Anda di halaman 1dari 6

Sebab Munculnya Hadits Maudhu’ dan

Penanggulangannya

Sebab Munculnya Hadits Maudhu’ dan Penanggulangannya-Awal erjadinya hadits


maudhu’ dalam sejarah ketika terjadi konflik antara elit politik pendukung Ali dan
Muawiyah, ummat islam terpecah menjadi 3 kelompok, yaitu Syi’ah, Khawarij, dan jumhur
muslimin atau Sunni. Masing-masing mengklaim bahwa kelompoknya yang paling benar
sesuai dengan ijtihad mereka, masaing-masing ingin mempertahankan kelompoknya, dan
mencari simpatisan masa yang lebih besar dengan cara mencari dalil dari Al Qur’an dan
Hadits Rasulullah.

Jika tidak didapatkan ayat atau hadits yang mendukung kelompoknya, mereka mencoba
menta’wilkan dan memberikan interpretasi yang terkadang tidak layak.Ketika mereka tidak
menemukan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits yang mendukung tujuan kelompokmya,
sementara penghafal Al Qur;an dan hadits masih banyak, maka sebagian mereka membuat
hadits palsu ( Maudhu’) seperti hadits-hadits keutamaan khalifah, pimpinan kelompok, dan
aliran-aliran dalam agama.Pada masa ini tercatat dalam sejarah masa awal terjadinya hadits
maudhu’ yang lebih disebabkan oleh situasi politik.

Namun, yang perlu diketahui pada masa ini hanya sedikit jumlah hadits maudhu’ karena
factor penyebabnya tidak banyak.Mayoritas factor penyebab timbulnya hadits maudhu’
adalah karena tersebarnya bid’ah dan fitnah.Sementara para sahabat justru menjauhkan dari
itu.Amaereka sangat mencintai Rasulullah dan telah mengorbankan segala jiwa raga dan
harta bendanya untuk membela beliau dengan penuh ketulusan hati. Mereka hidup bersam
beliau selalu meneladani dan mempraktekkan sunnah dengan penuh kejujuran dan takwa
kepada Allah. Secara logika, tidak mingkin mereka berbuat dusta kepada beliau dengan
membuat hadits maudhu’.( H. Abdul Majid Khon, M.Ag, 2002 : 200 ).

Kondisi ummat Islam yang sedikit goyah, karena konflik intern tersebut dimamfaatkan oleh
kaum yahudi untuk menyusup dan memperlebar jurang perpecahan, dengan berkedok sebagai
pembela Islam dan berpura-pura mendukung salah satu pihak dan mengecam pihak lain
dengan menggunakan berbagai cara yang diantaranya membuat hadits-hadits palsu yang
isinya seakan-akan memberi dukungan kepada pihak tertentu dan mengecam pihak lain.
Mereka berhasil menebarkan kembali misi mereka sebagai wujud balas dendam atas
kekalahan mereka bersaing dengan ummat Islam.( H.Zeid B. Smeer, Lc., M.A., 2008 : 71)
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMICU TIMBULNYA HADITSMAUDHU’

Tidak seperti halnya Al Qur’an, Hadits merupakan lahan yang amat strategis sebagai ajang
pengkaburan, pembauran, dan pemalsuan oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung
jawab, lantaran penulisan dan pengumpulannya harus tertunda karena ada semacam
kekawatiran mengalami kerancuan antara Hadits dan Al Qurt’an juga secara tersurat dalam
Al Qur’an Allah tidak menyatakan secara jelas untuk memelihara Hadits sebagaimana Dia,
Allah akan memelihara Al Qur’an setelah menurunkannya atau mewahyukannya kepada
Rasulullah SAW.

