Anda di halaman 1dari 12

SAWERIGADING

Volume 23 No. 2, Desember 2017 Halaman 205—216

SKEMA AKTAN DAN FUNGSIONAL CERITA SANGBIDANG


(Actant and Functional Schemes of Sangbidang Folkore)
Mustafa
Balai Bahasa Sulawesi Selatan
Jalan Sultan Alauddin Km 7 Talasalang, Makassar
Telepon 0411 882401; Faksimile 0411 882403
Pos-el: lamadaremmeng@gmail.com
Diterima: 20 Februari 2017; Direvisi: 3 Agustus 2017; Disetujui: 15 November 2017

Abstract
This paper discusses actant and functional schemes of Torajan folkore of “Sangbidang” by using A.J.
Greimas theory. This paper aims to describe the actant and functional schemes contained in “Sangbidang.”
Datum is analyzed by using qualitative descriptive method with narrative analysis technique that includes
two stages of structures, namely (1) literature structure, the level of the story is presented (storytelling),
and (2) deep structure, the level of immanent including (a) the level of narrative syntactic analysis (actant
and functional schemes) and (b) the level of discursive. Datum collected through literary study. The result
shows that there is functional scheme which is devided into; (1) the first situation, (2) the transformation
divided into (a) the proficiency test stage, (b) the main stage, and (c) the gloriousness stage; and (3) the
final situation on it.
Keywords: actant scheme; functional scheme; and oral literary

Abstrak
Tulisan ini membahas skema aktan dan fungsional cerita rakyat Toraja “Sangbidang” dengan menggunakan
teori A.J Greimas. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan struktur aktan dan fungsional yang terkandung
dalam cerita “Sangbidang”. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan
teknik analisis naratif yang meliputi dua tahapan struktur, yaitu (1) struktur lahir, yakni tataran perihal cerita
dikemukakan (penceritaan), dan (2) struktur batin, yakni tataran imanen yang meliputi (a) tataran analisis
sintaksis naratif (skema aktan dan skema fungsional) dan (b) tataran diskursif. Pengumpulan data dilakukan
melalui studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat skema aktan pada cerita Sangbidang yang
terdiri atas (1) pengirim, (2) objek, (3) penerima, dan (4) subjek. Terdapat pula skema fungsional yang
dibedakan menjadi (1) situasi awal; (2) transformasi yang terbagi atas (a) tahap uji kecakapan, (b) tahap
utama, dan (c) tahap kegemilangan; dan (3) situasi akhir yang terdapat di dalamnya.
Kata kunci: skema aktan; skema fungsional; dan sastra lisan

PENDAHULUAN terus hidup di tengah masyarakat sebagai bagian


Sudah cukup banyak kajian yang telah dari kekayaan budaya dan media pembelajaran
dilakukan terkait keberadaan sastra lisan yang kearifan lokal bagi generasi mendatang.
telah mengalami transformasi atau perubahan Akhir-akhir ini, pengkajian sebuah
bentuk dari sastra lisan, kemudian menjadi karya sastra sering dilakukan dengan cara
sastra tulis setelah pemerintah mengupayakan pengkajian semiotika, tidak seperti dulu
pendokumentasian sastra lisan. Kesemuanya itu yang penganalisisannya hanya berputar pada
terdorong oleh keinginan agar sastra lisan dapat masalah tokoh, penokohan, latar, alur, dan

205
Sawerigading, Vol. 23, No. 2, Desember 2017: 205—216

aspek lainnya. Menurut Sudjiman dan Zoest pembaca dalam kemampuan bersastra. Dengan
(1991: 5), semiotika adalah studi tentang tanda ditemukannya skema aktan dan fungsional dalam
dan segala yang berhubungan dengannya, cerita, diharapkan dapat memberikan kontribusi
cara berfungsinya, dan mempergunakannya. bagi peneliti untuk menggunakan teori yang
Semiotika terdiri atas tiga bagian, yaitu sintaksis sama dalam menganalisis cerita rakyat lainnya.
semiotika (studi tanda yang berpusat pada
penggolongannya dan menonjolkan hubungan KERANGKA TEORI
tanda dengan tanda lainnya), semantik semiotika Naratologi Greimas merupakan kombinasi
(studi tanda yang menonjolkan hubungan tanda- model paradigmatis Levi-Strauss dengan model
tanda dengan acuannya dan dengan interpretasi sintagmatis Propp. Jika dibandingkan dengan
yang dihasilkannya), serta pragmatik semiotika penelitian Propp, objek penelitian Greimas tidak
(studi tanda tentang hubungan antara tanda terbatas pada dongeng saja, tetapi diperluas
dengan pengirim dan penerimanya). pada mitos. Ia amat mementingkan aksi (fungsi)
Hakikat karya yang mempunyai kekhasan dibandingkan dengan pelaku. Baginya tidak ada
sebagai ilmu sastra merupakan akibat aktivitas subjek dibalik narasi, yang ada hanyalah subjek
imajinasi. Hakikat karya sastra sebagai dunia atau manusia semu yang dibentuk oleh tindakan
otonom menyebabkan karya sastra berhak untuk yang disebut sebagai aktan atau acteurs.
dianalisis, terlepas dari latar belakang sosial yang Keduanya dapat berarti suatu tindakan, tidak
menghasilkannya. Sehubungan dengan hakikat selalu tindakan manusia, tetapi juga nonmanusia.
otonomi, imajinasi dengan berbagai unsur yang Greimas menyederhanakan fungsi-fungsi
berhasil diciptakan berhak untuk dianalisis secara Propp (31 fungsi) menjadi dua puluh fungsi,
ilmiah sebagai unsur-unsur dalam masyarakat kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur
sesungguhnya (Djirong, 2014: 216). dalam tiga pasang oposisi biner. Teori Greimas
Sangbidang merupakan salah satu sastra ini merupakan penghalusan atas teori Propp.
lisan yang merefleksi kehidupan masa lalu Propp telah memperkenalkan unsur naratif
dan memuat kisah-kisah yang dapat dijadikan terkecil yang sifatnya tetap dalam sebuah karya
bahan pembelajaran untuk kehidupan yang sastra yang disebut sebagai fungsi (Todorov
lebih baik bagi kita dan anak cucu kita di masa dalam Taum, 2011: 48). Sementara itu, aktan
mendatang. Dalam mengkaji sastra lisan ini, adalah satuan naratif terkecil berupa unsur
penulis menggunakan teori Greimas. Pengkajian sintaksis yang mempunyai fungsi tertentu. Aktan
ini dimaksudkan agar keunikan bentuk cerita tidak identik dengan aktor. Aktan merupakan
yang terdapat dalam cerita Sangbidang dapat peran-peran abstrak yang dimainkan oleh
menggambarkan dan melestarikan hasil budaya seseorang atau sejumlah pelaku, sedangkan
Toraja, khususnya dalam bidang sastra. Masalah aktor merupakan manifestasi konkret dari aktan
yang akan dibahas adalah bagaimana bentuk (Taum, 2011: 144).
skema aktan dan fungsional cerita rakyat Analisis naratif, menurut Greimas,
Sangbidang berdasarkan teori A.J Greimas? meliputi dua tahapan struktur, yaitu (1) struktur
Sementara itu, tujuan yang ingin dicapai adalah lahir, yakni tataran mengemukakan sebuah
mengungkap skema aktan dan fungsional yang cerita (penceritaan); dan (2) struktur batin, yaitu
terkandung dalam cerita rakyat Sangbidang. tataran imanen, yang meliputi (a) tataran analisis
Pengkajian ini diharapkan dapat ber- sintaksis naratif (skema aktan dan fungsional)
manfaat bagi pengembangan ilmu sastra, dan (b) tataran diskursif.
terutama dalam penerapan teori Greimas. Greimas mengemukakan teori aktan yang
Selain itu, diharapkan juga dapat bermanfaat menjadi dasar sebuah analisis yang universal
untuk peningkatan apresiasi masyarakat dalam (Teeuw dalam Taum, 2011: 141). Ia menunjukkan
memahami cerita rakyat dan dapat mendorong model tiga pasang oposisi biner yang meliputi

206
Mustafa: Skema Aktan dan ...

enam aktan atau peran, yaitu subjek versus atau ditujukan kepada penerima. Tanda panah
objek, pengirim versus penerima, dan penolong dari pembantu menunjukkan bahwa pembantu
versus penentang. Di antara ketiga pasangan memudahkan subjek untuk mendapatkan objek.
oposisi biner ini, pasangan oposisi subjek-objek Sebaliknya, tanda panah dari penentang menuju
adalah yang terpenting. Pada umumnya, subjek subjek berarti penantang mempunyai kedudukan
terdiri atas pelaku sebagai manusia, sedangkan untuk menentang, menghalangi, mengganggu,
objek terdiri atas berbagai kehendak yang mesti merusak, atau menolak usaha subjek. Tanda
dicapai, seperti kebebasan, keadilan, kekayaan, panah dari subjek menuju objek berarti subjek
dan sebagainya. Kekuasaan dapat bersifat bertugas menemukan atau mendapatkan objek
kongkret seperti raja dan penguasa lain, juga yang dibebankan oleh pengirim. Adapun fungsi
dapat bersifat abstrak seperti masyarakat, nasib, atau kedudukan masing-masing aktan adalah
dan waktu. Pasangan oposisi biner itu merupakan sebagai berikut.
pola dasar yang selalu berulang dalam semua 1. Pengirim (sender) adalah aktan (seseorang
cerita yang membentuk tata bahasa penceritaan atau sesuatu) yang menjadi sumber
(narrative grammar). ide dan berfungsi sebagai penggerak
Greimas dalam Taum (2011: 144) cerita, pengirim memberikan karsa atau
mengemukakan bahwa aktan adalah satuan keinginan kepada subjek untuk mencapai
naratif terkecil, berupa unsur sintaksis yang atau mendapatkan objek.
mempunyai fungsi tertentu. Aktan tidak identik 2. Objek (object) adalah aktan (sesuatu atau
dengan aktor. Aktan merupakan peran-peran seseorang) yang dituju, dicari, diburu,
abstrak yang dimainkan oleh seseorang atau atau diinginkan oleh subjek atas ide dari
sejumlah pelaku, sedangkan aktor merupakan pengirim.
manifestasi konkret dari aktan. Jika disusun ke 3. Subjek (subject) adalah aktan pahlawan
dalam sebuah pola peranan aktansial, ketiga (sesuatu atau seseorang) yang ditugasi
pasangan oposisi fungsi aktan yang terdiri atas pengirim untuk mencari dan mendapatkan
enam aktan tersebut tampak dalam sebuah bagan objek.
alur (flow chart) sebagai berikut: 4. Penolong (helper) adalah aktan (sesuatu
atau seseorang) yang membantu atau
PENGIRIM OBJEK PENERIMA
(sender) (object) (sender)
mempermudah usaha subjek atau
pahlawan untuk mendapatkan objek.
5. Penentang (opponent) adalah aktan
Subjek
Subjek
(Subject)
(subject)
(sesuatu atau seseorang) yang menghalangi
usaha subjek atau pahlawan dalam
mencapai objek.
PEMBANTU PENENTANG
6. Penerima (receiver) adalah aktan (sesuatu
(helper) (opponent) atau seseorang) yang menerima objek
yang diusahakan atau dicari oleh subjek
Skema 1 Pola Peranan Aktansial (Zaimar, 1992: 19; Suwondo, 2003: 52 --
Tanda panah dalam skema merupakan 54).
unsur penting yang menghubungkan aktan. Sementara itu, Greimas dalam Taum
Tanda panah dari pengirim yang mengarah (2011: 146) mengemukakan bahwa model cerita
ke objek berarti ada keinginan dari pengirim tetap sebagai alur. Model tersebut dinyatakan
untuk mendapatkan, menemukan, atau memiliki dalam berbagai tindakan yang disebut fungsi,
objek. Tanda panah dari objek ke penerima sehingga dinamakan struktur fungsional.
berarti ada objek yang diusahakan oleh subjek Model fungsional terbangun oleh berbagai
dan diinginkan oleh pengirim untuk diserahkan
207
Sawerigading, Vol. 23, No. 2, Desember 2017: 205—216

