Anda di halaman 1dari 17

BAB I

STATUS PASIEN

1.1. Identitas Pasien


Nama : Ny. S
Umur : 69 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jakarta Timur
Status : Menikah
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Purnawirawan
No. RM : 18xxxx
Tanggal masuk : 12 September 2018 (di Poliklinik)

1.2. Anamnesis
Autoanamnesis hari Rabu, 12 September 2018 diruang periksa poliklinik Kulit dan
Kelamin
A. Keluhan Utama
Gatal pada kedua kaki dan tangan
B. Keluhan Tambahan
Kulit menjadi tebal dan kasar akibat digaruk.
C. Riwayat Perjalanan Penyakit
Pasien mengatakan bahwa keluhan ini sudah sejak tahun 2013. Awalnya timbul
bintik-bintik merah yang terdapat di tungkai bawah kanan dan kiri, terasa gatal dan tidak
nyeri. Semakin lama dan ketika sering digaruk gatal semakin tambah hebat dan lesi kulit
menjadi semakin besar. Keluhannya mulai menjalar ke lengan bawah tangan kanan dan kiri.
Lesi yang awalnya berupa bintik-bintik merah berubah menjadi benjolan-benjolan yang
berwarna gelap. Karena sering digaruk, lesi terkadang menjadi lebih merah dan berdarah.
1 bulan kemudian ditahun yang sama pasien akhirnya berobat ke dokter. Keluhan ini
menghilang dan sembuh namun sering kambuh kembali. Pasien mengatakan pernah berobat

1
ke RS polri, namun pasien lupa nama obat yang diberikan, pasien hanya mengingat bahwa
pasien diberi obat dalam bentuk salep. sempat sembuh namun kambuh lagi.
Pasien mengatakan gatal muncul tidak menentu. Pada tahun 2015 kemudian pasien
datang berobat ke poli kulit dan kelamin RS Gatot Soebroto. Dan pasien menjalani
pengobatan teratur sampai saat ini. Riwayat digigit serangga, diabetes mellitus disangkal.

D. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi, dan alergi obat (golongan penisilin, ponstan
dan obat gatal, namun pasien lupa namanya). Pasien teratur kontrol dan minum obat untuk
penyakit hipertensinya.

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Terdapat keluarga yang mempunyai penyakit hipertensi.

1.3.Pemeriksaan Fisik
1.3.1. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
TB : 160 cm
BB : 68 kg
IMT : Overweight
Status Gizi : Cukup
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah : Tidak dilakukan pemeriksaan
Nadi : 80 x/menit
Suhu : 36,7°C
RR : 20 x/menit
Kepala : normocephali, distribusi rambut merata
Mata : pupil bulat isokor, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Mulut : mukosa bibir lembab, caries dentis (-), gigi berlubang (-)
Leher : KGB tidak membesar
Thorax : tidak tampak retraksi sela iga, dalam batas normal
Abdomen : supel, datar, nyeri tekan (-), hepar lien tidak membesar

2
Ekstremitas : normal, tremor (-), rigiditas (-)
Sistem kardiovaskuler : BJ I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-)
Sistem respiratorius : suara nafas vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)
Sistem gastro-intestinal : supel, bising usus (+) normoperistaltik
Sistem musculo-sceletal : deformitas (-), simetris, eutropi
Sistem urogenital : nyeri ketok CVA -/-, nyeri tekan suprapubik (-)
Status Dermatologis
1.3.2.Status Dermatologi
a) Lokasi: Regio ekstrimitas superior dextra dan sinistra
b) Efloresensi: tampak nodul – nodul eritematosa berukuran miliar - lentikular berbatas
tegas disertai bercak hiperpigmentasi.

a) Lokasi: Regio ekstrimitas inferior dextra dan sinistra


b) Efloresensi: tampak bercak hiperpigmentasi berukuran miliar – lenticular berbatas
tegas.
1.3.3 Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

1.4.Resume
Ny. S, tahun, perempuan ke Poli Kulit dan Kelamin pada tanggal 12 September
2018 dengan keluhan gatal pada lengan bawah tangan kanan dan kiri, tungkai bawah kanan
dan kiri disertai kulit menjadi tebal dan kasar akibat digaruk. Pasien mengatakan bahwa
keluhan ini sudah sejak tahun 2013. Awalnya timbul bintik-bintik merah yang terdapat di
tungkai bawah kanan dan kiri, terasa gatal dan tidak nyeri. Semakin lama dan ketika sering
digaruk gatal semakin tambah hebat dan lesi kulit menjadi semakin besar. Keluhannya mulai
menjalar ke lengan bawah tangan kanan dan kiri. Lesi yang awalnya berupa bintik-bintik
merah berubah menjadi benjolan-benjolan yang berwarna gelap. Karena sering digaruk, lesi
terkadang menjadi lebih merah dan berdarah. Pasien sudah pernah berobat, dan sudah
pernah sembuh namun kambuh kembali.

1.5.Diagnosis Kerja
Prurigo Nodularis

3
1.6.Diagnosis Banding
Tidak ada

1.7.Penatalaksanaan
1.7.1. Non Medikamentosa
 Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya
 Mencegah garukan dan gosokan pada daerah yang gatal
 Hindari stress psikologis
 Menjaga kebersihan kulit
 Hindari dari gigitan serangga
1.7.2. Medikamentosa
1.7.2.1.Topikal
 Inersion oint
 Asam mefenamat 2 x 500mg
 Cetirizine 1 x 10mg

1.8. Prognosis
Quo Ad Vitam : Bonam
Quo Ad Functionam : Bonam
Quo Ad Sanationam : dubia ad bonam

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Prurigo nodularis ( PN ) adalah kondisi kulit yang terdapat benjolan yang kering dan keras
terbentuk pada kulit yang terasa sangat gatal. PN terasa gatal terus-menerus, terutama pada malam.
Pada umumnya gatal berakhir ketika PN digaruk sampai ke titik perdarahan atau nyeri.1

Nodul picker, liken simpleks kronis, neurodermatitis sirkumskripta, liken corneus obtusus
merupakan nama lain dari prurigo nodularis yang berbentuk nodular atipik. Pada 1909, Hyde dan
Montgomery pertama kali menggambarkan prurigo nodularis sebagai nodul yang gatal di
permukaan ekstensor ekstremitas bawah pada wanita usia pertengahan . Ada pula sumber yang
menyebutkan prurigo nodularis merupakan penyakit kulit inflamasi kronik, pada orang dewasa,
ditandai oleh adanya nodus kutan yang sangat gatal, terutama terdapat di ekstermitas bagian
ekstensor (lengan atau tungkai). 2,3

Penyakit PN tergolong penyakit yang sulit disembuhkan dan sering terdapat bekas luka yang
ditemukan di dekat luka lama. PN cenderung berada di daerah yang paling mudah dicapai seperti
lengan , bahu, leher dan kaki. Mungkin ditemukan hanya beberapa atau bisa juga mencapai
puluhan.1

Sebenarnya hasil akhir PN adalah luka yang dihasilkan karena proses menggaruk yang
menyebabkan saraf kulit meneba saat dirangsang, saraf mengirimkan sinyal gatal yang luar biasa ke
otak. Menggaruk dapat diibaratkan seperti "latihan" untuk saraf dan berlangsung bertahun-tahun.1

II. EPIDEMIOLOGI

Prurigo nodularis ini muncul pada pasien yang memiliki kondisi-kondisi tertentu sebagai
pemicu, namun belum ada survei terhadap prevalensi pada populasi umum. Dapat ditemukan pada semua
ras, ditemukan dalam jumlah besar pada wanita dibandingkan dengan pria, walau belum ada
dokumentasi mengenai hal tersebut. Terutama pada usia pertengahan dan oarang yang lebih tua walaupun
dapat terjadi pada semua usia. Sekitar 80 % pasien memiliki riwayat personal/keluarga terhadap
dermatitis atopi, asma, atau demam (prevalensi hanya 25 % pada populasi umum ). 2,3,4,5

