Anda di halaman 1dari 22

IMPLEMENTASI MANAJEMEN RISIKO PADA

PT BANK CENTRAL ASIA TBK (BCA)


TAHUN 2017

Makalah disusun dalam memenuhi tugas


mata kuliah Manajemen Risiko

Oleh
Bintang Nugraheka
12030117210002

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018

1
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL...................................................................................... 1

DAFTAR ISI .................................................................................................. 2

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 3

1.1. Latar Belakang............................................................................... 3

1.2. Rumusan Masalah ......................................................................... 6

1.3. Tujuan Penulisan ........................................................................... 6

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 7

2.1. Fokus Manajemen Risiko PT Bank Central Asia (BCA) Tbk

pada tahun 2017 ............................................................................. 7

2.2. Manajemen Risiko Terintegrasi dan Pengendalian Internal .......... 12

2.3. Penerapan Manajemen Risiko PT Bank Central Asia Tbk

(BCA) ............................................................................................ 14

BAB III PENUTUP ....................................................................................... 22

3.1 Simpulan .......................................................................................... 22

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di dalam memajukan perekonomian negara, perbankan mempunyai peranan

yang sangat penting. Hal ini karena bank mempunyai fungsi utama untuk

menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada

masyarakat dalam bentuk kredit dan produk-produk lainnya (Suhardjono, 2003).

Dari kredit yang diberikan pada pihak yang membutuhkan (sektor usaha), maka

kegiatan perekonomian akan berjalan dengan sendirinya yang kemudian

berdampak pada multiplier effect positif, pendapatan nasional misalnya (Kasmir,

2003).

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bank yang sehat adalah bank yang

dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, bank yang

sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat,

dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas

pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai

kebijakannya, terutama kebijakan moneter. Krisis keuangan global yang terjadi

beberapa tahun terakhir memberi pelajaran berharga bahwa inovasi dalam produk,

jasa, dan aktivitas perbankan yang tidak diimbangi dengan penerapan manajemen

risiko yang memadai dapat menimbulkan berbagai permasalahan mendasar pada

bank maupun terhadap sistem keuangan secara keseluruhan (Allen dan Bali, 2007).

3
Kesehatan merupakan hal yang paling penting di dalam berbagai bidang

kehidupan, baik bagi manusia maupun perusahaan. Kondisi yang sehat akan

meningkatkan gairah kerja dan kemampuan kerja serta kemampuan lainnya. Sama

seperti halnya manusia yang harus selalu menjaga kesehatannya, perbankan juga

harus selalu dinilai kesehatannya agar tetap prima dalam melayani para nasabahnya.

Bank yang tidak sehat, bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, akan tetapi

pihak lain. Penilaian kesehatan bank amat penting disebabkan karena bank

mengelola dana dari maasyarakat yang dipercayakan kepada bank. Masyarakat

pemilik dana dapat saja menarik dana yang dimilikinya setiap saat dan bank harus

sanggup mengembalikan dana yang dipakainya jika ingin tetap dipercaya oleh

nasabahnya (Kuncoro dan Suhardjono, 2002).

Sebagaimana penjelasan di atas, bank berperan besar dalam roda

perekonomian nasional, khususnya dalam memberikan kredit kepada usaha-usaha

yang ada di Indonesia. Karena usaha-usaha inilah yang menjadi ujung tombak

kesejahteraan Indonesia yang mampu memberikan pendapatan nasional,

menciptakan pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja bagi

masyarakat (Hamid dan Anto, 2000). Untuk itu, agar bank tetap mampu eksis dalam

beroperasi, berperan dalam perekonomian nasional, dan tetap berada pada tingkat

kesehatan yang prima, maka manajemen bank harus mampu memperhatikan aspek-

aspek resiko yang terkait. Dengan kata lain, aspek resiko tersebut tidak dapat

diabaikan.

Dekade ini industri perbankan Indonesia dihadapkan dengan risiko yang

semakin kompleks akibat kegiatan usaha bank yang beragam mengalami

4
perkembangan pesat sehingga mewajibkan bank untuk meningkatkan kebutuhan

akan penerapan manajemen risiko untuk meminimalisasi risiko yang terkait dengan

kegiatan usaha perbankan (Djohanputro, 2004). Pengelolaan profil risiko dalam

proses penerapan manajemen risiko di perbankan Indonesia tentu tidak mudah

untuk dilakukan. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana mengelola

manajemen risiko pada bank agar fungsi intermediari perbankan tetap konsisten dan

terpadu.

Dalam menjalankan usahanya, BCA dihadapkan pada risiko yang melekat

(inheren) di seluruh kegiatan bisnis dan operasional perbankan. Oleh karena itu,

BCA menerapkan suatu Kerangka Manajemen Risiko Terintegrasi (Integrated Risk

Management Framework) yang mencakup strategi, organisasi, kebijakan dan

prosedur, serta infrastruktur manajemen risiko guna memastikan bahwa seluruh

risiko yang dihadapi BCA dapat dikenali, diukur, dipantau, dikendalikan dan

dilaporkan dengan tepat. BCA menerapkan manajemen risiko secara disiplin dan

mengacu pada ketentuan regulator terbaru maupun international best practices.

Secara berkala, BCA melakukan stress testing dengan berbagai skenario serta

mengkaji faktor-faktor dan parameter dalam stress testing. Risk awareness

dilakukan secara berkesinambungan di organisasi BCA, melalui program pelatihan

manajemen risiko dan sertifikasinya serta program on the job training jangka

pendek.

5
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini

adalah sebagai berikut:

1. Risiko apa saja yang dihadapi oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada

tahun 2017?

2. Manajemen risiko apa yang diimplementasikan pada PT Bank Central Asia

Tbk (BCA) pada tahun 2017?

1.3. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penulisan makalah ini

adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui risiko apa yang dihadapi oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA)

pada tahun 2017.

2. Mengetahui manajemen risiko apa yang diimplementasikan pada PT Bank

Central Asia Tbk (BCA) pada tahun 2017.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Fokus Manajemen Risiko PT Bank Central Asia (BCA) Tbk pada tahun

2017

Pada tahun 2017 manajemen risiko BCA diarahkan dalam menjaga kualitas

kredit, posisi likuiditas dan kecukupan permodalan, serta sebagai bank transaksi

tetap memperhatikan pengelolaan risiko operasional.

Kualitas Kredit

Dalam fase proses pemulihan ekonomi Indonesia, omset penjualan

perusahaan-perusahaan maupun konsumsi masyarakat terlihat stagnan. Hal tersebut

mempengaruhi permintaan kredit perbankan dan berpotensi meningkatkan risiko

kredit industri perbankan, namun faktor kualitas kredit tetap perlu mendapat

perhatian, khususnya daya tahan perusahaan terhadap proses pemulihan ekonomi

Indonesia yang lebih lama dari perkiraan semula.

Melalui penerapan manajemen risiko secara hati-hati, BCA berupaya

menjaga kualitas portofolio kredit. BCA secara cermat mewaspadai risiko

penurunan kualitas aset dan menerapkan early warning system untuk memantau

perubahan kemampuan bayar debitur dan mengambil langkah-langkah preventif

dalam mencegah terjadinya kredit bermasalah. Secara periodik BCA memantau

kinerja usaha maupun kinerja keuangan para debitur dan segera mengambil

tindakan yang dipandang perlu apabila debitur mengalami kesulitan usaha maupun

kesulitan keuangan. Salah satu langkah yang diambil adalah melakukan proses

7
restrukturisasi kredit secara prudent bagi para debitur yang memiliki prospek bisnis

positif dalam jangka panjang. Di tahun 2017, aktivitas restrukturisasi kredit mereda

yang tercermin pada pergerakan saldo kredit yang direstrukturisasi.