peristiwa yang dinyatakan dalam kata benda, METODE


seperti, keberangkatan, perkawinan, kematian, Dalam penelitian sastra lisan sering
pembunuhan, dan sebagainya. Model fungsional terdapat kerancuan antara penggunaan istilah
dibentuk dalam tabel berikut: metode, teknik, dan pendekatan. Metode
Tabel 1 Model Fungsional Cerita semestinya berkaitan dengan cara operasional
dalam penelitian, metode telah membutuhkan
I II III
langkah penelitian yang pantas diikuti. Sementara
Situasi Transformasi Situasi
Awal Tahap Uji Tahap Tahap Akhir
itu, teknik berkaitan dengan proses pengambilan
Kecakapan Uji Kegemilangan data dan analisis penelitian (Endraswara, 2013:
Utama 8). Metode yang digunakan dalam pengkajian
ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan
Model fungsional dibagi menjadi tiga harapan mampu melukiskan secara sistematis
bagian, yaitu (1) situasi awal, (2) transformasi, tentang fakta dan karakteristik populasi tertentu
dan (3) situasi akhir. Skema fungsional berdasar dengan faktual dan cermat dengan teknik
Greimas, yaitu dengan cara membaginya ke pengumpulan data melalui studi pustaka.
dalam bagian-bagian. Objek pengkajian bukan gejala sosial sebagai
1. Situasi awal yang menggambarkan bentuk substantif, melainkan makna-makna
keadaan sebelum ada suatu peristiwa yang yang terkandung di balik tindakan yang justru
mengganggu keseimbangan (harmoni). mendorong timbulnya gejala sosial tersebut.
Dalam tahap ini, subjek mulai mencari Dalam hubungan ini, metode kualitatif dianggap
objek. Pada tahap ini, terdapat berbagai persis sama dengan metode pemahaman atau
rintangan dan di situlah subjek mengalami verstehen. Sesuai dengan namanya, pengkajian
uji kecakapan. kualitatif mempertahankan hakikat nilai-nilai
2. Transformasi meliputi tiga tahap cobaan. (Ratna, 2006: 46--47).
Ketiga tahapan cobaan ini menunjukkan Teknik pengumpulan data dalam
usaha subjek untuk mendapatkan objek. penelitian ini adalah teknik pustaka. Teknik
Dalam tahap ini pula muncul pembantu dan pencarian data dengan menggunakan sumber-
penentang. Tahap utama berisi gambaran sumber data tertulis dan lisan (Subroto, 2007:
hasil usaha subjek dalam mendapatkan 47). Teknik ini dipilih karena sama dengan
objek. Dalam tahap utama ini, sang metode hermeneutika, kualitatif, dan analisis isi
Pahlawan berhasil mengatasi tantangan yang secara keseluruhan memanfaatkan cara-
dan melakukan perjalanan pulang. cara penafsiran dengan menyajikannya dalam
3. Tahap cobaan membawa kegemilangan bentuk deskripsi. Sumber data tertulis berupa
merupakan bagian subjek dalam teks legenda Sangbidang, diperoleh dari salah
menghadapi pahlawan palsu. Misalnya, satu cerita rakyat yang terdapat dalam buku Datu
musuh dalam selimut atau seseorang yang Lumuran Cerita Rakyat Sulawesi Selatan yang
berpura-pura baik padahal jahat, tabir diceritakan kembali oleh Nurlina Arisnawati
pahlawan palsu terbongkar. Bila tidak tahun 2007, diterbitkan oleh Pusat Bahasa,
ada pahlawan palsu, maka subjek adalah Departemen Pendidikan Nasional dan sumber
pahlawan. Sementara itu, situasi akhir data lain yang relevan.
berarti keseimbangan, situasi telah kembali Data tersebut diperoleh melalui pembacaan
ke keadaan semula. Semua konflik telah heuristik, yaitu pembacaan berdasarkan struktur
berakhir. Di sinilah cerita berakhir dengan kebahasaannya, kemudian dilakukan pembacaan
subjek yang berhasil atau gagal mencapai hermeneutik, yaitu pembacaan ulang sesudah
objek. pembacaan heuristik dengan memberikan

208
Mustafa: Skema Aktan dan ...

tafsiran berdasarkan konvensi sastranya dalam karena Sangbidang adalah putri satu-satunya
sebuah karya sastra yang memberi makna dan dalam keluarga tersebut.
memanfaatkan unsur-unsur yang ada dalam cerita Sejak kedua orang tuanya mendengar
(Jabrohim, 2001: 101). Data tersebut kemudian berita itu, keduanya pun menjadi termenung
dicatat dan dianalisis berdasarkan struktur aktan dan bersusah hati. Siang malam keduanya tidak
dan fungsional menurut yang dikemukakan oleh berhenti berpikir, kadang-kadang mereka tidak
Greimas. sadar air matanya keluar ketika memikirkan
anak perempuannya. Mereka dihantui oleh dua
PEMBAHASAN pemikiran, jika anak itu dipelihara terus akan
Sinopsis Sangbidang mendatangkan malapetaka bagi keluarganya.
Dahulu di sebuah desa, ada satu keluarga Tetapi dibunuh juga tidak mungkin karena dia
yang mempunyai beberapa orang anak. Anak adalah anak perempuan mereka satu-satunya.
bungsu bernama Sangbidang karena giginya Akhirnya, keduanya pun sepakat
tidak berantara dan berpadu, baik gigi atas untuk membuang Sangbidang di tengah
maupun gigi bawahnya. Sangbidang kian hari jalan, kemungkinan ada yang memungut dan
tumbuh menjadi besar. Suatu ketika, dia baru memeliharanya. Sebelum dibuang, Sangbidang
berusia sekitar tiga tahun, dia diajak pergi mandi terlebih dahulu dibuatkan sepasang pakaian
di sumur bersama kakak-kakaknya. Di tengah yang terbuat dari bahan anyaman tikar yang
jalan, mereka berjumpa dengan orang-orang sudah usang. Kemudian Sangbidang dibawa
yang kembali dari pasar. Ketika orang-orang itu ayahnya ke persimpangan jalan untuk dibuang.
berpapasan dengannya di tengah jalan, beberapa Sesungguhnya, ia amat menyayangi dan
orang sempat melihat gigi Sangbidang. Mereka mengasihi Sangbidang, sedikit pun di hatinya
lalu berkata, “Anak ini kelak akan membawa tidak ada niat untuk membuangnya. Namun,
berkat dan rezeki bagi orang tua dan saudara- hal itu terpaksa dilakukan demi menyelamatkan
saudaranya.” Ketika para kakak Sangbidang anggota keluarganya yang lain. Sangbidang
mendengar pernyataan orang tua itu, timbullah hanya memandang kepergian ayahnya.
perasaan cemburu kepada adiknya kalau di Setelah ayahnya lenyap dari pandangannya,
masa mendatang adiknya akan menjadi seorang Sangbidang bermain-main layaknya anak kecil
gadis yang murah rezeki dan memberikan pada umumnya. Ia tidak menangis karena
berkat, utamanya pada kedua orang tuanya. sesungguhnya tidak mengerti hal yang terjadi
Kakak-kakaknya pun lalu bersepakat tidak akan dengan dirinya. Dia tidak tahu bahwa dirinya
memberitahukan berita itu kepada kedua orang dibuang oleh ayahnya.
tuanya. Mereka berpikir kalau berita itu sampai Berselang beberapa lama, ada seorang
ke telinga kedua orang tuanya, nanti Sangbidang perempuan tua yang kebetulan pulang dari
saja yang akan diperhatikan dan dikasihinya. pasar dan melihat ada seorang anak kecil sedang
Mereka khawatir akan dianaktirikan. bermain sendiri di tengah jalan. Orang tua itu
Mereka lalu bersepakat memutarbalikkan pun lalu menyapanya, “Nak, namamu siapa?’
berita kepada kedua orang tuanya. Mereka pun “Sangbidang,” ucapnya polos. “Kamu ke sini
bercerita bahwa ketika di jalan sepulang dari dengan siapa, Nak?” tanya orang tua itu. “Dengan
sumur, mereka bertemu beberapa orang tua ayah, sekarang dia pergi membelikan mainan
dan sempat melihat gigi Sangbidang. Mereka untukku,” jawab Sangbidang. Mendengar
lalu berkomentar bahwa anak itu nantinya jawaban anak itu, perempuan tua itu pun merasa
akan mendatangkan kemalangan dan kesialan curiga dan heran lalu berkata, “Siapa yang telah
bagi anggota keluarga, terutama ibu dan ayah. menyia-nyiakan anaknya yang cantik jelita
Penjelasan itu membuat kedua orang tuanya ini?” Perempuan tua itu lalu membawa pulang
tertunduk lemas dan tidak tahu mau berbuat apa Sangbidang ke rumahnya. Dia mengasuh anak