5
Prurigo nodularis bersifat jinak dan tidak meningkatkan angka kematian, namun angka kesakitan
tidak akan berkurang jika tidak diobati dengan, bahkan untuk yang sudah diobati sekalipun. Gatal yang
sangat parah pada permukaan tubuh menyebabkan pasien tidak dapat bekerja secara maksimal dalam
aktivitas sehari-harinya. Dalam dokumentasi, Prurigo Nodularis dapat muncul pada populasi HIV atau
kondisi imunokompromais lain. Beberapa ditemukan dengan keganasan internal dan gangguan fungsi
ginjal yang parah.5

III. ETIOPATOLOGI

Kausa penyakit ini belum diketahui, walaupun kondisi lain dapat menginduksi prurigo
nodularis seperti kondisi pada HIV (berhubungan dengan jumlah CD4 yang rendah) dan penyakit
imunodefisiensi lain, kolestasis, penyakit tiroid, polisitemia rubra vera, uremia, penyakit Hodgkin,
keganasan, penyakit hati, gagal ginjal, anemia, gigitan serangga, memiliki kondisi alergi seperti
asma, dermatitis, atau demam atau memiliki keluarga yang memiliki kondisi tersebut, dan penyakit
psikiatri (serangan-serangan gatal timbul bila terdapat atau mengalami ketegangan emosional),
meski beberapa penelitian terkini menyangkal psikiatri sebagai penyebab dari prurigo nodularis.
Sumber lain mengatakan kaitan terjadinya prurigo nodularis dengan hepatitis C, Mucobacteria,
Helicobacter pylori ,dan Strongyloides stercoralis. 1,4,5,6

Lockshin et al menghubungkan prurigo nodularis dengan Nevus Becker, Torchia et al


mengubungkannya dengan penyakit yang berkaitan dengan IgA, kondisi autoimun, dan Sonkoly et
al menghubungkannya dengan sel T. Sumber lain menyatakan faktor pemicu prurigo nodularis
dapat berasal dari penyakit kulit lain, seperti eksim, pemfigoid bulosa, dan dermatitis
herpetiformis.1,4

Trauma mekanis kronis terhadap kulit menyebabkan penebalan pada kulit. Penggarukan,
penggosokan, dan penyentuhan yang berulang menghasilkan plak atau likenifikasi nodular dan
hiperkeratosis hingga perubahan pigmen (hiperpigmentasi). Jika tidak ditangani dengan baik, akan terjadi
lesi ekskoriasi yang berskuama, krusta, atau membentuk keropeng. Penjelasan dari rasa gatal masih
belum diketahui.5 Sel mast dan netrofil ditemukan lebih banyak dibandingkan nilai normal pada prurigo
nodularis, namun produk degranulasi tidak meningkat. Eosinofil tidak meningkat, namun produk granula
protein (seperti protein dasar besar, protein kation eosinofilik, dan neurotoxin derivat eosinofil) secara
signifikan mengalami peningkatan jumlah. Nervus papilar dermal dan sel Merkel merupakan nervus

6
sensoris yang ditemukan pada dermis dan epidermis, keduanya mengalami peningkatan jumlah pada
prurigo nodularis. Ini merupakan reseptor neural terhadap rangsang sentuhan, temperatur, nyeri, dan
gatal. Gen kalsitonin yang berhubungan dengan peptida dan nervus imunoreaktif substansi P dinyatakan
meningkat pada kulit dengan prurigo nodularis dibandingkan dengan kulit normal. Neuropeptida ini akan
memediasi inflamasi neurogenik kutaneus dan pruritus. Interleukin 31, a sel T-derivat sitokin yang
menyebabkan pruritus berat dan dermatitis juga mengalami peningkatan.5

Penyebab prurigo nodular tidak diketahui. Tidak pasti apakah menggaruk menyebabkan
benjolan, atau benjolan muncul sebelum mereka tergores. Alasan untuk benjolan, peradangan dan
peningkatan aktivitas dan ukuran saraf di kulit sedang diselidiki tetapi masih belum diketahui.
Hingga 80% dari pasien memiliki riwayat pribadi atau keluarga dari dermatitis atopik, asma atau
demam (dibandingkan dengan sekitar 25% dari populasi normal). Prurigo nodular dapat dimulai
sebagai gigitan serangga atau reaksi bentuk lain dari dermatitis. Ini telah dikaitkan dengan penyakit
internal yang termasuk anemia kekurangan zat besi, gagal ginjal kronis, gluten enteropati, infeksi
HIV dan banyak kondisi yang beragam lainnya.7

