Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

ANALISIS DAN PENENTUAN KONSTANTA DISOSIASI ASAM


DENGAN
TITRASI pH YANG DIKONTROL DENGAN KOMPUTER

Nama : Ainul Avida


NIM : 141810301042
Kelompok /kelas : 6/B
Asisten : Riza Maulana S

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2016
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Reaksi kimia asam basa tidak lepas dari kehidupan sehari- hari, contoh yang paling
mudah yaitu saat mengalami sakit maag, lambung memproduksi senyawa asam
berlebih (HCl). Seseorang yang menderita sakit maag akan meminum obat maag yang
sesungguhnya merupakan suatu senyawa basa. Senyawa basa tersebut dijadikan obat
untuk menetralkan senyawa asam berlebih tersebut. Prinsip pengobatan ini dapat
dijelaskan dengan teori asam basa Bronsted – Lowry bahwa penyumbangan proton (H+)
adalah suatu reaksi yang reversible, setiap asam pasti menjadi basa ketika melepas
proton. Basa juga pasti membentuk suatu asam ketika menerima sebuah proton.
Berdasarkan alasan tersebut, pengetahuan tentang konstanta ionisasi asam-asam sangat
diperlukan.
Kekuatan suatu asam salah satunya ditentukan oleh konstanta ionisasinya (Ka).
Asam-asam dapat memiliki satu atau lebih dari 1 nilai Ka, asam monoprotik memiliki 1
nilai Ka sedangkan poliprotik memiliki lebih dari 1 nilai Ka. Penentuan konstanta
ionisasi asam ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknik titrasi potensiometri.
Konstanta ionisasi asam (Ka) atau konstanta keasaman adalah sebuah konstanta atau
tetapan keseimbangan untuk sebuah asam dan basa konjugatnya didalam larutan
berair. Nilai dari Ka untuk masing-masing asam lemah dan basa lemah adalah spesifik
yang artinya antara yang satu dengan yang lain memiliki perbedaannya.
Percobaan ini menentukan konstanta ionisasi dua asam dengan menggunakan teknik
titrasi potentiometri. Konstanta ionisasi asam yang akan ditentukan adalah asam X yang
merupakan asam asetat dan asam fosfat. Metode titrasi potensiometri yang digunakan
disertai pengontrolan dengan komputer.
1.2 Tujuan
Percobaan ini mempunyai tujuan yaitu mengukur konstanta ionisasi dua asam
dengan menggunakan teknik titrasi potentiometrik.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheet


2.1.1 Akuades
Akuades berwujud cair, tidak berbau dan tidak berwarna. Akuades mempunyai
berat molekul 18,02 g/mol. Akuades mempunyai pH netral yaitu 7. Titik didih akuades
sebesar 100oC (212°F). Akuades mempunyai tekanan uap 2,3kPa pada suhu 200C dan
mempunyai densitas uap 0,62. Akuades tidak berbahaya apabila terkena kulit, mata,
terhirup maupun tertelan. Akuades tidak korosif untuk kulit dan tidak memyebabkan
iritasi apabila terkena mata. Penanganan khusus apabila terkena akuades tidak ada
(Anonim, 2016).
Akuades ini memiliki allotrop berupa es dan uap. Senyawa ini tidak berwarna,
tidak berbau dan tidak meiliki rasa. Aquasdes merupakan elektrolit lemah. Air
dihasilkan dari pengoksidasian 3 hidrogen dan banyak digunakan sebagai bahan pelarut
bagi kebanyakan senyawa dan sumber listrik (Anonim, 2016).
2.1.2 Asam Fosfat
Asam fosfat merupakan cairan tak berwarna dan tak berbau. Senyawa ini
merupakan asam dengan titik didih 158oC dan titik leleh sebesar 21oC. Asam fosfat
memiliki rumus molekul H3PO4 dengan berat molekul 97,97 g mol-1. Asam fosfat
mudah larut dalam air baik air panas maupun air dingin. Asam fosfat merupakan suatu
oksidator yang mudah sekali untuk mengoksidasi senyawa lain. Asam ini sangat
berbahaya dalam kasus kontak dengan kulit, kontak dengan mata dan pernafasan.
Kontak kulit menyebabkan iritasi dan korosif, kontak mata menyebabkan korosif. Asam
ini berbahaya untuk pernafasan. Kontak mata dan kulit dapat diatasi dengan mencuci
dengan air minimal 15 menit. Kulit yang teriritasi segera diolesi dengan emolien.
Kontak kulit yang serius dapat diatasi dengan mencuci dengan sabun desinfektan dan
diolesi dengan krim anti bakterial
( Anonim, 2016).
2.1.3 Larutan NaOH

