Anda di halaman 1dari 12

Tanggal Praktikum : 12 September 2018

Dosen Pembimbing : Dr. Drh. Andriyanto,


M. Si
Kelompok Praktikum : 7/ Pagi RP. Fifarm

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI VETERINER


Senyawa Kimia yang Bekerja Lokal

Anggota Kelompok :

Anata Amalia Amran (B04150091)


Nisa Nurul Fitria (B04150092)
Vania Agustina (B04150093)
Anndini Eka Pratiwi (B04150095)
Yunita Amanda M. (B04150096)

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


DEPARTEMEN ANATOMI FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018

1
PENDAHULUAN

Latar belakang

Perbedaan antara obat dan racun terletak pada dosisnya. Keduanya sama- sama
senyawa kimia yang jika diberikan pada tubuh akan memberikan efek berbeda sesuai dosis
yang diberikan. Berdampak menyembuhkan jika dosisnya tepat tapi mengakibatkan
keracunan jika dosisnya berlebih. Racun merupakan zat kimia yang masuk dengan cara
apapun dan dalam jumlah kecil yang dapat menimbulkan gangguan atau abnormalitas
fisiokimia.

Toksikan ada yang bekerja secara lokal dan general (umum). Senyawa kimia yang
bekerja secara lokal dibagi menjadi beberapa derajat kerusakan respon lokal. Respon yang
terjadi timbul di tempat yang direaksikan tanpa proses absorbsi. Tubuh manusia dan hewan
hampir semuanya ditutupi oleh kulit, akibatnya kulit dapat terpapar berbagai jenis zat kimia
misalnya kosmetik, produk rumah tangga, obat topikal dan pencemaran industri, terutama di
tempat kerja tertentu.

Praktikum ini menggunakan senyawa kimia yang bekerja secara local (setempat), yaitu
senyawa kimia yang bersifat irritansia dan protektiva. Irritansia merupakan kelompok
senyawa yang bekerja tidak selektif pada sel dan jaringan tubuh dengan cara merusak sel-sel
atau bagian dari sel untuk sementara atau permanen. Reaksi yang bersifat ringan hanya akan
merangsang fungsi sel, namun bila parah atau berlangsung lama akan merusak fungsi sel dan
dapat menimbulkan kematian jaringan. Bergantung dari kekuatan kerja senyawa kimia
tersebut, daya kerja irritansia dapat berupa rubefaksi (perangsangan setempat yang lemah),
vesikasi (terjadi pembentukan vesikel), pustulasi (terbentuk pus), dan korosi (sel-sel jaringan
rusak).

Senyawa protektiva adalah senyawa yang digunakan untuk melindungi kulit atau
mukosa terhadap daya kerja irritansia, baik yang kimiawi maupun yang berupa sinar.
Beberapa dapat melindungi tubuh dari efek zat-zat yang bekerja sistemik dengan
melindunginya agar tidak terserap melalui mukosa. Beberapa daya kerja protektiva adalah
demulsensia (senyawa kimia yang merupakan cairan koloid), emoliensia (senyawa kimia

2
yang merupakan zat minyak), astringensia (senyawa kimia yang digunakan lokal untuk
mempresipitasikan protein) dan adsorbensia.

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah praktikan mengetahui reaksi yang ditimbulkan oleh
zat irritansia dan protektiva dan mengetahui contoh dari senyawa tersebut serta perbedaan
dari tiap perlakuan yang diberikan.

Tinjauan Pustaka
Senyawa Kimia yang bekerja secara lokal dapat dibedakan ke dalam dua jenis
senyawa kimia berdasarkan cara kerjanya. Kedua senyawa tersebut di antaranya adalah
senyawa iritansia dan protektiva. Iritansia merupakan kelompok zat kimia lokal yang
menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan tubuh. Zat-zat ini mempunyai kemampuan yang
tinggi dalam bereaksi dengan jaringan tubuh. Secara umum, paparannya tidak langsung
mencapai pembuluh darah tetapi bereaksi secara lokal pada tempat terjadinya paparan.
Jaringan tubuh yang umumnya teriritasi akibat paparan zat-zat tersebut adalah kulit dan
mukosa. Kedua jaringan ini mudah ditembus oleh zat iritan, baik yang bersifat hidrofil
maupun lipofil. Berdasarkan daya kerjanya, iritansia terbagi atas rubefaksi, vesikasi, pustulasi
dan korosi. Rubefaksi merupakan kelompok senyawa kimia iritansia yang mempunyai
daya kerja lemah. Gejala utama yang ditimbulkan oleh senyawa kimia ini adalah hiperemia
arteriol yang dilanjutkan dengan dermatitis eritrematosa. Contoh daya kerja dari rubafasiensia
terlihat pada paparan menthol, kloroform ataupun fenol pada kulit. Menthol merupakan
seyawa yang bisa menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah. Rasa nyeri dan sakit akan
timbul jika menthol digosokan secara terus-menerus pada kulit. Kloroform akan
menimbulkan iritasi ringan jika terpapar dalam waktu yang lama di kulit. Hal ini
disebabkan oleh kemampuan dari senyawa yang temasuk turunan asam formiat ini untuk
melarutkan lemak. Sedangkan, daya kerja iritan dari fenol disebabkan oleh sifat
keratolisis dan vasokonstrifnya. Meskipun demikian, efek iritasinya dapat berbeda-
beda tergantung pada jenis larutannya. Fenol akan menjadi iritan jika dicampurkan dengan air
ataupun alkohol. Hal ini disebabkan oleh kemampuan fenol sebagai pelarut, terutama pada
senyawa-senyawa polar. Vesikasi merupakan pembentukan vesikel akibat akumulasi cairan
transudat yang tinggi sehingga tidak dapat diangkut oleh bulu limfe. Cairan ini terakumulasi
di stratum korneum dan mengundang datangnya leukosit. Transudat yang awalnya jernih

3
akan berubah menjadi keruh. Sedangkan, pustulasi adalah iritasi yang terjadi hanya pada
kelenjar-kelenjar kutaneus, iritasi kutaneus menyebabkan terbentuknya pernanahan. Korosi
mempunyai daya kerja yang melibatkan tiga fase, yaitu: radang dengan hiperemi, nekrosis
dan pencairan kimia (Lorgue 1996).
Senyawa selanjutnya adalah protektiva. Menurut Ganiswarna (2005), senyawa
protektiva adalah senyawa yang digunakan untuk melindungi kulit atau mukosa terhadap
daya kerja iritansia, baik yang kimiawi maupun yang berupa sinar. Senyawa tersebut
beberapa dapat melindungi tubuh dari efek zat-zat yang bekerja sistemik dengan
melindunginya agar tidak terserap melalui mukosa. Daya kerja protektiva adalah demulsensia
(senyawa kimia yang merupakan cairan koloid). Daya kerja demulsensia ini adalah
membentuk lapisan untuk melindungi kulit. Hal ini ditimbulkan oleh efek pencampuran
cairan koloid dengan air. Gom arab (resin), musilago, dan pati merupakan bahan utama dari
senyawa demulsensia. Emolsiensia (senyawa kimia yang merupakan zat minyak). Emolioen
merupakan lemak dan minyak yang digunakan lokal pada kulit dan mukosa. Senyawa ini
mempunyai kemampuan untuk melindungi kulit dari iritasi. Astringensia (senyawa kimia
yang digunakan lokal untuk mempresipitasikan protein). Daya kerja utama senyawa
astringensia adalah kemampuan presipitasinya. Permeabilitas membran dapat ditekan tanpa
menyebabkan terjadinya kematian sel. Perubahan permeabilitas menyebabkan menurunnya
penyerapan zat iritan. Contoh senyawa astringensia adalah tanin. Adsorbensia (senyawa
kimia yang digunakan pada kulit dan membran mukosa, ulcera, dan luka-luka). Senyawa
kimia berdaya adsorbensia mempunyai kemampuan untuk menyerap zat iritan. Contoh
senyawa adsorbensia adalah karbon.

METODE

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah kapas, spoit 1 mL,
pinset, gunting bedah, pipet tetes, papan, lidah, tangan, dan jari. Bahan yang digunakan
dalam praktikum kali ini adalah air, alkohol 25%, , gliserin 25% , minyak olivarum
(semuanya dicampurkan larutan fenol 5%), asam sulfat pekat, asam khlorida pekat, asam
nitrat pekat, fenol likuafaktum, NaOH 75%, kloroform, H2SO4 1/25 N¸ H2SO4 1/10 N, gom
Arab, tannin 5%, strikhnin nitrat, karbo adsorbensia, NaOH, Na2S, Krem Ca-tioglikolat
(Veet).

