Anda di halaman 1dari 14

LABIOPALATOSKISIS

MAKALAH

OLEH

Kelompok 6

Nadila Jusuf (841416108)

Adlia Dulanimo (841416109)

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN

JURUSAN KEPERAWATAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul
“LABIOPALATOSKISIS”.

Makalah ini disusun agar pembaca mengetahui definisi, klasifikasi,


etiologi, patofisiologi, manifestesi, dls mengenai Labiopalatoskisis. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun, selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Aamiin.

Gorontalo, April 2018


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB 2 PEMBAHASAN

A. Definisi Labiopalatoskisis
B. Klasifikaasi Labiopalatoskisis
C. Etiologi Labiopalatoskisis
D. Patofisiologi Labiopalatoskisis
E. Manifestasi Labiopalatoskisis
F. Komplikasi Labiopalatoskisis
G. Pengobatan Labiopalatoskisis
H. Pencegahan Labiopalatoskisis

BAB 3 PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

\
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Proses pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses mutlak yang
mesti dilalui setiap individu dalam kehidupannya. Tidak ada seorangpun
individu yang menginginkan mengalami gangguan dalam kedua proses
penting tersebut. Namun, akibat faktor genetik, ras, lingkungan dan gaya
hidup telah menyebabkan sejumlah masalah dalam pertumbuhan dan
perkembangan individu. Seorang wanita hamil perokok misalnya, ia dapat
mengakibatkan sejumlah kecacatan hingga kematian bayinya. Shaw,dkk.
(1996, dikutip Wong, 2003: 455) menunjukkan hubungan antara kebiasaan
merokok selama kehamilan dan meningkatnya resiko pembelahan orofasial
atau yang biasa kita dengar sebagai bibir sumbing.
Sumbing bibir dan sumbing palatum (cleft lip dan cleft palate) atau
disebut labiopalatoskisis merupakan salah satu kelainan fisik pada saluran
gastrointestinal. Kelainan ini terjadi pada masa perkembangan embrio.
Insiden celah bibir (sumbing) dengan atau tanpa adanya celah palatum kira-
kira terdapat pada 1:600 kelahiran (Nelson, 2000:1282). Mitchell & Wood
(2000, dikutip Ball, 2003: 586) menyebutkan bahwa kejadian sumbing bibir
terjadi dalam 1 dari setiap 700 kelahiran yang ada. Dan kejadian sumbing
palatum sedikitnya 1: 2000 kelahiran (Balasubrahmanyam,dkk. 1998,
dikutip Ball, 2003: 587). Insidens kejadian penyakit ini pun lebih sering
pada penduduk pribumi Amerika dan Asia.
Celah bibir dan palatum nyata sekali berhubungan erat secara
embriologis, fungsionil, dan genetik. Celah bibir muncul akibat adanya
hipoplasia lapisan mesenkim, menyebabkan kegagalan penyatuan prosesus
nasalis media dan prosesus maksilaris. Celah palatum muncul akibat
terjadinya kegagalan dalam mendekatkan atau memfusikan lempeng
palatum. (Nelson, 2000: 1282)
Cleft lip and cleft palatum dapat mengarah ke beberapa komplikasi
yang akan memperlambat perkembangan dan pertumbuhan bayi hingga
dewasa. Seperti terjadinya gangguan bicara dan pendengaran, otitis media,
distress pernafasan, resiko infeksi saluran nafas (Suriadi & Yuliani, 2010:
154). Untuk itu sangat diperlukan pemahaman para perawat akan penyakit
ini guna mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi yang akan
mempengaruhi proses tumbuh kembang bayi dengan pemberian asuhan
keperawatan yang tepat. Penatalaksanaan yang tepat juga diperlukan guna
memperbaiki kelainan ini. Penanganan dengan pendekatan multidisipliner
dan tindakan pembedahan akan diperlukan untuk memperbaiki anomali
guna menghindari komplikasi lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Labiopalatoskisis?
2. Apa saja klasifikasi dari Labiopalatoskisis?
3. Apa saja etiologi dari Labiopalatoskisis?
4. Apa patosiologi dari Labiopalatoskisis?
5. Apa saja manifestasi dari Labiopalatoskisis?
6. Apa saja komplikasi dari Labiopalatoskisis?
7. Apa saja pengobatan pada Labiopalatoskisis?
8. Apa saja cara mencegah terjadinya Labiopalatoskisis?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui definisi dari Labiopalatoskisis.
2. Untuk mengetahui klasifikasi dari Labiopalatoskisis.
3. Untuk mengetahui etiologi dari Labiopalatoskisis.
4. Untuk mengetahui patosiologi dari Labiopalatoskisis.
5. Untuk mengetahui manifestasi dari Labiopalatoskisis.
6. Untuk mengetahui komplikasi dari Labiopalatoskisis.
7. Untuk mengetahui pengobatan pada Labiopalatoskisis.
8. Untuk mengetahui cara mencegah terjadinya Labiopalatoskisis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Labiopalatoschizis merupakan kelainan pada daerah mulut berupa
labiosisis (sumbing pada bibir), dan palatosisis (sumbing pada palatum)
yang diakibatkan oleh kegagalan penyatuan jaringan lunak atau struktur
tulang selama masa perkembangan embrio. (Hidayat, 2008: 22).
Cleft lip and cleft palate atau labiopalatoskisis merupakan kegagalan
penyatuanatau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama fase
embrio pada trisemester pertama. Sumbing bibir adalah terbelahnya bibir
dan atau hidung karena kegagalan proses nasal medial dan maksilaris untuk
menyatu selama masa kehamilan 6-8 minggu. Palato skisis adalah adanya
celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan
susunan palate pada masa kehamilan 7-12 minggu.
Bibir sumbing (cleft lip) merupakan suatu bentuk kelainan pada mulut
ditandai dengan celah pada bibir atas yang biasanya terjadipada seseoragn
sejak dilahirkan. Sedangkan cleft palatum adalah kelainan dimana terjadi
celah pada langit-langit rongga mulut. Pada cleft palate ini celah
menghubungkan langit rongga mulut dengan rongga hidung. (dalam
www.infokesehatan.com)

