Anda di halaman 1dari 2

1.

Infeksi adalah reaksi inflamasi yang disebabkan oleh adanya mikroorganisme atau invasi
organ steril oleh mikroorganisme.
2. Bakteriemia adalah adanya bakteria dalam darah.
3. Systemic Inflamatory Response Syndrome ( SIRS ) adalah reaksi inflmasi sebagai reaksi
terhadap adanya berbagai penyakit/ kondisi dengan diagnosis seperti telah disebutkan
diatas.
4. Sepsis ( SIRS + infeksi ) adalah SIRS yang disebabkan oleh faktor infeksi.
5. Sepsis berat / severe sepsis adalah sepsis dengan tanda - tanda disfungsi organ atau
penurunan perfusi organ ( asidosis laktat, oliguri < 30 ml/jam atau 0,5 ml/kg berat
badan/jam, hipotensi < 90 mmHg, atau penurunan > 40 mmHg ) dan perubahan mental.
6. Syok septik adalah sepsis berat dan hipotensi yang persisten, meskipun telah diberikan
cairan yang adekuat, dan setelah menyingkirkan penyebab hipotensi yang lainnya.
7. Sindrom disfungsi organ multipel ( MODS ) adalah adanya gangguan fungsi multi organ
pada pasien dengan sakit berat akut dimana hemostasis tidak dapat dipertahankan tanpa
intervensi.

Pada umumnya untuk infeksi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan, yang dicurigai
dengan infeksi aerob dan anaerob masih dapat diberikan kombinasi penisilin, aminoglikosid dan
klindamisin atau metronidazole.

Sebagai alternatif, pada pasien pasien yang tidak mengalami neutropenia dapat diberikan
sefalosposrin generasi ke dua atau ke tiga. Sepalosporin generasi ketiga atau keempat, sepeti
Cefotaxime, Ceftizoxime, Cefoperazone, Ceftriaxone, Cefpirone, Cefepine atau Ceftazidime serta
Meropenem dapat dipertimbangkan pada infeksi yang berat atau pada infeksi oleh berbagai
macam strain bakteria gram negatif.

Salah satu komplikasi utama pasien sepsis adalah adanya vasodilatasi umum yang diakibatkan
oleh pelepasan Nitric Oxide ( NO ) dalam jumlah besar. Disamping itu pada sepsis, syok
hipovolemik juga bisa disebabkan oleh adanya peningkatan kapasitas vaskular ( penurunan
venous return ), dehidrasi ( karena asupan yang menurun, kehilangan cairan melalui keringat,
dan pernapasan ) atau karena adanya perdarahan dan kebocoran plasma. Stabilisasi hemodinamik
bertujuan untuk mempertahankan perfusi jaringan dan menormalisasi metabolisme selular.
Pemberian cairan kristaloid / koloid untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik diberikan
secara bolus 250 – 1000 mL selama 5 - 15 menit, setelah itu dipertahankan sesuai dengan
tekanan darah, yaitu mempertahankan tekanan darah sistolik minimal 90 mmHg atau tekanan
arterial rata-rata ( MAP ) 60 - 65 mmHg, dan volume urine ≥ 0,5 mL/kg berat badan/jam. Bila
setelah pemberian cairan tersebut secara klinis, tekanan darah tidak ada perubahan / masih
hipotensif, frekuensi denyut jantung tidak menurun, isi nadi tidak cukup, kulit dan ekstermitas
dingin, produksi urin tidak membaik, dan kesadaran tidak membaik, maka pemberian cairan
selanjutnya sebaiknya dimonitor dengan pemasangan Central Venous Pressure ( CVP ) yang
dipertahankan pada tekanan 8 - 12 mmH2O, atau yang lebih tepat dengan memonitor tekanan
ventrikel kiri dan tekanan diastolik dengan pemasangan Pulmonary Capillry Wedge Pressure (
PCWP ) yang dipertahankan pada tekanan 12 - 16 mmHg. Suplai oksigen sistemik tergantung
dari cardiac output dan oxygen carrying capacity dari darah. Kadar Hb yang ideal untuk pasien
sepsis adalah 8 hingga 10 gr/dl tergantung keadaan klinis penderita. Semua tindakan ini
dilakukan di ruang perawatan intensif dengan monitoring yang ketat.

Pengakhiran kehamilan
Terdapat beberapa pengaruh sepsis terhadap kehamilan, seperti misalnya terjadinya penurunan
sirkulasi uteroplasenta dan persalinan preterm, yang disebabkan oleh hipoksemia maternal dan
asidosis. Keputusan untuk melahirkan tetap mempertimbangkan kondisi pasien dan umur
kehamilan ( kecuali intra uterine infection ). Apabila pemberian terapi yang adekuat terhadap
sepsis tetap tidak memberikan perbaikan kondisi ibu, atau terjadi perburukan kondisi ibu, maka
melahirkan/mengosongkan uterus dengan segera dapat dipertimbangkan karena dapat
memperbaiki venous return dan volume paru.