4
Prosedur Praktikum

A. IRRITANSIA
1. Rubefasiensia
Gosoklah sepotong menthol pada kulit. Catat hasilnya dan berilah keterangan.
Celupkan kapas ke dalam kloroform dan letakkan di atas kulit lengan selama 2-3 menit atau
sampai terasa nyeri. Sebagai perbandingan teteskanlah satu tetes kloroform di atas kulit
lengan yang lain. Catat hasilnya dan berilah keterangan Celupkan 4 jari tangan, masing-
masing ke dalam larutan fenol 5% dalam. Catat hasilnya dan berilah keterangan. 1. Air,
2.Alkohol 25%, 3. Gliserin 25%, 4. Minyak Olivarum

2. Kaustika
Lakukan anaesthesi pada kelinsi/marmot/tikus, setelah rambut-rambut bagian
abdomen dicukur. Teteskanlah pada kiri kanan dari garis tengah abdomen bahan-bahan di
bawah ini :
- 1 tetes asam sulfat pekat - 1 tetes fenol likuafaktum
- 1 tetes asam khlorida pekat - 1 tetes NaOH 75%
- 1 tetes asam nitrat pekat - 1 tetes kloroform
Setelah dibiarkan selama 30 menit untuk bekerjanya zat tersebut, catatlah hasilnya
dan lakukan percobaan yang sama pada mukosa usus setelah dilakukan pembedahan
longitudinal pada abdomen kelinci, marmot atau tikus tersebut.

B. PROTEKTIVA
1. Demulsensia
Adakan rangsangan pada salah satu kaki kodok dengan :

- H2SO4 1/25 N
- H2SO4 1/10 N
Kerjakan seperti a. dengan larutan-larutan sebagai berikut :

- H2SO4 1/25 N ditambah gom Arab 10%


- H2SO4 1/10 N ditambah gom Arab 10%
2. Astringensia

5
Teteskan satu tetes larutan Tannin 5% pada permukaan ujung lidah. Rasakab untuk 2
menit, kemudian cuci mulut dengan berkumur air. Amati ujung lidah dengan cermin atau
minta pada peserta lain untuk melakukan pengamatan pada ujung lidah. Amati adanya
perubahan pada permukaan mukosa lidah dan rasa yang terjadi.

3. Adsorbensia
Suntikkan 1 ml larutan Strikhnin nitrat (0.2 mg/ml) pada katak secara subkutan.
Suntikkan 1 ml larutan Strikhnin nitrat (0.2 mg/ml) yang sebelumnya telah dikocok dengan
karbo adsorbensia, pada katak secara subkutan. Catatlah hasilnya dan berikan keterangan.

C. DAYA KERJA DEPILATOR


Teteskan 1 atau 2 tetes dari masing-masing zat yang tersedia (NaOH, BaS, Na2S) di
atas kulit kelinci/marmot/tikus pada tempat yang berbeda. Biarkan selama 10 menit
kemudian bersihkan bekasnya dengan kapas. Amati ada atau tidaknya bulu yang lepas. Amati
pula efek-efek lain pada kulit bila ada. Perhatikan pula baunya. Pada bagian lain dari kulit ini,
Krem Ca-tioglikolat (Veet), kemudian lakukan seperti pada larutan-larutan di atas dan
lakukan pula pengamatan dengan cara yang sama. Setelah selesai pengamatan, segera cuci
kulit bekas tempat tetesan oleh zat-zat di atas dengan sabun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Irritansia

Tabel 1. Pengaruh sediaan rubenfasia terhadap kulit


Senyawa Efek yang ditimbulkan
Menthol Terasa sensasi dingin yang cukup lama
Klorofom Kapas: Awalnya terasa dingin, namun lama
kelamaan menjadi gatal, perih, dan kemerahan
Tetes: Dingin
Fenol 5% + air Kulit terasa lebih dingin menjadi putih dan
berkeriput
Fenol 5% + Alkohol 25% Kulit terasa cukup dingin, menjadi putih dan

6
berkeriput
Fenol 5% + Gliserin 25% Kulit terasa tidak terlalu dingin
Fenol 5% + minyak olvarium Tidak ada perubahan

Zat irritansia dapat menimbulkan berbagai kerusakan pada kulit dan mukosa. Zat
yang bersifat asam kuat dapat mendenaturasikan protein dan basa kuat dapat melisiskan
protein. Ada pula senyawa yang menimbulkan rubefaksi, misalnya menthol, fenol dan
kloroform. Zat yang dapat melindungi dari irritansia disebut protektiva. Zat ini dapat bersifat
menyerap zat racun , membentuk lapisan, mempresipitasikan protein dan melunakkan,
menutup serta melindungi kulit. Pencampuran zat irritansia denga protektiva akan
menyebabkan efek sakit yang timbul lebih lambat. Senyawa yang bersifat iritansia
merupakan senyawa yang dapat memberikan efek dingin pada awal pemakaian namun lama
kelamaan menjadi panas dan nyeri. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan sediaan
menthol dan klorofom. Penggosokan menthol pada kulit tangan awalnya akan terasa dingin,
akan tetapi jika digosok terus menerus maka akan terasa sedikit panas. menthol dapat
meningkatkan vasodilastasi kulit sehingga dapat mengurang fungsi kulit.
Kapas yang telah dicelupkan pada klorofom dan ditaruh pada kulit lengan hampir
mempunyai efek yang sama seperti menthol, awalnya kulit akan terasa dingin, namun lama
kelamaan akan terasa panas dan menimbulkan nyeri juga kemerahan pada kulit. Hal ini
terjadi karena kloroform merangsang reseptor dingin pada kulit juga vasodilastasi pada
pembuluh darah, karena sensasi dingin yang terus menerus maka tubuh akan berusaha
menyeimbangkan suhu tubuh dengan menghasilkan panas. kemerahan pada kulit terjadi
akibat iritasi pada kulit ditambah dengan vasodilastasi pembuluh darah.
Fenol merupakan agen iritan yang dapat menyebabkan terjadinya lisis pada sel kulit
dan menyempitnya pembuluh darah. Fenol merupakan pelarut senyawa, khususnya senyawa
polar. Pelarutan air dengan alkohol dapat menyebabkan terjadinya iritasi ringan apabila
tersentuh. Hal ini terlihat dari hasil percobaan bahwa pemasukan jari ke dalam campuran
larutan fenol yang ditambah dengan air menyebabkan jari berubah warna menjadi putih dan
mengkerut. Setelah beberapa saat, tangan juga terasa lebih mati rasa dan kemudian menjadi
kesemutan. Hal ini menunjukan bahwa terjadi vasokonstriksi dan kekurangpekaan pada saraf
sensoris. Pada larutan fenol + alkohol, terjadi perubahan warna menjadi putih dan jari terasa
sedikit mati rasa dan kesemutan. Ketika jari dimasukan ke dalam larutan berisi fenol dan
gliserin serta fenol dan minyak olivarium, tidak terasa adanya perubahan klinis namun ketika

7
jari dikeluarkan dari botol, jari terasa hangat. Hal ini menunjukan bahwa sifat fenol berupa
keratolisis dan vasokonstriktif tidak terasa akibatnya apabila fenol dicampur degan gliserin
dan minyak olivarium.Fenol merupakan senyawa turunan benzena yang salah satu atomya
tersubtitusi dengan gugus hidroksi (-OH). Fenol memiliki keasaman yang tinggi karena
cincin aromatik yang bergandengan dengan kuat dengan oksigen cenderung memusahkan
ikatan antara oksigen dengan hidrogen (Wresdiyati et al. 2003).
Gliserol adalah produk samping produksi disel dari reaksi transesterifikasi dan
merupakan senyawa alkohol dengan gugus hidroksil berjumlah tiga buah (Prasetyo et al.
2012). Jari yang dimasukan ke dalam campuran fenol dan gliserin tidak menimbulkan reaksi
yang signifikan, karena gliserin melembapi kulit dan mencegah fenol untuk menarik cairan
dari kulit.
Minyak olivarum atau oleum olivarum merupakan minyak yang diperoleh dari buah
yang masak Olea europaea L. Minyak ini sukar larut dalam etanol tetapi mudah larut dalam
klorofom, eter, dan karbondisulfida (Cyntiani 2012). Jari yang dicelupkan pada campuran
minyak olivarum dan fenol tidak menimbulkan reaksi apapun karena minyak olivarum sukar
larut dalam fenol yang juga merupakan salah satu jenis alkohol.

Tabel 2. Senyawa yang bersifat kaustika beserta perubahannya


Perlaku- Peruba- H2SO4 HCl HNO3 Fenol 10% NaOH Kloro-
an han 75% fom
Kulit Warna Putih Bening ada Kuning Tidak ada Merah Tidak
yang bercak pucat perubahan ada
dicukur kemerahan perubaha
n
Bentuk Mengge- Melepuh Mengge- Rata Iritasi Rata
lembung lembung
dan
melepuh
Konsis- Mem- Membeng- Terdapat Tidak Terdapat Tidak
tensi bengkak kak dan iritasi terjadi iritasi terjadi
keluar iritasi iritasi
cairan

8
Asam kuat adalah asam yang banyak menghasilkan air dalam larutannya atau
terionisasi sempurna dalam larutannya. Asam Klorida (HCl), H2SO4, dan HNO3 merupakan
jenis asam kuat. Percobaan pada kulit tikus yang diberikan asam kuat menyebabkan kulit
membentuk vesikel. Reaksi kulit terhadap H2SO4 menimbulkan warna putih mengeras dan
menggelembung. Reaksi terhadap HCL pekat menyebabkan kulit lisis. Reaksi terhadap
pemberian HNO3 menimbulkan warna kuning pucat pada kulit dan terdapat iritasi. Fenol
10% umumnya tidak menimbulkan reaksi apapun terhadap kulit. Klorofom mempunyai sifat
radikal, yaitu memiliki elektron yang tidak berpasangan. Efek yang ditimbulkan oleh
klorofom pada kulit tidak begitu signifikan. Sifat Korosif berupa terjadinya kemerahan,
iritasi, luka, dan kerutan pada kulit, ditimbulkan oleh NaOH 75%. Natrium Hidroksida
merupakan salah satu jenis basa kuat yang memiliki sifat korosif.

Protectiva

Tabel 3. Senyawa yang bersifat protektiva demulensia


Perlakuan Waktu
H2SO4 1/25 N 20 s
H2SO4 1/10 N 15 s
H2SO4 1/25 N + gom Arab 10% 59 s
H2SO4 1/10 N + gom Arab 10% 33.09 s

Asam sulfat memiliki daya ionisasi asam lebih kuat sehingga asam sulfat lebih
mudah dan lebih banyak bereaksi dengan zat-zat di dalam kulit (Gumilar et al. 2010).
Percobaan demulsensia pada kaki katak yang dicelupkan pada H2SO4 murni dengan
konsentrasi 1/25 N dan 1/10 N memiliki kecepatan reaksi yang berbeda, reaksi sakit sejalan
dengan tingginya konsentrasi H2SO4 yaitu 15 detik pasca pencelupan. Hal ini disebabkan
karena zat H2SO4 termasuk golongan zat iritan terhadap jaringan dan salah satu jenis asam
kuat.
Gom arab merupakan getah yang disadap dari pohon akasia yang banyak
diaplikasikan untuk penganan (manisan) sebagai pengontrol tekstur dan menghambat
kristalisasi gula dan untuk minuman sebagai pengemulsi dan sebagai perisa pada minyak
(Williams et al. 2012). Gom arab berfungsi sebagai demulsensia yaitu untuk melindungi kulit

9
dengan cara menghambat absorbsi H2SO4 ke kulit sehingga waktu yang dibutuhkan untuk
mengiritasi kaki katak lebih lama dibandingkan dengan H2SO4 tanpa gom arab. H2SO4 yang
dicampur dengan gom arab akan menimbulkan reaksi yang lebih lambat yaitu 59 detik dan
33.09 detik.

Tabel 4. Senyawa astringensia


Senyawa kimia Warna Bentuk Rasa
Permukaan lidah
Tannin 5% Coklat pahit
lebih tebal

Hasil pengamatan pada mukosa lidah yang ditetesi oleh tannin 5 % menunjukkan
perubahan warna pada mukosa lidah menjadi kecoklatanm, permukaan lidah terasa lebih
tebal dan lidah terasa pahit. Bahan yang bersifat Astringent (misal tanin) bersifat
mempresipitasi protein, menyebabkan kulit menjadi kasar, meningkatkan penyembuhan dan
mengeringkan kulit bila digunakan secara topikal. Permukaan mukosa lidah yang diolesi
tanin akan mengalami presipitasi sehingga permeabilitasnya menurun. Hal ini mengakibatkan
menurunnya penyerapan zat racun.

