Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH BIOLOGI SEL

PEMBELAHAN SEL

OLEH:
ADE PRATIWI
NPM : 48201180S001P
KELAS : ALIH PROGRAM S1 FARMASI

DOSEN PENGAJAR : YUNILDAROSA, S.Si, M.Kes.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


SITI KHODIJAH PALEMBANG
TAHUN 2018
DAFTAR ISI

Daftar isi .............................................................................................. i


Pendahuluan
A. Latar belakang.........................................................................1
B. Rumusan Masalah ...................................................................1
C. Tujuan .....................................................................................1

Pembahasan
A. Pengertian Sel .........................................................................2
B. Pembelahan Sel ........................................................................3
1. Mitosis.....................................................................................3
2. Meiosis....................................................................................6

Penutup
A. Kesimpulan ............................................................................12

Daftar Pustaka
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kita semua tentu menyadari bahwa tubuh kita bertambah besar dan tinggi,
beberapa bagian dari tubuh kita mengalami perubahan (misalnya rambut dan kuku
yang bertambah panjang), selain itu kita juga mengalami proses kematangan sel
kelamin. Hal-hal tersebut sering disebut dengan pertumbuhan dan perkembangan
yang terjadi pada tubuh manusia. Akan tetapi, mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Mengapa rambut dan kuku kita bisa bertambah panjang? Mengapa tinggi badan
kita berubah dari waktu ke waktu? Dan mengapa sel ovum dan sel sperma kita
dapat mencapai kematangan? Semua hal tersebut dapat terjadi karena adanya
proses pembelahan sel. Menurut sifat dan letak terjadinya pembelahan,
pembelahan sel dibagi menjadi dua, yaitu mitosis dan meiosis. Mitosis adalah
proses pembelahan sel somatik (sel tubuh), sementara meiosis adalah proses
pembelahan sel gamet (sel kelamin). Baik fungsi, fase-fase, dan perbedaan dari
kedua jenis pembelahan sel akan dibahas secara lengkap pada pembahasan
dibawah ini. Diharapkan dengan adanya pembahasan ini, mahasiswa mampu
mengetahui proses pembelahan sel yang terjadi pda tubuh manusia, mampu
menjelaskan proses mitosis dan meiosis, serta dapat menjeaskan perbedaan proses
mitosis dan meiosis.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pembelahan sel prokariotik dan sel eukariotik?
2. Bagaimana pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis?
3. Bagaimana siklus pada sel?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pembelahan sel prokariotik dan sel eukariotik.
2. Untuk mengetahui pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis.
3. Untuk mengetahui siklus sel.

1
PEMBAHASAN
A. Pengertian sel
Reproduksi sel adalah proses memperbanyak jumlah sel dengan cara
membelah diri, baik pada organisme uniseluler maupun multiseluler. Pembelahan
sel pada organisme uniseluler merupakan suatu cara bagi organisme tersebut
untuk melestarikan jenisnya. Sedangkan, bagi organisme multiseluler,
pembelahan sel menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan organisme. Selain
itu, reproduksi sel pada organisme multiseluler juga menghasilkan sel-sel gamet
yang berguna pada saat perbanyakan secara generatif (reproduksi organisme
melalui proses perkawinan). Pada dasarnya, pembelahan sel dibedakan menjadi
dua, yaitu pembelahan secara langsung (amitosis) dan pembelahan secara tidak
langsung (mitosis dan meiosis).

1. Pembelahan sel secara langsung (Amitosis)


Proses pembelahan secara langsung disebut juga pembelahan
amitosis atau pembelahan biner. Pembelahan biner merupakan proses
pembelahan dari 1 sel menjadi 2 sel tanpa melalui fase-fase atau tahap-tahap
pembelahan sel. Pembelahan biner banyak dilakukan organisme uniseluler
(bersel satu), seperti bakteri, protozoa, dan mikroalga (alga bersel satu yang
bersifat mikroskopis). Setiap terjadi pembelahan biner, satu sel akan
membelah menjadi dua sel yang identik (sama satu sama lain). Dua sel ini
akan membelah lagi menjadi empat, begitu seterus nya. Pembelahan biner
dimulai dengan pembelahan inti sel menjadi dua, kemudian diikuti
pembelahan sitoplasma. Akhirnya, sel terbelah menjadi dua sel anakan.
Pembelahan biner dapat terjadi pada organisme prokariotik atau eukariotik
tertentu.

2. Pembelahan sel secara tidak langsung (Mitosis dan Meiosis).


Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan yang
melalui tahapan-tahapan tertentu. Setiap tahapan pembelahan ditandai
dengan penampakan kromosom yang berbeda-beda. Ketika sel akan
membelah, benang-benang kromatin ini menebal dan memendek, yang

2
kemudian disebut kromosom. Kromosom dapat berikatan dengan warna
tertentu, sehingga mudah diamati dengan mikroskop. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kromosom merupakan benang pembawa sifat. Di
dalam kromosom terdapat gen sebagai faktor pembawa sifat keturunan.
Pada waktu sel sedang membelah, terjadi proses pembagian kromosom di
dalamnya. Tingkah laku kromosom selama sel membelah dibedakan
menjadi fase-fase atau tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan sel yang
terjadi melalui fase-fase itulah yang disebut pembelahan secara tidak
langsung. Mengenai fase-fase pembelahan mitosis akan dibahas pada subab
tersendiri. Pembelahan sel secara tidak langsung dibedakan menjadi dua,
yaitu pembelahan mitosis dan meiosis.

B. Pembelahan Sel
1. Mitosis
Mitosis dapat diartikan sebagai pembelahan normal sel tubuh (sel
somatis) untuk membentuk sel anakan yang masing-masing mempunyai
komplemen kromosom yang sama dengan sel orangtua.4 Berdasarkan
pengertian tersebut, dapat dilihat bahwa proses pembelahan mitosis terjadi
pada kebanyakan sel tubuh. Dalam mitosis, satu sel induk (sel yang
membelah) akan menghasilkan dua sel anakan (turunan) yang secara genetik
identik. Jika sel induk yang membelah mengandung kromosom diploid (2n),
sel anakan yang dihasilkan dari pembelahan tersebut juga diploid (2n).
Pembelahan mitosis pada makhluk hidup bersel banyak seperti pada
manusia bertujuan agar terjadi proses pertumbuhan pada tubuh manusia
serta untuk mengganti sel-sel yang rusak. Dengan pembelahan mitosis,
seseorang dapat bertambah tinggi, kuku-kuku jari mereka bertambah
panjang, rambut mereka juga bertambah panjang, dll. Apabila kulit manusia
terluka, maka sel-sel pada jaringan yang terluka itu akan melakukan
pembelahan untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Mitosis dapat dibagi
menjadi 4 tahap, yaitu profase, metafase, anafase, dan telofase.

3
a. Profase
1) Nukleolus tidak tampak lagi dan membran nukleus telah melebur.
2) Kromatin mengalami penebalan dan memendek menjadi kromosom
sehingga bisa dilihat di bawah mikroskop. Benang-benang
kromosom berpasangan, tiap-tiap kromosom menggandakan diri
membentuk struktur simetris yang disebut kromatid. Kedua
kromatid masih disatukan pada satu titik yang disebut sentromer.
3) Pada sel hewan terdapat sepasang sentriol yang memisahkan diri
ke kutub-kutub yang berlawanan. Setelah sampai di kutub, sentriol
membentuk benang-benang spindel yang melekat pada sentromer
di setiap kromatid.

Gambar 1. Tahap Awal Profase.


Selanjutnya adalah tahap akhir profase, dimana nukleolus
melebur dan membran nukleus menghilang, sehingga
memungkinkan benang-benang spindel memasuki nukleus.
Mikrotubulus yang muncul dari kinektokor (bagian kromosom
yang merupakan tempat pelekatan benang-benang spindel selama
pembelahan inti – struktur pada sentromer), dapat berinteraksi
dengan benang spindel.

Gambar 2. Tahap Akhir Profase

4
b. Metafase
Kromosom terletak pada bidang di tengah sel dengan sentromer
menempel pada benang spindel. Bidang di tengah sel ini disebut bidang
equator. Posisi kromosom yang tersebar pada bidang equator ini
menyebabkan jumlah kromosom dapat dihitung dengan tepat dan bentuk
kromosom dapat dipelajari.

Gambar 5. Metafase

Gambar 3. Metafase
c. Anafase
Daya tarik benang-benang spindel akan menyebabkan kedua
kromatid terlepas dari ikatan sentromer menuju kutub masing-masing
menjadi 2 kromosom baru. Jumlah kromosom yang menuju ke kutub
yang satu sama dengan kromosom yang menuju ke kutub yang lain.

Gambar 4. Anafase

d. Telofase
Pada tahap telofase, pada ujung-unjung sel terdapat masing-
masing satu set kromosom lengkap.2 Kromosom mulai merenggang dan
kembali menjadi masa kromatin. Dengan demikian, dua nukleus kembali
terbentuk, diikuti dengan melebur dan terurainya kromosom serta

5
terbentuknya membran nukleus dan terbentuknya kembali nukleolus.
Pada akhirnya, sel akan mengalami sitokinesis yaitu pembelahan
sitoplasma. Pembelahan sitoplasma berada tepat di pertengah masa
kromosom, lalu berlanjut di sekitar sel hingga akhirnya membelah sel
tersebut menjadi dua sel terpisah.

Gambar 5. Telofase

e. Sitokinesis
Setelah terbentuk dua inti sel, kemudian akan terjadi perpisahan
sitoplasma dengan pembentukan dinding (sekat pemisah) yang terbentuk
dimulai dari pinggir sel menuju ke tengah memisahkan kedua inti
menjadi 2 sel baru.

2. Meiosis
Pembelahan meiosis berlangsung pada saat pembentukan sel gamet
pada organisme diploid atau pada saat pembentukan spora nonseksual pada
jamur. Meiosis berlangsung di jaringan organ reproduksi seksual atau pada
jaringan nutfah. Pada pembelahan meiosis, setiap sel anak akan menerima
separuh dari jumlah kromosom yang terdapat pada sel induk. Misalnya,
manusia memiliki 46 kromosom dalam sel tubuhnya. Setelah terjadi
pembelahan meiosis pada organ reproduksinya, seperti testis atau ovarium,
akan terbentuk gamet yang mengandunghanya 23 kromosom.
Fase-fase meiosis adalah sebagai berikut: interfase, meiosis I
(profase I, metafase I, anafase I, dan telofase I), interfase, dan yang terakhir
adalah meiosi II (profase II, matafase II, anafase II, dan telofase II). Fase-
fase tersebut sedikit berbeda dari fase-fase pada pembelahan mitosis.

6
2.1. Interfase
Pada interfase, sel berada pada tahap persiapan untuk melakuan
pembelahan. Sama seperti pada interfase mitosis, persiapan yng
dimaksud adalah proses sintesis protein dan replikasi DNA. DNA akan
direplikasi dari satu salinan menjadi dua salinan. Sel yang akan
membelah mereplikasi DNA di setiap kromosomnya sehingga terbentuk
dua kromatid yang bergabung pada sentromer (kromosom homolog).

Gambar 6. Interfase Meiosis

2.2. Meiosis I
2.2.1 Profase I
a. Leptoten : merupakan tahap pertama profase, kromatin membentuk
benang halus leptonema(kromosom) sehingga kromosom tampak seperti
massa yang tidak teratur.
b. Zigoten : Proses penebalan berjalan terus dan kromosom mulai
berpasangan dengan homolognya.
c. Pakiten : Kromosom yang homolog terdiri atas 4 kromatid yang disebut
tetrad. Pasangan 2 kromosom homolog disebut bivalen. Pasangan 3 atau
4 kromosom homolog disebut trivalen atau tetravalen.
d. Diploten : Kromatid pada kromosom homolog dapat saling melilit dan
bertukar ruas satu dengan yang lain, disebut pindah silang. Dua kromatid
yang disatukan oleh satu sentromer disebut kromatid bersaudara. Kontak
antar kromatid bersaudara disebut kiasma.
e. Diakinesis : Tahap akhir profase I, membran inti melarut.

7
Gambar 7. Profase I (Diakinesis)

2.2.2. Metafase 1
Tertad atau bivalen kromosom berada pada bidang ekuator.
Kedua kromatid dalam satu kromosom pada setiap pasangan
kromosom homolog menghadap ke kutub sel yang sama, sehingga
sisanya menghadap ke kutub yang berlawanan. Benang-benang
spindel melekat pada sentromer setiap kromosom. Pada tahap ini,
terdapat perbedaan dengan pembelahan mitosis. Untuk metafase I,
sentromer tidak mengalami pembelahan.

Gambar 8. Metafase I

2.2.3. Anafase 1
Kromosom homolog bergerak ke arah kutub yang
berlawanan dengan dua kromatid bersaudara masih tetap terikat pada
sentromernya. Dengan demikian, didapati bahwa satu kelompok
kromosom haploid (n) telah tersusun disetiap kutub. Hal tersebut

8
sesuai dengan tujuan dari anafase yaitu untuk membagi isi
kromosom diplod menjadi haploid.

Gambar 9. Anafase I
2.2.4. Telofase 1
Pada dasarnya tahapan ini sama seperti telofase mitosis. Seperti
dalam pembelahan mitosis, telofase membalik peristiwa yang terjadi
dalam profase. Kromosom akan melebur, membrane nukleus akan
terbentuk begitu juga dengan nucleolus, benang spindel pun akan
terurai. Pada akhirnya sitokinesis akan terjadi dan kedua sel akan
terpisah.

Gambar 10. Telofase 1

2.3. Meiosis II
Pada meiosis II, terdapat empat tahap yang sama dengan meiosis
I. Tahap yang pertama adalah profase I. Pada tahap ini peristiwa yang
terjadi sama dengan peristiwa pada profase mitosis. Sentriol akan
memisah dan bergerak ke kutub yang berlawanan, dan mikrotubulus dari
setiap sentromer melekat pada benang dari sentriol di kutub berlawanan.
Tahap yang kedua adalah metafase II. pada tahap ini, kromatid berbaris
ada bidang ekuator sel. Kromatid yang ada tersusun berpasangan namun

9
tidak lagi dalam bentuk tetrad melainkan disebut dengan dyad. Tahap
berikutnya adalah anafase II, pada tahap ini sentromer membelah dan
kromatid terpisah menjadi kromosom. Berbeda dengan pembelahan
mitsis, kromatid yang terpisah tidak identik secara genetic akibat
persilangan atau kombinasi ulang. Pada akhirnya, sel akan memasuki
tahapan akhir yang disebut telofase II. Di telofase II, membrane nukleus
terbentuk kembali, kromosom melebur, dan terjadi sitokinesis. Sel yang
dihasilkan akan bersifat haploid.

Gambar 11. Meiosis II

10
2.4. Perbedaan Mitosis dan Meiosis
Tabel 1. Perbedaan Mitosis dan Meiosis.

11
PENUTUP

A. Kesimpulan
Reproduksi sel adalah proses memperbanyak jumlah sel dengan cara
membelah diri, baik pada organisme uniseluler maupun multiseluler. pembelahan
sel dibedakan menjadi dua, yaitu pembelahan secara langsung (amitosis) dan
pembelahan secara tidak langsung (mitosis dan meiosis). Pembelahan secara
langsung adalah proses pembelahan dari 1 sel menjadi 2 sel tanpa melalui fase-
fase atau tahap-tahap pembelahan sel. Sedangkan pembelahan sel secara tidak
langsung adalah pembelahan yang melalui tahapan-tahapan tertentu. Siklus sel
adalah peristiwa pertumbuhan sel menurut tahapan tertentu, dan setelah melalui
semua tahapan akan kembali kepada tahapan semula. Siklus sel dapat dibagi
menjadi dua tahapan, yaitu tahapan interfase dan tahapan mitotik (fase
pembelahan).

12
DAFTAR PUSTAKA

 Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC; 2004.
 Kliegman B, Nelson A. Ilmu kesehatan anak Nelson. Edisi 15 (1). Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000.h 391.
 5. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia kedokteran dasar: sebuah
pendekatan klinis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000.h 166-7.
 6. Corwin JE. Buku saku patofisiologi. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2009.h 43-6.
 Kusuma. Ratih dkk. Pembelahan Sel. Universitas Riau. Riau : Indonesia.
2012
 8. Aryulina D, Muslim C, Manaf S, Winarni EW. Biologi SMA dan MA
untuk kelas XII. Jakarta: Penerbit Erlangga;2009.h 111-2.
 Bambang, S. 2006. BIOLOGI SMA Kelas XII. Jakarta : Erlangga
 Prawirosudhirjo. 2012. Meiosis. http://id.wikipedia.org/wiki/. 22 maret
2012. Samarinda.

13