Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KEBIDANAN KOMUNITAS

MAKALAH KUNJUNGAN NEONATUS K1-4

OLEH
SYAHRIFA NUR AINI

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG


DIII Kebidanan
2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama
nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah
Asuhan Kebidanan komunitas dengan judul “kunjungan neonatus” Selain untuk menambah
pengetahuan tentngkunjungan neonatus, Makalah ini juga disusun guna memenuhi tugas salah satu
mata kuliah Asuhan Kebidanan komunitas pada program studi DIII Jurusan Kebidanan STIKes
MERCUBAKTIJAYA PADANG.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang kepada Ibu Ety Aprianti SKM,M.KES
selaku dosen pembimbing mata kuliah Asuhan Kebidanan komunitas dan kepada segenap pihak
yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini,
maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah selanjutnya.

padang, 12 november 2018

Penulis

2
3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi usia 0 – 28 hari. Periode neonatal adalah periode
yang sangat penting dalam kehidupan. Dari penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50 %
kematian bayi terjadi pada periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang
baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan
yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup,bahkan kematian .misalnya sebagai akibat
hipotermi pada bayi baru lahir dapat terjadi cold stress yang selanjutnya yang dapat
menyebabkan hipoksemia atau hipoglikemia dan mengakibatkan kerusakan otak, akibat
selanjutnya adalah perdarahan otak, syok, beberapa bagian tubuh mengeras dan keterlambatan
tumbuh kembang.
Dengan kunjungan neonatus masalah kematian pada neonatus dapat dicegah dan dihindari
sebagai berikut kunjungan pertama 6-48 jam kunjungan kedua 3 hari – 7 hari dan kunjungan
ketiga 8-28 hari terutama pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR),pemberian air
susu ibu (ASI),pencegahan terhadap infeksi, dan pemantauan kenaikan berat badan merupakan
tugas pokok bagi pemantau kesehatan bayi dan anak.

1.1 Rumusan masalah


 Menjelaskan tentang Bayi Baru Lahir/ Neonatus
 Menjelaskan tentang Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir
 Menjelaskan mengenai Jenis Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir
 Menjelaskan apa itu kunjungan neonatus dan jadwal kunjungan
1.2 Tujuan
 Untuk mengetahui tentang Bayi Baru Lahir/ Neonatus
 Untuk mengetahui tentang Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir.
 Untuk mengetahui mengenai Jenis Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir
 Untuk mengatahui kunjungan neonatus dan kapan jadwal kunjungan

4
BAB II
TINJAUAN MATERI

II.1 Bayi Baru Lahir dan Neonatus


Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi usia 0 – 28 hari., selama periode ini bayi harus
menyesuaikan diri dengan lingkungan ekstra uteri. Bayi harus berupaya agar fungsi-fungsi
tubuhnya menjadi efektif sebagai individu yang unik. Respirasi, pencernaan dan kebutuhan
untuk regulasi harus bisa dilakukan sendiri (Gorrie et al, 1998). Pada masa ini, organ bayi
mengalami penyesuaian dengan keadaan di luar kandungan, ini diperlukan untuk kehidupan
selanjutnya (Maryunani & Nurhayati, 2008).
Tanda-tanda bayi lahir sehat:
1) Berat badan bayi 2500-4000 gram;
2) Umur kehamilan 37 – 40 mg;
3) Bayi segera menangis ,
4) Bergerak aktif, kulit kemerahan,
5) Mengisap ASI dengan baik,
6) Tidak ada cacat bawaan

II.2 Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir dan Neonatus


Tatalaksana bayi baru lahir meliputi:
1. Asuhan bayi baru lahir pada 0 – 6 jam:
• Asuhan bayi baru lahir normal, dilaksanakan segera setelah lahir, dan diletakkan di dekat
ibunya dalam ruangan yang sama.
• Asuhan bayi baru lahir dengan komplikasi dilaksanakan satu ruangan dengan ibunya atau
di ruangan khusus.
• Pada proses persalinan, ibu dapat didampingi suami.

2. Asuhan bayi baru lahir pada 6 jam sampai 28 hari:


• Pemeriksaan neonatus pada periode ini dapat dilaksanakan di puskesmas/ pustu/
polindes/ poskesdes dan/atau melalui kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan.

