Anda di halaman 1dari 14

PENELITIAN KEAGAMAAN

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“METODOLOGI STUDI ISLAM”

Dosen pengampu :

Imam Mushafak, M.Pd.I

Disusun oleh

1. Miftakhul Jannah (12212183029)


2. Muhammad Abdi Mahardika (12212183040)
3. Fitri Widyawati (12212183036)

JURUSAN TADRIS KIMIA


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
NOVEMBER 2018
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya,
sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“PENELITIAN KEAGAMAAN” Sehingga dengan makalah ini diharapkan dapat menambah
wawasan kita semua mengenai mata kuliah Medologi Studi Islam.

Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman terang benderang yakni agama
islam. Sehubungan dengan terselesaikannya makalah ini, penulis mengucapkan terimakasih
kepada:

1. Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag. sebagai rektor IAIN Tulungagung.


2. Ibu Dr. Hj. Binti Maunah sebagai dekan FTIK IAIN Tulungagung.
3. Bapak Imam Mushafak, M.Pd.I sebagai dosen pengampu Metodologi Studi Islam.
4. Semua citvitas akademik dan teman-teman yang telah mambantu dalam penulisan
makalah ini.

Selain itu penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan, serta tidak terlepas dari berbagai macam kendala, keterbatasan ilmu, dan
referensi. Oleh karena itu, penulis masih mengharapkan bimbingan dan saran dari berbagai
pihak sehingga makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya danbagi para pembaca pada umumnya

Tulungagung, 08 November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................. i

DAFTAR ISI ..............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG ..................................................................................................... 1

B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................ 1

C. TUJUAN PENELITIAN ................................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................ 3

A. Pengertian Penelitian Keagamaan ................................................................................... 3

B. Penelitian Agama dan Penelitian Keagamaan ................................................................. 4

C. Kontruksi Teori Penelitian Agama .................................................................................. 7

D. Model-model Penelitian agama ....................................................................................... 8

BAB III PENUTUP .................................................................................................................. 10

A. Kesimpulan .................................................................................................................... 10

B. Saran .............................................................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Metode Penelitian Agama merupakan cara dimana umat beragama bisa
mengerti tentang agama yang di peluk atau di ajarankan. Banyak faktor kendala yang
mempengaruhi penelitian agama seperti narasumber maupun ajaranya.
Penelitian agama sudah dilakukan sejak beberapa abad yang lalu, namun
hasil penelitian yang telah diperoleh masih dalam bentuk perbuatan belum dijadikan
sebagai ilmu. Semakin bertambahnya gejala-gejala agama yang berbau dengan masalah
sosial dan budaya, ternyata penelitian dapat dijadikan sebagai ilmu yang khusus
dipergunakan untuk menyelidiki gejala-gejala agama tersebut.
\ Perkembangan-perkembangan penelitian agama pada saat ini sangat pesat
disebabkan oleh tuntutan-tuntutan kehidupan sosial yang selalu mengalami perubahan.
Kajian dalam lingkup agama memerlukan relevansi dari kehidupan sosial yang tengah
berlangsung, permasalahan-permasalahan seperti ini yang mendasari perkembangan
penelitian-penelitian agama guna mencari relevansi kehidupan sosial dan agama.
Dalam penelitian agama diisi dengan penjelasan mengenai kedudukan penelitian
agama khususnya didalam konteks penelitian pada umumnya, mengenai penelitian
agama dan penelitian keagamaan serta konstruksi teori penelitian agama, dari beberapa
penjelasan singkat tersebut maka pemakalah perlu dikaji secara rinci terhadap
penjelasan tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian penelitian keagamaan?
2. Bagaimana perbedaan penelitian agama dan penelitian keagamaan
3. Bagaimana kontruksi penelitian agama
4. Bagaimana model-model penelitian agama

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui pengertian penelitian keagamaan
2. Untuk mengetahui perbedaaan penelitian agama dan penelitian keagamaan
3. Untuk mengetahui kontruksi penelitian agama
1
4. Untuk mengetahui model-model penelitian agama

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penelitian Keagamaan


Penelitian (research) adalah upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu
masalah dan menemukan solusi secara umum. Selain itu, penelitian juga berarti upaya
pengumpulan informasi yang bertujuan untuk menambah pengtahuan. Pengetahuan manusia
tumbah dan berkembang berdasarkan kajian-kajian sehingga terdapat penemuan-penemuan
dan selanjutnya siap merevisi pengetahuan-pengetahuan masa lalu.