B. Klasifikasi Labiopalatoskisis
Jenis kelainan cleft (sumbing), berdasarkan organ yang terlibat yaitu:
1. Celah di bibir (labioskisis)
2. Celah di gusi (gnatoskisis)
3. Celah di langit mulut (palatoskisis)
4. Celah terjadi pada lebih dari organ. Misal ,terjadi di bibir dan langit-
langit (labiopalatoskisis) atau terjadi pada bibir, palatum hingga
mengenai gusi bagian atas (labio gnatopalatoskisis).

Gambar 2.1 Klasifikasi Bibir Sumbing


Beberapa jenis bibir sumbing :

1. Unilateral Incomplete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak
memanjang hingga ke hidung.
2. Unilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang
hingga ke hidung.
3. Bilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang
hingga ke hidung.

Contoh bibir sumbing bilateral dan unilateral :

Gambar 2.2 Bibir sumbing Bilateral dan Unilateral

Gambar 2.3 Klasifikasi Bibir sumbing

C. Etiologi Labiopalatoskisis
Sumbing bibir disebabkan oleh kegagalan fusi prosesus maksilaris dan
frontonasalis selama minggu ke enam usia gestasi. Pada kasus bilateral,
premaksila mengalami anteversi. Masalah ini selalu berkaitan dengan
deformitas nasal. Sumbing palatum dapat berdiri sendiri tau bersama dengan
sumbing bibir. Ini disebabkan oleh kegagalan fusi prosesus palatinum dan
septum nasi. Sumbing data menyebabkan regurgitas nasal makanan, dan
kemudian “suara sumbing palatum” karena kebocoran nasal. (Meadow &
Newell, 2005: 174).
Kelainan kongenital seperti tracheoesophalangeal fistula, omphalocele,
trisomi 13, dan displasia skeletal dihubungkan dengan kejadian cleft lip dan
cleft palate sekitar 20-30% dari kasus. Terdapat kasus yang meningkat pada
keluarga dengan riwayat sumbing bibir atau sumbing palatum. (Wong,
2003: 587)
Penyebabnya bersifat multifaktorial, meliputi gabungan antara faktor
lingkungan dan genetik. Diantaranya abnormalitas kromosom, faktor
lingkungan atau teratogen, obat-obatan, nutrisi saat kehamilan, dan ibu
hamil yang merokok.

Secara garis besar penyebab sumbing bibir dan palatum adalah sebagai
berikut:
1. Kegagalan fase embrio penyebabnya belum diketahui
2. Fraktur herediter
3. Dapat dikaitkan dengan abnormal kromosom (sindrom patau/ trisomi
13), mutasi gen, dan teratogen (agen atau faktor yang menimbulkan
cacat pada masa embrio)
4. Obat-obatan, seperti phenytoin, asam valproat, thalidomine, dan dioxin
pestisida.
5. Nutrisi saat kehamilan, contohnya pada keadaan kekurangan atau
defisiensi asam folat, mengkonsumsi alkohol dan rokok selama hamil.

D. Patofisiologi Labiopalatoskisis
Proses terjadinya bibir sumbing dimulai pada tujuh minggu
setelah pembuahan. Pada minggu kelima hingga kedua belas mulai
terjadi pembentukan mulut dan langit-langit mulut. Pada kurun waktu ini
bisa jadi janin kekurangan zat besi atau mengalami radiasi tertentu yang
menyebabkan pembelahan sel (sel di bibir) tidak sempurna.
Bibir sumbing disebabkan oleh kegagalan perkembangan dan
penyatuan processus palatum. Bibir sumbing sentral adalah deformitas lebih
besar akibat dari kegagalan kedua processus lateralis untuk menyatu dengan
processus centralis.
Pada proses pembentukan kepala, terjadi penyatuan bakal
tulang teliga menuju garis tengah, ketiga unsur itu bersatu pada bagian
yang berhadapan dengan gigi taring. Kegagalan pertemuan ini menyebabkan
terjadinya bibir sumbing dan proses di atas menunjukkan mengapa bibir
sumbing bisa terjadi di dekat gigi taring. Bibir sumbing bagian tengah
biasanya lebar karena bagian yang seharusnya turun membentuk bibir atas
gagal tumbuh.
Langit-langit mulut sekunder, yang dibentuk oleh proses palatal
lateral, dimulai pada foramen tajam dan berisi bagian tulang dan bagian
otot. Proses tulang langit-langit lateral muncul di sekitar minggu keenam
kehamilan. Mereka terdiri dari bagian-bagian dalam menonjol berkenaan
dgn rahang atas yang membentuk 2 struktur horizontal atau palatal rak, yang
akhirnya adalah turunan dari lengkungan branchial pertama. Rak-rak ini
awalnya di kedua sisi lidah. Ketika lidah bergerak ke bawah dalam minggu
ketujuh kehamilan, proses tumbuh lateral medial. Fusion dari langit-langit
keras dimulai anterior dan posterior berlanjut di minggu kedelapan usia
kehamilan.
Kematian sel terprogram di tepi bebas dan produksi dari lapisan lengket
glikoprotein dan ideal desmosomes ikatan menyediakan antarmuka
permukaan. Sisi kiri cenderung tertinggal dari sisi kanan, mengarah pada
kecenderungan untuk clefts sisi kiri. Septum hidung kemudian tumbuh ke
bawah ke langit-langit yang baru dibentuk. Proses selesai antara 9 dan 12
minggu kehamilan.

E. Manifestasi Labiopalatoskisis
Tanda yang paling jelas adalah tampak celah pada bibir atas. Bayi akan
kesulitan menghisap ASI dan kesulitan dalam berbicara. Anak dengan cleft
kadang memiliki gangguan dalam pendengarannya. Biasanya cleft palate
dapat mempengaruhi pertumbuhan rahang anak dan proses tumbuh
kembang dari gigi geliginya (menjadi berjajal). (dalam
www.infokesehatan.com)

Manifestasi klinis lainnya yang terlihat pada cleft lip dan cleft palatum
sebagai berikut:
1. Pada Labio skisis
1) Distorsi pada hidung (kelainan bentuk pada hidung, seperti asimetris
cuping
2) hidung atau nostril, adanya celah hidung pada palatum).
3) Tampak sebagian atau keduanya
4) Adanya celah pada bibir

2. Pada Palatoskisis
1) Tampak ada celah pada tekak (uvula), palato lunak, dan keras dan
atau foramen incisive
2) Adanya rongga pada hidung
3) Distorsi hidung
4) Teraba celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan jari
5) Kesukaran dalam menghisap atau makan (Suriadi & Yuliani, 2001:
154-155)