Pada mulanya, yang menyebabkan atau menjadi factor tinbulnya pemalsuan hadits adalah
urusan politik, namun sebab-sebab atau factor-faktor itu kian hari kemudian kian bertambah
juga. Maka jika dikumpulkan sebab-sebab pemalsuan itu, terdapatlah dalam garis besarnya
sebagai tersebut di bawah ini:

1. Pertentangan Politik
Sebagaimana keterangan di atas bahwa awal timbulnya hadits maudhu’ adalah akibat dampak
konflik intern ummat Islam awal yang kemudian menjadi terpecah ke beberapa sekte. Dalam
sejarah sekte pertama yang menciptakan hadits maudhu’ adalah syi’ah. Hal ini diakui oleh
orang Syi’ah sendiri, misalnya seperti kata Ibnu Abu Al Hadids dalkam Syarah Nahju Al
Balaghh, bahwa asal usul kebohongan dalam hadits-hadits tentang keutamaan adalah sekte
Syi’ah, mereka membuat beberapa hadits maudhu’ untuk memusuhi lawan-lawan politiknya.
Setelah hal itu diketahui oleh kelompok Bakariyah, merekapun membalasnya dengan
membuat hadits maudhu’ pula.( Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag.,2002 :201).

Untuk menarik simpati golongannya, kaum Syi’ah menciptakan hadits tentang kelebihan Ali,
karena dalam doktrin Syi’ah, Ali ra. Adalah orang yang paling pantas menggantikan
Rasulullah saw. Sebagai pemimpin, baik agama maupun pemerintah, yakni sebuah hadits
yang artinya: “ Barang siapa ingin melihat ilmu Nabi Adam, ketakwaan Nabi Nuh, ketabahan
Nabi Ibrahim, keperkasaan Nabi Musa dan ibadah Nabi Isa, maka lihatlah Ali”.( Prof. Dr.
Muh. Zuhri, tt : 68 ).

Golongan jumhur yang tidak menginsafi akibat dari pemalsuan hadits, mengimbangi
tindakan-tindakan kaum Syi’ah, membuat hadits palsu pula, seperti: Artinya; “Tak ada
sebatang pohon pun di dalam surga, yang tidak bertulis pada daunnya; La ilaha illallah
Muhammadur Rasulullah, Abu Bakar Ash Shiddieqy, Umar Al Faruq, dan ‘Usaman Dzun
Nurain.( T.M. Hasbi Ash Shiddiqy, 1974 : 247 ).

2. Dendam Musuh Islam


Setelah Islam merontokkan dua Negara super power yakni kerajaan Romawi dan Persia,
Islam tersebar ke segala penjuru dunia, sementara musuh-musuh Islam tersebut tidak mampu
melawannya secara terang-terangan, maka mereka meracuni Islam melalui ajarannya dengan
memasukkan beberapa hadits maudhu’ ke dalamnya yang dilakukan oleh kaum zindiq.

Hal ini dilakukan agar ummat Islam lari dari padanya dan agar mereka melihat, bahwa
ajaran-ajaran Islam itu menjijikkan, misalnya: Artinya,” Bahwa segolongan orang Yahudi
dating kepada Rasulullah saw. Bertanya: Siapakah yang memikul Arsy? Nabi menjawab:
yang memikulnya adalah singa-sianga dengan tanduknya sedangkan bimasakti di langit
keringat mereka. Mereka menjawab: Kami bersaksi bahwa engkau utusan Allah”. ( H. Abdul
Majid Khon, M.Ag., 2002 : 203 ).

3. Fanatisme Kabilah, Negeri atau Pemimpin


Umat Islam pada masa sebagian Daulah Umayah sangat menonjol fanatisme Arabnya
sehingga orang-orang muslim nonarab merasa terisolasi dari pemerintahan, maka diantara
mereka ada yang ingin memantapkan posisinya dengan membuat hadits maudhu’.

Misalnya seseorang yang fanatic pada kabilah Persia merasa Persialah yang paling baik,
demikian juga bahasanya seraya mengatakan: Artinya; “Sesungguhnya bahasa makhluk di
sekitar Arasy dengan bahasa Persia”. Untuk mengimbangi hadits maudhu’ di atas muncullah
dari lawannya yang fanatic bahasa Arab mengatakan : Artinya; “Bahasa yang paling dimurkai
Allah adalah bahasa Persia dan bahasa penghuni surga adalah bahasa Arab”.

4. Qashshash ( Tukang Cerita )


Sebagian Qashshash ( ahli cerita atau ahli dongeng ) ingin menarik perhatian para
pendengarnya yaitu orang-orang awam agar banyak pendengar, penggemar, dan
pengundangnya dengan memamfaatkan frofesinya itu untuk mencari uang, dengan cara
memasukkan hadits maudhu’ ke dalam propagandanya.

Qashshash ini popular pada abad ke 3 H. yang duduk di mesjid-masjid dan di pinggir-pinggir
jalan, di antara mereka terdiri dari kaum Zindiq dan orang-orang yang berpura-pura menjadi
orang alim. Tetapi pada tahun 279 H. masa pembai’atan Khalifah Abbasiyah Al Mu’tasim
m,ereka itu dilarang berkeliaran di masjid-masjid dan di jalan-jalan tersebut.

5. Mendekatkan dengan Kebodohan


Diantara tujuan mereka membuat hadits maudhu’ adalah agar umat cinta kebaikan dan
menjauhi kemungkaran, mencintai akhirat, dan menakut-nakuti dari azab Allah. Hal ini
terjadi pada sebagian orang bodoh dalam agama tetapi saleh dan zuhud. Di antara mereka
adalah Ghulam Khalil, nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Ghalib Al-Bahili
seorang yang terkenal zahid ( w.275 H ).

Ketika dikonfirmasi oleh Abu Abdullah An Nahawandi tentang ciptaan haditsnya ,ia
menjawab: “Aku buat hadits ini agar lunak hati orang umum.” Mereka ini sangat berbahaya
karena mereka orang saleh dan sebagian periwayatan haditsnya diterima oleh sebagian orang.
Kelompok pemalsu hadits jenis ini, bila ditanya mereka menjawab; Kami tidak mendustakan
atasnya ( Rasul ), sesungguhnya kami dustakan untuknya. ( H. Abdul Majid Khon, M.Ag.,
2002 : 206 ).

6. Mendekatkan Diri kepada Pembesar


Untuk memperoleh penghargaan yang baik dari para pembesar, teristimewa dari para
Khalifah, maka beberapa ulama Su’ membuat hadits palsu. Satu contoh yang dilakukan oleh
Ghiyats bin Ibrahim An Nakha’i krtika masuk ke istana Al Mahdi yang sedang bermain
burung merpati. Ghiyats berkata Rasulullah saw. Bersabda yang artinya; Tidak ada
perlombaan kecuali pada anak panah atau unta atau kuda dan atau pada burung.

Pada mulanya ungkapan itu memang hadits dari Rasulullah tetapi aslinya tidak ada kata
”burung”. Karena ia melihat Khalifah sedang bermain burung merpati, maka ditambah ”atau
burung merpati”. Al Mahdi ketika mendengar hadits palsu itu memberi hadiah 10.000 dirham
kepadanya, tetapi setelah mengetahui bahwa Ghiyats pendusta, burung tersebut disembelih
dan berkata: Aku bersaksi pada tengkokmu bahwa ia adalah tengkok pendusta pada
Rasulullah saw. ( H.Abdul Majid Khon, M.Ag.,2002 : 206 ).

7. Perbedaan ( Khilafiyah ) dalam Mdzhab


Masalah khilafiyah baik dalam fikih atau teologi juga mendorong terbuatnya hadits maudhu’
yang dilakukan oleh sebagian pengikut madzhab yang fanatik dalam madzhabnya masing-
masing. Misalnya kelompok yang membenci Imam Syafi’i mencipta hadits sebagai berikut:
Artinya; ”Akan lahir di kalangan umatku kelak seorang pria yang bernama Muhammad ibnu
Idris, ia lebih berbahaya ketimbang iblis.” dan seterusnya... ( Dr. Muh. Zuhri, tt : 72 ).

