Anda di halaman 1dari 20

TERAPI CAIRAN

Oleh :
Putu Diva Dharma Suta
dr. I Made Agus Kresna Sucandra,SpAn.KIC

BAGIAN/SMF ILMU ANESTESI DAN REANIMASI


FK UNUD/RSUP SANGLAH
2017
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Cairan Tubuh ................................................................................................... 2
2.2 Terapi Cairan .................................................................................................. 4
2.3 Jenis Cairan dan Indikasinya…………………………………………. 5
2.4 Jalur Pemberian Terapi Cairan…………………………………………… 11
2.5 Terapi Cairan Perioperatif ................................................................................ 12
BAB III KESIMPULAN .............................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

Tubuh manusia terdiri dari dua bagian utama yaitu bagian yang padat dan
bagianyang cair. Bagian padat terdiri dari tulang, kuku, otot, dan jaringan yang lain.
Sedangkan bagian yang cair berupa cairan intraselular dan ekstraselular. Cairan
ekstraseluler dibagi menjadi plasma darah sebanyak 5% dan cairan interstitial
sebanyak 15%. Cairan antarsel khusus disebut cairan transeluler, seperti cairan
serebrospinal, cairan persendian, cairan peritoneum, dan lain-lainnya. Dalam cairan
ekstraseluler dan intraseluler, terdapat elektrolit-elektrolit utama yang berbeda.
Elektrolit utama dalam cairan ekstraseluler adalah natrium dan klorida, sedangkan
elektrolit utama dalam cairan intraseluler adalah kalium, magnesium, kalsium, dan
fosfat. Cairan dan elektrolit sangat dibutuhkan oleh sel-sel dalam tubuh agar dapat
menjaga dan mempertahankan fungsinya, sehingga tercipta kondisi yang sehat pada
tubuh manusia.1,2
Cairan dan elektrolit di dalam tubuh merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan. Komposisi cairan dan elektrolit di dalam tubuh sudah diatur sedemikian
rupa agar keseimbangan fungsi organ vital dapat dipertahankan. Apabila terjadi
gangguan keseimbangan, baik cairan atau elektrolit, maka akan memberikan
pengaruh pada yang lainnya. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam
tubuh dapat terjadi pada keadaan diare, muntah-muntah, sindrom malabsorbsi,
ekskresi keringat yang berlebih pada kulit, pengeluaran cairan yang tidak disadari
(insesible water loss) secara berlebihan oleh paru-paru, perdarahan, berkurangnya
kemampuan pada ginjal dalam mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam
tubuh. Dalam keadaan tersebut, pasien perlu diberikan terapi cairan agar volume
cairan tubuh yang hilang, dengan segera dapat digantikan. 3

Terapi cairan merupakan terapi yang sangat mempengaruhi keberhasilan


penanganan pasien kritis. Selain dapat mengganti cairan yang hilang, terapi cairan

4
dapat dilakukan untuk mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung,
mencukupi kebutuhan per hari, mengatasi syok, dan mengatasi kelainan akibat terapi
lain. Administrasi terapi cairan melalui intravena adalah salah satu rute terapi yang
paling umum dan penting dalam pengobatan pasien bedah, medis dan sakit kritis.4
Pemilihan pemberian terapi cairan untuk perbaikan dan perawatan stabilitas
hemodinamik pada tubuh cukup sulit. Karena pemilihannya tergantung pada jenis dan
komposisi elektrolit dari cairan yang hilang. Meskipun kesalahan terapi cairan jarang
dilaporkan, namun disebutkan satu dari lima pasien dengan terapi cairan dan
elektrolit intravena menderita komplikasi atau morbiditas karena pemberian terapi
cairan yang tidak tepat. Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk
membahas terapi cairan.5

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cairan Tubuh

2.1.1 Komposisi dan Distribusi Cairan Tubuh

Komponen terbesar tunggal dari tubuh adalah air. Air merupakan perlarut bagi
semua yang terlarut. Air tubuh total atau total body water (TBW) adalah persentase
dari berat air dibagi dengan berat badan total, yang bervariasi berdasarkan kelamin,
umur, dan kandungan lemak yang ada di dalam tubuh. Air membuat sampai sekitar
60 persen pada laki laki dewasa. Sedangkan untuk wanita dewasa terkandung 50
persen dari total berat badan. Pada neonatus dan anak-anak, presentase ini relatif
lebih besar dibandingkan orang dewasa.1,2
Cairan tubuh terdistribusi antara dua kompartemen cairan utama yang
dipisahkan oleh membran sel, yaitu cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler.
Cairan ekstraseluler dibagi menjadi intravaskular dan kompartemen interstitial.
Cairan antarsel khusus disebut cairan transeluler, seperti cairan serebrospinal, cairan
persendian, cairan peritoneum, dan lain-lainnya. Cairan tersebut termasuk ke dalam
jenis khusus cairan ekstraseluler. Dalam beberapa kasus, komposisinya dapat berbeda
dari plasma atau cairan interstitial.1,2

Gambar 1. Kompartemen Cairan Tubuh Manusia1

6
a. Cairan intraselular
Cairan intraseluler merupakan cairan yang terkandung di dalam sel. Cairan
intraseluler berjumlah sekitar 40% dari berat badan. Pada cairan intraseluler memiliki
ion kalium dan fosfat dalam jumlah besar, ion magnesium dan sulfat dalam jumlah
sedang, ion klorida dan natrium dalam jumlah kecil, dan hampir tidak ada ion
kalsium. Sel juga memiliki protein dalam jumlah besar, hampir lebih dari empat kali
lipat di dalam plasma.1
b. Cairan ekstraselular
Jumlah relatif cairan ekstraselular menurun seiring dengan bertambahnya usia,
yaitu sampai sekitar sepertiga dari volume total pada dewasa. Cairan ekstraselular
terbagi menjadi cairan interstitial dan cairan intravaskular. Cairan interstitial adalah
cairan yang mengelilingi sel dan termasuk cairan yang terkandung diantara rongga
tubuh seperti serebrospinal, perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi
saluran pencernaan. Sementara, cairan intravaskular merupakan cairan yang
terkandung dalam pembuluh darah, dalam hal ini plasma darah.1
Pada orang dewasa normal, rata-rata asupan air setiap harinya adalah 2500 ml,
yang termasuk kira-kira 300 ml sebagai produk sampingan dari metabolisme substrat
energi. Rata-rata kehilangan cairan per hari adalah 2500 ml dimana 1500 ml di urin,
400 ml dievaporasi saluran pernafasan, 400 ml di evaporasi kulit, 100 ml di keringat,
dan 100 ml di feses. Penguapan sangat diperlukan untuk pengaturan suhu karena
mekanisme ini secara normal menyumbang 20-25% kehilangan panas. Perubahan
pada komponen cairan dan volume sel akan memicu kerusakan fungsi yang serius,
khususnya pada otak.2
2.2 Terapi Cairan
Terapi cairan adalah salah satu terapi yang sangat menentukan keberhasilan
penanganan pasien kritis. Dalam langkah-langkah resusitasi, langkah D (“drug and
fluid treatment”) dalam bantuan hidup lanjut, merupakan langkah penting yang
dilakukan secara simultan dengan langkah-langkah lainnya. Tindakan ini seringkali
merupakan langkah “life saving” pada pasien yang menderita kehilangan cairan yang
banyak seperti dehidrasi karena muntah mencret dan syok.2,3

7
2.3 Jenis Cairan dan Indikasinya
Secara garis besar, cairan intravena dibagi menjadi dua, yaitu cairan kristaloid
dan koloid.
a. Cairan Kristaloid
Kristaloid berisi elektrolit (contoh kalium, natrium, kalsium, klorida). Kristaloid tidak
mengandung partikel onkotik dan karena itu tidak terbatas dalam ruang intravascular
dengan waktu paruh kristaloid di intravascular adalah 20-30 menit. Beberapa peneliti
merekomendasikan untuk setiap 1 liter darah, diberikan 3 liter kristaloid isotonik.
Kristaloid murah, mudah dibuat, dan tidak menimbulkan reaksi imun. Larutan
kristaloid adalah larutan primer yang digunakan untuk terapi intravena prehospital.
Tonisitas kristaloid menggambarkan konsentrasi elektrolit yang dilarutkan dalam air,
dibandingkan dengan yang dari plasma tubuh. Ada 3 jenis tonisitas kritaloid,
diantaranya3:
- Isotonis.
Ketika kristaloid berisi sama dengan jumlah elektrolit plasma, ia memiliki
konsentrasi yang sama dan disebut sebagai “isotonik” (iso, sama; tonik, konsentrasi).
Ketika memberikan kristaloid isotonis, tidak terjadi perpindahan yang signifikan
antara cairan di dalam intravascular dan sel. Dengan demikian, hampir tidak ada atau
minimal osmosis. Keuntungan dari cairan kristaloid adalah murah, mudah didapat,
mudah penyimpanannya, bebas reaksi, dapat segera dipakai untuk mengatasi defisit
volume sirkulasi, menurunkan viskositas darah, dan dapat digunakan sebagai fluid
challenge test. Efek samping yang perlu diperhatikan adalah terjadinya edema perifer
dan edema paru pada jumlah pemberian yang besarContoh larutan kristaloid isotonis:
Ringer Laktat, Normal Saline (NaCl 0.9%), dan Dextrose 5% in ¼ NS.2,3
- Hipertonis
Jika kristaloid berisi lebih elektrolit dari plasma tubuh, itu lebih
terkonsentrasi dan disebut sebagai “hipertonik” (hiper, tinggi, tonik, konsentrasi).
Administrasi dari kristaloid hipertonik menyebabkan cairan tersebut akan menarik
cairan dari sel ke ruang intravascular. Efek larutan garam hipertonik lain adalah
meningkatkan curah jantung bukan hanya karena perbaikan preload, tetapi

8
peningkatan curah jantung tersebut mungkin sekunder karena efek inotropik positif
pada miokard dan penurunan afterload sekunder akibat efek vasodilatasi kapiler
viseral. Kedua keadaan ini dapat memperbaiki aliran darah ke organ-organ vital. Efek
samping dari pemberian larutan garam hipertonik adalah hipernatremia dan
hiperkloremia. Contoh larutan kristaloid hipertonis: Dextrose 5% dalam ½ Normal
Saline, Dextrose 5% dalam Normal Saline, Saline 3%, Saline 5%, dan Dextrose 5%
dalam RL.2,3,5
- Hipotonis
Ketika kristaloid mengandung elektrolit lebih sedikit dari plasma dan
kurang terkonsentrasi, disebut sebagai “hipotonik” (hipo, rendah; tonik, konsentrasi).
Ketika cairan hipotonis diberikan, cairan dengan cepat akan berpindah dari
intravascular ke sel. Contoh larutan kristaloid hipotonis: Dextrose 5% dalam air, ½
Normal Saline.3
b. Cairan Koloid
Cairan koloid mengandung zat-zat yang mempunyai berat molekul tinggi
dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama
dalam ruang intravaskuler. Koloid digunakan untuk resusitasi cairan pada pasien
dengan defisit cairan berat seperti pada syok hipovolemik/hermorhagik sebelum
diberikan transfusi darah, pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan
kehilangan protein jumlah besar (misalnya pada luka bakar). Cairan koloid
merupakan turunan dari plasma protein dan sintetik yang dimana koloid memiliki
sifat yaitu plasma expander yang merupakan suatu sediaam larutan steril yang
digunakan untuk menggantikan plasma darah yang hilang akibat perdarahan, luka
baker, operasi, Kerugian dari ‘plasma expander’ ini yaitu harganya yang mahal dan
dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (walau jarang) dan dapat menyebabkan
gangguan pada cross match.2,3 Berdasarkan jenis pembuatannya, larutan koloid terdiri
dari:
1. Koloid Alami yaitu fraksi protein plasma 5% dan albumin manusia ( 5% dan
25%). Dibuat dengan cara memanaskan plasma 60°C selama 10 jam untuk
membunuh virus hepatitis dan virus lainnya. Fraksi protein plasma selain

9
mengandung albumin (83%) juga mengandung alfa globulin dan beta
globulin. Selain albumin, aktivator Prekallikrein (Hageman’s factor
fragments) terdapat dalam fraksi protein plasma dan sering menimbulkan
hipotensi dan kolaps kardiovaskuler.3
2. Koloid Sintetik
• Dextran
Koloid ini berasal dari molekul polimer glukosa dengan jumlah yang
besar. Dextrans diproduksi untuk mengganti cairan karena peningkatan berat
molekulnya, sehingga memiliki durasi tindakan yang lebih lama di dalam
ruang intravaskular. Namun, obat ini jarang digunakan karena efek samping
terkait yang meliputi gagal ginjal sekunder akibat pengendapan di dalam
tubulus ginjal, gangguan fungsi platelet, koagulopati dan gangguan pada
cross-matching darah. Tersedia dalam bentuk Dextran 40 (Rheomacrodex)
dengan berat molekul 40.000 dan Dextran 70 (Macrodex) dengan berat
molekul 60.000-70.000.4
• Hydroxylethyl Starch (Hetastarch)
Cairan koloid sintetik yang sering digunakan saat ini. Pemberian 500
ml larutan ini pada orang normal akan dikeluarkan 46% lewat urin dalam
waktu 2 hari dan sisanya, yaitu starch yang bermolekul besar, sebesar 64%
dalam waktu 8 hari. Hetastarch nonantigenik dan jarang dilaporkan adanya
reaksi anafilaktoid. Low molecular weight Hydroxylethyl starch (Penta-
Starch) mirip Heta starch, mampu mengembangkan volume plasma hingga
1,5 kali volume yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena
potensinya sebagai plasma volume expander yang besar dengan toksisitas
yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi maka Pentastarch dipilih
sebagai koloid untuk resusitasi cairan jumlah besar.5

10
• Gelatin
Merupakan bagian dari koloid sintesis yang terbuat dari gelatin, biasanya
berasal dari collagen bovine serta dapat memberikan reaksi. Larutan gelatin
adalah urea atau modifikasi succinylated cross-linked dari kolagen sapi. Berat
molekul gelatin relatif rendah, 30,35 kDa, jika dibandingkan dengan koloid
lain. Pengangkut berisi NaCl 110 mmol/l. Efek ekspansi plasma segera dari
gelatin adalah 80-100% dari volume yang dimasukkan dibawah kondisi
hemodilusi normovolemik. Efek ekspansi plasma akan bertahan 1-2 jam.
Tidak ada batasan dosis maksimum untuk gelatin. Gelatin dapat memicu
reaksi hipersensitivitas, lebih sering daripada larutan HES. Meskipun produk
mentahnya bersumer dari sapi, gelatin dipercaya bebas dari resiko penyebaran
infeksi. Kebanyakan gelatin dieskskresi melalui ginjal, dan tidak ada
akumulasi jaringan.6

Tabel 1. Perbandingan Kristaloid dan Koloid.3,4


Sifat Kristaloid Koloid
Berat molekul Lebih kecil Lebih besar
Distribusi Lebih cepat: 20-30 menit Lebih lama dalam sirkulasi
(3-6 jam)
Faal hemostasis Tidak ada pengaruh Mengganggu
Penggunaan Dehidrasi Perdarahan masif
Koreksi perdarahan Diberikan 2-3x jumlah Sesuai jumlah perdarahan
perdarahan

Tabel 2. Komposisi Beberapa Cairan.3,4


Cairan Ton Osm Na+ Cl- K+ Gluk Laktat pH Lainnya
NS Iso 308 154 154 6
RL Iso 273 130 109 4 28 6,5
D5W Hipo 252 50 4,5
D5RL Hiper 525 130 109 4 50 28 5,0
D51/4NS Hiper 355 38,5 38,5 50
D51/2NS Hiper 406 77 77 0 4,0

11
5% alb Hiper 330 <2,5 7,4 COP 32
mmHg
Plasmanat 145 <2,0 7,4 COP 20
mmHg
10%Dextran Hipo 255 0 4,0
HES Iso 310 154 5,9

Berdasarkan penggunaannya, cairan infus dapat digolongkan menjadi empat


kelompok, yaitu:
1. Cairan Pemeliharaan
Terapi cairan intravena untuk pemeliharaan rutin mengacu pada
penyediaan IV cairan dan elektrolit untuk pasien yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan mereka dengan rute enteral, namun sebaliknya baik dalam hal
keseimbangan cairan dan elektrolit dan penanganan (yaitu mereka yang pada
dasarnya euvolemik tanpa signifikan defisit elektrolit, kerugian yang
abnormal yang sedang berlangsung atau masalah redistribusi internal yang
kompleks). Tujuan saat memberikan cairan perawatan rutin adalah untuk
menyediakan cukup cairan dan elektrolit untuk memenuhi insensible losses
(500-1000 ml), mempertahankan status normal tubuh kompartemen cairan
dan memungkinkan ekskresi ginjal dari produk-produk limbah (500-1500
ml.). Jenis cairan rumatan yang dapat digunakan adalah : NaCl 0,9%, glukosa
5%, glukosa salin, ringer laktat/asetat, NaCl 0,9% hanya untuk rumatan yang
tinggi kandungan NaCl dari saluran cerna ataupun ginjal, glukosa 5% atau
glukosa salin.7,8
Jumlah kehilangan air tubuh berbeda sesuai dengan umur, yaitu
Dewasa 1,5-2 ml/kg/jam
Anak-anak 2-4 ml/kg/jam
Bayi 4-6 ml/kg/jam
Neonatus 3 ml/kg/jam
Kebutuhan cairan rumatan adalah 25-30 ml/kg/hari. Kebutuhan K, Na dan Cl
kurang lebih 1mmol/kg/hari. Kebutuhan glukosa 50-100 g/hari. Setelah cairan

12
pemeliharaan intravena diberikan, monitor dan lakukan penilaian ulang pada
pasien. Hentikan cairan intravena jika tidak ada indikasi yang tepat. Cairan
nasogastrium atau makanan enteral lebih dipilih untuk kebutuhan
pemeliharaan lebih dari 3 hari.9,10

2. Cairan Pengganti
Banyak pasien yang membutuhkan cairan intravena memiliki
kebutuhan spesifik untuk menutupi penggantian dari deficit cairan atau
kehilangan cairan atau elektrolit serta permasalahan redistribusi cairan
internal yang sedang berlangsung, sehingga harus dihitung untuk pemilihan
cairan intravena yang optimal. Cairan dan elektrolit intravena pengganti
dibutuhkan untuk mengangani deficit yang ada atau kehilangan yang tidak
normal yang sedang berlangsung, biasanya dari saluran pencernaan (contoh:
ileostomy, fistula, drainase nasogastrium, dan drainase bedah) atau saluran
kencing (contoh: saat pemulihan dari gagal ginjal akut). Secara umum, terapi
cairan intravena untuk penggantian harus bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan ekstra dari cairan dan elektrolit seperti kebutuhan pemeliharaan,
sehingga homeostasis dapat kembali dan terjaga.9
Lakukan penilaian cairan dan elektrolit pasien dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik, monitor klinis, dan pemeriksaan laboratorium. Cari defisit,
kehilangan yang sedang berlangsung, distribusi yang tidak normal atau
permasalahan kompleks lainnya. Periksa kehilangan yang sedang berlangsung
dan perkirakan jumlahnya dengan mengecek untuk muntah dan kehilangan
NG tube, diare, kehilangan darah yang berlangsung. Periksa redistribusi dan
masalah kompleks lainnya dengan memeriksa pembengkakan, sepsis berat,
dan lainnya. Berikan tambahan cairan dari kebutuhan pemeliharaan rutin,
mengatur sumber-sumber cairan dan elektrolit yang lain. Monitor dan periksa
ulang pasien setelah meresepkan.9,10

13
3. Cairan untuk Tujuan Khusus
Yang dimaksud adalah cairan kristaloid yang digunakan khusus,
misalnya natrium bikarbonat 7,5%, kalsium glukonas, untuk tujuan koreksi
khusus terhadap gangguan keseimbangan elektrolit.9

4. Cairan Nutrisi
Cairan nutrisi biasanya digunakan untuk nutrisi parenteral pada pasien
yang tidaak mau makan, tidak boleh makan dan tidak bisa makan peroral.
Jenis cairan nutrisi parenteral pada saat ini sudah dalam berbagai komposisi
baik untuk parenteral parsial atau total maupun untuk kasus penyakit tertentu.
Adapun syarat pemberian nutrisi parenteral yaitu berupa:
• Gangguan absorpsi makanan seperti pada fistula enterokunateus,
atresia intestinal, kolitis infektiosa, obstruksi usus halus.
• Kondisi dimana usus harus diistirahatkan seperti pada pankreatitis
berat, status preoperatif dengan malnutrisi berat, angina intestinal,
stenosis arteri mesenterika, diare berulang.
• Gangguan motilitas usus seperti pada ileus yang berkepanjangan,
pseudo-obstruksi dan skleroderma.
• Kondisi dimana jalur enteral tidak dimungkinkan seperti pada
gangguan makan, muntah terus menerus, gangguan hemodinamik,
hiperemesis gravidarum.11,13
2.4 Jalur Pemberian Terapi Cairan
Secara umum telah disepakati bahwa pemberian terapi cairan dilakukan
melalui jalur vena, baik vena perifer maupun vena sentral melalui kanulasi tertutup
atau terbuka dengan seksi vena.12
1. Kanulasi Vena Perifer
Syarat dari pemilihan kanulasi ini adalah vena di daerah ekstremitas
atasm berikutnya dilanjutkan pada vena bagian ekstremitas bawah.
Hindari vena di daerah kepala karena sangat tidak fiksasinya, sehingga
mudah terjadu hematom. Pada bayi baru lahir, vena umbilikalis bisa
14
digunakan untuk kanulasi terutama dalam keadaan darurat. Tujuan
dilakukannya kanulasi vena perifer ini adalah untuk12:
a. Terapi cairan pemeliharaan dalam waktu singkat. Apabila lebih
dari tiga hari, harus pindah lokasi vena dan set infus harus diganti
pula.
b. Terapi cairan pengganti dalam keadaan darurat, untuk menganti
kehilangan cairan tubuh atau perdarahan akut.
c. Terapi obat lain secara intravena yang diberikan secara kontinyu
atau berulang
2. Kanulasi Vena Sentral
Kanulasi dengan penggunaan jangka panjang, misalnya untuk nutrisi
parenteral total, kanulasi dikalukan melalui vena subklavikula atau vena
jugularis interna. Sedangkan untuk jangka pendek, dilakukan melalui vena-
vena di atas ekstremitas atas secara tertutup atau terbuka dengan vena seksi.
Tujuan dari kanulasi vena sentral ini tersendiri adalah12,13:
a. Terapi cairan dan nutrisi pareterla jangka panjang. Terutama untuk
cairan nutrisi parenteral dengan osmolaritas yang tinggi untuk
mencegah iritasi pada vena.
b. Jalur pintas terapi cairan pada keadaan darurat, misalnya cardio
vascular, vena perifer sulit diidentifikasi
c. Untuk pemasanganan alat pemacu jantung
2.5 Terapi Cairan Perioperatif
Terapi cairan perioperatif mencakup penggantian kehilangan cairan atau
defisiensi cairan yang ada sebelumnya, dan kehilangan darah pada tindakan bedah
seperti pada sebelum tindakan pembedahan, selama, dan pasca pembedahan.
Menurut National Confidential Enquiry into Patient Outcome and Death
menyatakan bahwa pasien dengan hipovolemik yang mendapatkan terapi cairan
perioperative dengan jumlah tidak adekuat mengalami peningkatan angka mortalitas
20,5% dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan terapi cairan dengan jumlah
yang adekuat.14

15
1. Terapi Cairan Prabedah
Prinsip pemberian cairan prabedah adalah untuk mengganti cairan dan
kalori yang dialami pasien prabedah akibat puasa. Cairan yang digunakan
adalah15:
a. Untuk mengganti puasa diberikan cairan pemeliharaan
b. Untuk koreksi defisist puasa atau dehidrasi diberikan cairan kristaloid
c. Perdarahan akut diberikan cairan kristaloid dan koloid atau transfusi
2. Terapi Cairan selama Operasi
Tujuan dari pemberian cairan selama operasi adalah sebagai koreksi
kehilangan cairan melalui luka operasi, mengganti peredarahan dan mengganti
cairan yang hilang melalui organ eksresi. Idealnya, perdarahan seharusnya
diatasi dengan penggantian cairan dengan kristaloid atau koloid untuk
menjaga volum intravascular (normovolemia) sehingga resiko terjadinya
anemia dapat diatasi. Namun jika terjadi anemia berat pada pasien dapat
diatasi dengan pemberian transfusi darah. Untuk menentukan jumlah transfusi
yang akan diberikan dapat ditentukan dari hematokrit dan dengan menghitung
estimated blood volume.
Hal yang terpenting juga berdasarkan dari kondisi klinis pasien dan
prosedur operasi yang akan pasien jalani. Jumlah kehilangan darah dapat
dihitung dengan beberapa cara diantaranya:
1. Menghitung Estimated Blood Volume = 65ml/kg dikalikan dengan
berat badan pasien.
2. Menghitung volume sel darah merah pada hematokrit preoperatif
(RBCV preop)
3. Menghitung volume sel darah merah pada hematokrit 30% (RBCV
30%)
4. Hitung jumlah kehilangan volume sel darah merah (RBCV lost);
RBCV lost = RBCV preop – RBCV 30% .
5. Hitung Allowable Blood Loss = EBV x (Hct preop – Hct 30%).3,5,6
Hct preop

16
Tabel 3. Rata – rata Volume Darah.3
Usia Volume Darah
Neonatus
Prematur 95 ml/kg
Matur 85 ml/kg
Infan 80 ml/kg
Dewasa
Pria 75 ml/kg
Wanita 65 ml/kg

Jumlah perdarahan selama operasi dihitung berdasarkan:


• Jumlah darah yang tertampung di dalam botol penampung atau tabung
suction
• Tambahan berat kasa yang digunakan ( 1 gram = 1 ml darah )
• Ditambah dengan factor koreksi sebesar 25% kali jumlah yang terukur
ditambah terhitung (jumlah darah yang tercecer dan melekat pada kain
penutup lapangan operasi).3

3. Terapi Cairan Pasca Bedah


Pemberian cairan pasca bedah digunakan tergantung dengan masalah yang
dijumpai, bisa mempergunakan cairan pemeliharaan, cairan pengganti atau
cairan nutrisi. Prinsip dari pemberian cairan pasca bedah adalah4,5:
a. Dewasa:
• Pasien yang diperbolehkan makan/minum pasca bedah,
diberikan cairan pemeliharaan
• Apabila pasien puasa dan diperkirakan < 3 hari diberikan
cairan nutrisi dasar yang mengandung air, eletrolit,
karbohidrat, dan asam amino esensial. Sedangkan apabila

17
diperkirakan puasa > 3 hari bisa diberikan cairan nutrisi yang
sama dan pada hari ke lima ditambahkan dengan emulsi lemak
• Pada keadaan tertentu, misalnya pada status nutrisi pra bedah
yang buruk segera diberikan nutrisi parenteral total
b. Bayi dan anak, memiliki prinsip pemberian cairan yang sama,
hanya komposisinya berbeda, misalnya dari kandungan
elektrolitnya, jumlah karbohidrat dan lain – lain.
c. Pada keadaan tertentu misalnya pada penderita syok atau anemia,
penatalaksanaanya disesuaikan dengan etiologinya.5,6,8
Satu atau lebih komplikasi yang terjadi pasca operasi memberikan dampak
buruk dalam jangka waktu pendek atau panjang. Pencegahan angka morbiditas pada
pasca operasi adalah kunci untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
berkualitas7,11

18
BAB III
KESIMPULAN

Air merupakan komponen terbesar dari tubuh manusia. Persentase cairan


tubuh tergantung pada usia, jenis kelamin, dan derajat status gizi seseorang. Seluruh
cairan tubuh tersebut secara garis besar terbagi ke dalam 2 kompartemen, yaitu
intraselular dan ekstraselular. Apabila terjadi deficit atau kekurangan cairan pada
tubuh maka perlu segera diberikan penanganan atau pencegahan untuk mencegah
terjadinya masalah kekurangan cairan.
Terapi cairan secara garis besar dibagi menjadi kristaloid dan koloid.
Kristaloid merupakan larutan berbasis air yang mengandung elektrolit atau gula yang
paling sering dan paling pertama digunakan sebagai cairan resusitasi. Keuntungan
dari cairan ini antara lain harga murah, tersedia dengan mudah di setiap pusat
kesehatan, tidak perlu dilakukan cross match, sedangkan koloid mengandung zat-zat
yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan
cairan ini cenderung bertahan agak lama dalam ruang intravaskuler dan baik untuk
resusitasi cairan pada pasien dengan defisit cairan berat seperti pada syok
hipovolemik/hermorhagik. Berdasarkan penggunaannya dibagi menjadi cairan
pemeliharaan, pengganti, nutrisi, dan untuk tujuan khusus.
Jalur pemberian cairan dapat melalu kanulasi vena sentral dan perifer dimana
masing memiliki indikasi tersendiri. Pemberian cairan perioperative juga diperlukan
pada saat sebelum, selama, dan setelah atau pasca operasi. Pemantauan kehilangan
darah pada pasien perioperative juga menentukan jenis terapi cairan yang akan
diberikan.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Hall, J. E., 2006. Guyton's Textbook of Medical Physiology. 11 ed.


Philadelpia: Elsevier. Chow JL, B. K. a. B. L., 2004. Critical Care Handbook
of the Massachusetts General Hospital. 3rd ed. US: Lippincott Williams &
Wilkins.
2. Stoelting RK, Rathmell JP, Flood P, Shafer S. Intravenous Fluids and
Electrolytes. Dalam Handbook of Pharmacology and Physiology in Anesthetic
Practice 3rd ed. Philadelphia: Wolters Kluwer Health. 2015; 17 : h. 341 – 49.
3. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Management of Patients with Fluid
and Electrolyte Disturbances. Dalam Morgan & Mikhail’s Clinical
Anesthesiology 5th ed. New York: Mc-Graw Hill. 2013; 4 (49): h. 1107 – 40.
4. Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Reaminasi Indonesia. 2010.
Panduan Tatalaksana Terapi Cairan Perioperatif. PP IDSAI, 108-142.
5. Hahn RG. Crystalloid Fluids. Dalam Clinical Fluid Therapy in the
Perioperative Setting. Cambridge: Cambridge University Press. 2012; 1 : h. 1
– 10.
6. Niemi TT, Miyasitha R, Yamakage M. Colloid solutions: a clinical update.
Japanese Society of Anesthesiologist. 2010.
7. Intravenous Fluid Selection [cited 2017 May 5]. Available from
catalogue.pearsoned.co.uk. 2005.
8. Floss K, Borthwick M, Clark C. Intravenous fluids principles of treatment.
Clinical Pharmacist Vol.3. 2011.
9. Agro FE, Fries D, Vennari M. Body Fluid Management From Physiology to
Therapy. Verlag Italia: Springer. 2013.
10. Hines RL, Marschall KE. Fluid, Electrolytes, and Acid-Base Disorders.
Dalam Handbook for Stoelting’s Anesthesia and Co-Existing Disease 4th ed.
Philadelphia: Elsevier Inc. 2013; 18: h.216 – 230.
11. Braga M, Ljungqvist O, Soeters P, et al: ESPEN Guidelines on Parenteral
Nutrition: surgery. Clin Nutr 2009;28:378.

20
12. Gaol, H. L., Tanto, C. & Pryambodho, 2014. Terapi Cairan. In: C. Tando, F.
Liwang, S. Hanifati & E. A. Pradipta, eds. Kapita Selekta Kedokteran.
Jakarta: Media Aesculapius, pp. 561-564.
13. Weimann A, Braga M, Harsanyi L, et al: ESPEN Guidelines on Enteral
Nutrition: surgery including organ transplantation. Clin Nutr 2006;25:224.
14. Brugnolli, A, RN, MSN, Canzan F, RN, MSN, PhD. 2017. Fluid Therapy
Management in Hospitalized Patients: Results From a Cross-sectional Study
15. Voldby AW, Branstrup B. Fluid Therapy in the Perioperative Setting. Journal
of Intensive Care. 2016; 4 : h.27 – 39.

21