Dalam beberapa kasus, prurigo nodular telah dikaitkan dengan pruritus brachioradial, yang
karena kompresi atau traksi saraf tulang belakang. Teori ini mungkin menjelaskan mengapa
pengobatan lokal tidak selalu berhasil. Ada pula spekulasi mengatakan bahwa prurigo nodularis
luas juga dapat mengikuti sensitisasi dari saraf tulang belakang dan bahwa nodul muncul karena
menggaruk.7

IV. GEJALA KLINIS


Lesi yang ditemukan berupa nodus atau papul. Biasanya simetris, bersisik, hiperpigmentasi
atau purpura, dan keras. Dapat tunggal atau multiple, lebih besar dari 0,5 cm dan kurang dari 2 cm
(3-20 mm), ukurannya menetap, jarang membesar atau mengecil, dan tidak spontan berubah.
Jumlahnya semakin bertambah, bisa mencapai ratusan. Lesi ekskoriasi biasanya datar, mencekung,
atau terdapat krusta diatasnya. Bila perkembangannya sudah lengkap, maka lesi tersebut akan berubah
menjadi verukosa atau mengalami fisurasi Nodus awalnya dapat muncul di folikel rambut. Pola
nodus dapat berbentuk folikular. Pada prurigo nodularis, nodus terbentuk sebelum rasa gatal muncul
kemudian menjadi sangat gatal. 1,2,4,5,8,9

7
Gambar Prurigo nodularis pada lengan

sumber: http://www.danderm.dk/atlas/6-110-1.html

Rasa gatal dapat membuat sulit tidur saat malam dan menganggu aktivitas saat siang. Dapat
berdarah, luka, dan terinfeksi sekunder jika terus menerus digaruk karena poses penyembuhan luka
tidak terbentuk. Faktor pemicu prurigo nodularis mencakup kondisi saraf dan mental , mencakup
fungsi hati dan ginjal, dan penyakit kulit seperti eksim , pemfigoid bulosa dan dermatitis
herpetiformis. Pada banyak pasien , penyebab sebenarnya tidak pernah ditemukan. Prurigo
nodularis dapat terjadi pada semua usia tetapi terutama pada orang dewasa berusia 20-60 tahun.
Jenis kelamin perempuan lebih berpengaruh.1

Prurigo nodularis pada biasanya berukuran 1-3 cm, sering dengan permukaan berkutil yang
meninggi. Lesi awal mungkin mulai sebagai kecil merah gatal benjolan. Pengerasan kulit dapat
menutupi lesi namun terjadi goresan lagi. Lesi yang lebih tua mungkin lebih gelap atau lebih pucat
dari kulit di sekitarnya. Kulit di antara nodul sering kering. Gatal sering sangat terasa terus menerus,
sering selama berjam-jam, menyebabkan menggaruk kuat.1

8
Gambar Prurigo nodularis pada bawah bibir
Sumber: http://www.aocd.org/?page=PrurigoNodularis

Lesi prurigo nodularis biasanya berkelompok dan banyak tetapi dapat bervariasi dalam
jumlah 2-200. Prurigo nodulaisr cenderung didistribusikan secara simetris. Mereka biasanya mulai
pada lengan bawah dan kaki, dan lebih buruk pada aspek bagian luar atau ekstensor. Badan, wajah
dan bahkan telapak tangan juga dapat dipengaruhi. Kadang-kadang nodul prurigo yang paling jelas
pada daerah leher, bahu dan lengan atas.1

Nodul baru muncul dari waktu ke waktu, tetapi nodul yang ada mungkin regresi spontan
meninggalkan bekas luka. Prurigo nodularis sering berjalan terus panjang dan dapat menyebabkan
stres dan depresi yang signifikan. Trauma mekanik kronis pada kulit menyebabkan penebalan kulit
proporsional dengan trauma. Menggosok berulang, menggaruk, dan menyentuh (yang disebabkan
oleh benda asing atau self-induced) menghasilkan plak atau likenifikasi nodular dan hiperkeratosis.
Perubahan pigmen sering hasil dari trauma berulang seperti pada kulit.1