Penelitian dipandang sebagai kegiatan ilmiah karena menggunakan metode


keilmuan, yakni gabungan antara pendekatan rasional dan pendekatan empiris. Pendekatan
rasional memberi kerangka memberi yang koheren dan logis. Sedangkan pendekatan empiris
merupakan kerangka pengujian dalam memastikan kebenaran1.

Keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat dalam agama atau segala sesuatu
mengenai agama, atau soal-soal keagamaan. Penelitan keagaman merupakan sebuah
kegiatan ilmiah terhadap agama yang dapat menggunakan berbagai pendekatan. Keragaman
model penelitan keagamaan akan membuat kita dapat memahami agama dalam masyarakat
dengan berbagai perspektif. Model penelitian yang ditampilkan, antara lain dengan data
pembedaan antara penelitan agama dan penelitian hidup keagamaan.2

Penerapan teori ilmiah yang penting umpamanya dalam pengembangan metode


dakwah yang sesuai dengan perkembangan zaman dan subkultur tertentu seperti masyarakat
terpelajar. Dengan menerapkan teori-teori ilmiah yang relevan kita dapat mengembangkan
metode dakwah dan sekaligus mengujinya di lapangan, umpamanya dengan metode
eksperimen. Penelitian dengan cara pertama dan kedua sangat berguna untuk memperoleh
informasi yang digunakan masyarakat maupun dalam mengambil keputusan.3

Pengertian Penelitian Keagamaan menurut Atho Mudzakar mengutip pendapat


Middleton, soerang Guru besar antropologi di New York University. Middleton berpendapat

1
Faisar, dkk., Metode Studi Islam, (Jakarta:PT RAJAGRAFINDO PRSADA, 2015), hlm. 247
2
Faisar, Ibid., hlm. 257.
3
Harun Nasution, dkk. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antar Displin Ilmu, (Bandung:
Penerbit Nuasa, 1998), hlm. 55.
3
bahwa penelitian keagamaan (religious research) lebih mengutamakan pada agama sebagai
sistem atau system keagamaan (religious system)4.

B. Penelitian Agama dan Penelitian Keagamaan


Istilah penelitian agama dan penelitian keagamaan belum diberi batas yang tegas.
Penggunaan istilah yang pertama (penelitian agama) sering juga dimaksudkan mencakup
pengertian istilah kedua (penelitian keagamaan), dan begitu sebaliknya.

Perbedaan antara penelitian agama dan penelitian keagamaan perlu disadari karena
perbadaan itu membedakan jenis metode penelitian yang diperlukan. Untuk penelitian
agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin, pintu bagi pengembangan suatu
metodologi tersendiri sudah terbuka, bahkan sudah ada yang pernah merintisnya. Adanya
ilmu ushul fiqih sebagai metode untuk intinbath hukum dalam agama islam dan ilmu
mushthalah al hadist sebagai metode untuk menilai akurasi sabda Nabi Muhammad SAW
merupakan bukti bahwa keinginan untuk mengembangkan metodologi penelitian tesendiri
bagi bidang pengetahuan ini pernah muncul. Persoalan berikutnya adalah, apakah kita
hendak menyempurnakannya atau meniadakannya sama sekali dan menggantinya dengan
yang baru atau tidak menggantinya sama sekali dan membiarkan tidak ada.

Untuk penelitian keagamaan yang sasarannya adalah agama saebagai gejala sosial,
kita tidak perlu membuat metodologi penelitian tersendiri. Ia cukup meminjam metodologi
sosial yang telah ada. Memang, kemungkinan lahirnya suatu ilmu jangan di artifisal karena
semangat yang berlebihan. Mungkin akan lebih bijaksana, kata Atho Mudzhar, apabila
metodologi penelitian yang diharapkan itu tumbuh dari proses seleksi dan kristalisasi dari
berbagai pengalaman dalam menggunakan berbagai metode penelitian sosial5.