Natium hidroksida (NaOH) memiliki sifat fisik dan kimia antara lain berupa
padatan yang tidak berbau dan tidak berasa dengan berat molekul 40 g/mol dan
berwarna putih. Kristal NaOH bersifat mudah menyerap air atau uap air dalam keadaan
terbuka (higroskopis). Massa jenis NaOH adalah 2,1 gram/cm3 pada wujud padat.
Bahan ini memiliki titik didih 1388°C dan titik leleh 323°C. NaOH ini memiliki pH
13,5 (basa) dengan titik didih 1388oC dan titik leleh 323oC. NaOH merupakan salah
satu senyawa yang mudah larut dalam air dingin. Penanganan jika terjadi kontak dengan
mata yakni membasuh mata dengan air mengalir dalam keadaan mata tebuka terus
menerus dalam waktu 15 menit. Kontak dengan kulit dapat segera dibasuh dengan air
dingin sekurang-kurangnya 15 menit. Korban pada kasus sistem pernapasan harus
segera dievakuasi ke tempat yang aman. Pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, dan ikat
pinggang, jika sulit bernapas diberikan bantuan oksigen (Anonim, 2016).
2.1.4 Asam Asetat
Asam asetat merupakan contoh asam lemah dengan rumus molekul dari asam
asetat ini adalah C2H4O2. Nama IUPAC dari asam asetat adalah asam etanoat. Sifat fisik
asam asetat diantaranya yaitu berwujud zat cair yang tidak berwarna, berbau dan berasa
sangat kuat dan tajam serta memiliki massa molar sebesar 60,05 g/mol. Asam asetat ini
termasuk golongan asam karboksilat yang sederhana dan memiliki titik didih pada suhu
118,1 ˚C dan titik lebur pada suhu 16,5 ˚C. Asam asetat memiliki massa jenis 1,05
gram/mL dan dan memiliki pH 2 (asam). Asam asetat berbahaya jika terkena kulit
(iritasi), iritasi mata, tertelan. Kontak dengan kulit dapat menyebabkan radang pada
kulit dengan ciri-ciri gatal, memerah. Kontak dengan mata harus diperiksa dan dibuka
lensa kontak (jika memakai), segera dibasuh dengan air yang cukup selama 15 menit
menggunakan air yang dingin. Kontak dengan kulit segera dialiri dengan air yang cukup
selama 15 menit dengan air yang dingin (Anonim, 2016).

2.2 Dasar Teori


Konstanta disosiasi berkolerasi dengan derajat disosiasi. Derajat disosiasi bergantung
dengan konsentrasi sehingga derajat ionisasi ini tidak bisa dijadikan untuk menyatakan
kekuatan asam atau basa itu tanpa menyatakan kondisi-kondisi saat pengukuran. Nilai
kesetimbangan disosiasi tak bergantung pada konsentrasi (lebih tepatnya, pada keaktifan
asam) sehingga dapat memberikan ukuran kuantitatif yang paling memadai dari
kekuatan asam atau basa itu (Svehla, 1990).
Kekuatan suatu asam dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu asam untuk
menghasilkan ion H+ (atau proton). Semakin besar ion H+ yang dihasilkan maka
semakin kuat asam tersebut. Besar harga [H+] akan berbanding lurus dengan nilai Ka-
nya, sehingga pengukuran Ka sering digunakan sebagai salah satu indikator kuat
tidaknya suatu asam. Pengukuran harga Ka dapat diperoleh dengan metode titrasi.
Metode titrasi yang digunakan pada percobaan ini adalah titrasi potensiometri. Titrasi
potensiometri ini merupakan suatu metode potensiometri secara tidak langsung.
Komponen yang akan ditentukan konsentrasinya akan dititrasi dengan titran yang sesuai
dan elektroda inidikator digunakan untuk mengikuti perubahan potensial yang
dihasilkan oleh proses titrasi. Titik akhir titrasi dalam titrasi potensiometri dapat diamati
dengan menetapkan volume pada saat terjadi perubahan potensial yang besar ketika
ditambahi titran.Titrasi yang menggunakan elektroda kaca dapat digunakan untuk
semua reaksi titrimetri, misalnya asam basa, redoks, pengendapan dan pembentukan
kompleks. Penggunaan elektroda kaca memerlukan piranti ukur dengan impedansi
masukan yang tinggi karena resistan kaca yang tinggi. Namun sebagian besar telah
menggunakan pH meter. Karena pH meter ini digunakan secara meluas untuk semua
jenis titrasi, bahkan dalam hal-hal tertentu penggunaannya tidak diwajibkan
(Underwood,1986).
Potensiometri adalah suatu teknik analisis pengukuran konsentrasi sebagai
fungsi dari potensial dalam suatu sel elektrokimia. Metode ini sangat berguna untuk
menentukan titik ekuivalen suatu titrasi secara instrumen sebagai pengganti indikator
visual. Ketelitian titrasi potensiometri lebih tinggi dibandingkan dengan titrasi visual
yang menggunakan indikator. Titrasi potensiometri dapat diaplikasikan pada titrasi-
titrasi redoks, kompleksometri, asam basa, dan pengendapan. Alat-alat yang diperlukan
dalam titrasi potensiometri adalah electrode pembanding, elektrode indikator dan alat
pengukur potensial. Pengukuran potensial dapat dilakukan secara langsung dengan alat
potensiometer atau tidak langsung melalui pengukuran pH dengan alat pH meter.,
Pembacaan potensial pada alat ukur potensiometer dilakukan pada setiap periode
penambahan titran. Penambahan titran dihentikan bila nilai potensial terukur relatif
tidak berubah pada penambahan volume titran, setelah terjadi lompatan potensial yang
tajam. Titik setara atau titik ekuivalen dapat ditentukan dengan membuat kurva
hubungan antara potensial (volt) terhadap mL titran. Volume di mana terjadi lompatan
tajam dari potensial dinyatakan sebagai volume titik setara.

Gambar 2.1. Kurva titrasi potensiometri (mL titran terhadap potensial).


(Permanasari, 2016).
Titrasi potensiometri umumnya melibatkan ion H+ dalam larutan, alat ukur
yang digunakan adalah pH meter. pH meter merupakan alat pengukur pH yang
menggunakan elektrode membran sebagai elektrode indikator. Alat ini dilengkapi pula
dengan elektrode pembanding gelas atau kalomel atau kombinasi kedua elektrode
tersebut, di mana keduanya tercelup ke dalam larutan yang diukur. Titik ekuivalen
dalam titrasi potensiometri terjadi saat terjadi lonjakan potensial atau pH terhadap
penambahan titran. Titik ekuivalen titrasi sangat sulit ditentukan berdasarkan data
pengamatan pH atau potensial saja. Titik ekuivalen titrasi dapat dengan mudah
ditentukan melalui pembuatan kurva titrasi. Kurva titrasi dapat dibuat dengan dua cara,
yaitu melalui kurva potensial vs mL titran atau pH vs mL titran. Kurva pH terhadap mL
titran hampir mirip bentuknya dengan kurva E vs mL titran, sepbagai berikut:
Gambar 2.2 Kurva titrasi potensiometri (mL titran vs pH)
(Permanasari, 2016).
Asam monoprotik merupakan asam yang hanya dapat menghasilkan satu proton
per molekul asam. Tetapi pada kenyataannya terdapat asam yang dapat melepaskan
lebih dari satu proton. Asam yang dapat melepaskan dua proton dinamakan sebagai
asam diprotik sedangkan yang dapat melepaskan lebih dari dua proton dinamakan asam
poliprotik. Pendekatan yang dilakukan untuk asam poliprotik jauh lebih rumit daripada
asam monoprotik, karena dapat menghasilkan lebih dari satu proton (Bird, 1993).
Kekuatan suatu asam HA, dalam larutan air menunjukkan suatu ukuran dari
kecenderungannya menyumbangkan sebuah proton kepada sebuah molekul air:
HA + H2O → H3O+ + A- …………………………….. (2.1)
Reaksi ini berlangsung dari kiri ke kanan juga merupakan kecenderungan dari basa
konjugat A- untuk menerima sebuah proton dari H3O+
H3O+ + A- → HA + H2O …………………………….. (2.2)
Reaksi pertama menang terhadap reaksi kedua, maka HA adalah suatu asam kuat dan A-
suatu basa lemah. Suatu contoh asam kuat adalah HCl, sehingga dapat disimpulkan
bahwa Cl- adalah basa yang relativ lemah (Keenan, 1990).
Nilai pH pada setengah titik ekivalen dihubungkan dengan pK pada titrasi suatu
asam monoprotik. Beberapa asam-basa Bronsted, HA dan A- (muatan diabaikan):

𝐻𝐴 ⥨ 𝐻 + + 𝐴−

……………….(2.3)
pada titik setengah ekivalen, bila molaritas [A-] sama dengan [HA], [H+] sama dengan
K. Persamaan ini disebut Persamaan Henderson-Hasselbach. Dengan mengambil
negatif log atau (-log) dari persamaan di atas dan penyusunan kembali menghasilkan:

……………….(2.4)
apabila [A-] sama dengan [HA], pH larutan sepadan dengan pK dari spesi HA. Asam
dengan suatu hidrogen yang dapat terionisasi tunggal, spesi HA dan A mempunyai
konsentrasi sama pada separuh volume ekivalen dan pH pada posisi ini seharusnya
merupakan perkiraan yang baik dari pK (Keenan, 1990).
Penentuan pH larutan secara potensiometri mendefinisikan pH dari emf sel
pengukuran itu. Penetapan (pH) menggunakan elektroda pembanding, jembatan garam
yang dicelupkan ke dalam larutan yang ada ditetapkan, elektroda hidrogen. Persamaan
yang digunakan untuk menghitung pH larutan adalah sebagai berikut:

Esel = Eref – 0.059 pH …………….. (2.5)

Harga ketelitian pH, perlu dimasukkan potensial junction (Ej) sehingga rumus di atas
menjadi:

Esel = Eref – 0.059pH + Ej………….. (2.6)

bila Eref + Ej disebut K, maka rumus pH larutan dengan metode potensiometri akan
menjadi:

Esel = k – 0.059 pH ……………….. (2.7)

(Underwood, 1990)
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Gelas piala 250 mL
- Pipet volume 25 mL
- Elektroda gelas
- Neraca analitis
- Labu ukur 500 mL
3.1.2 Bahan
- Asam asetat
- Akuades
- NaOH
- Asam fosfat
3.2 Skema Kerja
3.2.1 PKa suatu asam Asetat

Asam Asetat 0.1 M

- Diambil sebanyak 25 mL dan dimasukkan dalam beaker glass


- Dimasukkan anak stirrer ke dalam beaker glass dan diletakkan di
atas stirrer magnetic
- Dicelupkan elektroda dan dititrasi dengan NaOH 0,1 M
- Diamati kurva yang diperoleh pada komputer
- Dihentikan ketika sudah tercapai titik ekivalen
- Dilakukan percobaan secara duplo

Hasil
3.2.2 Titrasi Asam Fosfat

Asam Fosfat 0,1 M

- dipipet sebanyak 25 mL kedalam gelas piala 250 ml


- dicelupkan elektroda gelas dan dititrasi dengan larutan
hidroksida standar.
- dialurkan kurva titrasi tersebut sebagai pH lawan volume
NaOH. Ditetapkan kurva tersebut dan dilaporkan pada asisten
nilai pKal dan pKa2 asam fosfat
- dilakukan percobaan secara duplo

Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Penentuan Konstanta Disosiasi Asam Asetat

pH
Nilai Ka Rata-rata
No. Sampel pada ½ ekuivalen
nilai Ka
1 2 1 2
Asam 6 4,571106
1. 5,345 5,34 4,518 10 4,55 𝑥10−6
Asetat

4.1.2 Penentuan Konstanta Disosiasi Asam Fosfat


pH
Nilai Ka Rata-rata
No. Sampel pada ½ ekuivalen
nilai Ka
1 2 1 2

Asam
1. Fosfat 2,882 2,911 1,31210-3 1,277 10-3 1, 294 x 10 -3
(Ka1)

Asam
2. Fosfat 7,487 7,728 3,258 10-8 1,87110-8 2,564 x 10 -8
(Ka2)

4.2 Pembahasan
Percobaan kelima pada praktikum kimia fisik II ini tentang analisis dan penentuan
konstanta disosiasi 2 asam dengan titrasi pH yang dikontrol dengan komputer.
Percobaan ini bertujuan melakukan kegiatan untuk menentukan nilai Ka dari asam-asam
tertentu dengan teknik potensiometri. Asam-asam yang ditentukan nilai Ka nya yaitu
asam asetat dan asam fosfat. Penggunaan asam tersebut berdasarkan jenisnya yaitu
berturut-turut asam monoprotik dan poliprotik. Asam asetat menghasilkan proton sekali
dalam ionisasinya, sehingga hanya memiliki Ka1, sedangkan asam fosfat menghasilkan
proton tiga kali sehingga memiliki Ka1, Ka2 dan Ka3, namun pada percobaaan ini hanya
ditentukan Ka1dan Ka2 saja untuk asam fosfat. Titrasi potensiometri adalah salah satu
teknik pengembangan dari metode potensiometri, dimana pengukurannya didasarkan
pada beda potensial diantara elektroda yang dicelupkan ke dalam larutan tanpa adanya
arus dalam sel. Analisis dan penentuan konstanta disosiasi ini terdiri dari dua tahapan
yaitu penentuan konstanta ionisasi asam asetat dan asam fosfat. Elektroda yang
digunakan pada percobaan ini yaitu elektroda pH. Penggunaan elektroda ini karena
elektroda pH sensitif terhadap proton (H+), sedangkan asam-asam mengalami ionisasi
menghasilkan proton H+.
Tahapan yang dilakukan pertama yaitu pembuatan larutan NaOH 5 N sebanyak
500 mL. Larutan NaOH pada percobaan ini digunakan sebagai larutan hidroksida
standar untuk dititrasi dengan asam asetat dan asam fosfat. Tahapan selanjutnya yaitu
titrasi larutan hidroksida standar dengan asam asetat 0,1 M sebanyak 25 mL. Asam
asetat 0,1 M dalam beaker glass yang diletakkan di atas stirrer magnetic dan dilengkapi
dengan anak stirrer. Tujuannya yaitu untuk membuat campuran larutan NaOH dan asam
asetat homogen selama titrasi dilakukan. Asam asetat dalam bentuk larutan dapat
mengalami disosiasi dengan persamaan reaksi sebagai berikut:

CH3COOH(aq) + H2O(l) CH3COO-(aq) + H3O+(aq)


asam basa basa asam
konjugat konjugat

Berdasarkan persamaan reaksi tersebut, dpat dilihat bahwa asam asetat merupakan asam
monoprotik yang dapat melepas proton (H+) sekali dan memberikannya pada air
sehingga membentuk H3O+ dalam larutan. Kemampuan untuk melepaskan atau
memberikan proton pada asam asetat inilah yang menyebabkan asam asetat juga disebut
asam bronsted.
Titrasi ini dilakukan dengan menggunakan botol infus berisi larutan NaOH yang
disertai dengan infusion set dan digantung pada klem dan statif. Botol infus dilengkapi
dengan infusion set yang terdiri dari regulator. Regulator dalam infusion set berfungsi
mengatur tetesan cairan dari botol infus dan dapat menghasilkan tetesan dengan volume
yang sama oleh karena itu, percobaan kali ini menggunakan infus agar penambahan
titran dapat konstan dan diketahui volume ekivalen untuk mencari nilai pKa asam
melalui pengukuran pH. Pengukuran pH larutan asam asetat dilakukan dengan
menggunakan elektroda pH. Elektroda pH digunakan karena elektroda pH sangat
selektif terhadap ion H. Elektroda pH sebelum digunakan harus dicuci dengan akuades
terlebih dahulu agar tidak mengandung kontaminasi yang dapat mempenagaruhi hasil
percobaan. Setiap penetesan pertama kali larutan hidroksida disertai dengan
menjalankan software yang digunakan pada komputer yakni labview. Cara menjalankan
software labview tersebut yaitu setelah membuka file baru kemudian di klik pada ikon
run di tampilan software labview. Selama proses titrasi, elektroda pH tidak boleh
sampai terkena anak stirrer karena dikhawatirkan fungsi membran pada elektroda pH
akan terganggu. Elektroda pH juga tidak boleh sampai terkena tetesan langsung dari
larutan hidroksida standar, karena dikhawatirkan pH yang terukur bukan pH campuran
melainkan pH larutan hidroksida standar langsung. Reaksi asam-basa yang terjadi
selama titrasi disebut juga reaksi penetralan. Persamaan reaksinya dapat dilihat sebagai
berikut:
CH3COOH (aq) + NaOH (aq) ⇌ CH3COONa (aq) + H2O (l)

Titrasi asam asetat dan larutan NaOH dihentikan ketika kurva kalibrasi pH yang
diperoleh pada software labview telah mencapai nilai yang konstan dan terdapat satu
patahan seperti pada gambar 2.2 untuk asam monoprotik. Nilai pH larutan yang konstan
mengindikasikan bahwa titik ekivalen telah tercapai. Titik ekivalen merupakan titik
dimana jumlah mol asam sama dengan jumlah mol basa yang ditambahkan ataupun
sebaliknya. Data kurva hasil software labview kemudian disimpan dan untuk
mengetahui nilai-nilai pada sumbu x dan y nya dibuka dengan microsoft excel.
Percobaan titrasi asam asetat dengan larutan NaOH ini dilakukan secara duplo untuk
memperoleh hasil yang presisi. Grafik hasil pengeplotan yang diperoleh pada percobaan
titrasi asam asetat dengan larutan NaOH pada pengulangan pertama ini sebagai berikut:
Kurva titrasi asam asetat I
14
12
10
8
pH

6 Series1
4 Linear (Series1)
2
0
0 200 400 600
Volume NaOH (mL)

Gambar 4.1 kurva titrasi asam asetat dan NaOH pengulangan 1 (volume vs pH)

Kurva titrasi tersebut menggambarkan hubungan penambahan volume larutan


hidroksida standar dengan pH campuran. Kurva tersebut hanya memiliki satu patahan
sesuai dengan sifat asam asetat yang merupakan asam monoprotik sehingga ionisasinya
hanya dapat melepas satu proton (H+). Berdasarkan grafik dan data yang diperoleh
tersebut dapat diketahui bahwa titik ekivalen terletak pada lekukan yaitu secara visual di
daerah yang memiliki garis lurus antara pH 8-10. Berdasarkan tim kimia fisik II (2016),
menurut persamaan Henderson-Hasselbach nilai pKa sama dengan pH pada setengah
volume ekivalen untuk asam monoprotik dengan syarat [A-] sama dengan [HA].
Berdasarkan grafik diketahui bahwa volume ekuivalen 386 mL sehingga volume
setengan ekuivalen adalah 193mL dan pH adalah 5,345. Hal ini berarti nilai pKa asam
asetat berdasarkan percobaan ini yaitu 5,345, sehingga nilai konstanta ionisasi asam
asetat (Ka) adalah 4,518 106 .
Pengulangan kedua penentuan pKa asam asetat dilakukan dengan prosedur yang
sama seperti pada pengulangan pertama. Nilai pH terhadap volume NaOH yang
diperoleh dari software labview diplotkan sehingga diperoleh grafik seperti berikut ini :
Kurva titrasi asam asetat II
14
12
10
8
pH

6 Series1
4 Linear (Series1)

2
0
0 200 400 600 800 1000

Volume NaOH (mL)

Gambar 4.2 kurva titrasi asam asetat dan NaOH pengulangan 2 (volume vs pH)

Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui bahwa titik ekivalen terletak pada
lekukan yang secara visual terletak di daerah yang memiliki garis lurus antara pH 8-10.
Berdasarkan tim kimia fisik II (2016), menurut persamaan Henderson-Hasselbach nilai
pKa sama dengan pH pada setengah volume ekivalen untuk asam monoprotik dengan
syarat [A-] sama dengan [HA]. Berdasarkan grafik dan data yang diperoleh diketahui
bahwa volume ekuivalen 652 mL sehingga volume setengan ekuivalen adalah 326 mL
dan pH adalah 5,340. Hal ini berarti nilai pKa asam asetat berdasarkan pengulngan
kedua ini yaitu 5,340, sehingga nilai konstanta ionisasi asam asetat (Ka) adalah
4,571106 .
Konstanta ionisasi asam asetat rata-rata berdasarkan dua kali pengulangan titrasi
asam asetat dengan larutan NaOH yaitu sebesar 4,554 𝑥10−6 . Konstata ionisasi asam
asetat menurut crc handbook of chemistry and physics 84th (2004) yaitu 1,75 x 10-5
dengan nilai pKa yaitu 4,756. Nilai konstanta ionisasi asam asetat menurut percobaan
lebih kecil dibandingkan dengan literatur. Faktor yang menyebabkan ketidakakuratan
ini kemungkinan karena larutan standar NaOH belum terstandarisasi karena larutan
NaOH bersifat higroskopis yang apabila dibiarkan terlalu lama, maka kemungkinan
akan mengikat uap air di udara sehingga konsentrasinya berubah dari konsentrasi
semula. Kurva titrasi yang dihasilkan juga kurang ideal karena kurva titrasi yang ideal
seharusnya memiliki lekukan dengan garis lurus vertikal, ketidakidealan kurva titrasi
tersebut dapat terjadi karena beberapa hal, misal karena pada saat titrasi larutan NaOH
langsung menetes pada elektroda sehingga pembacaan pH berbeda dengan pH
campuran.
Tahapan selanjutnya yaitu titrasi asam fosfat 0,1 M dengan menggunakan larutan
NaOH 0,1 M. Teknik titrasi yang digunakan pada titrasi asam fosfat sama dengan titrasi
pada asam asetat. Titrasi asam fosfat dengan larutan NaOH ini dilakukan secara duplo
untuk memperoleh hasil yang presisi. Asam fosfat merupakan asam poliprotik yang
melepaskan lebih dari satu proton saat mengalami disosiasi sehingga memiliki nilai Ka
lebih dari satu. Persamaan reaksi ionisasi asam fosfat:

H3PO4 (Aq) + H2O (l) H2PO4- (Aq) + H3O+ (Aq)


asam basa basa asam
konjugat konjugat

H2PO4- (Aq) + H2O (l) HPO4- 2 (Aq) + H3O+ (Aq)


asam basa basa asam
konjugat konjugat

HPO4- 2 (Aq) + H2O (l) PO4- 3 (Aq) + H3O+ (Aq)


asam basa basa asam
konjugat konjugat

Berdasarkan persamaan reaksi tersebut, dapat dilihat bahwa asam fosfat dapat
melepaskan proton dan memberikannya kepada H2O untuk membentuk H3O+ berturut-
turut sebanyak tiga kali, sehingga asam fosfat merupakan asam poliprotik. Larutan asam
fosfat yang telah dicelupi dengan elektroda pH dititrasi dengan larutan NaOH hingga
pH larutan menjadi konstan pada aplikasi komputer. Reaksi netralisasi yang terjadi
antara asam fosfat dengan NaOH sesuai dengan pelepasan proton yaitu:
H3PO4(aq) +NaOH(aq) → NaH2PO4(aq) + H2O(l)
NaH2PO4(aq) + NaOH(aq) → Na2HPO4(aq) + H2O(l)
Na2HPO4(aq) + NaOH(aq) → Na3PO4(aq) + H2O(l)
Nilai pH dan volume NaOH yang telah diperoleh kemudian diplotkan sehingga
menghasilkan grafik sebagai berikut:
Kurva titrasi asam fosfat I
14
12
10
8
pH

6 Series1
4
Linear (Series1)
2
0
0 200 400 600 800 1000 1200

Volume NaOH (mL)


Gambar 4.3 kurva titrasi asam fosfat dan NaOH pengulangan 1 (volume vs pH)

Berdasarkan kurva titrasi asam fosfat tersebut dapat diketahui bahwa kurva
menghasilkan dua patahan yang secara visual terletak pada garis lurus antara pH 4-6
dan pH 10-12. Patahan atau lekukan kurva titrasi asam fosfat terdapat 2 karena asam
fosfat melepaskan 3 proton. Dua patahan atau lekukan tersebut menandakan bahwa
terdapat dua nilai Ka yaitu Ka1 dan Ka2, dimana satu lekukan mempunyai satu nilai Ka.
Nilai pKa1 menurut tim kimia fisik II (2016) sama dengan pH pada setengah volume
ekivalen. Volume ekivalen berdasarkan kurva titrasi asam fosfat dengan larutan NaOH
pada pengulangan pertama tersebut adalah 374 mL, sehingga setengah volume
ekivalennya yaitu 187 mL. Nilai pH pada setengah volume ekivalen tersebut yaitu
2,882 sehingga pKa1 asam fosfat berdasarkan percobaan ini adalah 2,882 . Konstanta

