Anda di halaman 1dari 5

PRAKTIKUM 2

EROSI BATUAN

1. Pendahuluan
Batuan tertentu seperti karbonat dapat terkikis ketika kontak dengan senyawa
asam. Gas – gas polutan di udara dapat bereaksi dengan air hujan membentuk larutan
asam yang dapat mengikis batuan di alam. Sebagai contoh, gas karbon dioksida
membentuk larutan asam karbonat dengan air hujan. Demikian pula gas sulfur dioksida
membentuk asam sulfit.

2. Tujuan
Percobaan ini bertujuan menunjukkan kepada mahasiswa tentang proses erosi
batuan di alam akibat hujan asam

3. Bahan
 Batu kapur
 Akuades
 Larutan H2SO3 1M dan 0,1 M

4. Prosedur
1. Letakkan batu kapur dalam mangkuk, tuangkan sedikit larutan asam sulfit 0,1 M di
atasnya dan AMATI yang terjadi.
2. Setelah gelembung habis ambil batuan dan amati dasar wadah.
3. Lakukan hal yang sama tetapi hanya menggunakan air saja dan larutan asam sulfit 1
M. Amati perbedaannya.

5. Pembahasan
No Jenis Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Batu Kapur+Aquades Airnya tidak terlalu pekat dan tidak berkeruh,
tidak ada gelembung
2. Batu Kapur+H2SO4 0,1 M Airnya sedikit pekat dan berkeruh, sedikit
ada gelembung
3. Batu Kapur+H2SO4 1 M Airnya sangat pekat dan berkeruh, banyak
gelembung

Batu Kapur dan dolomit merupakan batuan karbonat utama yang banyak digunakan
diindustri Aragonit yang berkomposisi kimia sama dengan Kalsit (CaCO3) tetapi berbeda
dengan struktur kristalnya, merupakan mineral metas table karena pada kurun waktu
tertentu dapat berubah menjadi Kalsit. Karena sifat fisika mineral-mineral karbonat hampir
sama satu sama lain, maka tidak mudah untuk mengidentifikasinya. Batugamping
merupakan salah satu golongan batuan sedimen yang paling banyak
jumlahnya.Batugamping itu sendiri terdiri dari batugamping non-klastik dan batugamping
klastik. Batugamping non-klastik, merupakan koloni dari binatang laut antara lain dari
Coelentrata, Moluska, Protozoa dan Foraminifera atau batugamping ini sering juga disebut
batugamping Koral karena penyusun utamanya adalah Koral. Batugamping Klastik,
merupakan hasil rombakan jenis batugamping non-klastik melalui proses erosi oleh air,
transportasi, sortasi, dan terakhir sedimentasi.selama proses tersebut banyak mineral-
mineral lain yang terikut yang merupakan pengotor, sehingga sering kita jumpai adanya
variasi warna dari batugamping itu sendiri. Seperti warna putih susu, abu-abu muda, abu-
abu tua, coklat, merah bahkan hitam. Secara kimia batugamping terdiri atas Kalsium
karbonat (CaCO3). Dialam tidak jarang pula dijumpai batugamping magnesium. Kadar
magnesium yang tinggi mengubah batugamping dolomitan dengan komposisi kimia
CaCO3MgCO3 Adapun sifat dari batugamping adalah sebagai berikut :

a. Warna: Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan


b. Kilap: Kaca, dan tanah
c. Goresan: Putih sampai putih keabuan
d. Bidang belahan: Tidak teratur
e. Pecahan: Uneven
f. Kekerasan: 2,7 – 3,4 skala mohs
g. Berat Jenis: 2,387 Ton/m3
h. Tenacity: Keras, Kompak, sebagian berongga

Kapur merupakan batuan sedimen karena terbentuk dari proses sedimentasi alam,
yang mengandung senyama kalsium oksida (CaO), dalam batu kapur terjadi proses
metamorfosa yang merupakan batuan padat, kompak tanpa foliasi.CaCO3adalah
Kalsium Karbonat.sifat dari CaCO3 adalah apabila ditambahkan air reaksi akan kuat
dan cepat, apabila senyawa dalam bentuk serbuk akan melepaskan kalor, dan larut
dalam asam meskipun asam lemah. Dengan demikian analisis penentuan kadar
CaCO3 dalam batu kapur tersebut, dimana CaO dalam batu kapur bereaksi dengan
karbondioksida (CO2) akan menghasilkan CaCO3, sehingga reaksinya CaCO3. CaO +
CO2, dengan melakukan titrasi terhadap larutan CaCO3 dan menghitung dengan
rumus perhitungan dimana kadar CaCO3 diformulasikan dengan mengalikannya 50
dengan 0,5 kemudian dikurang dengan b (hasil titran) dan mengkalikannya dengan
Normalitas hasil titran dibagi dengan 2 kali 1000 kemudian dikali berat contoh dan
hasil kali dan formulasi dikalikan dengan 100%, sehingga kadar CaCO3 dalam Kapur
dapat ditentukan sesuai hasil penitrasian larutan.

Pada praktikum ini dilakukan percobaan praktikum dengan melarutkan batu kapur
oleh aquades, larutan H2SO4 0,1 M dan larutan H2SO4 1 M. Terlihat banyak perbedaan
pada ketiga jenis larutan. Ketiga larutan memberikan perlakuan yang sama terhadap
batu kapur dengan massa yang seragam (ukuran butir sama). Perbedaan antara ketiga
jenis larutan berbeda. Pada larutan aquades, terlihat bahwa aquades tidak memberikan
erosi atau melarutkan batu kapur, warna air tidak berkeruh dan tidak menimbulkan
gelembung. Hal ini dikarenakan aquades bersifat netral dan tidak memiliki derajat
keasaman yang tinggi sesuai dengan persamaan reaksi berikut:

kalsium hidroksida (air kapur)

Sedangkan pada larutan larutan H2SO4 0,1 M dan larutan H2SO4 1 M terlihat bahwa
larutan H2SO4 0,1 M dan larutan H2SO4 1 M memberikan erosi atau melarutkan batu
kapur, warna air berkeruh dan menimbulkan gelembung. Namun tingkat keruh dan
banyaknya gelembung dapat dilihat dari konsentrasi larutan H2SO4 0,1 M dan larutan
H2SO4 1 M. Semakin tinggi konsentrasi larutan maka dapat mengerosi batu kapur, maka
semakin banyak gelembung yang dihasilkan dan semakin berkeruh warna larutan pada
batu kapur. Gelembung dihasilkan akibat reaksi yang membentuk karbondioksida. Hal
tersebut dikarenakan larutan H2SO4 memiliki tingkat keasaman yang tinggi dan dapat
dibuktikan dengan persamaan:

CaCO3 + H2SO4 → CaSO4 + H2O + CO2

Mineral karbonat yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur adalah
aragonit (CaCO3), yang merupakan mineral metastable karena pada kurun waktu
tertentu dapat berubah menjadi kalsit (CaCO3). Mineral lainnya yang umum ditemukan
berasosiasi dengan batu kapur atau dolomit, tetapi dalam jumlah kecil adalah Siderit
(FeCO3), ankarerit (Ca2MgFe(CO3)4), dan magnesit (MgCO3). Penggunaan batu
kapur sudah beragam diantaranya untuk bahan kaptan, bahan campuran bangunan,
industri karet dan ban, kertas, dan lain-lain. Potensi batu kapur di Indonesia sangat besar
dan tersebar hampir merata di seluruh kepulauan Indonesia. Sebagian besar cadangan
batu kapur Indonesia terdapat di Sumatera Barat.

6. Kesimpulan
Pada praktikum erosi batuan dapat disimpulkan bahwa Batu Kapur memiliki
resistivitas yang lemah bila di beri perlakuan oleh larutan H2SO4 0,1 M dan larutan H2SO4
1 M. Dan sedikit resist terhadap larutan aquades. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil
pelarutan dan erosi batuan yaitu batu kapur yang diberi larutan H2SO4 0,1 M dan larutan
H2SO4 1 M mudah rapuh, sedangkan jika diberi aquades tetap mengeras.

sumber:
http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Batukapur/ulasan.asp?xdir=Batukapur&commId=35&com
m=Batu%20kapur/gamping