209
Sawerigading, Vol. 23, No. 2, Desember 2017: 205—216

itu dengan penuh cinta dan kasih sayang seperti seorang gadis yang sedang menjahit di kamar
anaknya sendiri hingga Sangbidang tumbuh bagian selatan. Dia yakin bahwa gadis itulah
menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Di yang membuat pakaian yang selama ini dia beli.
rumah itu, ia diajari berbagai macam pekerjaan Panupin dan kemudian turun, lalu menyampaikan
rumah dan cara menjerumut hingga mahir. maksud dan tujuannya kepada perempuan tua
Pada suatu hari, Sangbidang menyuruh itu, yaitu melamar Sangbidang untuk dijadikan
induk semangnya (perempuan tua itu) membeli istrinya. Menurutnya, ia adalah gadis yang baik,
kain belacu. Kain itu akan dijahitnya menjadi ramah, dan rajin. Lamaran Panupindan pun
pundi-pundi untuk dijual di pasar dan hasil diterima. Keduanya pun menjadi suami istri.
penjualan nantinya digunakan untuk membeli Berselang beberapa lama setelah mereka
bahan kebutuhan dapur. Setiap hari Sangbidang menjadi suami istri, lahirlah seorang putra yang
menjahit, lalu hasil jahitannya dibawa induk diberi nama La Baso. Setelah La Baso lahir,
semangnya ke pasar untuk dijual. Di pasar, Panupindan menyuruh pesuruhnya untuk pergi
jahitannya itu ternyata laris manis, bahkan menjual seekor induk babinya karena tidak bisa
sebelum induk semangnya tiba di pasar, orang lagi melahirkan, sudah tua. Berselang beberapa
sudah banyak menunggu ingin membeli jualan lama, pulanglah pesuruh itu setelah menjual babi
perempuan tua itu. Suatu waktu di pasar, ada dan menyerahkan harga babi yang dijualnya.
seorang pemuda yang bernama Panupindan, Panupindan kaget dan menanyakan mengapa
anak orang kaya, membeli barang perempuan harga babi itu terlalu murah. Pesuruh itu pun
tua itu. Ia selalu membeli dan memberi uang bercerita bahwa dia sebenarnya tidak mau menjual
melebihi harga seharusnya. babi itu dengan harga murah. Akan tetapi, saya
Hari berikutnya, perempuan tua datang kasihan pada pembelinya. Katanya, babi itu akan
lagi dengan membawa celana hasil jahitan dipergunakan untuk acara penguburan ibunya
Sangbidang untuk dijual. Jualan itu diborong yang baru saja meninggal. Orang itu bercerita
habis oleh Panupidan. Setelah semuanya dibeli, kalau ibunya baru saja meninggal karena sakit.
Panupidan lalu bertanya kepada Perempuan Selama sakitnya, ia hanya menyebut nama anak
tua itu, “Mak, sebenarnya siapa yang menjahit perempuannya, Sangbidang, yang telah hilang
barang yang Mak jual ini?” tanya Panupidan. tak tentu rimbanya. Karena rasa bersalah dan
“Cucu saya, Nak?” jawab Mak tua itu. “Mak, rindunya, ia pun sakit-sakitan, lalu meninggal
boleh saya ikut pulang ke rumah Mak?” tanya dunia.
Panupindan. “Ke mana, Nak?” Ke rumah saya?” Mendengar cerita itu, Sangbidang segera
tanya perempuan tua itu seolah-olah tak percaya. menemui suaminya dan meminta izin bahwa ia
“Tentu saja,” kata Panupindan sambil tersenyum. akan berangkat ke rumah orang tuanya, “Wahai
Berangkatlah mereka dengan ditemani Suamiku, saya akan ke rumah orang tuaku. Jika
oleh beberapa pesuruh Panupindan. Tak lama aku tidak segera kembali, susullah sesegera
kemudian, mereka tiba di rumah Mak itu. Setiba mungkin. Bawalah semua perlengkapan yang
di rumah perempuan tua itu, tiba-tiba mereka kira-kira diperlukan untuk upacara kematian
mau mengunyah sirih, tetapi sudah kehabisan. ibuku. Saya akan menunggumu di sana?”
Panupindan kemudian menyuruh salah seorang Sangbidang pun berangkat. Ia memakai pakaian
anggota rombongan yang lain untuk memanjat bekas sewaktu dibuang oleh ayahnya. Ketika
pohon pinang yang ada di samping rumah itu, tiba di rumah, Sangbidang pun menangis
namun tidak berhasil. Kemudian Panupindan sambil meratap sejadi-jadinya. Melihat kondisi
sendiri yang memanjat, setelah sampai di puncak pakaian yang dipakai oleh Sangbidang seperti
pohon, Panupindan lalu memetik buah pinang itu, saudara-saudaranya pun mencibir dan
secukupnya. Sebelum turun, ia melihat ke mengejeknya sambil berkata, “Pakaian yang
bawah. Tiba-tiba matanya tertuju kepada salah dipakai pergi, dipakai juga pulang ke sini,

210
Mustafa: Skema Aktan dan ...

tidak berubah. Bagaimana kehidupanmu di sambil menggoyang-goyangkan wadah kapur


luar sana hingga Engkau tetap seperti ini?” itu. Ketika dia melakukan seperti itu, tiba-tiba
Sangbidang menjawab, “Apa yang Kalian tempat duduknya runtuh dan terjatuh ke kolong
lihat akan keadaanku sekarang, berbeda jauh rumah. Di kolong rumah itu tertambat beberapa
dengan apa yang telah terjadi. Saat ini, saya ekor kerbau, ayahnya persis jatuh di tengah
sudah mempunyai seorang putra yang bernama kumpulan kerbau itu. Karena sudah cukup tua,
La Baso dan suamiku bernama Panupindan. ia tidak berhasil menyelamatkan dirinya. Ia
Mereka sedang menuju ke sini. Mereka ke sini terinjak-injak dan tertanduk beberapa kerbau,
dengan membawa banyak barang.” Mendengar dan akhirnya meninggal.
perkataan Sangbidang, saudara-saudaranya
berkata sambil mengejek, “Engkau jangan Analisis Struktur Aktan dan Fungsional
mempermalukan dirimu sendiri. Panupindan cerita Sangbidang
tidak mungkin menyukaimu. Apa yang bisa Struktur Aktan
engkau berikan kepadanya? Panupindan itu Struktur aktan dalam cerita Sangbidang ini
orang kaya raya, sebaiknya Engkau menutup dapat dikemukakan bahwa pengirim ditempati
mulutmu yang lancang itu.” oleh ayah Sangbidang; objek ditempati oleh
Keesokan harinya, datanglah Panupindan Panupindan; penerima ditempati oleh perempuan
dan anaknya beserta rombongannya dengan tua (nenek); subjek ditempati oleh Sangbidang,
membawa barang-barang yang diperlukan sesuai pembantu ditempati oleh orang-orang tua
permintaan Sangbidang. Tak lama kemudian, (masyarakat), dan penentang ditempati oleh
dilaksanakanlah semua tahap kegiatan pesta kakak-kakaknya.
kematian dan upacara penguburan. Setelah
kegiatan selesai, mereka pun segera pulang PENGIRIM OBJEK PENERIMA
ke rumahnya. Sangbidang berkata, “Wahai (ayah) (Perempuan Tua) (Panupindan)

Suamiku Panupindan dan Anakku La Baso, Subjek


Subjek
bersiap-siaplah kita akan pulang ke negeri yang (Sangbidang)
(Sangbidang)

tidak diketahui oleh siapa pun selain kita.”


Mendengar ucapan Sangbidang itu, orang semua PEMBANTU
PENENTANG

menangis dan meratap. Pada saat itu ayahnya (Masyarakat


(Saudara Kandungnya)
)
berkata, “Saya akan ikut Kamu.” Sangbidang
hanya menjawab, “Terserahlah pada ayah, saya Skema 2 Skema Aktansial cerita Sangbidang
tidak melarang dan juga tidak memanggil.”
Sesuai skema aktansial di atas, ayah
Karena ayahnya bersikeras mau ikut, ia
Sangbidang menduduki jabatan sebagai sender
pun berangkat bersama rombongan Sangbidang.
yang menginginkan agar putrinya (Sangbidang)
Setiba di rumahnya, ayahnya ingin mengunyah
terbuang untuk menghindari malapetaka yang
sirih, tetapi kapur campurannya habis. Dia
dapat menimpa kehidupan keluarga karena
pun meminta kepada Sangbidang. Kemudian
dianggap putri satu-satunya dan pembawa
Sangbidang memberikan tempat kapur yang
kesialan pada kedua orang tua di masa
ujungnya dibasahi hingga penutup wadah
mendatang.
kapurnya tidak bisa keluar. Ayahnya pun
Sangbidang dalam cerita menduduki
bertanya, “Mengapa wadah kapur ini tidak
jabatan sebagai subjek, orang yang terbuang
bisa terbuka?” “Memang demikianlah wadah
oleh keluarga, kemudian dipungut oleh seorang
kapur di sini, kita harus terangguk-angguk, dan
perempuan tua, lalu dididik berbagai macam
bergoyang-goyang baru isinya dapat keluar,”
keterampilan, kemudian dinikahi oleh seorang
kata Sangbidang. Ayahnya lalu mengikuti
pemuda bangsawan yang kaya raya. Beberapa
petunjuk Sangbidang. Ia pun terangguk-angguk