ionisasi asam fosfat pertama (Ka1) berdasarkan nilai pKa1 yaitu 1,31210-3 .
Nilai pKa2 menurut tim kimia fisik II (2016) sama dengan pH pada tiga per dua
volume ekivalen. Volume ekivalen berdasarkan kurva titrasi asam fosfat dengan larutan
NaOH pada pengulangan pertama tersebut adalah 374 mL, sehingga 3/2 dari volume
ekivalennya yaitu 561 mL. Nilai pH pada volume ini berdasarkan data yang diperoleh
adalah 7,487 , sehingga pKa2 asam fosfat berdasarkan percobaan yaitu 7,487 . Konstanta

ionisasi asam fosfat kedua (Ka2) berdasarkan nilai pKa2 yaitu 3,258 10-8 .
Pengulangan kedua titrasi asam fosfat dilakukan dengan prosedur yang sama
dengan pengulangan pertama sehingga diperoleh kurva titrasi sebagai berikut:
Kurva titrasi asam fosfat II
14
12
10
8
pH

6 Series1
4
Linear (Series1)
2
0
0 200 400 600 800 1000

Volume NaOH (mL)


Gambar 4.4 kurva titrasi asam fosfat dan NaOH pengulangan 2 (volume vs pH)

Berdasarkan kurva titrasi asam fosfat tersebut dapat diketahui bahwa kurva
menghasilkan dua patahan yang secara visual terletak pada garis lurus antara pH 4-6
dan pH 10-12. Patahan atau lekukan kurva titrasi asam fosfat terdapat 2 karena asam
fosfat melepaskan 3 proton. Dua patahan atau lekukan tersebut menandakan bahwa
terdapat dua nilai Ka yaitu Ka1 dan Ka2, dimana satu lekukan mempunyai satu nilai Ka.
Nilai pKa1 menurut tim kimia fisik II (2016) sama dengan pH pada setengah volume
ekivalen. Volume ekivalen berdasarkan kurva titrasi asam fosfat dengan larutan NaOH
pada pengulangan kedua tersebut adalah 326 mL, sehingga setengah volume
ekivalennya yaitu 163 mL. Nilai pH pada setengah volume ekivalen tersebut yaitu
2,911 sehingga pKa1 asam fosfat berdasarkan percobaan ini adalah 2,911 . Konstanta

ionisasi asam fosfat pertama (Ka1) berdasarkan nilai pKa1 yaitu 1,277 10-3 .
Nilai pKa2 menurut tim kimia fisik II (2016) sama dengan pH pada tiga per dua
dari volume ekivalen. Volume ekivalen berdasarkan kurva titrasi asam fosfat dengan
larutan NaOH pada pengulangan pertama tersebut adalah 374 mL, sehingga 3/2 dari
volume ekivalennya yaitu 489 mL. Nilai pH pada volume ini berdasarkan data yang
diperoleh adalah 7,728 , sehingga pKa2 asam fosfat berdasarkan percobaan yaitu 7,728 .

Konstanta ionisasi asam fosfat kedua (Ka2) berdasarkan nilai pKa2 yaitu 1,87110-8 .

Percobaan titrasi asam fosfat dengan larutan NaOH yang diulang dua kali
menghasilkan nilai konstanta ionisasi asam fosfat yang diperoleh merupakan nilai Ka1
dan Ka2 rata-rata. Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai Ka1 (rata-rata) asam fosfat
yaitu 1,294 x 10 -3 , sedangkan nilai Ka2 (rata-rata) asam fosfat yaitu 2,564 x 10 -8 .
Konstata ionisasi asam fosfat pertama (Ka1) menurut crc handbook of chemistry and
physics 84th (2004) yaitu 6,9 x 10-3 dengan nilai pKa yaitu 2,16 . Konstata ionisasi
asam fosfat kedua (Ka2) berdasarkan literatur tersebut adalah 6,2 x 10-8 dengan nilai
pKa 7,21. Nilai konstanta ionisasi asam fosfat pertama dan kedua (Ka1 dan Ka2)
menurut percobaan lebih kecil dibandingkan dengan literatur. Faktor yang
menyebabkan ketidakakuratan ini kemungkinan karena larutan standar NaOH belum
terstandarisasi karena larutan NaOH bersifat higroskopis yang apabila dibiarkan terlalu
lama, maka kemungkinan akan mengikat uap air di udara sehingga konsentrasinya
berubah dari konsentrasi semula. Kurva titrasi yang dihasilkan juga kurang ideal karena
kurva titrasi yang ideal seharusnya memiliki lekukan dengan garis lurus vertikal,
ketidakidealan kurva titrasi tersebut dapat terjadi karena beberapa hal, misal karena
pada saat titrasi larutan NaOH langsung menetes pada elektroda sehingga pembacaan
pH berbeda dengan pH campuran.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan mengenai analisis dan penentuan
konstanta disosiasi asam dengan titrasi pH yang dikontrol dengan komputer dapat
diambil kesimpulan bahwa konstanta ionisasi asam asetat dengan asam fosfat dapat
dilakukan dengan teknik titrasi potensiometri. Konstanta ionisasi asam asetat (Ka)
menurut hasil percobaan ini yaitu 4,554 𝑥10−6 , sedangkan konstanta ionisasi asam
fosfat, Ka1 adalah 1, 294 x 10 -3 dan Ka2 adalah 2,564 x 10 -8 .

5.2 Saran
Saran untuk percobaan selanjutnya adalah praktikan sebaiknya meminimalisir
kesalahan yang ada, contohnya lebih teliti ketika melakukan titrasi sehingga larutan
hidroksida standar tidak menetes langsung pada elektroda. Praktikan juga harus hati-hati
dalam memposisikan elektroda agar tidak mengalami ontak dengan anak stirrer
sehingga mengurangi fungsi membran pada elektroda yang sangat sensitif.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. MSDS akuades.http://www.sciencelab.com/msds/php?msdsId=9927062.


[diakses tanggal 21 November 2016].
Anonim. 2016.MSDS Asam Asetat. http://www.sciencelab.com/msds/php?msdsId=992
7572. [diakses tanggal 21 November 2016].
Anonim. 2016. MSDS Natrium Hidroksida. http://www.sciencelab.com/msds/php?
=99077062. [diakses tanggal 21 November 2016].
Anonim. 2016. MSDS Asam Fosfat. http://www.sciencelab.com/msds/php?msdsId=992
7593. [diakses tanggal 21 November 2016].
Underwood, D. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Svehla, G. 1990. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik kualitatif Makro dan Semimikro.
Jakarta : Kalman Media Pustaka.
Permanasari, A. 2016.Modul Praktikum Kimia 2.Bandung: FPMIPA-UPI dan JICA.
Keenan. 1990. Kimia Untuk Universitas. Erlangga: Jakarta .
Bird, T. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: Gramedia.
Tim Kimia Fisik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Fisik II. Jember : FMIPA-Kimia
Universitas Jember.
LAMPIRAN

1. Asam Asetat (1)

Kurva titrasi asam asetat I


14

12

10

8
pH

6 Series1

4 Linear (Series1)

0
0 100 200 300 400 500 600
Volume NaOH (mL)

Volume ekuivalen = 386 mL


Volum ½ ekuivalen = 193 mL
pKa = pH setengah volume ekivalen
= 5,345
pKa   log Ka
Ka  10 -pKa
 10 -5,345
 4,518  10 6
2. Asam Asetat (2)

Kurva titrasi asam asetat II


14

12

10

8
pH

6 Series1

4 Linear (Series1)

0
0 200 400 600 800 1000
Volume NaOH (mL)

Volume ekuivalen = 652


Volume ½ ekuivalen= 326
pKa = pH setengah volume ekivalen
= 5,34

pKa   log Ka
Ka  10 -pKa
 10 -5,34
 4,571  10 6

Karata-rata asam asetat

𝐾𝑎𝐼 + 𝐾𝑎𝐼𝐼 (4,518 + 4,571)𝑥10−6


=
2 2

= 4,554 𝑥10−6
3. Asam Fosfat 1

Kurva titrasi asam fosfat I


14
12
10
8
pH

6 Series1
4 Linear (Series1)
2
0
0 200 400 600 800 1000 1200

Volume NaOH (mL)

Volume ekuivalen = 374 mL


Volume ½ ekuivalen = 187 mL
pKa1  pH 1 / 2 Vekivalen 
 2,882
pKa 1  -log Ka 1
Ka 1  10 -2,882
 1,312  10 -3
Volume ekuivalen kedua = 374 mL
Volume ½ ekuivalen = 561 mL
pKa2  pH 3 / 2 Vekivalen 
 7,487
pKa 2  -log Ka 2
Ka 2  10- 7,487
 3,258  10-8
4. Asam Fosfat 2

Kurva titrasi asam fosfat II


14

12

10

8
pH

6 Series1
4 Linear (Series1)

0
0 200 400 600 800 1000

Volume NaOH (mL)

Volume ekuivalen = 326 mL


Volume ½ ekivalen = 163 mL
pKa1  pH 1 / 2 Vekivalen 
 2,911
pKa 1  -log Ka 1
Ka 1  10 -2,911
 1,277  10 -3
Volume ekuivalen kedua = 326 mL
Volume3/2 ekuivalen = 489 mL
pKa2  pH 3 / 2 Vekivalen 
 7,728
pKa 2  -log Ka 2
Ka 2  10 -7,728
 1,871  10 -8

( 1,31210 )+( 1,277 10


-3 -3
)
Ka 1 rata-rata = = 1, 294 x 10 -3
2

( 3,258 10 )+( 1,871 10 )


-8 -8

Ka 2 rata-rata = = 2,564 x 10 -8
2
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai