Anda di halaman 1dari 69

1

ANALISIS PENGARUH FAKTOR EKONOMI MAKRO TERHADAP

RETURN SAHAM

(Studi Pada Perusahaan Sektor Pertambangan Sub Sektor Batubara Yang

Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2012 – 2017)

PROPOSAL

Irfan Naufal Zuhri

43115010292

Program Studi Manajemen

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MEERCU BUANA

JAKARTA

2018
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Irfan Naufal Zuhri

NIM : 43115010292

Program Studi : S1 Manajemen

Menyatakan bahwa proposal ini adalah murni hasil karya sendiri. Apabila saya

mengutip dari karya orang lain, maka saya mencantumkan sumbernya sesuai ketentuan

yang berlaku. Saya bersedia dikenai pembatalan proposal ini apabila terbukti

melakukan tindakan plagiat.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Jakarta, 28 Mei 2018

(Irfan Naufal Zuhri)


NIM : 43115010292

i
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat

dan karunia yang diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal yang

berjudul “ANALISIS PENGARUH FAKTOR EKONOMI MAKRO TERHADAP

RETURN SAHAM (Studi Pada Perusahaan Sektor Pertambangan Sub Sektor

Batubara Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Peride Tahun 2012 – 2017)”.

Penulisan proposal penelitian ini disusun untuk melengkapi tugas akhir dalam rangka

memenuhi syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Mercu Buana Jakarta.

Dalam penulisan proposal ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak

dalam menyelesaikan penulisan ini, dengan segala kerendahan hati penulis ingin

mengucapkan terima kasih atas segala bantuan, bimbingan dan dukungan yang telah di

berikan sehingga proposal ini dapat terselesaikan.

Jakarta, 28 Mei 2018

(Irfan Naufal Zuhri)


NIM : 4311501029

ii
DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ............................................................ i


KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar belakang penelitian ............................................................................... 1
B. Rumusan masalah penelitian .......................................................................... 8
C. Tujuan dan kontribusi penelitian ................................................................... 9
1. Tujuan penelitian ............................................................................................ 9
2. Kontribusi Penelitian ...................................................................................... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS .. 11
A. Kajian Pustaka ............................................................................................... 11
1. Pasar Modal .................................................................................................. 11
2. Investasi ........................................................................................................ 13
3. Saham ........................................................................................................... 15
4. Return Saham ............................................................................................... 16
5. Ekonomi Makro ............................................................................................ 18
6. Inflasi ............................................................................................................ 18
7. Suku Bunga .................................................................................................. 25
8. Kurs / Nilai Tukar ......................................................................................... 28
B. Penelitian Terdahulu ..................................................................................... 32
C. Rerangka pemikiran ...................................................................................... 36
D. Hipotesis .......................................................................................................... 37
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 40
A. Waktu dan tempat penelitian ........................................................................ 40
B. Desain penelitian ............................................................................................ 40
C. Definisi dan opersionalisasi variabel ............................................................ 41
D. Populasi dan Sample Penelitian .................................................................... 44

iii
1. Populasi ........................................................................................................ 44
2. Sampel .......................................................................................................... 45
E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................... 47
F. Metode Analisis .............................................................................................. 49
1. Uji Statistik Deskriptif .................................................................................. 50
2. Uji Stasioneritas ........................................................................................... 50
3. Analisis Regresi Data Panel ......................................................................... 52
4. Uji Pemilihan Model .................................................................................... 55
5. Pengujian Statistik Model ............................................................................ 57
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 59

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang penelitian

Perekonomian pada masa sekarang ini mengalami perkembangan pesat.

Orang mulai melakukan transaksi ekonomi melalui berbagai cara, salah satunya

yaitu dengan menginvestasikan harta atau uangnya melalui pasar modal.

Menurut (Tandelilin, 2010), pasar modal dapat didefinisikan sebagai: “pasar

untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari

satu tahun, seperti saham dan obligasi”. Tujuan utama investasi di pasar modal

adalah untuk menerima capital gain atau keuntungan. Yang dimana hasil

akhirnya haruslah lebih besar atau paling tidak sama dengan return yang

dikehendaki stockholder.

Peranan pasar modal menjadi semakin penting, mengingat fungsi pasar

modal sebagai tempat bertemunya pihak yang membutuhkan dana dan pihak

yang ingin menanamkan modalnya. Pasar modal merupakan salah satu

kekuatan bagi perusahaan untuk memobilisasi dana masyarakat dan juga

menjadi alternatif bagi perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan. Bagi

investor pasar modal merupakan sarana untuk menanamkan modalnya pada

surat berharga, akan tetapi dalam dunia bisnis hampir semua investasi

mengandung resiko. Dalam kaitanya dengan penanaman modal pada surat

1
2

berharga, investor dihadapkan pada resiko sehubungan dengan tingkat

keuntungan yang diharapkan menginginkan return yang tinggi tetapi selalu

menghindari resiko. Teori menyebutkan bahwa investasi yang mempunyai

return tinggi pasti akan mempunyai resiko yang tinggi juga, (Tandelilin,2010).

Dalam menentukan berinvestasi, investor harus mampu menganalisis saham

pada perusahaan – perusahaan dalam suatu sektor. Melihat saham mana yang

menawarkan return dan resiko yang sesuai investor inginkan. Investor bisa

menilai saham dengan melihat kinerja perusahaannya. Kinerja yang semakin

bagus, maka perusahaan itu akan memberikan return yang semakin besar.

Investasi merupakan penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan

ke aktiva produktif selama periode waktu yang tertentu. Dengan adanya aktiva

yang produktif, penundaan konsumsi sekarang untuk diinvestasikan ke aktiva

yang produktif tersebut akan meningkatkan utiliti total Jogiyanto (2012).

Menurut (Legiman, 2015) return saham merupakan hasil yang diperoleh dari

investasi. Harapan untuk memperoleh return juga terjadi dalam asset financial.

Suatu asset financial menunjukkan kesediaan investor menyediakan sejumlah

dana pada saat ini untuk memperoleh sebuah aliran dana pada masa yang akan

datang sebagai kompensasi atas faktor waktu selama dana ditanamkan dan

risiko yang ditanggung. Dengan demikian para investor sedang

mempertaruhkan suatu nilai sekarang untuk sebuah nilai yang diharapkan pada
3

masa mendatang. Dalam konteks manajemen investasi, return atau tingkat

keuntungan merupakan imbalan yang diperoleh dari investasi.

Berbagai upaya akan dilakukan investor untuk memperoleh keyakinan

bahwa investasi yang akan dilaksanakannya mendapatkan return yang sesuai

dengan yang diharapkan. Tujuan utama investor melakukan investasi adalah

untuk memperoleh return yang tinggi. Bagi para investor, return merupakan

salah satu parameter untuk menilai seberapa besar keuntungan suatu saham.

Investor yang akan berinvestasi di pasar modal terlebih dahulu melihat saham

perusahaan mana yang paling menguntungkan, dengan menilai kinerja

perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan yang memiliki kinerja cukup baik

akan lebih diminati oleh para investor. Investor akan membeli saham sesuai

kinerja perusahaan saat ini dan prospeknya di masa yang akan datang.

Dalam menentukan alternatif investasi, banyak pertimbangan yang

harus dikaji terlebih dahulu, salah satunya dari faktor eksternal, atau yang

lebih dikenal dengan faktor ekonomi makro. Faktor ekonomi makro

merupakan faktor yang tidak bisa diubah atau dikendalikan. Untuk faktor

ekonomi makro, para investor atau calon investor hanya mampu

menyesuaikan keadaan, sehingga faktor ini harus selalu dimonitor atau

dipantau dan dipresiksi pergerakannya. Adanya kesalahan dalam memprediksi

atau mengantisipasi faktor – faktor makro ekonomi akan berakibat kerugian

(Laksmiwati, 2012).
4

Oleh karena itu, dengan faktor ekonomi makro akan berpengaruh pada

meningkatnya harga saham dan diharapkan return saham yang dapat diterima

investor meningkat. Perhatian dalam persoalan investasi mencerminkan

perhatian terhadap informasi dalam menginterpretasikan informasi untuk

pengambilan keputusan.

Sebagai salah satu prospek yang dapat menjadi trend di waktu yang

akan datang adalah investasi di sektor tambang berupa Batubara. Karena,

industri Batubara saat ini menjadi salah satu sektor yang ikut berperan dalam

pembangunan ekonomi daerah dan Negara, dampak positif dari kegiatan

industri ini adalah memberikan kontribusi dalam pembukaan lapangan kerja,

pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan investasi, dan peningkatan nilai ekspor

negara, dan berbagai kontribusi lainnya dengan tingkat 7,2% disamping

industi, perdagangan besar, pertaniann & konstruksi (Extractive Industries

Transparency Initiatives EITI, 2016). Dan, sebagai negara dengan posisi

penghasil & pemakai Batubara terbanyak pertama yaitu China, pada sistem

pemerintahannya mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi produksi di

sektor pertambangan dengan mengurangi jumlah tambang sebanyak 7.000

titik dari sebelumnya 10.800 lokasi. Hal ini di tujukan untuk memangkas

produksi Batubara hingga 800 juta ton sampai tahun 2020 (Data National

Development and Reform Commission NDRC 2016). Yang seiring dengan

meningkatnya tingkat polusi di China.


5

Hal ini menjadi peluang bagi perusahaan – perusahaan pertambangan

Batubara di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar di China.

