Anda di halaman 1dari 21

SYSTEM ACTIVITY BASED COSTING ( ABC )

MAKALAH

HALAMAN JUDUL

Dosen Pembimbing:

Di Susun Oleh:

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MUSAMUS MERAUKE
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah senantiasa memberikan rahmat dan

nikmat yang tiada terkira bagi kami. Sehingga dengan nikmat dan rahmatNya kami

mampu untuk menyelesaikan makalah sebagai tugas kelompok dalam mata kuliah

“Akuntansi Biaya II ”.

Terimakasih juga kami sampaikan kepada bapak. Xxxxxxxxxxxxx yang

telah memberikan tugas ini sehingga kami dapat memahami tentang materi

Activity Based Costing ”.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk

itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaannya.

Merauke, Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................... 1

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 1

C. Tujuan .......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3

A. Pengertian Activity Based Costing .............................................................. 3

B. Biaya Produk ................................................................................................ 4

C. Biaya Per Unit .............................................................................................. 5

D. Metode Penentuan Biaya Produk ................................................................. 9

E. Manfaat Dan Keterbatasan Sistem ABC .................................................... 14

F. Kelebihan Dan Kelemahan Sistem ABC ................................................... 15

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 17

A. Kesimpulan ................................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penggunaan sistem tradisional (istilah yang digunakan untuk pembebanan

overhead pabrik dengan satu cost pool atau satu dasar pembebanan) aka

menghasilkan kesalahanperhitungan biaya, khususnya produk yang memiliki

volume tinggi dan biaya tenaga kerja langsung tinggi akan kelebihan pembebanan

biaya. Untuk mengatasi maalah yang timbul dalam pembebanan, maka

dikembangkan metode ABC (Activity Based Costing) pada perusahaan manufaktur

di Amerika Serikat pada tahun 1970-an hingga 1980-an. Selama periode tersebut,

Consentrium for Advanced Management-Internasional, sekarang dikenal dengan

nama CAM-1, mengembangkan bentuk dasar untuk mempelajaridan menyusun

prinsip-prinsip yang pada akhirnya dikenal dengan nama activity based costing.

ABC (Activity Based Costing) didefinisikan sebagai suatu sistem

pendekatan perhitungan biaya yang dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang

ada di perusahaan. Sistem ini dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa penyebab

timbulnya biaya adalah aktivitas yang dilakukan dalam suatu perusahaan, sehingga

wajar bila pengalokasian biaya-biaya tidak langsung dilakukan berdasarkan

aktivitas tersebut (Hongren, 2005).

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Activity Based Costing (ABC)?

2. Apa yang dimaksud Biaya Produk?

3. Bagaimana Metode Penentuan Biaya Produk?

1
4. Apa Manfaat dan Keterbatasan dari Sistem ABC?

5. Bagaimana Kelebihan dan Kelemahan dari Sistem ABC?

C. Tujuan

1. Menjelaskan tentang Activity Based Costing.

2. Menjelaskan tentang Biaya Produk.

3. Menjelaskan tentang Metode Penentuan Biaya Produk.

4. Menjelaskan Manfaat dan Keterbatasan dari Sistem ABC.

5. Menjelaskan tentang kelebihan dan Kelemahan dari Sistem ABC.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Activity Based Costing

Menurut Kusnadi dkk. dalam buku Akuntansi Manajemen Komprehensif

Tradisional dan Kontemporer, ABC secara garis besar didefinisikan sebagai suatu

sistem penetapan biaya pokok dimana banyak kumpulan

biaya overhead dialokasikan dengan mempergunakan dasar yang dapat mencakup

satu atau lebih faktor yang terkait dengan volume.

Dalam kamus istilah ekonomi, activity based costing (ABC) merupakan

pendekatan penghitungan analisis biaya yang membantu manajemen untuk

menganalisis dasar perhitungan biaya secara lebih bermanfaat, menginformasikan

aktivtas seluruh bagian organisasi yang memberikan gambaran lebih jelas terhadap

hubungan antara aktivitas dan biaya, selain itu, ABC merupakan dasar upaya untuk

memahami pola perilaku seluruh jenis biaya organisasi yang menghubungkan biaya

operasi dalam sebuah rantai nilai agar manajemen mampu mengidentifikasi faktor-

faktor yang mendorong terjadinya pengeluaran serta memfokuskan diri pada jenis

biaya kunci dan selanjutnyamengelola biaya tersebut secara lebih efektif.

