Anda di halaman 1dari 4

A.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari anemia pada kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi
sangat bervariasi walaupun tanpa gejala, anemia dapat menyebabkan tanda gejala seperti
letih, sering mengantuk, malaise, pusing, lemah, nyeri kepala, luka pada lidah, kulit pucat,
konjungtiva, bantalan kuku pucat, tidak ada nafsu makan, mual dan muntah (Varney , 2006)
Gejala-gejala lain dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan
jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan
pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin
< 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas.
Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata
berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang,
nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.
(Manuaba I. B., 2001)

Pengaruh Anemia pada Kehamilan dan Janin (Manuaba I. B., 1998)


1. Pengaruh anemia terhadap kehamilan
a. Bahaya selama kehamilan :
- Dapat terjadi abortus
- Persalinan prematuritas
- Hambatan tumbuh kembang janin dalam Rahim
- Mudah terjadi infeksi
- Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr% )
- Mola hidatidosa
- Hyperemesis gravidarum
- Perdarahan antepartum
- Ketuban pecah dini (KPD)
b. Bahaya saat persalinan :
- Gangguan his-kekuatan mengejan
- Kala pertama dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlatar
- Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan
tindakan operasi kebidanan
- Kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena
atonia uteri
- Kala empat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri
c. Pada kala nifas :
- Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum
- Memudahkan infeksi puerperium
- Pengeluaran ASI berkurang
- Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan
- Anemia kala nifas
- Mudah terjadi infeksi mamae
2. Bahaya terhadap janin (Manuaba I. B., 1998)
Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi
dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam Rahim. Akibat anemia dapat
terjadi gangguan dalam bentuk :
- Abortus
- Terjadi kematian itrauterin
- Persalinan prematuritas tinggi
- Berat badan lahir rendah
- Kelahiran dengan anemia
- Dapat terjadi cacat bawaan
- Bayi mudah mendapat infeksi sampat kematian perinatal
- Inteligensia rendah

B. Etiologi
Penyebab Anemia Pada Ibu Hamil adalah meningkatnya jumlah kebutuhan zat besi guna
pertumbuhan janin bayi yang dikandungnya. Jika sang ibu mengalami kondisi di bawah ini
maka akan menyebabkan anemia (Manuaba I. B., 2001)
a. Kurangnya asupan zat besi yang dibutuhkan pada makanan yang dikonsumsi oleh sang
ibu
b. Pola makan sang ibu yang cenderung terganggu akibat mual yang dirasakan selama
masa kehamilan
c. Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi (Fe) pada sang ibu yang
diakibatkan oleh persalinan sebelumnya maupun menstruasi
Etiologi anemia defisiensi besi pada kehamilan, yaitu : (Manuaba I. B., 2001)
a. Hipervolemia, menyebablan terjadinya pengenceran darah
b. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma
c. Kurangnya zat besi dalam makanan
d. Kebutuhan zat besi meningkat
e. Gangguan pencernaan dan absorbs

C. Pemeriksaan Laboratorium
Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter yang dingunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi
anemia (Supariasa, 2002). Keuntungan metode pemeriksaan Hb adalah mudah, sederhana
dan penting bila kekurangan besi tinggi, seperti pada kehamilan sedangkan keterbatasan
pemeriksaan Hb adalah spesifitasnya kurang yaitu sekitar 65- 99% dan sensifitasnya 80-
90% (Riswan, 2003). Anemia pada ibu hamil berdasarkan pemeriksaan dan pengawasan
Hb dengan Sahli dapat digolongkan berdasarkan berat ringannya terbagi menjadi : anemia
berat jika Hb 7gr %, anemia sedang jika kadar Hb antara 7 sampai 8 gr % dan bila anemia
ringan jika kadar Hb antara 9 sampai 10 gr % (Manuaba, 2001). Metode yang paling sering
digunakan di laboratorium dan paling sederhana adalah metode Sahli dan sampai saat ini
baik di Puskesmas maupun di beberapa Rumah sakit. Pada metode sahli, hemoglobin
dihidrolisis dibentuk dengan HCL menjadi forroheme oleh oksigen yang ada di udara
dioksidasi menjadi ferriheme yang segera bereaksi dengan ion CL membentuk
Ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin yang berwarna coklat. Warna yang
terbentuk ini dibandingkan dengan warna standard, karena membandingkan pengamatan
dengan mata secara langsung tanpa menggunakan alat, maka subjektivitas hasil
pemeriksaan sangat berpengaruh hasil pembacaan (Supariasa, 2001)
DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, I. B. (1998). Ilmu Kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk
pendidikan bidan . Jakarta: EGC.

Manuaba, I. B. (2001). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.


Jakarta: EGC .

Riswan, M. (2003). Anemia Defisiensi Besi Pada Wanita Hamil di Beberapa Praktek Bidan
Swasta Dalam Kota Madya Medan. Jurnal Penelitian.

Supariasa. (2001). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Supariasa, I. D. (2002). Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Varney , H. (2006). Buku ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC.