Anda di halaman 1dari 95

Abdul Karim (Sang

Munsyi)

Hafiz Mohammed Abdul Karim CIE, CVO


(1863 – April 1909) (bahasa Hindi: हा फ़ज़
मुह मद अ ल करीम, bahasa Urdu: ‫ﺣﺎﻓﻆ‬

‫)ﻣﺤﻤﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻜﺮﻳﻢ‬, dikenal sebagai "Sang


Munsyi", adalah seorang Muslim India
pengiring Ratu Victoria. Ia bekerja
melayani Ratu Victoria selama 15 tahun
terakhir masa pemerintahannya, dan
selama itu pula beroleh kasih sayang
keibuan darinya.[1]
Munsyi Hafiz
Mohammed Abdul Karim
CIE CVO

Potret Abdul Karim, lukisan karya Rudolf


Swoboda, 1888

Sekretaris Pribadi Ratu Victoria berkebangsaan


India

Masa jabatan
1892–1901

Informasi pribadi

Lahir 1863
Lalatpur dekat Jhansi,
India Britania
Meninggal April 1909 (usia 46)
Agra, India Britania

Kebangsaan India (rakyat jajahan


Britania)

Suami/istri Rashidan Karim

Agama Islam

Karim lahir di Lalatpur, dekat kota Jhansi,


India Britania, sebagai putra seorang
asisten rumah sakit. Pada 1887, tahun
Yubileum Emas Ratu Victoria, Karim
menjadi salah satu dari dua orang India
yang terpilih menjadi pelayan Sri Ratu.
Ratu Victoria sangat berkenan dengan
pelayanannya dan menganugerahinya
gelar "Munsyi", sebuah kata dari bahasa
Urdu yang kerap diterjemahkan menjadi
"juru tulis" atau "guru". Ratu Victoria
mengangkat Karim menjadi sekretaris
pribadi, melimpahinya dengan
kehormatan, dan mengaruniakan
sebidang tanah di India kepadanya.[2]

Hubungan platonis yang akrab antara


Karim dan Ratu Victoria menimbulkan
keretakan dalam Rumah Tangga Istana,
karena sebagian warga Rumah Tangga
Istana menganggap derajat mereka lebih
mulia daripada Karim. Ratu Victoria
bersikeras mengikutsertakan Karim
dalam perjalanan-perjalanannya,
sehingga menimbulkan perdebatan
antara Sri Ratu dan para pengiringnya
yang lain. Setelah Ratu Victoria mangkat
pada 1901, penggantinya, Raja Edward
VII, memulangkan Karim ke India dan
menitahkan agar surat-menyurat antara
Karim dan Ratu Victoria disita dan
dimusnahkan. Karim kemudian hidup
tenang di dekat kota Agra, di lahan
pribadi karunia Ratu Victoria, sampai
akhir hayatnya pada usia 46 tahun.[3]

Masa muda
Karim terlahir dalam sebuah keluarga
Muslim di Lalatpur, dekat kota Jhansi,
pada 1863.[4] Ayahnya, Haji Mohammed
Waziruddin, adalah seorang asisten
rumah sakit yang ditempatkan di Central
India Horse, salah satu resimen kavaleri
Inggris.[5] Karim memiliki seorang abang,
Abdul Aziz, dan empat orang adik
perempuan. Ia diajari bahasa Persia dan
bahasa Urdu secara privat,[6] dan di masa
remajanya pernah melakukan perjalanan
menjelajahi India Utara sampai ke
Afganistan.[7]

Ayah Karim ikut serta dalam perbarisan


ke Kandahar, yang mengakhiri Perang
Inggris-Afgan II, pada Agustus 1880.
Seusai perang, ayah Karim dipindah
tugaskan dari Central India Horse untuk
menduduki sebuah jabatan sipil di Pusat
Tahanan Agra, sementara Karim bekerja
sebagai vakil ("agen" atau "wakil") dari
Nawab Jawara di kantor perwakilan
Agar. Karim mengundurkan diri sesudah
tiga tahun bekerja di Agar, pindah ke
Agra, dan bekerja sebagai juru tulis
bahasa pribumi di Pusat Tahanan.
Ayahnya menjodohkan Karim dengan
saudari rekan sejawatnya.[8]

Para penghuni Pusat Tahanan Agra


dilatih dan dikaryakan menjadi penenun
permadani sebagai bagian dari upaya
pemasyarakatan mereka. Pada 1886, 34
orang terpidana diberangkatkan ke
London untuk memperlihatkan cara
menenun permadani dalam Colonial and
Indian Exhibition (Pameran Wilayah
Jajahan dan India) di South Kensington.
Karim tidak menyertai para tahanan,
tetapi membantu Kepala Pusat Tahanan,
Sir John Tyler, untuk mengatur
pemberangkatan mereka, serta
membantu memilih permadani-
permadani dan para penenun yang layak
diberangkatkan. Ketika mengunjungi
pameran, Ratu Victoria menerima
persembahan dari Tyler berupa sepasang
gelang tangan emas yang juga
merupakan hasil pilihan Karim.[9] Sri
Ratu, yang sudah lama memendam
ketertarikan pada wilayah jajahan Inggris
di India dan hendak mempekerjakan
beberapa orang India sebagai pelayan
dalam perhelatan Yubileum Emas,
meminta Tyler memilih dua orang
pengiring yang dapat dipekerjakan
selama setahun.[10] Karim pun lekas-
lekas dilatih menguasai tata-krama dan
bahasa Inggris, kemudian
diberangkatkan ke Inggris bersama-sama
dengan Mohammed Buksh. Mayor-
Jenderal Thomas Dennehy, yang tak
kemudian ditunjuk untuk bertugas dalam
Rumah Tangga Istana, pernah
mempekerjakan Mohammed Buksh
sebagai pelayan.[11] Menurut rencana,
kedua pria India ini akan bekerja sebagai
pelayan meja makan, dan akan
mempelajari tugas-tugas lain.[12]

Pelayan istana
Sang Munsyi dalam lukisan karya Laurits Tuxen, atas
pesanan Ratu Victoria, 1887

Setelah melakukan perjalanan dengan


kereta api dari Agra ke Bombay,
disambung berlayar dengan menumpang
kapal api pos menuju Inggris, Karim dan
Buksh akhirnya tiba di Puri Windsor pada
Juni 1887.[13] Mereka ditempatkan di
bawah pengawasan Mayor-Jenderal
Dennehy dan pertama kali
berkesempatan melayani Ratu Victoria
sewaktu sarapan di Frogmore House,
Windsor, pada 23 Juni 1887. Sri Ratu
menggambarkan perawakan Karim
dalam buku hariannya pada hari itu
sebagai berikut: "Seorang lagi, yang jauh
lebih muda, lebih cerah warna kulitnya
(dibandingkan dengan Buksh), tinggi, dan
beraut wajah serius yang halus. Ayahnya
adalah seorang dokter pribumi di Agra.
Keduanya mencium kakiku."[14]

Lima hari kemudian, Sri Ratu mencatat


bahwa "Orang-orang India itu sekarang
selalu bertugas melayani meja makan
dan menjalankan tugasnya dengan
begitu baik dan tenang."[15] Pada 3
Agustus, Sri Ratu mencatat: "Aku sedang
belajar sepatah dua kata dalam bahasa
Hindustan untuk berbicara dengan
pelayan-pelayanku. Aku sungguh-
sungguh tertarik baik pada bahasanya
maupun pada orang-orangnya, yang
sudah sewajarnya belum pernah aku
jumpai sebelum ini."[16] Pada 20 Agustus
Sri Ratu menikmati "kari lezat" yang
dimasak oleh salah seorang
pelayannya.[17] Pada 30 Agustus, Karim
mengajari Sri Ratu berbahasa Urdu,[18]
yang beliau gunakan dalam sebuah
audiensi pada bulan Desember untuk
menyapa Maharani Chimnabai dari
Vadodara.[19]
Ratu Victoria sangat menyukai Karim dan
menitahkan agar ia diberi bimbingan
belajar bahasa Inggris.[20] Pada Februari
1888, Karim telah berhasil "menguasai
bahasa Inggris dengan sangat baik"
menurut Ratu Victoria.[21] Setelah Karim
menyampaikan keluhan kepada Sri Ratu,
bahwa ia pernah bekerja sebagai juru
tulis di India sehingga pekerjaan kasar
semacam melayani meja makan
bukanlah pekerjaan yang pantas
baginya,[22][23] jabatannya pun dinaikkan
menjadi "Munsyi" pada Agustus 1888.[24]
Dalam buku hariannya, Sri Ratu mencatat
bahwa perubahan ini ia lakukan agar
Karim merasa betah: "Aku secara khusus
ingin untuk tetap memanfaatkan jasa-
jasanya karena ia membantuku
mempelajari bahasa Hindustan, yang
sangat menarik bagiku, ia pun sangat
cerdas dan berguna."[25] Foto-foto Karim
semasa bekerja sebagai pelayan meja
makan dimusnahkan dan ia pun resmi
menjabat sebagai sekretaris pribadi
pertama yang berkebangsaan India bagi
Ratu Victoria.[26] Buksh tetap bekerja
melayani Sri Ratu, tetapi hanya sebagai
seorang khidmatgar atau pelayan meja
makan,[27] sampai akhir hayatnya di
Windsor pada 1899.[28]

Menurut penulis biografi Karim, Sushila


Anand, surat-surat Ratu Victoria sendiri
membuktikan bahwa "diskusi-diskusinya
dengan Sang Munsyi berkisar seputar
perkara-perkara filsafat, politis dan
praktis. Baik pikiran maupun hati
dilibatkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa
bagi Sri Ratu, Abdul Karim merupakan
jembatan menuju suatu dunia asing yang
sangat memikat, sekaligus orang
kepercayaan yang tidak akan
mencekokinya dengan penyampaian
resmi pemerintah."[29] Karim diberi tugas
mengepalai pelayan-pelayan India
lainnya dan bertanggung jawab atas
prestasi kerja mereka. Ratu Victoria
memuji Karim dalam surat-surat dan
buku hariannya. "Aku sungguh sangat
suka padanya" tulis Sri Ratu, "Dia begitu
baik dan lemah-lembut dan memahami
semua yang aku kehendaki dan sungguh-
sungguh membuatku merasa
nyaman."[30] Sri Ratu mengagumi
"sekretaris pribadi dan Munsyi India
beliau, seorang pria yang luar biasa,
pintar, benar-benar saleh dan penuh tata
krama, yang suka berkata, 'begitulah
perintah Allah' ... perintah-perintah Allah
adalah apa yang serta-merta mereka
patuhi! Iman mereka yang sedemikian
dan ketekunan yang sedemikian sangat
patut kita teladani."[31] Di Puri Balmoral,
kediaman Ratu Victoria di Skotlandia,
Karim ditempatkan pada kamar yang
sebelumnya ditempati oleh mendiang
John Brown, pelayan kesayangan Ratu
Victoria yang meninggal dunia pada
1883.[32] Meskipun Karim tampil serius
dan berwibawa di luar istana, Sri Ratu
menulis bahwa "dia benar-benar ramah
dan ceria pada dayang-dayang Ratu dan
tertawa dan bahkan bercanda sekarang—
dan mengundang mereka untuk datang
melihat-lihat semua barang bagus yang
ia punya dengan menawari mereka bolu
buah untuk dimakan".[33]

Kedengkian dalam Rumah


Tangga Istana
Pada November 1888, Karim diberi izin
bercuti ke India selama empat bulan agar
dapat menjenguk ayahnya. Karim
menyurati Ratu Victoria bahwa ayahnya,
yang sudah saatnya undur diri dari
pekerjaannya, mengharapkan pensiun
bagi dirinya sendiri dan kenaikan pangkat
bagi mantan atasannya, John Tyler.
Alhasil, selama enam bulan pertama
tahun 1889, Ratu Victoria menyurati Raja
Muda India, Lord Lansdowne,
mendesaknya untuk mengambil tindakan
sehubungan dengan pemberian pensiun
bagi Waziruddin dan kenaikan pangkat
bagi Tyler. Raja Muda India berenggan-
enggan menyelesaikan pengurusannya
karena Waziruddin telah melapor kepada
Gubernur Agra, Sir Auckland Colvin,
bahwa yang ia harapkan hanyalah
sekadar ucapan terima kasih, juga
karena Tyler terkenal berperilaku ceroboh
dan kasar tutur-katanya.[34][35]

Jalan karier Karim yang mulus


menimbulkan dengki dan ketidakpuasan
di kalangan warga Rumah Tangga Istana,
yang lazimnya tidak pernah bergaul
dengan orang-orang India yang
berderajat di bawah seorang pangeran.
Sri Ratu mengharapkan mereka
menerima Karim, seorang India dari
kalangan rakyat jelata, di tengah-tengah
mereka; mereka enggan
melakukannya.[33] Karim sendiri berharap
untuk diperlakukan sederajat. Ketika
Albert Edward, Pangeran Wales (kelak
naik tahkta sebagai Raja Edward VII),
menyelenggarakan acara hiburan bagi Sri
Ratu di kediamannya di Sandringham
pada 26 April 1889, Karim mendapati
dirinya didudukkan bersama para
pelayan. Karena merasa terhina, ia pun
undur diri ke kamarnya. Sri Ratu
membela Karim dengan menegaskan
bahwa sudah selayaknya ia didudukkan
bersama warga Rumah Tangga Istana.[36]
Ketika Ratu Victoria menghadiri Braemar
Games pada 1890, putra beliau,
Pangeran Arthur, Adipati Connaught dan
Strathearn, menyampaikan protes
kepada Sekretaris Pribadi Ratu, Sir Henry
Ponsonby, karena berang melihat Sang
Munsyi ditempatkan bersama-sama
kaum bangsawan. Ponsonby menjawab
bahwa semua itu dilakukan "atas titah Sri
Ratu", dan oleh karena itu alangkah
baiknya jika Sang Adipati menyampaikan
protesnya secara langsung kepada Sri
Ratu.[37] "Jawaban ini langsung
membungkamnya", ungkap Ponsonby.[38]

Penulis biografi Ratu Victoria, Carolly


Erickson, menggambarkan situasi ini
sebagai berikut:

Kenaikan pangkat yang pesat


dan sayangnya keangkuhan
pribadi Sang Munsyi sendiri
membuat ia tidak disukai
banyak orang, tetapi kenyataan
rasnyalah yang menggusarkan
semua orang sehingga
menentang dirinya. Rasialisme
merupakan sumber penderitaan
kala itu; rasialisme seiring-
sejalan dengan keyakinan
bahwa sudah selayaknya
Britania menguasai dunia.
Bahwasanya seorang India
berkulit gelap, ditempatkan
begitu dekat pada tataran yang
sama dengan para pelayan kulit
putih Sri Ratu, sungguh-
sungguh tidak dapat ditoleransi.
Bahwasanya ia makan semeja
dengan mereka, dan terlibat
dalam kehidupan sehari-hari
mereka, dipandang sebagai hal
yang dapat menyulut
kemurkaan. Akan tetapi Sri
Ratu bertekad untuk menjaga
keharmonisan Rumah Tangga
Istananya. Bagi Sri Ratu,
kebencian rasial tidak boleh
ditoleransi, dan si "Munsyi
budiman yang tersayang" sudah
selayaknya dihormati.[39]

Bilamana menerima pengajuan


keberatan, Ratu Victoria senantiasa
menampik semua komentar negatif
mengenai diri Karim.[40] Sri Ratu
mengabaikan keprihatinan orang
sehubungan dengan perilaku Karim, yang
dianggap sewenang-sewenang oleh
warga dan para staf Rumah Tangga
Istana, dan menilai anggapan mereka itu
"sangat keliru".[41] Pada Juni 1889, ipar
Karim, Hourmet Ali, kedapatan menjual
salah satu bros Ratu Victoria kepada
seorang tukang perhiasan di Windsor. Sri
Ratu puas dengan penjelasan Karim
bahwa Ali menemukan bros itu dan
sudah menjadi adat orang India untuk
menyimpan segala sesuatu yang
ditemukannya, sementara seisi Rumah
Tangga Istana menduga Ali mencuri bros
itu.[42] Pada Juli, Karim ditempatkan di
kamar yang sebelumnya ditempati oleh
Dokter (kelak Sir) James Reid, tabib Ratu
Victoria, dan diizinkan menggunakan
ruang duduk pribadi.[43]

Glassalt Shiel: Tempat menyepi Ratu Victoria yang


terpencil di atas lahan Puri Balmoral

Sri Ratu, di bawah pengaruh Sang


Munsyi, terus-menerus menyurati Lord
Lansdowne sehubungan dengan
anugerah kenaikan pangkat bagi Tyler
dan urusan-urusan administrasi
pemerintah India Britania. Sri Ratu
mengungkapkan keberatannya atas
gagasan mengenai pembentukan suatu
majelis beranggotakan orang-orang yang
dipilih oleh rakyat dengan alasan bahwa
umat Muslim tidak akan memenangkan
banyak kursi, mengingat mereka
merupakan kaum minoritas di India, dan
mendesak agar hari-hari raya Hindu
dijadwal-ulang sehingga tidak
bertabrakan dengan hari-hari raya Islam.
Lansdowne mengabaikan desakan itu
karena dikhawatirkan dapat menyulut
konflik,[44] tetapi mengangkat Tyler
menjadi Acting Inspector General of
Prisons (Pelaksana Tugas Inspektur
Jenderal Rumah-Rumah Tahanan) pada
September 1889.[45]

Yang sangat mencengangkan dan


menimbulkan keprihatinan di kalangan
Rumah Tangga Istana adalah peristiwa
yang berlangsung ketika Ratu Victoria
berada di Balmoral pada September
1889. Sri Ratu dan Karim menginap
bersama selama satu malam di sebuah
rumah terpencil di atas lahan Puri
Balmoral, Glassalt Shiel, di Danau Muick.
Ratu Victoria sering menginap di Glassalt
Shiel bersama Brown, dan sesudah
kematian Brown, Sri Ratu bersumpah
tidak akan mendiami lagi rumah itu.[45]
Pada awal 1890, Karim jatuh sakit dan
tumbuh bisul yang membengkak pada
lehernya. Ratu Victoria menitahkan Reid,
tabibnya, untuk merawat Karim.[46] Sri
Ratu menyurati Reid, mengungkapkan
kecemasannya serta menjelaskan
betapa ia merasa bertanggung jawab
atas kesejahteraan para pelayan Indianya
karena mereka sudah begitu jauh
merantau meninggalkan kampung
halaman.[47] Reid melakukan operasi
untuk membuka dan mengeringkan bisul
bengkak itu, dan kesehatan Karim pun
pulih sesudahnya.[47] Reid menulis pada
1 Maret 1890 bahwa Sri Ratu "menjenguk
Abdul dua kali setiap hari di kamarnya
untuk belajar bahasa Hindustan,
menandatangani surat-surat penting,
memeriksa keadaan lehernya,
mengempukkan bantal-bantalnya, dan
lain sebagainya."[48]

Anugerah tanah dan hal-


ihwal keluarga
Pada 1890, Ratu Victoria menitahkan
Heinrich von Angeli untuk membuat
lukisan potret Karim. Menurut Sri Ratu,
von Angeli sangat berminat membuat
lukisan Karim karena ia belum pernah
melukis orang India dan "sangat terpukau
melihat ketampanan wajah dan warna
kulitnya".[49] Pada 11 Juli 1890, Sri Ratu
menyurati Lansdowne, dan Sekretaris
Negara untuk India Lord Cross,
menitahkan pemberian "anugerah
sebidang tanah kepada Munsyi muda Sri
Ratu yang baik budi dan patut diteladani,
Hafiz Abdul Karim".[50] Sri Ratu yang
semakin uzur itu tidak mempercayai
kaum kerabatnya dan Rumah Tangga
Istana untuk memperhatikan hajat hidup
Sang Munsyi sepeninggalnya kelak, dan
oleh karena itu berusaha untuk menjamin
masa depannya.[51] Lansdowne
membalas bahwa anugerah tanah hanya
diberikan kepada para serdadu, itu pun
serdadu yang sudah lama bertugas dan
berjasa. Meskipun demikian, Sang Raja
Muda bersedia mencari sebidang tanah
untuk dianugerahkan kepada Karim yang
dapat menghasilkan kira-kira 600 Rupee
setahun, sama dengan jumlah pensiun
yang dapat diharapkan oleh seorang
serdadu tua setelah bertugas dengan
sangat baik.[52] Ratu Victoria berulang
kali menyurati Lansdowne antara Juli
sampai Oktober, mendesaknya untuk
segera menyelesaikan urusan pemberian
anugerah itu. Selain lahan tandus, hanya
ada sedikit saja tanah pemerintah di
dekat Agra; karena itulah Lansdowne
kesulitan mendapatkan sebidang tanah
yang layak.[53] Pada 30 Oktober, Sang
Munsyi meninggalkan Balmoral untuk
menjalani cuti selama empat bulan di
India, berangkat dengan kapal yang sama
dengan yang ditumpangi Nyonya
Lansdowne. Di hari yang sama, Lord
Lansdowne mengabari Sri Ratu melalui
telegraf bahwa anugerah sebidang tanah
di pinggiran kota Agra telah disiapkan.[54]
Lansdowne sengaja menegaskan dalam
pemberitahuannya itu bahwa:

… baru-baru ini salah satu dari


orang-orang yang telah
mempertaruhkan nyawanya,
dan di bawah hujan peluru
membantu meledakkan Gerbang
Kashmiri di Delhi dalam
peristiwa dahagi itu, menerima,
pada saat memasuki masa
pensiun, anugerah sebidang
lahan yang menghasilkan Rs
250 saja untuk seumur hidup.
Abdul Karim, pada usia 26
tahun, telah menerima
anugerah abadi sebidang lahan
setara dengan penghasilan
dalam jumlah dua kali lipat
lebih besar daripada yang layak
diterimanya sebagai balas jasa
selaku warga Rumah Tangga
Istana Baginda.[55]

Lansdowne berkunjung ke Agra pada


bulan November 1890. Ia dan Sang
Munsyi bertemu, dan Lansdowne
mengatur agar Karim duduk bersama-
sama staf raja muda dalam sebuah
Durbar.[56] Lansdowne secara pribadi
bertemu langsung dengan Sang Munsyi
maupun dengan Waziruddin, dan Lady
Lansdowne bertemu langsung dengan
istri dan ibu mertua Sang Munsyi, yang
diselundupkan secara rahasia ke dalam
kamp Raja Muda agar tidak melanggar
adat purdah.[57]

Pada 1891, sekembalinya Karim ke


Britania, ia meminta Reid untuk
mengirimkan sejumlah besar obat-
obatan kepada ayahnya, termasuk
striknin, kloralhidrat, morfin, dan macam-
macam ramuan lainnya. Reid menaksir
jumlah ramuan itu "lebih dari cukup untuk
membunuh 12.000 sampai 15.000 orang
dewasa atau sangat banyak anak-anak"
dan oleh karena itu menolak permintaan
Sang Munsyi.[58] Reid justru memberi
anjuran kepada Sri Ratu agar bahan-
bahan kimia itu sebaiknya dibeli atas
biaya Sri Ratu oleh pihak-pihak yang
berwenang di India.[58] Pada bulan Juni
1892, Waziruddin berkunjung ke Britania
dan menginap baik di Puri Balmoral
maupun di Puri Windsor.[59] Waziruddin
pensiun pada 1893 dan dianugerahi gelar
Khan Bahadur dalam acara New Year
Honours 1894. Anugerah gelar ini
memuaskan Ratu Victoria, dan oleh
Lansdowne disebut sebagai "anugerah
gelar yang dalam keadaan biasa tidak
akan berani diharapkan si Dokter".[60]

Pada bulan Mei 1892, Sang Munsyi


kembali ke India untuk bercuti selama
enam bulan; sekembalinya dari cuti, ia
ditemani oleh istri dan ibu mertuanya.
Kedua wanita itu dikerudungi dari ujung
kepala sampai ke ujung kaki, naik ke
kereta api, dan duduk dalam
kompartemen dengan tirai diturunkan.
Ratu Victoria menulis, "kedua wanita
India ... yang aku yakini, adalah wanita-
wanita Mohammedan (umat
Muhammad) dan penganut adat purdah
pertama yang pernah datang kemari ...
mempertahankan adat-istiadat mereka
untuk sepenuhnya mengasingkan diri
dan menyelubungi seluruh tubuhnya
bilamana keluar dari rumah, terkecuali
dua lubang untuk mata mereka."[61]
Sebagai sesama perempuan, Ratu
Victoria boleh melihat mereka dalam
keadaan tidak berkerudung.[62] Sang
Munsyi dan keluarganya tinggal di loji-loji
Puri Windsor, Puri Balmoral, dan Osborne
House, petirahan Sri Ratu di Pulau
Wight.[63] Ratu Victoria berkunjung
secara teratur, biasanya ditemani tamu-
tamu perempuannya, termasuk Maharani
Rusia dan Putri Wales, untuk bertatap
muka dengan kerabat perempuan Sang
Munsyi.[64] Salah seorang pengunjung,
Marie Mallet, dayang-dayang Sri Ratu,
istri pejabat sipil Bernard Mallet,
mencatat:

Aku baru saja bertemu istri


Sang Munsyi (atas Titah
Kerajaan). Ia gemuk dan tidak
buruk rupa, berkulit sewarna
coklat halus dan berdandan
cantik, cincin-cincin di jari-
jemarinya, cincin-cincin di
hidungnya, sebingkai cermin
saku bertatahkan permata-
permata pirus dijepit jempolnya
dan setiap bagian yang
memungkinkan pada dirinya
digelayuti rantai-rantai dan
gelang-gelang dan anting-
anting, selembar kerudung
sewarna mawar merah jambu di
kepalanya bersulam emas berat
dan sutra dan satin mewah
melilit dirinya. Ia berbicara
dalam bahasa Inggris yang ala
kadarnya ..."[65]

Ratu Victoria dan Sang Munsyi pada 1893.


Dr Reid tidak pernah melihat istri Karim
tanpa kerudung, walaupun ia mengaku
bahwa setiap kali ia dipanggil untuk
memeriksa kesehatan wanita itu, sekerat
lidah yang lain daripada yang lain
dijulurkan dari balik kerudung untuk ia
periksa.[66]