BCA berupaya menjaga aktivitas pemberian kredit dalam batasan risk

appetite yang dapat ditoleransi, serta dalam koridor permintaan pasar yang riil dan

sehat. BCA mengutamakan penyaluran kredit pada nasabah-nasabah yang memiliki

rekam jejak positif. Penyediaan kredit dilakukan secara terdiversifikasi dan tidak

terkonsentrasi pada sektor, grup dan segmen tertentu. Selanjutnya dalam

meminimalisasi risiko pergerakan nilai tukar, BCA mengelola eksposur valuta asing

dengan membatasi pemberian kredit US Dollar secara keseluruhan dan disiplin

menerapkan kebijakan dalam menyalurkan kredit US Dollar hanya kepada nasabah

bisnis dengan pendapatan utamanya dalam mata uang US Dollar. Secara konsisten,

BCA mengkaji sektor- sektor yang berpotensi menghadapi tekanan sejalan dengan

perubahan lingkungan usaha. Dengan semakin berjalannya proyek infrastruktur, BCA

juga meningkatkan manajemen risiko terkait penyaluran kredit tersebut dan

difokuskan pada proyek-proyek dengan tingkat kelayakan yang baik.

Posisi Likuiditas

Pada tahun 2017 posisi likuiditas industri perbankan Indonesia relatif

memadai diantaranya didukung oleh dana dari program tax amnesty dan rendahnya

penggunaan likuiditas perbankan. Namun demikian, sebagai bagian dari

manajemen risiko likuiditas, BCA tetap memonitor keseimbangan antara kewajiban

jangka pendek yang harus dipenuhi dengan ketersediaan dana jangka pendek yang

dimiliki oleh BCA.

8
BCA memiliki posisi likuiditas yang solid bersumber dari penghimpunan

dana giro dan tabungan (Current Accounts and Savings Accounts - CASA)

berbunga rendah, ditopang oleh keunggulan di bidang perbankan transaksi. Kondisi

likuiditas BCA berada pada tingkat yang solid, guna menjaga posisi dana pihak

ketiga secara keseluruhan, BCA secara proaktif melakukan kajian tingkat suku bunga

dana yang tepat sesuai dengan kondisi likuiditas.

Posisi Permodalan

BCA memiliki tingkat permodalan yang memadai dengan rasio kecukupan

modal (Capital Adequacy Ratio – CAR) sebesar 23,1% dan di atas persyaratan

minimum sesuai profil risiko yang ditetapkan oleh regulator, sehingga sangat

memadai untuk mendukung rencana ekspansi usaha Bank yang diimbangi dengan

kemampuan dalam mengantisipasi risiko yang dihadapi. Sesuai dengan Peraturan

Otoritas Jasa Keuangan No. 26/POJK.03/2015, pada level konglomerasi, BCA dan

entitas anak memiliki modal minimum terintegrasi (rasio Kewajiban Penyediaan

Modal Minimum – KPMM Terintegrasi) yang memadai sebesar 236,7%, diatas

persyaratan minimum yang ditentukan sebesar 100%. BCA memiliki komitmen

dalam mendukung permodalan entitas anak sejalan dengan perkembangan

bisnisnya.

Sesuai dengan ketentuan regulator, BCA dengan seluruh anak usaha secara

terintegrasi telah melakukan stress test untuk melihat dampaknya terhadap posisi

permodalan (risiko kredit dan risiko pasar) serta likuiditas (risiko likuiditas). Secara

umum, hasil stress test tersebut menunjukkan bahwa posisi permodalan BCA dan

anak-anak usahanya cukup memadai dalam mengantisipasi estimasi kerugian dari

9
potensi risiko-risiko yang dihadapi, berdasarkan skenario yang disusun. Pada tahun

2017, seluruh kebutuhan permodalan BCA dapat terpenuhi dari pertumbuhan modal

secara organik dengan didukung oleh profitabilitas Bank yang sehat.

Risiko-risiko lainnya

Risiko Nilai Tukar

Dalam memitigasi risiko nilai tukar, BCA melakukan pemantauan transaksi-

transaksi valuta asing agar sesuai dengan ketentuan dan kebijakan internal Bank

maupun Peraturan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan terutama mengenai

Posisi Devisa Neto (PDN). Pengelolaan transaksi valuta asing dipusatkan pada Divisi

Tresuri dimana transaksi-transaksi yang diproses melalui cabang dipantau, dicatat

dan dilaporkan kepada Divisi Tresuri. Setiap cabang diharuskan untuk menutup risiko

nilai tukar valuta asingnya pada setiap akhir hari kerja, dengan diberikan batas

toleransi PDN pada jaringan cabang.

BCA secara disiplin menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola

eksposur valuta asing dengan menjaga PDN secara konservatif. Per Desember 2017,

PDN BCA tercatat sebesar 0,5%, jauh di bawah batas maksimum sebesar 20% yang

diterapkan oleh regulator, sehingga risiko pasar terkait valuta asing termitigasi

dengan baik.

Risiko Operasional

Manajemen risiko operasional yang andal dan efektif merupakan kunci utama

dalam mempertahankan posisi BCA sebagai bank transaksi terkemuka di Indonesia.

BCA menghadapi risiko operasional yang disebabkan oleh kesalahan manusia,

ketidakcukupan proses internal, kegagalan sistem, dan/atau kejadian eksternal. BCA

10
memiliki Operational Risk Management Information System (ORMIS) yaitu

aplikasi berbasis web yang meliputi Risk Control Self-Assessment, Loss Event

Database, dan Key Risk Indicator yang dirancang untuk meningkatkan risk

awareness dan memberikan informasi berguna untuk meminimalkan dan

memitigasi risiko operasional.

BCA berupaya meningkatkan koordinasi di antara unit kerja terkait dalam

melakukan evaluasi atau kajian terhadap proses, sistem dan prosedur untuk

mengembangkan maupun memperbaiki proses, sehingga dapat meningkatkan kontrol

dan memitigasi risiko operasional sehubungan dengan meningkatnya risiko yang

mungkin timbul dari internal maupun eksternal.

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan internet, BCA juga

mengutamakan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi yang

memperhatikan faktor keandalan, keamanan, ketersediaan dan ketepatan waktu

dalam melayani nasabah. Manajemen risiko secara cermat dapat melindungi BCA

dari cyber-crime, seperti pencurian data nasabah, penggandaan kartu ATM dan

lainnya, yang dapat membahayakan reputasi Bank.

Untuk memastikan BCA dapat melayani transaksi perbankan yang berlangsung

24 jam sehari tanpa gangguan, BCA menjalankan dua data center secara redundansi.

Kedua data center dirancang guna menjaga kelangsungan usaha apabila terjadi

kegagalan sistem pada salah satu diantara dua lokasi data center tersebut. Selain dua

data center yang bekerja secara mirroring, BCA juga mengelola suatu Disaster

Recovery Center (DRC) di Surabaya. DRC Surabaya terus dikembangkan sebagai bagian

dari Business Continuity Management Bank dan dirancang untuk dapat beroperasi

11
sebagai Crisis & Command Center apabila terjadi gangguan atau bencana alam di

wilayah Jakarta sebagai pusat pengendalian operasi.

2.2. Manajemen Risiko Terintegrasi dan Pengendalian Internal

Manajemen Risiko Terintegrasi

Sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait Konglomerasi

Keuangan, BCA telah menerapkan suatu protokol manajemen risiko terintegrasi

yang dirancang untuk memitigasi risiko-risiko yang dihadapi oleh BCA maupun

entitas anaknya. BCA sebagai entitas utama Konglomerasi Keuangan melakukan

pemantauan dan mengelola 10 (sepuluh) jenis risiko yang didefinisikan oleh

Otoritas Jasa Keuangan. Risiko-risiko ini terdiri dari 8 (delapan) risiko yang sudah

dikelola sebelumnya pada penerapan manajemen risiko Bank yaitu risiko kredit,

pasar, likuiditas, operasional, hukum, reputasi, stratejik dan kepatuhan, ditambah

dengan 2 (dua) risiko lain yaitu risiko transaksi intra-grup dan risiko asuransi.

Penerapan manajemen risiko terintegrasi meliputi 4 pilar utama dan secara

ringkas dijabarkan dalam bagan di bawah ini.

12
4 Pilar Manajemen Risiko Terintegrasi
1. Pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris dari • Memastikan penerapan:
Entitas Utama terhadap Konglomerasi Keuangan BCA - Manajemen Risiko Terintegrasi telah sesuai dengan
karakteristik dan kompleksitas usaha Konglomerasi
Keuangan BCA.
- Manajemen Risiko di masing-masing anak-anak usaha.
2. Kecukupan Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit • Menyusun kebijakan dan prosedur, dan penetapan limit
Manajemen Risiko Terintegrasi Manajemen Risiko Terintegrasi dengan memperhatikan
tingkat risiko yang akan diambil (risk appetite) dan
toleransi risiko (risk tolerance).
3. Kecukupan Proses Identifikasi, Pengukuran, • Menerapkan Sistem Informasi Manajemen Risiko
Pemantauan, dan Pengendalian Risiko secara Terintegrasi yang menghasilkan laporan atau informasi
Terintegrasi, serta Sistem Informasi Manajemen Risiko mengenai:
Terintegrasi - Eksposur risiko;
- Kepatuhan pelaksanaan Manajemen Risiko
Terintegrasi terhadap kebijakan dan prosedur yang
disusun;
- Kepatuhan terhadap penetapan limit.
4. Sistem Pengendalian Internal yang Menyeluruh • Sistem Pengendalian Internal disusun untuk memastikan:
terhadap Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi - Kepatuhan kebijakan atau ketentuan internal terhadap
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku;
- Tersedianya informasi keuangan dan manajemen yang
lengkap, akurat, tepat guna, dan tepat waktu;
- Efektivitas budaya risiko (risk culture) pada organisasi
Konglomerasi Keuangan secara menyeluruh

Pengendalian Internal

Penerapan manajemen risiko dan sistem pengendalian internal menjadi

tanggung jawab bersama seluruh manajemen dan karyawan BCA. Kesadaran akan

risiko (risk awareness) terus ditanamkan di setiap jenjang organisasi dan merupakan

bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Bank.

BCA menerapkan konsep three lines of defenses dalam pengelolaan risiko,

dimana pengelolaan risiko dilakukan oleh semua lini organisasi, dan dilakukan

pengawasan (oversight) oleh Dewan Komisaris dan Direksi. Penerapan konsep three

lines of defenses dijabarkan sebagai berikut:

• Sebagai risk owner, seluruh unit bisnis dan unit pendukung berfungsi

sebagai First Line of Defense yang mengelola risiko terkait unit kerjanya.

13
• Satuan Kerja Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Kepatuhan berfungsi

sebagai Second Line of Defense yang memantau penerapan kebijakan dan

panduan manajemen risiko secara korporasi.

• Divisi Audit Internal berfungsi sebagai Third Line of Defense bertugas

memberikan independent assurance terhadap penerapan manajemen risiko

di BCA.

2.3. Penerapan Manajemen Risiko PT Bank Central Asia Tbk (BCA)

Pedoman penerapan manajemen risiko BCA mengacu pada Peraturan OJK No.