211
Sawerigading, Vol. 23, No. 2, Desember 2017: 205—216

tahun setelah menikah dan melahirkan seorang 1) Situasi Awal


putra, ia berencana membalas dendam atas Dahulu di sebuah desa, ada satu keluarga yang
perlakuan yang ia terima ketika bersama dengan mempunyai beberapa anak. Anak yang bungsu
keluarganya, khususnya kepada kakak-kakaknya bernama Sangbidang, dinamakan Sangbidang
karena giginya tidak berantara dan berpadu,
yang telah memfitnahnya, sehingga ia dibuang
baik gigi atas maupun gigi bawahnya.
dari keluarga. Di akhir cerita, ia melakukan pesta Sangbidang kian hari tumbuh menjadi
kematian orang tuanya yang telah meninggal besar. Ketika berusia sekitar tiga tahun, dia
dengan biaya sepenuhnya tanpa bantuan dari diajak pergi mandi di sumur bersama kakak-
kakak-kakaknya sebagai bentuk pengabdiannya kakaknya. Di tengah jalan, mereka berjumpa
kepada orang tuanya. Panupindan dalam cerita dengan orang-orang yang baru kembali dari
berperan sebagai penerima (receiver), orang pasar. Ketika orang-orang itu berpapasan di
yang menolong, mengubah nasib Sangbidang tengah jalan, mereka sempat melihat gigi
dari kesengsaraan dan kemiskinan menjadi Sangbidang. Mereka lalu berkata, “Anak ini
akan membawa berkat dan rezeki bagi orang
orang terpandang dan dihormati, yaitu dengan
tua dan saudara-saudaranya.” Ketika kakak
jalan mempersunting menjadi istrinya. Induk Sangbidang mendengar pernyataan orang tua
semang dalam cerita menduduki jabatan sebagai itu, timbul perasaan cemburu kepada adiknya
pembantu (helper), orang yang menerima kalau kelak adiknya menjadi seorang gadis
dan mengasuh Sangbidang ketika dibuang di yang murah rezeki. Kakak-kakaknya pun
tengah jalan oleh keluarganya melalui ayahnya. sepakat tidak memberitahukan hal itu kepada
Masyarakat pengguna jalan dari pasar yang kedua orang tuanya. Mereka berpikir kalau
mengungkapkan masa depan Sangbidang di berita itu sampai ke telinga kedua orang tuanya,
kala besar nantinya dan orang-orang yang nanti Sangbidang saja yang diperhatikan dan
dikasihinya. Mereka khawatir dianaktirikan.
membeli jahitan Sangbidang di pasar menduduki
Mereka lalu memutarbalikkan berita yang
jabatan sebagai penolong. Mereka membantu didengarnya untuk disampaikan kepada
Sangbidang yaitu dengan cara membeli hasil kedua orang tuanya. Sesampai di rumah,
jahitan karyanya. Di antara pembeli itu, ada mereka pun bercerita di hadapan orang tuanya
seorang pemuda yang amat tertarik dengan tentang hal yang didengarnya ketika pulang
hasil jahitan dan memborongnya semua. Itu dari sumur. Mereka bertemu beberapa orang
merupakan kronologis awal pertemuan antara tua dan sempat melihat gigi Sangbidang,
Sangbidang dan Panupindan, hingga berlanjut lalu berkomentar, “Anak itu nantinya akan
mendatangkan kemalangan dan kesialan bagi
ke pelaminan dan melahirkan seorang putra
anggota keluarga, terutama ibu dan ayahnya”
yang bernama La Baso. Sementara itu, kakak- ujar kakak-kakak Sangbidang. “Kalau
kakak Sangbidang dalam cerita menduduki memang begitu, sebaiknya kita pikirkan
jabatan sebagai penentang (opponent) yang jalan keluar terbaik untuk Sangbidang, putri
menyampaikan berita baik menjadi berita kita satu-satunya Bu,” ujar ayahnya dengan
buruk kepada kedua orang tuanya dengan tertunduk lemas.
cara memutarbalikkan berita. Berita tersebut Kalimat di atas menjelaskan perihal
penyebab kedua orang tuanya membuang putri kehidupan Sangbidang dan keluarganya,
semata wayangnya (Sangbidang) di tengah jalan utamanya masalah kehidupan dan ekonominya
hingga dipungut oleh orang yang sempat lewat sebelum bertemu dan dibuang oleh keluarganya
di tempat itu. melalui ayahnya. Ia dibuang oleh kedua
orang tuanya karena fitnah oleh saudara-
Struktur Fungsional saudara kandungnya sendiri, yaitu dengan
Struktur fungsional dalam cerita ini dapat memutarbalikkan berita. Berita baiknya,
dikemukakan sebagai berikut. yaitu anak ini akan membawa berkat dan
mendatangkan rezeki yang berlimpah bagi orang

212
Mustafa: Skema Aktan dan ...

tua dan saudara-saudaranya, kemudian dijadikan keras. Salah seorang pemuda bangsawan dan
berita bohong menjadi, “Semua orang yang kaya juga terhipnotis untuk membeli, bahkan
pulang dari pasar mengatakan bahwa adik kami, memborongnya, sehingga orang lain tidak
Sangbidang akan mendatangkan kemalangan sempat membelinya.
dan kesialan bagi anggota keluarganya terutama
kedua orang tuanya.” Kakak-kakaknya (b) Tahap utama, terdapat dalam kalimat:
melakukan hal itu karena kecemburuannya pada Di sinilah klimaks terjadi ketika Sangbidang
adik perempuannya itu. Kasih sayang kedua mendengar ibunya meninggal melalui cerita
orang tuanya nanti akan berkurang. Mereka hambanya yang disuruh menjual babinya yang
khawatir adiknya saja yang akan diperhatikan sudah tua dan tak dapat melahirkan lagi.
dan dikasihinya. Mereka khawatir dianaktirikan.
Sang Hamba bercerita bahwa babi itu dijualnya
kepada seseorang yang amat membutuhkan
2) Transformasi, yang terbagi atas: untuk pesta kematian ibunya yang baru saja
(a) Tahap uji kecakapan, terdapat dalam kalimat: meninggal. Karena ia orang miskin dan tidak
memiliki uang, jadi dijual murah saja kepada
Sangbidang menyuruh Induk Semangnya
orang itu. Hambanya bercerita bahwa ibunya
membeli kain belacu. Kain itu akan dijahitnya
baru saja meninggal karena sakit. Selama
menjadi pundi-pundi untuk dijual di pasar
sakitnya, ia hanya menyebut nama Sangbidang
dan hasil penjualannya digunakan untuk
karena rindunya, entah ke mana rimbanya,
membeli bahan-bahan dapur. Setiap harinya,
sudah meninggal atau masih hidup. Mendengar
Sangbidang menjahit, lalu hasilnya dibawa
cerita itu, Sangbidang segera menemui
Induk Semangnya ke pasar untuk dijual. Di
suaminya dan meminta izin akan berangkat
pasar, jahitannya itu laku keras. Bahkan,
ke rumah orang tuanya. ”Wahai suamiku, saya
ketika Induk Semangnya itu tiba di pasar,
akan ke rumah orang tuaku. Jika aku tidak
orang sudah banyak yang menunggu ingin
segera kembali, susullah sesegera mungkin.
membelinya. Hari berikutnya, perempuan tua
Bawalah semua perlengkapan yang kira-kira
itu membawa celana hasil jahitan Sangbidang
diperlukan untuk upacara kematian ibuku. Saya
lagi untuk dijual di pasar. Jualan itu habis
akan menunggumu di sana? Sangbidang pun
dibeli oleh Panupidan. Setelah semua dibeli,
berangkat. Ia memakai pakaian bekas sewaktu
Panupidan lalu bertanya kepada perempuan
dibuang oleh ayahnya. Ketika tiba di rumah,
tua itu, “Mak, boleh saya ikut pulang ke
Sangbidang pun menangis sambil meratap
rumah, Mak?” Tanya Panupindan. “Ke mana,
sejadi-jadinya. Melihat keadaan Sangbidang
Nak?” Ke rumah saya?” Tanya orang tua itu
seperti itu, saudara-saudaranya pun mencibir
seolah-olah tak percaya.“Tentu saja,” kata
sambil mengejeknya dengan berkata “Pakaian
Panupindan sambil tersenyum.
yang dipakai pergi, dipakai juga pulang ke
Kalimat di atas menjelaskan Sangbidang sini, tidak berubah. Bagaimana kehidupanmu
dengan kecakapan atau kecerdasannya dapat di luar sana hingga Engkau tetap seperti ini?”
menghipnotis dan menarik perhatian orang- Sangbidang menjawab, Apa yang Kalian lihat
akan keadaanku sekarang, berbeda jauh dengan
orang untuk membeli hasil karyanya, yaitu
apa yang telah terjadi. Saat ini, La Baso anakku
dengan membuat pundi-pundi yang terbuat dan Panupindan suamiku sedang menuju ke
dari kain belacu, lalu dijual di pasar melalui sini. Mereka ke sini dengan membawa banyak
Induk Semangnya untuk menghasilkan uang barang.” Mendengar perkataan Sangbidang,
demi memenuhi kebutuhan dapur mereka. saudara-saudaranya berkata, “Engkau jangan
Hasil karyanya itu menjadi rebutan orang-orang mempermalukan dirimu sendiri. Panupindan
di pasar untuk membelinya, bahkan sebelum tidak mungkin menyukaimu. Apa yang bisa
sampai di pasar, orang-orang sudah menunggu Engkau berikan kepadanya? Panupindan itu
untuk membelinya. Jahitan itu amat digemari orang kaya raya, sebaiknya Engkau menutup
karena halus dan bentuknya indah, sehingga laku mulutmu yang lancang itu.”

213
Sawerigading, Vol. 23, No. 2, Desember 2017: 205—216

Kalimat-kalimat di atas menjelaskan fitnah kakak-kakaknya. Sebagai anak yang


kebijaksanaan dan kecerdasan Sangbidang sayang keluarga, terutama ibunya, ia melakukan
dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya upacara pesta kematian ibunya dengan layak dan
dengan keluarganya. Ia berhasil menjadi biaya sepenuhnya dari Sangbidang. Demikian
seorang terpandang, dihormati, dan kaya pula ketika ayahnya juga meninggal, ia pun
karena telah dipersunting oleh Panupindan. membiayai pesta penguburannya tanpa bantuan
Ia berusha menyelesaikan masalah yang biaya dari kakak-kakaknya. Suatu pengeluaran
dihadapi oleh keluarganya, yaitu memestakan biaya yang cukup besar.
kematian ibunya. Namun sebelumnya, ia juga Kini Sangbidang hidup serba ber-
membuktikan keberhasilannya kepada para kecukupan dengan harta dan hamba sahaya yang
kakaknya yang selalu mencemoohnya karena cukup banyak setelah diperistri oleh Panupindan
melihat penampilannya yang tidak berbeda yang juga amat mencintainya, apalagi setelah
(dalam berpakaian) sewaktu ia dibuang dulu. mereka dikarunia seorang anak laki-laki.
Namun pada akhirnya, para kakaknya menjadi Tidak seperti kakak-kakaknya yang pernah
heran bercampur takjub kalau yang dilihatnya memfitnahnya, hingga akhir cerita ini belum
itu adalah suatu bentuk penyamaran yang berubah kehidupannya atau masih seperti yang
dilakukan Sangbidang. Sangbidang menjelaskan dulu ketika masih serumah dengannya.
kepada mereka bahwa yang dilihat pada dirinya
tidaklah seperti dulu. Ia kini adalah istri dari (d) Situasi Akhir
seorang pemuda yang kaya raya dan baik hati, Tahap akhir terdapat dalam kalimat:
bahkan sudah mempunyai turunan yang diberi
Sebelum pulang ke rumahnya, Sangbidang
nama La Baso. Ia membuktikan dirinya sebagai berkata, “Wahai suamiku Panupindan dan
orang yang kaya raya dengan menanggung anakku La Baso, bersiap-siaplah kita akan
semua biaya pesta kematian ibunya yang begitu pulang ke negeri yang tidak diketahui oleh
besar hingga tuntas. Hal itu dilakukannya karena siapapun selain kita.” Mendengar hal itu,
merasa bersalah dan sebagai penyebab kematian ayahnya bersikeras ikut meski tidak diajak oleh
ibunya yang amat menyesal dan merindukan Sangbidang. Setiba di rumahnya, ayahnya ingin
anak perempuan semata wayangnya yang makan sirih, tetapi kapur sebagai pelengkap
dibuang dan tak diketahui keberadaannya. sirih dan buah pinangnya telah habis. Ia pun
segera meminta kepada Sangbidang. Kemudian
Sangbidang memberikan tempat kapur yang
(c) Tahap Kegemilangan ujungnya dibasahi hingga kapurnya tidak bisa
Tahap kegemilangan dalam legenda keluar. Ayahnya pun bertanya, “Mengapa kapur
ini ditandai dengan berhasilnya Sangbidang ini tidak bisa keluar?” “Memang demikianlah
memperlihatkan jati dirinya kepada kakak- tempat kapur di sini, kita harus terangguk-
kakak dan ayahandanya kalau ia masih hidup angguk dan bergoyang-goyang bila mau
dan mengubah status sosialnya dari orang membukanya baru isinya dapat keluar,” kata
Sangbidang. Ayahnya lalu mengikuti petunjuk
miskin menjadi orang kaya dan terpandang di
Sangbidang. Ia pun menggoyang-goyangkan
masyarakat. Terbukti ketika mendengar berita tempat kapur itu. Pada waktu ia menggoyang-
kematian ibunya dari hamba sahayanya setelah goyang wadah kapur itu dengan kerasnya,
menjual seekor babinya pada seseorang di tempat duduknya tiba-tiba runtuh dan terjatuh
pasar. Ia langsung berkemas dan berangkat ke ke kolong rumah. Kebetulan di kolong rumah
rumah orang tuanya untuk membuktikan ada Sangbidang terdapat beberapa ekor kerbau
tidaknya anggota keluarganya yang meninggal. tempat ayahnya terjatuh. Sang Ayah pun
Ternyata betul, ibunya yang meninggal dunia terinjak-injak dan tertanduk beberapa kerbau.
Akibatnya, sang Ayah pun meninggal dunia.
karena sakit rindu untuk bertemu dengan
Sangbidang melakukan lagi pesta kematian dan
anaknya yang dibuang oleh suaminya atas

214
Mustafa: Skema Aktan dan ...

penguburan ayahnya sebagaimana mestinya miskin. Sang hamba sahaya merasa kasihan
menurut kebiasaan masyarakat Toraja. mendengar penyebab kematian ibu pemuda itu
Kalimat di atas menjelaskan hasil usaha karena rindu pada anaknya perempuannya yang
Sangbidang dalam melakukan baktinya kepada tidak diketahui keberadaannya dan setiap hari
ibu dan ayahnya, yaitu melakukan upacara memanggil-manggil nama Sangbidang. Hal ini
pemakaman selayaknya sebagaimana kebiasaan terlihat dengan jelas pada hubungan sebab akibat
masyarakat Toraja. Menurut kepercayaan dalam struktur batin. Dengan demikian dapat
masyarakat Toraja, bila pesta kematian tidak dikatakan bahwa makna yang terkandung dalam
dilakukan, maka arwah ibu dan ayahnya tidak cerita Sangbidang adalah suatu pesan moral pada
akan sampai ke surga (puya). Arwah keduanya kita semua. Seorang anak tidak boleh melupakan
akan gentayangan, terkatung-katung antara jasa-jasa orang tua, baik dalam keadaan senang
dunia dan akhirat, dan menjadi setengah maupun susah, dan jangan mudah percaya pada
Dewa. Menurut kepercayaan orang Toraja, kabar berita dari seseorang, meskipun itu dari
roh merupakan penjelmaan dari jiwa manusia sanak keluarga terdekat, berpikirlah dengan baik
yang telah meninggal dunia, disebut tomebali sebelum bertindak. Selain itu, ditemukan pula
puang. Roh tersebut tidak dapat berangkat ke adanya relevansi antara isi cerita dengan manusia
puya sebelum mempersembahkan binatang Toraja. Relevansi itu terlihat dengan adanya
untuknya dari keluarga dan kerabatnya melalui bukti pelaksanaan ritual tertentu yang selalu
upacara pemakaman. Arwah dipercaya tetap dilaksanakan oleh masyarakat Toraja. Pengkajian
memperhatikan kehidupan keturunannya. Itulah genre cerita dengan menggunakan teori Greimas
yang dilakukan oleh Sangbidang terhadap arwah jarang dilakukan di Indonesia. Pengkajian ini
kepada ibu dan bapaknya agar dapat selamat telah membuktikan bahwa teori Greimas dapat
menuju tempat tujuan di akhirat, yaitu puya. diterapkan dalam kajian cerita rakyat di Indonesia.
Disarankan agar kegiatan pengkajian
PENUTUP sastra, khususnya sastra lisan dalam berbagai
genre di Tana Toraja hendaknya digunakan
Setelah menganalisis keseluruhan isi sebagai bahan ajar di sekolah. Diharapkan
cerita Sangbidang, saya menyimpulkan bahwa pula cerita Sangbidang bisa menjadi bahan
situasi awal, keluarga Sangbidang hidup di acuan untuk pengkajian selanjutnya dengan
dalam kemiskinan. Pada tahapan transformasi, menggunakan teori lain yang belum pernah
cobaan awal dan cobaan utama mengalami diteliti sebelumnya. Dengan ditemukannya
keberhasilan. Pada situasi akhir, digambarkan skema aktan dan fungsional, cerita ini dapat
dengan perubahan kondisi status kehidupan memberikan kontribusi bagi peneliti cerita
Sangbidang menjadi orang kaya dan terpandang rakyat yang lain untuk menggunakan teori yang
di daerahnya. Alur penceritaan atau sekuen sama dalam menganalisis cerita rakyat lainnya.
penggambaran urutan cerita sejak Sangbidang Oleh karena itu, diharapkan adanya dukungan
tinggal di kampungnya sampai ia dibuang dari pihak-pihak terkait.
oleh keluarganya, dipungut dan pelihara oleh
perempuan tua, menikah dengan Panupindan, DAFTAR PUSTAKA
lalu perubahan staus ekonominya yang lebih
baik. Kemudian kembali ke kampungnya untuk Anonim. Datu Lumuran Cerita Rakyat Sulawesi
mengadakan pesta kematian ibu dan ayahnya. Selatan (diceritakan kembali oleh Nurlina
Pada pengaluran tersebut terlihat kisah kembali Arisnawati, 2007), Jakarta: Pusat Bahasa.
alur mundur ketika mengetahui berita kematian Djirong, Salmah. (2014) “Kajian Antropologi
ibunya melalui hamba sahayanya bahwa yang Sastra: Cerita Rakyat Datu Museng dan
membeli ternaknya adalah seorang pemuda Maipa Diapati,” Sawerigading, Vol. 20
No.2, Agustus 2014, hlm. 215 -- 226.

215
Sawerigading, Vol. 23, No. 2, Desember 2017: 205—216

Endraswara, Suwardi. (2013), Metodologi Sudjiman, P, dan Aart Van Zoest, A. V. (1991),
Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Serba-Serbi Semiotika, Jakarta: Gramedia.
Teori,dan Aplikasi, Yogyakarta: CPAS. Zaimar, Okke K.S. (1991), Menelusuri Makna
Jabrohim. (2001), Metodologi Pengkajian Ziarah Karya Iwan Simatupang, Jakarta:
Sastra, Yogyakarta: PT Hanindita Intermasa.
GrahaWidia. Suwondo, Tirto. (2003), Studi Sastra Beberapa
Ratna, Nyoman Kutha. (2006), Teori, Metode, Alternatif, Yogyakarta: Hanindita.
dan Teknik Penelitian Sastra: Dari Taum, Yoseph Yapi. (2011), Studi sastra lisan:
Strukturalisme Hingga Postrukturalisme Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan
Perspektif Wacana Naratif, Yogyakarta: Disertai Contoh Penerapannya,
Pustaka Pelajar. Yokyakarta: Lamalera.
Subroto, Edi. (2007), Pengantar Metode
Penelitian Linguistik Struktural, Surakarta:
Lembaga Pengembangan Pendidikan
(LPP) dan UPT Penerbitan dan Percetakan
UNS (UNS Press).

216