Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam rangka peningkatan penyediaan tenaga listrik di Indonesia serta dalam


usaha mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, Pemerintah membuat
program peningkatan pembangunan pembangkit listrik alternatif non minyak antara lain
dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam berupa air sungai yang banyak terdapat di
seluruh Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan suatu perencanaan
pembangkit listriktenaga air (PLTA) yang matang untuk dapat mengoptimalkan potensi
yang ada.

Tahap perencanaan merupakan tahap awal dalam pembangunan sebuah PLTA.


Pada tahap ini segala aspek mengenai konstruksi PLTA dianalisa sedemikian sehingga
nantinya akan diperoleh PLTA yang selain aman secara konstruksi juga memberikan
manfaat yang optimum serta memiliki nilai yang paling ekonomis.

Salah satu langkah atau metode yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan
tersebut adalah dengan manajemenrisiko sejak tahap perencanaan.Hal ini dikarenakan
tahap perencanaan merupakan salah satu tahap yang paling menentukan tingkat
keberhasilan pembangunan pembangkit listrik tanaga air. Melalui tahap perencanaan ini
ditetapkankapasitas PLTA, kebutuhan lahan, material konstruksi, metode pelaksanaan dan
lain-lain. Melalui analisa risiko ini diharapkan dapat mereduksi risiko yang terjadi pada
PLTA tersebut. Untuk studi ini, manajemen risiko dilakukan pada perencanaan PLTA Lau
Gunung di Sumatera Utara.

1.2 Rumusan Masalah


Beberapa rumusan masalah yang akan ditinjau antara lain :
a. Apa saja risiko yang mungkin terjadi pada perencanaan PLTA Lau Gunung,
b. Apa saja yang merupakan risiko dominan pada perencanaan PLTA Lau
Gunung,
c. Bagaimana mitigasi yang dilakukan terhadap risiko dominan pada perencanaan
PLTA Lau Gunung,
2

d. Pihak-pihak mana saja yang bertanggung jawab terhadap risiko dominan pada
perencanaan PLTA Lau Gunung.

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi pada perencanaan PLTA
Lau Gunung,
b. Untuk menentukan risiko dominan pada perencanaan PLTA Lau Gunung,
c. Untuk menentukan mitigasi yang dilakukan terhadap risiko dominan pada
perencanaan PLTA Lau Gunung,
d. Untuk menentukan pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap risiko
dominan pada perencanaan PLTAGunung.

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah penelitian ini adalah :
a. Penelitian dilakukan pada perencanaan PLTA Lau Gunung.
b. Responden yang ditetapkan adalah konsultan perencana PLTA Lau Gunung
yaitu PT. Wahana Adya dan pemilik pekerjaan yaitu PT. Inpola Meka Energi.
3

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Risiko

Masing-masing ahli memiliki pemahaman tersendiri mengenai definisi risiko,


diantaranya adalah (http://ngapackers.blogspot.com/2008/10/pengertian-risiko-menurut-
beberapa-ahli.html) :

1. Risiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode
tertentu(Arthur Williams dan Richard, M. H.).

2. Risiko adalah ketidaktentuan yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian(A. Abas


Salim).

3. Risiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto)

4. Risiko adalah probabilitas suatu hasil yang berbeda dengan yang diharapkan
(Herman Darmawi).

5. Suatu kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak
menguntungkan yang mungkin terjadi disebut risiko(Prof Dr.Ir. Soemarno,M.S.)

6. Risiko adalah suatu ketidakpastian di masa yang akan datang tentang kerugian (Sri
Redjeki Hartono).

7. Risiko kewajiban memikul kerugian yang disebabkan karena sutau kejadian di luar
kesalahan salah satu pihak (Subekti).

8. Risiko adalah derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau
di sekitar titik rata-rata (Ahli statistika).

9. Vaughan mendefinisikan risiko menjadi tiga yaitu :

- Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).

Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap


kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk
menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian
penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat
4

risikodengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti


kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.

- Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).

Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada


diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam
analisis secara kuantitatif.

- Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).

Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty


merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada
pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty
akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.

10. Risiko adalah kemungkinan terjadinya peristiwa yang dapat merugikan perusahaan
(Kamus Besar Bahasa Indonesia).

11. Risiko adalah bahaya yang dapat terjadiakibat sebuah proses yang sedang
berlangsung atau kejadian yang akan datang (Isto).

12. Dalam kaitannya dengan judul yang dipilih oleh penulis yaitu Analisa Risiko Pada
Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga AirLau Gunung, penulis mendefinisikan
risiko sebagai segala sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan berpotensi
mengganggu dalam perencanaan PLTA Lau Gunung.