F. Komplikasi Labiopalatoskisis
1. Gangguan bicara dan pendengaran
2. Terjadinya otitis media
3. Aspirasi
4. Distress pernafasan
5. Risisko infeksi saluran nafas
6. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat

G. Pengobatan Labiopalatoskisis
Dalam menangani masalah Labiopalatoskisis ini, pembedahan
dilakukan untuk penutupan bibir dan palatum. Penutupan bibir sumbing
secara bedah biasanya dilakukan setelah anak berumur 2 bulan, ketika anak
telah menunjukkan kenaikan berat badan yang memuaskan dan bebas dari
infeksi oral, saluran napas, atau sistemik. Perbaikan pertama dapat direvisi
saat berumur 4-5 tahun. Operasi hidung untuk mengatasi distorsi hidung
sering dilakukan pada saat perbaikan bibir (Nelson, 2000). Namun rinoplasti
atau operasi hidung bisa juga dilakukan saat berumur 3-6 bulan.
Sedangkan untuk sumbing palatum, pembedahan dilakukan pada usia
18 bulan sampai 2,5 tahun ketika anak belum aktif berbicara. Satu bulan
setelah palatoplasti (operasi palatum) dilakukan terapi wicara oleh terapis
(Utama, 2012).
Bila gusi juga terbelah (gnatoskisis) kelainannya menjadi
labiognatopalatoskisis, perbaikan untuk gusi dilakukan pada saat usia 8-9
tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli ortodonsi (Nawasasi, 2005).
Adapun kondisi yang perlu diperhatikan pada bayi untuk dapat
dilakukan operasi antara lain, bayi harus dalam keadaan umum yang baik,
tidak sakit , tidak sedang infeksi, ketahanan tubuh bayi stabil dalam
menerima tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat dari
keseimbangan berat badan dan umur bayi.
Pembedahan pada bayi harus memperhatikan syarat yang dikenal
dengan Formula Ten atau “Rule of Ten” , yaitu :
1. Berat badan bayi sekurang-kurangnya 10 pon (4,5 kg).
2. Umur bayi minimal 10 minggu.
3. Hb lebih dari 10 gr %.
4. Leukosit < 10.000 mm3

Gambar 2.4 Proses Operasi Bibir Sumbing


H. Pencegahan Labiopalatoskisis
Wanita yang mengkonsumsi suplemen asam folat sejak kehamilan dini
dapat menekan risiko terjadinya bibir sumbing pada bayi hingga 40%, para
ahli melaporkan 25 Januari 2007. Asam folat merupakan komponen
sistmetik dari vitamin B yang banyak ditemukan pada sayuran
hijau, sangat baik direkomendasikan untuk mencegah terjadinya gangguan
pada neural tube seperti spina bifida. Sedangkan bagi pencegahan bibir
sumbing memang masih terus dipelajari.
Suplemen asam folat yang digunakan pada awal kehamilan diduga
dapat menekan risiko terjadinya bibir sumbing (dengan atau tanpa
celah di palatum), dikatakan Allen Wilcox of The National Institute of
Environmental Health Sciences, Durham, North Carolina. Celah pada bibir
terjadi ketika jaringan yang membentuk mulut bagian atas tidak mau
bergabung. Anak laki-laki lebih banyak terjadi bila dibandingkan dengan
anak perempuan dan kelainan tersebut cenderung lebih banyak terjadi di
Asia. Tindakan operasi dapat membantu memperbaiki kelainan tersebut.
Dalam penelitian yang dipublikasikan secara online melalui British
Medical Journal, para ahli mempelajari efek dari mengkonsumsi
asam folat di Norweigia, dimana didapatkan tingginya rata-rata kejadian
bibir sumbing di Eropa. Mereka memberikan beberapa pertanyaan kepada
573 ibu yang memiliki anak dengan bibir sumbing dan kepada 763 wanita
yang memiliki anak sehat selama kurun waktu 1996-2000.
Para ibu tersebut ditanyakan tentang kebiasaan mengkonsumsi
suplemen asam folat saat kehamilan dini dan berapa banyak jumlah yang
dikonsumsi. Setelah disingkirkan faktor-faktor risiko lainnya seperti
kebiasaan merokok, para ahli menemukan bahwa suplemen asam folat dapat
menekan risiko terjadinya bibir sumbing hingga 40%. Makan banyak buah
dan sayuran tanpa mengkonsumsi suplemen asam folat dapat menekan
risiko hingga 25% saja.
Vitamin A pada saat hamil dapat mencegah memiliki bayi dengan bibir
sumbing. Penelitian ini sudah diakui kebenarannya dan dimasukan kedalam
jurnal kesehatan American Journal of Epidemiology. Vitamin A banyak
terdapat pada daging ayam, hati serta telur ayam. Selain itu vitamin A
banyak terdapat di sayuran dan buah-buahan yang berwarna hijau, kuning
dan merah. Dianjurkan untuk ibu hamil mengkonsumsi vitamin A sebanyak
3 mg perhari untuk memenuhi kebutuhan akan vitamin A bagi janin dan
sang ibu sendiri.
Selain itu juga dengan mengkonsumsi vitamin B6 memiliki peran vital
dalam metabolisme asam amino dan dan juga mengkonsumsi zink secara
cukup juga dapat mengurangi resiko bayi terlahir dengan bibir
sumbing, serta ibu yang sedang hamil harus dijaga keseimbangan tubuhnya
supaya tidak terjatuh saat berjalan dan tidak mengkonsumsi obat-obatan
keras yang dapat menjadi factor penyebab bayi lahir dengan bibir sumbing.
BAB 3
PENUTUP

A. Kesimpulan
Labiopalatoschizis merupakan kelainan pada daerah mulut berupa
labiosisis (sumbing pada bibir), dan palatosisis (sumbing pada palatum)
yang diakibatkan oleh kegagalan penyatuan jaringan lunak atau struktur
tulang selama masa perkembangan embrio. (Hidayat, 2008: 22).
Cleft lip and cleft palate atau labiopalatoskisis merupakan kegagalan
penyatuanatau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama fase
embrio pada trisemester pertama. Sumbing bibir adalah terbelahnya bibir
dan atau hidung karena kegagalan proses nasal medial dan maksilaris untuk
menyatu selama masa kehamilan 6-8 minggu. Palato skisis adalah adanya
celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan
susunan palate pada masa kehamilan 7-12 minggu.
Sumbing bibir disebabkan oleh kegagalan fusi prosesus maksilaris dan
frontonasalis selama minggu ke enam usia gestasi. Pada kasus bilateral,
premaksila mengalami anteversi. Masalah ini selalu berkaitan dengan
deformitas nasal. Sumbing palatum dapat berdiri sendiri tau bersama dengan
sumbing bibir. Ini disebabkan oleh kegagalan fusi prosesus palatinum dan
septum nasi. Sumbing data menyebabkan regurgitas nasal makanan, dan
kemudian “suara sumbing palatum” karena kebocoran nasal. (Meadow &
Newell, 2005: 174).
Cleft lip and cleft palatum dapat mengarah ke beberapa komplikasi
yang akan memperlambat perkembangan dan pertumbuhan bayi hingga
dewasa. Seperti terjadinya gangguan bicara dan pendengaran, otitis media,
distress pernafasan, resiko infeksi saluran nafas.
Penanganan labiopalatoskisis harus bersifat komprehensif, dengan
melakukan pendekatan multidisipiner yaitu spesialis bidang kesehatan anak,
bedah plastik, THT, gigi ortodonti, serta terapis wicara, psikolog, ahli nutrisi
dan audiolog.
B. Saran
Penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu
kedepannya, bagi para pembaca diharapkan dapat menyempurnakan isi dan
materi makalah ini.
DAFTAR ISI

Ball, Jane W., & Bindler, Ruth. (2003). Pediatric nursing:caring for children,
Ed.3. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Education, Inc.
Hidayat, Aziz Alimul A. (2008). Pengantar ilmu keperawatan anak. Jakarta:
Salemba Medika.
Nelson, Waldo E. (2000). Ilmu kesehatan anak Nelson, Ed. 15. Jakarta: EGC.
Suriadi, & Yuliani, Rita. (2010). Asuhan keperawatan pada anak, Ed.2. Jakarta:
CV. Sagung Seto.
Wong, D.L. (2003). Wong’s nursing care of infants and children. St. Louis,
Missouri: Mosby, Inc.
Penatalaksanaan pada cleft lip, (2013, http: www.infokesehatan.com, diperoleh 27
Oktober, 2013).