TANDA-TANDA HADITS MAUDHU’

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hadits itu terdiri atas mata rantai periwayat (sanad) dan
matan, maka kepalsuan sebuah hadits dapat diketahui dari mata rantai dimaksud yang akan
dibahas berturut-turut berikut ini:

1. Kepalsuan pada sanad


Bila di sebuah hadits terdsapat periwayat yang dikenal sebagai seorang pembohong tanpa ada
orang tsiqah mau mengambil hadits dariny. Sifatnya sebagai pembohong itu dapat diketahui
dari biodatanya

Pemalsu hadits mengaku sendiri, seperti, pengakuan Abdul Karim ibn al Auja’ yang di dalam
berbagai kitab Ulum al Hadits diterangkan bahwa dirinya telah membuat hadits palsu tidak
kurang dari 4.000 hadits

Terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa seorang periwayat adalah pembohong.Misalnya,


periwayat mengaku menerima hadits dari seorang guru. Padahal, sebenarnya ia tidak pernah
bertemu dengan guru tersebut, atau, guru yang disebut itu telah meninggal sebelum ia lahir.
Indikasi lain adalah, seorang periwayat mengaku memperoleh hadits dari ulama di sebuah
negeri, padahal, ia tidak pernah pergi ke negeri dimaksud.

Misalnya, Ma’mun ibn Ahmad al Halawi mengaku pernah memperoleh hadits dari Hisyam
ibn Ammar. Kemudian ditanya oleh Ibnu Hibban, ”Kapan engkau bertemu dia di Siria?” Ia
menjawab, Tahun dua ratus lima puluh.”Kemudian Ibnu Hibban mengatakan, Hisyam yang
kau sebut itu meninggal pada tahun dua ratus empat puluh lima.” (DR. Muh. Zuhri, tt : 75).

2. Kepalsuan Matan Hadits

Kelemahan lafadz yang terdapat dalam matan. Artinya, orang yang mengetahui betul makna
ungkapan bahasa Arab ketika menjumpai kata tertentu maka akan mengatakan bahwa kalimat
semacxam itu adalah mustahil keluar dari orang fasih, terlebih-lebih Nabi saw. Sehingga ia
berkesimpulan bahwa susunan kalimat yang disandarkan kepada Nabi itu menunjukkan
kepalsuan sebuah berita.

Kelemahan kandungan hadits.Artinya, kandungan hadits bertentangan temuan rasional, tanpa


ada kemungkinan takwil. Misalnya,m sebuah hadits”Sesungguhnya kapal Nabi Nuh itu
melakukan thawaf di ka’bah tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat.”Hadits lain
berbunyi,”Orang yang memelihara ayam jago warna putih tidak akan didekati setan dan tidak
pula dapat disihir.”
Bertentanmgan dengan nas Al Qur’an atau hadits mutawatir. Hadits yang menyatakan ”Anak
hasil zina tidak akan masuk surga hingga tujuh turunan” bertentangan dengan ayat
”Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.”

Hadits yang menggambarkan bahwa para sahabat sepakat menyembunyikan ajaran Nabi.
Misalnya ada hadits, bahwa nabi pernah memegang tangan Ali bin Abi Thalib ra.
Dihadapanb para sahabat... kemudian berkata”Ini, Ali adalah penerima wasiatku dan
saudaraku, serta khalifah sesudahku.”

Hadits yang isinya bertentangan dengan bukti-bukti sejarah.Misalnya, ada sebuah hadits yang
menyebutkan bahwa Nabi mewajibkan membayar jizyah atas penduduk Khaibar dan
membebaskan mereka dari usaha dengan persaksian Sa’ad ibn Mu’adz.Kepalsuan hadits ini
dapat diketahui dari beberapa segi.Pertama, Sa’ad ibn Mu’adz telah wafat sebelum peristiwa
Khaibar, yaitu pada perang handaq kedua, sejarah mencatat bahwa jizyah itu disebutkan
sesudah perang tabu, sebuah kurun waktu setelah peristiwa Khaibar.