Dari beberapa pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa activity

based costing merupakan pendekatan yang dilakukan untuk penentuan harga pokok

produk yang ditujukan untuk menyajikan informasi harga pokok produk secara

cermat dengan mengukur secara cermat konsumsi sumber daya dalam setiap

aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk. Atau bisa dikatakan ABC

3
( Activity Based Costing ) adalah metode penentuan biaya produk yang

pembebanan biaya overhead berdasarkan pada aktivitas yang dilakukan dalam

kaitannya dengan proses produksi.

B. Biaya Produk

Pengertian biaya produk ditentukan oleh tujuan manajerial yang ingin

dipenuhi. Definisi biaya produk dapat memberikan gambaran mengenai prinsip

dasar manajemen biaya, yaitu biaya yang berbeda untuk tujuan yang berbeda .

Sebagai contoh , manajemen tertarik pada analisis profitabilitas starategis. Untuk

mendukung tujuan ini, manajemen membutuhkan informasi mengenai semua

penerimaan dan biaya yang berkaitan dengan produk.

Berdasarkan kepentingan pelaporan eksternal, biaya produk dapat

diklasifikasi menjadi tiga komponen, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja

langsung, dan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku adalah penggunaan bahan-

bahan yang dapat dilacak secara langsung ke dalam produk atau jasa yang

dihasilkan. Biaya ini dapat dialokasikan langsung ke produk karena observasi

secara fisik dapat digunakan untuk mengukur kuantitas yang dikonsumsi oleh setiap

produk. Bahan yang menjadi bagian dari produk berwujud atas penyediaan jasa

juga dapat diklasifikasikan sebagai bahan baku. Contoh bahan baku,yaitu: kayu di

pabrik mabel, baja dipabrik mobil, terigu di pabrik roti,dan bahan bakar di maskapai

penerbangan.

Biaya tenaga kerja langsung merupakan tenaga kerja yang dapat dilacak

secara langsung ke dalam produk atau jasa yang dihasilkan. Seperti bahan baku,

4
observasi fisik dapat digunakan untuk mengukur jumlah penggunaan tenaga kerja

untuk menghasilkan sebuah produk atau jasa. Tenaga kerja yang mengubah bahan

baku menjadi sebuah produk atau yang menyediakan layanan kepada konsumen

diklasifikasikan sebagai tenaga kerja langsung. Misalnya tukang kayu di pabrik

mabel,tukang las di pabrik mobil,dan pilot di maskapai penerbangan.

Biaya overhead adalah semua biaya poduksi selain bahan baku dan tenaga

kerja langsung. Dalam perusahaan manufaktur, biaya overhead sering disebut

sebagai beban pabrik (factory burden) atau overhead pabrik. Contoh gaji

mandor,gaji teknis perawatan mesin pabrik, dan biaya penggunaan bahan bakar

mesin diesel untuk kelistrikan pabrik.

C. Biaya Per Unit

1. Pengertian Biaya Per Unit

Biaya per unit ( unit cost ) adalah biaya yang yang dikeluarkan untuk

menghasilkan tiap satu unit produk. Biaya yang dihitung berasal dari

pembebanan biaya ke obyek biaya seperti produk, konsumen, pemasok,dan

bahan mentah.

Biaya Total
Biaya Per Unit =
Jumlah Unit Diproduksi

Perhitungan biaya per unit produk yang pertama, harus ditentukan

terlebih dahulu apa dan berapakah biaya total. Perlu juga dibatasi apakah

biaya total itu hanya berupa biaya produksi atau termasuk biaya pemasaran.

Kedua, harus ditentukan cara mengukur biaya yang akan dibebankan dalam

biaya total. Pengukuran akan dilakukan berdasarkan biaya sesungguhnya

5
ataukah biaya yang diestimasikan saja. Ketiga, pemilihan metode

pembebanan suatu biaya ke dalam biaya produk yang akan digunakan.

2. Pentingnya Penentuan Biaya Per Unit Produk

Manajemen perlu menentukan biaya per unit produk untuk berbagai

kepentingan,baik yang bersifat strategis maupun taktis , diantarnya sbb:

1) Dasar penentuan harga. Jika manajemen mengetahui biaya produksinya

maka mereka akan dapat menentukan harga yang sekiranya tidak akan

menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

2) Dasar pembuatan keputusan. Jika manajemen mengetahui biaya

produksi sebuah produk maka mereka dapat membandingkannya

dengan harga jual produk pesaing. Berdasarkan hal tersebut, manajer

akan dapat menentukan apakah sebaiknya produk dihentikan

produksinya atau dapat terus dilanjutkan.

Banyak keputusan strategis dibuat berdasarkan pada biaya per unit.

Oleh karena itu, akurasi dalam penentuan biaya unit menjadi penting.

Contoh keputusan strategis tersebut adalah keputusan penentuan

pemosisian produk ( product positioning ) dan penentuan harga jual produk.

3. Penentuan Biaya Per Unit Produk

Biaya per unit produk dihitung dengan cara berikut ini.


BBB TOTAL + BTKL total + Biaya Overhead total
Biaya per unit =
Unit diproduksi total

6
4. Biaya Sesungguhnya dan Biaya Normal

Biaya sesungguhnya, Pendekatan biaya sesungguhnya adalah

perhitungan biaya produk atau jasa menggunakan biaya yang sebenarnya

terjadi untuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Biaya

sesungguhnya dalam kaitan produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan

untuk menghasilkan produk, mulai tahap praproduksi sampai produk selesai

diproduksi. Hasilnya akan diperoleh biaya produk yang benar-benar akurat.

Perhitungan biaya berdasarkan biaya sesungguhnya memiliki kelemahan,

yaitu biaya baru dapat diketahui jika semua tahap produksi selesai

dilakukan. Hal tersebut berdampak pada masalah ketepatan waktu, karena

proses produksi sebagian besar industri bisa dikatakan tidak pernah selesai

dan bersifat terus-menerus (continous).

Periodisasi dalam perhitungan biaya produksi merupakan salah satu

alternatif yang disarankan untuk mengatasi kelemahan tersebut. Misalny,

perhitungan dilakukan dalam periode mingguan atau bulanan. Namun,

periodisasi sendiri sesungguhnya menimbulkan permasalahan dalam

variabilitas produksi dan sifat biaya overhead. Misalnya, volume produksi

bulan januari lebih sedikit dibandingkan volume produksi bulan januari

sedangkan konsumsi biaya overhead sama. Berdasarkan hal tersebut,

akankah biaya produksi bulan februari ditentukan lebih rendah? Bagaimana

jika volume produksi bulan maret kembali turun sedangkan biaya overhead

tetap? Oleh karena itu, penerapan biaya sesungguhnya menjadi sulit untuk

digunakan dalam aplikasi riil.

7
Biaya Normal. Pendekatan biaya normal adalah penentuan biaya

produk atau jasa menggunakan biaya sesungguhnya dari bahan baku dan

tenaga kerja, sedangkan biaya overhead menggunakan pembebanan yang

didasarkan pada estimasi biaya overhead yang digunakan dalam satu

periode. Pembebanan biaya overhead dilakukan dengan menentukan tarif

pembebanan terlebih dahulu, baru kemudian ditentukan biaya overhead

yang dibebankan dalam satu periode dengan cara mengalikan tarif dengan

aktivitas yang digunakan untuk mendapatkan informasi biaya.

Anggaran biaya overhead


Tarif Overhead =
Anggaran penggunaan aktivitas

Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung pada biaya

normal dapat menggunakan biaya sesungguhnya karena pada umumnya

perusahaan melakukan pembelian bahan dengan menggunakan kontrak

pembelian. Berdasarkan hal tersebut, harga bahan perusahaan akan dapat

ditentukan terlebih dahulu. Hal tersebut tidak berbeda dengan biaya tenaga

kerja. Umumnya, dalam kontrak tenaga kerja sudah dicantumkan besar upah

dan cara pengupahannya. Pada kenyataannya, biaya overhead sulit

dilakukan karena banyak komponen biaya overhead yang sifatnya periodik

dan besarnya berfluktuasi.

8
D. Metode Penentuan Biaya Produk

Terdapat dua kelompok pendekatan yang dapat digunakan untuk

menghitung biaya produk, yaitu pendekatan berbasis unit ( konvensional ) dan

pendekatan berbasis aktivitas ( actifity based costing- ABC ) . Pada pendekatan

konvensional terdapat dua metode yang lazim dipergunakan, yaitu metode tarif

tunggal ( plantwide rate ) dan metode tarif departemental ( departmental rate ).

1. Tarif Tunggal

Berdasarkan pendekatan tarif tunggal, biaya overhead diasumsikan

hanya dipicu oleh satu pemicu pada semua fasilitas produksi ( pabrik ) dan

produk. Terdapat dua tahapan dalam perhitungan biaya overhead produk.

a. Penentuan tarif pembebanan overhead

Anggaran overhead diakumulasi menjadi satu untuk seluruh pabrik

dengan langkah – langkah sbb:

1) Biaya diakumulasi secara sederhana dengan cara langsung

menambahkan semua biaya yang diharapkan akan terjadi selama

satu periode dalam satu fasilitas pabrik.

2) Setelah biaya diakumulasi, dihitung tarif pembebanannya

berdasarkan satu pemicu (driver) level unit .

b. Pembebanan biaya overhead

Biaya overhead dibebankan ke dalam produk menggunakan dasar tarif

yang telah ditentukan. Pembebanan biaya overhead ke dalam produk

dilakukan dengan menggunakan formula berikut ini.

Overhead dibebankan total = Tarif overhead Aktivitas sesungguhnya

9
Setelah biaya overhead pabrik yang dibebankan ke produkdiketahui,

angkah terakhir perhitungan biaya produk adalah menjumlahkannya

dengan biaya bahan baku sesungguhnya yang digunakan ditambah

dengan biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya.

2. Tarif Departemental

Tahapan perhitungan biaya produk dengan tarif departemental adalah sbb :

a. Biaya overhead di seluruh pabrik dibagi dan dimasukkan ke dalam

kelompok-kelompok departemen produksi sehingga didapatkan

kelompok biaya departemen. Setelah itu, dihitung tarif pembebanannya

menggunakan rumus berikut ini .

b. Biaya overhead dibebankan ke produk dengan cara mengalikan antara

tarif biaya overhead departemen dan jumlah pemicu yang digunakan

oleh produk departemen tersebut.

3. Kelebihan Sistem Biaya Berbasis Unit

Kelebihan sistem biaya berbasis unit ada pada kemudahan dalam

aplikasinya. Data yang dibutuhkan relatif sederhana sehingga tidak

memerlukan sistem informasi yang canggih dan mahal untuk

mendapatkannya. Walaupun sederhana, sistem ini masih memadai untuk

digunakan pada bisnis yang menghasilkan produk atau jasa yang seragam (

satu jenis ) atau tidak terdapat banyak variasi proses produksi.

4. Kelemahan Sistem Biaya Berbasis Unit

a. Hasil penawaran sulit dijelaskan.

10
b. Harga pokok pesaing terlihat sangat murah dan tidak masuk akal padahal

proses poduksi perusahaan sudah dilakukan seefisien mungkin.

c. Produk yang laku menghasilkan laba yang tinggi.

d. Tingkat laba sulit untuk dijelaskan.

e. Perusahaan memiliki ceruk pasar yang menghasilkan laba tinggi yang

hanya dikuasai sendiri

5. Penentuan Biaya Produk Kontemporer

ABC (activity based costing) adalah suatu pendekatan perhitungan

biaya yang membebankan biaya sumber daya ke dalam objek biaya, seperti

produk,jasa,atau konsumen berdasarkan aktivitas yang dilakukan untuk

objek biaya. Premis pendekatan ini adalah produk atau jasa perusahaan

merupakan hasil dari aktivitas, dan aktivitas merupakan penggunaan sumber

daya yang menghasilkan biaya. Berdasarkan premis tersebut terdapat dua

keyakinan dasar dalam ABC.

a. Biaya merupakan akibat dari pelaksanaan aktivitas dan aktivas

merupakan penyebab munculnya biaya. Oleh karena itu, perlu

pemahaman yang mendalam mengenai aktivitas dan hal yang

menyebabkan aktivitas tersebut perlu dilakukan.

b. Penyebab biaya yaitu aktivitas dapat dikelola. Melalui pengelolaan

terhadap aktivitas yang terjadi menjadi penyebab timbulnya biaya,

personel perusahaan dapat mempengaruhi besar kecilnya biaya. Untuk

dapat melakukan pengelolaan yang baik, perlu informasi yang andal

mengenai biaya dan penyebabnya (aktivitas).

11
6. Prosedur Pembebanan Dua Tahap

Prosedur ini membebankan biaya sumber daya seperti biaya

overhead pabrik ke dalam kelompok biaya aktivitas. Kemudian,

pembebanan dilakukan ke objek biaya yang bertujuan untuk menentukan

biaya sumber daya setiap objek biaya. Langkah pertama dalam prosedur ini

adalah membebankan biaya overhead ke dalam aktivitas atau pusat biaya

aktivitas menggunakan dasar pemicu konsumsi biaya sumber daya yang

tepat. Tahap kedua, membebankan biaya aktivitas atau kelompok biaya

aktivitas ke dalam objek biaya menggunakan dasar pemicu konsumsi biaya

aktivitas yang sesuai dalam mengukur permintaan objek biaya pada

aktivitas.

7. Langkah – Langkah Sistem ABC

Tiga tahap pengaplikasikan sistem ABC yaitu :

a. Mengidentifikasi biaya sumber daya dan aktivitas

Identifikasi biaya sumber daya untuk berbagai macam aktivitas

dapat dilakukan dengan cara membedakan aktivitas berdasarkan cara

aktivitas mengonsumsi sumber daya.Dengan cara ini, aktivitas

dikelompokan menjadi empat level aktivitas

1) Aktivitas level unit (unit-level activities) adalah aktivitas yang

dilakukan dalam rangka menghasilkan satu unit individual dari

produk atau jasa.Contohnya penggunaan bahan baku, penggunaan

tenaga kerja langsung, dan inspeksi unit.

12
2) Aktivitas level batch (batch-level activities) adalah aktivitas yang

dilakukan untuk menghasilkan setiap grup dari produk atau jasa.

Perusahaan biasanya mengelompokkan dalam satu grup apabila

produk atau jasa dihasilkan oleh satu proses yang dijadwalkan dalam

satu waktu atau proses secara bersamaan. Contohnya pengesetan

mesin-mesin produksi, pemesanan pembelian, penjadwalan

produksi, penanganan bahan, dan pengiriman produk.

3) Aktivitas level produk (product-level activities) adalah aktivitas

yang dilakukan untuk mendukung produksi dari satu tipe produk

atau jasa yang spesifik. Contohnya adalah pendesainan produk,

modifikasi produk, dan administrasi suku cadang produk.

4) Aktivitas level fasilitas (facility-level activities) merupakan

aktivitas pendukung operasi secara umum. Aktivitas ini tidak

disebabkan oleh adanya produk atau dalam rangka memenuhi

kebutuhan konsumen. Aktivitas ini juga dapat ditelusur pada produk

unit individual, batch , atau produk. Contohnya adalah keamanan

pabrik, pajak bumi dan bangunan, perawatan bangunan, dan penutup

bukuan.

b. Mengalokasikan biaya ke dalam objek biaya

ABC menggunakan dasar pemicu konsumsi biaya sumber daya

dalam mengalokasikan biaya sumber daya ke dalam produk. Biaya

sumber daya dapat dialokasikan ke dalam aktivitas berdasarkan estimasi

13
atau penelusuran langsung. Penelusuran langsung membutuhkan

pengukuran penggunaan sumber daya yang sesungguhnya.

c. Mengalokasikan biaya aktivitas ke dalam objek biaya


Pemicu biaya aktivitas harus dapat menjelaskan naik turunnya

biaya. Pengalokasikan biaya aktivitas ke dalam objek biaya dilakukan

dengan menggunakan tarif pembebanan. Rumusnya:

Anggaran biaya overhead per pool aktivitas


Tarif overhead dibebankan =
Aktivitas diestimasi per pool

E. Manfaat Dan Keterbatasan Sistem ABC

Manfaat dari sistem ABC adalah sebagai berikut:

1. Pengukuran profitabilitas yang lebih baik.

2. Pembuatan keputusan yang lebih baik.

3. Perbaikan proses (process improvement).

4. Estimasi biaya.

5. Penentuan biaya kapasitas tak terpakai.

Selain manfaat ABC jga memiliki beberapa keterbatasan. Berikut ini

keterbatasan-keterbatasan yang terdapat dalam ABC.

1. Alokasi. Tidak semua biaya memeiliki aktivitas atau pemicu konsumsi sumber

daya yang sesuai.

2. Pengabaian Biaya. Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi oleh sistem ABC

cenderung tidak memuaskan semua biaya yang terkait dengan produk atau jasa,

seperti: biaya untuk aktivitas pemasaran,riset periklanan, pengembangan dll.

14
3. Biaya dan waktu. Salah-satu kendala dalam penerapan ABC adalah besarnya

biaya aplikasi dan lamanya proses implementasi ABC.

F. Kelebihan Dan Kelemahan Sistem ABC

Kelebihan sistem ABC adalah sebagai berikut:

1. Biaya produk yang lebih akurat, baik pada industri manufaktur maupun industri jasa

lainnya khususnya jika memiliki proporsi biaya overhead pabrik yang lebih besar.

2. Biaya ABC memberikan perhatian pada semua aktivitas, sehingga semakin banyak

biaya tidak langsung yang dapat ditelusuri pada aobjek biayanya.

3. Sistem ABC mengakui banyak aktivitas penyebab timbulnya biaya sehingga

manajemen dapat menganalisis aktivitas dan proses produksi tersebut dengan lebih

baik (fokus pada aktivitas yang memiliki nilai tambah) yang pada akhirnya dapat

melakukan efisiensi dan akhirnya menurunkan biaya.

4. Sistem ABC mengakui kompleksitas dari deversitas proses produksi modem yang

banyak berdasarkan transaksi/ transaction based (terutama perusahaan jasa dan

manufaktur berteknologi tinggi) dengan menggunakan banyak pemicu biaya (multiple

cost drivers).

5. Sistem ABC juga memberi perhatian atas biaya variabel yang terdapat dalam biaya

tidak langsung.

6. Sistem ABC cukup fleksibel untuk menelusuri biaya berdasarkan berbagai objek biaya.

Baik itu proses, pelanggan, area tanggung jawab manajerial, dan juga biaya produk.

Walaupun penerapan sistem ABC memiliki banyak keuntungan, tetapi penerapan

tersebut tidak membuat seluruh biaya akan mudah dibebankan kepada objek biayanya

dengan mudah. Hal ini disebabkan biaya-biaya yang di kelompokkan dalam sustaining

level ketika dialokasikan sering kali juga menggunakan dasar yang bersifat arbiter.

15
Misalnya, biaya keamanan pabrik merupakan contoh dari sustaining level, ketika

membebankan hal tersebut pada objek biaya yang berupa produk, maka mungkin

digunakan pendekatan yang arbiter, seperti berdasarkan jumlah jam kerja tenaga kerja

dengan alasan semakin lama proses produksi maka membutuhkan jasa keamanan semakin

besar.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

ABC (Activity Based Costing) adalah suatu sistem pendekatan perhitungan

biaya yang dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan.

Sistem ABC mjuga membahas tentang penentuan biaya per unit produk.

Perhtungan biaya produk dilakukan dengan menjumlahkan semua komponen biaya

produ, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung,dan baiya overhead.

Kelompok (pool) adalah gabungan dari aktivitas yang memiliki kesamaan sifat.

Dengan sistem ABC kita dapat mempelajari dan menyusun prinsip-prinsip yang

ada dalam sistem ABC.

17
DAFTAR PUSTAKA

Firdaus A. Dunia, Wasilah Abdullah. 2011. Akuntansi Biaya. Cetakan Kedua.


Jakarta: Salemba Empat.

Baldric Siregar, dkk. 2013. Akuntansi Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.

Kusnadi. 2005. Akuntansi Manajemen (Komprehensif, Tradisional dan


Kontemporer). Malang: Universitas Brawijaya Malang.

18