Dengan prurigo nodularisis, seseorang merasa sangat gatal pada titik-titik tertentu dan
tidak dapat mengendalikan dorongan untuk menggosok atau menggaruk pada tubuh tersebut.
Kelainan atau penjelasan untuk pruritus tidak diketahui mengapa terjadi pada prurugo nodularis.
Hasilnya krusta, nodular, hiperpigmentasi atau lesi purpura dengan permukaan yang bersisik,
eksoriasi, dan mungkin berkulit.1

Studi imunohistokimia menunjukkan peningkatan jumlah serabut saraf dermal di prurigo nodularis.
Sensasi gatal diciptakan terutama oleh saraf epidermal yang tak bermielin. Lesi pada prurigo
nodularis tidak begitu berpengaruh jika dilakukan biopsi kulit. Hasil cenderung menunjukkan
penurunan kepadatan saraf intraepidermal, menunjukkan adanya neuropati kecil pada prurigo

9
nodularis. Studi lain menunjukkan bahwa sitokin Th2 terkait dengan aktivasi STAT6 bersama
dengan beberapa stimulus lainyang belum diketahui yang mengaktifkan STAT3 bermain peran
utama dalam patogenesis prurigo nodularis.1

Gambar Prurigo nodularis pada tangan


sumber: http://www.idoj.in/viewimage.asp?img=IndianDermatolOnlineJ_2012_3_2_89_96698_u10.jpg

Gambar Prurigo nodularis pada tubgkai


sumber: http://www.huidarts.com/huidaandoeningen/huidaandoeningen-o-p/prurigo-nodularis/

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan penyaring darah (seperti FBC, CRP, iron, U&Es, LFTs, TFTs, serum kalsium, dan
glukosa) untuk membantu deteksi adanya penyakit penyerta pada ginjal, hepar atau penyakit
metabolik dan infeksi yang berhubungan3
b. Biopsi lesi disarankan untuk eksklusi penyakit seperti karsinoma sel skuamosa, infeksi
mikrobakterial, infeksi jamur dan limfoma kutaneus. Biopsi juga akan memperlihatkan peningkatan

10
jumlah eosinofil untuk prurigo nodularis1,3,9. Pada pemeriksaan histopatologi didapatkan, pertama
dapat ditemukan penebalan epidermis, sehingga tampak hiperkeratosis, hipergranulosis, akantosis
yang tak teratur atau disebut juga sebagai hiperplasi psoriasiformis yang tak teratur.4,5,9
Kedua, ditemukan penebalan stratum papilaris dermis, yang terdiri atas kumpulan serat kolagen kasar,
yang arahnya tegak lurus terhadap permukaan kulit (disebut sebagai collagen in vertical streaks). 4,5,9
Penemuan terakhir akan ditemukan sebukan sel-sel radang sekitar pembuluh darah yang melebar di
dermis bagian atas. Sel-sel tersebut terutama terdiri atas limfosit dan histiosit. Dapat muncul di seluruh
bagian tubuh, namun yang terbanyak muncul pada ekstermitas bagian ekstensor (lengan atau
tungkai), pada permukaan anterior paha, dan dapat pula timbul pada batang tubuh; seperti
punggung, bokong, dada, dan bahu. 4,5,9
c. Kultur pada lesi akan mengekslusi infeksi Staphylococcus10

VI. DIAGNOSIS
Nodularis prurigo dapat didiagnosis secara klinis dengan pemeriksaan visual, karena lesi
yang ditemukan tergolong besar, nodul kurang lebih simetris dengan rasa gatal. Ada beberapa
kondisi yang menyerupai prurigo nodularis seperti liken planus , psoriasis , eksim. Pada
pemeriksaan yang cermat, pengalaman klinis dan dukungan dari laporan biopsi akan membantu
menegakkan diagnosis yang tepat .

VII. DIAGNOSIS BANDING


a. Liken Simpleks Kronik. Liken simpleks kronik merupakan kelainan kulit yang disebabkan
garukan yang berlebihan pada kulit ditandai dengan adanya hiperpigmentasi, likenifikasi, dan
penebalan plak. Lokasi tersering adalah tengkuk dan leher, daerah siku.11,13,14

GambaR Liken simpleks kronis


Sumber: http://venasaphenamagna.blogspot.com/2011/10/neurodermatitis-sirkumskripta.html

11
b.Keratoakantoma
Penyakit ini jarang pada badan, sering pada daerah yang terpapar sinar matahari, seperti wajah,
leher, ekstremitas superior bagian dorsal. Lesi berwarna kulit sampai kemerahan, terdapat nodul
yang pada bagian tengahnya yaitu keratin plug.2,15

Gambar . Keratoakantoma
Sumber: http://kosmetolog-v-balakovo.ru/goods/KeRATOAKANTOMA-Udalenie-lazerom-v-
Balakovo

c. Gigitan serangga. Gigitan serangga biasanya berupa papul-papul pruritik, berkelompok pada
daerah yang digigit, khas tampak pinpoint bleeding. Sering terdapat vesikel dan bula yang
merupakan reaksi dari gigitan serangga.16

Gambar . Lesi gigitan serangga

d. Liken planus hipertrofi. Lichen planus adalah respon dari kekebalan tubuh yang dimediasi oleh
sel yang asalnya belum diketahui. Ini dapat ditemukan dengan adanya penyakit kekebalan tubuh
lainnya, seperti kolitis ulserativa, alopecia areata, vitiligo, dermatomiositis, morphea, lichen
sclerosis, dan miastenia gravis. Liken planus juga ditemukan terkait dengan infeksi virus hepatitis
C, hepatitis kronis aktif dan primary biliary cirrhosis.12

12
Gambar . Liken planus hipertrofi
Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/03/22/tomcat-atau-paederus-sp-apa-dan-
bagaimana-pengobatannya-448318.html

VII. PENATALAKSANAAN
a. Promotif dan Preventif
Gatal merupakan rasa yang paling dirasakan mengganggu pada kasus ini. Oleh karena itu,
gatal harus dicegah dengan menggunakan sarung tangan atau memotong kuku agar garukan dapat
dihindari atau berkurang.
b. Kuratif
Pengobatan sulit karena intensitas gatal pasien menyebabkan pasien sering pergi dari dokter
ke dokter untuk mencari bantuan. Jarang ditemukan satu pengobatan yang selalu efektif dan
beberapa perawatan mungkin perlu dicoba.

Terapi Sistemik meliputi :

Antihistamin oral diambil pada malam hari untuk mengurangi gatal dan memungkinkan
tidur. Antihistamin standar biasanya tidak cukup membantu untuk kondisi ini, tapi kadangn
pengobatan dengan amitriptyline dapat nermanfaat. Amitrityline biasanya digunakan sebagai
antidepresan namun juga memiliki efek antihistamin. Steroid oral juga diberikan sebagai anti
inflamasi seperti prednisolone.3
Opiat – reseptor antagonis, seperti naltrexone, terbukti efektif mengatasi gatal3 Ada juga retinoid
sistemik, seperti acitretin, dapat menyusutkan nodus dan mengurangi gatal. Naltrexone, antagonis
opiat (ini melawan efek narkotika morfin, heroin dan obat-obatan serupa), yang telah dilaporkan
untuk mengurangi rasa gatal di beberapa mata pelajaran.7,9

13
Ada beberapa jenis obat yang memberikan respon baik pada manifestasi klinis berat, seperti
makrolid, roxithromycin, dikombinasikan dengan anti-fibroblas, tranilast. Gabapentin dapat
digunakan namun bersifat sedatif bagi pasien. Pada kasus yang ditemukan infeksi staphylococcus,
pemberian antibiotik terbukti efektif. Horiuchi et al melaporkan perbaikan signifikan pada Prurogo
Nodularis dengan terapi antibiotik.3,9,17,1

Pengobatan topikal meliputi :

Emolien penggunaan secara berkala untuk mendinginkan dan menyejukkan kulit yang gatal; mentol
atau fenol dapat ditambahkan. Krim antihistamin; seperti Zonalon, Pramoxine. Krim capsaicin
dapat menghentikan gatal. Pemberian diulang 4 – 6 kali per hari3,10.
Steroid digunakan untuk meringankan inflamasi dan gatal, dan untuk melembutkan nodus,
biasanya topikal, namun dapat diberikan intralesi atau oral. Responnya bervariasi. Ultrapotent
steroid topikal krim dapat pula diberikan untuk meningkatkan efek obat, menerapkan bawah
teroklusi dan tertutup dengan plastik. Lesi kulit memberikan respons cepat terhadap penyuntikan
kortikosteroid intralesi. Biasanya dipakai suspensi triamsinolon asetonid 2,5 sampai 12,5 mg per ml.
Dosisnya 0,5, sampai 1 ml per cm2 dengan maksimum 5 ml untuk sekali pengobatan. Oinment coal tar
kadang digunakan sebagai alternatif dari steroid, Oinment calcipotriol terkadang lebih efektif
dibandingkan dengan steroid topikal1,3,6,7

Terapi penyinaran:

Terapi sinar UVA dengan psoralen (PUVA) terapi dilakukan 2 kali seminggu, selama
beberapa minggu. Terapi sinar UVB Dilakukan 2 – 3 kali dalam seminggu selama beberapa
minggu. Krioterapi; membekukan luka dengan cairan nitrogen dapat menyusutkan nodus dan
mengurangi gatal. Kasus yang parah dan resisten dapat dikontrol dengan krioterapi (pembekuan
luka dengan semprotan nitrogen cair). Dalam beberapa kasus mungkin diperlukan untuk mencari
penyebab pasti PN, sayangnya ini adalah salah satu kondisi yang sulit dan butuh tenaga yang ahli
untuk penanganannya. 1,3,9

IX. PROGNOSIS
Lesi tidak dapat membaik secara spontan. Keparahan mungkin dapat berkurang dengan terapi
namun cenderung menetap untuk beberapa waktu. Penyakit ini bersifat kronis dan setelah sembuh
dengan pengobatan biasanya residif.

14
X. KOMPLIKASI
Prurigo nodularis bersifat jinak. Namun, dalam beberapa kasus dapat menyebabkan gangguan
fungsional dan kesakitan pada yang tidak ditangani dengan baik. Beberapa lesi dapat menjadi
hiperpigmentasi yang permanen dan meninggalkan jaringan parut.3

15
BAB IV
KESIMPULAN

KESIMPULAN

Prurigo nodularis ( PN ) adalah kondisi kulit yang terdapat benjolan yang kering dan keras
terbentuk pada kulit yang terasa sangat gatal . PN terasa gatal terus-menerus, terutama pada malam
hari , atau ketika menggunakan pakaian yang tidak sesuai. Kausa penyakit ini belum diketahui,
walaupun kondisi lain dapat menginduksi Prurigo Nodularis.

Lesi berupa nodus atau papul Biasanya simetris, bersisik, hiperpigmentasi atau purpura, dan keras.
Dapat tunggal atau multiple. Lebih besar dari 0,5 cm dan kurang dari 2 cm (3-20 mm), ukurannya
menetap, jarang membesar atau mengecil, dan tidak spontan berubah. Rasa gatal dapat membuat
sulit tidur saat maalam dan menganggu aktivitas saat siang, dapat berdarah, luka, dan terinfeksi jika
terus menerus digaruk.
Nodularis prurigo dapat didiagnosis secara klinis dengan pemeriksaan visual, karena ini
adalah besar , nodul kurang lebih simetris dengan rasa gatal . Ada beberapa kondisi yang
menyerupai Prurigo nodularis seperti Lichen planus , psoriasis , eksim bahkan di kali. Pemeriksaan
yang cermat , pengalaman klinis dan dukungan dari laporan biopsi akan membantu menegakkan
diagnosis yang tepat.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi, 2007, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Jakarta, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
2. McPhee, Stephen J., et al, 2011, Current Medical Diagnosis & Treatment, New York,
McGraw Hill.
3. Siregar, R.S., 2004, Atlas Berwarna Saripati Kulit, Jakarta, EGC.
4. Wolf, Klauss, et al, 2008, Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine, New York,
McGraw Hill.
5. Wolf, Klauss, et al, 2009, Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology,
New York, McGraw Hill.

17