Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Sendi Degeneratif osteoartritis adalah penyakit kerusakan tulang
rawan sendi yang berkembang lambat dan penyebabnya belum diketahui (Kalim,
IPD,1997).Atau gangguan pada sendi yang bergerak ( Price & Wilson,1995).
Osteoarthritis yang juga dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau
osteoarthritis (sekalipun terdapat inflamasi) merupakan kelainan sendi yang paling
sering ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas).

B. Rumusan masalah
1. Apa Definisi dari Osteoartritis?
2. Apa saja Etiologi dari Osteoartritis?
3. Apa saja Anatomi dan Fisiologi Osteoartritis?
4. Bagaiaman Patofisiologi Osteoartritis?
5. Apa saja Manifestasi klinis Osteoartritis?
6. Bagaiaman Penatalaksanaan dari Osteartritis?
7. Apa saja Komplikasi Osteoatritis?
8. Bagaimana Asuhan Keperawatan gangguan muskuloskletal dengan
Osteoartritis?
B. Tujuan
1. Mengetahui Definisi dari Osteoartritis.
2. Mengetahui Etiologi dari Osteoartritis.
3. Mengetahui Anatomi dan Fisiologi Osteoatritis.
4. Mengetahui Patofiologi dari Osteoartritis.
5. Mengetahui Manifestasi dari Osteoartritis.
6. Mengetahui Penatalaksanaan dari Osteoartritis.
7. Mengetahui Komplikasi Osteoatritis.
8. Mengetahui Asuhan Keperawatan pada Osteoartritis.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Steoartritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoartrosis
(sekalipun terdapat inflamasi) merupakan kelainan sendi yang paling sering
ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas). (Smeltzer ,
C Suzanne, 2002 hal 1087).
Osteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan yang
menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan meningkatnya usia,
penyakit ini jarang ditemui pada usia di bawah 46 tahun tetapi lebih sering
dijumpai pada usia di atas 60 tahun. Faktor umur dan jenis kelamin menunjukkan
adanya perbedaan frekuensi (Sunarto, 1994, Solomon, 1997).
Osteoartritis (AO) adalah gangguan sendi yang bersifat kronis disertai
kerusakan tulang dan sendi berupa disentegrasi dan pelunakan progresif yang
diikuti dengan pertambahan pertumbuhan pada tepi tulang dan tulang rawan sendi
yang disebut osteofit, dan fibrosis dan kapsul sendi. Kelainan ini timbul akibat
mekanisme abnormal proses penuaan, trauma atau kelainan lain yang
menyebabkan kerusakan tulang rawan sendi. Keadaan ini tidak berkaitan dengan
faktor sistemik atau infeksi. Osteoartritis merupakan penyakit sendi degenaritif
yang berkaitan dengan kerusakan kartiloago sendi. Lutut, punggung, tangan, dan
pergelangan kaki paling sering terkena.

B. Etiologi

1. Umur
Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya
umur dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan endapannya berbentuk
pigmen yang berwarna kuning.

2
2. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih
sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan
dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita
tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada
pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.

3. Pengausan (wear and tear)


Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan
sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena
bahan yang harus dikandungnya.

4. Kegemukan
Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi penopang berat
badan, sebaliknya nyeri atau cacat yang disebabkan oleh osteoartritis
mengakibatkan seseorang menjadi tidak aktif dan dapat menambah kegemukan.

5. Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang
menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi
tersebut.

6. Keturunan
Heberden node merupakan salah satu bentuk osteoartritis yang biasanya
ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena osteoartritis,
sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena.

7. Akibat penyakit radang sendi lain


Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi
peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi oleh
membran sinovial dan sel-sel radang.
3
8. Joint Mallignment
Pada akromegali karena pengaruh hormon pertumbuhan, maka rawan
sendi akan membal dan menyebabkan sendi menjadi tidak
stabil/seimbang sehingga mempercepat proses degenerasi.

9. Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garam-garam proteglikan
yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik
rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, dan kulit. Pada diabetes melitus, glukosa
akan menyebabkan produksi proteaglikan menurun.

10. Deposit pada rawan sendi


Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat
dapat mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal
monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi.

C. Anatomi dan fisiologi

4
Sendi lutut dibentuk oleh epiphysis distalis tulang femur, epiphysis
proxsimalis, tulang tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa sendi yang
terbentuk dari tulang yang berhubungan, yaitu antar tulang femur dan patella
disebut articulatio patella femoral, antara tulang tibia dengan tulang femur
disebut articulatio tibio femoral dan antara tulang tibia dengan tulang fibula
proximal disebut articulatio tibio fibular proxsimal (De Wolf, 1996). Anatomi
sendi lutut terdiri dari:
1) Tulang pembentuk sendi lutut antara lain:
a) Tulang Femur
Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang kerangka
pada bagian pangkal yang berhubungan dengan acetabulum membentuk kepala
sendi yang disebut caput femoris. Di sebelah atas dan bawah dari columna
femoris terdapat taju yang disebut trochantor mayor dan trochantor minor, di
bagian ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang
disebut condylus medialis dan condylus lateralis, di antara kedua condylus ini
terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut (patella) yang disebut
dengan fosa condylus (Syaifuddin, 1997).

b) Tulang Tibia
Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os fibula,
pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan
terdapat taju yang disebut os maleolus medialis. (Syaifuddin, 1997).

c) Tulang Fibula
Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang
membentuk persendian lutut dengan os femur pada bagian ujungnya terdapat
tonjolan yang disebut os maleolus lateralis atau mata kaki luar. (Syaifuddin,
1997).
d) Tulang Patella
Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada tulang femur.
Jarak patella dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap dan yang berubah
5
hanya jarak patella dengan femur. Fungsi patella di samping sebagai perekatan
otot-otot atau tendon adalah sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut
90 derajat kedudukan patella di antara kedua condylus femur dan saat extensi
maka patella terletak pada permukaan anterior femur (Syaifuddin, 1997).

2) Ligamentum pembentuk sendi lutut


Stabilitas sendi lutut yang lain adalah ligamentum. Ada beberapa
ligamentum yang terdapat pada sendi lutut antara lain : (a) ligamentum crusiatum
anterior, yang berjalan dari depan eminentia intercondyloidea tibia, ke
permukaan medial condylus lateralis femur, fungsi menahan hiperekstensi dan
menahan bergesernya tibia ke depan, (b) ligamentum crusiatum posterior, berjalan
dari facies lateralis condylus medialis femoris, menuju fossa intercondyloidea
tibia, berfungsi menahan bergesernya tibia, ke arah belakang, (c) ligamentum
collateral lateralle yang berjalan dari epicondylus lateralis ke capitulum fibulla,
yang berfungsi menahan gerakan varus atau samping luar, (d) ligamentum
collateral mediale tibia (epicondylus medialis tibia), yang berfungsi menahan
gerakan valgus atau samping dalam dan eksorotasi, dan secara bersamaan
ligament collateral juga berfungsi menahan bergesernya ke depan pada posisi
lutut fleksi 90 derajat, (e) ligamentum popliteum abligum, berasal dari condylus
lateralis femoris menuju ke insertio musculus semi membranosus melekat pada
fascia musculus popliteum, (f) ligamentum transversum genu, membentang pada
permukaan anterior meniscus medialis dan lateralis. Semua ligament tersebut
berfungsi sebagai fiksator dan stabilisator sendi lutut. Tranversum genu di
samping ligament ada juga bursa pada sendi lutut. Bursa merupakan kantong yang
berisi cairan yang memudahkan terjadinya gesekan dan gerakan, berdinding tipis
dan dibatasi oleh membran synovial. Ada beberapa bursa yang terdapat pada
sendi lutut antara lain : (a) bursa popliteus, (b) bursa supra patellaris, (c) bursa
infra patellaris, (d) bursa subcutan prapatellaris, (e) bursa sub patellaris, (f) bursa
prapatellaris.

6
3) Sistem Otot
Otot-otot yang bekerja pada sendi lutut yaitu:
a) Bagian anterior adalah m. rectus femoris, m. vastus lateralis, m. Vastus
medialis, m. vastus intermedius.
b) Bagian posterior adalah m.biceps femoris, m. semitendinosus, m.
semimembranosus, m. Gastrocnemius
c) Bagian medial adalah m. Sartorius
d) Bagian lateral adalah m. Tensorfacialatae
4) Sistem Persarafan
Nervus femoralis merupakan cabang yang terbesar dari plexus lumbalis.
Nervus ini berasal dari tiga bagian posterior plexus, yang asalnya dari nervus
lumbalis ke dua. Ketiga dan keempat muncul dari tepi lateral m. illiopsoas tepat
di atas ligamentum pouparty dan berjalan turun di bawah ligamentum ini untuk
memasuki trigonum femoralis pada sisi lateral arteri femoralis. Pada trigonum
tersebut, nervus femoralis membagi diri menjadi cabang-cabang terminalis.
Cabang-cabang motorik di atas ligamentum inguinalis mempersyarafi m.
illiopsoas. Cabang-cabang motorik di dalam paha mempersyarafi m. sartorius, m.
pectineus dan m. quadriceps femoris. Cabang-cabang sensorik mencakup cabang-
cabang cutaneous femoralis anterior yang menuju permukaan anterior dan medial
paha serta nervus saphenous yang menuju sisi medial tungkai dan kaki.
Pada regio lutut, tungkai mendapat persyarafan dari nervus ischiadicus
yang berasal dari serabut lumbal ke-4 sampai dengan sacrum ke-3. Nervus ini
merupakan serabut yang terbesar di dalam tubuh yang keluar dari foramen
ischiadicus mayor, berjalan terus disepanjang permukaan posterior paha ke ruang
poplitea, lalu syaraf ini membagi dua bagian yaitu : nervus peroneus communis
dan nervus tibialis.
Nervus peroneus communis pada dataran lateral capitulum fibula akan
pecah menjadi nervus superficialis. Nervus tibialis dibentuk oleh seluruh lima
bagian anterior plexus sacralis. Jadi serabut syaraf ini menerima serabut-serabut
dari 2 segmen spinalis lumbal bawah dan 3 segmen sacral yang atas. Nervus
tibialis membentuk nervus ischiadicus yang paling besar di dalam paha.
7
Perjalanan saraf ini dimulai pada bagian atas fossa poplitea dan turun
vertikal melewati fossa ini serta dorsum tungkai menuju sisi dorsomedial
pergelangan kaki. Dari daerah ini, nervus tibialis mengeluarkan cabang-cabang
terminalisnya nervus plantaris medialis dan lateralis, yang terus berjalan ke dalam
kaki (Kapandji, 1995).
5) Sistem peredaran darah
a) Sistem peredaran darah arteri
Peredaran darah yang akan dibahas kali ini adalah sistem peredaran darah
yang menuju ke tungkai dan vena yang juga memelihara darah sekitar sendi lutut,
arteri yang memelihara sendi lutut (Apley, 1997).
(1) Arteri femoralis
Merupakan lanjutan dari arteri iliaca external yang keluar dari cavum
abdominalis lacunna vasorum lalu berjalan ke lateral dari venanya kemudian ke
bawah menuju ke dalam fossa illipectiana kemudian masuk ke canalis
addoctorius sehingga arteri poplitea masuk ke fossa poplitea di sisi medial femur,
lalu arteri femoralis bercabang menjadi arteri superficial dan cabang profunda
(Apley, 1997).
(2) Arteri poplitea
Merupakan lanjutan dari arteri femoralis masuk melalui canalis
addoctorius, masuk fossa poplitea pada sisi flexor lutut, bercabang menjadi
Arteri genus superior lateralis, arteri genus superior medialis, arteri genus inferior
lateralis, arteri genus inferior medialis.
b) Sistem Peredaran Darah Vena
Pada umumnya peredaran darah vena berdampingan dengan pembuluh
darah arteri. Pembuluh darah vena pada tungkai sebagian besar bermuara ke
dalam vena femoralis. Vena-vena itu adalah vena shapena parva berjalan di
belakang maleolus lateralis berlanjut ke vena poplitea akan mengalir terus ke
vena shapena magna dan bermuara ke dalam vena femoralis (Apley, 1997).
a. Biomekanik sendi lutut
Aksis gerak fleksi dan ekstensi terletak di atas permukaan sendi, yaitu
melewati condylus femoris. Sedangkan gerakan rotasi aksisnya longitudinal pada
8
daerah condylus medialis (Kapandji, 1995). Secara biomekanik, beban yang
diterima sendi lutut dalam keadaan normal akan melalui medial sendi lutut dan
akan diimbangi oleh otot-otot paha bagian lateral, sehingga resultannya akan jatuh
di bagian sentral sendi lutut.
1) Osteokinematika
Osteokinematika yang memungkinkan terjadi adalah gerakan fleksi dan
ekstensi pada bidang sagital dengan lingkup gerak sendi fleksi antara 120-130
derajat, bila posisi hip fleksi penuh, dan dapat mencapai 140 derajat, bila hip
ekstensi penuh, untuk gerakan ekstensi, lingkup gerak sendi antara 0 – 10 derajat
gerakan putaran pada bidang rotasi dengan lingkup gerak sendi untuk endorotasi
antara 30 – 35 derajat, sedangkan untuk eksorotasi antara 40-45 derajat dari posisi
awal mid posision. Gerakan rotasi ini terjadi pada posisi lutut fleksi 90 derajat
(Kapandji, 1995), gerakan yang terjadi pada kedua permukaan tulang meliputi
gerakan rolling dan sliding. Saat tulang femur yang bergerak maka, gerakan
rolling ke arah belakang dan sliding ke arah depan (berlawanan arah). Saat fleksi,
femur rolling ke arah belakang dan sliding ke belakang, untuk gerakan ekstensi,
rolling ke depan dan sliding ke belakang. Saat tibia yang bergerak fleksi adapun
ekstensi maka rolling maupun sliding bergerak searah, saat fleksi maka rolling
maupun sliding bergerak searah, saat fleksi rolling dan sliding ke arah belakang,
sedangkan saat ekstensi rolling dan sliding bergerak ke arah depan.

2) Artrokinematika
Artrokinematika pada sendi lutut di saat femur bergerak rolling dan sliding
berlawanan arah, disaat terjadi gerak fleksi femur rolling ke arah belakang dan
sliding-nya ke depan, saat gerakan ekstensi femur rolling kearah depannya
sliding-nya ke belakang. Jika tibia bergerak fleksi ataupun ekstensi maka rolling
maupun sliding terjadi searah, saat fleksi menuju dorsal, sedangkan ekstensi
menuju ventral (Kapandji, 1995).

9
D. Patofisiologi
Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak
meradang, dan progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses penuaan,
rawan sendi mengalami kemunduran dan degenerasi disertai dengan pertumbuhan
tulang baru pada bagian tepi sendi. Proses degenerasi ini disebabkan oleh proses
pemecahan kondrosit yang merupakan unsur penting rawan sendi. Pemecahan
tersebut diduga diawali oleh stress biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim
lisosom menyebabkan dipecahnya polisakarida protein yang membentuk matriks
di sekeliling kondrosit sehingga mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi
yang paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan,
seperti panggul lutut dan kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal dan
proksimasi.
Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya
gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan
penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut. Perubahan-
perubahan degeneratif yang mengakibatkan karena peristiwa-peristiwa tertentu
misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital dan penyakit
peradangan sendi lainnya akan menyebabkan trauma pada kartilago yang bersifat
intrinsik dan ekstrinsik sehingga menyebabkan fraktur pada ligamen atau adanya
perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang rawan
mengalami erosi dan kehancuran, tulang menjadi tebal dan terjadi penyempitan
rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi, deformitas, adanya
hipertropi atau nodulus. ( Soeparman ,1995).

10
E. Pathway

Reaksi antibodi, faktor metabolik, infeksi


dengan kecenderungan virus

Reaksi Peradangan

OSTEOATRITIS

Subcondria Sinovial
Kerusakan kartilago Menebal

dan tulang
Deformitas Sendi
Tendon dan
Ligamen Melemah
Kerusakan Pada
Intoleransi aktivitas
Tulang
b/d kemampuan otot
Hilangnya Kekuatan
Sendi Otot dan Tulang
Reseptor Nyeri
Menghantarkan
Resiko tinggi cidera b/d Nyeri
penurunan fungsi tubuh
dan masa tulang Gangguan citra tubuh
b/d ketidak seimbangan Nyeri akut b/d
mobilitas fisik agen cidera fisik

11
F. Manifestasi Klinis
1. Rasa nyeri pada sendi
Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah apabila
sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.
2. Kekakuan dan keterbatasan gerak
Biasanya akan berlangsung 15 - 30 menit dan timbul setelah istirahat atau saat
memulai kegiatan fisik.
3. Peradangan
Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam ruang
sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai sendi yang
semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.
4. Mekanik
Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan
akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan keadaan
penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat. Nyeri biasanya
berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar, misalnya pada
osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong sebelah lateril, dan
tungkai atas. Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum
dapat diketahui penyebabnya.
5. Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan
cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.
6. Deformitas
Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.
7. Gangguan Fungsi
Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.

12
G. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Radiologi

Gambaran radiografi sendi yang menyokong diagnosis osteoartritis ialah:

1. Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian
sendi yang menanggung beban).
2. Peningkatan densitas (sclerosis) tulang subkondral
3. Kista tulang
4. Osteofit pada pinggir sendi
5. Perubahan struktur anatomi sendi

b. Foto Rontgent menunjukkan penurunan progresif massa kartilago sendi sebagai


penyempitan rongga sendi

H. Penatalaksanaan
1. Tindakan preventif
a. Penurunan berat badan
b. Pencegahan cedera
c. Screening sendi paha
d. Pendekatan ergonomik untuk memodifikasi stres akibat kerja
2. Farmakologi : obat NSAID bila nyeri muncul
3. Terapi konservatif ; kompres hangat, mengistirahatkan sendi, pemakaian alat-
alat ortotik untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi.
4. Irigasi tidal (pembasuhan debris dari rongga sendi), debridemen artroscopik,
5. Pembedahan; artroplasti
6. Operasi, perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan
sendi yang nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi,
7. Fisioterapi, berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi
pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat.
8. Dukungan psikososial, diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya
yang menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya.
13
I. Komplikasi
Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif yang memburuk dari waktu ke
waktu. Nyeri sendi dan kekakuan sendi akan memburuk dan akan terasa semakin
sulit untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Beberapa orang tidak mampu bekerja
terlalu lama. Ketika nyeri sendi terlalu berat, dokter akan menyarankan operasi
penggantian sendi.

J. Klasifikasi

Osteoartritis dapat dibagi atas dua jenis yaitu:

1. Osteoartritis Primer

OA Primer tidak diketahui dengan jelas penyebabnya, dapat mengenai satu atau
beberapa sendi. OA jenis ini terutama ditemukan pada pada wanita kulit putih,
usia baya, dan umumnya bersifat poli-articular dengan nyeri akut disertai rasa
panas pada bagian distal interfalang, yang selanjutnya terjadi pembengkakan
tulang (nodus heberden).

2. Osteoartritis Sekunder

OA sekunder dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan kerusakan pada


sinovia sehingga menimbulkan osteoartritis sekunder. Beberapa keadaan yang
dapat menimbulkan osteoartritis sekunder sebagai berikut:

 Trauma /instabilitas.

OA sekunder terutama terjadi akibat fraktur pada daerah sendi, setelah


menisektomi, tungkai bawah yang tidak sama panjang, adanya hipermobilitas,
instabilitas sendi, ketidaksejajaran dan ketidakserasian permukaan sendi.

 Faktor Genetik/Perkembangan

14
Adanya kelainan genetik dan kelainan perkembangan tubuh (displasia epifisial,
displasia asetabular, penyakit Legg-Calve-Perthes, dislokasi sendi panggul
bawaan, tergelincirnya epifisis) dapat menyebabkan OA.

 Penyakit Metabolik/Endokrin

OA sekunder dapat pula disebabkan oleh penyakit metabolik/sendi (penyakit


okronosis, akromegali, mukopolisakarida, deposisi kristal, atau setelah inflamasi
pada sendi. (misalnya, OA atau artropati karena inflamasi).

Menurut Kellgren dan Lawrence, secara radiologis Osteoartritis di klasifikasikan


menjelaskan :

1. Grade 0 : Normal
2. Grade 1 : Meragukan, dengan gambaran sendi normal, terdapat osteofit
minim
3. Grade 2 : Minimal, osteofit sedikit pada tibia dan patella dan permukaan
sendi

menyempit asimetris.

4. Grade 3 : Moderate, adanya osteofit moderate pada beberapa tempat,


permukaan sendi

menyepit, dan tampak sklerosis subkondral.

5. Grade 4 : Berat, adanya osteofit yang besar, permukaan sendi menyempit


secara

komplit, sklerosis subkondral berat, dan kerusakan permukaan sendi.

15
K. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian Umum :

1. Identitas Klien
Nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,umur, pekerjaan, nama
ayah/ ibu, pekerjaan, alamat, agama, suku bangsa, pendidikan terakhir.
2. Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan Utama
b. Riwayat Penyakit Sekarang
c. Riwayat Penyakit dahulu
d. Riwayat Keluarga
e. Riwayat Pengobatan
3. Observasi Dan Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
b. Tanda-Tanda Vital : Suhu, nadi, tekanan darah, dan respiratory
rate (RR).
c. Pemeriksaan pendengaran

1. Aktivitas/istirahat
Gejala : nyeri sendi karena pergerakan, nyeri tekan, yang memburuk dengan stress
dengan sendi, kekakuan senda pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan
simetris.
Tanda : malaise, keterbatasan ruang gerak, atrofi otot, kulit kontraktur atau
kelainan pada sendi dan otot.
2. Kardiovaskur
Gejala : fenomena Raynaud jari tangan/kaki, missal pucat intermitten, sianotik
kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
3. Integritas ego
Gejala: factor-faktor stress akut/kronis missal finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, factor-faktor hubungan social, keputusan dan ketidakberdayaan.

16
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas diri missal ketergantungan pada
orang lain, dan perubahan bentuk anggota tubuh.
4. Makanan / cairan
Gejala : ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengonsumsi makanan atau
cairan adekuat : mual, anoreksia, dan kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : penurunan berat badan, dan membrane mukosa kering.
5. Hygiene
Gejala : berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi secara
mandiri, ketergantungan pada orang lain.

6. Neurosensory
Gejala : kebas/ kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari
tangan.
Tanda : pembengkakan sendi simetri.
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : fase akut dari nyeri ( disertai / tidak disertai pembengkakan jaringan
lunak pada sendi ), rasa nyeri kronis dan kekakuan ( terutama pada pagi hari ).

8. Keamanan
Gejala : kulit mengkilat, tegang, nodus subkutaneus. Lesi kulit, ulkus kaki,
kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga, demam ringan
menetap, kekeringan pada mata, dan membrane mukosa.
9. Interaksi social
Gejala : kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain, perubahan peran, isolasi.

2. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen cidera fisik
2. Gangguan citra tubuh b.d ketidak seimbangan mobilitas fisik

17
3. Rencana Tindakan Keperawatan
NO DIAGNOSA NOC NIC
1. Nyeri akut b/d agen Setelah dilakukakn 1. Diskusikan
cidera fisik tindakan keperawatan persepsi pasien
selama 3 x 24 jam pasien tentang keadaan
diharapkan membaik tubuh pasien
dengan kriteria hasil 2. Dorong pasien
Pasien akan : untuk beradaptasi
1. Menunjukkan tingkat dengan persepsi
kenyamanan.(2-4) stresor atau
2. Dapat mengendalikan ancaman yang
nyeri (2-4) menghambat peran
3. Dapat melaporkan hidup.
karakteristik nyeri. 3. Diskusikan dengan
(2-4) pasien tentang
faktor resiko
potensial dan
memprioritaskan
strategi
menurunkan
resiko.
4. Dorong pasien
terhadap
peningkatkan
penilaian personal
terhadap harga diri.
5. Rujuk pada
konseling psikiatri
6. Berikan obat-
obatan sesuai

18
petunjuk

2. Gangguan citra Setelah dilakukan 1. Kaji keluhan


tubuh b/d ketidak tindakan keperawatan nyeri, catat lokasi
seimbangan
selama 3 x 24 jam pasien dan intensitas
mobilitas fisik
diharpkan membaik 2. Berikan matras
dengan kriteria hasil atau kasur keras,
Pasien akan : bantal kecil.
1. Menunjukkan Tinggikan tempat
adaptasi dengan tidur sesuai
ketunadayaan fisik, kebutuhan
penyesuaian 3. Biarkan pasien
psikososial.(2-4) mengambil posisi
2. Menunjukkan citra yang nyaman pada
tubuh positif dan waktu tidur atau
harga diri positif.(2-4) duduk di kursi.
3. Menunjukkan Tingkatkan
kepuasan terhadap istirahat di tempat
penampilan dan tidur sesuai
fungsi tubuh.(2-4) indikasi
4. Menunjukkan 4. Dorong untuk
keinginan untuk sering mengubah
menyentuh bagian posisi.Bantu
tubuh yang pasien untuk
mengalami gangguan bergerak di tempat
.(2-4) tidur, sokong
sendi yang sakit di
atas dan di bawah,
hindari gerakan
yang menyentak

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Osteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan yang
menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan meningkatnya usia,
penyakit ini jarang ditemui pada usia di bawah 46 tahun tetapi lebih sering
dijumpai pada usia di atas 60 tahun. Faktor umur dan jenis kelamin menunjukkan
adanya perbedaan frekuensi (Sunarto, 1994, Solomon, 1997).

B. Saran
1. Sebaiknya seorang perawat dapat melaksanakn asuhan keperawatan kepada
klien osteoarthritis sesuai dengan indikasi penyakit

2. Sebaiknya seorang perawat dapat melakukan asuhan keperawatan pada


pasien osteoarthitis dengan baik dan benar.

20
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer C. Suzannne, (2002 ), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Alih


Bahasa Andry Hartono, dkk., Jakarta, EGC.

Judith M. Wilkinson. & Nancy R. Ahern,(2012), Diagnosa Keperawatan Nanda


NIC NOC, Jakarta, EGC

Doenges, EM. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih Bahasa I Made
Kariasa, dkk. (2001), Jakarta, EGC.

Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius


FKUI, Jakarta.

Prince, Sylvia Anderson, 2000., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-


Proses Penyakit., Ed. 4, EGC, Jakarta.

21