5
• Pemeriksaan neonatus dilaksanakan di dekat ibu, bayi didampingi ibu atau keluarga pada
saat diperiksa atau diberikan pelayanan kesehatan

III.3 Jenis Pelayaan Kesehatan Bayi Baru Lahir dan Neonatus


Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman Asuhan Persalinan
Normal, pemberi layanan asuhan bayi baru lahir dapat dilaksanakan oleh dokter, bidan atau
perawat. Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yang sama dengan
ibunya atau rawat gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar,bayi berada dalam
jangkauan ibu selama 24 jam).
IV.4 KUNJUNGAN NEONATUS
1. Pengertian kunjungan neonatal

Kunjungan neonatal adalah kontak neonatal dengan tenaga kesehatan minimal dua kali
untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal, baik didalam maupun
diluar gedung puskesmas, termasuk bidan di desa, polindes dan kunjungan ke rumah. Bentuk
pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi,
pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa
perawatn mata, tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi) pemberian vitamin K dan
penyuluhan neonatal di rumah menggunakan buku KIA.
Kunjungan neonatal (KN) adalah kontak neonatus dengan tenaga kesehatan minimal
dua kali.
a. Kunjungan pertama kali pada hari pertama dengan hari ke tujuh (sejak 6 jam setelah lahir).
b. Kunjungan kedua kali pada hari ke delapan sampai hari kedua puluh delapan.
c. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan bukan merupakan kunjungan neonatus.

2. Tujuan Kunjungan Neonatal(KN)

Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus terhadap pelayanan


kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan pada bayi atau mengalami
masalah. Pelayanan kesehatan neonatal dasar menggunakan pendekatan komprehensif,
Manajemen Terpadu Bayi Muda untuk bidan/perawat, yang meliputi:
1. Pemeriksaan tanda bahaya seperti kemungkinan infeksi bakteri, ikterus, diare, dan berat
badan rendah.

6
2. Perawatan tali pusat.
3. Pemberian vitamin K1 bila belum diberikan pada hari lahir.
4. Imunisasi Hepatitis B 0 bila belum diberikan pada saat lahir.
5. Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan asli eksklusif, pencegahan
hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi baru lahir di rumah dengan menggunakan
buku KIA.
6. Penanganan dan rujukan kasus.
3. Kategori Kunjungan Neonatal (KN)

Kunjungan neonatal terbagi dalam dua kategori antara lain :


a. Kunjungan Neonatal ke satu (KN 1)
Kunjungan neonatal yang ke satu (KN 1) adalah kunjungan neonatal pertama kali yaitu
pada hari pertama sampai hari ketujuh (sejak 6 jam setelah lahir).
b. Kunjungan Neonatal yang kedua (KN 2)
Kunjungan neonatal yang kedua adalah kunjungan neonatal yang kedua kali yaitu pada
hari kedelapan sampai hari kedua puluh delapan.
kunjungan neonatal adalah kontak neonatus (0 – 28 hari) dengan petugas kesehatan
untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan dengan syarat usia 0 – 7 hari minimal 2 kali, usia
8 sampai 28 hari minimal 1 kali (KN2) di dalam/diluar Institusi Kesehatan.
4. Cakupan Kunjungan Neonatal

Cakupan Kunjungan Neonatal adalah cakupan neonatus yang mendapatkan pelayanan


sesuai standar sedikitnya tiga kali yaitu 1 kali pada 6 – 48 jam, 1 kali pada hari ke 3 – hari ke
7 dan 1 kali pada hari ke 8 – hari ke 28 setelah lahir disuatu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. Dengan indikator ini dapat diketahui efektifitas dan kualitas pelayanan kesehatan
neonatal.
Kunjungan Neonatus Asuhan bayi baru lahir pada KN 1:
1) Pencegahan infeksi (PI)
2) Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
3) Pemotongan dan perawatan tali pusat
4) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

7
5) Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K dosis tunggal di paha kiri,
Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan, Pencegahan infeksi
mata melalui pemberian salep mata antibiotika dosis tunggal.
6) Pemeriksaan bayi baru lahir
7) Kunjungan neonatal
8) Pencatatan Dan Pelaporan
1) Pencegahan Infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Saat.melakukan penanganan bayi baru
lahir pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi berikut ini:

• Cuci tangan sebelum memegang bayi dan setelah menggunakan toilet untuk BAK/BAB
• Jaga tali pusat bayi dalam keadaan bersih, selalu dan letakkan popok di bawah tali pusat.
Jika tali pusat kotor cuci dengan air bersih dan sabun. Laporkan segera ke bidan jika
timbul perdarahan, pembengkakan, keluar cairan, tampak merah atau bau busuk.
• Ibu menjaga kebersihan bayi dan dirinya terutama payudara dengan mandi setiap hari
• Muka, pantat, dan tali pusat dibersihkan dengan air bersih , hangat, dan sabun setiap
hari.
• Jaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi dan pastikan setiap orang yang
memegang bayi selalu cuci tangan terlebih dahulu

2) Penilaian awal
Pengkajian pertama pada seorang bayi dilakukan pada saat lahir dengan
menggunakan nilai apgar dan melalui pemeriksaan fisik singkat. Pengkajian nilai apgar
didasarkan pada lima aspek yang menunjukkan kondisi fisiologis neonatus yakni, denyut
jantung, dilakukan dengan auskultasi menggunakan stetoskop. Pernafasan, dilakukan
berdasarkan pengamatan gerakan dinding dada. Tonus otot dilakukan berdasarkan derajat
fleksi dan pergerakan ekstremitas. Pergerakan iritabilitas refleks, dilakukan berdasarkan
respon terhadap tepukan halus pada telapak kaki

a. Nilai kondisi bayi :

• APAKAH BAYI MENANGIS KUAT/BERNAFAS TANPA KESULITAN ?


• APAKAH BAYI BERGERAK DG AKTIF/LEMAS?
• APAKAH WARNA KULIT BAYI MERAH MUDA, PUCAT/BIRU

b. Apgar Score

8
• Merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi 5 variabel
(pernafasan, frek. Jantung, warna, tonus otot & iritabilitas reflek)
• Ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950)

SKOR APGAR

TANDA 0 1 2

Appearance Biru,pucat Badan Semuanya merah


pucat,tungkai muda
biru

Pulse Tidak teraba < 100 > 100

Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat

Activity Lemas/lumpuh Gerakan Aktif/fleksi tungkai


sedikit/fleksi baik/reaksi
tungkai melawan

Respiratory Tidak ada Lambat, tidak Baik, menangis kuat


teratur

Penilaian
 Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik
 Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan
resusitasi
 Nilai 0 – 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi
segera sampai ventilasi.

3) Perawatan Tali Pusat


Menurut Penny dkk. (2007) tali pusat bayi umumnya berwarna kebiruan dan
panjangnya 2,5 cm sampai 5 cm sesudah dipotong. Klem tali pusat akan dipasang untuk
menghentikan perdarahan. Klem tali pusat dibuka jika tali pusat sudah kering. Sebelum tali
pusat lepas jangan memandikan bayi dengan merendamnya dan jangan membasuh tali
pusat dengan lap basah. Sebelum melakukan perawatan pada tali pusat harus mencuci
tangan bersih-bersih. Membersihkan sisa tali pusat terutama pangkalnya dilakukan dengan
hati-hati jika tali pusat masih berwarna merah. Tujuan perawatan tali pusat adalah

9
mencegah dan mengidentifikasi perdarahan atau infeksi secara dini. Setiap hari harus
melakukan pemeriksaan untuk menemukan tanda-tanda infeksi (Bobak dkk, 2005).
a. Cara :

1. celupkan tangan yg masih menggunakan sarung tangan ke dlm klorin 0,5% untuk
membersihkan darah & sekresi tubuh lainnya
2. bilas tangan dengan air matang /DTT
3. keringkan tangan (bersarung tangan)
4. letakkan bayi yang terbungkus diatas permukaan yang bersih dan hangat
5. ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dr pusat dengan menggunakan benang DTT.
Lakukan simpul kunci/ jepitkan
6. Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat &
lakukan pengikatan kedua dg simpul kunci dibagian TP pd sisi yg berlawanan
7. Lepaskan klem penjepit & letakkan di dlm larutan klorin 0,5%
8. Selimuti bayi dg kain bersih & kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup
9. Ingat, Jangan mengoleskan salep apapun/ Zat lain ke bagian tali pusat
b. Mempertahankan suhu tubuh, Dengan cara :

1. Keringkan bayi secara seksama


2. Selimuti bayi dg selimut/kain bersih, kering & hangat
3. Tutup bagian kepala bayi
4. Anjurkan ibu untuk memeluk & menyusukan bayinya
5. Lakukan penimbangan stl bayi mengenakan pakaian
6. Tempatkan bayi di lingkungan yg hangat

4) Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)


Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi tengkurap di dada
ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk melaksanakan proses IMD.
Langkah IMD pada persalinan normal (partus spontan):
1. Suami atau keluarga dianjurkan mendampingi ibu di kamar bersalin
2. Bayi lahir segera dikeringkan kecuali tangannya, tanpa menghilangkan vernix,
kemudian tali pusat diikat.

10
3. Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di dada ibu dengan KULIT
bayi MELEKAT pada KULIT ibu dan mata bayi setinggi puting susu ibu. Keduanya
diselimuti dan bayi diberi topi.
4. Ibu dianjurkan merangsang bayi dengan sentuhan, dan biarkan bayi sendiri
mencari puting susu ibu.
5. Ibu didukung dan dibantu tenaga kesehatan mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.
6. Biarkan KULIT bayi bersentuhan dengan KULIT ibu minimal selama SATU JAM; bila
menyusu awal terjadi sebelum 1 jam, biarkan bayi tetap di dada ibu sampai 1 jam
7. Jika bayi belum mendapatkan putting susu ibu dalam 1 jam posisikan bayi lebih dekat
dengan puting susu ibu, dan biarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu selama 30
MENIT atau 1 JAM berikutnya.
8. Ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam.
9. Berikan hanya ASI saja tanpa minuman atau makanan lain kecuali atas indikasi medis.
Tidak diberi dot atau kempeng.

5) Pelaksanaan Penimbangan, Penyuntikan Vitamin K1, Salep Mata dan Imunisasi Hepatitis
B (HB 0)
Bayi dan anak akan diberi vaksinasi pada saat pemeriksaan dengan kondisi bayi
dan anak sehat, untuk melindunginya dari penyakit-penyakit dapatan yang mungkin serius.
Kemampuan vaksinasi untuk untuk memvaksinasi bayi terhadap penyakit-penyakit seperti
polio dan batuk rejan bahkan cacar. Beberapa orang tua dalam upaya melindungi dari efek
samping resiko vaksinasi memutuskan untuk tidak mengimunisasi anaknya. Mereka lebih
suka mengambil resiko yaitu anak mereka terkena penyakit dari pada melihat anaknya
mengalami efek samping dari vaksinasi. Sebaiknya orang tua mengumpulkan informasi
dari masing-masing vaksin saat membuat pilihan tentang imunisasi (Ladewigs, et al 2006).
Pemberian layanan kesehatan tersebut dilaksanakan pada periode setelah IMD
sampai 2-3 jam setelah lahir, dan dilaksanakan di kamar bersalin oleh dokter,bidan atau
perawat.
• Semua BBL harus diberi penyuntikan vitamin K1 (Phytomenadione) 1 mg intramuskuler
di paha kiri, untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K yang dapat
dialami oleh sebagian BBL.
• Salep atau tetes mata diberikan untuk pencegahan infeksi mata (Oxytetrasiklin1%).

11
• Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan setelah penyuntikan Vitamin K1
yang bertujuan untuk mencegah penularan Hepatitis B melalui jalur ibu ke bayi yang
dapat menimbulkan kerusakan hati.

6) Pemeriksaan Bayi Baru Lahir


Langkah langkah pemeriksaan:
• Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak menangis).
• Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai pernapasan dan tarikan dinding
dada bawah, denyut jantung serta perut.
• Selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah
memegang bayi.

Pemeriksaan fisis yang dilakukan Keadaan normal


Lihat postur, tonus dan aktivitas • Posisi tungkai dan lengan fleksi.
• Bayi sehat akan bergerak aktif.
Lihat kulit Wajah, bibir dan selaput lendir,
dada harus berwarna merah
muda, tanpa adanya
kemerahan atau bisul
Hitung pernapasan dan lihat • Frekuensi napas normal 40-60 kali per menit.
tarikan dinding dada bawah • Tidak ada tarikan dinding dada bawah yang
ketika bayi sedang tidak dalam
menangis.
Hitung denyut jantung dengan Frekwensi denyut jantung
meletakkan stetoskop di dada kiri normal 120-160 kali per menit
setinggi apeks kordis.
Lakukan pengukuran suhu ketiak Suhu normal adalah 36,5 -
dengan termometer 37,5º C
Lihat dan raba bagian kepala • Bentuk kepala terkadang asimetris karena
penyesuaian pada saat proses persalinan,
umumnya hilang dalam 48 jam.
• Ubun-ubun besar rata atau tidak membonjol,
dapat sedikit membonjol saat bayi menangis.
Lihat mata • Tidak ada kotoran/sekret
Lihat bagian dalam mulut: • Bibir, gusi, langit-langit utuh dan tidak ada
bagian yang terbelah.
Masukkan satu jari yang menggunakan Nilai kekuatan isap bayi. Bayi akan mengisap kuat
sarung tangan ke dalam mulut, raba langit- jari pemeriksa.
langit.

12
Lihat dan raba perut. • Perut bayi datar, teraba lemas
Lihat tali pusat • Tidak ada perdarahan, pembengkakan, nanah, bau
yang tidak enak pada tali pusat.atau kemerahan
sekitar tali pusat
Lihat punggung dan raba tulang Kulit terlihat utuh, tidak terdapat lubang dan
belakang benjolan pada tulang belakang

Pemeriksaan ekstremitas atas Tidak terdapat sindaktili, polidaktili, siemenline,
dan bawah dan kelainan kaki (pes equino varus dan vagus).

Lihat lubang anus

• Hindari memasukkan alat atau jari dalam


memeriksa anus
• Terlihat lubang anus dan periksa apakah
mekonium sudah keluar.
• Tanyakan pada ibu apakah bayi sudah
buang air besar
• Biasanya mekonium keluar dalam 24 jam
setelah lahir.

Lihat dan raba alat kelamin luar • Bayi perempuan kadang terlihat cairan vagina
berwarna putih atau kemerahan.
• Tanyakan pada ibu apakah • Bayi laki-laki terdapat lubang uretra pada ujung
bayi sudah buang air kecil penis.
• Teraba testis di skrotum.
• Pastikan bayi sudah buang air kecil dalam 24
jam setelah lahir.
• Yakinkan tidak ada kelainan alat kelamin,
misalnya hipospadia, rudimenter, kelamin
ganda.
Timbang bayi • Berat lahir 2,5-4 kg.
• Timbang bayi dengan • Dalam minggu pertama, berat bayi mungkin
menggunakan selimut, hasil turun dahulu (tidak melebihi 10% dalam waktu
penimbangan dikurangi berat 3-7 hari) baru kemudian naik kembali.
selimut

Mengukur panjang dan lingkar • Panjang lahir normal 48-52 cm.


kepala bayi • Lingkar kepala normal 33-37cm.

2. Kunjungan neonatal II (KN2) pada hari ke s/d 7 hari


Pelayanan kesehatan diberikan oleh dokter, bidan/perawat, dapat dilaksanakan di
puskesmas atau melalui kunjungan rumah. Pelayanan yang diberikan mengacu pada pedoman
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada algoritma bayi muda (Manajemen Terpadu Bayi
13
Muda/MTBM) termasuk ASI ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, perawatan tali
pusat, penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi HB-0 diberikan pada saat kunjungan rumah sampai
bayi berumur 7 hari (bila tidak diberikan pada saat lahir).

3.Kunjungan neonatal III (KN3) pada hari ke 8 – 28 hari


Pada KN selanjutnya dapat dipantau melalui Hasil pemeriksaan dan tindakan tenaga
kesehatan yang dicatat pada:
1. Buku KIA (buku kesehatan ibu dan anak)
1) Pencatatan pada ibu meliputi keadaan saat hamil, bersalin dan nifas.
2) Pencatatan pada bayi meliputi identitas bayi, keterangan lahir, imunisasi, pemeriksaan
neonatus, catatan penyakit, dan masalah perkembangan serta KMS
2. Formulir Bayi Baru Lahir
1) Pencatatan per individu bayi baru lahir, selain partograph
2) Catatan ini merupakan dokumen tenaga kesehatan
3. Formulir pencatatan bayi muda (MTBM)
1) Pencatatan per individu bayi
2) Dipergunakan untuk mencatat hasil kunjungan neonatal yang merupakan dokumen tenaga
kesehatan
4. Register kohort bayi
1) Pencatatan sekelompok bayi di suatu wilayah kerja puskesmas
2) Catatan ini merupakan dokumen tenaga kesehatan puskesmas
Dan tetap memberitahu ibu atau keluarga bayi tentang kunjungan selanjutnya harus kepada
Pelayanan kesehatan diberikan oleh dokter, bidan/perawat, dapat dilaksanakan di puskesmas atau
melalui kunjungan rumah. Pelayanan yang diberikan mengacu pada pedoman Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada algoritma bayi muda (Manajemen Terpadu Bayi
Muda/MTBM) termasuk ASI ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, perawatan tali
pusat, penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi HB-0 diberikan pada saat kunjungan rumah sampai
bayi berumur 7 hari (bila tidak diberikan pada saat lahir).
BAB III
PENUTUP

14
III.1 Kesimpulan
Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi usia 0 – 28 hari., selama periode ini bayi
harus menyesuaikan diri dengan lingkungan ekstra uteri. Pada masa ini, organ bayi
mengalami penyesuaian dengan keadaan di luar kandungan, ini diperlukan untuk
kehidupan selanjutnya. Penatalaksanaan bayi baru lahir meliputi :Asuhan bayi baru lahir
pada 0 – 6 jam, Asuhan bayi baru lahir pada 6 jam sampai 28 hari. Jenis Asuhan bayi baru
lahir meliputi: Pencegahan infeksi (PI), Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada
bayi, Pemotongan dan perawatan tali pusat, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Pencegahan
perdarahan melalui penyuntikan vitamin K dosis tunggal di paha kiri, Pemberian
imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan, Pencegahan infeksi mata melalui
pemberian salep mata antibiotika dosis tunggal, Pemeriksaan bayi baru lahir, Kunjungan
neonatal, Pencatatan Dan Pelaporan.
III.2 Saran
1) Diharapkan kepada masyarakat agar lebih memperhatikan kesehatan baik kesehatan
lingkungan, pola makan dan pola hidup sehari- hari.
2) Diharapkan kepada pemerintah setempat agar lebih peduli terhadap kesehatan
masyarakat yang kurang mampu untuk memberikan fasilitas kesehatan yang memadai.
3) Diharapkan kepada tenaga kesehatan baik dokter maupun bidan dan tenaga kesehatan
lainnya sehingga mampu memberikan pertolongan yang sesuai dengan standarisasi
untuk mengurangi angka kematian terutama ibu dan anak.

15
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

MNH, JNPK-KR dan DepKes. 2002. Buku Acuan Persalinan Normal. Jakarta : DepKes.RI

DepKes. 2005. Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Jakarta : DepKes.RI

Saifuddin, abdul Bari. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal .
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Jumiarni, dkk 1995. Asuhan Perawatan Perinatal. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC) ( Ibrahim,
Kristiana. 1984. Perawatan Kebidanan jilid II. Bandung : Bhratara )

(Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak III oleh Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Unifersitas Indonesia tahun 1985)

Mirriamstoppard, complete baby and child care, 1995

Varney, H. 1997. Varney’s Midwifery 3th edition. Jones and Bartlett. New York. Hal. 623-625

Linda V. Walsh. 2003. Midwifery Chapter 23. W. B. Saunders. San Fransisco California. Hal. 330-335

Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. 2003. Buku IV Asuhan Kebidanan pada Ibu Post Partum. Hal. 30-37

Hidayat, Azis Alimul. 2009. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.

Jakarta : Salemba MedikaHasni. (2012). asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita “imunisasi”
.<http://www. asuhan-kebidanan-neonatus-bayi-dan.html> [ 24 Septembar 2013]

Prawirohardjo, Sarwono, 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Purnamasari, Dewi, 2011. Panduan Pijat Praktis Balita Anda agar Cerdas dan Sehat. Yogyakarta: Pustaka
Salomon

Putri, Alissa, 2009. Pijat dan Senam Untuk Bayi dan Balita Panduan Praktis Memijat Bayi dan Balita.

Yogyakarta: Brilliant Offset

Muaris.H. (2006). Sarapan Sehat Untuk Anak Balita. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Anggraini dan Sutomo. 2010. Menu Sehat Alami untuk Batita dan Balita. Jakarta: Demedia

16
CONTOH SOAL DAN JAWABAN
1. Seorang bayi lahir normal di BPM, lahir langsung menangis, BBL = 3000 gram, PBL=49 cm.
Selanjutnya bayi dirawat bersama dengan ibunya (Rawat gabung)
Berdasarkan kasus diatas, tujuannya adalah.... A. Keluarga merasa senang B. Mempermudah
penggunaan ASI C. Memperingan kerja bidan D. Bidan bisa fokus pada pasien lain

17