Anda di halaman 1dari 7

BAB VI

UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH

Unit utilitas merupakan unit penunjang dalam suatu produksi agar dapat berjalan
lancar. Unit utilitas memegang peran penting dalam produksi karena unit ini
berfungsi untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan proses produksi seperti: air,
steam, dan listrik serta me-recovery kembali cairan yang telah digunakan.
Unit utilitas di PT. Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk Perawang terdiri dari:
1. Unit penyediaan air
2. Unit penyediaan steam
3. Unit penyediaan listrik
4. Unit pengolahan limbah

6.1 Unit Penyediaan Air


Sumber air yang digunakan oleh PT. Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk Perawang
berasal dari Sungai Siak dan Sungai Perawang, dimana air ini akan diolah terlebih
dahulu sebelum digunakan sesuai dengan kebutuhan.
Adapun data hasil analisa sumber air yang akan diolah dapat dilihat pada tabel
6.1.
Tabel 6.1 Hasil Analisa Sumber Air
Parameter Air dari Sungai Siak Air dari Sungai Perawang
pH 5,6 5,9
Kesadahan (ppm) 12,1 10,5
Kekeruhan (ppm) 150 225
Konduktivitas (ppm) 58 59,2
Kadar SiO2 (ppm) 4,12 2,87
(Data Laboratorium Seksi Water Treatment PT. IKPP Perawang, 2017)
Hasil pengolahan air ini akan digunakan sebagai air proses, air umpan boiler,
air pendingin dan air minum. Berikut ini adalah penjelasan mengenai jenis-jenis air
tersebut beserta syarat-syaratnya.

58
59

6.1.1 Air Proses


Air proses yang digunakan merupakan air demineralisasi yang bebas dari
mineral ion positif dan ion negatif yang dapat merusak alat dan mengganggu
proses. Proses demineralisasi dilakukan dengan menggunakan resin penukar
kation dan resin penukar anion.Adapun kondisi air proses dapat dilihat pada
tabel 6.2.
Tabel 6.2 Kondisi Air Proses
Parameter Kadar
pH 8-9
Konduktivitas (ppm) <2
SiO2(ppm) < 0,1
Kesadahan total 0
(Data Laboratorium Seksi Water Treatment PT. IKPP Perawang, 2017)

6.1.2 Air Umpan Boiler


Air umpan boiler yang digunakan selain melalui proses demineralisasi juga
di degasifer untuk menghilangkan gas O2 dan CO2. Air ini juga ditambahkan
senyawa fosfat untuk menghindari terbentuknya kerak, hidrazin N4H4 untuk
menghilangkan terbentuknya O2 dan ditambah NaOH untuk mengatur pH.
Adapun syarat air umpan boiler dapat dilihat pada tabel 6.3
Tabel 6.3 Syarat Air Umpan Boiler
Parameter Kadar
pH 9,5-10,5
Konduktivitas (ppm) < 30
SiO2(ppm) <4
Kesadahan total 0
PO4(ppm) < 11
N2H2(ppm) < 0,04
(Data Laboratorium Seksi Water Treatment PT. IKPP Perawang, 2017)
60

6.1.3 Air Pendingin


Air pendingin harus memnuhi syarat bebas bakteri sehingga perlu ditambah
gas C12, pH netral (7,5-8,0) maka perlu pengaturan pH berupa asam dan bebas
korosi sehingga perlu ditambahkan fosfat.

6.1.4 Air Minum


Kualitas air minum dengan standar yang ditetapkan pemerintah. Kualitas air
minum dapat dilihat pada tabel 6.4
Tabel 6.4 Kualitas Air Minum
Parameter Kadar
Bau Tidak ada
Warna Jernih
pH 6,5-7
Kekeruhan (ppm) < 25
Kesadahan (ppm) < 75
Fe (ppm) 1
(Laboratorium Seksi Environmental PT. IKPP Perawang, 2017)

