Anda di halaman 1dari 74

OUTLINE

D I R E K TO R AT B I N A O P E R A S I DA N P E M E L I H A R A N
D I R E K T O R AT J E N D E R A L S U M B E R D AYA A I R
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

OLEH :
MUHAMAT MARASABESSY, S.T., M.Tech
KASUBDIT OP SUNGAI DAN PANTAI
Visi dan Misi Kementerian PUPR

Visi Kementerian PUPR 2015-2019 sebagaimana tercantum pada Rencana


Strategis Kementerian PUPR 2015-2019 adalah :
“Terwujudnya infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat yang
handal dalam mendukung Indonesia yang berdaulat, mandiri dan
berkepribadian berlandaskan gotong-royong.”
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air ,sebagai bagian dari Kementerian PUPR
mendukung pencapaian visi kementerian melalui pencapaian misi kementerian
PUPR 2015-2019 pada bagian:
1. Mempercepat pembangunan infrastruktur sumber daya air termasuk
sumber daya maritim untuk mendukung ketahanan air, kedaulatan pangan,
dan kedaularan energi, guna menggerakkan sektor-sektor strategis
ekonomi domestic dalam rangka kemandirian ekonomi
TUGAS DAN FUNGSI SUBDIT OP SUNGAI DAN PANTAI
DASAR : PERMEN PUPR NO. 15/PRT/M/2015 ( Pasal 312 )

Pembinaan Pelaksanaan NSPK OP Sungai dan Pantai serta Drainase Utama Perkotaan

Pemberian Bimbingan Teknis dan Supervisi Pelaksanaan OP Sungai dan Pantai serta
Drainase Utama Perkotaan

Penyelenggaraan Audit Teknis Bidang OP Sungai dan Pantai serta Drainase Utama Perkotaan

Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat

Bimbingan Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air dan Badan Usaha Bidang Sungai dan Pantai

TUJUAN PELAKSANAAN OP

Optimalnya Pemanfaatan Prasarana SDA dan Terjaminnya Kelestarian Fungsi SUMBER AIR
dan PRASARANA SDA
PERATURAN TERKAIT
1. Undang-undang No. 11 tahun 1974
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2001 tentang Sungai
4. Permen PUPR RI Nomor 04/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai
5. Permen PUPR RI Nomor 17/PRT/M/2015 tentang Pedoman Pembentukan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber
Daya Air pada tingkat Wilayah Sungai
6. Peraturan Menteri PUPR Republik Indonesia No. 06/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Sumber
Air dan Bangunan Pengairan
7. Peraturan Menteri PUPR Republik Indonesia No. 28/PRT/M/2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan
Garis Sempadan Danau
8. Surat Edaran Dirjen SDA No. 05/SE/D/2016 tentang Pedoman Penyelenggara Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan
Prasarana Sungai serta Pemeliharaan Sungai
Produk Pedoman Bidang OP Sungai dan Pantai
1. SE 01 Tahun 2011 Pedoman OP Bangunan Pengaman Pantai
2. SE 05 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Sungai
Serta Pemeliharaan Sungai
Peraturan yang masih berupa Draft Pedoman akan dijadikan Petunjuk Praktis Bidang OP Sungai dan Pantai
1. Draft Rapermen Pedoman Umum OP SDA
2. Draft PROM OP SDA Tentang Sungai
3. Draft OP Prasarana Pengendali Lahar dan Prasarana Pengendali Sedimen
4. Draft Tata Cara Restorasi Sungai
5. Draft Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat
6. Draft Manajemen Aset OP Prasarana Sungai Terbangun
7. Draft Pedoman OP Lahar dan Sedimen
8. Draft Standar OP Prasarana Sungai
9. Draft OP Drainase Utama Perkotaan
10. Draft Manual OP Sungai dan Prasarana Sungai
11. Draft Manual OP Bangunan Pengaman Pantai
DASAR HUKUM
UU NO. 26 TAHUN 2007
TENTANG PENATAAN RUANG
SNI 02 – 2406 – 1991
UU NO. 23 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PERENCANAAN
TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA UMUM DRAINASE PERKOTAAN
01
10
02 KEPUTUSAN MENTERI PUPR NO.239/KPTS/1987
UU NO. 32 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN UMUM MENGENAI PEMBAGIAN
TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH 09 TUGAS, WEWENANG, DAN TANGGUNG JAWAB
03 PENGATURAN, PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN
PP NO. 16 TAHUN 2005 DRAINASE KOTA
TENTANG PENGEMBANGAN PENYEDIAAN AIR 08
MINUM PERMEN PUPR NO.11/PRT/M/2010
04 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL
PP NO. 82 TAHUN 2001
05 07 BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN
TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR
06 PENATAAN RUANG
DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR
PERMEN PUPR NO. 12 TAHUN 2014
PERMEN PUPR NO. 11/PRT/M/2014 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM
TENTANG PENGELOLAAN AIR HUJAN PADA DRAINASE PERKOTAAN
BANGUNAN DAN PERSILNYA
DRAFT PERMEN PUPR (09-10-2018)
TENTANG PEDOMAN TATA CARA OP DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

DRAFT PEDOMAN PRAKTIS OP PRASARANA DRAINASE


UTAMA PERKOTAAN
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR
12/PRT/M/2014
TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN
PENJELASAN PERMEN 12/2014 TENTANG PENGERTIAN DRAINASE
 Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan kelebihan air dari
suatu kawasan ke badan air penerima.
PENJELASAN PERMEN 12/2014 PASAL 1
 Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan adalah upaya merencanakan,
melaksanakan konstruksi, mengoperasikan, memelihara, memantau, dan
mengevaluasi sistem fisik dan non fisik drainase perkotaan.
 Sistem Drainase Perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis dan non teknis dari
prasarana dan Sarana Drainase perkotaan.
 Prasarana Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau di
bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia, yang
berfungsi menyalurkan kelebihan air dari suatu kawasan ke badan air penerima.
 Sarana Drainase adalah Bangunan Pelengkap yang merupakan bangunan yang ikut
mengatur dan mengendalikan sistem aliran air hujan agar aman dan mudah
melewati jalan, belokan daerah curam, bangunan tersebut seperti gorong-gorong,
pertemuan saluran, bangunan terjunan, jembatan, tali-tali air, pompa, pintu air.
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR
11/PRT/M/2014
TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DRAINASE
PERKOTAAN
 Drainase Perkotaan adalah drainase di wilayah perkotaan yang berfungsi mengelola atau mengendalikan
air permukaan, sehingga tidak mengganggudan/atau merugikan masyarakat.
 Sarana Pengelolaan Air Hujan adalah bangunan yang dioperasikan untuk pengumpulan dan pemanfaatan,
infiltrasi, dan detensi air hujan.
 Sarana Penampung Air Hujan adalah bagian dari sarana pengelolaan air hujan yang berfungsi sebagai
tempat menampung air hujan, untuk kemudian
 Prasarana Pengelolaan Air Hujan adalah bangunan pelengkap sebagai penunjang beroperasinya sarana
pengelolaan air hujan.
 Sumur Resapan adalah sarana drainase yang berfungsi untuk meresapkan air hujan dari atap bangunan
gedung ke dalam tanah melalui lubang sumuran.
 Kolam Tandon adalah sarana drainase yang berfungsi untuk menampung air hujan agar dapat digunakan
sebagai sumber air baku.
 Kolam Retensi adalah sarana drainase yang berfungsi untuk menampung dan meresapkan air hujan di
suatu wilayah.
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR
12/PRT/M/2014
TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN
PENJELASAN PERMEN 12/2014 BAB IV – PERAN MASYARAKAT DAN SWASTA
1. Peran masyarakat dan swasta dalam Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan
dapat dilakukan pada setiap tahapan, mulai dari perencanaan, Pelaksanaan
Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan serta Pemantauan dan Evaluasi.
2. Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a) menyediakan Sumur Resapan, Kolam Tandon, Kolam Retensi, sesuai dengan
karakteristik kawasan;
b) mencegah sampah dan air limbah masuk ke saluran;
c) melakukan Pemeliharaan dan pembersihan drainase lokal di lingkungannya;
d) mencegah pendirian bangunan di atas saluran dan jalan inspeksi;
e) mengelola sistem drainase kawasan secara swadaya; dan/atau
f) menyampaikan informasi tentang penanganan drainase kepada pemerintah
kabupaten/kota.
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR
12/PRT/M/2014
TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN
PENJELASAN PERMEN 12/2014 BAB V – PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
1. Pembinaan terhadap gubernur dan/atau bupati/walikota dalam
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan dilaksanakan oleh Menteri, yang
meliputi:Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa:
a) koordinasi dalam Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan ;
b) pemberian norma, standar, prosedur dan kriteria Penyelenggaraan Sistem
Drainase Perkotaan ;
c) pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi Penyelenggaraan Sistem
Drainase Perkotaan ;
d) pemberian bantuan teknis baik fisik (struktur) maupun non fisik (non
struktur) sesuai dengan kebijakan dan strategi nasional Penyelenggaraan
Sistem Drainase Perkotaan ; dan
e) pendidikan dan pelatihan di bidang Penyelenggaraan Sistem Drainase
Perkotaan .
ECO-INFRASTRUCTURE

Perkembangan kawasan terbangun yang sangat pesat sering tidak terkendali dan tidak sesuai lagi dengan tata
ruang maupun konsep pembangunan yang berkelanjutan, mengakibatkan banyak kawasan-kawasan rendah
yang semula berfungsi sebagai tempat penampungan air sementara (retarding pond) dan bantaran sungai
berubah menjadi tempat hunian penduduk. Sehingga membawa dampak bencana seperti banjir, dll.

Maka, dibutuhkan suatu pembangunan infrastruktur bidang sumber daya air yang mengikuti era
perkembangan jaman yang mengusung “infrastruktur hijau” sebagai upaya pembangunan yang ramah
lingkungan.

Eco-Infrastructure adalah sebuah konsep, upaya, atau pendekatan untuk menjaga


lingkungan yang sustainable melalui penataan RTH dan menjaga proses-proses alami yang
terjadi di alam seperti siklus air hujan, kondisi tanah, dsb
S U S T A I N A B L E D E V E L O P M E N T G O A L S ( S D G s )

Sebagai bentuk
pembangunan yang ramah
lingkungan,
Kementerian PUPR
mewujudkan dalam
teknologi Eco-
Infrastructure yang
mendukung Sustainable
Development Goals (SGDs)

Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah
ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi . Tujuan ini dicanangkan
bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan pada resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi
pembangunan bersama hingga tahun 2030.

Dalam hal ini Kementerian PUPR turut berperan aktif mensukseskan tujuan SDGs poin 6 (Clean Water and Sanitation) , poin 11
(Sustainable Cities and Communities), poin 13 (Climate Action), poin 14 (Life Below Land), dan poin 15 (Life on Land)
PEMERINTAH
INDONESIA SEJAK


LAMA MENDUKUNG
PEMBANGUNAN
INFRASTRUKTUR
HIJAU

Pemerintah Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla


(Jokowi-JK) berkomitmen memacu investasi
pembangunan infrastruktur hijau atau ramah
lingkungan.

Upaya mendukung program tersebut, ‎para pengusaha
yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri
(KADIN) Indonesia bersama kelompok Bank
Dunia ‎menyelenggarakan Indonesia Green
Infrastructure Summit 2015 (9-10 Juni 2015)
membahas tentang infrastruktur yang berkelanjutan
untuk ekonomi hijau.
Selain itu, dalam pertemuan tersebut dibahas
mengenai seberapa penting peran pemerintah dalam
mewujudkan Green Infrastructure
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 12/PRT/M/2014
TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN
PERUBAHAN PARADIGMA PENANGANAN DRAINASE BARU
LAMA
•Sedapat mungkin ditahan dulu,
•Secepatnya meresapkan ke dalam tanah
mengalirkan limpasan melalui sumur resapan, waduk,
air hujan ke saluran/ kolam retensi, kemudian kelebihan
badan air terdekat. air dialirkan ke badan air
penerima.

DRAINASE
KONVENSIONAL ECO DRAINASE

 Drainase Tradisional
 Membuang kelebihan air secepatnya ke  Drainase ramah lingkungan
saluran drainase kemudian ke sungai  Tidak membuang kelebihan air
dan ke laut secepatnya ke saluran drainase.
 Air hujan tidak ditampung dan langsung  Air hujan disimpan/ditampung di
masuk ke sungai tanpa pemanfaatan berbagai lokasi untuk dimanfaatkan di
sebelumnya. musim berikutnya
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR 12/PRT/M/2014
TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN
Konsep Drainase Berwawasan Lingkungan

 drainase ramah lingkungan ini merupakan suatu konsep yang ke depan sangat
diperlukan dan erat kaitannya dengan perubahan iklim.
 Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air
kelebihan dengan cara meresapkan sebanyak-banyaknya air ke dalam tanah
secara alamiah atau mengalirkan air ke sungai dengan tanpa melampaui
kapasitas sungai sebelumnya.

Konsep drainase baru (paradigma baru) yang biasa disebut drainase ramah lingkungan
atau eko-drainase atau drainase berwawasan lingkungan yang sekarang ini sedang
menjadi konsep utama di dunia internasional dan merupakan implementasi pemahaman
baru konsep eko-hidrolik dalam bidang drainase.
MANFAAT
1 Mengurangi kemungkinan
2
banjir/genangan di lokasi yang
Mengurangi longsor di hulu
bersangkutan, banjir di hilir serta
kekeringan di hulu

3 4
Meningkatkan kualitas ekosistem
Mengisi/konservasi air tanah
dan lingkungan
PEMERINTAH DAERAH
APBD

PEMERINTAH PUSAT
APBN

PEMBAGIAN WEWENANG PENANGANAN


PRASARANA DRAINASE
IDENTIFIKASI
Tugas, Peran danPOTENSI MASALAH
Tanggung Jawab

01 PEMERINTAH
PUSAT

MASYARAKAT 03 02

PEMERINTAH
DAERAH
Pemerintah Pusat

1 2
Memfasilitasi pemerintah Menyediakan dana untuk
kabupaten/kota dengan infrastruktur drainase antara
menyediakan regulasi atau lain bisa melalui DAK (Dana
peraturan dan pedoman Alokasi Khusus) yang besar-
pelaksanaan Drainase Berbasis kecilnya ditetapkan oleh
Masyarakat (DBM). Kementerian Keuangan.

3 4
Melatih tenaga fasilitator
Melakukan monitoring dan
lapangan (TFL) Drainase
pengendalian pelaksanaan
Berbasis Masyarakat untuk
Drainase Berbasis Masyarakat
bidang teknis dan bidang
(DBM).
pemberdayaan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten/Kota
Menunjuk Dinas
Menanggung biaya Penanggungjawab sesuai Tugas
Menyediakan dana Pokok dan Fungsi (Tupoksi) di
operasional selama
pendamping daerah menjadi pengelola
pelaksanaan DBM
program, termasuk menunjuk
PPK (Pejabat Pembuat
komitmen)

Menyiapkan calon Mengkordinir pelaksanaan Menjamin bahwa


tenaga fasilitator program Drainase Berbasis pelaksanaan program
teknis dan Masyarakat (DBM) dan sesuai dengan prinsip-
pemberdayaan mengawasi serta prinsip pendekatan
masyarakat mengendalikan kegiatan dalam DBM

Bertanggungjawab
terhadap kualitas
pekerjaan sesuai
spesifikasi
Masyarakat
 Mengajukan usulan kepada Pemerintah kabupaten/kota menjadi salah
satu calon lokasi DBM;
 Mengikuti proses seleksi yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota
dengan difasilitasi oleh tenaga fasilitator lapangan (TFL) yang telah dilatih
oleh pemerintah pusat;
 Menyusun Rencana Kerja Masyarakat (RKM) untuk pembangunan sarana
dan prasarana Drainase Berbasis Masyarakat.
 Melaksanakan proses pembangunan sarana DBM;
 Mengawasi pembangunan sesuai spesifikasi teknis DBM;
 Membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM) sebagai pengelola DBM;
 Menggerakkan masyarakat dan mendorong masyarakat untuk aktif iuran
agar system DBM dapat dioperasionalkan secara berkelanjutan;
 Mengoperasionalkan dan memelihara sarana DBM secara berkelanjutan;
 Kriteria Umum Calon Lokasi
 Batas hidrolis satu wilayah(catchment area)
 Wilayah layanan dapat dikembangkan dengan drainase lokal
 Diprioritaskan wilayah permukiman perkotaan
 Tercantum dalam dokumen Strategi Sanitasi Kota (SSK)

 Kriteria Teknis
 Sudah ada sarana pengolahan air limbah dan pengelolaan
sampah
 Tinggi genangan >30 cm, lama > 2 jam
 Ketersediaan Lahan dan lain-lain

 Kriteria Masyarakat
 Masyarakat bersedia
 Pernah melakukan gotong royong
 Memiliki lembaga swadaya
 Merupakan Prioritas penanganan
 Bersedia membayar iuran
KEBIJAKAN DAN STRATEGI DRAINASE

KEBIJAKAN - 1
 Pengembangan Sistem Pengelolaan Drainase Perkotaan
diarahkan pada pemantapan keterpaduan pengelolaan drainase
perkotaan berwawasan lingkungan.

STRATEGI

 Mewujudkan pengelolaan drainase perkotaan melalui penyiapan


rencana induk sistem yang komprehensif dengan memperhatikan
aspek-aspek rencana tata ruang kota, kondisi DAS/Sub DAS,
perubahan iklim global, kondisi lingkungan, sosial, ekonomi serta
kearifan lokal.
 Mewujudkan pengelolaan drainase perkotaan melalui pendekatan
eco drainage dengan memperhatikan konservasi sumber daya air
 Mewujudkan keterpaduan pengelolaan drainase pengelolaan
prasarana drainase dengan prasarana dan sarana perkotaan
KEBIJAKAN DAN STRATEGI DRAINASE

KEBIJAKAN - 2
 Pengembangan Sistem Pengelolaan Drainase Perkotaan diutamakan
pada optimalisasi fungsi prasarana dan sarana drainase yang sudah
terbangun

STRATEGI

 Mewujudkan pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan sarana dan


prasarana drainase
 Mengurangi /membebaskan gangguan terhadap fungsi sistem drainase
KEBIJAKAN DAN STRATEGI DRAINASE

KEBIJAKAN - 3
 Dilakukan pengembangan perangkat peraturan perundang-undangan
tentang penyelenggaraan pengelolaan drainase perkotaan

STRATEGI
 Penyusunan Peraturan Perundangan tentang drainase perkotaan sebagai
acuan bagi pengelolaan draninase
 Sosialisasi peraturan perundangan terkait dengan perudang-undangan
pengelolaan drainase perkotaan
 Penerapan Peraturan Perundangan tentang drainase perkotaan sebagai
acuan bagi pengelolaan draninase
KEBIJAKAN DAN STRATEGI DRAINASE

KEBIJAKAN - 4

 Dilakukan peningkatan kapasitas kelembagaan dan kualitas sumber


daya manusia dalam pengelolaan drainase

STRATEGI
 Mendorong pembentukan dan perkuatan kelembagaan pengelola drainase
perkotaan di daerah
 Meningkatkan kerjasama dan koordinasi lintas sektoral dan lintas wilayah
administrasi
 Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola drainase perkotaan
di daerah
 Mendorong peningkatan kemauan politik (political will) para pemangku
kepentingan dalam memberikan prioritas yang lebih tinggi terhadap
pengelolaan drainase perkotaan.
KEBIJAKAN DAN STRATEGI DRAINASE

KEBIJAKAN - 5

 Pengembangan Sistem Pengelolaan Drainase Perkotaan diikuti dengan


peningkatan pembiayaan pengelolaan drainase perkotaan.

STRATEGI
 Menciptakan peluang alternatif pembiayaan dalam pengelolaan drainase
perkotaan
 Penetapan kebijakan satuan standar biaya pengelolaan teknis drainase
perkotaan
KEBIJAKAN DAN STRATEGI DRAINASE

KEBIJAKAN - 6

 Perlu dilakukan peningkatan peran serta masyarakat dan dunia usaha /


swasta dalam pengelolaan drainase perkotaan

STRATEGI
 Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya
pengelolaan drainase
 Mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan drainase pada
tahap penyusunan master plan, studi kelayakan, detail disain,
pembangunan, dan operasi - pemeliharaan drainase perkotaan.
 Mendorong peran serta dunia swasta dalam pengelolaan drainase melalui
kerjasama Pemerintah-Swasta (Public Private Partnership).
Sebagai salah satu bentuk penerapan eco-infrastructure

Eco-Drainase
• Upaya mewujudkan sistem pengelolaan kelebihan air, pencemaran
air, dan sampah perairan di daerah perkotaan di Indonesia.

• Upaya pengelola kelebihan air dengan cara diresapkan sebesar-


besarnya ke dalam tanah secara alamiah atau mengalirkan ke
sungai dengan tanpa melalui kapasitas sungai sebelumnya.

Sumber : PERMEN PUPR No.12/PRT/M/2014


PERWUJUDAN
ECO-DRAINASE

Konsep Konservasi (menampung, Memanfaatkan potensi


meresapkan, mengalirkan dan memelihara air hujan
sehingga tidak menimbulkan genangan.

Pemulihan kualitas air Reduksi secara signifikan


dari sumbernya sampah dan sedimen lainnya
di saluran drainase
Konsep Penanganan
Di Wilayah Hulu
Limpasan air hujan :
 ditahan dengan cara melakuan konservasi hutan/ tanaman keras,
 dialirkan terlebih dahulu ke waduk/kolam tampungan untuk diresapkan
(pola retensi sebagai upaya pengawetan/konservasi air).
 Kemudian kelebihan limpasan airnya dialirkan ke badan air terdekat.

Di Wilayah Tengah
 Limpasan air hujan melalui saluran drainase dialirkan terlebih dahulu ke
waduk/kolam tampungan untuk ditampung sementara atau diresapkan
apabila memungkinkan (pola retensi dan pola detensi). Kemudian
kelebihan limpasan airnya dialirkan ke badan air terdekat.

Di Wilayah Hilir
 Air limpasan saluran dialirkan melalui saluran drainase ke waduk/kolam
untuk penampungan sementara (pola detensi) sebelum dialirkan atau
dipompa ke badan air (sungai atau laut).
BAGAN DRAINASE PERKOTAAN

DRAINASE
RAMAH LINGKUNGAN

DRAINASE
DRAINASE
UTAMA
LINGKUNGAN
PERKOTAAN

Sistem saluran atau badan air dan Sistem saluran drainase dan
bangunan pelengkapnya yang bangunan pelengkapnya yang
menampung dan mengalirkan air menampung dan mengalirkan air
hujan dari daerah permukiman ke dari daerah tangkapan air hujan di
sungai/badan air lainnya permukiman perkotaan
DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Penyempurnaan yang tepat dalam upaya fisik dengan


upaya non-fisik antara lain dengan mengatur dan
mengendalikan pembudidayaan lahan melalui
vegetasi/tanaman.

BIOENGINEERING
PENGERTIAN BIOENGINEERING

• Penggunaan vegetasi sebagai pengendali erosi


dan mengurangi gerusan sedimen, serta
meningkatkan kualitas habitat.
• Penggunaan rumput dan pohon setempat yang
mampu menumbuhkan akar dan tunas dari batang BIO
tanaman (stek). ENGINEERING
• Dapat dikombinasikan dengan struktur
konvensional seperti batu lepas, beton, ban
bekas, geogrid, dan kayu besar.
KELEBIHAN BIOENGINEERING
 Lebih alami dan estetis dibanding penanganan erosi secara
konvensional.
 Menyediakan habitat yang kondusif bagi ikan dan hewan alam lain,
dengan menciptakan tempat berteduh dan tempat istirahat/berlindung
bagi organisme kecil saat terkena arus besar.
 Dapat meniadakan atau mengurangi biaya kompensasi akibat perubahan
habitat yang dibutuhkan oleh pemerintah.
 Vegetasi yang terbentuk akan menjadi komponen struktural.
 Fleksibel dan tidak terpengaruh oleh perubahan ringan akibat penurunan
tanah dan pergeseran.
 Lebih hemat biaya jika dibandingkan dengan metode rekayasa konvensional
lainnya.
 Dapat dikombinasikan dengan metode rekayasa konvensional.
 Dibutuhkan perawatan minimal.
Sungai Tuntang
DEMAK
Sungai Cijangkelok
BREBES
Sungai Cigora
BREBES
DRAINASE LINGKUNGAN
PERMEN PUPR NO. 11/PRT/M/2014
 SKALA PRIORITAS PENGELOLAAN AIR HUJAN
Prioritas Persyaratan Karakteristik/Kebutuhan
Spesifik
Prioritas 1 • Cuci Pada daerah dengan
Pemanfaatan Air Hujan • Siram tanaman ketersediaan air sedikit
secara maksimal • Minum (baku mutu)
• Dll
Prioritas 2 • Tidak ada larangan Pada daerah yang
Memaksimalkan infiltrasi instansi pemerintah memungkinkan untuk
untuk melakukan melakukan infiltrasi
infiltrasi
Prioritas 3 • Pilihan terakhir apabila Pada daerah yang tidak
Menahan air hujan prioritas 1 dan prioritas memungkinkan melakukan
sementara untuk 2 tidak dapat infiltrasi
menurunkan limpasan air dilaksanakan
hujan
JENIS SARANA PENGELOLAAN AIR HUJAN
Sarana Penampungan Air Hujan
• Dapat berupa bak, kolam, tangki air, tandon, dll.
JENIS SARANA PENGELOLAAN AIR HUJAN
Sarana Retensi

• Sumur resapan • Biopori • Sumur resapan dalam


JENIS SARANA PENGELOLAAN AIR HUJAN
Sarana Detensi

• Bak detensi sesuai dengan grativasi • Bak detensi dengan bantuan pompa
JENIS SARANA PENGELOLAAN AIR HUJAN
Sarana Detensi

• Taman vertikal • Taman atap


Penanganan Skala Lingkungan
Kampanye Biopori dan Tampungan Air Hujan oleh Menteri PUPR

Sosialisasi cara pembuatan lubang biopori dan teknologi Penampung Air Hujan (PAH) di
lingkungan Kementerian PUPR.
Menteri Basuki juga menjelaskan mengenai teknologi Penampung Air Hujan (PAH) inovasi
Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta dengan metode TRAP (Tampung, Resapkan,
Alirkan dan Pelihara). Konsep TRAP adalah air hujan dialirkan melalui talang masuk ke pipa
saringan yang didalamnya diisi bola-bola plastik dan busa yang biasa digunakan pada
akuarium yang kemudian ditampung dalam tangki air.

Penampung Air Hujan sudah digunakan masyarakat untuk memanen hujan di daerah rawa
Palembang, Sumsel namun belum menggunakan filter. Dengan adanya filter, kualitas air akan
lebih baik. Teknologi Penampung Air Hujan akan digunakan di Kabupaten Asmat karena
daerah rawa yang sulit air bersih.

Kementerian PUPR juga tengah membangun sistem drainase, fasilitas ground water tank
yang akan menyimpan air hujan yang jatuh di semua kawasan Kampus Kementerian PUPR
termasuk di atap semua gedung. Nantinya air yang berhasil di panen akan digunakan sebagai
sumber air alternatif kolam sanitasi, water cooling tower dan air bilas toilet.
PERINGATAN HARI AIR DUNIA 2018
Pipa Pori Resapan UGM
Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki solusi atas masalah
banjir di daerah padat penduduk. Mereka mengembangkan pipa pori
resapan yang menggabungkan fungsi sumur resapan, lubang resapan biopori,
dan pipa komposter resapan.
Wasrif, Taufan Kurniawan, dan Friski Cahya N membuat pipa pori resapan
tersebut dnegan menggunakan pipa pvc berdiameter satu hingga tiga cm.
Bagian dasar pipa diisi kerikil sebagai fondasi, hal ini mengadopsi konsep
sumur resapan. Aplikasi prinsip pipa komposter terdapat pada badan pipa,
yaitu pembuatan lubang pori dan kemudian diselimuti ijuk. Sementara,
fungsi biopori diterapkan dengan penambahan kompos pada bagian ujung
atas pipa.
Gagasan pipa pori resapan yang dituangkan dalam makalah berjudul Inovasi
Pipa Pori Resapan Untuk Penanggulangan Banjir di Kawasan Perkotaan Padat
Penduduk tersebut berhasil meraih medali emas pada Pekan Ilmiah
Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-XXIII di Universitas Mahasaraswati, Bali,
OLEH MAHASISWA UGM
akhir Juli lalu. Rencananya, konsep pipa pori resapan akan segera
diaplikasikan di area jurusan Teknik Sipil UGM untuk menguji efektivitas
kerjanya, sebelum benar-benar diterapkan di pemukiman padat penduduk.
Gerakan Konservasi Air (GERAI) Brawijaya
Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS., meresmikan
Gerakan Konservasi Air (GERAI) Brawijaya yang digagas oleh Eksekutif Mahasiswa (EM)
UB pada Rabu (25/4/2018). Gerakan ini dinilai positif oleh Rektor UB karena sejalan
dengan program dari Rektorat UB, yaitu menabung air. Dalam penjelasannya, Bisri
menjelaskan berbagai permasalahan terkait volume air di Indonesia.
Salah satu cara pengisian air tanahadalah dengan cara pembuatan sumur injeksi atau
sumur resapan. Yang membedakan dengan sumur resapan adalah dimensi sumur. Sumur
injeksi mempunyai kedalaman lebih dari 1 meter sampai dengan ratusan meter,
sehingga daya tampung airnya jauh lebih besar dibanding dengan sumur resapan.
Di UB sendiri terdapat 12 sumur injeksi yang tersebar di beberapa wilayah, diantaranya REKTOR MERESMIKAN
di Timur Kantor Perpustakaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Gedung Kuliah Bersama, GERAI BRAWIJAYA
Fakultas Teknik Pengairan, Fakultas Hukum, tiga sumur injeksi di Fakultas MIPA,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, serta tiga sumur injeksi di Fakultas Kedokteran.
Bahan Jalan yang bisa di serap air dari ITB
inovasi baru untuk mengatasi persoalan genangan air di jalanan perkotaan yang
kerap mengakibatkan banjir sementara.
Teknologi tersebut dinamai geopori. Geopori merupakan racikan bahan
pembuatan jalan sebagai pengganti beton atau aspal yang mampu menyerap
air genangan di jalan.
Bahan baku yang digunakan didapat dari bahan-bahan limbah industri
berbahaya seperti limbah batu bara yang kerap dipandang tak punya nilai
ekonomis.
ide pembuatan geopori tercetus sejak tahun 2003 dari keresahannya melihat
genangan air di jalanan yang kerap menyebabkan kemacetan. Proyek
percobaan dimulai tahun 2009.
Pada 2014, business plan sudah dihitung. Kemudian pada 2015, secara
teknologi geopori itu sudah bisa dipraktikkan dengan pembuatan konstruksi.
Dan air diserap langsung ke dalam tanah, tidak dibuang ke sungai.
daya serap geopori bisa mencapai 2.000 liter per menit per meter persegi.
Bahkan, daya serapnya bisa jauh lebih besar menyesuaikan kebutuhan
OLEH DOSEN ITB
konstruksi.
Yang penting bahan ini tahan gerusan air. Kalau aspal gak kuat, ini bukan aspal
dan juga bukan semen. Kalau menurut basic science, kekuatannya sampai 40
tahun karena memang tidak tergerus air. Contoh untuk bahu jalan saja mampu
menahan beban sekitar 1,5 ton per meter.
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BWS
SUMATERA I
BIOPORI (ACEH)

PEMANENAN AIR HUJAN


KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BWS
SUMATERA IV
PEMANENAN AIR HUJAN (BATAM)
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BWS
SUMATERA V
(PADANG)

PEMANENAN
AIR HUJAN

BIOPORI
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BBWS
SUMATERA VIII
(PALEMBANG)

PEMANENAN AIR HUJAN


KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BBWS
CIMANUK
CISANGGARUNG
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BIOPORI

BBWS
CIDANAU CIUJUNG
CIDURIAN

PEMANENAN
AIR HUJAN
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BBWS
BENGAWAN SOLO

BIOPORI
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BWS
KALIMANTAN I
(PROV. KAL-BAR)

PEMANENAN
AIR HUJAN
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BWS
KALIMANTAN II
(PROV. KAL-SEL)

PEMANENAN
AIR HUJAN
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

PEMANENAN AIR HUJAN


BWS
NUSA TENGGARA II
(KUPANG)
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BIOPORI

BWS
SULAWESI II
(GORONTALO)
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BWS
MALUKU UTARA
(TERNATE)

PEMANENAN
AIR HUJAN
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BWS
MALUKU
(AMBON)

BIOPORI
KEGIATAN PEMANENAN AIR HUJAN, BIOPORI DAN
SUMUR RESAPAN DI BBWS/BWS 34 PROVINSI

BWS
PAPUA
(JAYAPURA)

PEMANENAN AIR HUJAN


PENERAPAN ECO-INFRASTRUKTUR
DI BEBERAPA NEGARA LUAR
• Pelestarian habitat alami makhluk hidup
PENERAPAN ECO-INFRASTRUKTUR
DI BEBERAPA NEGARA LUAR
PENERAPAN ECO-INFRASTRUKTUR
DI BEBERAPA NEGARA LUAR
PENERAPAN ECO-INFRASTRUKTUR
DI BEBERAPA NEGARA LUAR
PENERAPAN ECO-INFRASTRUKTUR
DI BEBERAPA NEGARA LUAR
PENERAPAN ECO-INFRASTRUKTUR
DI BEBERAPA NEGARA LUAR
PENERAPAN ECO-INFRASTRUKTUR
DI BEBERAPA NEGARA LUAR
KOREA
PENERAPAN ECO-INFRASTRUKTUR
DI BEBERAPA NEGARA LUAR
KOREA
TERIMA KASIH