Anda di halaman 1dari 38

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dari tahun ke tahun meningkat, walaupun saat ini Indonesia

masih berada pada ranking 108 dari 187 negara di dunia. Pembangunan manusia pada dasarnya adalah
upaya untuk memanusiakan manusia kembali. Adapun upaya yang dapat ditempuh harus dipusatkan
pada seluruh proses kehidupan manusia itu sendiri, mulai dari bayi dengan pemberian ASI dan imunisasi
hingga lanjut usia, dengan memberikan jaminan sosial. Kebutuhan-kebutuhan pada setiap tahap
kehidupan harus terpenuhi agar dapat mencapai kehidupan yang lebih bermartabat.

Seluruh proses ini harus ditunjang dengan ketersediaan pangan, air bersih, sanitasi, energi dan akses ke
fasilitas kesehatan dan pendidikan, jelas Menkes Prof. Dr. dr. Nila F. Moeleok, Sp.M(K) saat Jumpa Pers
Awal Tahun tentang program kerja Kemenkes, di Jakarta (3/2).

Dalam rangka mendorong pembangunan manusia secara menyeluruh, perlu perhatian pada kesehatan
sejak dini atau sejak Balita. Kita lihat bahwa sangat penting untuk melakukan investasi yang tepat waktu
agar pertumbuhan otak anak sampai usia 5 tahun dapat berjalan dengan baik, untuk menghindari loss
generation, terang Menkes.

Ditegaskan, salah satu ancaman serius terhadap pembangunan kesehatan, khususnya pada kualitas
generasi mendatang, adalah stunting. Dimana rata-rata angka stunting di Indonesia sebesar 37.2%.
Menurut standar WHO, persentase ini termasuk kategori berat.

Menkes juga mencermati angka kejadian pernikahan dini yang masih cukup tinggi dan kerentanan
remaja pada perilaku seks berisiko serta HIV/AIDS khususnya pada kelompok usia produktif.

Kematian ibu juga menjadi tantangan dari waktu ke waktu. Ada berbagai penyebab kematian ini baik
penyebab langsung maupun tidak langsung, maupun faktor penyebab yang sebenarnya berada di luar
bidang kesehatan itu sendiri, seperti infrastruktur, ketersedian air bersih, transportasi, dan nilai-nilai
budaya. Faktor-faktor non-kesehatan inilah yang justru memberikan pengaruh besar karena dapat
menentukan berhasil tidaknya upaya penurunan angka kematian ibu, ungkap Menkes.

Guna mengurangi dampak kesehatan seperti contoh di atas, Kemenkes menyelenggarakan Program
Indonesia Sehat sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang berperilaku sehat, hidup dalam
lingkungan sehat, serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu untuk mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Program Indonesia Sehat terdiri atas 1) Paradigma Sehat; 2) Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer;
dan 3) Jaminan Kesehatan Nasional. Ketiganya akan dilakukan dengan menerapkan pendekatan
continuum of care dan intervensi berbasis risiko (health risk).

Paradigma sehat menyasar pada 1) penentu kebijakan pada lintas sektor, untuk memperhatikan
dampak kesehatan dari kebijakan yang diambil baik di hulu maupun di hilir, 2) Tenaga kesehatan, yang
mengupayakan agar orang sehat tetap sehat atau tidak menjadi sakit, orang sakit menjadi sehat dan
orang sakit tidak menjadi lebih sakit; 3) Institusi Kesehatan, yang diharapkan penerapan standar mutu
dan standar tarif dalam pelayanan kepada masyarakat, serta 4) Masyarakat, yang merasa kesehatan
adalah harta berharga yang harus dijaga.

Kementerian Kesehatan akan melakukan penguatan pelayanan kesehatan untuk tahun 2015-2019.
Penguatan dilakukan meliputi 1) Kesiapan 6.000 Puskesmas di 6 regional; 2) Terbentuknya 14 RS
Rujukan Nasional; serta Terbentuknya 184 RS Rujukan regional.

Khusus untuk daerah terpencil dan sangat terpencil, di bangun RS kelas D Pratama dengan kapasitas 50
Tempat Tidur untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan rujukan. Pada regional Papua akan
didirikan 13 Rumah Sakit Pratama. Sementara pada Regional Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara,
Kalimantan, Sulawesi akan didirikan 55 Rumah Sakit Pratama.

Menkes menjelaskan, Kementerian Kesehatan telah melakukan implementasi e-catalogue pada


pengadaan obat dan alat kesehatan di lingkup Satuan Kerja Pemerintah. Hal ini telah dimulai sejak tahun
2013 untuk obat, dan awal tahun 2014 untuk alkes. Ini merupakan wujud nyata tindak lanjut arahan
Presiden RI agar pengadaan barang/jasa di lingkup Pemerintah dilakukan secara elektronik.

Kartu Indonesia Sehat (KIS)


KIS yang diluncurkan tanggal 3 November 2014 merupakan wujud program Indonesia Sehat di bawah
Pemerintahan Presiden Jokowi. Program ini 1) menjamin dan memastikan masyarakat kurang mampu
untuk mendapat manfaat pelayanan kesehatan seperti yang dilaksanakan melalui Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan; 2) perluasan cakupan PBI termasuk
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Bayi Baru Lahir dari peserta Penerima PBI; serta
3) Memberikan tambahan Manfaat berupa layanan preventif, promotif dan deteksi dini dilaksanakan
lebih intensif dan terintegrasi.

Pertemuan Antar Menteri


Dalam mensinergikan program kesehatan dengan program pembangunan di kementerian lain, Menteri
Kesehatan telah melakukan beberapa pertemuan dengan Menteri Kebinet Kerja. Pertemuan dilakukan
sejak akhir tahun 2014 dan masih berlangsung hingga saat ini.

Tanggal 23 Desember 2014 Menkes bertemu dengan Mendagri. Ini merupakan pertemuan pertama
antar Menteri Kabinet Kerja. Hasil pertemuan kedua Menteri adalah Mensosialisasikan JKN melalui
asosiasi kepala daerah; Memperkuat pembekalan teamwork Nakes yang akan ditempatkan di daerah
untuk menyeimbangkan pelayanan promotif-preventif dan kuratif-rehabilitatif; Memperbanyak
Puskesmas Bergerak untuk pelayanan kesehatan di daerah terpencil; Prioritas pembangunan Puskesmas
di 50 wilayah; Membuat surat edaran kepada kepala daerah untuk mendukung peraturan pemerintah
terkait Standar Pelayanan Mutu (SPM) bidang kesehatan; dan Integrasi data administrasi kependudukan.

Tanggal 31 Desember 2014 Menkes bertemu dengan Menkominfo. Hasil pertemuan menyepakati
Penguatan SPGDT dengan layanan satu nomor panggil 119 serta Pelaksanaan assessment oleh
Kemenkominfo terhadap berbagai aplikasi yang ada di Kemenkes.
Pada tanggal 2 Januari 2015 Menkes melakukan rapat koordinasi dengan Menteri Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Hasil pertemuan adalah Menyiapkan infrastruktur pendukung
(bangunan fisik, jalan, air bersih, sarana komunikasi); Sistem keamanan secara khusus untuk wilayah
perbatasan terkait dengan pergerakan manusia, hewan, barang, penyakit; dan Khusus untuk wilayah
transmigrasi baru mempertimbangkan juga bidang usaha kecil yang terjamin dan sehat.

Tanggal 5 Januari 2015, Menkes bertemu dengan Menteri Perdagangan. Hasil pertemuan adalah
Mempromosikan jamu sebagai warisan budaya Indonesia baik di dalam negeri maupun luar negeri;
Mendukung perlindungan masyarakat untuk produk makanan import; Mendukung pengaturan bahan
berbahaya untuk makanan dan minuman; Meningkatkan koordinasi perdagangan barang dan jasa
dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Pada tanggal 8 Januari 2015 Menkes melakukan Rapat Koordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat, dengan hasil yaitu Membangun akses masyarakat ke fasilitas pelayanan Kesehatan
Primer; Meningkatkan pembangunan saranan air bersih dan sanitasi untuk masyarakat; Membangun
perumahan untuk tenaga kesehatan; Mengintegrasikan pembangunan kawasan kumuh dengan
program Kesehatan (Air bersih, STBM dan PHBS); dan Target kolaborasi dilaksanakan dalam 5 tahun ke
depan,

Tanggal 27 Januari 2015 Menkes bertemu dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Adapun hasil
pertemuan adalah Menyusun materi PHBS untuk guru sebagai agent of change; Merevitalisasi Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS); Menghidupkan kembali program Pemberian Makanan Tambahan Anak
Sekolah (PMT-AS) melalui gerakan sarapan pagi; Membangun paket kegiatan rutin anak sekolah berupa
Membaca, Olah raga, menyanyi lagu daerah dan piket membersihkan lingkungan sekolah; serta Kegiatan
akan dimulai dengan tahun ajaran baru 2015/2016: Menyusun peraturan tentang pendirian SMK dan
bidang penjurusannya.

Nusantara Sehat (NS)


Sebagai bagian dari penguatan pelayanan kesehatan primer untuk mewujudkan Indonesia Sehat
Kemenkes membentuk program Nusantara Sehat (NS). Di dalam program ini dilakukan peningkatan
jumlah, sebaran, komposisi dan mutu Nakes berbasis pada tim yang memiliki latar belakang berbeda
mulai dari dokter, perawat dan Nakes lainnya (pendekatan Team Based). Program NS tidak hanya
berfokus pada kegiatan kuratif tetapi juga pada promitif dan prefentif untuk mengamankan kesehatan
masyarakatdan daerah yang paling membutuhkan sesuai dengan Nawa Cita membangun dari pinggiran.

MAKALAH SUAMI SIAGA


Ditulis pada 4 Agustus 2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suami siaga merupakan suami yang sap menjaga istrinya yang sedang hamil, menyediakan
tabungan bersalin, serta memberikan kewenangan untuk menggunakannya apabila terjadi
masalah kehamilan. Suami siaga mempunyai jaringan dengan tetangga potensial yang mampu
mengatasi masalahh kegawat daruratankebidanan.

Suami siaga juga harus memiliki pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas,
dan mengutamakan keselamatan istri. Sehingga diperlukan terobosan-terobosan baru dalam
upaya meningkatkan partisipasi suami, namun dengan tetap memperhatikan faktor-faktor
spesifik yang mempengaruhinya, sehingga dapat menimbulkan kesadaran dn kemauaan dari
suami untuk lebihmemberdayakan diri dalam berbagi tanggung jawab dengan istrinya.

1.2 Rumusan Masalah

a. Menjelaskan pengertian suami siaga?

b. Menjelaskan bagaimana peran serta suami dalam kehamilan?

c. Menjelaskan bagaimana dukungan suami dalam kehamilan?

1.3 Tujuan

a. Untuk mengetahui pengertian suami siaga.

b. Untuk mengetahui bagaimana peran serta suami dalam kehamilan.

c. Untuk mengetahui bagaimana dukungan yang di berikan oleh suami dalam kehamilan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Suami Siaga

 Siap, suami hendaknya waspada dan bertindak atau mengantisipasi jika melihat tanda
bahaya kehamilan.
 Antar, suami hendaknya merencanakan angkutan dan menyediakan donor darah jika
diperlukan.
 Jaga, suami hendaknya mendampingi istri selama proses dan selesai persalinan.

Suami siaga merupakan bentuk pendampingan yang diberikan kepada ibu, karena salah satu
orang terdekat ibu adalah suami. Program suami siaga (Suami Siap Antar Jaga) dikembangkan
untuk mendukung program GSI. Suami menyiapkan biaya pemeriksaan dan persalinan, siap
mengantar istri ke tempat pemeriksaan dan melahirkan, serta siap menjaga dan menunggu istri
melahirkan.
Suami siaga adalah suami yang siap menjaga istrinya yang sedang hamil, menyediakan tabungan
bersalin, serta memberikan kewenangan untuk menggunakannya apabil terjadi masalah
kehamilan. Suami siaga mempunyai jaringan dengan tetangga potensial yang mampu mengatasi
masalah kegawatdaruratan kebidanan. Suami siaga juga memiliki pengetahuan tentang tanda
bahaya kehamilan, persalinan, nifas dan mengutamakan keselamatan istri.
Dalam konsep suami siaga, seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap
mewaspadai setiap risiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal-hal
yang mengganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila
ada tanda-tanda komplikasi kehamilan. Jika peran SIAGA ini dijalankan, diharapkan
keterlambatan yang kerap menjadi penyebab kematian ibu melahirkan tidak terjadi.
Keterlambatan yang dimaksud mencakup terlambat mengetahui kelainan kehamilan dan
persalinan, terlambat memutuskan untuk segera ke fasilitas pelayanan kesehatan, terlambat
menerima perawatan yang tepat.

SIAGA posisi yang berkaitan dengan prilaku positif yaitu :

Á Siap berarti harus siap/ disiapkan menemani istri.

Á Antar berarti harus diangkut/mendapatkan naik.

Á Jaga menterjemahkan untuk menjaga (selalu oleh istrimu selama dan setelah
penyampaian).

Untuk menjadi suami yang benar-benar siaga, harus dibekali dengan pengetahuan tentang
beberapa hal berikut :

1. Upaya menyelamatkan ibu hamil.

2. Tiga terlambat, yaitu terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan,
terlambat mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pertolongan di fasilitas
kesehatan.

3. Empat terlalu, yaitu terlalu muda saat hamil, terlalu tua untuk hamil, terlalu banyak anak,
dan terlalu dekat usia kehamilan.

4. Perawatan kehamilan, tabungan persalinan, donor darah, tanda bahaya kehamilan,


persalinan dan nifas, serta pentingnya pencegahan dan mengatasi masalah kehamilan secara
tepat.

5. Transportasi siaga dan pentingnya rujukan. Dengan demikian perhatian suami dan keluarga
bertambah dalam memahami dan mengambil peran yang lebih aktif serta memberikan kasih
sayang pada istri terutama pada saat sebelum kehamilan, selama kehamilan, persalinan, dan
sesudah persalinan.
Budaya Di berbagai wilayah di Indonesia terutama dalam masyarakat yang masih memegang
teguh budaya tradisional (patrilineal), misalnya budaya jawa, menganggap istri adalah konco
wingking (teman di belakang) yang artinya derajat kaum lelaki lebih tinggi dibandingkan dengan
kaum perempuan, tugas perempuan hanyalah melayani kebutuhan dan keinginan suami saja.
Anggapan seperti ini memengaruhi perlakuan suami terhadap kesehatan reproduksi perempuan.
Suami lebih dominan dalam mengambil keputusan dan tidak bertanggung jawab dalam beberapa
hal seperti ber-KB serta adanya perbedaan kualitas dan kuantitas makanan suami yang biasanya
lebih baik dibandingkan istri dan anaknya karena beranggapan bahwa suami adalah pencari
nafkah dan sebagai kepala rumah tangga sehingga asupan zat gizi untuk ibu yang sedang hamil,
menyusui, dan anak menjadi berkurang.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengubah budaya tradisional tersebut antara lain sebagai
berikut :

1. Menyosialisasikan persepsi tentang kesetaraan gender sejak dini melalui lembaga formal,
misalnya sekolah formal maupun non-formal atau melalui program lain yang ada dalam
kelompok masyarakat lalu mengaplikasikannya kedalam praktik kehidupan sehari-hari.

2. Memberikan penyuluhan pada sarana atau tempat-tempat berkumpul dan berinteraksi para
lelaki, misalnya tempat kerja dan forum komunikasi desa.

3. Memberikan informasi sesering mungkin dengan stimulus yang menarik perhatian,


misalnya melalui poster.

4. Masyarakat Indonesia pada umumnya masih mempunyai perasaan malu dengan lingkungan
sekitar, sehingga perlu dipikirkan suatu aturan atau kegiatan yang dapat memotivasi kepala
keluarga untuk segera merealisasikan kepedulikan kepada istrinya.

5. Satgas GSI di tingkat desa perlu membuat tanda sedemikian rupa dengan warna terang
(merah, hijau, kuning) dan ditempelkan di rumah warga yang memiliki ibu hamil yang perlu
mendapatkan perhatian lebih dan kewaspadaan.

Pendapatan pada umunya masyarakat Indonesia sebagian besar penghasilannya (75-100%)


digunakan untuk membiayai keperluan hidup. Persoalan ekonomi merupakan prioritas utama.
Pendapatan keluarga hanya berfokus kepada pemenuhan kebutuhan hidup, sehingga hampir tidak
ada penyisihan dana untuk kesehatan. Ibu hamil jarang diperiksakan ke pelayanan kesehatan
karena tidaka adanya biaya.

Melihat permasalahan ekonomi di atas, prioritas kegiatan GSI di tingkat keluarga dalam
pemberdayaan suami tidak hanya terbatas kepada kegiatan yang bersifat anjuran (advocacy),
akan tetapi lebih bersifat holistik. Kegiatan tersebut tidak hanya menjawab permasalahan
kesehatan ibu secara nasional, akan tetapi yang lebih penting adalah dapat menyentuh dan ikut
menyelesaikan persoalan mendasar di tingkat keluarga.

Pemberdayaan suami perlu dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga, sehingga kepala
keluarga tidak mempunyai alasan untuk tidak memperhatikan kesehatan istri karena masalah
keuangan. Pemberdayaan ekonomi keluarga dapat dilakukan salah satunya dengan jalan
membentuk kelompok usaha yang didasarkan pada sumber daya yang tersedia di sekitarnya serta
mencari solusi pemasarannya misalnya kelompok usaha alat rumah tangga.

Tingkat Pendidikan Wawasan pengetahuan suami dipengaruhi tingkat pendidikan suami sebagai
kepala rumah tangga. Semakin rendah tingkat pendidikan suami, akses terhadap informasi
kesehatan perempuan semakin berkurang, suami akan sulit dalam mengambil keputusan yang
efektif.

Dengan demikian perlu diperkenalkan pandangan baru untuk memberdayakan kaum suami
dengan mendasarkan pengertian bahwa :

Ø Suami memainkan peranan penting, terutama dalam pengambilan keputusan yang berkenan
dengan kesehatan reproduksi pasangannya.

 Suami sangat berkepentingan terhadap kesehatan reproduksi pasangannya.

Ø Saling pengertian serta adanya keseimbangan peranan antara kedua pasangan dapat
membantu meningkatkan perilaku yang kondusif terhadap peningkatan kesehatan reproduksi.

Ø Pasangan yang selalu berkomunikasi tentang rencana keluarga maupun kesehatan reproduksi
antara satu dengan yang lainnya akan mendapatkan keputusan yang lebih efektif dan lebih baik.

2.2 Penyebab Kematian Ibu Hamil

Keterlambatan sering kali berkontribusi terhadap kematian ibu ketika terjadi komplikasi
kehamilan. Tiga jenis keterlambatan yang berisiko terhadap kesehatan ibu, yaitu terlambat untuk
mencari pertolongan, terlambat mendapatkan pertolongan, terlambat mendapatkan pelayanan
pada fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pertolongan yang memadai pada fasilitas
kesehatan. Suami dan anggota keluarga lainnya memegang peranan yang penting dalam
mendapatkan pelayanan sesegera mungkin.

Suami biasanya menjadi pemegang keputusan ketika kondisi istri dalam keadaan membutuhkan
pertolongan kesehatan segera. Suami juga yang memutuskan transportasi apa yang digunakan
untuk mencapai tempat pelayanan kesehatan. Suami dapat menghindari keterlambatan tersebut
dengan cara mengenali gejala-gejala persalinan imminen dan persalinan dengan komplikasi.

Kebanyakan kematian ibu yang terjadi antara tiga hari setelah persalinan, disebabkan karena
adanya infeksi atau perdarahan. Hasil penelitian terbaru menemukan kematian ibu dapat dicegah
bila suami dapat mengenal komplikasi-komplikasi potensial setelah persalinan dan selalu siaga
untuk mencari pertolongan jika hal tersebut terjadi. Suami juga berperan agar istrinya
mendapatkan makanan yang bergizi.

Pada masa menyusui, seorang ibu membutuhkan vitamin A tambahan untuk menjaga agar
vitamin-vitamin yang diperlukan dapat diterima dengan baik oleh bayinya. Selama periode pasca
persalinan, suami dapat membantu pekerjaan rumah tangga yang berat seperti mengumpulkan
kayu dan air serta menjaga anak-anak. Mereka juga dapat mendorong istri untuk memberi ASI
agar dapat menolong kontraksi uterus. Pada akhirnya, suami harus mulai memikirkan metode
kontrasepsi, baik berupa metode sementara untuk memberikan jarak terhadap kelahiran yang
berikutnya atau bila mungkin vasektomi jika tidak menginginkan anak lagi.

2.3 Peran dan Keterlibatan Suami Dalam Kehamilan

Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu
hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan jaga produksi ASI. Keterlibatan suami sejak
awal kehamilan, sudah pasti akan mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani
dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya sesosok ”manusia
mungil” didalam perutnya. Bahkan, keikutsertaan suami secara aktif dalam masa kehamilan,
menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam artikel berjudul ”What Your Parthner Might Need
From You During Pregnancy” terbitan Allina Hospitals & Clinics (tahun 2001), Amerika
Serikat, keberhasilan istri dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk si bayi kelak sangat ditentukan
oleh seberapa besar peran dan keterlibatan suami dalam masa-masa kehamilan.

Partisipasi suami yang dapat dilakukan antara lain meliputi :

1. Membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatan istri yang sedang hamil.

2. Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri.

3. Mengajak dan mengantar istri untuk memeriksakan kehamilan ke fasilitas kesehatan


terdekat minimal 4 kali selama kehamilan.

4. Memenuhi kebutuhan gizi bagi istrinya agar tidak terjadi anamia gizi dan memperoleh
istirahat yang cukup.

5. Mempelajari gejala komplikasi pada kehamilan seperti darah tinggi, kaki bengkak,
perdarahan, konsultasi dalam melahirkan, keracunan dalam kehamilan, infeksi dan sebagainya.

6. Menyiapkan biaya melahirkan dan biaya transportasi.

7. Melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap sedini mungkin bila terjadi
hal-hal yang menyangkut kesehatan kehamilan dan kesehatan janin misal perdarahan dan lain-
lain.

8. Menentukan tempat persalinan (fasilitas kesehatan) sesuai dengan kemampuan dan kondisi
daerah masing-masing.

v Trimester pertama

Selama hamil, ada begitu banyak perubahan pada tubuh isti, yang paling menonjol adalah
perubahan emosinya. Apa sebabnya? Kadar hormon estrogen dan progesteron didalam tubuhnya
berubah. Tak mengherankan bila moodnya berubah-ubah terus. Kalau sudah begini, siapa lagi,
selain suaminya. Suamilah yang paling tepat untuk membantu melalui masa-masa ini.

Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester pertama :

à Sering mual-mual dan muntah, terutama pada pagi hari , karena mengalami morning
sickness.

à Menjadi cepat lelah dan mudah mengantuk.

à Mungkin tiba-tiba meminta atau menginginkan sesuatu yang ”aneh” atau biasa disebut
ngidam.

à Semula tampak gembira, namun dalam beberapa detik bisa mendadak menangis tersedu-
sedu, merasa tertekan dan sedih , tanpa sebab yang jelas atau karena masalah sepele.

Yang dapat suami lakukan :

Bawakan krekers dan air putih atau jus buah ke tempat tidur. Sehingga, begitu istri bangun dan
morning sickness mendera, keluhan yang dirasakannya langsung hilang., berkat perhatian dan
kasih sayang yang suami berikan.

Buatlah istri merasa nyaman, sehingga dapat beristirahat dan cukup tidur. Misalnya, memutar
lagu-lagu yang lembut.

Bersiaplah menghadapi ”ujian” untuk mengukur seberapa besar cinta suami kepada istri. Jangan
kaget bila istri menginginkan sesuatu yang ”aneh” di tengah malam. Karena istri sedang ngidam.
Bila mampu, tak ada salahnya memenuhi permintaannya. siapa tau suami ”lulus ujian” dengan
nilai cemerlang nantinya.

Tunjukan rasa bahagia dan antusias terhadap janin dalam kandungan. Sapaan ekspresif terhadap
si kecil, misalnya ”hallo, lagi ngapain di situ?” atau seruan ”Woa…” sudah merupakan dukungan
mental yang menyenangkan hati. Juga, ungkapkan perasaan cinta Anda padanya karena pada
saat-saat seperti ini istri membutuhkan perhatian dan kasih sayang suami lebih dari biasanya.

v Trimester kedua

Masa-masa bahagiaInilah saatnya istri merasakan nikmatnya masa-masa kehamilan. Makanya,


suami tidak sebegitu tersiksanya ketimbang trimester lalu. Dan, mulai ikut merasakan gerakan
janin mau tidak mau akan ”menyentil” suami. Sekarang ini suami baru bisa ”benar-benar”
merasakan peran baru sebagai calon ayah.

Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester kedua :

 Emosi cenderung lebih stabil dan keluhan morning sickness juga jauh berkurang.
 Si kecil mulai sudah mulai “beraksi”.
 Merasa bahagia dengan kehamilannya sehingga lebih bersemangat melakukan latihan
(olahraga ringan sesuai anjuran dokter) serta beraktivitas.
 Cukup nyaman dengan keadaannya, sehingga mulai timbul keingginan untuk menikmati
hubungan seks.

Yang dapat suami lakukan :

 Tetap menunjukkan kalau Anda mengerti dan memahami benar perubahan emosi yang
cepat serta perasaan lebih peka yang dialaminya, sebab ini wajar dan alami terjadi pada
ibu hamil.
 Dampingi dan antarlah selalu pasangan setiap kali berkunjung ke dokter kandungan
untuk memeriksakan kandungannya.
 Dampingi dan berpatisipasilah secara aktif di kelas senam hamil (senam Lamaze)
bersamanya.
 Ajaklah dia untuk kembali menikmati hubungan seks.

v Trimester ketiga

Takut dan cemas menghadapi hari-H Masa ini merupakan masa-masa penantian yang
“melelahkan”. “Perjalanan” menuju persalinan tinggal hitungan hari saja. Itu sebabnya, Anda
akan lebih banyak berperan sebagai a shoulder to cry on.

Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester ketiga :

à Semakin dekat dengan hari-H, biasanya dia merasa semakin takut dan cemas.

à Merasa penampilannya tidak menarik karena perubahan bentuk fisiknya.

à Sering mengeluh sakit, pegal, ngilu, dan berbagai rasa tidak nyaman pada tubuhnya,
terutama pada punggung dan panggul, karena bayi sudah semakin besar dan sudah mulai
menyiapkan diri untuk lahir.

à Mengeluh sulit tidur karena perutnya yang semakin membesar itu akan membuatnya tidak
nyaman ketika berbaring.

Yang dapat suami lakukan :

1. Bantu pasangan untuk mengatasi rasa cemas dan takut dalam menghadapi proses persalinan.
Misalnya, dengan mengalihkan perhatiannya dengan cara mengajaknya berbelanja keperluan si
kecil.

2. Pujilah kalau dia tetap cantik dan menarik, berbagai perubahan fisik tidak sedikitpun
mengurangi kadar cinta Anda padanya.

3. Bantulah meringankan berbagai keluhan. Misalnya, dengan memijat pegal-pegal di


belakang tubuhnya.
4. Bersiaplah untuk membantu dan menemaninya saat dia sulit tidur

2.4 Peran Suami Dalam Mencegah Atau Mengobati Komplikasi Kehamilan

Suami memainkan banyak peran kunci selama kehamilan dan persalinan istri serta setelah bayi
lahir. Keputusan dan tindakan mereka berpengaruh terhadap kesakitan dan kesehatan, kehidupan
dan kematian ibu dan bayinya.

Langkah awal yang dapat dilakukan oleh laki-laki dalam mempromosikan keselamatan ibu
adalah merencanakan keluarganya. Pembatasan kelahiran dan membuat jarak kelahiran paling
sedikit 2 tahun, baik untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, mengingat setiap kehamilan
membawa resiko kesehatan yang potensial untuk ibu, walaupun ibu tersebut terlihat sehat dan
berisiko rendah kehamilan yang tidak direncanakan sering kali menjadi berisiko karena akan
membawa mereka untuk aborsi. Komplikasi aborsi yang tidak aman menyebabkan 50.000
hingga 100.000 kematian setiap tahun.

2.5 Dukungan Suami Dalam Kehamilan

Agar istri bisa menjalani kehamilan yang sehat dan nyaman,dukungan suami mutlak diperlukan.
Saat hamil, istri akan mengalami perubahan, Secara fisik ia akan menjadi lebih gemuk.
Fisiologisnya juga mengalami berbagai perubahan yang mempengaruhi pola perilaku dan
emosinya. Karena itu,selama istri hamil, suami harus selau siaga yaitu siaga untuk bersabar,
memahami, memperhatikan, membantu dan melayani istri. Bersabar, mengapa ?
Mungkin sebagai suami anda sering mendengar cerita tentang wanita yang hamil muda.
Sebagian dari mereka sering mengalami morning sicknes yaitu mual2 dan muntah2 di pagi hari.
Tak jarang pada sore haripun wanita juga mengalami hal yang demikian. Bahkan ada yang lebih
parah lagi mual dan muntah hampir sepanjang hari.

Meskipun anda sudah sering mendengar tentang berbagai cerita itu biasanya anda tetap akan
kaget, saat istri anda mengalaminya.Anda mungkin tak hanya kaget,tetapi juga jengkel,karena
beberapa hal atau rutinitas yang biasanya istri anda bisa lakukan, kini tidak bisa dilakukannya.
Memasak dan membersihkan rumah misalnya mungkin harus tertunda saat istri anda sedang
mengalami khas kehamilan. Tidak itu saja, saat anda ingin mengajaknya ‘berjima’ mungkin ia
enggan baik karena kondisi tubuhnya yang kurang nyaman,atau kekhawatirannya terhadap
keselamatan bayi yang ia kandung. Karena itulah,anda harus bersabar. Pahamilah kondisi istri,
karena sesungguhnya ia sendiri pun tak ingin mengalami kondisi2 yang ganjil itu, tapi ia harus
menjalani sebagai konsekuensi dari perjuangan menjadi seorang ibu.
Pahamilah Perubahannya

Kasih sayang suami yang besar, dengan niat untuk memahami dan melayani istri sebagai, bentuk
tanggung jawab terhadap perjanjian bersama kepada Allah SWT (mistaqan ghalizha) akan
banyak membantu suami menyesuaikan diri terhadap kehamilan istri. Suami juga juga perlu
mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan selera istri. Anda harus menyesuaikan selera
istri dengan menghargai masakannya dan tidak mencela.
Sebagaimana dikatakan Trethowan dan Dickness (1972) wanita hamil sering mengalami dullet-
taste (selera yang bodoh) selama hamil. Istri anda, mungkin jadi sangat suka masakan yang asin
sekali,asam,atau citarasa lain yang tajam. Bisa pula ia jadi tidak suka pada makanan yang
sebelumnya ia sukai. Terimalah kondisi istri dan bersikaplah bijak bila seleranya kurang sesuai
dengan selera anda dan anak-anak.

Berilah Perhatian

Istri membutuhkan perhatian dari suami sebagai orang yang dicintainya. Ia juga butuh perasan
dicintai oleh orang yang dicintainya,lebih-lebih ketika ia mengalami berbagai perubahan saat
pertama kali ia hamil. Seorang suami perlu memberikan perhatian pada istrinya dengan tulus.
Perhatian dan kasih saying selain memenuhi kebutuhan fisik dan psikis yang primer juga bisa
diwujudkan dengan tindakan-tindakan kecil. Misalnya mengucapkan salam atau memberi
kecupan. Perhatian suami yang tulus bisa menentramkan istri saat keinginannya mencari buah
yang sedang tidak musim tidak terpenuhi. Melalui perhatian yang tulus,bersih, dan sungguh2
suami lebih mudah menyampaikan pengertian,ketika istri sedang ngidam.

Berikan dorongan pada istri. Itu akan banyak memberi arti bagi istri dalam beradaptasi dengan
kehamilannya. Suami juga harus bisa menjadi teman bicara dan pendengar yang baik, karena
disaat hamil seperti itu istri butuh teman bicara yang mau mendengar tentang ungkapan
perasaana, tentang dirinya,bayinya dan masa depan bersama. Sikap yang perlu anda tumbuhkan
adalah empati terhadap kehamilan istri anda. Berusahalah untuk memahami apa yang dirasakan
istri anda sebagaimana ia merasakannya. Istri mengharapkan agar anda mengerti bahwa hamil itu
berat. Bahwa kecemasan menghinggapi dirinya dan tak mudah menghilangkannya dengan kata
sabar. Genggamlah tanggannya saat ia berbicara dan dengarlah secara penuh apa saja
keluhannya.

Membantu dan Melayani Istri

Hamil memberi beban berat pada istri. Perutnya membesar sehingga keseimbangan badan
berubah dan sulit mencari posisi tidur yang nyaman. Ditambah lagi beban kerja ginjal yang
meningkat, frekuensi kencing bertambah,mual-mual,sampai tegangan yang tidak mengenakkan
pada farji dan perut. Semua beban itu dialami sendiri oleh istri. Padahal, bayi yang ada dalam
kandungannya adalah anak anda berdua. Karena itu sudah sepatutnya sebagai suami anda
berusaha meringankan beban istri. Meringankan beban istri, bisa dengan melakukan pekerjaan
sehari-hari yang sederhana, mencuci pakaian atau menyapu halaman, misalnya, istri seringkali
tidak menuntut suaminya untuk mengambil alih semua pekerjaan rumah tangga. Ia lebih
membutuhkan ketulusan dan kesungguhan anda dalam membantu meringankan bebannya. Selain
itu anda juga bisa melayani istri misalnya dengan memijatnya saat ia sedang mual-mual atau
menyediakan dan menemaninya makan siang ia sedang kehilangan selera makan. Yang terakhir,
berterimakasihlah pada istri anda. Selama Sembilan bulan sepuluh hari hampir dapat dipastikan
istri tetap berusaha melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga, meskipun ia cukup terbebani
dengan kehamilannya.

Dengan semangat pengapdian, pengorbanan, kasih sayang dan cintanya, istri tidak menuntut
apapun, kecuali perhatian dan kasih sayang anda. Karena itulah, sudah sepantasnya bila anda
berterima kasih kepadanya,meski ia tidak memintanya. Anda bisa mengungkapkan terima kasih
itu dalam berbagai bentuk, tetapi ungkapan dengan kata-kata jangan diabaikan. Istri akan
merasakan kebahagian yang menyentuh bila anda bisa mengucapkan terima kasih dengan betul-
betul tulus dan spontan.

Nah, itulah beberapa hal yang harus anda lakukan saat istri anda hamil. Jangan sampai kehamilan
istri justru membuat anda sering uring-uringan, sehingga menambah beban istri. Ingat jika istri
anda stress dan terlalu banyak beban pikiran, itu juga bisa berpengaruh buruk terhadap bayi yang
ia kandung

Asuhan Kebidanan Komunitas

“ Sistem Siaga ( Suami Siaga, Bidan Siaga, dan Desa Siaga )”

Disusun Oleh : Kelompok V

Dian Novita Sari


Gustin Hendriyani

Hesti Jultriani

Wit Erlianti

Dosen Pembimbing : Lidia Fitri, Amd.Keb, SKM, M.Kes

AKADEMI KEBIDANAN HELVETIA PEKANBARU


T.A 2016 / 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah
sehingga makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik dan tepat waktu. Sebagai bahan untuk
melengkapi tugas terstruktur, dengan tema“ Sistem Siaga ( Suami Siaga, Bidan Siaga, dan Desa Siaga ) “.
Tidak lupa ucapan terima kasih kami hanturkan kepada dosen ibu Lidia Fitri, Amd.Keb, SKM, M.Kes
selaku pembimbing kami yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, serta teman-teman
yang terus memberikan motivasi dalam menyelesaikan makalah kami ini. Kami sangat menyadari bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami menyambut baik
kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun untuk perbaikan dan masukan dimasa akan
datang.

Akhir kata kami selaku kelompok penulis berharap agar selaku pembaca dapat puas dan
mendapatkan informasi yang kami sampaikan. Dan atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Pekanbaru,14 April 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Sistem Siaga ( Suami Siaga, Bidan Siaga, dan Desa Siaga)

2.1.1 Defenisi Suami Siaga

2.1.2 Peran dan keterlibatan suami dalam kehamilan

2.2 BIDAN SIAGA

2.2.1 Pengertian

2.2.2 Promosi Bidan Siaga

2.3 DESA SIAGA

2.3.1 Pengertian desa siaga

2.3.2 Tujuan Desa Siaga

2.3.3 Kriteria Desa Siaga

2.3.4 Langkah Pengembangan Jejaring Desa Siaga

2.3.5 Pembentukan dan Tata Laksana Desa Siaga

2.3.6 Langkah-langkah:

2.3.6 Peran Organisasi Desa Siap Antar Jaga (SIAGA)

2.3.7 Peran Kelompok Dusun


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bidan adalah seorang wanita yang telah menyelesaikan pendidikan kebidanan dan mendapat
izin untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat luas. Bidan adalah profesi yang diakui oleh
nasionl maupun internasional. Bidan memiliki hak dan kewajiban dalam memberikan pelayanan
kebidanan sesuai dengan izin yang telah diberikan dan tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan
No.1464/MENKES/PER/X/2011 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan. Selain memberikan
pelayanan kebidanan, bidan juga memberikan konseling dalam pemberian nasehat atau pun
penyuluhan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Bidan selalu memberikan pelayanan
kebidanan sesuai dengan kebutuhan dan ruang lingkup bidan, yaitu Ibu hamil, bersalin, nifas, bayi
baru lahir, remaja & lansia.

Sudah cukup lama bahwa pemerintah lebih mengutamakan bidan sebagai ujung tombak
tenaga kesehatan yang dapat membantu masalah kesehatan terutama pada kelompok ibu dan anak
disetiap desa atau kelurahan. Pemerintah menilai karena ibu dan anak merupakan aset utama yang
perlu diselamatkan demi kehidupan masa depan yang lebih baik tanpa mengesampingkan pihak pria
dewasa atau lansia. Realita saat ini tenaga kesehatan selain bidan banyak berkumpul di tingkat
kabupaten/kota. Berdasarkan tugas dan kewenangan yang diberikan pemerintah, bidan merupakan
harapan masa depan ibu dan anak bangsa.

Alangkah baiknya jika yang ditampilkan dan di publikasikan oleh pihak pemerintah pusat
maupun daerah dalam mendukung visi sehat Indonesia yaitu Masyarakat yang sehat mandiri dan
berkeadilan, tidak hanya berupa data indikator seperti angka kesakitan, kematian, tetapi data
berupa kesimpulan jumlah dan persentase data cakupan desa siaga aktif yang ada di tingkat
kabupataen/kota. Desa Siaga aktif memiliki empat tingkatan dimana tingkatan terendah adalah desa
siaga pratama, kemudian desa siaga madya, desa siaga purnama dan terbaik yang menjadi harapan
bangsa maupun dunia adalah desa siaga aktif mandiri.
Dengan ditetapkannya tingkatan desa siaga tersebut, maka Desa Siaga dan Kelurahan Siaga
yang saat ini sudah dikembangkan harus dievaluasi untuk menetapkan apakah masih dalam kategori
Desa dan Kelurahan Siaga atau sudah dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari tingkatan/kategori
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. Evaluasi ini dilakukan dengan mengacu kepada petunjuk teknis yang
disusun bersama oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan.

Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif merupakan bagian dari pelaksanaan Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan untuk Kabupaten dan Kota. Walaupun hanya merupakan salah
satu dari indikator dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) tersebut, tetapi di dalamnya tercakup
semua kegiatan yang akan menjamin tercapainya indikator-indikator lainnya dalam SPM tersebut.
Tercapainya Indonesia Sehat atau target indikator-indikator kesehatan dalam Millenium
Development Goals (MDGs) sebagian besar ditentukan oleh tercapainya indikator-indikator tersebut
pada tingkat desa dan kelurahan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa pencapaian Indonesia Sehat
dan target indikator-indikator MDGs pada tahun 2015 sangat ditentukan oleh keberhasilan
pengembangan dan pembinaan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa yang dimaksud Suami Siaga ?

b. Apa yang dimaksud dengan Bidan Siaga ?

c. Apa yang dimaksud dengan Desa Siaga ?

1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk meenambah wawasan pembaca tentang Suami Siaga,
Bidan Siaga, dan Desa Siaga. Dan juga dapat memotivasi pembaca untuk menerapkan konsep Suami
Siaga, Bidam Siaga, dan Desa Siaga, sehingga tercipta mayarakat madani yang peduli mengenai
masalah kesehatan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Sistem Siaga ( Suami Siaga, Bidan Siaga, dan


Desa Siaga)
2.1.1 Defenisi Suami Siaga

Suami siaga :
- Siap, suami hendaknya waspada dan bertindak atau mengantisipasi
jika melihat tanda dan bahaya kehamilan.
- Antar, suami hendaknya merencanakan angkutan dan menyediakan
donor darah jika diperlukan.
- Jaga, suami hendaknya mendampingi istri selama proses dan selesai
persalinan.
Jadi suami siaga adalah suami yang siap menjaga istrinya sedang hamil, menyediakan tabungan
bersalin, serta memberikan kewenangan untuk menggunakannya apabila terjadi masalah kehamilan.
Suami siaga juga memiliki pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas dan
mengutamakn keselamatan Istri.
Untuk menjadi suami yang benar-benar siaga, harus dibekali dengan pengetahuan tentang
beberapa hal berikut :
1. Upaya menyelamatkan ibu hamil
2. Tiga terlambat, yaitu terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat
mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan.
3. Empat terlalu, yaitu terlalu muda saat hamil, terlalu tua saat hamil, terlalu banyak anak dan terlalu
dekat usia kehamilan.
4. Perawatan kehamilan, tabungan persalinan, donor darah, tanda bahaya kehamilan, persalinan dan
nifas, serta pentingnya pencegahan dan mengatasi masalah kehamilan secara tepat
5. Transportasi siaga dan pentingnya rujukan. Dengan demikian perhatian suami dan keluarga
bertambah dalam memahami dan mengambil peran yang lebih aktif serta memberikan kasih sayang
pada istri terutama pada saat sebelum kehamilan, selama kehamilan, persalinan dan sesudah
persalinan.

2.1.2 Peran dan keterlibatan suami dalam kehamilan

Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan
ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan juga produksi ASI.
Partisipasi suami yang dapat dilakukan :
1. Membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatan istri yang sedang hamil
2. Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri
3. Mengajak dan mengantar istri untuk memeriksa kehamilan kefasilitas kesehatan yang terdekat
minimal 4 kali selama kehamilan
4. Memenuhi kebutuhan gizi bagi istrinya agar tidak terjadi anemia dan memperoleh istirahat yang
cukup
5. Mempelajari gejala komplikasi pada kehamilan
6. Menyiapkan biaya melahirkan dan biaya transportasi
7. Melakukan rujukan kefasilitas yang lebih lengkap sedini mungkin
a. TRIMESTER I ( masa penuh gejolak emosi )
Selama hamil, ada begitu banyak perubahan pada ibu, Yang paling menonjol adalah perubahan
emosi. Itu terjadi karena kadar hormon estrogen dan progesteron didalam tubuh berubah.maka
dalam keadaan seperti ini suamilah yang paling tepat untuk membantu melalui masa-masa itu.
Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester I :
 Sering mual-mual dan muntah terutama dipagi hari karena mengalami morning sicness
 Menjadi cepat lelah dan mudah mengantuk
 Mungkin tiba-tiba meminta atau menginginkan sesuatu yang “aneh” atau ngidam
 Semula tampak gembira, namun dalam beberapa detik bisa mendadak nangis tersedu-sedu, merasa
tertekan dan sedih tanpa sebab yang jelas
Yang dapat dilakukan suami :
 Bawakan krekes dan air putih atau jus buah ke tempat tidur. Sehingga, begitu istri bangun dan
morning sickness mendera, keluhan yang dirasakn langsung hilang. Berkat perhatian dan kasih
sayang
 Buatlah istri merasa nyaman, sehingga dapat beristirahat dan cukup tidur
 Penuhi keingininan yang diinginkan istri
 Tunjukan rasa bahagia dan antusias terhadap janin dalam kandungan dengan cara mengajak janin
bicara
b. TRIMESTER II ( masa-masa bahagia)
Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester kedua :

 Emosi cendrung lebih stabil dan keluhan morning sickness juga jauh berkurang, janin mulai bergerak
dan istri merasa bahagia dengan kehamilannya sehingga lebih bersemangat.
Yang dapat dilakukan suami :

 Tetap menunjukkan kalau suami mengerti dan memahami benar perubahan emosi yang cepat serta
perasaan lebih peka yang dialaminya dan dampingi istri saat melakukan pemeriksaan kehamilan
c. TRIMESTER III ( takut dan cemas menghadapi persalinan )
Beberapa hal yang bisa terjadi pada trimester ketiga :

 Semakin dekat persalinan biasanya dia merasa semakin takut dan cemas
 Merasa penampilannya tidak menarik karena perubahan bentuk fisik

 Sering mengeluh sakit, pegal, ngilu dan berbagai rasa tidak nyaman pada tubuhnya, terutama pada
punggung dan panggul.
Yang dapat dilakukan suami :

 Bantu ibu untuk mengatasi rasa cemas dan takut dalam menghadapi proses persalinan
 Puji ibu bahwa ibu tetap cantik dan menarik
 Bantu ibu untuk mengatasi keluhan-keluhannya

2.1.3 Peran suami dalam mencegah atau mengobati komplikasi kehamilan

Suami memainkan banyak peran kunci selama kehamilan dan persalinan serta setelah bayi
lahir. Keputusan dan tindakan mereka berpengaruh terhadap kesakitan dan kesehatan, kehidupan
dan kematian ibu dan bayinya.
Langkah awal yang dapat dilakukan oleh suami adalah merencanakan keluarganya.
Pembatasan kelahiran dan membuat jarak kelahiran paling sedikit 2 tahun, baik untuk menjaga
kesehatan ibu dan anak, mengingat setiap kehamilan membawa resiko kesehatan yang potensial
untuk ibu, walaupun ibu terlihat sehat dan beresiko rendah kehamilan yang tidak direncanakan
sering kali menjadi berisiko karena akan membawa mereka untuk aborsi.
2.1.2 Hal yang dilakukan suami siaga sebelum dan saat persalinan

Sebelum persalinan:

 Siapkan kendaraan yang akan digunakan untuk ke Rumah Sakit Bersalin. Pastikan bahan bakar cukup
dan mobil dalam kondisi prima. Simpan nomor telepon taksi untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba mobil
ngadat.
 Minta bantuan tetangga atau kerabat terdekat. Beritahu mereka hari perkiraan lahir (HPL) bayi
karena kemungkinan mereka bisa datang dan memberi bantuan lebih cepat.
 Delegasikan tugas Anda kepada anggota keluarga yang lain jika Anda tidak bisa menemani istri saat
bersalin. Jangan biarkan istri menghadapi persalinannya sendiri.
 Packing barang-barang Anda sendiri untuk menginap sewaktu menunggui isteri bersalin, kemas di
back pack dan simpan back pack di bagasi mobil bersama koper isteri. Termasuk yang disiapkan
adalah kamera untuk mendokumentasikan proses persalinan.
Saat persalinan:

 Persiapkan administrasi Rumah Sakit. Lakukan segera begitu Anda tiba di Rumah Sakit untuk
memperoleh kamar perawatan rawat gabung atau rooming in.
 Dampingi istri sejak di ruang observasi hingga masuk kamar bersalin. Tenangkan ia, pijat
punggungnya untuk memberi rasa nyaman secara psikologis, dan jaga privasinya dengan membatasi
orang keluar masuk kamar.
 Bantu istri melakukan IMD dan menyusui bayi. Kolostrum ASI pada 3 hari pertama sangat baik untuk
bayi sebab kaya dengan zat antibodi, protein, vitamin A dan mineral.
 Kabarkan berita gembira kepada teman dan kerabat.
 Urus akte kelahiran bayi -umumnya Rumah Sakit menyediakan jasa pembuatan akte kelahiran- dan
perbarui kartu keluarga.

2.2 BIDAN SIAGA


2.2.1 Pengertian

Bidan siaga adalah seorang bidan yang telah dipercaya dan diberi kepercayaan yang lebih
dari pemerintah atau negara untuk membantu masyarakat. Dimana, jika masyarakat membutuhkan
bantuan dari bidan, maka bidan siap kapan saja.

Bidan siaga diharapkan memberikan pelayanan yang luar biasa kepada masyarakat.
Khusunya dalam hal pelayanan selama kehamilan, persalinan dan masa nifas serta dalam upaya
menggerakan masyarakat untuk membentuk sistem transportasi, donor darah dan tabungan
bersalin untuk mengatasi kegawatdaruratan saat persalinan.

Peran bidan dalam menggerakan masyarakat adalah sebagai promotor dari pembinaan
peran serta masyarakat. Bidan sebagai pelopor harus mampu menggerakan masyarakat sekaligus
ikut berkecimpung dalam kegiatan yang ada dimasyarakat. Sebagai contoh, bidan ikut sebagai
pendonor dalam program donor darah berjalan, menyediakan layanan untuk tabungan ibu bersalin,
serta berperan aktif dalam program pemerintah.

Bidan siaga harus kompeten dan terlatih serta memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
sesuai dengan standar. Kompetensi-kompetensi bidan dapat dicapai, baik melalui pendidikan formal
maupun nonformal, serta secara terus menerus mengakses pengetahuan agar selalu up to date.
Misalnya mengikuti pelatihan asuhan persalinan normal (APN), melalui obat-obatan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan dalam kepmenkes RI No. 900/menkes/SK/VII/2002. Peran harus
mengetahui peran, tugas tanggung jawab dan kewenangan dalam praktik kebidanan, sehingga dapat
melakukan pelayanan secara optimal serta mengetahui batas-batas kewenangan.

Bidan siaga juga wajib memiliki pengetahuan dasar seperti :

a. Konsep dan sasaran kebidanan komunitas


b. Masalah kebidanan komunitas
c. Pendekatan asuhan kebidanan pada keluarga, kelompok dan masyarakat
d. Strategi pelayanan kebidanan komunitas
e. Ruang lingkup pelayanan kebidanan komunitas
f. Upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan ibu dan anak dalam masyarakat.

2.2.2 Promosi Bidan Siaga

Promosi Bidan Siaga merupakan salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu
dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam
pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sesuai apabila dukun
menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat dilibatkan dalam
perawatan Bayi Baru Lahir ( BBL).
Apabila cara tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka dengan kesadaran, dukun akan
memberitahukan ibu hamil untuk melakukan persalinan di tenaga kesehatan ( bidan ). Ibu dan bayi
selamat, derajat kesehatan ibu dan bayi diwilayah tersebut semakin meningkat.

2.3 DESA SIAGA


2.3.1 Pengertian desa siaga

Desa siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa atau kelurahan yang memiliki
potensial sumberdaya dalam mengatasi masalah kesehatan, bencana, kegawatdaruratan secara
mandiri. Siaga singkatan dari siap antar jaga, Siaga dipakai dalam berbagai fungsi dalam menggalang
partisipasi masyarakat seperti suami siaga, desa siaga, bidan siaga, dan sebagainya. Desa Siaga (Siap
Antar Jaga) adalah desa yang memiliki sistem kesiagaan untuk menanggulangi kegawatdaruratan ibu
hamil dan ibu bersalin (Depkes RI, 2007). Landasan hukum pelaksanaan desa siaga adalah sebagai
berikut:

a. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, khususnya


pada pasal 5, 8, 711 dan 722 serta Bab VII tentang peran serta masyarakat.
b. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 564/ Menkes/SK/ VII/ 2006 tanggal 2
Agustus 2006 tentang pengembangan Desa siaga.

2.3.2 Tujuan Desa Siaga

a. Tujuan Umum
Terwujudnya masyarakat desa yang sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan
kesehatan ibu dan anak diwilayahnya.

b. Tujuan Khusus
1) Turunnya angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Kulon Progo.
2) Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu
dan bayi.

3) Tersosialisasi Desa Siap Antar Jaga di masyarakat.


4) Meningkatnya kesadaran keluarga dan masyarakat tentang
pentingnya kesehatan ibu dan bayi.
5) Termotivasinya keluarga dan masyarakat untuk memanfaatkan Desa Siap Antar Jaga.
6) Termotivasinya pembentukan jaringan kemitraan di masyarakat.

2.3.3 Kriteria Desa Siaga

Desa Siap Antar Jaga memiliki kriteria sebagai berikut:

a. Memiliki mekanisme pendataan/notifikasi


Desa Siap Antar Jaga memiliki sistem yang dikembangkan oleh masyarakat untuk mencatat dan
menginformasikan kepada masyarakat tentang keberadaan dan kondisi ibu hamil dan masa
persalinan sampai masa nifas. Bentuk pendataan dapat berupa:

 Catatan ibu hamil


 Peta ibu hamil
 Peta fasilitas kesehatan
 Informasi ibu hamil resiko tinggi (misal dengan stiker bumil risti)
 Catatan persalinan.
b. Memiliki mekanisme transportasi
Desa Siap Antar Jaga harus memiliki sistem kegotongroyongan yang dikembangkan untuk
mengantar/membina ibu hamil yang akan bersalin, terutama juga ibu tersebut mengalami
komplikasi. Bentuk transportasi dapat berupa:
 Mobil atau sepeda motor milik warga masyarakat
 Ambulan Puskesmas
 Kendaraan umum yang beroperasi di desa.
Transportasi tersebut penggunaannya harus ada kesepakatan tertulis sebelumnya dari yang memiliki
kendaraan. Kendaraan tersebut diberi tanda khusus agar mudah dikenali oleh petugas kesehatan,
polisi dan masyarakat.
c. Memiliki mekanisme donor darah
Desa Siap Antar Jaga harus memiliki kelompok pendonor darah sebagai penyedia darah bagi
PMI yang dapat digunakan oleh ibu bersalin yang membutuhkan. Bentuk:
 Donor darah tetap. Pendonor secara rutin mendonorkan darahnya setiap 3 bulan sekali ke PMI.
 Donor darah tidak tetap/ donor darah tetap. Daftar nama relawan golongan darahnya yang bersedia
mendonorkan darahnya sewaktu-waktu dibutuhkan. Pelaksanaan kegiatan donor darah ini dapat
bekerjasama dengan puskesmas setempat khususnya untuk pemeriksaan golongan darah dan
pemeriksaan kesehatan pendonor secara umum. Hal ini dilakukan sebagai upaya antisipasi biaya
pemeriksaan laboratorium bagi warga miskin.
d. Memiliki mekanisme pendanaan
Sistem dana adalah tabungan yang dikembangkan oleh masyarakat atau ibu hamil yang digunakan
antara lain untuk:
 Biaya Persalinan
 Biaya Transportasi
 Bantuan Akomodasi (makan, minum, dan lain-lain)
e. Memiliki mekanisme kemitraan. Kemitraan dalam Desa Siap Antar Jaga adalah bentuk kerja sama
dengan berbagai pihak terkait yang mendukung keberadaan Desa Siap Antar Jaga selanjutnya.
Bentuk kemitraan dapat berupa:
 Kemitraan bidan dengan dukun.
 Kemitraan dengan LSM
 Kemitraan dengan PMI
 Kemitraan dengan PKK
 Kemitraan dengan media
 Kemitraan dengan organisasi masyarakat yang lain. Mekanisme kemitraan sebaiknya didukung
dengan persetujuan tertulis.
2.3.4 Langkah Pengembangan Jejaring Desa Siaga

Mengingat permasalahan yang mungkin dihadapi Desa Siap Antar Jaga maka perlu dikembangkan
jejaring kerjasama dengan berbagai pihak. Wujud pengembangan jejaringnya dapat dilakukan
melalui pertemuan pengurus Desa Siap Antar Jaga secara internal, pertemuan antar pengurus Desa
Siap Antar Jaga, pertemuan pengurus dengan pengelola upaya kesehatan yang ada di desa tersebut
minimal 3 bulan sekali. Pengembangan Desa Siap Antar Jaga dimaksudkan secara halus untuk
terciptanya keadaan masyarakat yang terpenuhi kewajiban dan hak-haknya.
Pengembangan Desa Siap Antar Jaga dibangun dengan 3 sistem, yaitu:
a. Sistem Pengelolaan Kesehatan di Masyarakat
Misal: Penggalangan dana melalui posyandu, atau kelompok lembaga masyarakat yang lain.
b. Sistem Pendidikan Kesehatan di Masyarakat
Misal: Penyuluhan melalui pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan di masyarakat.
c. Sistem Pendukung Kesehatan di Masyarakat
Misal: Dukungan kepada ibu hamil untuk memperoleh hak-haknya dalam memperoleh pelayanan
kesehatan termasuk dalam pengambilan keputusan oleh ibu sendiri. Dukungan dalam memperoleh
kemudahan transportasi. Dukungan dalam memperoleh donor darah sewaktu-waktu diperlukan.
Pengembangan 3 sistem dapat dimulai dengan usaha fasilitator desa masuk dalam kegiatan didesa.
Misalnya Posyandu balita, lansia, pengobatan tradisonal, pesantren, usaha kesehatan masjid, dan
lain-lain.

2.3.5 Pembentukan dan Tata Laksana Desa Siaga

a. Tahap Persiapan
 Rekuitmen Fasilitator Desa. Dalam membentuk Desa Siap Antar Jaga, diperlukan Fasilitator Desa
(FD) yaitu orang yang berfungsi untuk mengkoordinir semua aktivitas/kegiatan yang ada didesanya.
Fasilitator desa juga sekaligus sebagai penghubung antara masyarakat dengan pelayanan kesehatan,
Rumah Sakit, Instansi Kesehatan, wartawan dan lembaga terkait lainnya bila terjadi suatu masalah
didesanya. Untuk menjadi desa Siap Antar Jaga dibutuhkan bidan yang tinggal di desa dan siap
memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) selama 24 jam. Bidan di desa sebagai tenaga
kesehatan terdepan yang memberikan pelayanan kesehatan ibu, bayi, anak dan reproduksi
diwilayahnya, harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar dapat
menunjang kegiatan desa Siap Antar Jaga. Jenis pelatihan bidan di desa Siap Antar Jaga adalah
sebagai berikut:
 Citra Diri Bidan Dalam pelatihan ini bidan dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai:
manajemen pelayanan KIA, komunikasi informasi dan edukasi (KIE), menggali kemampuan diri,
menciptakan motivasi diri dan pelayanan prima.
 Asuhan Persalinan Normal (APN). Suatu kebijakan pelayanan dengan metode pendekatan asuhan
sayang ibu dan sayang bayi, termasuk didalamnya manajemen aktif kala III, sebagai upaya
pencegahan perdarahan post partum pada persalinan normal.
 Penanganan Kasus Kegawatdaruratan Obstetrik dan Neonatal
 Pelatihan Klinis yang lain (Pelayanan KB)
 Pelatihan IMP (Identifikasi Masyarakat Partisipatif)
Pelatihan yang bertujuan untuk membentuk calon fasilitator menjadi seorang penggerak atau
pengorganisir masyarakat desanya.
b. Pelaksanaan
 Pembentukan Pengurus Desa Siap Antar Jaga. Fasilitator yang sudah terbentuk dan dilatih bersama
unsur yang ada dimasyarakat mengadakan pertemuan untuk menyampaiakan / mensosialisasikan
kegiatan dan sekaligus membentuk kepengurusan desa siap antar jaga.
 Sosialisasi pada pertemuan warga RW / Dusun
Keberadaan Desa Siap Antar jaga perlu disosialisasikan di masyarakat agar mereka mengetahui dan
dapat berperan didalamnya. Kegiatan ini bisa diikutkan pad pertemuan-pertemuan yang sudah ada
dimasyarakat seperti pertemuan-pertemuan rutin dasa wisma, RT, RW, Dusun, Desa, pemgajian dan
lainnya.
 Pertemuan Pengurus Warga Siaga, Bidan di Desa, Kader Desa (Focus Group Discussion/ FGD). Dalam
pertemuan tersebut dibahas mengenai:
 Mekanisme Pencatatan dan Informasi (Motifikasi) Adalah sistem yang dikembangkan oleh
masyarakat untuk mencatat dan mengidentifikasikan kepada masyarakat tentang:
 Catatan dan Peta Ibu Hamil di Desa
 Catatan kematian ibu hamil, melahirkan dan nifas
 Catatan kelahiran dan kematian bayi dan balita
 Peta fasilitas kesehatan desa.

2.3.6 Langkah-langkah:

a. Berkoordinasi dengan bidan desa, kader posyandu dan masyarakat untuk mendapatkan data.
b. Fasilitator desa bersama bidan desa memberi tanda (stiker) pada buku KIA untuk ibu hamil resiko
tinggi.
c. Memberikan informsi kepada masyarakat setempat mengenai keberadaan ibu hamil dan perkiraan
persalinan.
d. Fasilitator desa bersama dengan pengurus membuat peta ibu hamil dan tanda khusus (Indikator
PHBS)
 Mekanisme Pendanaan Adalah sistem tabungan yang dikembangkan oleh masyarakat atau ibu hamil
yang digunakan untuk persalinan. Seperti :
 Dasolin (Dana Sosial Persalinan). Uang yang dikumpulkan oleh masyarakat secara rutin dari jimpitan,
dana sehat atau iuran lain (dasa wisma, RT, RW, dan dusun, desa)
 Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin). Uang yang dikumpulkan atau ditabung oleh ibu hamil yang dapat
disimpan oleh bidan desa atau pengurun, dan lain-lain.
 Simpanan dalam bentuk ”In-Natura”. Simpanan dalam bentuk bukan uang, yang selanjutnya dapat
diuangkan/ dijual pada saat persalinan. Misalnya ternak, hasil bumi, perhiasan, dan lain-lain.
 Alokasi Dana Pemerintah. Bagi keluarga miskin, ada alokasi dana dari pemerintah untuk biaya
persalinan, melalui Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin), Jaminan Kesehatan Sosial
(Jamkessos) atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).
 Mekanisme Transportasi
Adalah sistem kegotong-royongan yang dikembangkan untuk mengantar ibu hamil, ibu bersalin, ibu
nifas, dan bayi yang perlu dirujuk. Seperti ::
a. Mobil atau sepeda motor milik warga
b. Ambulance Puskesmas
c. Kendaraan Umum (Becak, dan lain-lain) yang dikelola atau beroperasi di desa.
d. Kelompok Donor Darah
Adalah kelompok pendonor darah di masyarakat sebagai donor hidup, digunakan oleh semua warga
masyarakat yang memerlukan. Bentuk:
 Donor darah tetap. Pendonor secara rutin mendonorkan darahnya setiap 3 bulan sekali tercatat di
PMI.
 Donor darah tidak tetap. Berupa daftar nama relawan beserta golongan darahnya yang bersedia
mendonorkan, baik secara rutin maupun insidental saat dibutuhkan, yang tergabung dalam
Persatuan Donor Darah Indonesia (PDDI) di desa.
Syarat pendonor : memenuhi persyaratan medis.
Untuk mempertahankan eksistensinya ditengah masyarakat, maka pengurus Desa Siap Antar Jaga
perlu mengadakan pertemuan secara rutin bulanan atau tiga bulanan, bersama dengan fasilitator
desa dan bidan di desa, untuk membahas permasalahan yang ada, rencana kerja dan informasi lain
yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan bayi.

2.3.6 Peran Organisasi Desa Siap Antar Jaga (SIAGA)

1. Kepala Desa
a. Kepala Desa selaku penanggung jawab kegiatan mempunyai tugas untuk Memberikan dukungan
kebijakan, sarana dan dana untuk penyelenggaraan desa Siap Antar Jaga.
b. Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan khususnya
yang berkaitan dengan ibu hamil dan bayi didesanya.
c. Menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam mewujudkan masyarakat Siaga (suami siaga,
ambulan desa, bank darah).
d. Menindaklanjuti pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan desa Siap Antar Jaga secara
berkesinambungan.

2.3.7 Peran Kelompok Dusun

a. Kepala Dusun
Kepala Dusun selaku penanggung jawab kegiatan mempunyai tugas untuk:
1. Bertanggung jawan terhadap pelaksanaan dusun Siaga.
2. Penggerakan masyarakat untuk berperan aktif dalam mewujudkan masyarakat Siaga (suami siaga,
transportasi siaga, bank darah).
3. Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Dusun Siap Antar Jaga secara
berkesinambungan.
4. Peran LPMD Dusun
Peran Fasilitator Dusun (Bidan atau Kader)
Fasilitator selaku ketua dalam pelaksanaan Dusun Siap Antar Jaga memiliki peran sebagai berikut:
1. Melakukan penggalangan solidaritas masyarakat untuk berperan dalam pelaksanaan Dusun Siap
Antar Jaga.
2. Mendorong anggota masyarakat untuk mampu mengungkapkan pendapatnya dan berdialog dengan
sesama anggota masyarakat, tokoh/ pemuka masyarakat, petugas kesehatan, serta unsur
masyarakat lain yang terlibat dalam pelaksanaan Dusun Siap Antar Jaga.
3. Melakukan koordinasi pelaksanaan Dusun Siap Antar Jaga.
Peran PKK Dusun. PKK dalam pelaksanaan Dusun Siap Antar Jaga memiliki peran sebagai berikut:

1. Berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan yang mendukung pelaksanaan Dusun Siap
Antar Jaga, seperti misalnya membina kelompok peminat kesehatan ibu dan anak (KPKIA), posyandu.
2. Penggerakan masyarakat untuk terwujudnya masyarakat Siaga (Suami Siaga, ambulan siaga, bank
darah, dan lain-lain.
3. Menggerakkan masyarakat untuk dapat hadir dan berperan aktif dalam Dusun Siap Antar Jaga.
Peran Tokoh Masyarakat/ Agama
1. Memberikan dukungan dan motivasi kepada masyarakat agar keberadaan Dusun Siap Antar Jaga
dapat diterima masyarakat.
2. Ikut berperan dalam sosialisasi Dusun Siap Antar Jaga melalui pertemuan-pertemuan yang
dilaksanakan di desa, maupun melalui ceramah-ceramah di masjid atau tempat ibadah lainnya.
3. Memberikan masukan atau saran yang membangun untu kelangsungan Dusun Siap Antar Jaga.
4.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh
negara serta memperoleh kodifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan wilayah
itu. Bidan siaga adalah seorang bidan yang telah dipercaya dan diberi kepercayaan yang lebih dari
pemerintah/negara untuk membantu masyarakat. Dimana, jika masyarakat membutuhkan bantuan
dari bidan tersebut kapan saja.Bidan siaga tersebut juga mampu memberikan pelatihan dan
bimbingan kepada masyarakat melalui penyuluhan dan konseling.

Suami SIAGA adalah kondisi kesiagaan suami dalam upaya memberikan pertolongan dalam
merencanakan dan menghadapi kehamilan, persalinan dan nifas terhadap istrinya.

ASI eksklusif adalah intervensi yang paling efektif untuk mencegah kematian anak, namun
menurut Survei Demografi Kesehatan tingkat pemberian ASI eksklusif telah menurun selama
dekade terakhir. Hari ini, hanya sepertiga penduduk Indonesia secara eksklusif menyusui
anak-anak mereka pada enam bulan pertama. Ada banyak hambatan untuk menyusui di
Indonesia, termasuk anggota keluarga dan dokter yang tidak mendukung. Beberapa ibu juga
takut menyusui akan menyakitkan dan tidak praktis, tapi salah satu kendala terbesar adalah
kesalahpahaman dari istilah 'eksklusif'.

Di Aceh, misalnya, dengan jumlah stunting atau balita pendek tertinggi untuk anak-anak
balita di Indonesia, kesadaran akan pentingnya ASI ada, tapi masalahnya berada pada
pengertian "eksklusif.” Husnaini, serorang nenek, dulu selalu memberikan putrinya Zahiraa
pisang dan madu ketika ia hanya berusia tiga bulan. Sekarang Zahira, 26, berkat dukungan
bidan di Posyandu Gampong Nusa, Lhok Nga yang melampaui tugas mereka untuk
mengkomunikasikan pesan ASI, persepsi nya akan menyusui telah berubah, dan kini, Kanza,
putrinya yang berusia tiga bulan hanya menerima ASI. "Pemikiran saya berubah karena apa
yang saya pelajari di Posyandu," kata Zahira. Menyusui memberikan banyak manfaat. ASI
adalah makanan ideal bagi bayi, menyediakan nutrisi yang mereka butuhkan untuk
perkembangan yang sehat dan memberikan antibodi terhadap penyakit anak yang umum
seperti diare dan pneumonia - dua penyebab utama kematian anak di negara ini. Tapi masih
banyak perempuan dan anggota keluarga yang tidak menyadari manfaat ASI eksklusif.
Perempuan masih harus memilah-milah mitos, informasi, dan pesan tentang menyusui.

"Mitos bahwa bayi yang diberi ASI membutuhkan air selain ASI tersebar luas di negeri ini.
Banyak keluarga juga percaya susu formula dapat meningkatkan kecerdasan dan
meningkatkan kesehatan," jelas Sri Sukotjo, Spesialis Gizi UNICEF. "Makanan Pelengkap,
termasuk air, seharusnya hanya diperkenalkan ketika mereka mencapai usia enam bulan,"
tambahnya.

Bidan Khairiyah juga menggemakan pesan yang sama "Ketika bayi menangis, ibu
mengaitkannya dengan kelaparan, itu sebabnya mereka berpikir ASI tidak cukup, dan mereka
mulai memberikan pisang terlalu dini," ujar Khairiyah. "Makanan pelengkap yang tepat dan
aman hanya dapat diberikan setelah enam bulan dengan tetap menyusui hingga dua tahun
atau lebih," tambahnya. Sekarang, sebagian besar perempuan di desa Nusa memilih untuk
memberikan ASI eksklusif. "Tapi itu tidak mudah," jelas Khairiyah, yang merupakan bidan-
satunya di desa. Awalnya orang di desa menolak untuk mendengarkan dia, terutama nenek
yang menghargai kepercayaan tradisi dan budaya, tapi sekarang mereka memahami dan ibu
muda seperti Zahira membantunya mempromosikan pemberian ASI di desa.

Upaya yang sukses untuk mempromosikan praktik pemberian makan yang baik harus fokus
tidak hanya pada ibu tetapi pada orang-orang yang mempengaruhi keputusan seorang ibu,
seperti ibu, ibu mertua, dan suaminya. "Apa yang sulit adalah meyakinkan ibu saya sendiri,"
kata Zahira. Tapi dia beruntung bahwa sebelum melahirkan anak pertamanya, Zahira dan
ibunya berdiskusi dengan bidan di Puskesmas. Bidan Khairiyah yang mengajarinya
bagaimana mengekspresikan air susu, dan menjelaskan kepada ibunya pentingnya ASI
eksklusif.

UNICEF memuji langkah yang diambil oleh pemerintah untuk meningkatkan angka
menyusui, termasuk peraturan kesehatan baru yang melarang promosi pengganti ASI di
fasilitas kesehatan, dan telah hak perempuan untuk menyusui yang telah di dukung oleh
peraturan pemerintah. Hukum ini akan memungkinkan negara ini menciptakan lingkungan
yang memberdayakan perempuan untuk menyusui secara eksklusif selama enam bulan
pertama dan terus menyusui selama dua tahun atau lebih.

Program Jaminan Persalian (Jampersal) adalah jaminan pembiayaan persalinan yang meliputi
pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB
pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Jampersal diperuntukkan bagi seluruh ibu
hamil yang belum memiliki jaminan persalinan.

Sasaran yang dijamin Jampersal antara lain:

1. Ibu hamil
2. Ibu bersalin
3. Ibu nifas (sampai 42 hari setelah melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)

Adapun jaminan pembiayaannya meliputi :

a. Pemeriksaan kesehatan
b. Pertolongan persalinan
c. Pelayanan nifas
d. Pelayanan KB pasca persalinan
e. Pelayanan bayi baru lahir
Peserta program Jampersal adalah seluruh ibu hamil yang belum memiliki jaminan persalinan
(tidak tertanggung di dalam kepesertaan ASKES, Jamkesmas, Jamkesda, Jamsostek dan
asuransi lainnya).

Pelayan yang didapat oleh peserta Jampersal meliputi:

 Pemeriksaan kehamilan (ANC) sekurang-kurangnya 4 kali (1kali di trimester I, 1 kali


di trimester II, dan 2 kali di trimester III)
 Persalinan normal
 Pelayanan nifas normal
 Pelayanan bayi baru lahir normal
 Pemeriksaan kehamilan resiko tinggi
 Pelayanan pasca keguguran
 Persalinan per vaginam dengan tindakan emergensi dasar
 Pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar
 Pemeriksaan rujukan kehamilan pada kehamilan resiko tinggi
 Penanganan rujukan pasca keguguran
 Penanganan kehamilan ektopik terganggu (KET)
 Persalinan dengan tindakan emergensi komprehensif
 Pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi komprehensif
 Pelayanan KB pasca persalinan
 Pelayanan Jampersal tidak mengenal batas wilayah, artinga peserta berhak
mendapatkan pelayanan dimanapun berada dengan menunjukkan Kartu Tanda
Penduduk (KTP) / Identitas diri lainnya.

Tata Prosedur Pelayanan Jampersal

A. Pelayanan Persalinan Tingkat Pertama

 Pelayanan persalinan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan Puskesmas PONED


serta jaringannya termasuk Poskesdes dan Polindes. Bidan prektek swata yang
melakukan Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Tim Pengelola Jampersal Kabupaten
Balangan.
 Pelayanan kesehatan yang dapat dilakukan di Puskesmas dan jaringannya meliputi
pelayanan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan normal, pelayanan nifas,
KB pasca persalinan, pelayanan bayi baru lahir, penanganan komplikasi pada
kehamilan, pelayanan nifas dan bayi baru lahir.
 Bila menurut indikasi medis peserta memerlukan layanan rujukan maka Puskesmas
wajib merujuk peserta ke fasilitas kesehatan rujukan.

B. Pelayanan Persalinan Tingkat Lanjutan

 Pelayanan persalinan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan tenaga


kesehatan spesialistik, terdiri dari pelayanan kebidanan dan neonatus kepada ibu
hamil, bersalin, nifas dan bayi dengan resiko tinggi dan komplikasi di rumah sakir
pemerintah maupun swasta yang melakukan Perjanjian Kerjasama (PKS) yang tidak
dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dilaksanakan berdasar
rujukan, kecuali pada kondisi kedaruratan.
 Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan dengan resiko tinggi dan penyulit
yang tidak mampu dilakukan dipelayanan tingkat pertama.
 Pelayanan persalinan di fasilitas perawatan kelas III di Rumah Sakit Pemerintah dan
swasta yang telah melakukan Perjanjian Kerjasama (PKS) dalam program
Jamkesmas.
 JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Kesehatan membantah rumor yang beredar yang menyebutkan bahwa BPJS
menghapus penjaminan tiga layanan. Tiga layanan itu adalah katarak, rehabilitasi
medik, dan bayi baru lahir sehat. Kepala Humas BPJS Kesehatan, Nopi Hidayat
menjelaskan bahwa ketiga pelayanan kesehatan itu tetap dijamin oleh BPJS
Kesehatan. “Kami tegaskan, semua pelayanan itu tetap dijamin oleh skema JKN-KIS.
Perdir itu terbit dimaksudkan untuk mengoptimalkan mutu pelayanan dan efektivitas
penjaminan kesehatan,” kata Nopi, saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat
(27/7/2018). Baca juga: Rumor Pencabutan Jaminan Persalinan dan Dua Layanan
Lainnya, Ini Penjelasan BPJS Kesehatan Sebelumnya beredar kebijakan dari BPJS
Kesehatan yang menimbulkan keresahan di masyarakat, yaitu: Per 25 Juli 2018, BPJS
Kesehatan menerapkan implementasi (1) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan
Kesehatan Nomor 2 Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan Katarak Dalam
Program Jaminan Kesehatan, (2) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan
Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan Persalinan Dengan Bayi Lahir
Sehat, dan (3) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 5 Tahun 2018
Tentang Penjaminan Pelayanan Rehabilitasi Medik. Di media sosial, terutama
Twitter, pada netizen mempertanyakan kebenaran informasi yang menyebutkan
penghapusan tiga layanan itu. Lebih detil, berikut penjelasan BPJS: Pelayanan
Katarak Untuk pelayanan katarak, BPJS Kesehatan akan menjamin pelayanan operasi
katarak sesai dengan Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 2
Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan Katarak Dalam Program Jaminan
Kesehatan. “Peserta penderita katarak dengan visus (lapang pandang penglihatan)
pada kriteria tertentu dengan indikasi medis dan perlu mendapatkan operasi katarak,
akan tetap dijamin BPJS Kesehatan,” ujar Nopi. Namun penjaminan ini tetap
memperhatikan kapasitas fasilitas kesehatan seperti jumlah tenaga dokter mata dan
dokter yang memiliki sertifikasi kompetensi. Bayi Baru Lahir Sehat BPJS Kesehatan
akan menjamin semua jenis persalinan baik normal (baik dengan penyulit maupun
tanpa penyulit) maupun caesar, termasuk pelayanan untuk bayi baru lahir beserta
ibunya. Namun, apabila bayi membutuhkan pelayanan atau sumber daya khusus,
maka diatur dalam Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 3
Tentang Penjaminan Pelayanan Persalinan Dengan Bayi Lahir Sehat, faskes dapat
menagihkan klaim di luar paket persalinan. Rehabilitasi Medik Rehabilitasi medik
atau fisioterapi tetap dijamin dengan kriteria frekuensi maksimal yang ditetapkan
dalam Peraturan Dirjen Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 5 Tahun 2018 Tentang
Penjaminan Pelayanan Katarak Dalam Program Jaminan Kesehatan. Tindakan
rehabilitasi yang semula bisa dilakukan lebih dari 2 kali dalam satu minggu, kini
dibatasi menjadi maksimal 2 kali setiap minggunya. Jadi, implementasi 3 aturan ini
tidak dimaksudkan untuk membatasi atau mencabut pelayanan kesehatan yang
diberikan, namun penjaminan pelayanan tersebut disesuaikan dengan kemampuan
keuangan BPJS Kesehatan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BPJS Kesehatan Pastikan
Tetap Jamin Persalinan dan Dua Layanan Lainnya",
https://nasional.kompas.com/read/2018/07/27/20532091/bpjs-kesehatan-pastikan-
tetap-jamin-persalinan-dan-dua-layanan-lainnya.
Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
 JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Kesehatan membantah rumor yang beredar yang menyebutkan bahwa BPJS
menghapus penjaminan tiga layanan. Tiga layanan itu adalah katarak, rehabilitasi
medik, dan bayi baru lahir sehat. Kepala Humas BPJS Kesehatan, Nopi Hidayat
menjelaskan bahwa ketiga pelayanan kesehatan itu tetap dijamin oleh BPJS
Kesehatan. “Kami tegaskan, semua pelayanan itu tetap dijamin oleh skema JKN-KIS.
Perdir itu terbit dimaksudkan untuk mengoptimalkan mutu pelayanan dan efektivitas
penjaminan kesehatan,” kata Nopi, saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat
(27/7/2018). Baca juga: Rumor Pencabutan Jaminan Persalinan dan Dua Layanan
Lainnya, Ini Penjelasan BPJS Kesehatan Sebelumnya beredar kebijakan dari BPJS
Kesehatan yang menimbulkan keresahan di masyarakat, yaitu: Per 25 Juli 2018, BPJS
Kesehatan menerapkan implementasi (1) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan
Kesehatan Nomor 2 Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan Katarak Dalam
Program Jaminan Kesehatan, (2) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan
Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan Persalinan Dengan Bayi Lahir
Sehat, dan (3) Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 5 Tahun 2018
Tentang Penjaminan Pelayanan Rehabilitasi Medik. Di media sosial, terutama
Twitter, pada netizen mempertanyakan kebenaran informasi yang menyebutkan
penghapusan tiga layanan itu. Lebih detil, berikut penjelasan BPJS: Pelayanan
Katarak Untuk pelayanan katarak, BPJS Kesehatan akan menjamin pelayanan operasi
katarak sesai dengan Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 2
Tahun 2018 Tentang Penjaminan Pelayanan Katarak Dalam Program Jaminan
Kesehatan. “Peserta penderita katarak dengan visus (lapang pandang penglihatan)
pada kriteria tertentu dengan indikasi medis dan perlu mendapatkan operasi katarak,
akan tetap dijamin BPJS Kesehatan,” ujar Nopi. Namun penjaminan ini tetap
memperhatikan kapasitas fasilitas kesehatan seperti jumlah tenaga dokter mata dan
dokter yang memiliki sertifikasi kompetensi. Bayi Baru Lahir Sehat BPJS Kesehatan
akan menjamin semua jenis persalinan baik normal (baik dengan penyulit maupun
tanpa penyulit) maupun caesar, termasuk pelayanan untuk bayi baru lahir beserta
ibunya. Namun, apabila bayi membutuhkan pelayanan atau sumber daya khusus,
maka diatur dalam Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 3
Tentang Penjaminan Pelayanan Persalinan Dengan Bayi Lahir Sehat, faskes dapat
menagihkan klaim di luar paket persalinan. Rehabilitasi Medik Rehabilitasi medik
atau fisioterapi tetap dijamin dengan kriteria frekuensi maksimal yang ditetapkan
dalam Peraturan Dirjen Jaminan Pelayanan Kesehatan Nomor 5 Tahun 2018 Tentang
Penjaminan Pelayanan Katarak Dalam Program Jaminan Kesehatan. Tindakan
rehabilitasi yang semula bisa dilakukan lebih dari 2 kali dalam satu minggu, kini
dibatasi menjadi maksimal 2 kali setiap minggunya. Jadi, implementasi 3 aturan ini
tidak dimaksudkan untuk membatasi atau mencabut pelayanan kesehatan yang
diberikan, namun penjaminan pelayanan tersebut disesuaikan dengan kemampuan
keuangan BPJS Kesehatan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BPJS Kesehatan Pastikan
Tetap Jamin Persalinan dan Dua Layanan Lainnya",
https://nasional.kompas.com/read/2018/07/27/20532091/bpjs-kesehatan-pastikan-
tetap-jamin-persalinan-dan-dua-layanan-lainnya.
Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Masalah gizi buruk dan campak di Papua menjadi kejadian luar biasa. Kementerian Kesehatan
menurunkan 39 tenaga kesehatan sebagai respons terhadap KLB gizi buruk dan campak. Selain itu,
bantuan juga diberikan TNI dengan mengirimkan satgas kesehatan. Pemerintah daerah pun
membentuk tim yang segera diturunkan ke lapangan untuk melakukan pencegahan dan pengobatan
serta pemberian makanan tambahan (PMT).

Bagian pemerintahan yang lain, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko, menunjuk
kebiasaan masyarakat yang kurang peduli terhadap kesehatan menjadi penyebab terjadinya wabah
tersebut. Hal serupa juga diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek.

"Kalau buang air gimana, ada cacing yang keluar. Ini mesti diselesaikan. Kalaupun dia dikasih makan,
tapi kalau enggak bagus [pola hidupnya] akan kembali seperti itu," kata Nila.

Pertanyaannya, benarkah gizi buruk tidak berakar pada soal sistemik yang menyangkut
sarana/prasarana sanitasi, kemiskinan, dan kurang pangan, melainkan persoalan pola hidup yang
bersifat khusus dan terkait kebudayaan? Jika penyebab gizi buruk adalah semata soal "kebiasaan
masyarakat", bukan soal sistemik, gizi buruk seharusnya hanya terjadi di segelintir daerah Indonesia.

Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan buku Saku Hasil Pemantauan
Status Gizi (PSG) Tahun 2016 bahwa proporsi balita berusia 0 hingga 59 bulan dengan gizi buruk dan
gizi kurang pada 2013 mencapai 19,6 persen. Angka ini meningkat dari 17,9 persen pada 2010.

Peningkatan terlihat pada proporsi balita dengan kategori gizi kurang. Pada 2007, tercatat ada 13
persen anak berusia 0-59 bulan yang kekurangan gizi. Porsinya meningkat mencapai 14,9 persen
pada 2015. Hingga, di 2016, berkurang 0,5 persen menjadi 14,4 persen balita yang dikategorikan
sebagai gizi kurang.