2.2 Manajemen / Analisa Risiko


2.2.1 Definisi Manajemen Risiko

Seperti halnya definisi risiko, maka manajemen risiko juga memiliki beberapa
definisi diantaranya :

1. Manajemen risiko adalah rangkaian langkah-langkah yang membantu suatu


perangkat lunak untuk memahami dan mengatur ketidak pastian (Roger S. Pressman)

2. Manajemen risiko adalah seperangkat kebijakan, prosedur yang lengkap, yang


mempunyai organisasi, untuk mengelola, memonitor, dan mengendalikan eksposur
organisasi terhadap risiko. Sistem manajemen risiko tidak hanya mengidentifikasi
5

tapi juga harus menghitung risiko dan pengaruhnya terhadap proyek, hasilnya adalah
risiko itu dapat diterima atau tidak (Kerzner,1995).

3. Manajemen risiko adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menanggapi risiko
yang telah diketahui (melalui rencana analisa risiko atau bentuk observasi lain) untuk
meminimalisasi konsekuensi buruk yang mungkin muncul. Untuk itu risiko harus
didefinisikan dalam bentuk suatu rencana atau prosedur yang reaktif. Manajemen
risiko bermakna sebagai semua rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan risiko,
dimana didalamnya termasuk perencanaan (planning), penilaian (assesment)
(identifikasi dan dianalisa), penanganan (handling), dan pemantauan (monitoring)
risiko (Soemarno, 2007).

4. Manajemen risiko adalah respon dan tindakan yang dilakukan untuk memitigasiserta
mengontrol risiko yang telah dianalisis (Thompson and Perry, 1991)

5. Menurut penulis, sesuai dengan judul yang dikemukakan, manajemen risiko


merupakan segala tindakan yang diambil untuk memperkecil risiko pada
perencanaan PLTA Lau Gunung yang telah teridentifikasi sebelumnya.

Definisi tentang manajemen risiko memang bermacam-macam, akan tetapi pada


dasarnya manajemen risiko bersangkutan dengan cara yang digunakan oleh sebuah
perusahaan untuk mencegah ataupun menanggulangi suatu risiko yang dihadapi (Kerzner,
1995). Untuk melakukan pengambilan keputusan terhadap risiko-risiko, Flanagan dan
Norman (1993) mengemukakan kerangka dasar langkah-langkah seperti gambar 2.1
berikut :

Identifikasi

Klasifikasi

Analisis Risiko

Perlakuan Risiko

Respon Risiko

Gambar 2.1. Kerangka dasar pengambilan keputusan terhadap risiko


6

2.2.2 Pentingnya Manajemen Risiko

Dalam kehidupannya, manusia selalu dikelilingi oleh risiko. Hal ini terjadi karena
manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi
di masa yang akan datang. Ketidakpastian inilah yang harus dikelola dengan baik, bukan
untuk menghilangkan sama sekali terjadinya risiko karena memang risiko tidak bisa
dihilangkan, melainkan untuk mengurangi besarnya kerugian akibat risiko yang terjadi.

Manajemen risiko merupakan pendekatan terorganisasi untuk menemukan risiko-


risiko yang potensial sehingga dapat mengurangi terjadinya hal-hal di luar dugaan.
Selanjutnya dapat diketahui akibat buruknya yang tidak diharapkan dan dapat
dikembangkan rencana respon yang sesuai untuk mengatasi risiko-risiko potensial tersebut.

Informasi berdasarkan pengalaman di masa lalu sangat membantu dalam


menganalisa ketidakpastian di masa yang akan datang. Manajemen risiko harus dilakukan
sedini mungkin dengan didukung informasi tersebut. Prosesnya merupakan tindakan
preventif di mana kondisi usaha sesungguhnya dapat menjadi jelas sebelum terlambat dan
dapat terhindar dari kegagalan yang lebih besar. Dengan manajemen risiko berarti
melakukan sesuatu yang proaktif daripada reaktif.

Dengan demikian melalui manajemen risiko akan diketahui metode yang tepat
untuk menghindari/mengurangi besarnya kerugian yang diderita akibat risiko. Secara
langsung manajemen risiko yang baik dapat menghindari semaksimal mungkin dari biaya-
biaya yang terpaksa harus dikeluarkan akibat terjadinya suatu peristiwa yang merugikan
dan menunjang peningkatan keuntungan usaha.

Secara tak langsung manajemen risiko memberikan sumbangan sebagai berikut:

1. Memberikan pemahaman tentang risiko, efeknya, dan keterkaitannya secara lebih


baik dan pasti sehingga menambah keyakinan dalam pengambilan keputusan yang
dapat meningkatkan kualitas keputusan.

2. Meminimalkan jumlah kejadian di luar dugaan dan memberikan gambaran tentang


akibat negatifnya sehingga mengurangi ketegangan dan kesalah-pahaman.

3. Membantu menyediakan sumberdaya dengan baik.

4. Menangkal timbulnya hal-hal dari luar yang dapat mengganggu kelancaran


operasional.
7

5. Mengurangi fluktuasi laba dan arus kas tahunan atau menstabilkan pendapatan.

6. Menimbulkan kedamaian pikiran dan ketenangan tenaga kerja dalam bekerja.

7. Meningkatkan public-image perusahaan sebagai wujud tanggung jawab sosial


perusahaan terhadap karyawan dan masyarakat.

Manajemen risiko pada saat ini merupakan kunci dari keseluruhan manajemen
bisnis. Tujuan utama manajemen risiko harus menyokong obyektif pengelolaan. Dengan
berjalannya usaha bisnis yang diharapkan mendatangkan keuntungan, maka meminimalkan
risiko untuk mencapai keuntungan yang memuaskan menjadi sasaran bisnis.

2.2.3 Identifikasi Risiko

Risiko dapat dikenali dari sumbernya (source), kejadianya (event) dan akibatnya
(effect). Hubungan ketiga komponen dapat dilihat seperti gambar 2.2.

Source Event Effect

Gambar 2.2. Proses Identifikasi Risiko

Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa hal pertama yang perlu
dilakukan adalah mengetahui dengan jelas sumber (source) dari risiko tersebut, kejadian
atau pristiwa (event) dan akibat (effect) dari risiko itu.

Secara garis besar tahapan identifikasi risiko adalah merinci risiko-risiko yang ada
sampai level yang detail dan kemudian menentukan signifikansinya (potensinya) dan
penyebabnya, melalui program survei dan penyelidikan terhadap masalah-masalah yang
ada. Risiko-risiko yang telah dirinci ini kemudian digolongkan dalam kategori-kategori.
Proses identifikasi risiko melibatkan banyak disiplin dalam setiap level manajemen proyek.

Tahap identifikasi risiko ini merupakan tahapan tersulit dan paling menentukan
dalam manajemen risiko. Kesulitan ini disebabkan oleh ketidakmampuan untuk
mengidentifikasi seluruh risiko yang akan timbul mengingat adanya ketidakpastian dari
apa yang akan dihadapi. Oleh karena itu dalam menghadapi risiko ini terlebih dahulu
diupayakan untuk menentukan sumber risiko dan efek risiko itu sendiri secara
komprehensif (Godfrey,1986).
8

Salah satu metode untuk melakukan identifikasi risiko tersebut, menurut Flanagan
dan Norman (1993) dapat digunakan alur langkah seperti gambar 2.3.

Sumber dan akibat risiko

Dapat dikontrol Tidak dapat dikontrol

Tidak bebas/bergantung Bebas/Tidak bergantung

Penuh Sebagian

Gambar 2.3. Alur Identifikasi Risiko

Sumber risiko yang terkontrol adalah risiko yang dapat dikontrol oleh manajemen
dan berada dibawah pengaruhnya, sedangkan pada risiko tak terkontrol terjadi hal yang
sebaliknya. Dua sumber risiko dikatakan bergantung jika salah satu sumber risiko memberi
pengaruh terhadap sumber risiko yang lain, sehingga ada kemungkinan suatu kelompok
sumber risiko tak terkontrol akan bergantung pada satu kelompok risiko terkontrol.
Menurut Thomson dan Perry (1991), untuk mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi
risiko dapat digunakan beberapa cara, antara lain menyusun daftar (check list) risiko,
wawancara dengan personel kunci (expert) yang terlibat, dan melalui brain storming.

Menurut Godfrey (1996) risiko dapat bersumber dari beberapa aktivitas, antara
lain politis (political), lingkungan (environmental), perencanaan (planning), pemasaran
(market), ekonomi (economic), keuangan (financial), alami (natural), proyek (project),
teknis (tecnical), manusiawi (human), kriminal (criminal), dan keselamatan (safety).
Uraian dari masing-masing risiko dapat dilihat pada tabel2.1.
9

Tabel 2.1. Sumber Risiko dan Penyebabnya

Sumber Risiko Perubahan dan ketidakpastian karena

Kebijaksanaan pemerintah, pendapat publik, perubahan ideologi,


Politis (political )
peraturan, kekacauan (perang, terorisme, kerusuhan).
Kontaminasi tanah atau polusi, kebisingan, perijinan, pendapat
Lingkungan
publik, kebijakan internal, peraturan lingkungan atau persyaratan,
(enviromental )
dampak lingkungan.
Perencanaan Persyaratan perijinan, kebijaksanaan dan praktek, tata guna lahan,
(planning ) dampak sosial ekonomi, pendapat publik.

Pemasaran (market ) Permintaan (perkiraan), persaingan, kepuasan konsumen.

Kebijaksanaan keuangan, pajak, biaya inflasi, suku bunga, nilai tukar


Ekonomi (economic )
uang.

Keuangan (financial ) Kebangkrutan, tingkat keuntungan, asuransi, pembagian risiko.

Kondisi tak terduga, cuaca, gempa bumi, kebakaran, penemuan


Alami (natural )
purbakala
Definisi, strategi pengadaan, persyaratan untuk kerja, standar,
kepemimpinan, organisasi, (kedewasaan, komitmen, kompetisi, dan
Proyek (project )
pengalaman), perencanan dan kontrol kualitas, rencana kerja,
tenaga kerja, dan sumber daya, komunikasi dan budaya.
Teknis (technical ) Kelengkapan desain, efisiensi operasional, ketahanan uji.

Kesalahan, tidak kompeten, ketidaktahuan, kelelahan, kemampuan


Manusiawi (human )
komunikasi, budaya, bekerja dalam gelap atau malam hari.

Kriminal (criminal ) Kurangnya keamanan, perusakan, pencurian, penipuan, korupsi

Kesehatan dan keselamatan kerja, tabrakan/benturan, keruntuhan,


Keselamatan (sefety )
ledakan.

2.2.4 Klasifikasi Risiko

Setelah risiko-risiko yang mungkin terjadi teridentifikasi, untuk memudahkan


pembedaan dan pemahaman terhadap risiko tersebut dibuat klasifikasi risiko. Ada 3 (tiga)
cara untuk mengklasifikasikan risiko yaitu dengan mengidentifikasi konsekuensi risiko,
jenis risiko dan pengaruh risiko. Gambar 2.4 berikut akan menyajikan cara mengklasifikasi
risiko berdasarkan konsekuensi, jenis dan pengaruh risiko.
10

Klasifikasi Risiko

Konsekuensi Risiko Jenis Risiko Pengaruh Risiko

Risiko Murni Risiko Spekulatif

Risiko Bisnis Risiko Finansial

Frekuensi Dampak Prediksi Perusahaan Lingkungan Industri Proyek

Gambar 2.4. Klasifikasi Risiko

Dari gambar di atas menjelaskan bahwa dalam mengklasifikasikan risiko dapat


didasarkan konsekuensi risiko, jenis risiko, dan pengaruh risiko itu. Berdasarkan
konsekuensinya, risiko dapat diklasifikasikan berdasarkan frekuensi kejadian, akibat risiko
dan kemungkinannya. Menurut jenisnya, risiko diklasifikasikan menjadi risiko murni dan
risiko spekualasi yang dapat terkena pengaruh risiko meliputi aspek aktivitas dalam
kehidupan.

Selanjutnya menurut Godfrey (1996) dalam Construction Research Industry and


Information Association (CIRIA) bahwa nilai risiko ditentukan sebagai perkalian antara
kecenderungan (frequency) dengan konsekuensi (consequences). Kecenderungan
(likelihood) adalah peluang terjadinya kerugian yang merugikan yang dinyatakan dalam
jumlah kejadian pertahun. Sedangkan konsekuensi (consequenses) merupakanbesaran
11

kerugian yang diakibatkan oleh terjadinya suatu kejadian yang merugikan yang dinyatakan
dalam nilai uang.

2.2.5 Analisis Risiko

Analisis risiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai sebuah prosedur untuk
mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian menganalisanya untuk memastikan
hasil pembongkaran, dan menyoroti bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dapat
dihilangkan atau dikurangi. Analisis risiko juga dipahami sebagai sebuah proses untuk
menentukan pengamanan macam apa yang cocok atau layak untuk sebuah sistem atau
lingkungan (ISO 1799, “An Introduction To Risk Analysis”, 2012).

Dalam suatu manajemen proyek, akibat dari risiko yang paling sering terjadi
adalah sebagai berikut (Thompson and Perry,1991).

1. Kegagalan dalam mempertahankan estimasi biaya.

2. Kegagalan dalam mencapai data lengkap yang diperlukan.

3. Kegagalan dalam mencapai kualitas dan kebutuhan operasional.

Oleh karena itu tujuan dari analisa dan manajemen risiko adalah membantu
menghindari kegagalan dan memberikan gambaran tentang apa yang terjadi bila proyek
yang dijalankan ternyata tidak sesuai dengan rencana. Analisa risiko dapat dilakukan baik
secara kualitatif maupun kuantitatif , dimana sumber risiko harus didefinisikan dan akibat
(effect) harus dinilai atau dianalisa. Menurut Thompson and Perry (1991) bahwa analisa
risiko secara kualitatif mempunyai dua tujuan yaitu identifikasi risiko dan penilaian awal
risiko, dimana sasarannya adalah menyusun sumber risiko utama dan menggambarkan
tingkat konsekuensi yang sering terjadi, sedangkan analisa kuantitatif terfokus pada
evaluasi risiko.

Menurut Godfrey (1996) analisis risiko yang dilakukan secara sistematis dapat
membantu untuk:

1. Mengidentifikasi, menilai dan meranking risiko secara jelas.

2. Memusatkan perhatian pada risiko utama (major risk).

3. Memperjelas keputusan tentang batasan kerugian.

4. Meminimalkan potensi kerusakan apabila timbul keadaan yang paling jelek.


12

5. Mengontrol aspek ketidakpastian.

6. Memperjelas dan menegaskan peran setiap orang/badan yang terlibat dalam


manajemen risiko.

Selanjutnya teknik yang dapat dilakukan dalam melakukan analisisi risiko


kualitatif adalah :

1. Menentukan probabilitas dan pengaruh risiko

2. Probabilitas/pengaruh risiko berdasarkan matrik

3. Melakukan tes asumsi

4. Melakukan ranking terhadap data yang sudah lengkap

Sedangkan hasil yang didapat melalui analisis risiko kualitatif adalah :

1. Ranking risiko secara keseluruhan pada suatu proyek

2. Daftar (list) pada risiko yang diproritaskan

3. Daftar (list) risiko untuk tambahan analisis dan manajemen

4. Kecendrungan dalam hasil analisis risiko kualitatif

Menurut Flanagan dan Norman (1993), yang harus dilakukan dalam melakukan
analisis risiko adalah dengan mengidentifikasi alternative-alternative risiko yang mungkin
akan terjadi, kemudian memberi penilaian risiko terhadap pengaruhnya kepada biaya,
setelah itu dilanjutkan dengan melakukan pengukuran terhadap risiko tersebut. Pengukuran
terhadap risiko tersebut bisa dilakukan dengan dua cara yaitu secara kualitatif atau dengan
kuantitatif. Pengukuran dengan cara kualitatif hasil dari penilaian risiko dari identifikasi
risiko lebih terfokus berupa keputusan langsung yang diambil berdasarkan ranking,
perbandingan ataupun dengan analisis deskritif, sedangkan analisis secara kuantitatif
dilakukan dengan melakukan analisis probabilitas, analisis sensivitas, analisis skenario,
analisisi simulasi, dan analisis korelasi.
13

2.2.6 Penanganan Risiko (Risk Mitigation)

Apabila risiko yang timbul akibat suatu aktifitas sudah teridentifikasi, menurut
Flanagan dan Norman (1993), maka selanjutnya dilakukan tindakan untuk mengurangi
risiko yang muncul.Tindakan ini disebut penanganan risiko (risk mitigatioan). Risiko ini
kadang-kadang tidak dapat dihilangkan sama sekali, tetapi hanya dikurangi sehingga akan
timbul sisa risiko (residual risk).

Penanganan risiko

Menahanrisiko Mengurangi risiko Memindahkan risiko Menghindari risiko

Gambar 2.5. Penanganan Risiko

Berdasarkan gambar 2.5 di atas dapat dijelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan dalam
menangani risiko, yaitu :

1. Menahan Risiko (Risk Retention)

Sikap untuk menahan risiko sangat erat kaitannya dengan keuntungan (gain) yang
terdapat dalam suatu risiko. Sikap untuk menerima atau menahan risiko ini karena
dampak dari suatu kejadian yang merugikan masih dapat diterima (acceptable).

2. Mengurangi Risiko (Risk Reduction)

Mengurangi risiko dilakukan dengan mempelajari secara mendalam risiko itu sendiri,
dan melakukan usaha-usaha pencegahan pada sumber risiko atau mengkombinasikan
usaha agar risiko yang diterima tidak terjadi secara simultan. Dengan melakukan
tindakan ini kadang-kadang masih ada risiko sisa (residual risk) yang perlu dilakukan
penilaian (assessment).

3. Memindahkan Risiko (Risk Transfer)

Sikap pemindahan risiko dilakukan dengan cara mengasuransikan risiko yang diatasi
dengan memberikan sebagian atau seluruhnya kepada pihak lain. Usaha atau
pekerjaan yang risikonya tinggi dipindahkan kepada pihak yang mempunyai
kemampuan menangani dan mengendalikan.
14

4. Menghindari Risiko (Risk Avoidance)

Sikap menghindari risiko adalah cara menghindari kerugian dengan menghindari


aktivitas yang tingkat kerugiannya tinggi. Menghindari risiko dapat dilakukan dengan
melakukan penolakan. Salah satu contoh penghindaran risiko pada proyek kontruksi
adalah dengan memutuskan hubungan kontrak (breach of contract).

Menurut Darmawi (2004) ada dua pendekatan dalam menangani risiko yaitu :

1. Pengendalian risiko (risk control)

Pengendalian risiko dijalankan dengan metode :

a. Menghindari risiko

b. Mengendalikan risiko

c. Pemisahan

d. Kombinasi

e. Pemindahan risiko

2. Pembiayaan risiko (risk financing), meliputi

a. Pemindahan risiko melalui pembelian asuransi

b. Menanggung risiko (retention)

Pengendalian kerugian (loss control) dijalankan dengan :

1. Menurunkan kemungkinan atau peluang untuk terjadinya kerugian

2. Mengurangi keparahan jika kerugian itu memang terjadi

Kedua tindakan itu dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara :

1. Tindakan pencegahan kerugian atau tindakan pengurangan kerugian

2. Menurut sebab kejadian yang akan dikontrol

3. Menurut lokasi daripada kondisi-kondisi yang akan dikontrol


15

4. Menurut waktunya, yang mengenalkan phase perencanaan, phase pengamanan,


perawatan dan phase darurat.

Tindakan dalam menangani risiko (risk mitigation) harus dilakukan setelah


mengetahui risiko-risiko yang teridentifikasi memberikan dampak yang besar terhadap
suatu pekerjaan. Apabila risiko bersifat dapat diterima dan dapat diabaikan, maka risiko
tidak perlu mendapatkan perhatian besar untuk ditangani, yaitu dengan menahan risiko
(retention risk) dan mengurangi risiko (reduction risk), tetapi jika risiko bersifat tidak
dapat diterima sepenuhnya dan tidak diharapkan, maka risiko perlu ditangani lebih lanjut
dengan memindahkan risiko (risk transfer) dan menghindari risiko (risk avoidance).