Tabel 5. Senyawa yang termasuk adsorbensia


Parameter Striknin nitrat (0,2 mg/ml) Striknin nitrat (0,2
mg/ml) + karbo
adsorbensia
Durasi 7 menit 13 detik 15 menit 22 detik
Intensitas +++ +
Onset 3 menit 45 detik 7 menit 56 detik

Percobaan adsorbensia pertama dilakukan pada katak yang disuntikan dengan


striknin dan pada percobaan kedua striknin dikombinasi dengan karbon adsorbensia.
Strikhnin adalah jenis zat stimulansia yang memunculkan gejala berupa kejang-kejang yang
simetris pada otot. Pada katak yang disuntikan striknin, reaksi muncul saat 3 menit 45 detik
dengan durasi 7 menit 13 detik dan intensitas yang sangat kuat. Striknin yang dicampur
dengan karbon adsorbensia muncul reaksi lebih lambat yaitu pada 7 menit 56 detik, durasi 15

10
menit 22 detik dengan intensitas yang lemah. Hal ini disebabkan karena karbon adsorbensia
merupakan senyawa arang aktif yang dapat menyerap racun, sebagian zat striknin diserap
oleh karbon sehingga jumlah striknin yang bekerja pada tubuh katak lebih sedikit sehingga
dapat menghambat iritasi dan intensitas yang muncul lebih lemah.

Depilator
Tabel 6. Senyawa depilator
Bahan Reaksi Kerontokan Rambut
NaOH +++
Veet ++
Na2S +
Senyawa kontrol -

Senyawa depilator merupakan sediaan yang diaplikasikan untuk memberikan efek


depilasi pada rambut. Berdasarkan tabel di atas, secara berurutan sediaan yang memberikan
efek paling kuat hingga lemah sebagai depilator adalah NaOH, Veet, dan Na2S. NaOH
merupakan alkali kuat sehingga dapat mendegradasi keratin rambut, serta melunakkan
rambut dan memudahkannya lepas dari permukaan kulit (Ganiswara 2001). Vanishing cream
atau Veet mengandung asam stearate, stearil alcohol, sodium lauril sulfat, trietanolamin,
metil paraben, etil paraben, gliserin, akuades, dan antioxidant yang biasa digunakan dalam
sediaan kosmetik. Meskipun memiliki sifat depilator, tetapi kandungan-kandungan ini
umumnya tidak bersifat iritan (Prasetyo 2012).

SIMPULAN

Senyawa irritansia menimbulkan reaksi nyeri dan zat protektiva melindungi kulit
terhadap daya kerja irritansia dengan contoh gum Arab 10% , Alkohol 25% , Gliserin 25%
dan Minyak Olivarum. Sedangkan senyawa depilator dapat menyebabkan kerontokan rambut
dengan contoh senyawa depilator kuat adalah NaOH.

11
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga.


Diterjemahkan oleh : Suminar Setiati Achmadi, Ph.D. Jakarta (ID) : Erlangga.
Cyntiani. 2012. Analisis minyak lemak yang terdapat pada produk obat gosok [skripsi].
Depok (ID): Universitas Indonesia.

Ganiswara Silistia G. 2001. Farmakologi dan Terapi (Basic Therapy Pharmacology). Alih
Bahasa: Bagian Farmakologi FK UI. Jakarta (ID): UI Press.

Gumilar J, Putranto WS, Wulandari E. 2010. Pengaruh penggunaan asam sulfat (H2SO4) dan
asam formiat (HCOOH) pada proses pikel terhada kualitas kulit jadi (leather) domba
garut. JIT. 10(1):1-6.
Lorgue,G., Lechenet, J. & Riviere, A. 1996. Clinical Veterinary Toxicology. London
(UK): Blackwell Science Ltd.
Prasetyo AE, Widhi A, Widayat. 2012. Potensi Gliserol dalam pembuatan turunan gliserol
melalui proses esterifikasi. JIL. 10(1):26-31.
Williams PA, Kennedy JF, Phillips GO. 2012. Gum Arabic. London (UK): RSC Publishing.
Wresdiyati T, Astawan M, Adnyane IKM. 2003. Aktivitas anti inflamasi oleoresin jahe
(Zingiber officinale) pada ginjal tikus yang mengalami perlakuan stress. J Teknol
Indus Pangan.14(2):113-120.

12