Anda di halaman 1dari 3

Tapak Tilas Seorang Muallaf Cilik

By: Sakiatu sahrah

Narasumber dari kisah yang akan saya ceritakan ini berasal dari seorang teman yang
sekelas dengan saya, di matakuliah PKN untuk semester ini. Ia adalah seoarang remaja laki-
laki yang akrab di sapa dengan TARUQ, tetapi terkadang ia keberatan dengan nama tersebut,
karena dari ceritanya nama itu adalah nama sebelum ia memeluk Islam, sehingga lebih baik
jika kita memanggilnya dengan nama “RAUF”, atau Abdul Rauf lebih lengkapnya.

Kisah perjuangan dari seorang muallaf yang bisa dikatakan masih berada di usia belia
waktu itu, merupakan salah satu bentuk realita yang cukup inspiratif bagi saya, bahkan
siapapun yang mendengarkannya, terkhusus bagi seorang yang memang sudah bermerkkan
ISLAM sejak masih berada dalam kandungan. RAUF, itulah sapaan akrabnya, yang
merupakan bocah asli daerah Pinrang, dan dibesarkan dalam keluarga sederhana, tetapi
sayangnya mereka menganut kepercayaan Animisme, atau bisa disebut dengan ATEIS (kaum
Tak bertuhan), yang tidak memiliki identitas agama apapun sesuai yang tercantum dalam
UU. Kedua orangtuanya bekerja sebagai buruh tani, dan hidup bersama 6 saudaranya.
Menurut Rauf, ayahnya mendapat julukan sebagai DUKUN di daerah tempat tinggalnya, dan
termasuk tipe yang sangat keras dan kuat akan keparcayaan dari leluhurnya, yang mungkin
kata Rauf hati dan pikiran ayahnya sudah buta akan ajaran apapun. Tetapi, beruntunglah ke 7
anaknya tidak ada yang mengikuti jejak sang ayah, termasuk Rauf yang telah memilih
ISLAM sebagai agamanya yang kekal, yah walaupun menurut Rauf hanya kakak ke-2 dan
ke-3 nya lah yang benar-benar mendalami dan menjalankan ajaran ISLAM dengan baik,
sedangkan saudara yang lainnya hanya ISLAM KTP.

Perjuangan Rauf dalam memeluk Islam, ia mulai di tahun 2008. Pada saat itu ia masih
duduk di bangku kelas 5 SD, yah usia anak-anak yang bercirikan segudang tanda tanya
mengenai hal apapun, termasuk dari kebiasaan-kebiasaan sang ayah yang menurut Rauf
sangat berbeda dan bertentangan dengan perilaku para tetanngga dan teman-temannya yang
beragama ISLAM, seperti SHOLAT. Menurut Rauf, sewaktu SD dulu setiap Pelajaran
Agama Islam (PAI) berlangsung para siswa yang beragama NONIS diminta untuk
meninggalkan kelas, seperti dirinya. Tetapi terkadang jika gurunya berbaik hati untuk tidak
menyuruhnya keluar, ia tetap berada di kelas mengikuti pelajaran PAI dengan seksama,
bahkan lebih hikmat dari teman-temnanya yang lain, yang notabene ISLAM dari lahir. Ia
mengaku sangat senang mendengarkan guru PAI-Nya ketika menjelaskan di depan kelas.
Disnilah awal dorongan untk memeluk ISLAM itu muncul di dalam hati Rauf. Ia masih ingat
dengan rasa penasarannya yang pertama kali jatuh kedalam kalimat BASMALAH, yang terus
ia tanyakan kepada temannya mengenai arti setiap penggalangan kalimat tersebut, dan di
malam harinya ia bermimpi menggambar mesjid, yang keesokan harinya Rauf semakin
gelisah, kerana dorongan mempelajari ISLAM semakin bertambah di dalam pikirannya.
Selain itu, ditambah dari dorongan kakak ke-3nya yang sudah terlebih dahulu masuk ISLAM,
menambah keyakinannya di dalam hati untuk mantap memilih ISLAM sebagai keprcayaanya
yang riil. Walaupun pada awalnya keinginannya ini, di tentang keras oleh sang Ayah, yang
bahkan mengancam Rauf untuk tidak diakui lagi sebagai anak, tetapi hal itu tetap tidak
menggoyahkan niat rauf untuk masuk ISLAM, karena sang kakak juga menjanjikan jaminan
Pedidikan untuk dirinya.

Resminya Rauf mengucapkan dua kalimat syahadat ia lakuakan di tahun 2009, setelah
ujian nasioanal SD. Dengan penuh keberanian ia memilih untuk masuk pesantren di luar
daerahnya, karena menuruntya di tempat itulah ia bisa memperolah jawaban-jawaban dari
setiap serpihan soal yang ada di benaknya tentang ISLAM. Di dalam pesntren ini jualah, ia
memutuskan untuk mengganti namanya dari TARUQ menjadi ABDUL RAUF (Hamba
Allah Yang Pengasih). Tetapi, tetap saja nama KTP, dan dokumen tentang dirinya masih
berlabelkan TARUQ, karena banyaknya kendala yang ia temui apabila ingin mengubah
semua dokumen tersebut. Rauf sempat kehilangan kontak dengan kedua orangtuanya di awal
resminya ia menjalani lembaran barunya sebagai seorang muallaf, karena ketidakrelaan sang
Ayah melihat anknya memeluk ISLAM.

Setelah beberapa tahun hidup dalam lingkungan pesantren, Rauf mencoba


peruntungan melalui jalur SNMPTN untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat perguruan
tinggi dan alhamdulillah ia lolos masuk di UNHAS jurusan Sastra Arab. Awal menginjakkan
kaki di kota asing (Makassar) menurut rauf, ia lalui dengan penuh rintangan dan rasa pedas
manis yang mengiringinya, dimulai dari kehidupannya di kostan sang kakak yang berada di
Batua, kemudian harus tinggal di Gudang ramsis ketika masa berlaku kostan kakaknya sudah
habis, serta ada dosen yang berbaik hati untuk menampungnya tinggal di rumahnya, tetapi
karena rasa sungkan yang amat besar, Rauf memutuskan untuk pergi dan akhirnya tempat
sekret dari UKM VOLLY lah yang menjadi atap rumahnya hingga sekarang, untuk bertahan
hidup tergantung dari Rezeki pemberian Allah katanya, karena Rauf juga tidak mau
membebani Kakaknya yang sekarang masih mencari pekerjaan di Balikpapan.
Rasa menggebu untuk mengislamkan kedua orangtuanya masih tertanam kuat dalam
tekadnya. Ia ingin sekali melihat kedua orangtuanya berada di jalan yang benar, dan Rauf
percaya bahwa Anak yang Sholehlah yang mampu menjadi penyelamat para orangtua di
kelak akhirat nanti, oleh karena itu untuk saat ini ia bersungguh-sungguh dan bekerja keras
untuk menjadi bagian orang-orang yang beriman, bukan hanya sekedar ISLAM KTP, serta c
ita-citanya untuk menjadi seorang Ulama. Semoga tekad dan apa yang dicita-citakan oleh
teman kita yang satu ini benar-benar terwujud, dan selalu berada dalam nauangan Allah
SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin.