Anda di halaman 1dari 3

Problematika HAM, Delinkuensi di Era

Globalisasi [Essay]
Posted on August 22, 2010 by Muhammad Afif Izzatullah

1 Votes

Era globalisasi, era dimana kebebasan telah menjadi dasar yang digunakan manusia dalam
menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap orang sudah memiliki kebebasan mutlak dalam
bertindak, berbicara dan berpartisipasi di era serba moderen ini. Derajat telah disamaratakan
tanpa diskriminasi dan perbedaan. Jenis kelamin tidak lagi menjadi tembok untuk
berkembang. Warna kulit telah diabaikan di setiap komunikasi. Hak dan kewajiban telah
bersatu menjadi bagian dari setiap masyarakat.

Namun demikian tidak semua orang mempraktekkan hal-hal tersebut dalam setiap
aktivitasnya. Terlihat masih banyak penyimpangan dan perselisihan yang diakibatkan oleh
gender, dikotomi warna kulit, materi, sehingga tidak heran bullying terjadi di banyak tempat.
Padahal tanpa mendesegregasikan perbedaan tersebut, akan sangat merugikan keharmonisan
antar masyarakat. Apalagi sampai menghubungkan ke masalah genetik. Dan lagi sadarkah
mereka bahwa telah mutlak setiap manusia memiliki Hak Asasi Manusia?

Namun, terkadang di abad ke 21 ini semua seperti serba salah. Rakyat di berikan Bantuan
Langsung Tunai (BLT) malah menjadikannya sebagai ajang meminta-minta. Busway dengan
tujuan utama untuk mengatasi masalah transportasi malah menjadi tempat pelecehan seksual.
Bahkan demo-demo yang diwarnai aksi brutal terus bergejolak di setiap depan kantor
pemerintah. Apakah semua itu bisa dikatakan ‘hak’ mereka?

Kadangkala alasan-alasan yang dilontarkan oleh pelaku kejahatan tertuju kepada Hak Asasi
Manusia itu sendiri. Seenaknya para mahasiswa berkata “itu hak saya untuk berbicara” dalam
aksi demo yang kebanyakan bukan berbicara melainkan aksi anarkis yang merugikan
masyarakat umum. Begitu juga BLT, mereka yang menggunakannya sebagai ajang
“meminta-minta” memberikan alasan: itu hak kami menggunakannya untuk apa. Padahal
jelas BLT bukan ajang pemberian uang, tapi modal agar mereka bisa membuka usaha untuk
menunjang kehidupannya.

Kedua kasus tersebut adalah contoh simpel penyalahgunaan HAM yang sekarang banyak
terjadi di kehidupan nyata. Mereka menggunakan Hak Asasi sebagai tameng alasan untuk
melakukan perbuatan yang mereka anggap benar namun kenyataannya jelas-jelas salah.
Memang, arti dasar dari Hak Asasi Manusia itu sendiri adalah hak yang melekat pada diri
setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu
gugat siapa pun. Namun bukan berarti Hak asasi berada di puncak dari segala-galanya. Masih
banyak nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam bertindak, bukan hanya beralaskan Hak
asasi saja.

Dalam Hal ini kita termasuk saya sadar betapa pentingnya hak asasi bagi kehidupan “jika”
diasumsikan tidak adanya penyalahgunaan. Jelas! Kita semua sekarang bisa hidup
berdiplomat karena setiap orang memiliki hak asasi dalam dirinya. Jujur kita tidak akan bisa
lepas dari ketergantungan terhadap hak asasi. Karena itu sudah menjadi kodrat sekaligus
berkah bagi kita sebagai makhluk homo socius.

Secara prinsip HAM dibagi lagi menjadi 6 bidang, yaitu: Hak asasi pribadi, Hak asasi politik,
Hak asasi hukum, Hak asasi Ekonomi, Hak Asasi Peradilan dan Hak asasi sosial budaya yang
semuanya saling berkesinambungan satu sama lain. Namun dari semua itu yang jelas
merupakan hak terpenting terutama bagi para pemuda/pemudi adalah hak asasi pribadi
(personal rights).

Adapun personal rights itu meliputi: Hak kebebasan bergerak, bepergian dan berpindah-
pindah tempat; Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat; Hak kebebasan
memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan; Hak kebebasan untuk memilih, memeluk,
menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing. Dan Hak-hak lain yang
berkaitan dengan diri pribadi.

Hak pribadi sangat penting bagi setiap orang terutama mahasiswa yang sedang menjalani
pendidikan kuliahnya. Mereka mempunyai hak untuk berekspresi, menyampaikan pendapat,
berorganisasi yang sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan hidup perkuliahan.

Namun disini, masih terdapat banyak penyalahgunaan hak asasi dalam beberapa tindakan
yang bertentangan dengan norma-norma dan peraturan yang berlaku di masyarakat. Demo
salah satunya. Hak untuk berpendapat sangat berkaitan dengan delinkuensi ini. Kebanyakan
para pendemo mahasiswa beralasan: ‘itu hak mereka untuk berpendapat’ tanpa melihat
peraturan-peraturan dasar lain. Keanarkismean mereka salah satunya.

Berdemo sebenarnya merupakan salah satu hak pribadi setiap orang “asalkan” taat dan patuh
dengan peraturan yang berlaku. Bukannya menjadi pendemo yang indisipliner. Menghindari
perbuatan anarkis yang merugikan masyarakat umum salah satunya. Karena meski mereka
beralasan “kami memiliki hak berpendapat” tetapi mereka melupakan sesuatu yang lebih
penting dari itu. Yaitu menganggu hak pribadi masyarkat umum disebabkan perbuatan brutal
mereka.

Disini yang harus digarisbawahi adalah minimnya sosialisasi dan pengetahuan dasar para
penyalahguna hak tersebut dalam menjalani kehidupan nyata. Mereka seenaknya menjadikan
Hak Asasi sebagai tameng penyelewengan mereka. Karena sebenarnya hak bukan satu-
satunya alasan dalam setiap tindakan. Namun norma, peraturan, hak orang lain juga harus
dipertimbangkan.

Karena hal-hal diataslah saya sebagai salah satu generasi muda bangsa sadar perlunya
pengetahuan yang lebih terutama mengenai Hak Asasi Manusia ini. Agar kedepan bisa
berbagi dan sebisa mungkin meluruskan kebengkokan yang terjadi dalam problematika HAM
di Indonesia. Salah satunya dengan mengikuti berbagai seminar, workshop atau apapun
dengan tujuan menggali sedalam-dalamnya seluk beluk masalah Hak Asasi Manusia terutama
bagi pemuda Indonesia