6.2 Unit Penyediaan Steam


Kebutuhan steam dipenuhi oleh Unit Recovery Boiler (R/B) dan sebagian lagi
diproduksi oleh multi fuel boiler. Proses di multi fuel boilersama dengan proses di
R/B, yang membedakan adalah bahan bakarnya. Recovery boiler menggunakan smelt
sebagai bahan bakar sedangkan multi fuel boiler menggunakan kulit kayu dan chip
yang tidak memenuhi syarat dari proses wood preparation.
Pada boiler, air yang digunakan adalah pure water. Air sebagai bahan baku
utama dipanaskasn sehingga dihasilkan uap panas (steam), steam bertekanan tinggi,
menengah, dan rendah. Steam bertekanan tinggi dan menengah dikirim ke turbin
generator untuk menghasilkan listrik sedangkan steam bertekanan rendah dikirim ke
heater untuk menghasilkan energi yang sama. Dari heater dikirim ke unit-unit yang
membutuhkan seperti pulp making, pulp machine, dan lain-lain. Steam bertekanan
tinggi dan menengah dapat diubah menjadi steam bertekanan rendah dengan
resuding valve.
61

6.3 Unit Penyediaan Energi Listrik


PT. IKPP Perawang membutuhkan listrik untuk keperluan antara lain:
a. Proses produksi pabrik, penerangan pabrik, kantor, taman, jalan, dan perumahan
karyawan.
b. Bengkel, dan lain-lain.
Karena kebutuhan listrik yang sangat banyak maka perlu diadakan pembangkit
tenaga listrik. Pembangkit tenaga listrik berasal dari recovery boiler dimana steam
yang bertekanan tinggi digunakan untuk menggerakkan turbin generator dan
mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Selain turbin generator, PT. IKPP
Perawang juga memanfaatkan diesel generator sebagaicadangan pembangkit tenaga
listrik.
Gambaran umum listrik yang ada di lingkungan pabrik, antara lain:
a. Distribusi jaringan listrik,powernya disuplay dari dari T/G (Turbin Generator)
dan D/G (Diesel Generator). Area distribusi mencakup: pulp mill, paper mill,
dan mill site.
b. Dengan sistem frekuensi 50-60 Hz.
c. Tegangan distribusi 33 KV sampai dengan 220 V. Untuk kelengkapan distribusi
listrik, di lokasi pabrik memakai berbagai alat proteksi dan pemutus arus.
d. Setelah selesainya proyek 1300 T/D maka sistem distribusi power memakai
sistem interlokasi 1200, 1300 T/D.
(Resume PT. IKPP Corp, 1995)

6.4 Unit Pengolahan Limbah


Limbah merupakan sisa hasil produksi yang dapat berbentuk padat, cair maupun
gas. Dalam pengolahan limbah yang dihasilkan oleh PT. Indah Kiat Pulp and Paper,
Tbk telah memperoleh sertifikasi ISO 14001 yang menyatakan bahwa limbah yang
dihasilkan oleh PT. Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk telah sesuai dengan standar
lingkungan dan telah menggunakan teknologi ramah lingkungan. Pengolahan limbah
tersebut meliputi tiga bagian yaitupengolahan limbah cair, limbah padat, dan limbah
gas.
62

6.4.1 Pengolahan Limbah Cair


Limbah cair yang tidak dapat di-reuse, recycle, recovery dialirkan ke tiga
unit pengolahan limbah yang menggunakan sistem pengolahan secara biologi
(pemanfaatan mikroorganisme atau bakteri) dengan menggunakan lumpur aktif
untuk menurunkan kadar pencemaran limbah tersebut yang masing-masing
mempunyai kapasitas desain: EN-2 = 80.000 m3/hari, EN-8= 50.000 m3/hari dan
EN-9= 80.000 m3/hari.Kinerja Unit Pengolahan limbah (UPL) PT. IKPP
Perawang adalah untuk menurunkan Total Suspended Solid (TSS), BOD, COD
dan pH. Adapun perbandingan air limbah PT. IKPP Perawang sebelum dan
sesudah diolah dapat dilihat pada tabel 6.5
Tabel 6.5 Perbandingan Air Limbah Sebelum Diolah dengan Syarat Mutu
Air Limbah (SMAL)
Parameter Limbah Sebelum Diolah Syarat Mutu Air Limbah
pH 5-7 6-9
Temperatur 45-50 ºC 38 ºC
TSS 850 mg/L < 400 mg/L
COD 1400 mg/L < 300 mg/L
BOD 460 mg/L < 150 mg/L
Total Alkali > 50 mg/L <0,5 mg/L

(Laboratorium Seksi Environmental PT. IKPP Perawang, 2017)


Limbah dari semua unit masuk melaluiparit-parit influent melalui
barscreen untuk menyaring obyek-obyek besar seperti keping kayu, kertas,
logam, dan plastik dari air limbah. Limbah cair berasal dari bar screen yang
mengalir ke dalam equalizing tank yang menyamakan influent selama 1 ¼ jam
dan untuk menstabilkan level kolam yang akan dialirkan ke primary
clarifier.Primary clarifier memisahkan suspended solid yang terdiri dari serat-
serat kayu, lime mud dan sebagainya dengan prinsip gaya gravitasi. Bentuk
clarifier yang dipakai adalah bundar cekung pada bagian bawah. Primary
clarifier dapat menurunkan total zat tersuspensi 70-80% BOD hingga 20-30%.
Zat padat yang didapatkan dikumpulkan dengan scrapper mekanik kemudian
dipompakan ke slidge tickener.
63

Cairan overflow yang telah bersih dari primary clarifier mengalir ke dalam
buffer tank. Fungsi buffer yaitu mengatur pH dari cairan limbah sekitar 7,0-7,5.
Untuk pH ditambah pula NaOH dan H2SO4 pada cairan limbah. Cairan limbah
dari buffer tank akan dipompakan ke aurated lagoon tetapi sebelumnya
temperaturnya diturunkan dahulu hingga 30-35 ºC di cooling water. Penurunan
suhu dimaksudkan untuk mempersiapkan kondisi limbah cair untuk pengolahan
biologis di aerated lagoon. Aerated lagoon merupakan sebuah kolam empat
persegi panjang yang besar dengan beberapa mekanikal surface aerator. Aerator
ini akan mencampur atau memasukkan udara kedalam limbah cair. Dalam
aerated lagoon ditambahkan nutrient urea dan fosfat yang diperlukan bagi
kehidupan organisme. Limbah kemudian dipompakan ke secondary clarifier
setelah 17-19 jam di dalam aerated lagoon. Secondary clarifier akan
memisahkan lumpur flok-flok hasil pengolahan biologis dengan cairan limbah
yang bersih. Lumpur dikirim ke sludge tickener sedangkan cairannya akan
keluar dan dialirkan ke sungai.
Lumpur dari primary clarifier dan secondary clarifier dan secondary
clarifier dipekatkan di sludge thickener. Overflow cairannya akan dipompakan
ke equalizing tank sedangkan endapan lumpurnya dialirkan ke sludge tank,
Lumpur dari sludge tank dipompakan ke belt press untuk diperas. Air
perasannya dialirkan kembali ke equalizing tank sedangkan sludge cokenya
dibawa ke tempat penampungan dan dapat digunakan sebagai pupuk. Adapun
kondisi air limbah setelah diolah dapat dilihat pada tabel 6.6.
Tabel 6.6 Kondisi Air Limbah Setelah Diolah
Parameter Kadar
pH 6-9
TSS (mg/l) 90
COD (mg/l) 250
BOD (mg/l) 100
Temperatur (ºC) < 35
(Seksi Environmental PT. IKPP Perawang, 2017)
64

6.4.2 Pengolahan Limbah Padat


Untuk limbah padat yang dihasilkan biasanya dilakukan pengolahan
dengan beberapa cara, tergantung pada jenis limbah padat yang dihasilkan.
a. Limbah padat yang sifatnya tidak berbahaya (bukan B3) dan masih dapat
digunakan kembali, dapat digunakan kembali untuk proses produksi lainnya.
Contoh: serat yang terdapat pada buangan air limbah dikumpulkan dan
dijadikan sebagai bahan baku kertas kelas rendah.
b. Limbah padat organik yang sifatnya tidak berbahaya (bukan B3) digunakan
sebagai bahan bakar multi boiler. Contoh: kulit kayu, reject chip, pulp reject
dan knotter.
c. Limbah padat yang sifatnya berbahaya dan tidak dapat digunakan kembali
(B3) dikirim ke land fill. Contohnya: fly ash dan batubara.

6.4.3 Pengolahan Limbah Gas


Dalam mengolah limbah gas digunakan beberapa alat yaitu:
a. Electrostatic precipitator yang berfungsi untuk menangkap debu atau
partikulat yang dihasilkan pada proses pembakaran kapur (lime kiln),
pembakaran lindi hitam (recovery boiler), dan multi fuel boiler dengan bahan
bakar kayu, pin chip, gambut.
b. Scrubber yang berfungsi untuk mengurangi polusi uap kimia seperti klorin.
Gas klorin yang kerluar dari vent dialirkan menuju bagian bawah scrubber
dan ditangkap dengan larutan kaustik sehingga gas klorin tidak terlepas ke
udara.