Hadits yang isinya sesuai dengan pendapat madzhab periwayatnya, sedangkan periwayat
tersebut dikenal sangat fanatik ter5hadap madzhabnya itu.Misalnya, hadits yang diriwayatkan
oleh kaum syi’ah tentang keunggulan kelurga Nabi (ahlul bait), dan lain-lain.

Hadits yang mengandung informasi tentang pahala yang amjat berlebihan atas perbuatannya
yang keciul atau siksa yang amat berlebihan pula atas dosa yang kecil.Hadits semacam ini
banyak terdapat di hadits tentang kisah-kisah. Misalnya sebuah hadits yang artinya, ”Barang
siapa membaca La ilaha illallah, maka Allah akan menciptakan untuk setiap kata seekor
burung yang mempunyai tujuh puluh ribu lidah, setiap lidah mengucapkan tujuh puluh ribu
bahasa untuk memintakan ampun bagi orang itu.” ( H.Abdul Majid Khon,M.Ag., 2002 :
212).

UPAYA MENANGGULANGI HADITS MAUDHU’

Usaha-usaha para ulama dalam membendung muncul dan menjamurnya penyebaran hadits
palsu dalam rangka menyelamatkan Hadits dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut :

1. Pembukuan Hadits
Sebagai disebutkan dalam sejarah pembukuan hadits bahwa pembukuan ini, yang secara
resmi diprakarsai oleh Umar ibn Abdul Aziz, dilatarbelakangi oleh kekawatiran hilangnya
hadits Nabi bersama dengan gugurnya para ulama penghafal hadits. Maka, sekiranya upaya
ini tideak diambil, akan sulit dilacak, apakah sebuah informasi itu hadits.

2. Pembentukan Ilmu-ilmu Hadits


Bidang kualitas periwayat. Dari sini akan diketahui apakah seorang periwayat tercela,
sehingga haditsnya harus ditolak atau terpuji, sehingga haditsnya layak disebarkan. Bidang
persambungan sanad.Di sini ditelusuri apakah apakah mata rantai sebuah hadits itu telah
benar.

Bidang jalur periwayatan.Artinya, para ulama hadits berkepentingan mengetahui matan


sebuah hadits diriwayatkan melalui berapa jalur.Dari sini dapat diketahui apakah sebuah
hadits itu dinilai mutawatir, atau ahad, atau bahkan gharib.
Bidang sandaran hadits.Di bidang ini diadakan penelusuran, kepada siapa sebuah hadits
disandarkan.

3. Menghimpun Biografi Para Periwayat Hadits

Untuk mengetahui kualitas periwayat, baik yang pantas disiarkan haditsnya maupun yang
dicacat, perlu ilmu untuk menelusuri riwayat hidup mereka. Ilmu ini juga akan membantu
memberi informasi apakah sebuah mata rantai hadits saling bertemu. Dari sini muncul Ilmu
Rijal al hadits, sekaligus muncul kitab-kitab biografinya.

4. Perumusan Istilah-istilah Hadits (Musthalah al Hadits)


Pada intinya, Musthalah Hadits merupakan ilmu untuk memberi istilah hasil jerih payah
payah melaksanakan penelusuran hadits sebagai yang tercantum di dalam Ilmu-ilmu Hadits.
Setelah penelusuran itu selesai maka hadits iotu diberi nama, mutawatir, ahad, masyhur. Dari
sisi lain, hadits diberi nama shahih, hasan, dhaif. Dhaif disebabkan oleh hal yang amat
banyak, adakalanya persambungan sanad, kualitas periwayat, ”penyandaran”, dan materi
hadits itu sendiri. (Dr. Muh. Zuhri, M.Ag., tt: 81).

Demikianlah Penjelasan Sebuah Tinjauan Tentang Munculnya Hadits Maudhu’ dan


Penanggulangannya, Semoga bermanfaat.

Anda mungkin juga menyukai