Gambar 1.1 : Grafik Reealisasi Produksi Batubara

Sumber : Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI)

Pada gambar 1.1 tersebut menunjukkan bahwa ekspor batubara pada

tahun 2013 hingga tahun 2015 terus mengalami penurunan hingga mencapai

angka 295 juta ton dan dari tahun 2015 sampai 2017 mengalami kenaikan yang

mencapai angka 364 juta ton. Kenaikan di dua tahun akhir tersebut di

akibatkan oleh kebijakan yang di terapkan pada negara China. Namun, hal

tersebut tidak sebanding dengan tingkat return yang dihasilkan perusahaan

terhadap investornya pada saat ini. Berikut pergerakan rata – rata return saham

perusahaan Batubara periode 2012 – 2017.


6

Grafik 1.2 : Grafik Pergerakan Return Perusahaan Batubara.

Rata - Rata Return Saham Perusahaan Batubara


periode 2012 - 2017
160%
135%
140%

120%

100%

80%

60%

40%

20% 8% 11%

0%
-20% -20%
-20% -34%

-40%

-60%
2012 2013 2014 2015 2016 2017
Series1 8% -20% -20% -34% 135% 11%

Sumber : Yahoo Finance

Pada grafik 1.2 dapat dilihat pergerakan retun saham perusahaan

Batubara yang mengalami fluktuasi dari tahun 2012 sampai 2017. Pergerakan

return saham cenderung mengalami penurunan, sehingga membuat investor

mengalami capital los yaitu investor mengalami kerugian karena harga saham

turun dibawah harga beli. Tujuan investor dalam berinvestasi adalah

memaksimalkan return.
7

Sumber-sumber return investasi memeliki beberapa komponen utama

seperti dari faktor eksternal, misalnya pengaruh kebijakan moneter dan fiskal,

perkembangan sektor industrinya, faktor ekonomi seperti terjadinya inflasi,

menurunnya nilai tukar mata uang domestik (dalam negeri) terhadap mata uang

asing, tingkat suku bunga dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, pada penelitian ini, penulis akan menganalisis faktor –

faktor yang dapat memengaruhi return saham dengan menggunakan faktor

ekonomi makro dengan menggunakan variabel Inflasi, Suku bunga, dan Kurs

/ Nilai tukar. Pada penelitian yang dilakukan oleh, (Kudryavtsev, 2014),

(Adusei, 2014) menyatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap return

saham. Hasil penelitian tersebut berbeda dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh (Oshaibat, 2016) dan (Kuwornu, 2011) yang menyatakan

bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.

Sementara penelitian yang dilakukan oleh (Purnomo dan Widyawati, 2013),

(Mahilo dan Parengkuan, 2015) dan (Komariah et al, 2012) mendapatkan hasil

bahwa inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Menurut

(Sadikin, 2010) Suku bunga berpengaruh negatif signifikan terhadap return

saham, berbeda dengan (Alfiatul et all, 2016) Suku bunga berpengaruh Positif

signifikan terhdap return saham. (Wilda, 2017) mendapatkan hasil dalam

peneiltiannya bahwa Suku bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap

tingkat saham (return). Sedangkan Kurs terhadap return saham menurut


8

(Wilda, 2017) nilai tukar rupiah (kurs) berpengaruh secara signifikan terhadap

return saham. Berbeda dengan (Alfiatul et al, 2016) dalam menelitiannya

menunjukan bahwa Kurs berpengaruh negatif tidak signifikan terhdap return

saham.

Berdasarkan fenomena tersebut serta penelitian – penelitian terdahulu

yang menunjukkan ketidak konsistenan antara pengaruh faktor ekonomi

makro terhadap return saham, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian lebih lanjut pada perusahaan Batubara dengan judul, “ANALISIS

PENGARUH FAKTOR EKONOMI MAKRO TERHADAM RETURN

SAHAM” (Studi Pada Perusahaan Sektor Pertambangan Sub Sektor Batubara

Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Peride Tahun 2012-2017).

B. Rumusan masalah penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan batasan

masalah diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah Inflasi berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan

Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 – 2017 ?

2. Apakah Suku bunga berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan

Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 – 2017 ?


9

3. Apakah Kurs / Nilai tukar berpengaruh terhadap return saham pada

perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012

– 2017 ?

C. Tujuan dan kontribusi penelitian

1. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1) Untuk mengetahui pengaruh Inflasi terhadap return saham pada

perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode

2012 – 2017.

2) Untuk mengetahui pengaruh Suku bunga SBI terhadap return saham

pada perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

periode 2012 – 2017.

3) Untuk mengetahui pengaruh Kurs / Nilai tukar terhadap return

saham pada perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2012 – 2017.

2. Kontribusi Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi

manajemen perusahaan dan bagi penyusun maupun pembaca.

1) Bagi Investor dan Calon Investor


10

Hasil penelitian ini dapat memberikan acuan pengambilan

keputusan dan investasi terkait dengan return saham yang sering

fluktuatif.

2) Bagi Manajemen Perusahaan

Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam penentuan harga

saham oleh manajer keuangan sehingga dapat dijadikan acuan

dalam pengambilan keputusan untuk menentukan harga saham yang

wajar agar investor tetap tertarik dengan saham perusahaan yang

bersangkutan.

3) Bagi Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan pengembangan

ilmu manajemen maupun keuangan mengenai kajian return saham.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

1. Pasar Modal

a. Pengertian Pasar Modal

Pasar Modal merupakan situasi yang mana memberikan

ruang dan peluang penjual dan pembeli bertemu dan

bernegosiasi dalam pertukaran komuditas dan kelompok

komuditas modal. Modal disini, baik modal yang berbentuk

hutang (obligasi) maupun modal ekuitas (equity). Tempat untuk

pertukaran modal inilah yang selanjutnya disebut Pasar Modal

(Bursa Efek) (Nor Hadi, 2015). Menurut (Joel G. siegel dan Jae

K.shim, 1999) pasar modal adalah pusat perdagangan utang

jangka panjang dan saham perusahaan.

Dapat disimpukan bahwa pasar modal merupakan pasar

yang diperjual belikannya instrumen keuangan jangka panjang

antara penjual dan pembeli baik itu individu, korporasi maupun

pemerintah. Pasar modal memiliki peran besar dalam

pertumbuhan perekonomian nasional. Selain sebagai sarana

berinvestasi, pasar modal juga merupakan sumber dana bagi

perusahaan.

11
12

b. Manfaat Pasar Modal

Menurut Nor Hadi (2013) sebagai wadah yang terorganisir

berdasarkan Undang-undang untuk mempertemukan antara

investor sebagai pihak yang surplus dana untuk berinvestasi

dalam instrumen keuangan jangka panjang, pasar modal

meimiliki manfaat antara lain :

1) Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi

dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana

secara optimal.

2) Alternative investasi yang memberikan potensi keuntungan

dengan risiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan,

likuiditas, dan diversifikasi investasi.

3) Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat

dan mempunyai prospek, keterbukaan dan profesionalisme,

menciptakan iklim berusaha yang sehat.

4) Menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik.

5) Memberikan akses control social.

6) Menyediakan leading indikator bagi trend ekonomi Negara

c. Fungsi Pasar Modal

Menurut Nor Hadi (2013) Pasar modal memberikan fungsi

besar bagi pihak-pihak yang ingin memperoleh keuntungan

dalam investasi. Fungsi pasar modal tersebut antara lain:


13

1. Bagi perusahaan

Pasar modal memberikan ruang dan peluang

bagi perusahaan untuk memperoleh sumber dana yang relatif

memiliki resiko investasi (cost of capital) rendah

dibandingkan sumber dana jangka pendek dari pasar uang.

2. Bagi investor

Alternative investasi bagi pemodal, terutama pada instrumen

yang memberikan likuiditas tinggi. Pasar modal memberikan

ruang investor dan profesi lain memanfaatkan untuk

memperoleh return yang cukup tinggi.

3. Bagi Perekonomian Nasional

Dalam daya dukung perekonomian nasional, pasar modal

memiliki peran penting dalam rangka meningkatkan dan

mendorong pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Hal

tersebut ditunjukan dengan fungsi pasar modal yang

memberikan sarana bertemunya antara lender dengan

borrower.

2. Investasi

a. Pengertian Investasi

Menurut Jogiyanto (2012), investasi adalah penundaan

konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama

periode waktu yang tertentu. Dengan adanya aktiva yang produktif,

penundaan konsumsi sekarang untuk diinvestasikan ke aktiva yang


14

produktif tersebut akan meningkatkan utiliti total. Definisi menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), investasi diartikan sebagai

penanaman uang di suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan

memperoleh keuntungan.

Sedangkan menurut Tandelilin (2010) Investasi merupakan

komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya yang

dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah

keuntungan di masa datang. Seorang investor membeli sejumlah

saham saat ini dengan harapan memperoleh keuntungan dari

kenaikan harga saham ataupun sejumlah deviden di masa yang akan

datang, sebagai imbalan atas waktu dari risiko yang terkait dengan

investasi tersebut.

b. Tujuan Investasi

Menurut Tandelilin (2010) Untuk mencapai suatu efektivitas

dan efisiensi dalam keputusan investasi terdapat beberapa tujuan

dalam melakukan investasi, yaitu:

a. Mendapat kesejahteraan atau kehidupan yang lebih baik dimasa

yang akan datang. Seseorang akan berfikir bagaimana untuk

dapat meningkatkan taraf hidupnya untuk memperoleh

kehidupan yang lebih layak di masa depan.

b. Membantu mengurangi tekanan inflasi.


15

c. Terciptanya keuntungan dalam investasi yang

berkesinambungan (continuity).

d. Penghematan pajak.

3. Saham

a. Pengertian Saham

Saham adalah salah satu surat berharga yang

diperdagangkan di pasar modal. Menurut (Tjiptono Darmadji dan

Fakhruddin, 2012) saham adalah tanda penyertaan atau pemilikan

seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseorangan

terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan

bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang

menerbitkan surat berharga tersebut.” Sedangkan menurut

(Martalena dan Malinda, 2011) Saham dapat didefinisikan sebagai

tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam

suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan

modal tersebut maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapat

perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

b. Jenis – Jenis Saham

Menurut Tjiptono Darmadji dan Fakhruddin (2012) terdapat

dua jenis saham, antara lain:


16

1) Saham Biasa (Common Stock)

Saham biasa merupakan saham yang mendapatkan

pemiliknya paling junior terhadap pembagian dividen,

dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila

perusahaan tersebut dilikuidasi.

2) Saham Preferen (Preferred Stock)

Saham preferen merupakan saham yang memiliki

karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa.

Karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti

bunga obligasi), tetapi juga bisa mendatangkan hasil

seperti yang dikehendaki investor.

4. Return Saham

a. Pengertian Return Saham

Menurut Jogiyanto (2010) return merupakan hasil yang

diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi yang

sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi tetapi yang

diharapakan akan terjadi dimasa mendatang. Return realisasi

(realizad return) dihitung menggunakan data historis. Return

realisasi sangat penting karena digunakan sebagai salah satu

pengukur kinerja dari perusahaan dan dasar penentuan return

ekpektasi. Return ekspetasi (expected return) adalah return yang

diharapkan akan diperoleh investor dimasa mendatang.


17

b. Jenis – Jenis Return

Menurut Jogiyanto (2010), jenis return ada dua yaitu return

realisasi dan return ekspektasi.

1. Return Realisasi

Return realisasi merupakan return saham yang telah

terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data

historis. Pentingnya return saham ini karena digunakan

indikator kinerja atau keberhasilan perusahaan. Return

realisasi (realized return ) merupakan return saham yang

telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data

historis. Return historis juga berguna sebagai dasar

penentuan return ekspektasi (expected return) dan risiko

di masa mendatang. Ekspektasi biasanya digunakan

sebagai dasar analisa teknikal yaitu menggunakan pola

pergerakan harga saham masa lalu untuk memprediksi

harga saham di masa mendatang.

2. Return Ekspektasi

Return ekspektasi adalah return saham yang diharapkan

akan diperoleh oleh investor di masa mendatang dan

return ekspektasi siftnya belum terjadi. Return saham ini

dapat dihitung dengan mengalikan masing – masing hasil

masa depan (outcome) dengan probabilitas kejadiannya

dan menjumlah semua produk oerkalian tersebut.


18

5. Ekonomi Makro

a. Teori Ekonomi Makro

Menurut Sukirno, (2000) teori makro ekonomi adalah ilmu

membuat analisis mengenai kegiatan dalam suatu perekonomian

dari sudut pandangan yang berbeda dari teori mikro ekonomi.

Analisis makro ekonomi merupakan analisis terhadap keseluruhan

kegiatan perekonomian. Analisisnya bersifat umum dan tidak

memperhatikan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh unit-unit

kecil dalam perekonomian.

Menurut Keynes (1936) Ekonomi makro atau

makroekonomi adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan.

Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang

memengaruhi banyak masyakarakat, perusahaan, dan pasar.

Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik

untuk memengaruhi target – target kebijaksanaan seperti

pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian

keseimbangan neraca yang berkesinambungan.

6. Inflasi

a. Pengertian Inflasi

Inflasi merupakan kenaikan harga barang – barang secara

umum yang disebabkan oleh turunnya nilai mata uang pada suatu

periode tertentu. Nopirin (2009) mendefinisikan inflasi sebagai


19

proses kenaikan harga-harga umum barang – barang secara terus –

menerus. Menurut (Nopirin, 2009) terdapat berbagai jenis Inflasi,

antara lain:

1) Jenis inflasi menurut sifatnya

a) Creeping inflation adalah inflasi yang ditandai

dengan kenaikan harga yang lambat, dengan

persentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif

lama. Laju inflasi rendah (kurang dari 10% pertahun)

b) Galloping inflation adalah inflasi yang ditandai

dengan kenaikan harga yang cukup besar (biasanya

double digit atau bahkan triple digit) dan kadang kala

berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta

mempunyai sifat akselerasi. Artinya harga-harga

minggu/bulan ini lebih tinggi dari minggu/bulan lalu

dan seterusnya.

c) Hyper inflation merupakan inflasi yang paling parah

akibatnya. Harga-harga naik sampai 5 atau 6 kali.

Masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk

menyimpan uang. Nilai uang merosot dengan tajam,

perputaran uang makin cepat, harga naik secara

akselerasi. Biasanya keadaan ini timbul apabila

pemerintah mengalami defisit anggaran belanja

(misalnya ditimbulkan oleh adanya perang) yang


20

dibelanjai/ditutup dengan mencetak uang.

2) Jenis inflasi menurut sebabnya

a) Demand full inflation adalah inflasi yang bermula

dari adanya kenaikan permintaan total (agregat

demand), sedangkan produksi telah berada pada

keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir

mendekati kesempatan kerja penuh.

b) Cost – pushi inflation adalah inflasi yang ditandai

dengan kenaikan harga serta turunnya produksi.

b. Efek Inflasi

Inflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan alokasi

faktor-faktor serta produksi nasional (Nopirin, 2009). Efek terhadap

produksi pendapatan disebut Equity Effect, sedangkan efek terhadap

faktor produksi dan produksi nasional masing-masing disebut

dengan Efficiency dan Output Effect.

1) Efek terhadap Pendapatan (Equity Effect)

Sifatnya tidak merata ada yang dirugikan tetapi ada

pula yang merasa diuntungkan dengan adanya inflasi. Pihak-

pihak yang mendapat keuntungan dari inflasi adalah

pihakpihak yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan

prosentase yang lebih besar dari laju inflasi tersebut. Seorang

yang berpenghasilan tetap akan dirugikan dengan adanya


21

inflasi. Dengan demikian inflasi dapat menyebabkan

terjadinya perubahan besar dalam pola pembagian

pendapatan dan kekayaan masyarakat umum. Inflasi ini

seolah-olah merupakan pajak bagi beberapa pihak dan

merupakan subsidi bagi orang lain.

2) Efek Terhadap Efisiensi (Efficiency Effect)

Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-

faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan

permintaan akan berbagai macam barang tertentu yang

mengalami kenaikan lebih besar daripada barang lain, yang

kemudian dapat mendorong kenaikan produksi barang

tersebut. Kenaikan barang ini pada gilirannya akan mengubah

pola alokasi faktor produksi yang telah ada. Tidak ada

pendapat yang menjamin bahwa alokasi faktor produksi

tersebut lebih efisien pada keadaan tidak terdapat inflasi.

Nmaun kebanyakan pendapat tersebut menyebutkan bahwa

inflasi dapat menyebabkan alokasi factor produksi dapat

berubah menjadi tidak efisien.

3) Efek Terhadap Output (Output Effect)

Dalam analisa kedua efek tersebut di atas terdapat

suatu anggapan bahwa output dalam keadaan tetap. Inflasi

mengkin dapat mengakibatkan kenaikan produksi. Karena

dalam keadaan adanya inflasi, biasanya kenaikan barang


22

mendahului kenaikan upah sehingga pengusaha mendapatkan

keuntungan yang bertambah. Kenaikan keuntungan ini akan

mendorong kenaikan produksi. Namun apabila laju inflasi

tersebut cukup tinggi (hyper inflation) akan mempunyai

akibat yang sebaliknya yaitu penurunan output. Intensitas

efek inflasi ini berbeda-beda, tergantung kepada apakah

inflasi tersebut dibarengi dengan kenaikan produksi dan

employment atau tidak. Apabila produksi barang ikut naik,

maka kenaikan produksi sedikit banyak dapat memperlambat

laju inflasi. Tetapi apabila ekonomi mendekati kesempatan

kerja penuh (full employment) sering disebut inflasi umum

(pure inflation).

c. Cara Mencegah Inflasi

Cara-cara mencegah inflasi menurut Nopirin (2009) dapat

menggunakan beberapa kebijakan, diantaranya:

1) Kebijakan moneter

Sasaran kebijakan moneter dicapai melalui

pengaturan jumlah uang beredar. Salah satu komponen uang

beredar adalah uang giral (demand deposit). Bank sentral

dapat mengatur uang giral melalui penetapan cadangan

minimum. Untuk menekan laju inflasi cadangan minimum ini

dinaikkan sehingga jumlah uang menjadi lebih kecil.


23

Disamping cara ini bank sentral juga dapat menggunakan

tingkat diskonto (discount rate). Discount rate adalah tingkat

diskonto untuk pinjaman yang diberikan oleh bank sentral

pada bank umum.

Apabila tingkat diskonto ini dinaikkan (oleh bank

sentral), maka gairah bank umum untuk meminjam makin

kecil sehingga cadangan yang ada pada bank sentral juga

mengecil. Akibatnya kemampuan bank umum memberikan

pinjaman pada masyarakat makin kecil sehingga jumlah uang

beredar turun dan inflasi dapat dicegah.

Politik pasar terbuka juga dapat mencegah terjadi

inflasi. Politik pasar terbuka adalah suatu kebijaksanaan dari

Bank Sentral untuk menjual surat-surat berharga seperti

obligasi Negara terhadap masyarakat. Maka ini berakibat

berkurangnya uang beredar dari tangan masyarakat, dan

menyebabkan permintaan terhadap barang berkurang serta

barang-barang dapat dijual seluruhnya apabila harga

diturunkan. Dengan demikian inflasi dapat dikurangi

tekanannya.

2) Kebijakan fiskal

Kebijakan fiskal menyangkut peraturan tentang

pengeluaran pemerintah serta perpajakan yang secara

langsung dapat mempengaruhi permintaan total dan dengan


24

demikian akan mempengaruhi harga. Inflasi dapat dicegah

melalui penurunan pengeluaran pemerintah serta kenaikan

pajak akan dapat mengurangi permintaan total, sehingga

inflasi dapat dicegah.

3) Kebijakan yang berkaitan dengan output

Kenaikan output dapat memperkecil laju inflasi.

Kenaikan jumlah output dini dapat dicapai misalnya dengan

kebijakan penurunan bea masuk sehingga impor barang

cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang di dalam

negeri cenderung menurunkan harga.

4) Kebijakan penentuan harga dan indexing

Kebijakan ini dilakukan dengan penentuan ceiling

harga serta mendasarkan pada indek harga tertentu untuk gaji

ataupun upah (dengan demikian gaji/upah secara riil tetap).

Kalau indeks harga naik, maka gaji/upah juga dinaikkan

Sumber-Sumber Inflasi Tingkat inflasi domestik akan selalu

berubah menyesuaikan diri dengan tingkat inflasi dunia.

Tetapi hal itu tidak berarti bahwa perubahan stok uang

domestik tidak berpengaruh pada harga-harga domestik.

Ekspansi uang dan kredit yang berlebihan tetap akan

mengakibatkan inflasi domestik yang untuk sementara waktu

melebihi tingkat inflasi dunia.

Di negara berkembang dengan sistem kurs tetap,


25

kebijakan yang harus diadopsi untuk menghindari tingkat

inflasi karena pengaruh inflasi dunia adalah lebijakan fiskal

bukan kebijakan moneter. Jika defisit anggaran tidak terjaga

instrumen kebijakan moneter yang paling tepat sekalipun

akan sulit untuk menjaga inflasi, devaluasi atau keduanya.

7. Suku Bunga

a. Pengertian Suku Bunga

Suku Bunga adalah biaya pinjaman atau harga yang

dibayarkan untuk dana pinjaman tersebut biasanya dinyatakan

dalam presentase (Mishkin, 2008). Oleh karena itu, bunga juga dapat

diartikan sebagai uang yang diperoleh atas pinjaman yang diberikan.

Suku bunga pada dasarnya mempunyai dua pengertian sesuai

dengan peninjauannya yaitu bagi bank dan bagi pengusaha. Bagi

bank, bunga adalah suatu pendapatan atau suatu keuntungan atas

peminjaman uang oleh pengusaha atau nasabah. Dan bagi

pengusaha bunga dianggap sebagai ongkos produksi ataupun biaya

modal. Suku bunga yang tinggi akan mendorong investor untuk

menanamkan dananya di bank daripada menginvestasikannya pada

sektor produksi atau industri yang memiliki tingkat risiko lebih

besar. Sehingga dengan demikian, tingkat inflasi dapat dikendalikan

melalui kebijakan tingkat suku bunga (Khalwaty, 2010).

b. Macam-Macam Suku Bunga

Suku bunga bank menurut Kasmir, (2009) Dalam kegiatan


26

perbankan sehari-hari ada 2 macam bunga yang diberikan kepada

nasabahnya yaitu :

1) Bunga simpanan adalah bunga yang diberikan sebagai

rangsangan atau balas jasa bagi nasabah yang menyimpan

uangnya di bank. Bunga simpanan merupakan harga yang

harus dibayar bank kepada nasabahnya. Sebagai contoh jasa

giro, bunga tabungan dan bunga deposito.

2) Bunga pinjaman yaitu bunga yang diberikan kepada para

peminjam atau harga yang harus dibayar oleh nasabah

peminjam kepada bank. Setiap masyarakat yang melakukan

interaksi dengan bank, baik itu interaksi dalam bentuk

simpanan, maupun pinjaman (kredit), akan selalu terkait, dan

dikenakan dengan yang namanya bunga.

Bagi masyarakat yang menanamkan dananya kepada bank,

baik itu simpanan tabungan, deposito, dan giro akan dikenai suku

bunga simpanan (dalam bentuk %). Suku bunga ini merupakan

rangsangan dari bank agar masyarakat mau menanamkan

dananya pada bank. Semakin tinggi suku bunga simpanan, maka

masyarakat akan semakin giat untuk menanamkan dananya pada

bank, dikarenakan harapan mereka untuk memperoleh

keuntungan. Dan begitu sebaliknya, semakin rendah suku bunga

simpanan, maka minat masyarakat dalam menabung akan

berkurang sebab masyarakat berpandangan tingkat keuntungan


27

yang akan mereka peroleh di masa yang akan datang dari bunga

adalah kecil.

Berbeda halnya dengan suku bunga simpanan. Suku bunga

pinjaman dikenakan pada masyarakat yang ingin meminjam dana

pada bank. Suku bunga kredit ini sangat bergantung dari jenis

kredit yang diinginkan. Semakin tinggi bank mengenakan suku

bunga kredit, minat masyarakat untuk meminjam kredit semakin

berkurang, sebab mereka dihadapkan dengan jumlah pembayaran

kredit ditambah bunga yang tinggi. Dan ini memberatkan

masyarakat yang bersangkutan dalam meminjam kredit, dan

melunasi kreditnya di masa yang akan datang. Namun

sebaliknya, apabila bank mengenakan suku bunga kredit

(pinjaman) yang rendah maka minat masyarakat dalam

meminjam kredit bertambah besar, khususnya kredit usaha

mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan semakin

rendahnya suku bunga kredit, khususnya kredit untuk UMKM,

maka akan memicu pertumbuhan, dan perkembangan jumlah

UMKM, yang berarti dapat mengurangi jumlah pengangguran.

Sebab bagaimanapun juga UMKM selama ini dikenal sebagai

penopang jumlah tenaga kerja di Indonesia yang semakin

melimpah, dan agar tidak menganggur.

Untuk menentukan tingkat bunga, kreditur

memperhitungkan dana yang harus dikeluarkan berupa bunga


28

tabungan atau deposito serta faktor kemungkinan bahwa debitur

tidak membayar kembali kreditnya tepat waktu sesuai perjanjian

atau bahkan tidak membayar sama sekali. Selain itu, kreditur juga

mempertimbangkan biaya-biaya yang harus diperhitungkan

berupa kerugian akibat penurunan nilai yang terjadi selama uang

dipinjamkan. Dengan demikian, tingkat bunga yang berlaku

adalah tingkat bunga yang disepakati oleh debitur dan kreditur

yang merupakan penjumlahan dari unsur tingkat bunga dana,

premi risiko dan penurunan nilai uang.

8. Kurs / Nilai Tukar

a. Pengertian Nilai Tukar

Nilai tukar merupakan harga di dalam pertukaran dan dalam

pertukaran antara 2 macam mata uang yang berbeda, akan terdapat

perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut.

Perbandingan nilai inilah yang disebut kurs/exchange rate (Nopirin,

2009). Nilai tukar riil adalah nilai tukar nominal yang sudah

dikoreksi dengan harga relatif yaitu harga-harga didalam negeri

dibandingkan dengan harga-harga diluar negeri. Perbedaan tingkat

kurs ini timbul karena beberapa hal, diantaranya:

1) Perbedaan antara kurs beli dan kurs jual oleh para pedagang

valuta asing. Kurs beli adalah kurs yang dipakai apabila para

pedagang valas atau bank membeli valuta asing, sedangkan

kurs jual adalah apabila mereka menjual maka selisih kurs


29

tersebut merupakan keuntungan bagi para pedagang.

2) Perbedaan kurs yang diakibatkan oleh perbedaan dalam

waktu pembayaran. Di dalam pembayaran valas yang lebih

cepat akan mempunyai kurs yang lebih tinggi.

3) Perbedaan kurs karena tingkat keamanan dalam penerimaan

hak pembayaran.

Pasar valuta asing mempunyai fungsi pokok dalam

membantu kelancaran lalu lintas pembayaran internasional antara

lain:

1) Mempermudah penukaran valas serta pemindahan dan dari

suatu Negara ke Negara lain.

2) Memberikan kemudahan untuk dilaksanakan

perjanjian/kontrak jual beli dengan kredit.

3) Mempermudah dilakukannya “hedging” yaitu membantu

pedagang yang melakukan transaksi jual dan beli valas

dipasar yang berbeda, yang bertujuan untuk

menghilangkan/mengurangi resiko akibat kerugian kurs.

(Nopirin, 2009)

b. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Nilai Tukar

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kurs menurut

Sukirno (2012) adalah sebagai berikut :

1) Perubahan dalam cita rasa masyarakat

Cita rasa masyarakat mempengaruhi corak konsumsinya.


30

Perubahan citarasa masyarakat akan mengubah corak

konsumsinya atas barang-barang yang diproduksi di dalam

maupun di luar negeri. Perbaikan kualitas barang-barang

dalam negeri menyebabkan keinginan mengimpor berkurang

dan juga dapat menaikkan ekspor. Sedangkan perbaikan

kualitas barang-barang impor menyebabkan keinginan

masyarakat untuk mengimpor bertambah besar. Perubahan-

perubahan ini menyebabkan permintaan dan penawaran

valuta asing.

2) Perubahan harga barang ekspor dan impor

Harga suatu barang merupakan salah satu faktor penting yang

menentukan apakah suatu barang akan diimpor atau diekspor.

Barang-barang dalam negeri yang dapat dijual dengan harga

yang relatif murah akan menaikkan ekspor dan apabila

harganya naik maka ekspornya akan berkurang. Pengurangan

harga barag impor akan menambah jumlah impor dan

kenaikan harga barang impor akan mengurangai impor.

Dengan demikian perubahan harga barang ekspor dan impor

akan menyebabkan perubahan dalam permintaan dan

penawaran valuta asing.

3) Kenaikan harga umum (inflasi)

Inflasi sangat besar pengaruhnya terhadap kurs pertukaran


31

valuta asing. Inflasi yang terjadi pada umumnya cenderung

menurunkan nilai valuta asing.

4) Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi

Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang rendah

cenderung akan menyebabkan modal dalam negeri mengalir

ke luar negeri Sedangkan suku bunga dan tingkat

pengembalian investasi yang tinggi akan menyebabkan

modal luar negeri masuk ke dalam negeri. Nilai mata uang

suatu negara akan merosot apabila lebih banyak modal negara

dialirkan ke luar negeri karena suku bunga dan tingkat

pengembalian investasi yang lebih tinggi di negara-negara

lain.

5) Pertumbuhan ekonomi

Efek yang akan diakibatkan oleh suatu kemajuan ekonomi

kepada nilai mata uangnya tergantung pada pertumbuhan

ekonomi yang terjadi. Apabila kemajuan ekonomi

diakibatkan oleh perkembangan ekspor, maka permintaan

atas mata uang akan bertambah lebih cepat dari

penawarannya sehingga nilai mata uang tersebut akan naik.

Akan tetapi, jika kemajuan ekonomi menyebabkan impor

berkembang lebih cepat dari ekspor maka penawaran atas

mata uang akan bertambah lebih cepat dari permintaannya

sehingga nilai mata uang tersebut akan merosot.


32

B. Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Yang Relevan


No. Peneliti dan Judul Penelitian Variabel Variable Hasil
Tahun Independen Dependen Penelitian
1. John K. M. Effect of Inflation rate, Stock Hasil
Kuwornu Macroeconomic crude Oil price, Return penelitian
(2011) Variables on Exchange rate, menunjukan
the Ghanaian & Interest rate Tingkat inflasi
Stock Market berhubungan
Returns: A Co- positif dan
integration signifikan
Analysis dengan return
saham, Harga
minyak
mentah
berhubungan
negatif dengan
return saham,
Nilai tukar
memiliki
hubungan
positif
terhadap
return saham,
dan Suku
bunga
berpengaruh
positif tetapi
tidak
signifikan
2. Gul dan An Application Jumlah uang Return Hasil
Khan of Arbitrage beredar, Suku Saham penelitian
(2013) Pricing Theory bunga, Produksi menunjukkan
on KSE-100 industri, dan variabel yang
Index ; A study Kurs. digunakan
from Pakistan dalam modal
(2002-2005) APT kurang
mampu dalam
memprediksi
return saham
Pakistan.
33

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Yang Relevan


3. Livia Halim Pengaruh BI rate, Inflasi, Return Hasil
(2013) Makro Jumlah Uang Saham penelitian
Ekonomi Beredar, Nilai menunjukkan
terhadap Return Tukar, BI rate dan
Saham inflasi
Kapitalisasi berpengaruh
Besar di Bursa negatif
Efek Indonesia terhadap
return saham,
sedangkan
jumlah uang
beredar dan
nilai tukar
mempunyai
pengaruh yang
positif
terhadap
return saham.
4. R. Deden Analisis Suku bunga dan Return Hasil
Mulyadin Pengaruh Suku IHSG Saham penelitian
(2013) Bunga dan menunjukkan
IHSG suku bunga
terhadap Return dan IHSG
Saham pada berpengaruh
Sektor positif
Pertambangan terhadap
Periode 2008- return saham
2012. pada
perusahaan
sektor
Pertambangan.
5. Ishfaq Do Interest Interest Rate, Return Hasil
Ahmad Rate, Exchange Exchange Rate Saham penelitian
(2010) Rate effect menemukan
Stock bahwa
Returns?A variabel suku
Pakistani bunga secara
Perspective. signifikan
International memengaruhi
Research return saham.
Journal of
Finance
and Economics
34

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Yang Relevan


6. Sudarsono Faktor-faktor inflasi, tingkat Return Hasil
dan yang suku bunga, Saham penelitian
Sudiyatno mempengaruhi nilai tukar, menunjukan
(2016) return saham ROA, DER, Nilai tukar
pada ukuran Rupiah
perusahaan perusahaan. terhadap US
property dan Dollar
real estate yang berpengaruh
terdaftar pada positif
bursa efek signifikan
indonesia terhadap
return saham.
7. Serkan Macroeconomic Exchange rate, Stock Hasil
Yilmaz Variables, Firm interest rate, Return penelitian ini
Kandir Characteristics world market, menemukan
(2008) and Stock inflation rate, hasil bahwa
Returns: industrial Nilai tukar,
Evidence from production, suku bunga,
Turkey money supply dan inflasi
and oil prices berpengaruh
signifikan
terhadap
return saham.
Sedangkan
tingkat
produksi
industry,
suplai uaang,
dah harga
minyak tidak
signifikan
terhadap
return saham.
8. Kirui et al. Macroeconomic Macroeconomic Stock Hasil
(2014) Variables, Variable Return Penelitian
Volatility and Volatility and menunjukkan
Stock Market Stock Market bahwa inflasi
Returns: A Returns dan suku
Case of Nairobi bunga tidak
Securities berpengaruh
Exchange terhadap
Kenya return saham.
35

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Yang Relevan


9. Made Satria Pengaruh Suku Bunga, Return Hasil
Wiradharma Tingkat Suku Tingkat Inflasi, Saham penelitian
A dan Luh Bunga, Tingkat Nilai Kurs menunjukan
Komang Inflasi, Nilai Rupiah Dan tingkat suku
Sudjarni Kurs Rupiah Produk bunga
(2016) Dan Produk Domestik Bruto berpengaruh
Domestik Bruto positif
Terhadap signifikan
Return Saham terhadap
return saham.
Tingkat inflasi
dan Nilai kurs
rupiah, tidak
berpengaruh
terhadap
return saham.
Sedangkan
Produk
Domestik
Bruto
berpengaruh
negatif
signifikan
terhadap
return saham.
10. Tri Hendra Pengaruh Nilai Nilai Tukar, Return Hasil
Purnomo Tukar, Suku Suku Bunga, Saham penelitian
dan Nurul Bunga, dan dan Inflasi menunjukan
Widyawati Inflasi nilai tukar,
(2013) Terhadap suku bunga,
Return Saham dan inflasi
Pada secara
Perusahaan simultan
Properti berpengaruh
terhadap
return saham.
36

C. Rerangka pemikiran

Menurut Sugiyono (2014) mengemukakan bahwa kerangka berpikir

merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan

berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

Berdasarkan beberapa uraian di atas maka pengaruh dari masing – masing

variabel independent terhadap variabel dependent dapat digambarkan dalam

model paradigma seperti gambar 2.1 dibawah ini :

Gambar 2.1 Rerangka Pemikiran

INFLASI
(X1) (H1)

SUKU BUNGA (H2) RETURN SAHAM


(X2) (Y)
(H3)
KURS / NILAI TUKAR
(X3)

Keterangan :

X1 : Inflasi

X2 : Suku Bunga

X3 : Kurs / Nilai Tukar

H1 : Pengaruh Inflasi terhadap return saham

H2 : Pengaruh Suku Bunga terhadap return saham

H3 : Pengaruh Kurs / Nilai Tukar terhadap return saham


37

D. Hipotesis

1. Pengaruh Inflasi terhadap return saham

Tandelilin (2010) mengatakan bahwa secara relatif inflasi

berpengaruh negatif terhadap return saham. Inflasi yang tinggi

mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat. Inflasi yang terlalu

tinggi juga dapat mengakibatkan penurunan pendapatan riil investor dari

investasinya. Peningkatan inflasi berdampak pada peningkatan harga

jual dan biaya produksi perusahaan. Apabila biaya produksi mengalami

peningkatan lebih tinggi daripada peningkatan penjualan perusahaan

maka profitabilitas perusahaan mengalami penurunan yang berakibat

terhadap penurunan tingkat return saham. Sebaliknya apabila penjualan

perusahaan mengalami peningkatan yang lebih tinggi daripada biaya

produksi perusahaan maka profitabilitas perusahan mengalami

peningkatan. Penelitian yang dilakukan oleh (Made Ayu, 2017)

mengenai hubungan antara tingkat inflasi terhadap return saham

menemukan bahwa tingkat inflasi berpengaruh negatif dan signifikan

terhadap return saham. Hal ini menjadi dasar pengembangan hipotesis

yang diajukan yaitu:

H1 : Inflasi berpengaruh negatif terhadap return saham.


38

2. Pengaruh Suku Bunga terhadap return saham

Tandelilin (2010) menyatakan bahwa tingkat suku bunga

berpengaruh negatif terhadap return saham. Perubahan tingkat suku

bunga menyebabkan perubahan pada tingkat suku bunga yang

diisyaratkan pada suatu sekuritas. Meningkatnya tingkat suku bunga

mengakibatkan investor dapat menarik investasinya di pasar modal dan

memindahkan investasinya pada tabungan atau deposito. Halim (2013)

meneliti mengenai analisis pengaruh variabel makroekonomi terhadap

return saham di Indonesia menemukan bahwa tingkat suku bunga

(interest rate) berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham.

Hal inilah yang menjadi dasar dalam perumusan hipotesis yang diajukan

dalam penelitian ini, yaitu

H2 : Suku bunga berpengaruh negatif terhadap return saham.

3. Pengaruh Kurs / Nilai Tukar terhadap return saham

Menguatnya kurs mata uang domestik terhadap mata uang asing

merupakan sinyal positif bagi perekonomian yang sedang mengalami

inflasi. Menguatnya kurs mata uang domestik terhadap mata uang asing

akan menurunkan biaya impor bahan baku untuk produksi dan akan

menurunkan tingkat suku bunga yang berlaku. Hal ini akan

mengakibatkan investor untuk membeli saham yang berakibat pada

peningkatan harga saham dan return saham. Penelitian yang dilakukan

(Purnomo, 2013) mengenai pengaruh kurs valuta asing terhadap return


39

saham di pasar modal Teheran menemukan bahwa perubahan kurs

valuta asing berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.

Penelitian yang dilakukan (Sudarsono, 2016) menemukan bahwa nilai

kurs berpengaruh positif terhadap return saham.. Hal ini menjadi dasar

perumusan hipotesis yang diajukan, yaitu:

H3 : Kurs / Nilai Tukar berpengaruh positif terhadap return saham


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Juli tahun 2018 di

Jakarta, penulis mengadakan penelitan dan pengambilan data ini dilakukan

dengan mengambil data laporan keuangan perusahaan yang terdaftar dalam

sub sektor perusahaan pertambangan batu bara yang terdaftar pada Bursa

Efek Indonesia periode 2012-2017. Penelitian mengambil data sekunder

dari Bursa Efek Indonesia yang diterbitkan melewati situs resmi BEI

www.idx.co.id.

B. Desain penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif dengan hubungan

kausal dimana terdapat variabel bebas dan terikat. Dilihat dari data yang

diperoleh, penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif karena

didalamnya mengacu pada perhitungan data penelitian yang berupa angka

– angka. Menurut Sugiyono (2009), pengertian variabel penelitian adalah

segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari, sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian

ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian ini meliputi variabel dependen

dan indepeden.

40
41

1) Variabel Dependent (Y) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2009). Dalam

penelitian ini variabel Dependen adalah return Saham pada saat

penutupan akhir tahun.

2) Variabel Independen (X) atau variabel bebas merupakan variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi penyebab terjadinya perubahan atau

timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2009). Dalam penelitian ini

variabel independen/variabel bebas adalah :

a. Inflasi (X1)

Inflasi merupakan suatu tingkat inflasi yang terjadi pada penutupan

tahun. Data Inflasi merupakan data dari BPS atau dari Bank

Indonesia (BI).

b. Suku Bunga (X2)

Suku Bunga merupakan Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia

Yang terjadi pada penutupan tahun. Data ini diperoleh dari Bank

Indonesia (BI).

c. Kurs / Nilai Tukar (X3)

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS merupakan Nilai Tukar

Rupiah yang terjadi pada penutupan tahun. Data ini diperoleh dari

Bank Indonesia (BI).

C. Definisi dan opersionalisasi variabel

Variabel Penelitian : Dependent dan Independent.


42

1. Variabel Dependent (Y) adalah tipe variabel terikat yang dijelaskan atau

dipengaruhi variabel independen. Dalam penelitian ini variabel

Dependen adalah return Saham pada saat penutupan akhir tahun. Return

realisasi merupakan return yang telah terjadi. Actual Return digunakan

dalam dalam menganalisis data adalah hasil yang diperoleh dari

investasi dengan cara menghitung selisih harga saham individual

periode berjalan dengan periode sebelumnya dengan mengabaikan

deviden, dapat ditulis dengan rumus (Jogiyanto.2010) :

𝑃𝑖, 𝑡 − (𝑃𝑖, 𝑡 − 1)
Ri, t =
𝑃𝑖, 𝑡 − 1

Keterangan:

Ri,t = Return Saham

Pi,t = Harga Saham penutupan sekarang

Pit-1 = Harga Saham penutupan periode sebelumnya

2. Variabel Independen (X) atau variabel bebas merupakan variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi penyebab terjadinya perubahan atau

timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2009). Dalam penelitian ini

Variabel Independen/ Variabel Bebas adalah :

a. Inflasi (X1)

Inflasi merupakan suatu tingkat Inflasi yang terjadi pada penutupan

tahun. Data Inflasi merupakan data dari BPS atau dari Bank

Indonesia (BI). Inflasi (X1) adalah proses kenaikan harga-harga

umum barang – barang secara terus – menerus (Nopirin, 2009). Data


43

Inflasi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data per

tahun.

b. Suku Bunga (X2)

Tingkat Suku Bunga merupakan Suku Bunga kebijakan yang

mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan

oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik sebagai

pengakuan utang berjangka waktu pendek. Tingkat Suku Bunga

yang digunakan dalam penelitian ini merupakan tingkat Suku Bunga

SBI. Pengukuran yang digunakan adalah satuan persentase dan data

yang diambil adalah tingkat Suku Bunga SBI per tahun mulai tahun

20012 – Desember 2017.

c. Kurs / Nilai Tukar Rupiah (X3)

Nilai tukar Rupiah/US$ menunjukkan nilai dari mata uang Dolar AS

yang ditranslasikan dengan mata uang Rupiah. Sebagai contoh, US$

1 = Rp. 14.135,00- artinya apabila 1 dollar AS dihitung dengan

menggunakan rupiah maka nilainya adalah sebesar Rp. 14.135,00-.

Data yang diambil adalah nlai tukar Rupiah/US$ per bulan mulai

tahun 2012 – 2017.

Berdasarkan uraian tentang variabel penelitian di atas, maka

operasionalisasi variabel penelitian ini ditunjukkan pada tabel 3.1 berikut

ini.
44

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel Penelitian

Variabel Konsep Variabel Indikator Ukuran Skala


Inflasi Kenaikan harga Perubahan Indeks Persen Rasio
(X1) barang dan jasa harga konsumen
yang berlangsung (tingkat inflasi)
secara umum dan
kotinyu dalam
perekonomian.
Suku Jumlah yang Tingkat suku Persen Rasio
Bunga Kreditur bebankan bunga Sertifikat
(X2) ketika mereka Bank Indonesia
meminjamkan untuk janga waktu
uang kepada 1 tahun
debitur.
Kurs / Jumlah unit mata Nilai tukar rupiah Rp/$ Rasio
Nilai uang suatu negara terhadap dollar USD
tukar yang sama dengan Amerika Serikat
(X3) satu unit mata atas dasar kurs jual
uang negara lain. rupiah.
Return Persentase arus kas Pit − Pit − 1 Persen Rasio
𝑅𝑡 =
Saham yang di terima oleh Pit − 1
seorang investor
terhadap harga aset
pada waktu
tertentu

D. Populasi dan Sample Penelitian

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2013) populasi adalah wilayah

generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas

dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini


45

populasi yang diambil adalah perusahaan pertambangan Batubara

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sektor pertambangan

Batubara dipilih karena sektor ini memiliki peran strategis terhadap

pembangunan perekonomian Indonesia. Populasi penelitian ini

berjumlah 22 perusahaan.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang

dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2013). Bila populasi

besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada di

populasi maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil

dari populasi itu. Penentuan sampel dapat dilakukan dengan teknik

sampling. Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel.

Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian,

terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan (Sugiyono,

2013).

Pada penentuan sampel dan populasi pada penelitian ini

adalah perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

dengan kriteria tertentu. Metode pengambilan sampel yang

digunakan adalah nonprobability sampling dengan menggunakan

metode purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik

pengumpulan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono

2013). Alasan pemilihan sampel dengan menggunakan teknik


46

purposive sampling adalah karena tidak semua sampel memiliki

kriteria yang sesuai dengan yang telah penulis tentukan. Adapun

kriteria dalam pengambilan sampel sebagai berikut:

Tabel 3.2 Sampel Penelitian

No. Kualifikasi Sample Jumlah Perusahaan

1. Perusahaan Batubara yang terdaftar 22


di Bursa Efek Indonesia.
2. Perusahaan Batubara yang tidak (1)
melakukan Ipo sejak tahun 2012
3. Perusahaan yang tidak memiliki (3)
kelengkapan data mulai dari Ipo
pada tahun 2012
4. Perusahaan Batubara yang 18
memiliki data lengkap berkaitan
dengan pengukuran variabel yang
digunakan pada tahun 2012 – 2017.
Sumber : Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan pada hasil seleksi kriteria tersebut, maka jumlah

perusahaan yang memenuhi persyaratan sebagai sampel dalam

penelitian ini adalah sebanyak 18 perusahaan yang terinci dalam

daftar pada tabel berikut :

Tabel 3.3 Daftar Sampel


No. Kode Nama Perusahaan
Perusahaan
1. ADRO Adaro Energy Tbk.
2. ARII Atlas Recources Tbk.
3. BSSR Baramulti Sukessarana Tbk.
4. BUMI Bumi Recources Tbk.
5. BYAN Bayan Recources Tbk.
6. DEWA Darma Henwa Tbk.
47

Tabel 3.3 Daftar Sampel


7. DOID Delta Dunia Makmur Tbk.
8. GTBO Garda Tujh Buana Tbk.
9. HRUM Harum Energy Tbk.
10. ITMG Indo Tambangraya Megah Tbk.
11. KKGI Recouces Alam Indonesia Tbk.
12. MBAP Mitrabara Adiperdana Tbk.
13. MYOH Samindo Reciurces Tbk.
14. PKPK Perdana Karya Perkasa Tbk.
15. PTBA Tambang Batubara Bukit Asam
(persero) Tbk
16. PTRO Petrosea Tbk.
17. SMMT Golden Eagle Energy Tbk.
18. TOBA Toba Bara Sejahtera Tbk.
Sumber : Bursa Efek Indonesia.

Data penelitian ini merupakan penelitian data sekunder, yang

diambil dari www.finance.yahoo.com, data yang dipublikasikan

oleh BEI pada situs resminya yaitu www.idx.co.id serta dari sumber-

sumber lain yang yang dipandang relevan dengan penelitian

tersebut. Penelitian dengan menggunakan data tahunan runtut

waktu, untuk semua variabel yang digunakan dalam model

penelitian.

E. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut:


48

1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data

sekunder, Cross section, dan Time series yang berarti bahwa data

yang ada tidak didapatkan dengan melakukan observarsi atau

penelitian langsung kepada objek yang menjadi penelitian.

2. Sumber Data

Sumber data yang digunalan untuk penelitian ini diperoleh dari

situs

resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id, Biro

Pusat Statistik (BPS) www.bps.go.id, Situs resmi Bank

Indonesia yaitu www.bi.go.id, dan Yahoo Finance

www.finance.yahoo.com

3. Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

diperoleh

melalui 2 cara yaitu :

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Pada tahap ini, penelitian kepustakaan dilakukan untuk

memperoleh data sekunder yang akan dijadikan landasan

teori terhadap masalah yang sedang diteliti. Penulis

memperoleh berbagai informasi untuk dijadikan sebagai

dasar teori dan acuan untuk mengolah data dengan cara

membaca, mempelajari, menelaah, dan mengkaji literatur-


49

literatur berupa buku-buku, jurnal, penelitian-penelitian

terdahulu yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

b. Studi Internet (Internet Research)

Pada tahap ini, penulis melakukan pengumpulan data dari

situs-situs yang terkait untuk memperoleh tambahan

literatur, jurnal, dan data lainnya yang diperlukan dalam

penelitian ini.

F. Metode Analisis

Metode analisis data adalah cara mengola data yang telah terkumpul

untuk kemudian dapat memberikan interprestasi. Hasil pengolahan data

kemudian digunakan untuk menjawab permasalahan yang telah

dirumuskan. Kegiatan dalam menganalisis data adalah mengelompokkan

data berdasarkan variabel, menyajikan data dari setiap variabel yang diteliti,

melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan permasalahan, dan

melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan

(Sugiyono, 2013).

Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah metode

analisis data panel regresi linear berganda dengan bantuan Software Eviews

9, yaitu untuk mengukur pengaruh antara variabel independen dengan

variabel dependen dan menguji hipotesis yang diajukan, maka digunakan

uji stasistik sebagai berikut.


50

1. Uji Statistik Deskriptif

Menurut Sugiyono (2014) statistik deskriptif adalah statistik

yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan

atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya

tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau

generalisasi.

Pada statistik deskriptif ini, akan dikemukakan cara-cara

penyajian data, dengan tabel biasa maupun distribusi frekuensi; grafik

garis maupun batang, diagram lingkaran, pictogram, penjelasan

kelompok melalui modus, median, mean, dan variasi kelompok melalui

rentang dan simpangan (Sugiyono, 2014).

2. Uji Stasioneritas

Uji Stasioner Dalam melakukan uji deret waktu (time series),

diperlukan kestasioneritasan data series yang digunakan. Adapun tujuan

dari pengujian ini adalah untuk mendapatkan nilai rata-rata yang stabil

dan random error yang sama dengan nol, sehingga model regresi yang

didapatkan memiliki kemampuan prediksi yang handal dan menghindari

munculnya regresi lancung (spurious regression). Regresi lancung

adalah situasi dimana hasil regresi menunjukan nilai koefisien

determinasi (R2) yang tinggi tetapi sebenarnya hubungan antar variabel

di dalam model tidak memiliki arti (Gujarati 2004).


51

a. Uji Akar Unit

Uji akar unit merupakan penguian yang formal yang

dikenalkan oleh David Dickey dan Wayne Fuller. Pengujian

akar ini dilakukan untuk mengetahui apakah data yang

digunakan stasioner apa tidak. Data stasioner adalah data time

series yang tidak mengandung akar unit dan sebaliknya.

Pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji Augmented

Dickey Fuller (DF)

Hipotesis:

Ho: data tidak stasioner

Ha: data stasioner

Apabila hasil uji Augmented Dickey Fuller menyatakan bahwa:

 Nilai ADF statistik 0.05 maka data stasioner dan Ho

ditolak

 Nilai ADF statistic c0.05 maka data tidak stasioner,

dan Ha ditolak

b. Uji Derajat Integrasi

Pengujian derajat ingetgrasi dilakukan apabila uji

statsioneritas dengan menggunknn unit root test pada tingkat

level menunjukkan bahwa data tidak stasioner. Seperti halnya uji

akar unit, uji derajat integrasi dilakukan dengan menggunakan

uji Augmented Dickey Fuller (DF)

Hipotesis:
52

Ho: data tidak stasioner

Ha: data stasioner

Apabila hasil uji Augmented Dickey Fuller menyatakan bahwa:

 Nilai ADF statistik 0.05 maka data stasioner dan Ho

ditolak

 Nilai ADF statistic c0.05 maka data tidak stasioner,

dan Ha ditolak

3. Analisis Regresi Data Panel

Data panel merupakan data gabungan antara data berkala (time

series) dengan data individual (cross section). Data times series adalah

data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu terhadap suatu individu.

Sedangkan data cross section merupakan data yang dikumpulkan dalam

satu waktu terhadap banyak individu.

Analisis regresi data panel memiliki tiga jenis pendekatan, yaitu:

Common Effect, Fixed Effect dan Random Effect. Dari tiga macam

pendekatan tersebut harus dipilih pendekatan yang paling baik yang

akan digunakan untuk memprediksi model regresi penelitian yang

dilakukan. Adapun model regresi dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Yit = β0 + β1Xit1 + β2Xit2 + β3Xit3 + εit

Di mana:

Yit = Return Saham


53

β0 = Konstaanta

β1-5 = Koefisien Regresi

Xit1 = Variabel Inflasi pada unit ke I pada waktu t.

Xit2 = Variabel Suku bunga SBI pada unit ke I pada waktu t.

Xit3 = Variabel Kurs valuta asing pada unit ke I pada waktu t.

εit = Error

i = Perusahaan

t = Tahun

a) Common Effect

Common Effect adalah metode yang hanya menggabungkan data

tanpa melihat perbedaan waktu dan individu. Teknik model

Common Effect merupakan teknik yang digunakan untuk

mengestimasi data panel paling sederhana. Berikut adalah model

Common Effect :

𝑌 = 𝛼 + 𝛽1𝑖𝑡 + 𝛽2𝑖𝑡 + 𝛽3𝑖𝑡 + 𝜀


Dimana:
Y = Return Saham

α = Konstanta

β1 = Inflasi

β2 = Suku bunga SBI

β3 = Kurs / Nilai Tengah

i = Perusahaan

t = Tahun

ɛ = Error
54

b) Fixed Effect

Fixed Effect adalah metode yang mengestimasi data panel

dengan menggunakan variabel dummy untuk menangkap adanya

perbedaan intersep. Fixed Effect adalah model dengan intercept

berbeda-beda untuk setiap subjek (cross section), tetapi slope

setiap subjek tidak berubah seiring waktu (Gujarati, 2012).

Berikut adalah permodelan Fixed Effect :

𝑌𝑖𝑡 = 𝑎1 + 𝑎2 𝐷2𝑖 + 𝑎3 𝐷3𝑖 + 𝑎4 + ⋯ + 𝑎6 𝐷6𝑖 + 𝛽1𝑖𝑡 + 𝛽2𝑖𝑡

+ 𝛽3𝑖𝑡 + 𝛽4𝑖𝑡 + 𝑢𝑖𝑡

Keterangan:

Yit = Return Saham untuk setiap unit cross section

a = Intercept pada persamaan fixed

Di = Dummy pada unit cross section

𝛽1 = Inflasi

𝛽2 = Suku bunga SBI

𝛽3 = Kurs / Nilai Tukar

c) Random Effect

Menurut Widarjono (2009) model Random Effect digunakan

untuk mengatasi kelemahan model Fixed Effect yang

menggunakan variabel dummy. Random Effect adalah metode

yang akan mengestimasi data panel dimana variabel gangguan


55

mungkin saling berhubungan antar waktu dan antar individu.

Berikut adalah permodelan Random Effect :

Yit = α + β1it + β2it + β3it + ωit

Dimana: 𝑢𝑖 + 𝑣𝑡 + 𝑤𝑖𝑡

Keterangan:

ui = komponen error cross section

vt = komponen error time series

wit = komponen error gabungan

4. Uji Pemilihan Model

a. Uji Chow

Uji Chow digunakan untuk menentukan apakah model data

panel regresi dengan metode Common Effect atau dengan

metode Fixed Effect, apabila dari hasil uji tersebut ditentukan

bahwa model Common Effect yang digunakan, maka tidak perlu

diuji kembali dengan Uji Hausmann. Pengujian yang dilakukan

dengan Uji Chow dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho: Model Common Effect

Ha: Model Fixed Effect

Kriteria yang akan digunakan dalam pengambilan

kesimpulan pada Uji Chow adalah sebagai berikut:

a) Jika nilai probabilitas F ≥ 0,05 artinya Ho diterima,

maka model yang digunakan adalah Common Effect.


56

b) Jika nilai probabilitas F < 0,05 artinya Ho ditolak maka

model Fixed Effect dan dilanjutkan dengan Uji

Hausmann untuk memilih apakah menggunakan

model Fixed Effect atau Random Effect.

b. Uji Hausmann

Uji Hausmann dapat didefinisikan sebagai pengujian

statistik untuk memilih apakah model Fixed Effect atau

Random Effect yang paling tepat digunakan. Pengujian uji

hausmann dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho: Model Random Effect

Ha: Model Fixed Effect

Statistik uji Hausmann mengikuti distribusi statistik Chi-

Square dengan degree of freedom sebanyak k, dimana k adalah

jumlah variabel independen. Jika nilai probabilitas Hausmann

kurang dari alfa maka Ho ditolak dan model yang tepat adalah

model Fixed Effect. Sebaliknya jika nilai probabilitas

Hausmann lebih besar dari alfa maka hipotesis nol gagal

ditolak sehingga model yang tepat adalah model Random

Effect.

Model Random Effect mengestimasi data panel dimana

variabel gangguan mungkin saling berhubungan antar waktu

dan antar individu. Pada model Random Effect perbedaan

intersep diakomodasi oleh error terms masing-masing


57

perusahaan. Sedangkan model Fixed Effect mengasumsikan

bahwa perbedaan antar individu dapat diakomodasi dari

perbedaan intersepnya.

5. Pengujian Statistik Model

1) Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi digunakan sebagai ukuran untuk

mengetahui besarnya pengaruh variabel independen terhadap

variabel dependen. Nilai koefisien determinasi yang kecil

menggambarkan kemampuan variabel-variabel independen dalam

menjelaskan variabel dependen sangat terbatas. Sebaliknya, nilai

koefisien determinasi yang besar menggambarkan kemampuan

variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen

sangat kuat.

2) Uji Statistika t (Uji Parsial)

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing

variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh secara

signifikansi terhadap variabel dependen. Hipotesis nol (H0) yang

hendak diuji adalah adakah parameter (bi) sama dengan nol, atau:

H0 : bi = 0

Artinya, apakah suatu variabel independen bukan merupakan

penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis

alternatifnya (Ha) parameter suatu variabel tidak sama dengan nol, atau:
58

Ha : bi ≠ 0

Artinya, variabel tersebut merupakan penjelas yang signifikan

terhadap variabel dependen. Dengan hipotesis sebagai berikut:

Ho : tidak ada pengaruh variabel independent terhadap variabel

dependen

Ha : ada pengaruh variabel independent terhadap variabel

dependen

Kriteria dalam pengujian ini adalah sebagai berikut:

a) Jika nilai prob > 0,05 atau bila signifikansi lebih dari nilai alpha

0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak, berarti variabel

independen secara individual tidak berpengaruh terhadap

variabel dependen.

b) Jika nilai prob < 0,05 atau bila signifikansi kurang dari nilai alpha

0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, berarti variabel

independen secara individual berpengaruh terhadap variabel

dependen.
59

DAFTAR PUSTAKA

Adusei Michael. (2014). The Inflation-Stock Market Returns Nexus: Evidence

FromThe. Ghana Stock Exchange.

Agus Widarjono. 2009. Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya. Edisi Ketiga.

EKONISIA. Yogyakarta.

Ahmad, Muhammad Ishfaq et al . (2010). Do Interest Rate, Exchange Rate effect

Stock Returns? A Pakistani Perspective. International Research Journal

of Finance and Economics ISSN 1450-2887 Issue 50.

Alfiatul Maulida, Elok Sri Utami dan Sumani. (2016). Pengaruh Kurs Dan Suku.

Bunga SBI Serta Inflasi Melalui Return on Asset Terhadap Return Saham.

Bambang Sudarsono dan Bambang Sudiyatno. 2016. Faktor-faktor yang

mempengaruhi return saham pada perusahaan property dan real estate

yang terdaftar pada bursa efek indonesia tahun 2009 s/d 2014. Jurnal

Bisnis dan Ekonomi (JBE), Maret 2016, Hal.30–51 ISSN: 1412- 3126.

Cohen, G., Kudryavtsev, A. and Hon-Snir, S., (2014). 'Stock Market Analysis in

Practice: Is it technical or fundamental?' Journal of Applied Finance and

Banking, 1:125-138.

Darmadji, Tjiptono, dan Fakhruddin. 2012. Pasar Modal Di Indonesia. Edisi Ketiga.

Jakarta : Salemba Empat.

Fakhruddin, Hendy M. 2008. Istilah Pasar Modal A-Z. Jakarta : Gramedia.


60

Gujarati, D.N. 2004. Basic Econometrics fourth edition: McGraw-Hill

Gujarati, D.N. 2012. Dasar-dasar Ekonometrika, Terjemahan Mangunsong, R.C.,

Salemba Empat, buku 2, Edisi 5, Jakarta

Gul dan Khan (2013). An Application of Arbitrage Pricing Theory on KSE-100

Index; A Study From Pakistan (2000-2005). IOSR Journal of Business and

Management (IOSR-JBM) e-ISSN: 2278-487X. Vol. 7, Issue 6 (Jan.- Feb.

2013), PP 78-84.

Halim, Livia. 2013. Pengaruh Makro Ekonomi terhadap Return Saham Kapitalisasi

Besar di Bursa Efek Indonesia. FINESTA Vol. 1, No. 2: 108-113.

Hartono, Jogiyanto. 2009. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Keenam.

Cetakan Pertama.Yogyakarta: BPFE.

Hartono, Jogiyanto. 2010. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta :

BPFE.

Hartono, Jogiyanto. 2012. Teori Portofolio dan Analisis Investasi Edisi Ketujuh.

Yogyakarta : BPFE.

Joel G. Siegel, dan Jae K. Shim. 1999. Kamus Istilah Akuntansi. Jakarta: Elex

Media Komputindo. (terjemahan).

Kandir, Serkan Yilmaz. (2008) ”Macroeconomic Variables, Firm Characteristics

and Stock Returns: Evidence from Turkey”. International Research

Journal of Finance and Economics Issue 16.

Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
61

Keynes, John M. 1936. The General Theory of Employment. Interest and Money.

London: Macmillan.

Khalwaty, T. 2010. Inflasi dan Solusinya. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Kirui, Evans, Nelson H. W. Wawire & Perez O. Onono, (2014), Macroeconomic

Varia bles, Volatility and Stock Market Returns: A Case of Nairobi

Securities Exchange, Kenya. International Journal of Economics and

Finance; Vol. 6, No. 8

Komariah, et all. 2012. The Infulence of Agency Cost, Investment Risk And

Profitability to Investment Decision. Yogyakarta: Forum manajemen

indonesia ke-4.

Kusumah iswanto, wilda (2017), Analisis Pengaruh Suku Bunga Sertifikat Bank

Indonesia, Tingkat Inflasi, dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Tingkat

Pengembalian Reksa Dana Saham Di Indonesia.

Kuwornu, J. K. M., (2011), Effect of Macroeconomic Variables on The Ghanaian

StockMarket Returns: A Co-integration Analysis, Agris on-line Papers in

Economics and Informatics, Vol. IV, No. 2, pp. 15-26.

Legiman, Fachreza Muhammad, et al. 2015. Faktor-faktor yang mempengaruhi

Return saham pada perusahaan agroindustry yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2009-2012. Jurnal EMBA vol.3 No.3.

Made Ayu dan I Gusti Wiksuana. 2017. Pengaruh inflasi terhadap return saham

pada perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di bursa efek
62

indonesia (risiko sistematis dan profitabilitas sebagai variabel mediasi).

ISSN : 2337-3067 E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana 6.9

(2017): 3435-3462

Mahilo, Michael B, dan Parengkuan, Tommy. 2015. Dampak Risiko Suku Bunga,

Inflasi, dan Kurs terhadap Return Saham Perusahaan Makanan dan

Minuman yang Go Public di Bursa Efek Indonesia. Jurnal EMBA. Vol. 3

(No. 3): 1-10. Manado: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam

Ratulangi.

Martalena, dan Malinda. 2011. Pengantar Pasar Modal. Edisi Pertama. Yogyakarta:

Andi.

Mishkin, Frederic S. 2008. Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan.Edisi

8. Salemba Empat: Jakarta.

Mulyadin, R. Deden. 2013. Analisis Pengaruh Suku Bunga dan IHSG terhadap

Return Saham pada Sektor Pertambangan Periode 2008-2012. Skripsi.

Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama. Bandung.

Nor Hadi. 2013. Pasar Modal: Acuan Teoretis Dan Praktis Investasi Di Instrument

Keuangan Pasar Modal. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Hadi, Nor. (2015). Pasar Modal (Edisi 2). Yogyakarat: Graha Ilmu.

Nopirin. 2009. Ekonomi Moneter, Buku II, Edisi ke-1. Yogyakarta: BPFE.

Oshaibat, Suleiman Al; Ahmad Majali. (2016). The Relation Between Stock

Returns and Each of Inflation, Interest Rates, Share Liquidity and


63

Remiittances ofWorkers in The Amman Stock Exchange. Journal of

Internet Banking and Commerce. Volume. 21. Nomor. 2.

Priyanto, Sugeng dan Laksmiwati, Mia. 2012. “Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI,

Kurs, Inflasi, Indeks KLSE, Indeks PSEI dan Indeks STI terhadap Indeks

Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia”. Skripsi. Universitas

Budi Luhur : Jakarta.

Purnomo, Tri, Hendra dan Nurul Widyawati, 2013. “Pengaruh Nilai Tukar, Suku

Bunga, dan Inflasi terhadap Return Saham pada Perusahaan Properti di

Bursa Efek Indonesia” Jurnal Ilmu & Riset Manajemen, Volume 2 Nomor

10.

Sadikin, Ali. 2010. Pengaruh Variabel-Variabel Risiko Suku Bunga, Risiko Kurs,

Dan Risiko Finansial Terhadap Return Saham (Studi Kasus Perusahaan

Farmasi Yang Terdaftar di BEI Periode 2004 s.d 2008). Jurnal Manajemen

dan Akuntansi. Volume 11. No. 1. April 2010.

Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung:

Alfabeta.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif

Dan R&D. Bandung: Alfabeta.


64

Sukirno, Sadono. 2000. Makroekonomi Modern. Jakarta: PT Raja Drafindo

Persada.

Sukirno, Sadono, 2012. Makro Ekonomi Modern, PT. Raja Grafindo Perkasa:

Jakarta.

Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi. Edisi

pertama. Yogyakarta: Kanisius

Tri H. Purnomo dan Nurul Widyawati. 2013. Pengaruh nilai tukar, suku bunga, dan

inflasi terhadap return saham pada perusahaan properti. Jurnal Ilmu &

Riset Manajemen Vol. 2 No. 10 (2013)

www.en.ndrc.gov.cn

www.eiti.ekon.go.id

www.finance.yahoo.com