Dengan demikian, apabila mengikuti pembedaan antara penelitian agama dengan


penelitian keagamaan yang dikemukaan Middleton, kita menggunakan metode yang berbeda
apabila masalah yang kita teliti termasuk wilayah pertama atau wilayah kedua. Dalam
pandangan Middleton, penelitian agama islam adalah penelitian yang objeknya subtansi
agama islam: kalam, fiqih, akhlak, tasawuf. Sedangkan penetilian keagamaan islam
menurutnya adalah penelitian yang objeknya adalah agama sebagai produk interaksi sosial.

4
M. Atho Mudzar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktik, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,
2001) hlm. 35
5
Faisar, dkk., Metode Studi Islam.., hlm. 251
4
Tepatnya, abik agama maupun keagamaan merupakan kajian yang menjadikan agama
sebagai objek penelitian.

Gagasan Ahmad Syafi’i Mufid yang telah disebutkan merupakan salah satu alternatif
yang tidak lepas dari kekurangan. Salah satu kekurangannya bahwa Ahmad Syafi’i
cenderung meniadakan ilmu ushul fiqih, filsafat hukum islam, dan ilmu mushthalah al hadis
sebagai ilmu di bidang metode. Ilmu fiqih dan filsafat hukum islam sebagai metode
mempelajari dan mengambangkan fiqih, sedngkan ilmu mushathalah al hadis untuk meneliti
akurasi periwayatan hadis.

Salah satu jalan keluar dari persoalan tersebut adalah dengan mempelajari gagasan
yang ditawari oleh Juhaya S. Praja. Ia mengajukan gagasan yang sejalan dengan gagasan
Middleton, yaitu penelitian agama dan penelitian keagamaan. Dalam pendangan Juhaya S.
Praja, penelitian agama adalah penelitian tentang asal usul agama, pemikiran serta
pemahaman penganut ajaran agama tersebut terhadap ajaran yang terkandung di dalamnya.6
Dengan demikian, menurut Juhaya terdapat dua bidang penelitian agama yaitu:

a) Penelitian tentang sumber ajaran agama yang telah melahirkan disiplin ilmu tafsir
dan ilmu hadis.
b) Pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran yang terkandung dalam sumber ajaran
itu, yakni ushul fiqih yang merupakan metodologi ilmu agama. Penelitian ini
menghasilkan filsafat islam, ilmu kalam, ilmu fiqih.

Penelitian tentang hidup keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran


agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Berdasarkan ajaran
tersebut, penelitian hidup keagamaan meliputi hal-hal berikut:

a) Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakat yang didasarkan atas agama
yang dianutnya
b) Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik, budaya maupun
lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu agama
c) Ajaran agama yang membentuk pranata sosial, corak peilaku, dan budaya masyarakat
beragama7

6
Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Ilmu, (Bandung:Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Gunung Jati,
1997 ), hlm. 31
7
Juhaya, Ibid., hlm 32
5
Berkenaan dengan metode penelitian yang diperlukan, Ahmad Syafi’i menjelaskan
sebagai berikut, apabila penelitian agama berkenaan dengan pemikiran atau gagasan, maka
metode-metode, seperti filsafat, fisiologi adalah pilihan yang tepat. Apabila penelitian
agama berkaitan dengan sikap perilaku agama, maka metode ilmu-ilmu sosial, seperti
sosiologi, antropologi dan psikologi merupakan metode yang paling tepat digunakan.
Sedangkan untuk penelitian yang berkenaan benda-benda keagamaan metode arkeologi
atau metode ilmu natural yang relevan tepat digunakan.8

Berdasarkan saran tersebut, metode penelitian yang kita gunakan dalam suatu
kegiatan penelitian tidak mesti membangun metode baru, tetapi cukup meminjam,
melanjutkan, atau mengembangkan metodologi yang sudah dibangun oleh para ahli
sebeblumnya. Menurut Ahmad S. Praja, akrena sosiologi dijadikan pendekatan dalam
memahami agama, maka metode yang digunakan pun metode sosiologi seperti observasi,
interview, dan angket. Dalam dataran sosiologis, agama dipahami sebagai perilaku yang
konkret. Setelah mengutip dari Wallace yang menemukan tiga puluh kategori tipe-tipe
perilaku keagamaaan, Juhaya memodifikasi tipe-tipe tersebut seperlunya, yaitu sebagai
berikut;

a) Pernyataan tentang supernatural, seperti sembahyang dan pengusiran roh jahat


(exorcism)
b) Musik, tarian dan lagu-lagu
c) Latihan psikologis, seperti riyadhah
d) Exhortation (pernyataan benda-benda mempunyai daya sakral)
e) Membaca kitab suci: qiraah dan tilawah
f) Mana (menyentuh benda-benda yang mempunyai daya sakral)
g) Taboo (menghindari diri dari sesuatu untuk menjaga terjadinya suatu kegiatan
yang tidak diinginkan atau peristiwa yang tidak dikehendaki)
h) Mengadakan pesta dengan mengkidangkan makanan-makanan yang sakral
i) Pengorbanan seperti berkurban, persembahan, dan sumbangan dalam bentuk uang
j) Jamaah atau jemaat, seperti rapat, prosesi dan majelis taklim
k) Inspirasi seperti wahyu dan ekstanse mistik (ittihad)
l) Simbolisme, yaitu penggunaaan objek-objek simbolik

8
Faisar, dkk., Metode Studi Islam.., hlm. 252
6
m) Memperluas dan memodifikasi kode hukum agama dalam kaitannya dengan
kategori kelima
n) Penerapan nilai-nilai keagamaan dalam konteks non religious.9

C. Kontruksi Teori Penelitian Agama


Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S Poerwadarminta mengartikan
kontruksi adalah cara membuat(menyusun) bangunan-bangunan (jembatan,dan sebagainya);
dapat pula berarti susunan dan hubungan kata di kalimat atau kelompok kata. Sedangka kata
teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa
(kejadian); dan dapat berarti pula asas-asas dan hukum-hukum umum ynag menjadi dasar
suatu kesenian, atau ilmu pengetahuan. Selain itu teori dapat pula berarti pendapat, cara-cara
dan aturan-aturan untuk melakuka sesuatu10.

Selanjutnya dalam ilmu penelitian teori-teori itu pada hakikatnya merupakan


pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya suatu hubungan positif antara
gejala yang diteliti dari satu atau beberapa faktor tertentu masyarakat.Teori-teori yang
digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Teori perubahan sosial


2. Teori struktural-fungsional
3. Teori antropologi dan sosiologi Agama
4. Teori budaya dan tafsir budaya simbolik
5. Teori pertukaran sosial
6. Teori sikap

Dengan demikian , penelitian di atas meminjam teori-teori yang dibangun dalam


ilmu-ilmu sosial. Ia disebut penelitian keagamaan (religius research) dalam pandangan
Midletton atau penelitian hidup agama dalam pandangan Juhaya S. Praja , karena objeknya
adalah perilaku Tarekat Tijaniah.11

9
Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Ilmu.., hlm 55-57
10
Dr. Faisar, dkk, Metode Studi Islam.., hlm 254
11
Abd, Atang Hakim, dan Jaih Mubarok,METODOLOGI STUDI ISLAM, PT Remaja Rosdakarya
Offset , Bandung, 2010, hlm. 55-58.
7
Dapat kita simpulkan, bahwa yang dimaksud dengan telaah “konstruksi teori”
penelitian agama adalah suatu upaya memeriksa, mempelajari, mengamalkan, dan
memahami secara saksama susunan atau bangunan dasar-dasar aau hukum-hukum dan
ketenuan lainnya yang diperlukan untuk melakukan penelitian terhadap bentuk pelaksanaan
ajaran agama sebagai dasar pertimbangan untuk mengembangkan pemahaman ajaran agama
sesuai tuntutan zaman.

Sederhananya, yang dimaksud dengan penelitian agama adalah pendekatan ilmiah


yang diterapkan untuk menyelidiki masalah-masalah agama. Upaya ini dilakukan untuk
mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai berbagai
masalah agama dari segi bentuk pelaksanaannya.