2.3 PLTA Lau Gunung


2.3.1 Lokasi PLTA Lau Gunung

Lokasi PLTA Lau Gunung berada pada aliran Sungai Lau Gunung yang terletak
di Desa Pamah Dusun Lau Gunung, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Provinsi
Sumatera Utara. Secara geografis Kabupaten 03°02’15.86”LU dan 98°10’10.30” BT.

Lokasi daerah studi secara jelas tampak pada peta Gambar 2.6

2.3.2 Lingkup Pekerjaan Perencanaan PLTA Lau Gunung

Agar dapat melakukan analisa risiko pada perencanaan PLTA Lau Gunung, maka
mutlak harus diketahui lingkup pekerjaan perencanaan PLTA Singaira sebagai berikut :

1. Survey Lokasi / Site Visite

Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran awal lokasi pekerjaan yang
digunakan untuk menentukan langkah kegiatan berikutnya.

2. Survey Topografi

Survey topografi bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara detail mengenai


bentuk rupa bumi lokasi pekerjaan atau biasa disebut peta.

3. Investigasi Geologi

Investigasi dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi pada lokasi bangunan PLTA
yang dipergunakan untuk analisa stabilitas bangunan disamping untuk menentukan
klasifikasi tanah dalam kaitannya dengan biaya pekerjaan tanah.
16

4. Survey Hidrometri

Survey hidrometri yang dilakukan adalah berupa pengukuran debit, pengambilan


sampel sedimen serta uji kualitas air

5. Analisa Hidrologi

Analisa hidrologi merupakan salah satu langkah yang paling penting dalam
menentukan kapasitas suatu PLTA. Hasil analisa hidrologi dijadikan dasar untuk
menentukan dimensi bangunan PLTA.

6. Analisa Hidrolika

Analisa hidrolika bertujuan untuk merencanakan dimensi hidrolis bangunan PLTA

7. Project Layout

Project layout memberikan gambaran mengenai posisi/layout dari PLTA.

8. Analisa Mekanikal dan Elektrikal

Dalam analisa ini ditetapkan mengenai jenis turbin, generator dan sistem kelistrikan
yang akan diterapkan

9. Penggambaran Detail PLTA

Melalui tahapan ini akan diperoleh gambar detail dari perencanaan PLTA

10. Analisa Stabilitas

Analisa stabilitas dilakukan untuk mengatahui apakah perencanaan yang dilakukan


sudah stabil atau tidak dimana pada tahap ini juga dilakukan optimasi untuk
mendapatkan dimensi bangunan yang optimal.

11. Metode Konstruksi

Pada tahap ini hasil yang diperoleh berupa metode konstruksi yang paling efektif
yang akan diterapkan untuk pembangunan PLTA.

12. Analisa Ekonomi

Muara dari semua proses perencanaan adalah diperolehnya suatu perencanaan PLTA
yang ekonomis, yaitu memberikan hasil yang paling optimal dengna biaya yang
minimal.
17

LOKASI PLTA LAUGUNUNG

Gambar 2.6 Lokasi PLTA Lau Gunung


18

BAB III

METODOLOGI

Penelitian merupakan suatu proses mencari sesuatu yang dilakukan secara


sistematis pada jangka waktu tertentu dengan menggunakan metode ilmiah dan aturan
yang berlaku. Metode penelitian tidak dapat dipisahkan dari prosedur, peralatan serta
tujuan dilakukannya penelitian.

Tahapan penelitian ini menggunakan alur berdasarkan metode ilmiah sehingga


akan memberikan hasil yang jelas, teratur dan sitematis seperti ditunjukkan pada Gambar
3.1. dan dijabarkan pada sub bab berikut.

3.1 Penentuan Ruang Lingkup Risiko

Dalam tahap ini peneliti harus menguasai apa yang menjadi ruang lingkup risiko,
dan untuk penelitian ini yang menjadi ruang lingkup risiko adalah perencanaan PLTA Lau
Gunung. Dengan menguasai ruang lingkup risiko, maka peneliti dapat dengan baik
menentukan responden yang digunakan.

3.2 Identifikasi Risiko

Tahapan identifikasi risiko perencanaan PLTA dilakukan dengan mengetahui


dengan jelas sumber (source) dari risiko tersebut, kejadian atau pristiwa (event) dan akibat
(effect) dari risiko itu. Secara garis besar tahapan identifikasi risiko adalah merinci risiko-
risiko yang ada sampai level yang detail dan kemudian menentukan signifikansinya
(potensinya) dan penyebabnya, melalui program survei dan penyelidikan terhadap
masalah-masalah yang ada. Risiko-risiko yang telah dirinci ini kemudian digolongkan
dalam kategori-kategori.

Untuk mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi risiko dapat digunakan


beberapa cara, antara lain menyusun daftar (check list) risiko, wawancara dengan personel
kunci (expert) yang terlibat, dan melalui brain storming.
19

3.3 Responden

Responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah pihak konsultan perencana
PLTA Lau Gunung yaitu PT. Wahana Adya yang terdiri dari direktur, team leader, ahli
hidrologi, ahli hidrolika, ahli geologi, ahli geodesi, ahli quantity dan ahli konstruksi . PT.
Wahana Adya merupakan konsultan yang telah berpengalaman melakukan perencanaan
PLTA maupun PLTM di seluruh Indonesia, terutama di Pulau Sumatera.

Selain PT. Wahana Adya, responden yang dipilih adalah dari pihak pemilik
pekerjaan yaitu PT. Inpola Meka Energi.

3.4 Kuesioner

3.4.1 Penyusunan Kuesioner

Kuesioner disusun dengan membuat lembaran yang berisikan pertanyaan-


pertanyaan menyangkut risiko perencanaan PLTM. Kuesioner ini disusun dari identifikasi
risiko pada pengkajian data sekunder kemudian dikembangkan dengan pengamatan di
lapangan dan dengan melakukan brainstroming dan wawancara bersama pihak responden.

Bentuk kuesioner adalah semi tertutup yaitu sebagian berupa pertanyaan tertutup
dengan menjawab berdasarkan pilihan yang tersedia. Jawaban yang diharapkan dari
responden menyangkut skala likelihood (frekuensi) dan consequences (akibat/dampak)
risiko dari risiko yang teridentifikasi, dan sebagian lagi berupa pertanyaan terbuka dengan
memberikan kesempatan bagi responden untuk menambah identifikasi risiko yang belum
teridentifikasi atau belum tercantum dalam lembar pertanyaan kuesioner.

3.4.2 Pengisian Kuesioner

Sebelum melakukan pengisian kuesioner yang ada, terlebih dahulu ditetapkan


siapa respondennya yang dalam hal ini adalah PT. Wahana Adya yang dietapkan
berdasarkan metode purposive sampling. Di dalam pengisian kuesioner, responden
dipandu oleh peneliti agar jawaban dari responden tidak melenceng dari tujuan penelitian.

3.4.3 Pengumpulan Kuesioner

Setelah pengisian data, kemudian data hasil kuesioner dikumpulkan untuk


dilakukan tahap selanjutnya yaitu uji validitas dan realibilitas data.
20

3.5 Uji Validitas dan Uji Realibilitas Data


Data yang terkumpul dari hasil kuesioner kemudian diuji agar dapat
dipertanggungjawabkan. Jenis uji yang dilakukan yaitu uji validitas dan uji reliabilitas
data. Menurut Sugiyono (2006), uji validitas adalah suatu langkah pengujian yang
dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrument (kuesioner), dengan tujuan untuk
mengukur ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian. Dikatakan valid
jika nilai koefisien validitas lebih besar dari 0,3
Menurut Husaini (2003), uji reliabilitas adalah proses pengukuran terhadap
ketepatan (konsisten) dari suatu instrumen.Pengujian ini dimaksudkan untuk menjamin
instrumen yang digunakan merupakan sebuah instrumen yang handal, konsistensi, stabil
dan dependibalitas, sehingga bila digunakan berkali-kali dapat menghasilkan data yang
sama. Dikatakan reliabel jika nilai koefisien reliabilitas diatas 0,7

3.6 Penilaian Risiko


Data yang diperoleh perlu disusun terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut.
Pada tahap ini juga dilakukan proses penentuan skala penilaian dan penaksiran parameter
yang dimaksudkan untuk mengetahui nilai kemungkinan dan besarnya kerugian yang
terjadi. Skala yang digunakan untuk mengukur tingkat penilaian responden adalah skala
likert yaitu berupa skala ordinat yang menunjukan tingkat atau rangking responden dari
responden terhadap risiko yang teridentifikasi dan tidak menunjukan berapa jarak (interval)
antara tingkatan yang satu dengan yang lain (Djarwanto,2002). Variabel dengan skala
ordinal merupakan variabel diskret yaitu merupakan variabel dengan skala tanpa pecahan
dan bukan merupakan variabel kontinyu.
Dalam memberikan penilaian untuk kemungkinan timbulnya risiko pada
perencanaan PLTA, dipergunakan metode pengembangan Godfrey (1996). Pengembangan
metode Godfrey (1996) dalam upaya penyempurnaan penilaian yang dimulai dari skala
1(satu), skala selengkapnya dari masing-masing penilaian meliputi:
Tabel 3.1. Skala Frekuensi (Likelihood)
Tingkat Frekuensi Skala

Sangat sering 5
Sering 4
Kadang-kadang 3
Jarang 2
Sangat jarang 1
(Sumber: Godfrey,1996)
21

Sedangkan untuk mengukur besarnya pengaruh variable risiko pada perencanaan


PLTA, dipakai skala sebagai berikut (Godfrey,1996)
Tabel 3.2. Skala Konsekuensi (Consequences)
Tingkat Konsekuensi Skala

Sangat besar 5
Besar 4
Sedang 3
Kecil 2
Sangat Kecil 1
(Sumber: Godfrey,1996)

3.7 Penerimaan Risiko (Risk Acceptability)

Selanjutnya dilakukan analisis tingkat penerimaan risiko (risk acceptability) yang


tergantung nilai risiko yaitu hasil perkalian antara kecendrungan (likelihood) dengan
konsekuensi (consequences) risiko. Penerimaan risiko pada penelitian ini menggunakan
metode Godfrey (1996) yang telah dikembangkan. Pengembangan metode Godfrey (1996)
dilakukan agar penilaian risiko dengan frekuensi yang sangat jarang tetapi memiliki risiko
yang sangat besar menjadi hal yang sangat penting dimitigasi.Penilaian tingkat penerimaan
risiko (assessment of risk acceptability) hasil tersebut adalah sebagai berikut (tabel 3.3) :
Tabel 3.3. Assessment of Risk Acceptability

Assessment of Risk Acceptability


Consequences
Catastropic Criticel Serious Marinal Negligible
Lekelihood/ (5) (4) (3) (2) (1)
frekuensi
Frequent Unacceptable Unacceptable Unacceptable Undesirable Undesirable
(5) (25) (20) (15) (10) (5)
Probable Unacceptable Unacceptable Undesirable Undesirable Acceptable
(4) (20) (16) (12) (8) (4)
Occasional (3) Unacceptable Undesirable Undesirable Undesirable Acceptable
(15) (12) (9) (6) (3)
Remote Undesirable Undesirable Undesirable Acceptable Negligible
(2) (10) (8) (6) (4) (2)
Improbable (1) Undesirable Acceptable Acceptable Negligible Negligible
(5) (4) (3) (2) (1)
(Sumber: Godfrey,1996)
22

Dari tabel di atas tingkat penerimaan risiko dapat di deskripsikan sebagai berikut:

1. Unacceptable, yaitu risiko tersebut tidak diterima, harus dihindari (risk avoidance)
atau ditrasfer (risk trasfer)

2. Undesirable, yaitu risiko yang tidak diharapkan dan harus dikurangi (riskreduction)

3. Acceptable, yaitu risiko tersebut dapat diterima

4. Negligible, yaitu risiko tersebut dapat diabaikan

Dengan tingkat penerimaan risiko dan dengan mempertimbangkan nilai risiko


yang diperoleh dari skala consequences dan skala likelihood seperti di atas, maka skala
penerimaan risiko (risk acceptability) dapat diambil kesimpulan sebagai berikut
(Godfrey,1996).

Tabel 3.4. Skala Penerimaan Risiko


Penilaian (Assessment) Skala Penerimaan
Unacceptable (tidak dapat diterima) x ≥ 15
Undesirable (tidak diharapkan) 5 ≤ x < 15
Acceptable (dapat diterima) 3 ≤ x <5
Negligible (dapat diabaikan) x< 3
(Sumber: Godfrey,1996)

Berdasarkan penerimaan risiko (risk acceptability) ini kemudian diadakan evaluasi


terhadap risiko yang teridentifikasi pada kuesioner yang memerlukan tindakan mitigasi.
Adapun kriteria risiko yang memerlukan tindakan mitigasi adalah semua risiko yang
unacceptable dan undesirable.

3.8 Pemilihan Tindakan Mitigasi Risiko (Risk Mitigation)

Tindakan dalam menangani risiko (risk mitigation) harus dilakukan setelah


mengetahui risiko-risiko yang teridentifikasi memberikan dampak yang besar terhadap
suatu pekerjaan. Apabila risiko bersifat dapat diterima dan dapat diabaikan, maka risiko
tidak perlu mendapatkan perhatian besar untuk ditangani, yaitu dengan menahan risiko
(retention risk) dan mengurangi risiko (reduction risk), tetapi jika risiko bersifat tidak
23

dapat diterima sepenuhnya dan tidak diharapkan, maka risiko perlu ditangani lebih lanjut
dengan memindahkan risiko (risk transfer) dan menghindari risiko (risk avoidance).

3.9 Kepemilikan Risiko

Untuk menetukan alokasi tanggung jawab risiko (ownership of risk),


menggunakan prinsip-prinsip pengalokasian risiko yang dikembangkan oleh Flanagen dan
norman (1993) yaitu:

1. Pihak mana yang mempunyai kontrol terbaik terhadap kejadian yang menimbulkan
risiko.

2. Pihak mana yang dapat menangani risiko apabila risiko itu muncul.

3. Pihak mana yang mengambil tanggung jawab jika risiko tidak terkontrol

4. Jika risiko di luar kontrol semua pihak, maka diasumsikan sebagai risiko bersama.
24

Mulai

Menentukan Ruang Lingkup Risiko


(Perencanaan PLTA Aek Silang)

Identifikasi Risiko

Pembuatan, Pengisian dan


Pengumpulan Kuisioner

Uji validitas dan Tidak


reliabilitas

Ya

Penilaian Risiko

Penerimaan Risiko

Major Risk Minor Risk

Mitigasi Risiko

Kepemilikan Risiko

Selesai

Gambar 3.1. Bagan alir manajemen risiko