Anda di halaman 1dari 14

PAPER ILMU BEDAH UMUM VETERINER

“FRAKTUR INKOMPLIT”

Oleh :

2015 B

Putu Adi Guna Purwaka Putra 1509005055

Ni Made Hani Pujaswarini 1509005056

Ni Ketut Mega Hendrayanti 1509005057

Brigita Galilea Adu 1509005058

I Gusti Ayu Komang Suastiningsih 1509005076

Nikko Marthen Mamboran 1509005077

Debi Theresa 1509005081

Ni Made Sawitri 1509005085

Fransisco Victoriano Pero 1509005089

Messy Saputri Br Sembiring 1509005090

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan
rahmat Nya sehingga paper yang berjudul “FRAKTUR INKOMPLIT” ini bisa
diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas atas selesainya dilakukannya
kuliah Ilmu Bedah Umum Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas
Udayana.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini tidak terhindar dari berbagai macam
kekurangan. Dan dengan kekurangan yang ada segala kritik dan saran sangat
penulis harapkan demi kebaikan dari tulisan ini, dan tak lupa penulis
mengucapkan banyak terimakasih.

Denpasar, 23 April 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover .................................................................................................................. i
Kata Pengantar ................................................................................................. ii
Daftar Isi ..........................................................................................................iii
Daftar Gambar ................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................. 1
1.4 Manfaat ............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 3
2.1 Terminologi ........................................................................................ 3
2.2 Etiologi ............................................................................................... 3
2.3 Macam-Macam Fraktur Inkomplit ..................................................... 4
2.4 Tanda Klinis ....................................................................................... 5
2.5 Diagnosis ............................................................................................ 6
2.6 Treatment ............................................................................................ 7
BAB III PENUTUP .......................................................................................... 9
3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 9
3.2 Saran ................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 10

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 ............................................................................................................ 7
Gambar 2 ............................................................................................................ 8
Gambar 3 ............................................................................................................ 8
Gambar 4 ............................................................................................................ 8

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Banyak hewan peliharaan telah menjadi bagian dari kehidupan suatu


keluarga. Hewan tersebut secara tidak langsung mampu menciptakan
kenyamanan dan menghilangkan stress bagi pemiliknya . Adapun contoh dari
hewan yang paling sering menjadi hewan peliharaan tersebut adalah anjing
dan kucing. Dalam pemeliharan hewan biasanya ada dua acara yaitu
dikandangkan atau dibebaskan tanpa dkandangkan. Hewan – hewan yang
dilepaskan seringkali memeiki potensi untuk terjadinya gangguan traumatic.
Gangguan tarumatik yang dimaksud dapat berupa fraktur atau patah tulang.
Fraktur merupakan kasus yang sering terjadi pada manusia maupun
hewan. Fraktur pada hewan umumnya disebabkan karena trauma dan
penyakit (pathologic fracture). Menurut Piermattei et al. (2006), sekitar 75 –
80% kejadian fraktur pada hewan terjadi akibat kecelakaan. Tingginya
insiden fraktur dan kasus kerusakan tulang yang parah akibat trauma,
infeksi, reseksi tumor, delayed union, mal union maupun non union pada
manusia maupun hewan memerlukan penanganan yang serius. Kerusakan
tulang yang parah tidak sembuh secara spontan, sehingga proses
kesembuhan alami pada daerah yang rusak seringkali terhambat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang menyebabkan terjadinya fraktur pada hewan?
2. Penanganan atau treatment apa yang dilakukan ketika seekor hewan
mengalami fraktur?
3. Persendian apa yang biasanya mengalami fraktur?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami faktor – faktor apa saja yang dapat
menyebabkan fraktur pada hewan .
2. Untuk memahami cara penanganan dan treatment seekor hewan ketika
terjadi fraktur

1
3. Untuk mengetahui persendian yang biasanya mengalami fraktur pada
hewan.
1.4 Manfaat

Manfaat yang dapat diberikan dari penulisan paper ini adalah :


1. Melalui paper ini diharapkan kalangan mahasisawa Universitas
Udayana, khususnya Kedokteran Hewan Udayana memiliki wawasan
lebih mengenai penjelasan “Fraktur Inkomplit pada Hewan”.
2. Hasil tugas ini dapat menjadi arsip yang dapat membantu untuk
mengerjakan tugas dari mata kuliah Ilmu Bedah Veteriner.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Terminologi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang baik karena trauma,


tekanan maupun kelainan patologis. Fraktur adalah patah tulang, biasanya
disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price, 2005). Sedangkan menurut
Smeltzer (2005) fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang
ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres
yang lebih besar dari yang diabsorpsinya.
Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk,
gerakan puntir mendadak dan kontraksi otot yang ekstrim. Patah tulang
mempengaruhi jaringan sekitarnya mengakibatkan oedema jaringan lunak,
perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf
dan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang
disebabkan oleh fraktur atau gerakan fragmen tulang (Brunner & Suddarth,
2005).
a. Fraktur komplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas
sehingga tulang terbagi menjadi 2 bagian atau garis patah menyeberang
dari satu sisi kesisi lain serta mengenai seluruh korteks
b. Fraktur inkomplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan
garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks (kortek
masi atau dalam keadaan utuh).
2.2 Etiologi

Fraktur dapat terjadi akibat adanya tekanan yang melebihi kemampuan


tulang dalam menahan tekanan. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan
berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik, tekanan
membengkok yang menyabkan fraktur transversal, tekanan sepanjang aksi
tulang yang menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi,
kompresi vertical dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah,
misalnya pada badan vertebra, talus, atau fraktur buckle. Fraktur disebabkan
oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan

3
kontraksi otot ekstrem. Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma di mana
terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang.

2.3 Macam – Macam Fraktur Inkomplit


 Stress fractures
Fraktur stres berukuran kecil dan hasil dari kukuatan berulang
(misalnya, dari penggunaan berlebihan), seringkali terjadi di metatarsal
diikuti oleh tibia dan fibula.Gejala terjadi secara bertahap, nyeri intermiten
yang memburuk karena menopang berat badan dan akhirnya menjadi
konstan. Kadang-kadang terjadi pembengkakan. Pengujian dapat
mendeteksi nyeri tulang yang dilokalisir. X-rays yang dilakukan tetapi
mungkin tidak memperlihatkan fraktur pada awalnya. Dengan demikian,
banyak fraktur seperti diperlakukan berdasarkan dugaan, dan x-ray
sederhana diulang 2 sampai 3 minggu kemudian ketika callus dapat
terlihat. Terapi imobilisasi, elevasi, dan analgesik. CT atau MRI jarang
diperlukan.
 Growth plate fractures :
Tulang tumbuh sebagai jaringan ditambahkan proksimal oleh epifisis
harddisk (lempeng pertumbuhan), yang berbatasan dengan metafisis
proksimal dan epiphysis distal. Usia di mana lempeng pertumbuhan
menutup dan pertumbuhan tulang berhenti bervariasi oleh tulang, tetapi
lempeng pertumbuhan ditutup oleh semua tulang sebelum hewan dewasa.
Lempeng pertumbuhan adalah bagian paling rapuh dari tulang dan dengan
demikian biasanya struktur pertama terganggu dimana tekanan diterapkan.
Fraktur lempeng pertumbuhan diklasifikasikan oleh sistem Salter-Harris.
Gangguan pertumbuhan tulang umumnya dengan tipe III, IV, dan V tapi
jarang dengan tipe I dan II. Growth plate fracture yang diduga pada anak
hewan dengan nyeri local selama lempeng pertumbuhan. Patah tulang ini
menyebabkan nyeri melingkar dan dengan demikian dapat secara klinis
dibedakan dengan memar. Pada jenis fraktur I dan V, x-ray mungkin
tampak normal. Jika demikian, patah tulang ini kadang-kadang dapat
dibedakan satu sama lain oleh cedera mekanisme misalnya, distraksi
(pemisahan dalam sumbu memanjang) vs kompresi.

4
 Subcapital fractures
Mungkin akibat dari cedera tunggal tetapi sering kali disebabkan
tekanan berulang atau kekuatan minimal, mengakibatkan mengalami
cedera tulang kaki kecil atau besar. Penurunan setelah fraktur awal dapat
memperburuk atau menggantikan fraktur. Pasien dengan fraktur kecil
mungkin rawat jalan dan hanya nyeri ringan. Namun, pasien tersebut
mungkin tidak dapat melenturkan seluruh ekstremitas bawah melawan
resistansi dengan lutut diperluas. Rotasi pinggul pasif dengan lutut
tertekuk memperburuk rasa sakit, membantu untuk membedakan patah
tulang pinggul dari gangguan ekstra-artikular seperti bursitis trokanterika.
Fraktur besar cenderung membatasi gerak pinggul lebih, memperpendek
kaki, dan menyebabkan kaki berputar eksternal. Pemindahan predisposisi
osteonekrosis kepala femoral dan fraktur nonunion. X-rays kadang-kadang
normal bila patah tulang kecil atau terkena dampak atau bila osteoporosis
parah. Jika patah tulang masih dicurigai, MRI dilakukan, jika MRI tidak
tersedia atau kontra indikasi, CT dilakukan. Jika pasien diharapkan untuk
melanjutkan berjalan dan tidak memiliki kontra indikasi untuk bedah,
pengobatan biasanya bedah perbaikan.
2.4 Tanda Klinis
Tanda klinik yang nampak pada anjing yang mengalami fraktur adalah
kesulitan dan kesakitan ketika anjing bergerak, hewan terlihat mengangkat
kaki yang mengalami fraktur sehingga nampak pincang ketika berjalan atau
bahkan tidak bisa berjalan sama sekali, terdengar suara krepitasi pada
fragmen tulang. Deformitas tulang ditandai dengan adanya angulasi, rotasi,
pemendekan tulang, abduksi, adduksi dan nampak terjadi penyimpangan dari
posisi nomalnya (Sudisma et al., 2006).
1. Nyeri
Nyeri terus-menerus dan bertambah parah sampai fragmen tulang diam.
Spasme tulang yang menyertai fraktur adalah tipe kekakuan alami yang
dirancang untuk meminimalkan pergerakan fragmen tulang lebih jauh.
2. Kehilangan fungsi

5
Setelah fraktur, ekstremitas tidak dapat berfungsi seperti biasanya, karena
fungsi normal otot tergantung pada integritas tulang di mana mereka
menempel. Nyeri menambah hilangnya fungsi. Juga, gerakan abnormal
(falsemovement = gerakan salah) mungkin ada.
3. Deformitas
Perubahan tempat, angulasi, atau ratasi fragmen pada fraktur ekstremitas
menyebabkan deformitas (baik terlihat atau terpalpasi) dideteksi saat
anggota gerak dibandingkan dengan ekstremitas yang tidak cedera.
Deformitas juga hasil dari pembengkakan jaringan lunak.
4. Ekstremitas memendek
Pada fraktur tulang panjang, terdapat pemendekan ekstremitas karena
kontraksi otot yang menempel di atas dan di bawah sisi fraktur. Fragmen
sering tumpang tindih hingga 2.5 – 5 cm (1 – 2 inch).
5. Krepitus
Saat ekstremitas diperiksa dengan menggunakan tangan, sensasi
gemerisik, yang disebut krepitus, dapat dirasakan. Hal ini dikarenakan oleh
saling membungkusnya fragmen tulang satu sama lain.
6. Pembengkakan lokal dan diskolorasi
Pembengkakan lokal dan diskolorasi kulit (ekimosis) terjadi setelah fraktur
akibat trauma dan perdarahan pada jaringan. Tanda-tanda ini mungkin
tidak terjadi beberapa jam setelah cedera.
2.5 Diagnosis
Diagnosis dari kasus fraktur pada anjing dilakukan berdasarkan
anamnesa dari pemilik hewan, pemeriksaan fisik, tanda klinik yang
ditunjukkan oleh anjing, pengukuran pada tulng yang fraktur, dan didukung
oleh pemeriksaan radiologi dengan foto rontgen sehingga didapatkan
diagnosis yang definitif.
Pada pemeriksaan fisik dilakukan tiga hal penting, yakni inspeksi /
look: deformitas (angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan), bengkak.
Palpasi / feel (nyeri tekan, krepitasi). Status neurologis dan vaskuler di bagian
distalnya perlu diperiksa. Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat

6
fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang
mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi.
Untuk kasus fraktur pada anjing, dilakukan pemeriksaan radiografi
untuk melihat lokasi dan tingkat keparahan fraktur, serta menentukan jenis
penanganan terhadap hewan kasus.

Gambar 1. Foto rontgen anjing


kasus yang mengalami fraktur os
tibia fibula.

2.6 Treatment
Treatment untuk fraktur inkomplit bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1. External coaptation : yaitu dengan memasang splint atau perban untuk
mencegah pergerakan dari daerah yang mengalami fraktur.
2. External fixation : Operasi ini menerapkan pemasangan pin pada tulang.
Pin ini merawat tulang tetapi pin ini menembus kulit. Pin ini terhubung
dengan rigid bar (gambar 1).
3. Internal fixation : Perangkat yang diaplikasikan dan ditanam di dalam
tulang atau di permukaan tulang, seperti plates, sekrup, kait, kawat, dan
pin (gambar 2 dan 3).
Beberapa faktor pengobatan diatas pada patah tulang memiliki
karakteristik yang berbeda dalam penyembuhan.

7
Gambar 2. External fixation
dengan pin

Gambar 3. Internal fixation Gambar 4. Internal fixation


dengan Pelat dan sekrup dengan interlocking nails, bolts,
dan beberapa kawat

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau


tenaga fisik. Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat
tekanan yang berlebihan pada tulang. Macam-macam dari fraktur inkomplit
ialah stress fractures, growth plate fractures dan subcapital fractures. Tanda-
tanda klinis yang terlihat pun berupa nyeri, kelainan fungsi, deformitas,
ekstremitas memendek, krepitus dan pembengkakan local atau diskolorasi.
Penanganan fraktur yang utama adalah menyelamatkan jiwa pasien,
dengan cara external coaptation, external fixation dan internal fixation.

3.2 Saran
Hewan haruslah diperhatikan terutama untuk hewan yang tidak
dikandangkan yang lebih berpotensi mengalami fraktur ketika melakukan
kegiatan fisik sehari-hari.

9
DAFTAR PUSTAKA
American College of Veterinary Surgeons. 2018. https://www.acvs.org/small-
animal/fractured-limbs. (diakses pada tanggal 23 April 2018).
Brunner & Suddarth. (2005). Keperawatan Medikal Bedah.(edisi 8). Jakarta :
EGC
Koesharjono.C. 2010. Fraktur pada anjing dan kucing. http://veterinaryclinic-
drhkoes.blogspot.com/p/pincang-pada-anjing-dan-kucing.html Diakses 23
April 2018
Mahartha, GRA. 2013. Manajemen Fraktur Pada Trauma Muskuloskeletal. SMF
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum
Pusat Sanglah
Ningrat, Dewa. 2016. Fraktur Os Tibia Fibula Pada Anjing Lokal. Laboratorium
Bedah Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
PIERMATTEI, D.L.; FLO, G.L.; DECAMP. C.E. The Stifle Joint. In: Handbook
of Small Animal Orthopedics and Fracture Repair. 4.ed. Philadelphia:
Saunders, 2006. p.562-632
Price, S.A., dan Wilson, L. M., 2005, Patofisiologi: Konsep Klinis Prosesproses
Penyakit, Edisi 6, Vol. 2, diterjemahkan oleh Pendit, B. U., Hartanto, H.,
Wulansari, p., Mahanani, D. A.,Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Smeltzer, & Bare. 2005 Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner &
Suddart. Edisi 8, Vol 1, alih bahasa: Kuncara Monica Ester. Jakarta: EGC
Sudisma, I G.N., I G.A.G.P. Pemayun., A.A.G.J. Warditha., I W. Gorda.
2006.Ilmu Bedah Veteriner dan Teknik Operasi. Pelawa Sari. Denpasar.

10