D. Model-model Penelitian agama


Adapun model penelitian yang ditampilkan di sini disesuaikan dengan perbedaan
antara penelitian agama dan penelitian keagamaan. Akan tetapi, disini dikutip karya Djamari
mengenai metode sosiologi dalam kajian Agama, yang secara tidak langsung
memperlihatkan model-model penelitian Agama melalui pendekatan sosiologis. Djamari,
dosen pascasarjana IKIP Bandung, menjelaskan bahwa kajian sosiologi agama
menggunakan metode ilmiah sebagai berikut:

a. Analisis Sejarah
Dalam hal ini, sejarah hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa
sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya
suatu lembaga. Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter Agama
dengan meneliti sumber klasik sebelum dicampuri yang lain.
b. Analisis Lintas Budaya
Dengan membandingkan pola-pola sosial keagamaan di beberapa daerah
kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran tentang korelasi unsur budaya
tertentu atau kondisi sosiokultural secara umum.
c. Eksperimen
Penelitian yang menggunakan eksperimen agak sulit dilakukan dalam penelitian
Agama.Namun, dalam beberapa hal, eksperimen dapat dilakukan dalam penelitian
Agama, misalnya untuk mengevaluasi perbedaan hasil belajar dari beberapa model
pendidikan Agama.
d. Observasi Partisipatif

8
Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku
orang-orang dalam konteks religius. Orang yang diobservasi boleh mengetahui
bahwa dirinya sedang diobservasi atau secara diam-diam. Diantara kelebihan
penelitian adalah memungkinkannya pengamatan simbolik antar anggota kelompok
secara mendalam. Adapun salah satu kelemahannya adalah terbatasnya data pada
kemampuan observer.
e. Riset Survey dan Analisis Statistik
Penelitian survey dilakukan dengan penyusunan kuesioner, interview dengan
sampel dari suatu populasi. Sampel dapat berupa organisasi keagamaan atau
penduduk suatu kota atau desa.
f. Analisis Isi
Dengan metode ini, peneliti mencoba mencarai keterangan dari tema-tema
Agama, baik berupa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin maupun deklarasi teks.12

12
Nata, Abuddin, METODOLOGI STUDI ISLAM, Rajawali Pers , Jakarta , 2010, hlm 165-190
9
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Penelitan keagaman merupakan sebuah kegiatan ilmiah terhadap agama yang dapat
menggunakan berbagai pendekatan.
2. Perbedaan antara penelitian agama dan penelitian keagamaan yaitu, Untuk penelitian
agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin, pintu bagi pengembangan
suatu metodologi tersendiri sudah terbuka, bahkan sudah ada yang pernah
merintisnya. Sedangkan Untuk penelitian keagamaan yang sasarannya adalah agama
saebagai gejala sosial, kita tidak perlu membuat metodologi penelitian tersendiri, Ia
cukup meminjam metodologi sosial yang telah ada.
3. konstruksi teori penelitian agama digunakan dalam suatu upaya memeriksa,
mempelajari, mengamalkan, dan memahami secara saksama susunan atau bangunan
dasar-dasar aau hukum-hukum dan ketenuan lainnya yang diperlukan untuk
melakukan penelitian terhadap bentuk pelaksanaan ajaran agama sebagai dasar
pertimbangan untuk mengembangkan pemahaman ajaran agama sesuai tuntutan
zaman.
4. Model-model Penelitian agama terdiri dari Analisis Sejarah, analitis lintas budaya,
eksperimen, observasi partisipatif, Riset Survey dan Analisis Statistik, dan Analisis
Isi

B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca akan lebih memahami materi
Metodologi Studi Islam Khususnya mengenai Penelitian Keagamaan. karena keterbatasan
saran dan prasarana dalam pembuatan makalah ini dimohon pembaca untuk pemberikan
saran dan kritik yang membangun guna sebagai penunjang pada makalah ini dan makalah-
makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat dan menambah wawasan
para pembaca.

10
DAFTAR PUSTAKA
Abd, Atang Hakim, dan Jaih Mubarok. (2010). METODOLOGI STUDI ISLAM. PT Remaja
Rosdakarya Offset:Bandung,

Faisar, dkk. (2015). Metode Studi Islam. Jakarta:PT RAJAGRAFINDO PRSADA.

Mudzar, Atho. (2001). Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktik Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Nasution, Harun, dkk. (1998). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antardisplin Ilmu.
Bandung: Penerbit Nuasa.

Nata, Abuddin. (2001). METODOLOGI STUDI ISLAM, Jakarta:Rajawali Pers.

Praja, Juhaya S. (1997). Pengantar Filsafat Ilmu. Bandung:Program Pasca Sarjana IAIN Sunan
Gunung Jati. 1997

11