Mengambarkan

pola

fungsi

sekresi

yaitu

kebiasaan

buang

air

besar

meliputi

frekuensi,

jumlah,

konsitensi

dan

bau

serta

kebiasaan

buang

air

kecil

meliputi

frekuensi,

warna,

jumlah

(Ambarwati dan Wulandari, 2010)

(3) Pola istirahat

Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa

jam pasien tidur, istirahat sangat penting bagi ibu nifas

karenadengan istirahat yang cukup dapat mempercepat

penyembuhan

(Amabarwati

dan

Wulandari,

2010).

Pada

ibu

nifas

dengan

trombophlebitis

diharapkan

istirahat yang cukup dan tirah baring mencegah edema

30

(4) Data psikososial

Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap

bayinya. Wanita mengalami banyak perubahan emosi

atau

psikologis

selama

masa

nifas

sementara

menyesuaikan

diri

menjadi

seorang

ibu

(Ambarwati dan Wulandari, 2010)

(5)

Kebiasaan sosial budaya

Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut

 

adat

istiadat

yang

akan

menguntungkan

atau

merugikan

pasien

khususnya

pada

masa

nifas

misalnya

pada

kebiasaan

pantangan

makanan

(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

 

(6)

Personal Hygene

 

Untuk

mengetahui

apakah

ibu

selalu

menjaga

kebersihan

tubuh

terutama

pada

daerah

genetalis,

karena pada masa nifasmasih mengeluarkan

lochea

(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

(7) Aktifitas

Menggambarkan pola aktifitas pasien sehari-hari, pada

pola

ini

perlu

dikaji

pengaruh

aktifitas

terhadap

kesehatanya ( Ambarwati dan Wulandari, 2010).

31

2)

Data Obyektif

Dalam

menghadapi

masa

nifas

dari

seorang

klien,

seorang

bidan

harus

mengumpulkan

data

untuk

memastikan

bahwa

keadaan

klien

dalam

keadaan

stabil

(Ambarwati dan Wulandari, 2010)

a) Pemeriksaan umum

(1) Keadaan umum

Untuk mengetahui keadaan umum ibu apakah baik,

cukup atau kurang (Ambarwati dan Wulandari, 2010).

(2) Kesadaran

Untuk

mengetahui

tingkat

kesadaran

ibu

mulai

dari

composmentis,

apatis

sampai

koma

(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

(3) Tanda vital

(a) Tekanan darah

Tekanan darah normal berkisar antara >90/60 dan

<140/90 mmHg. Pada beberapa kasus ditemukan

keadaan hipertensi dengan TD >140/90 mmHg

post partum tetapi keadaan ini akan menghilang

dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit lain

32

yang

menyertainya

dalam

2

bulan

pengobatan(Anggraini, 2010).

(b)

Suhu

 

Suhu normal berkisar antara 36,5°C sampai 38,0°C

peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam

pertama masa nifas pada umumnya di sebabkan

oleh dehidrasi, yung di sebabkan oleh keluarnya

cairan pada waktu melahirkan, selain itu bisa juga

di sebabkan karena istirahatdan tidur diperpanjang

selama awal persalinan, pada umumnya setelah 12

jam

post

partum

suhu

tubuh

kembali

normal.

Kenaikan

suhu

yang

mencapai

>

38°C

adalah

mengarah

ke

tanda-tanda

infeksi(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

 

(c)

Nadi

Nadi normal berikisar antara 60 80 x/menit,

denyut nadi diatas 100 x/menit pada mas nifas

adalah mengindikasinya adanya suatu infeksi, hal

ini salah satunya bisa diakhibatkan oleh proses

persalinan sulit atau karena kehilangan darah yang

berlebihan (Ambarwati dan Wulandari,2010).

33

Beberapa

ibu

post

partum

kadang-kadang

mengalami

brakikardi

puerperal,

yang

denyut

nadinya

mencapai

serendah-rendahnya

40-50

x/menit, pernafasan harus berada dalam rentang

yang

normal,

yaitu

sekitar

20

30

x/menit(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

(4) Tinggi badan

Untuk mengetahui tinggi badan pasien kurang dari

145

cm

atau

tidak,

termasuk

resti

atau

tidak

(Romauli, 2011)

 

(5) Berat badan

 

Untuk

mengetahui

kenaikan

berat

badan

atau.

penurunan berat badan ( Romauli, 2011).

b) Pemeriksaan sistematis

Pemeriksaan sistematis yaitu pemeriksaan dengan melihat

klien dari ujung rambut sampai ujung kaki.

1)

Kepala

(a)

Rambut

Untuk mengetahui apakah rambutnya bersih atau

kotor, pertumbuhan, warna, mudah rontok atau

tidak (Romauli, 2011).

(b)

Muka

34

keadaan muka pucat atau tidak, adakah kelainan,

adakah oedema (Romauli, 2011).

(c)

Mata

Bentuk simetris, konjungtiva normal merah muda,

bila

pucat

menandakan

anemia.

Sklera

normal

berwarna

putih,

bila

kuning

menandakan

ibu

mungkin terinfeksi hepatitis (Romauli, 2011).

(d)

Hidung

 

Normal,

kelainan

bentuk,

kebersihan

cukup

(Romauli, 2011).

 

(e)

Telinga

 

Untuk mengethui telinga normal atau tidak, ada

serumen yang berlebihan atau tidak, tidak berbau,

bentuk simetris (Romauli, 2011).

 

(f)

Mulut/gigi/gusi

 

Untuk mengetahui apakah ada sariawan atau tidak,

apakah

ada

caries,

dan

keadaan

gusi

(Romauli, 2011).

 

(g)

Leher

 

Untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar

tyroid, apakah ada pembesaran kelenjar limfe, dan

apakah

ditemukan

(Romauli, 2011)

bendungan

vena

jugularis

35

(h) Dada dan axilla

Untuk

massa

mengetahui

ada

tidaknya

benjolan

atau

pada

payudara,hiperpigmentasi

areola,

puting susu bersih dan menonjol (Romauli, 2011).

(1)

Mammae

 

Untuk mengetahui adanya pembesaran atau

tidak,

simetris

atau

tidak,

puting

susu

menonjol atau tidak, adanya benjolan atau

tidak (Sujiyatini, 2009).

 

(2)

Axilla

Untuk mengetahui adanya pembesaran atau

tidak,

nyeri

(Sujiyatini, 2009).

(i) Ekstermitas

tekan

atau

tidak

Dikaji ekstermitas atas dan bawah. Atas dikaji ada

atau

tidak

gangguan/

kelainan

dan

bentuk.

Bawah

dikaji

bentuk,

oedem,

dan

varices(Sulistyawati, 2009).Dalam kasus

ibu

nifas

dengan Trombophlebitis femoralis

tanda homan

diperiksa dengan menempatkan satu tangan dilutut

ibu dan memberikan tekanan ringan untuk menjaga

kaki

tetap

lurus.

Jika

terdapat

nyeri

36

betis

saat

dorsifleksi

kaki,

(Dewi dan Sunarsih, 2011).

tanda

ini

positiv

c) Pemeriksaan khusus Obstetri (Lokalis)

(1) Abdomen

(a)

Inspeksi

 

Untuk mengtahui pembesaran uterus, ada linea atau

tidak,

ada

strieatau

tidak,

ada

bekas

operasi

atau

tidak,

ada

pelebaran

vena

atau

tidak

(Ambarwati dan Wulandari, 2010).

(b)

Palpasi

 

Palpasi

merupakan

teknik

pemeriksaan

yang

menggunakan indra peraba, tangan dan jari-jari

adaah

instrumen

yang

sensitiv

untuk

mengkaji

kontraksi, tinggi fundus uteri dan kandung kemih

(Nursalam, 2009).

 

(c)

Perkusi

Perkusi adalah pemeriksaan dengan pengetukan

pada tandon patella menggunkan palu refleks untuk

membandingkan

bagian

yang

kiri

dan

kanan

(Mandrawati,2008)

 

(2) Anogenital

Untuk

mengetahui

adanya

varices

atau

tidak,

mengetahui adanya pembengkakan kelenjar bartholini,

37

mengetahui

pengeluaran

yaitu

perdarahan

dan

flour albus (Wiknjosastro, 2005).

(3) Pemeriksaan penunjang

Data

penunjang

meliputi

pemeriksaan

laboratorium,

Rontgen dan USG (Varney, 2007).

b. Langkah kedua : Interpretasi Data

Mengidentifikasikan

diagnosa

kebidanan

dan

masalah

berdasarkan intepretasi yang benar-benar atas data-data yang telah

dikumpulkan. Dalam

langkah

ini

data

yang

telah

dikumpulkan

diintepretasikan

menjadi

diagnosa

kebidanan

dan

masalah.

Keduanya

digunakan

karena

beberapa

masalah

tidak

dapat

diselesaikan seperti diagnosa tetapi membutuhkan penanganan yang

dituangkan dalam rencana asuhan terhadap pasien, masalah sering

berkaitan dengan pengalaman wanita yang diidentifikasikan oleh

bidan (Ambarwati dan Wulandari, 2010).

1)

Diagnosa kebidanan

Diagnosa

kebidanan

adalah

diagnosa

yang

dapat

ditegakan yang berkaitan dengan para, abortus, anak hidup,

umur ibu dan keadaan nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2010).

Diagnosa : Ny. X umur

tahun P

A

berapa hari

post partum dengan trombophlebitis femoralis.

Data dasar yang mengikuti :

38

Data subyektif

Ibu

mengatakan

nyeri

pada

tungkai

dan

bengkak

(Dewi dan Sunarsih,2011).

 

Data obyektif

 

Menurut Ambarwati dan Wulandari (2010) yaitu :

 

a) TTV

 
 

Meliputi tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi.

 

b) Fundus (TFU)

 

c) Lochea

d) pemeriksaan

Hasil

Homan

sign

+

/positif

(Dewi dan Sunarsih, 2011).

e) Nyeri tekan pada betis (Dewi dan Sunarsih, 2011)

f) Nyeri tekan sepanjang aliran pembuluh darah yang terkena

dengan pembuluh darah dapat teraba (Dewi dan Sunarsih).

2)

Masalah

Menurut Anggraini (2010) Permasalahan yang muncul

berdasarkan pernyataan pasien. Data dasar meliputi :

a) Data subyektif

Data yang didapat dari hasil anamnesa pasien.

b) Data obyektif

Data yang didapat dari hasil pemeriksaan.

Masalah

trombophlebitis

yang

yaitu

muncul

pada

ibu

nyeri

pada

tungkai

nifas

dengan

dan

bengkak,

39

3)

homan

tidak

sign

+(positif)

nyaman

dengan

dan

merasa

keadaan

(Dewi dan Sunarsih, 2011).

Kebutuhan

khawatir

serta

yang

dirasakan

Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien

berdasarkan

keadaan

dan

masalahnya.kebutuhan

ibu

nifas

dengan trombophlebitis femoralis yaitu memberikan informasi

tentang keadaan

ibu

bahwa ibu

mengalami

trombophlebitis

femoralis , memberikan dukungan pada ibu untuk tetap merwat

bayi

nya

dan

mengurangi

Wulandari, 2010).

rasa

khawatir

(Ambarwati

dan

c. Langkah ketiga : Diagnosa Potensial

Mengidentifikasiakan diagnosa atau masalah potensial yang

mungkin akan terjadi.

Pada langkah ini diidentifikasikan masalah

atau

diagnosa

potensial

berdasarkan

rangkaian

masalah

dan

diagnosa,

hal

ini

membutuhkan

antisipasi,

pencegahan,

bila

memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal

tersebut benar-benar terjadi. Melakukan asuhan yang aman penting

sekali dalam hal ini (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Diagnosa

potensial

terjadi

pada

ibu

nifas

dengan

trombophlebitis

adalah

emboli paru (Dewi dan Sunarsih, 2011).

40

d. Langkah keempat : Antisipasi

Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen

kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera

oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani

bersama dengan tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien

(Ambarwati

dan

Wulandari,

2010).

Pada

trombophlebitis

perlu

tindakan segera yang dilakukan pada kasusadalah kompresi vena

(Dewi dan Sunarsih, 2011).

e. Langkah kelima : Rencana Tindakan

Langkah-langkah

ini

ditentukan

oleh

langkah-langkah

sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah

atau diagnosa

yang telah diindentifikasi atau di antisipasi. Rencana asuhan yang

menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat dari kondisi

pasien atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan