Anda di halaman 1dari 11

PEMERIKSAAN BIOMETRI

Pemeriksaan biometri telah mengalami perkembangan yang nyata sejak


diperkenalkan pertama kali pada tahun 1975. Saat itu, pemeriksaan dilakukan dengan
menggunakan gelombang suara untuk mengukur panjang bola mata. Di awal tahun 2000,
pemeriksaan biometri mengalami kemajuan yang sangat besar dengan dikembangkannya
teknik pengukuran kekuatan lensa intraokuler menggunakan gelombang laser. 12

I. ULTRASOUND BIOMETRY (A-SCAN BIOMETRY)


Suara merambat dalam bentuk gelombang. Gelombang suara yang dapat didengar
oleh telinga manusia berada pada frekuensi 20 Hz – 20.000 Hz. Ultrasound suatu keadaan
dimana gelombang suara memiliki frekuensi lebih dari 20.000Hz. Dalam bidang
oftalmologi, ultrasound biometry (baik A-scan maupun B-Scan) kebanyakan
menggunakan frekuensi 10 MHz.12
Kecepatan rambat suara ditentukan oleh media rambat yang dilaluinya. Suara
merambat lebih cepat pada media yang padat dibanding media yang cair, hal ini
merupakan prinsip penting untuk dipahami oleh karena mata terdiri atas komponen padat
dan cair. Dalam A-scan biometry, gelombang suara berjalan melalui kornea yang solid,
humor aquos yang cair, lensa yang solid, vitreus, retina, koroid, sclera dan jaringan orbita,
sehingga kecepatan rambat gelombang suara berubah-ubah.12
Prinsip pengukuran panjang bola mata dengan A-Scan Biometry adalah
berdasarkan waktu yang diperlukan oleh gelombang suara saat dikeluarkan oleh
transmitter probe hingga mencapai target dan kembali ke receiver probe. Mata terdiri
dari berbagai struktur dengan densitas yang berbeda-beda, sehingga kecepatan
gelombang suara yang melewatinya juga akan berubah-ubah. (tabel 1). Dengan
mengetahui kecepatan gelombang suara saat melewati masing-masing struktur tersebut,
maka panjang bola mata pun dapat diukur. 12

Tabel 1. Kecepatan Rambat Gelombang Suara Pada Berbagai Media


MEDIA KECEPATAN

Kornea dan lensa 1461


Akuous dan vitreus 1532
Lensa nomal 1550-1555
Lensa katarak 1640
Sillicone Oil 987
IOL PMMA 2381-2720
IOL Sillicone 980-1000
IOL Acrylic 2026

A-Scan Biometry dapat dilakukan dengan menggunakan 2 teknik, yaitu (1)


Aplanasi dan (2) Imersi. Teknik Imersi dinilai sedikit lebih akurat dibandingkan teknik
aplanasi karena ultrasound probe tidak menyentuh kornea sehingga menghindari
penekanan yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran panjang bola mata. Sayangnya,
teknik imersi ini dianggap kurang praktis karena membutuhkan waktu pemeriksaan yang
lebih lama. 12

II. TEKNIK APLANASI


Teknik aplanasi A-Scan biometry ditandai dengan probing ultrasound yang
ditempatkan secara langsung pada permukaan kornea. Pemeriksaan dimulai dengan
meneteskan anestesi topikal pada mata yang akan diperiksa. Ultrasound probe dipegang
dengan tangan, kemudian ujungnya disentuhkan pada kornea dalam posisi tegak lurus.
Idealnya, sebuah probe memiliki lampu di tengah yang akan menjadi titik fiksasi mata
pasien. Pada saat ujung probe akan disentuhkan pada kornea, pasien diminta menatap
lampu fiksasi dan operator menyentuhkan ujung probe pada refleks kornea yang
ditimbulkan oleh lampu fiksasi tersebut. 12

Gambar 19. Teknik Aplanasi A-Scan Biometry12

Pada teknik aplanasi, ultrasound probe diposisikan hingga terjadi kontak


langsung dengan kornea. Gelombang suara kemudian meninggalkan transduser dan
melewati berbagai struktur di mata yang memiliki densitas yang berbeda. Hal ini akan
menimbulkan sejumlah echo, yang kemudian akan diterima oleh probe. Berdasarkan pada
waktu timbulnya echo dan kecepatan gelombang suara melewati struktur tersebut,
perangkat lunak biometri akan menyusun suatu echogram. 12
Pada mata dengan lensa kristalina, echogram memiliki 6 gelombang, dimana
masing-masing akan mewakili : (a) ujung probe dan kornea, (b) kapsul anterior lensa, (c)
kapsul posterior lensa, (d) retina, (e) sklera, dan (f) lemak orbita (gambar 2). Panjang
aksis bola mata merupakan hasil penjumlahan kedalaman bilik mata depan (a-b),
ketebalan lensa (b-c), dan kavum vitreus (c-d). 12
s
Gambar 2. Echogram A-Scan Biometry dengan teknik aplanasi 4,5

Karakteristik A-Scan yang baik:

Terdapat 5 buah echo:

Gambar 20. Teknik Aplanasi A-Scan Biometry12

 Echo kornea yang tinggi


 Echo yang tinggi dari lensa bagian anterior dan posterior lensa
 Echo retina yang tinggi dengan bentuk yang langsung tegak lurus
 Echo yang tidak terlalu tinggi dari sclera
 Echo yang rendah yang berasal dari lemak orbita

Tinggi echo yang baik:


 Ketinggian echo dari bagian anterior lensa harus lebih dari 90%
 Echo yang berasal dari posterior lensa tingginya antara 50-75%
 Echo retina mempunyai tinggi yang lebih dari 75%

Gambar 21 : Contoh hasil pemeriksaan A-Scan yang baik 12


Gambar 22 : Contoh hasil pemeriksaan A-Scan yang buruk 12

Pada gambar di atas, tampak bahwa echo lensa bagian anterior tidak terlalu tinggi,
demikian juga dengan echo lensa posterior. Echo retina juga tidak naik dengan tegak
lurus, dimana hal ini menunjukkan bahwa posisi probe ultrasound tidak tegak lurus
dengan aksis visual mata. Jika tidak terdapat gambaran echo lemak orbita di belakang
echo retina, hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan tersebut tidak pada daerah makula
melainkan pada daerah nervus optik, sehingga ukuran axial length (AXL) yang diperoleh
tentu tidak benar.
Teknik aplanasi memerlukan kontak langsung dengan permukaan kornea
sehingga terjadi penekanan yang akan mengakibatkan pemendekan dari panjang bola
mata, yaitu berkisar antara 0,14 hingga 0,33 mm. Berdasarkan penelitian, diketahui
bahwa kesalahan pengukuran sebesar 0,1 mm akan mengakibatkan gangguan refraksi
pasca operasi sekitar 0,25 dioptri. Oleh karena itu, teknik pengukuran tanpa adanya
kontak langsung dengan kornea mulai dikembangkan.4
Teknik applanasi diyakini mempunyai akurasi yang cukup baik jika dilakukan pada
pasien dengan posisi tegak (duduk) dibandingkan hasil yang diperoleh dengan applanasi
ketika pasien berbaring.

III. TEKNIK IMERSI


Teknik imersi mulai dikembangkan seiring dengan kebutuhan akan hasil
pemeriksaan panjang bola mata yang akurat. A-Scan biometry dengan menggunakan
teknik imersi akan menunjukkan axial length lebih panjang dibandingkan teknik aplanasi
oleh karena tidak terdapatnya kompresi pada kornea sehingga axial length yang diperoleh
lebih akurat. Teknik imersi ini menggunakan ”prager scleral shell”. Meskipun prinsip
dari imersi biometry sama dengan aplanasi biometry akan tetapi tekniknya sedikit
berbeda.12

Gambar 23 : Prager shell.9


Teknik ini menggunakan penampang kecil berisi air untuk menghindari
penempatan probe langsung pada kornea. Jika dilakukan dengan benar, penekanan pada
kornea akan dapat dikurangi sehingga kesalahan pengukuran panjang bola mata juga
dihindari. 12

Gambar 6: Teknik Imersi A-Scan Biometry


Cara pemeriksaan:
 Pasien berbaring terlentang dengan penampang plastik yang diletakkan pada
permukaan kornea.
 Penampang tersebut lalu diisi dengan sejumlah cairan/BSS yang akan
meneruskan gelombang suara yang dilepaskan oleh probe ke dalam mata.
 Echogram yang dihasilkan oleh teknik pemeriksaan ini akan memberikan sebuah
gelombang tambahan, yaitu gelombang a yang mewakili ujung probe yang
sekarang terpisah dengan kornea yang diwakili oleh gelombang b (gambar 7). 4

Gambar 24. Perbandingan echogram pada teknik aplanasi dan teknik


imersi 12
Dengan menggunakan A-Scan ultrasound biometry, mata dibagi atas tiga
kompartemen, yaitu :
(1). Bilik mata depan (Anterior Chamber Depth / ACD) merupakan jarak antara
permukaan anterior kornea dan permukaan anterior lensa.
(2). Ketebalan lensa (Lens Thickness / LT), merupakan jarak antara permukaan anterior
lensa dan permukaan posterior lensa.
(3). Kedalaman corpus vitreus, jarak antara permukaan posterior lensa dengan permukaan
anterior kornea.
Sedangkan axial length merupakan jarak permukaan anterior kornea dengan
permukaan anterior retina. Hasil pengukuran-pengukuran tersebut dapat dilihat langsung
pada layar monitor atau dapat dihitung berdasarkan skala yang terdapat di bagian bawah
sumbu X pada layar dalam satuan milimeter.9 Namun hasil pengukuran dengan
menggunakan teknik aplanasi memberikan hasil yang tidak konsisten dibanding teknik
imersi.

Gambar 25 : Perbandingan hasil pengukuran pada teknik aplanasi dan imersi A-Scan biometry.12
Pada gambar di atas terlihat bahwa hasil pengukuran dengan menggunakan teknik
aplanasi menunjukkan variasi dari satu pengukuran ke pengukuran berikutnya akibat
adanya penekanan kornea yang tidak konsisten, sedangkan pada teknik imersi tampak
hasil pengukuran yang konsisten.12

IV. OPTICAL BIOMETRY


Optical biometry bersifat non-kontak dan telah terbukti keakuratannya dalam
mengukur axial length dan juga sekaligus mengukur radius kurvatur kornea (corneal
power) dan bilik mata depan, sehingga dalam satu kali pemeriksaan dalam waktu yang
singkat (1 menit) dapat diperoleh ukuran power IOL. Sejak pertama kali diperkenalkan
pada tahun 2000, optical biometry telah digunakan secara luas menggantikan ultrasound
biometry. Alat ini terbukti lebih akurat dalam mengukur panjang bola mata. 12
PARTIAL COHERENCE INTERFEROMETRY (PCI)
Alat optical biometry pertama yang menggunakan partial coherence
interferometry dikenal sebagai IOL Master (Carl Zeiss Meditec AG). Alat ini merupakan
alat optik non kontak yang mengukur jarak antara puncak kornea dengan lapisan epitel
pigmen retina. 12

Gambar 26. IOL Master 12


Keunggulan IOL Master adalah memiliki ketepatan pengukuran hingga ± 0,02
mm, lima kali lebih baik dibandingkan alat ultrasound yang hanya memiliki ketepatan
pengukuran 0,10-0,12 mm. Perbedaan ini terjadi oleh karena IOL Master menggunakan
cahaya koheren dengan panjang gelombang yang lebih pendek dibanding ultrasound
sehingga panjang bola mata diukur dari kornea sampai lapisan RPE di fovea dan bukan
terhadap membrana limitans interna seperti pada alat ultrasound. Hal ini akan
memberikan perbedaan sekitar 130 um yang berhubungan dengan ketebalan retina di
fovea. 12

Gambar 27. Perbedaan prinsip pengukuran panjang bola mataantara alat ultrasound dengan IOL
Master
Sistem pengukuran IOL Master menggunakan sinar inframerah dengan panjang
ge-lombang 780 nm yang ditransmisikan ke bola mata menggunakan interferometer
Michelson. Sinar inframerah tersebut lalu dipantulkan kembali oleh epitel pigmen retina
dan diterima oleh interferometer yang akan menghitung besar kekuatan lensa intraokuler
yang dibutuhkan. Oleh karena menggunakan sinar inframerah, alat ini dapat digunakan
untuk mengukur panjang bola mata pada keadaan pseudophakia, aphakia, maupun mata
dengan silicon oil tanpa perlu mengubah kecepatan seperti pada alat ultrasound A-Scan.
12

Teknik pengukuran secara non kontak memberikan beberapa keuntungan seperti


tidak dibutuhkannya anestesi topikal dan tidak adanya resiko trauma maupun infeksi pada
kornea. Selain itu, hasil pengukuran menggunakan IOL Master lebih sedikit dipengaruhi
oleh operator dibandingkan alat ultrasound. 12
Namun, alat ini juga memiliki beberapa keterbatasan, yaitu tidak dapat di-gunakan
pada mata yang memiliki katarak yang sangat padat, maupun pada keadaan dimana
terdapat kekeruhan media refrakta. Selain itu, pengukuran juga tidak dapat dilakukan
pada pasien yang kesulitan untuk menetapkan titik fiksasi, misalnya pasien dengan
nistagmus, maupun pada pasien yang tidak kooperatif, misalnya anak-anak atau pasien
yang mengalami retardasi mental. 4,5,12

Gambar 28. Perbandingan hasil pemeriksaan IOL Master pada media yang jernih dan pada katarak
yang padat 12

OPTICAL LOW-COHERENCE REFLECTOMETRY (OLCR)


Tahun 2008, sebuah alat biometri yang menggunakan optical low-coherence
reflectometry (OLCR) diperkenalkan dengan menggunakan nama Lenstar LS 900 (Haag
Streit AG). Selain mengukur panjang bola mata, alat ini juga mengukur kedalaman bilik
mata depan, ketebalan kornea, lensa, dan retina, keratometri, ukuran pupil, dan diameter
kornea (white to white distance). Seluruh parameter tersebut diukur hanya dengan satu
langkah sehingga waktu pemeriksaan akan lebih singkat. 12
Gambar 12. Lenstar LS 90012
Dalam mengukur panjang bola mata, alat ini menggunakan sumber cahaya berupa
diode superluminisens dengan panjang gelombang 820 nm. Dengan menggunakan prinsip
OLCR, alat ini juga mengukur kedalaman bilik mata depan dari endotel kornea ke kapsul
anterior lensa. Berbeda dengan alat PCI yang menggunakan slit illumination dalam
memperkirakan kedalaman bilik mata depan. Sebagai tambahan, baik PCI maupun OLCR
sama-sama menggunakan analisis gambar dalam mengukur keratometri dan white to
white distance. 12
Suatu penelitian yang membandingkan akurasi pengukuran lensa intraokuler
menggunakan kedua alat optical biometry tersebut, menemukan bahwa panjang bola mata
dan kedalaman bilik mata depan yang diukur menggunakan OLCR secara statistik lebih
besar dibanding hasil pengukuran yang menggunakan PCI. Selain itu, nilai keratometri
juga memberikan sedikit perbedaan. Namun secara klinis, saat nilai-nilai tersebut
digunakan dalam perhitungan kekuatan lensa intraokuler, perbedaan yang diperoleh tidak
signifikan. Penelitian lain membanding-kan waktu yang dibutuhkan oleh kedua alat
dalam proses pengukuran. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa waktu yang
dibutuhkan dalam pemeriksaan meng-gunakan PCI lebih singkat dibandingkan OLCR.
Sebagai tambahan, media refrakta yang keruh yang merupakan kelemahan dalam
pengukuran menggunakan PCI juga menjadi kelemahan pada

PEMERIKSAAN RETINOMETRI
Pemulihan tajam penglihatan pasca bedah katarak kadang-kadang dapat juga
melebihi dari hasil yang diprediksi sebelumnya. Prediksi tajam penglihatan pasca bedah
sangat penting untuk memberikan informasi kepada penderita dan keluarganya mengenai
prognosis tajam penglihatan pasca bedah, bila operasi yang mereka jalani tanpa
komplikasi.13
Potensi tajam penglihatan (fungsi makula) pada keadaan lensa yang keruh
(katarak) dapat dinilai dengan menggunakan metoda potential acuity measurement
(Borish, 2012). Pemeriksaan potential acuity measurement diperiksa antara lain dengan
menggunakan Potential Acuity Meter (PAM), Inferometer (Interference Fring
Methods/IFM) baik laser, halogen ataupun cahaya (retinometri). Pemeriksaan potential
acuity measurement di RSUP Sanglah menggunakan retinometri (Lotmar Visometer dari
Haag Streit International) .13
Prinsip pemeriksaan PAM dan IFM adalah memproyeksikan objek dengan
diameter kecil di retina, sehingga hampir tidak terpengaruh oleh status refraksi penderita.
PAM memproyeksikan Snellen Chart pada retina sedangkan retinometri
memproyeksikan gambaran grating dark and light di retina. Proyeksi objek PAM
dihasilkan melalui satu area kecil (0,1 mm) di pupil untuk mencapai retina.
Pemeriksaan retinometri (interference-frings methods) dilakukan dengan
memberikan sinar yang melalui 2 area kecil di pupil yang dilalui oleh 2 objek, dan
kemudian keduanya saling tumpang tindih sehingga terbentuk bayangan grating dark and
light di retina Pemeriksaan dilakukan dengan mengatur ketebalan grating dark and light,
dari grating yang tebal sampai dengan grating yang halus sampai penderita tidak dapat
lagi membedakan arah grating (vertikal, horisontal maupun diagonal). Pemeriksaan ini
akan didapatkan status tajam penglihatan yang disebut grating visual acuity dengan nilai
0,1 - 1,0. Pemeriksaan retinometer memerlukan kerjasama yang baik dengan penderita.
Penderita diharapkan dapat merubah posisi kepala sedikit untuk memungkinkan sinar
retinometer masuk ke celah kekeruhan media refrakta. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan
dengan pupil lebar .13
Pemeriksaan retinometri penting sebagai prediksi hasil operasi katarak Metoda
pemeriksaan prediksi tajam penglihatan dimana terdapat kekeruhan yang mengganggu
media refraksi diperiksa dengan clinical interferometer (interferometer klinis), dan
potential acuity meter. Prinsip pemeriksaan ini adalah memproyeksikan bayangan dengan
diameter kecil ke retina melalui celah-celah kekeruhan media refraksi, sehingga dapat
menghilangkan efek penyebaran sinar (scaterring) oleh karena kekeruhan pada media
tersebut .13
Pemeriksaan retinometri pada penelitian ini menggunakan interferometer.
Pemeriksaan interferometer (IFM), yaitu pemeriksaan dengan memproyeksikan sinar
yang koheren melalui dua lubang kecil dari sistem optik mata. Dua sinar tersebut
membentuk gambaran interference frings di retina (kisi-kisi). Jarak antara 2 pita tersebut
dapat diatur sesuai jarak kedua sinar tersebut. Semakin lebar jarak kedua sinar semakin
tipis jarak antar pita. Hasil dari pemeriksaan ini adalah tajam penglihatan kisi-kisi (grating
visual acuity) dengan notasi snellen acuity. Penelitian ini menggunakan pemeriksaan
retinometri dengan alat retinometer Heine Lambda dimana pemeriksaan dilakukan pada
pupil lebar setelah ditetes midriatikum.
Retinometri merupakan pemeriksaan yang bisa memprediksi hasil pasca operasi
katarak. Pemeriksaan retinometri dapat memberikan hasil positif palsu ataupun negatif
palsu. Hasil positif palsu yaitu hasil retinometri pra bedah katarak memberikan hasil yang
sama jika dibandingkan dengan hasil retinometri pasca bedah katarak. Hal ini bisa terjadi
pada keadaan seperti edema makula kistoid (CME), glaukoma, AMD. Hasil negatif palsu
yaitu hasil retinometri pra bedah katarak memberikan hasil yang lebih buruk
dibandingkan dengan hasil retinometri pasca bedah katarak. Hal ini seringkali terjadi
karena ketidakmampuan alat retinometri menembus lensa yang keruh merata. Pada
penelitian ini, didapatkan bahwa seluruh data retinometri pra bedah mencakup hasil
negatif palsu, yaitu penilaian retinometri pra bedah lebih buruk daripada retinometri pasca
bedah. Pada penelitian ini tidak ditemukan hasil positif palsu. Hasil positif palsu tentu
akan sangat mengecewakan para ahli bedah dan pasien, terutama karenasudah diprediksi
di awal hasil operasi katarak baik, namun ada beberapa keadaan yang bisa membuat tidak
seperti harapan. Penelitian Campbell (2011) memperlihatkan bahwa 20% pasien pasca
bedah katarak 2 bulan setelah operasi memiliki BCVA yang sama jika dibandingkan
dengan hasil retinometri pra bedah katarak.13
Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, dari 20% pasien tersebut, didapatkan
gangguan lain pada retina yaitu CSME, epiretinal membrane dan macular pucker .13

Anda mungkin juga menyukai