Anda di halaman 1dari 7

Kupertaruhkan Serendipityku untuk Airlangga

Dinginnya udara subuh menyeruak dan mengaliri setiap pembuluh darahku. Saraf
tubuhku terasa membeku dan kakiku menjadi ngilu. Jam dinding menunjukkan pukul tiga
pagi dan bunyi alarm membangunkanku dari mimpi. Mimpi indah yang tidak akan pernah
terjadi dihidupku. Aku bermimpi berada di negara sakura. Disana aku menjadi perwakilan
dari fakultasku untuk mengitungi study tour. Aku sangat bahagia, namun mimpiku terputus
karena gangguan alarm menyebalkan itu. Aku ingin mengumpat, tetapi aku hanya bisa
mengungkapkannya dalam hati. Aku terkadang iri dengan teman-teman fakultasku yang
sering berpergian keluar negeri untuk study tour dan menjadi perwakilan universitas. Aku
juga sama dengan mereka. Aku juga ingin membanggakan universitasku. Bedanya mereka
memiliki banyak uang dan aku tidak. Dan itu membuat keinginanku tidak pernah terwujud.
Walaupun ada bantuan keuangan dari fakultas maupun universitas jika aku mengikuti study
tour ke luar negeri, namun aku tetap tidak bisa memenuhi kekurangannya. Aku menyadari
keadaanku. Aku sadar akan kenyataan. Aku sadar siapa aku. Aku hanya anak biasa saja,
berasal dari keluarga yang tidak kaya dan tidak juga kekurangan. Ditengah-tengahlah
sebutannya. Untungnya ada sistem uang kuliah tunggal atau biasa disebut dengan UKT yang
mana orangtuaku hanya diwajibkan membayar uang kuliah sesuai dengan kemampuan.
Sehingga aku masih bisa melanjutkan kuliah di universitas yang sangat aku impikan yaitu
Universitas Airlangga dan itu sudah membuatku sangat bahagia. Aku tidak dapat menuntut
hal lainnya lagi. Sedih bukan? iya sedih. Tetapi aku harus tetap mensyukuri keadaanku
sekarang ini. Dan aku masih berharap suatu saat bisa berkunjung ke negara sakura, negara
impianku yang ingin aku kunjungi.

Rutinitas pagi hari kumulai dengan bangun jam tiga pagi. Kemudian menyiapkan
sarapan untuk adikku dan ayahku. Ibuku tidak ada dirumah. Beliau berada di rumah sakit
dan dirawat disana karena suatu penyakit. Akhirnya, untuk urusan rumah tangga menjadi
tanggungjawabku. Setelah menyiapkan sarapan pagi, aku menyuci baju, setrika baju adikku,
ayahku dan juga milikku. Taklupa kulanjutkan dengan membersihkan rumah serta bersiap-
siap untuk berangkat kuliah. Pagi hari yang sangat melelahkan bukan? percayalah itu benar-
benar sangat melelahkan.
Hari ini kuliahku dimulai jam tujuh pagi. Sial, kuliah pagi adalah hal yang paling
menyebalkan untukku. Bayangkan, pagi hari sudah sangat sibuk ditambah perjalanan dari
rumah ke kampus membutuhkan waktu empat puluh menit, belum lagi ditambah macet
membuat penderitaanku menjadi semakin bertubi-tubi. Setidaknya jika ada kuliah siang, aku
bisa bernapas sejenak untuk melepaskan kelelahanku. Tetapi, apapun itu harus aku lakukan.
Aku harus berjuang dengan semua ini. Ayahku sudah mati-matian membanting tulang dari
pagi sampai malam untuk membiayai perkuliahanku, kenapa aku yang hanya dituntut untuk
belajar saja mengeluh.

Jaket light jeans, celana hitam, sepatu converse putih menemaniku untuk berjuang
hari ini. Tak lupa kugunakan masker hitam dan topi hitam yang selalu melindungi hari-hariku
dari teriknya matahari. Kuintip jam ditanganku menunjukkan pukul enam pagi. "Astaga,
sudah jam segini. Apa yang harus aku lakukan? Semoga bus kotanya belum berangkat".
Kuambil tasku dan kutenteng dengan seadanya dibahu kananku. Aku berlari sekencang-
kencangnya ke halte bus terdekat berharap bus kota segera datang. Sesampainya di halte
bus tak terlihat seorangpun berada disana. Aku merasa resah, keringat dingin bertetesan
dari tubuhku. "Apakah orang-orang semua sudah berangkat ya? Aku ketinggalan bus, tidak,
tidak. Apa yang harus aku lakukan?" aku bertanya-tanya didalam hati. Semakin lama aku
menunggu, sialnya bus kota tidak kunjung datang. Akhirnya kuputuskan mencari tukang ojek
untuk mengantarkan kuliah pagi ini. Untungnya di seberang jalan terdapat pangkalan ojek.
Setidaknya ada dewi fortuna yang berpihak kepadaku.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit dan aku baru tiba di fakultasku.
Napasku terengah-engah karena aku harus berlari menuju kelas yang berada di lantai tiga
gedung fakultasku. "Jebraakk" pintu kelas terbanting karena ulahku. "Ya, apa yang kamu
lakukan? Jangan merusak fasilitas kampus ya kamu!" teriakan sahabatku disertai jitakan
tangannya dikepalaku. "Hei, sakit tahu kepalaku. Iya, iya maaf. Aku sangat kelehan pagi ini,
dan aku sedang tidak ingin bertengkar dengamu" balasku agar dia tidak berulah lagi dan
membiarkanku untuk beristirahat. "Oke, aku paham maksudmu. Aku tidak akan
mengganggumu" sahabatku memang paling mengerti denganku. "Terimakasih" sambil
tersenyum kubentuk tanda love ala orang Korea dengan jariku. "Ada kabar bagus untukmu"
dia berkata lagi padaku padahal aku baru saja memujinya karena tidak akan mengangguku.
"Apa kamu mau mendengarnya? Ayolah, ayo dengarkan aku huwoo" dia terus memaksaku
dengan nyanyian anehnya. Karena telingaku tidak ingin rusak akibat nyanyiannya kuturuti
permintaan sahabatku tersebut. "Iya, kabar apa?" tanyaku singkat. "Kamu pasti sangat
senang mendengarnya" sahabatku masih saja mengulur-ulur waktu. "Iya, iya, apa? Cepat
atau aku tidak mau mendengarkannya" ancamku. "Ya, aku mau memberikan kabar bahagia
tapi kamu malah mengancamku. Oke, oke. Dasar manusia dingin, untung aku mau jadi
sahabatmu" keluhnya. "Baiklah, maafkan aku. Cepat beritahu aku apa kabar itu" desakku.
"Oke, karena aku sahabatmu yang paling baik maka aku akan memberitahukan kabarnya
untukmu. Kabarnya yaitu jeng jeng jeng..." sambil menari sahabatku melanjutkan kata-
katanya. "Kamu ada panggilan dari kemahasiswaan. Fakultas kita mendapatkan surat tugas
dari universitas untuk mengikuti kompetisi Paper Intenasional di University of Tokyo. Katanya
kamu diminta untuk mewakili fakultas dalam kompetisi itu. Kompetisinya tentang penyakit
infeksi, kamu kan ahlinya dalam bidang itu. Selain itu, kamu juga lancar berbahasa Inggris
dan bahasa Jepang. Gratis, tanpa dipungut biaya apapun. Ayo ikut! Ini kesempatan emas
buatmu. Katanya kamu bercita-cita ingin pergi ke Jepang" sahabatku sangat antusias
mengucapkannya. Namun kata-kata yang panjang dan lebar dari sahabatku itu masih sulit
tercerna dikepalaku. Aku masih tidak mempercayainya. Apa jangan-jangan aku masih berada
didalam mimpi semalamku? Tanyaku dalam hati. "Hei, jangan bengong saja" jitakkan tangan
sahabatku mengenai kepalaku lagi. "Aduh sakit. He... sakit, sakit? Jika ini sakit berarti
kenyataan. Ya... sungguh? Kamu tidak berbohong padaku?" aku bertanya kepada sahabatku.
"Gila ya kamu, kenapa aku berbohong padamu. Sudah, sekarang diamlah. Dosennya sudah
datang. Jangan lupa setelah perkuliahan pagi ini selesai, cepat datangi bagian
kemahasiswaan" perintah sahabatku. Aku sangat bahagia dan tidak pernah menyangka hal
ini akan terjadi padaku. Bisa kalian sebut serendipity. Kebetulan yang sangat menyenangkan
dan tak kusangka terjadi pada hidupku. Terimakasih Tuhan, aku hanya bisa mengungkapkan
rasa syukurku yang sangat besar ini untukMu.

Setelah perkuliahan selesai, langsung kulangkahkan kakiku menuju ruang


kemahasiswaan. Disana aku disambut oleh seorang bapak-bapak tua di kemahasiswaan yang
sudah tidak asing denganku. Karena aku sering berurusan dengan pihak kemahasiswaan jadi
sepertinya orang-orang kemahasiswaan mengenalku. "Halo, bagaimana kabarmu? Sudah
dapat kabar dari sahabatmu? Sepertinya sudah karena kamu sekarang ada disini" sapa
Bapak kemahasiswaan yang aku kenal itu. "Hehe, iya Pak. Baik Pak kabarnya, alhamdulillah"
balasku. "Bagaimana ? Apakah kamu tertarik mengikuti perlombaannya? Jangan memikirkan
masalah keuangan. Semuanya sudah dibiayai oleh universitas. Kamu hanya berkewajiban
untuk bersungguh-sungguh mengikuti perlombaannya dan mengharumkan nama universitas
kita, yang pastinya kamu juga akan membanggakan fakultas jika kamu memenangkannya.
Tetapi untuk masalah paspor dan visa kamu harus mengurusnya sendiri dihari sebelumnya".
Aku terdiam memikirkannya. Dan ada sesuatu hal yang masih menggelitik dikepalaku.
"Mohon maaf Pak, saya ingin bertanya untuk lombanya ini kapan ya Pak?". "Dua bulan
kedepan, jika kamu bersedia dan menyetujuinya hari ini Bapak akan segera mengurusnya
kepihak universitas" jawaban dari Bapak kemahasiswaan mebuatku berfikir lagi. Dua bulan
adalah waktu yang singkat, aku harus memiliki uang kurang lebih satu setengah juta rupiah
untuk mengurus paspor dan visaku. Darimana aku mendapatkan uang itu dalam waktu
secepat ini. Tidak mungkin aku meminta dari ayahku, ibuku sekarang sedang dirawat di
rumah sakit. "Bagaimana? Apakah kamu bersedia?" pertanyaan Bapak kemahasiswaan
membuyarkan fikiranku. "Bolehkah saya berfikir terlebih dahulu Pak? Saya akan memberikan
kepastiannya sore hari ini. Saya akan menemui Bapak kembali" pintaku. "Baiklah, segera
hubungi saya jika memang bersedia. Bapak harap kamu mengikutinya dan mewakili nama
Universitas Airlangga dilomba ini. Aku yakin, kamu bisa membanggakan kami". "Terimakasih
Pak, saya permisi terlebih dahulu". Segera kutinggalkan ruang kemahasiswaan dan
kulangkahkan kakiku menuju ruang baca fakultas.

Aku sekarang berada di bangku paling pojok belakang dari ruang baca fakultasku. Aku
berfikir dan merenungkan permasalahanku. "Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku
bisa mendapatkan uang secepat ini untuk mengurus paspor dan visaku? Sampai saat ini,
lamaran pekerjaanku di cafe depan rumahku saja belum juga ada kabar" aku berfikir dengan
sangat keras. Jika dapat terlihat, mungkin kepulan asap sudah memenuhi ruangan diatas
kepalaku. Aku sangat ingin mengikuti kompetisi tersebut dan memenangkannya. Aku ingin
membanggakan kedua orangtuaku, fakultasku dan mengharumkan nama universitasku,
Universitas Airlangga. Bagaimana tidak? Bayangkan jika kamu memenangkan kompetisinya
dengan membawa nama Universitas Airlangga diajang kompetisi bergengsi internasional,
alangkah bahagianya dirimu. Universitasmu mendapatkan nama baik dan pastinya kamu
yang anak biasa saja dan hanya bermodal kemampuan serta usaha sudah dapat
mewujudkan keinginanmu untuk membanggakan universitas. "Ah, bagaimana ini? Apakah
aku harus menyerah? Aku tidak akan bisa mendapatkan uang yang banyak secepat ini"
fikiranku terus berkecamuk. Aku mengalami dilema, antara ingin mengikuti kompetisi tetapi
tidak ada biaya untuk mengurus paspor dan visa. Padahal AC ruang baca sangat dingin
namun tubuhku terasa sangat panas. Aku berniat untuk keluar ruangan sebentar
melepaskan gerah ditubuhku. Tiba-tiba getaran handphone yang kubawa menggagetkanku
dan mencegahku untuk keluar. Kulihat nama kontak dilayar handphoneku. "CAFE DEPAN
RUMAH" nama kontak tersebut membuat mataku terbelalak dan segera kuangkat telpon itu.
"Halo, dengan saya Adinda. Mohon maaf ada apa?" tanyaku dengan suara bergetar. "Ini
pemilik cafe Hyde. Saya sudah membaca surat lamaran Anda. Anda diterima menjadi
pegawai cafe saya. Oh ya, apakah Anda bisa mulai bekerja pada hari ini dari jam enam
malam sampai dengan jam sepuluh malam? Saya kira Anda bisa melakukannya, karena dari
alamat rumah yang saya baca disurat lamaran, rumah Anda berada didepan cafe ini. Saya
akan membayar diawal untuk gaji tiga bulan kedepan, jadi totalnya sekitar empat juta
setengah. Bagaimana?" aku terdiam karena terkejut. "Halo, apakah Anda mendengar saya?"
pertanyaan yang keluar dari balik telepon mengagetkan lamunanku. "Ah, i.. ya.. iya.. mohon
maaf. Saya setuju, dan saya akan bekerja mulai hari ini. Terimakasih banyak. Sungguh, saya
sangat berterimakasih. Terimakasih" suaraku terbata-taba karena masih sangat terkejut
dengan semua ini. Serendipity, benar-benar serendipity dalam hidupku. Terimakasih Tuhan.

Setelah mendapatkan kabar baik dari telepon, aku segera berlari menuju ruang
kemahasiswaan. Kuambil tasku dan kutenteng seadanya. Ketika sampai diruang
kemahasiswaan, sambil terengah-engah aku tersenyum kepada Bapak kemahasiswaan.
"Sepertinya ada kabar bahagia" kata Bapak kemahasiswaan. "Saya bersedia mengikuti
perlombaannya Pak. Saya akan berjuang" ungkapku dengan tegas. "Baik, akan saya urus
persyaratannya ke pihak universitas. Semoga berhasil. Jangan pantang menyerah". Semangat
dari Bapak kemahasiswaan menambah kuat tekadku. "Terimakasih banyak Pak, saya akan
berusaha" balasku dengan penuh semangat.

Sekarang hari-hariku dipenuhi dengan kesibukan. Kumulai dari mengurus pekerjaan


rumah tangga dipagi hari, dilanjutkan dengan perkuliahan, persiapan kompetisi, mengurus
paspor dan visa, kemudian bekerja di cafe malam harinya. Wah, sepertinya aku sangat
menikmati hidupku. Walaupun aku sangat lelah, namun aku tidak boleh menyerah.
Universitas sudah mempercayaiku, aku harus berusaha semaksimal mungkin dan tidak boleh
mengecewakannya. Aku yang hanya bermodal tekad ini harus bisa melakukannya. Aku harus
bisa mewujudkan keinginanku untuk membanggakan universitasku, Universitas Airlangga.

Hari keberangkatanku untuk kompetisi sudah tiba. Sekarang aku berada di bandara
Juanda dan bersiap-siap untuk berangkat ke Jepang, negara sakura yang sangat ingin aku
kunjungi. Aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana bahagianya perasaanku hari ini. Seperti
sebuah keajaiban yang datang bertubi-tubi dan aku tidak bisa menyangkanya. Kuucapkan
rasa syukur berkali-kali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia telah memberikan serendipity
yang sangat indah didalam hidupku.

Setelah sampai di Jepang, aku langsung beristirahat di hotel karena sekarang sudah
malam dan besok adalah hari kompetisinya. Aku berniat untuk segera tidur. Tetapi tidak bisa
karena aku sangat gelisah menghadapi esok hari. Aku hanya berguling kesana-kemari diatas
kasur. Akhirnya kuputuskan untuk berserah diri kepada Tuhan karena aku sudah berusaha
semaksimal mungkin. Aku percaya keputusan terakhir hanya milikNya dan itu adalah
keputusan yang terbaik untukku. Kemudian hatiku menjadi tenang dan akupun bisa tertidur.

Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu yaitu hari kompetisi telah tiba. Sekarang
aku sedang menunggu giliran untuk melakukan presentasi. Sambil duduk dikursi tunggu yang
telah disiapkan, kubaca sekali lagi materi yang akan kusampaikan. Beberapa menit
kemudian, namaku dipanggil untuk giliran presentasi di depan juri. Jantungku berdetak
kencang dan tanganku basah karena cemas. Kugenggam tanganku erat-erat, kukuatkan
tekadku, dan mulai kupegang mikrofon. Kumulai dengan salam dan kumulai presentasi.
Kugunakan bahasa Inggris dan beberapa sesalan bahasa Jepang dalam presentasiku. Kulihat
wajah juri memperhatikanku dengan serius. Hal itu, membuatku semakin bersemangat dan
tiba-tiba aku tehanyut begitu saja dalam presentasiku. Setelah sekitar kurang lebih lima
belas menit berolah kata dan kurasa cukup, kuakhiri presentasiku. Tepukan meriah dari pada
juri dan para audiens menutup akhir perjuanganku hari ini. Aku sangat lega bisa
menyelesaikannya dengan lancar dan aku rasa cukup sukses untuk hari ini. Kemudian aku
kembali ke kursiku untuk menunggu pengumuman pemenang kompetisi hari ini.

Setelah semua peserta selesai presentasi, tiba waktunya untuk mengumumkan


pemenang kompetisi hari ini. Ketika pembawa acara menyebutkan nama pemenangnya,
namaku disebutkan sebagai pemenang juara pertama. Aku terkejut dan sangat bahagia. Air
mata menetes melewati kelopak mataku dengan sendirinya. Aku tidak percaya, jika aku
memenangkannya. Aku masih syok dan membuatku hanya terdiam di kursi ketika namaku
dipanggil untuk maju. Peserta lain yang duduk disampingku melihat identitas pesertaku dan
menyadarkanku untuk maju kedepan. Setelah kuucapkan terimakasih kepada peserta yang
duduk disampingku tadi, kulangkahkan kakiku untuk maju kedepan. Kuterima hadiah dan juri
mengalungkan medali emas dileherku. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini? Sungguh
aku sangat bahagia. Aku sangat bahagia karena aku memenangkan kompetisi ini dan aku
juga mendapatkan tawaran melanjutkan S2 di University of Tokyo secara gratis beserta
jaminan hidup di Jepang. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku saat ini, aku tidak bisa
membayangkannya. Tak henti-hentinya kuucapkan terimakasih sambil melakukan ojigi .

Aku menghela napas lega. Akhirnya keinginanku terwujudkan. Aku dapat membawa
nama Universitas Airlangga menjadi pemenang diajang kompetisi bergengsi internasional.
Aku yang hanya bermodal tekad dan usaha ini bisa melakukannya. Aku tahu rencana Tuhan
itu sangat indah. Dan aku juga percaya akan hasil yang tidak pernah mengkhianati usaha.
Karena aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk universitasku, Universitas Airlangga,
aku yakin aku tidak akan merugi dan aku tidak akan menyesal. Walaupun banyak rintangan,
aku tetap yakin, tekadku tetap kuat. Karena aku tahu, Tuhan itu tidak tidur. Dia sudah
menyiapkan serendipity yang indah untuk hidupku. Terimakasih Tuhan, terimakasih untuk
serendipity dihidupku. Serendipity indah yang Kau ciptakan untuk memuwujudkan
keinginanku membanggakan Universitas Airlangga. Terimakasih, hanya ucapan rasa syukur
yang bisa aku berikan untukMu.