18/POJK.03/2016 tanggal 16 Maret 2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi

Bank Umum, yaitu sebagai berikut:

Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi

1. Dalam melaksanakan fungsi manajemen risiko, Dewan Komisaris telah memiliki

tugas dan tanggung jawab yang jelas, diantaranya:

• Menyetujui kebijakan manajemen risiko termasuk strategi dan kerangka

manajemen risiko yang ditetapkan sesuai dengan risk appetite dan risk

tolerance BCA.

• Memastikan kebijakan dan proses manajemen risiko dilaksanakan secara

efektif dan terintegrasi dalam proses manajemen risiko secara keseluruhan.

• Mengevaluasi:

- Kebijakan dan strategi manajemen risiko paling sedikit 1 kali dalam 1

tahun atau dengan frekuensi yang lebih sering apabila terdapat perubahan

faktor yang mempengaruhi kegiatan usaha BCA secara signifikan.

14
- Pertanggungjawaban Direksi untuk memastikan bahwa Direksi mengelola

aktivitas dan risiko BCA secara efektif dan memberikan arahan perbaikan

atas pelaksanaan kebijakan manajemen risiko secara berkala.

- Permohonan Direksi yang berkaitan dengan transaksi yang memerlukan

persetujuan Dewan Komisaris dan memberikan keputusan atas

permohonan Direksi tersebut.

2. Dalam melaksanakan fungsi manajemen risiko, Direksi telah memiliki

tugas dan tanggung jawab yang jelas, diantaranya:

• Menyusun kebijakan, strategi, dan kerangka manajemen risiko secara tertulis

dan komprehensif termasuk limit risiko secara keseluruhan dan per jenis

risiko, dengan memperhatikan risk appetite dan risk tolerance sesuai kondisi

BCA serta memperhitungkan dampak risiko terhadap kecukupan permodalan.

Setelah mendapat persetujuan dari Dewan Komisaris, Direksi menetapkan

kebijakan, strategi, dan kerangka manajemen risiko.

• Menyusun, menetapkan, dan mengkinikan:

- Prosedur dan alat untuk mengidentifikasi, mengukur, memonitor, dan

mengendalikan risiko.

- Mekanisme persetujuan transaksi, termasuk yang melampaui limit dan

kewenangan untuk setiap jenjang jabatan.

• Mengevaluasi dan/atau mengkinikan kebijakan, strategi, dan kerangka

manajemen risiko paling sedikit 1 kali dalam 1 tahun atau dengan frekuensi

yang lebih sering apabila terdapat perubahan faktor yang mempengaruhi

kegiatan usaha BCA, eksposur risiko, dan/atau profil risiko secara signifikan.

15
• Menetapkan struktur organisasi, termasuk wewenang dan tanggung jawab

yang jelas pada setiap jenjang jabatan yang terkait dengan penerapan

manajemen risiko.

• Bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan, strategi, dan kerangka

manajemen risiko yang telah disetujui oleh Dewan Komisaris serta

mengevaluasi dan memberikan arahan berdasarkan laporan yang disampaikan

oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko termasuk laporan profil risiko.

• Memastikan:

- Seluruh risiko yang material dan dampak yang ditimbulkan oleh risiko

dimaksud telah ditindaklanjuti dan menyampaikan laporan

pertanggungjawaban kepada Dewan Komisaris secara berkala, antara lain

memuat laporan perkembangan dan permasalahan terkait risiko yang

material disertai langkah-langkah perbaikan yang telah, sedang, dan akan

dilakukan.

- Pelaksanaan langkah-langkah perbaikan atas permasalahan atau

penyimpangan dalam kegiatan usaha BCA yang ditemukan oleh Divisi

Audit Internal.

- Kecukupan dukungan sumber daya untuk mengelola dan mengendalikan

risiko.

- Fungsi manajemen risiko telah diterapkan secara independen yang

dicerminkan antara lain adanya pemisahan fungsi antara Satuan Kerja

Manajemen Risiko (SKMR) yang melakukan identifikasi, pengukuran,

pemantauan, dan pengendalian risiko dengan satuan kerja yang melakukan

16
dan menyelesaikan transaksi.

• Mengembangkan budaya manajemen risiko termasuk risk awareness pada

seluruh jenjang organisasi, antara lain meliputi komunikasi yang memadai

kepada seluruh jenjang organisasi tentang pentingnya pengendalian internal

yang efektif.

• Mengevaluasi dan memutuskan transaksi yang memerlukan persetujuan

Direksi.

• Melaksanakan kaji ulang secara berkala untuk memastikan:

- Keakuratan metodologi penilaian risiko.

- Kecukupan implementasi sistem informasi manajemen risiko.

- Ketepatan kebijakan dan prosedur manajemen risiko serta penetapan limit

risiko.

• Menyatakan bahwa BCA berada pada suatu kondisi darurat dan apabila

diperlukan Direksi dapat meminta pendapat dari Komite Manajemen Risiko

(KMR) atau Asset and Liability Committee (ALCO) atau Komite lain yang

terkait. Dalam kondisi darurat, kendali wewenang berada di bawah koordinasi

Direksi secara langsung.

3. Pelaksanaan pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi (Manajemen)

dilakukan diantaranya:

• Pengawasan Dewan Komisaris dilaksanakan sesuai tugas dan tanggung

jawab sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan peraturan perundang-

undangan yang berlaku.

• Tugas pengawasan Dewan Komisaris dibantu oleh Komite Audit, Komite

17
Pemantau Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi, serta Komite Tata Kelola

Terintegrasi.

a. Komite Audit, dibentuk untuk membantu Dewan Komisaris dalam rangka

mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi

oversight/pengawasan atas hal- hal yang terkait dengan laporan keuangan,

sistem pengendalian internal, pelaksanaan fungsi audit internal dan

eksternal, implementasi Tata Kelola Perusahaan serta kepatuhan terhadap

peraturan perundang- undangan yang berlaku.

b. Komite Pemantau Risiko, dibentuk untuk memastikan bahwa kerangka kerja

manajemen risiko telah memberikan perlindungan yang memadai terhadap

risiko-risiko yang dihadapi oleh Bank.

c. Komite Remunerasi dan Nominasi, dibentuk untuk mengembangkan

kualitas top management melalui kebijakan remunerasi dan nominasi

dengan tetap memperhatikan ketahanan dan kelangsungan usaha Bank.

d. Komite Tata Kelola Terintegrasi dibentuk untuk mengevaluasi penerapan

Tata Kelola Perusahaan Terintegrasi antara lain melalui penilaian kecukupan

pengendalian internal dan pelaksanaan fungsi kepatuhan di BCA maupun

anak- anak usaha.

• Dewan Komisaris menjaga komunikasi yang konstruktif dengan Direksi.

• Dewan Komisaris secara aktif memberikan saran kepada Direksi dalam

menentukan langkah-langkah strategis yang perlu dijalankan.

• Tugas pengawasan Direksi dibantu oleh Asset Liability Committee (ALCO),

Komite Kebijakan Perkreditan, Komite Kredit, Komite Manajemen Risiko,

18
Komite Pengarah Teknologi Informasi, dan Komite Manajemen Risiko

Terintegrasi.

• Direksi secara aktif melakukan diskusi, memberikan masukan serta memantau

kondisi internal dan perkembangan faktor eksternal yang secara langsung

maupun tidak langsung mempengaruhi strategi bisnis BCA.

Kecukupan Kebijakan dan Prosedur Manajemen Risiko serta Penetapan Limit

Risiko

1. BCA telah memiliki struktur organisasi yang memadai untuk mendukung

penerapan manajemen risiko dan pengendalian internal yang baik antara lain

Divisi Audit Internal, Satuan Kerja Manajemen Risiko, Satuan Kerja Kepatuhan,

Komite Manajemen Risiko dan Komite Manajemen Risiko Terintegrasi.

2. BCA telah memiliki kebijakan pengelolaan risiko yang tertuang dalam Rencana

Bisnis Bank dan telah disusun sesuai dengan visi, misi, strategi bisnis, kecukupan

permodalan, kemampuan sumber daya manusia dan risk appetite. Kebijakan

tersebut dikaji ulang secara berkala dan disesuaikan dengan

perkembangan/perubahan yang terjadi, baik internal maupun eksternal.

3. Kebijakan, prosedur dan penetapan limit risiko telah didokumentasikan secara

tertulis dan lengkap serta di-review secara berkala.

4. Dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, BCA telah menyusun Rencana Bisnis

Bank dan Rencana Kerja Anggaran Tahunan yang membahas strategi BCA

secara keseluruhan termasuk arah pengembangan bisnis. Penetapan strategi BCA

telah memperhitungkan dampaknya terhadap permodalan Bank, proyeksi

permodalan dan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM).

19
Kecukupan Proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan dan Pengendalian

Risiko serta Sistem Informasi Manajemen Risiko

1. BCA telah memiliki prosedur pemberian kredit dan prosedur kegiatan

operasional yang diatur secara jelas dalam manual ketentuan, panduan

kerja, surat keputusan dan surat edaran.

2. Pemantauan eksposur risiko dilakukan secara berkala dan

berkesinambungan oleh SKMR dengan membandingkan risiko aktual

dengan limit risiko yang telah ditetapkan.

3. Laporan mengenai perkembangan risiko, yang meliputi antara lain:

Laporan Profil Risiko, Laporan Portofolio Kredit dan Laporan Pencapaian

Rencana Kerja Perusahaan disampaikan kepada Direksi secara rutin,

akurat dan tepat waktu.

Sistem Pengendalian Internal yang Menyeluruh

1. BCA telah memiliki pedoman sistem pengendalian internal yang mencakup lima

komponen:

• Pengawasan oleh manajemen dan budaya pengendalian.

• Identifikasi dan penilaian risiko.

• Kegiatan pengendalian dan pemisahan fungsi.

• Sistem akuntansi, informasi, dan komunikasi.

• Kegiatan pemantauan dan tindakan koreksi penyimpangan.

2. Sistem pengendalian internal dibangun melekat pada masing-masing unit bisnis

maupun unit operasional yang merupakan first line of defense. Beberapa unit

tersebut telah dilengkapi dengan fungsi pengawasan, yang dilakukan oleh

20
Pengawasan Internal baik di kantor cabang, kantor wilayah, dan kantor pusat.

Untuk mendukung penerapan manajemen risiko, BCA telah memiliki kebijakan

manajemen risiko, prosedur dan penetapan limit secara tertulis. BCA mendorong

terciptanya budaya kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Pengendalian

internal ini dilakukan oleh SKMR dan Satuan Kerja Kepatuhan yang merupakan

second line of defense.

Penilaian dan evaluasi atas kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian

internal dikaji ulang secara berkala oleh Divisi Audit Internal yang merupakan

third line of defense, untuk memastikan pengendalian internal telah dijalankan

secara memadai.

3. Seluruh manajemen dan karyawan BCA memiliki peran dan tanggung jawab

untuk menerapkan dan mematuhi serta meningkatkan sistem pengendalian

internal BCA.

21
BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan

Penerapan manajemen risiko pada PT Bank Central Asia Tbk (BCA)

dilaksanakan dengan baik, karena BCA sebagai entitas utama Konglomerasi

Keuangan sudah melakukan pemantauan dan mengelola semua daro 10 (sepuluh)

jenis risiko yang didefinisikan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Risiko-risiko ini terdiri

dari 8 (delapan) risiko yang sudah dikelola sebelumnya pada penerapan manajemen

risiko Bank yaitu risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum, reputasi,

stratejik dan kepatuhan, ditambah dengan 2 (dua) risiko lain yaitu risiko transaksi

intra-grup dan risiko asuransi.

22