Anda di halaman 1dari 3

Asupan Protein terhadap Kejadian Stunting

BAB 1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Stunting merupakan permasalahan yang semakin banyak ditemukan dinegara berkembang,
termasuk Indonesia. Menurut United Nations InternationalChildren’s Emergency Fund (UNICEF) satu dari
tiga anak mengalami stunting. Sekitar 40% anak di daerah pedesaan mengalami pertumbuhan yang
terhambat. Oleh sebab itu, UNICEF mendukung sejumlah inisiasi untuk menciptakan lingkungan nasional
yang kondusif untuk gizi melalui peluncuran Gerakan Sadar Gizi Nasional (Scaling Up Nutrition – SUN)
di mana program inimencangkup pencegahan stunting.

Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 persen,
meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita oleh
sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau satu dari tiga anak Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia lebih
tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand
(16%).

Anak dengan status gizi stunting akan mengalami gangguan pertumbuhan hingga masa remaja
sehingga pertumbuhan anak lebih rendah dibandingkan remaja normal. Remaja yang stunting berisiko
mendapatkan penyakit kronik salah satunya adalah obesitas. Remaja stunting berisiko obesitas dua kali
lebih tinggi dari pada remaja yang tinggi badannya normal (Riskesdas 2010).

Oktarina tahun 2013 mengatakan hal sama bahwa anak yang mengalami stunting pada dua tahun
kehidupan pertama dan mengalami kenaikan berat badan yang cepat, berisiko tinggi terhadap penyakit
kronis, seperti obesitas.Obesitas merupakan suatu kelainan atau penyakit yang ditandai oleh penimbunan
jaringan lemak dalam tubuh secara berlebihan.Obesitas terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara
energi yang masuk dengan energi yang keluar.

1.2 Masalah
1. Bagaimana manfaat asupan protein terhadap pertumbuhan anak?
2. Bagaimana akibat dari kekurangan asupan protein?
3. Apa pengertian dari stunting?
4. Bagaimana kaitan antara asupan protein dengan kejadian stunting di SMP N 2 Surakarta
1.3 Tujuan
1. Memaparkan manfaat asupan protein terhadap pertumbuhan anak
2. Memaparkan akibat dari kekurangan asupan protein?
3. Menjelaskan pengertian dari stunting?
4. Menjelaskan kaitan antara asupan protein dengan kejadian stunting di SMP N 2 Surakarta
1.4 Manfaat

1. Sebagai referensi kebijakan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Surakarta


2. Sebagai sumber dan bahan masukan bagi penulis lain untuk menggali dan melakukan
eksperimen tentang kaitan asupan protein terhadap kejadian stunting.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam mengembangkan dan meningkatkan
sistem kesehatan
BAB 2. ISI
2.1 Tinjauan Pustaka
Protein merupakan salah satu zat gizi penghasil energi selain karbohidrat dan lemak, namun peran
protein tidak sebagai sumber energi. Protein diperlukan untuk membangun dan memelihara sel-sel jaringan
tubuh. Protein akan dipecah menjadi asam amino, kemudian diserap dan dibawa oleh aliran darah ke seluruh
tubuh. Selain itu, protein juga dapat menghasilkan energi ketika konsumsi karbohidrat dan zat sumber
energi lainnya mengalami kekurang (Beck, 2011).

Stunting merupakan suatu keadaan dimana tinggi badan anak yang terlalu rendah. Stunting atau
terlalu pendek berdasarkan umur adalah tinggi badan yang berada di bawah minus dua standar
deviasi (<-2SD) dari tabel status gizi WHO child growth standard (WHO, 2012)

Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor. WHO (2013) membagi penyebab terjadinya
stunting pada anak menjadi 4 kategori besar yaitu faktor keluarga dan rumah tangga, makanan
tambahan / komplementer yang tidak adekuat, menyusui, dan infeksi. Faktor keluarga dan rumah
tangga dibagi lagi menjadi faktor maternal dan faktor lingkungan rumah. Faktor maternal berupa
nutrisi yang kurang pada saat prekonsepsi, kehamilan, dan laktasi, tinggi badan ibu yang rendah,
infeksi, kehamilah pada usia remaja, kesehatan mental, Intrauterine growth restriction (IUGR) dan
kelahiran preterm, jarak kehamilan yang pendek, dan hipertensi.

Faktor langsung yang menyebabkan stunting yaitu berupa asupan makanan dan penyakit infeksi.
Asupan energi menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Selain itu konsumsi
protein, seng, dan zat besi juga turut memberikan kontribusi dalam hal ini. Protein berfungsi sebagai
pembentuk jaringan baru di masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh, memelihara, memperbaiki serta
mengganti jaringan yang rusak (Ekweagwu, dkk, 2008). Anak yang mengalami defisiensi asupan protein
yang berlangsung lama meskipun asupan energinya tercukupi akan mengalami pertumbuhan tinggi badan
yang terhambat (Almatsier, dkk, 2011)