Pada 1892, nama Sang Munsyi mulai


dicantumkan dalam Surat Edaran Istana
di antara nama-nama pejabat yang
mengiringi Sri Ratu dalam kunjungan
tahunannya ke Côte d'Azur.[32]
Sebagaimana lazimnya, Ratu Victoria
melewatkan Natal 1892 di Osborne
House, tempat Sang Munsyi,
sebagaimana yang ia lakukan pada
tahun-tahun sebelumnya, ikut serta
dalam tableaux vivants yang dirancang
sebagai acara hiburan.[67] Pada tahun
berikutnya, dalam liburan tahunan Ratu
Victoria di daratan Eropa, ia
diperkenalkan ke hadapan Raja Umberto
I dari Italia.[68] Surat-surat kabar kala itu
mewartakan bahwa, "Baginda Raja tidak
habis pikir mengapa si Hindoo yang
agung dan memukau itu perlu secara
resmi diperkenalkan ke hadapan beliau.
Orang-orang Italia mengira bahwa Sang
Munsyi adalah seorang Pangeran India
tawanan, yang dibawa berkeliling oleh
Baginda Ratu sebagai tanda lahiriah dan
kasatmata dari supremasi Baginda di
Timur."[69]
Pada 1893, Ratu Victoria mengirim
catatan-catatan kepada Karim yang
ditandatanganinya dalam bahasa
Urdu.[63] Sri Ratu acap kali mengakhiri
surat-suratnya kepada Karim dengan
kalimat "your affectionate mother, VRI"
(ibu yang menyayangimu, VRI)[70] atau
"your truly devoted and fond loving
mother, VRI" (ibu yang sungguh-sungguh
peduli dan mengasihimu, VRI).[71]

Perjalanan-perjalanan dan
perhelatan Yubileum Intan
Sang Munsyi dianggap telah
memanfaatkan posisinya sebagai orang
kesayangan Sri Ratu, dan bersikap
melampaui statusnya yang hanya
seorang juru tulis rendahan, sehingga
menimbulkan kedongkolan di kalangan
istana. Suatu kali dalam perjalanannya
melintasi Italia, ia memasang iklan di
surat kabar Florence Gazette yang berisi
pernyataan bahwa "ia berasal dari
keluarga baik-baik yang sangat
terpandang".[32] Karim menolak untuk
bepergian bersama-sama dengan orang-
orang India lain dan mengambil alih
kamar mandi dayang-dayang untuk
digunakannya sendiri.[72] Dalam suatu
kunjungan ke Coburg, ia menolak
menghadiri upacara pernikahan cucu
Ratu Victoria, Putri Victoria Melita dari
Saxe-Coburg dan Gotha, karena ayahnya,
putra Ratu Victoria, Alfred, Adipati Saxe-
Coburg dan Gotha, menempatkannya di
balkon belakang bersama-sama para
pelayan.[73] Meskipun ditentang habis-
habisan oleh kerabat dan orang-orang
upahannya, Sri Ratu tetap membela
orang kesayangannya.[74] Sri Ratu
menyurati sekretaris pribadinya, Sir
Henry Ponsonby: "mengata-ngatai Sang
Munsyi budiman yang malang itu
sebagai orang yang sangat rendahan
benar-benar keterlaluan & sungguh tidak
pada tempatnya di sebuah negeri seperti
Inggris ... Baginda kenal 2 uskup agung
yang masing-masing adalah putra
seorang tukang jagal & seorang pemilik
toko kelontong ... Ayah Abdul telah
menjalani masa tugasnya dengan baik &
terhormat selaku seorang Dr & ia [Karim]
merasa jantungnya tersayat-sayat dikata-
katai sedemikian rupa."[75]

Masa jabatan Lord Lansdowne berakhir


pada 1894, dan digantikan oleh Lord
Elgin. Putra Ponsonby, Frederick sempat
bekerja sebagai aide-de-camp Lord Elgin
di India sebelum ditunjuk menjadi
equerry di bawah Ratu Victoria. Ratu
Victoria meminta Frederick untuk
mengunjungi Waziruddin, "direktur
kesehatan militer" di Agra.[76]
Sekembalinya ke Inggris, Frederick
memberitahu Ratu Victoria bahwa
Waziruddin "bukanlah direktur kesehatan
militer (surgeon-general) melainkan
hanya seorang apoteker di rumah
tahanan", yang ditentang keras oleh Sri
Ratu dengan mengatakan bahwa
Frederick "pasti sudah keliru menemui
orang lain".[76] Untuk "menegaskan
ketidaksenangan Baginda", Ratu Victoria
tidak mengundang Frederick ke acara
makan malam selama setahun.[76]

Pada hari Natal 1894, Sang Munsyi


mengirimkan sepucuk kartu ucapan yang
sentimental kepada Lord Elgin, yang
membikin kesal Ratu Victoria karena
diabaikan.[77] Melalui Frederick
Ponsonby, Sri Ratu menyampaikan
keberatannya kepada Elgin, yang
membalas bahwa ia "tidak menyangka
bahwa perlu dibuat surat tanda terima
untuk kartu ucapan, atau pun bahwa Sri
Ratu mengharapkannya untuk
mengirimkan sepucuk surat tanda
terima", dan menegaskan bahwa
"sangatlah tidak mungkin seorang Raja
Muda India melakukan surat-menyurat
semacam itu".[78]

Frederick menyurati Elgin pada bulan


Januari 1895 bahwa Karim sangat tidak
disenangi di kalangan Rumah Tangga
Istana, dan bahwa ia menempati "posisi
yang sangat mirip dengan posisi yang
pernah ditempati John Brown".[79] Baik
Putri Louise, Putri Beatrice, Pangeran
Henry dari Battenberg, Perdana Menteri
Lord Rosebery, maupun Sekretaris
Negara untuk India Henry Fowler telah
menyampaikan keprihatinan mereka
perihal Karim kepada Sri Ratu, yang
"menolak untuk mendengarkan apa yang
hendak mereka sampaikan malah sangat
murka, jadi sebagaimana kau lihat sendiri
Sang Munsyi adalah semacam
peliharaan, seperti anjing atau kucing
yang tidak akan dilepas Sri Ratu dengan
suka rela".[79] Elgin sudah diwanti-wanti
oleh Ponsonby dan Jawatan India bahwa
Sri Ratu menyerahkan surat-suratnya
kepada Sang Munsyi untuk dibaca, dan
karena itu sebaiknya surat-surat yang ia
kirim kepada Sri Ratu tidak berisi hal-hal
yang perlu dirahasiakan.[80] Para
penasihat Ratu Victoria
mengkhawatirkan kedekatan Karim
dengan Rafiuddin Ahmed, seorang pegiat
politik India yang tinggal di London dan
berhubungan dengan Liga Patriotik
Muslim. Mereka curiga Ahmed memerah
informasi rahasia dari Karim untuk
diteruskan kepada Amir Afganistan,
Abdur Rahman Khan.[81] Tidak ada
indikasi bahwa kekhawatiran mereka
memiliki dasar yang kuat, atau pun
bahwa Sang Munsyi tidak pandai
menyimpan rahasia.[82]
Ratu Victoria ketika berlibur di Perancis Selatan

Sewaktu Sri Ratu menghabiskan liburan


tahunannya di Riviera Perancis, pada
Maret 1895, surat-surat kabar setempat
memuat artikel-artikel bertajuk Le
Munchy, secrétaire indien dan le
professor de la Reine, yang menurut
Frederick Ponsonby dipicu oleh Karim.[83]
Dalam acara pemberian Penghargaan
Ulang Tahun 1895 Sri Ratu pada Mei
tahun itu, Karim diangkat menjadi
seorang Companion ("Rekan", jajaran
tamtama) Ordo Kekaisaran India,[84]
sekalipun ditentang oleh Rosebery dan
Fowler.[85] Tyler tercengang mengetahui
pengangkatan Karim tatkala berkunjung
ke Inggris pada bulan berikutnya.[85]

Selepas pemilihan umum Britania Raya,


1895, Rosebery digantikan oleh Lord
Salisbury dan Fowler digantikan oleh
Lord George Hamilton. Hamilton
menganggap Karim tidak seberbahaya
yang disangka orang dan justru adalah
"orang bodoh, sehingga dapat diperalat
orang lain."[86] Pada awal 1896, Karim
bercuti ke India selama enam bulan,
sementara Hamilton dan Elgin
memberlakukan pengawasan ketat
"secara diam-diam" atas dirinya.[86]
Mereka tidak berani bertindak terang-
terangan karena tidak ingin membuat
Sang Munsyi curiga dan mengadu
kepada Sri Ratu.[87] Meskipun ada
kekhawatiran bahwa Karim akan bertemu
dengan agen-agen musuh,
kepulangannya ke India tampaknya tidak
menimbulkan gejolak apa-apa.[88]

Ia bertolak dari Bombay menuju Britania


pada Agustus 1896, membawa serta
kemenakannya yang masih belia,
Mohammed Abdul Rashid.[89] Karim tidak
memiliki anak. Ratu Victoria mengatur
agar seorang dokter perempuan
memeriksa istri Sang Munsyi pada
Desember 1893, karena pasangan itu
terus-menerus berusaha tetapi tak
kunjung berhasil mendapatkan
keturunan.[90] Pada 1897, menurut Reid,
Karim mengidap kencing nanah.[91]

Pada Maret 1897, tatkala bersiap-siap


berangkat menyertai Ratu Victoria dalam
rangka kunjungan tahunannya ke Cimiez,
warga Rumah Tangga Istana bersikeras
menolak keikutsertaan Karim dan
mengancam akan mengundurkan diri jika
Karim tetap ikut serta dalam rombongan.
Ketika Harriet Phipps, salah seorang
dayang kehormatan, menyampaikan
keputusan bersama itu kepada Sri Ratu,
dengan sangat murka ia menyapu isi
meja kerjanya sehingga tercampak ke
lantai.[92] Warga Rumah Tangga Istana
mengalah, tetapi acara liburan itu
diwarnai ketidaksenangan dan
persitegangan yang kian lama kian sengit
antara warga Rumah Tangga Istana dan
Ratu Victoria. Sri Ratu menganggap
sikap tidak percaya dan ketidaksukaan
mereka pada Karim termotivasi oleh
"prasangka ras" dan dengki.[93] Ketika
Rafiuddin Ahmed datang bergabung
dengan Karim di Cimiez, warga Rumah
Tangga Istana memaksanya pulang.
Tindakan ini dinilai "tidak pantas" oleh
Ratu Victoria. Sri Ratu meminta perdana
menteri untuk menulis surat permintaan
maaf kepada Ahmed yang menjelaskan
bahwa ia tidak diikutsertakan hanya
karena pernah menulis artikel-artikel
yang dimuat dalam surat-surat kabar,
sementara pers tidak diperbolehkan
meliput perjalanan liburan Ratu.[94]
Ponsonby menulis dalam suratnya pada
akhir April, "rupa-rupanya [Sang Munsyi]
adalah seorang yang benar-benar bodoh
dan tidak berpendidikan, dan sepertinya
hal satu-satunya yang ia pikirkan dalam
hidup adalah tidak melakukan apa-apa
dan makan sebanyak mungkin."[93] Reid
mewanti-wanti Sri Ratu bahwa
keakrabannya dengan Karim telah
membuat orang mempertanyakan
kewarasannya,[95] dan Hamilton
mengirim telegraf kepada Elgin meminta
informasi mengenai Sang Munsyi dan
keluarganya dengan maksud
mendiskreditkannya.[96] Ketika menerima
balasan dari Elgin bahwa Sang Munsyi
dan keluarganya adalah orang-orang
"terhormat dan layak dipercaya ... tetapi
berasal dari kalangan rendahan",[96]
Hamilton menyimpulkan bahwa "Sang
Munsyi sepengetahuan saya tidak
pernah melakukan tindakan yang tercela
atau yang patut dibatasi secara resmi ...
pengusutan-pengusutan tidaklah tepat,
kecuali ada kaitannya dengan beberapa
pernyataan atau tuduhan yang definitif."
Meskipun demikian, ia mengotorisasi
penyelidikan lebih lanjut terhadap "si
Mohamedan penebar desas-desus yang
bernama Rafiuddin".[97] Tidak pernah
ditemukan bukti yang dapat digunakan
untuk mendakwa Ahmed,[98] yang kelak
menjadi seorang pejabat pemerintah
Bombay dan dianugerahi gelar kesatria
(Sir) pada 1932.[99] Dampak dari
persitegangan itu, dalam kata-kata
Hamilton, adalah "semakin memojokkan
[Sang Munsyi] pada kedudukannya yang
rendah, dan pengaruhnya tidak akan
sama lagi di masa-masa yang akan
datang".[100]
Sang Munsyi mengatur agar potret dirinya bersama
Sri Ratu di Balmoral ini dimuat dalam terbitan The
Graphic edisi Yubileum Intan, 1897.[101]

Sesudah persitegangan 1897, Ratu


Victoria berusaha menghilangkan
kekhawatiran Sang Munsyi. "Aku sudah
mengatur dalam Surat Wasiatku agar
kesejahteraanmu terjamin," tulisnya
dalam surat kepada Karim, "dan
senantiasa berprasangka baik terhadap
dirimu. Surat panjang terlampir yang
ditulis hampir sebulan yang lalu
sepenuhnya dan semata-mata adalah
gagasanku sendiri, tak seorang pun akan
pernah mengetahui isinya atau pun
balasanmu padaku. Jika engkau tidak
dapat membacanya aku akan
membantumu dan sesudah itu segera
membakarnya."[102] Ia menyampaikan
kepada Reid bahwa perselisihan sepele
itu telah membuatnya dan Sang Munsyi
merasa tertekan, yang dibalas Reid
bahwa sepertinya tidak demikian yang
dirasakan Sang Munsyi "dilihat dari
sosoknya yang bugar dan perawakannya
yang tetap saja kekar".[103] Lord Salisbury
menyampaikan kepada Reid bahwa
menurut pemikirannya Sri Ratu juga tidak
merasa tertekan, dan bahwa Sri Ratu
dam-diam menikmati persitegangan itu
karena merupakan "satu-satunya cara
untuk bersenang-senang yang beliau
punya".[104]

Agaknya Reid juga ikut serta mengajukan


keberatan perihal Sang Munsyi bersama
warga Rumah Tangga Istana lainnya,
karena Sri Ratu menyuratinya, "Aku
mengira engkau berdiri sebagai
penengah antara aku dan mereka, tetapi
sekarang aku merasa bahwa engkau seia
sekata dengan yang lain."[105] Pada 1899,
warga Rumah Tangga Istana sekali lagi
bersikeras menolak keikutsertaan Karim
dalam rombongan kerajaan bilamana Sri
Ratu menjalani liburan tahunannya di
Cimiez. Sri Ratu mengalah dan menyuruh
Karim tetap tinggal di Windsor, tetapi
sesudah rombongan kerajaan sampai di
hotel Excelsior Regina, ia mengirim
telegram kepada Karim berisi undangan
untuk datang bergabung.[106]

Masa tua
Pada akhir 1898, Karim merampungkan
urusan pembelian sebidang tanah yang
bersebelahan dengan tanah anugerah Sri
Ratu; ia telah menjadi seorang
hartawan.[107] Reid mengungkapkan
dalam buku hariannya bahwa ia pernah
menantang Karim sehubungan dengan
pengaturan keuangan yang dilakukannya:
"Anda telah memberi tahu Sri Ratu bahwa
di India orang tidak menerbitkan resi
sebagai tanda terima uang, dan oleh
karena itu anda tidak wajib menerbitkan
resi kepada Sir F Edwards [Penjaga
Pundi-Pundi Pribadi]. Ini suatu dusta dan
artinya anda berniat mencurangi Sri
Ratu."[108] Sang Munsyi memberi tahu Sri
Ratu bahwa ia akan menerbitkan resi
untuk menanggapi segala dakwaan itu,
dan Ratu Victoria pun menyurati Reid
agar meniadakan segala dakwaan yang
ia sebut "memalukan" itu.[109]

Karim meminta Ratu Victoria untuk


menganugerahinya gelar "Nawab",
padanan India untuk gelar ningrat
warisan di Inggris, dan untuk
mengangkatnya menjadi seorang Knight
Commander ("Kesatria Hulubalang",
jenjang perwira) Ordo Kekaisaran India,
sehingga membuatnya layak disapa "Sir
Abdul Karim". Elgin yang tak habis pikir
dengan permintaan-permintaan itu
menganjurkan agar Sri Ratu lebih baik
mengangkat Karim menjadi Member
("Anggota", jenjang tamtama) Ordo
Kerajaan Victoria, sebagai karunia pribadi
dari Sri Ratu, tanpa gelar, dan kecil
dampak politisnya di India.[110] Penjaga
Pundi-Pundi Pribadi Sir Fleetwood
Edwards dan Perdana Menteri Lord
Salisbury bahkan menganjurkan agar Sri
Ratu tidak memberi gelar yang lebih
rendah sekalipun.[111] Akan tetapi pada
1899, pada kesempatan perayaan hari
ulang tahunnya yang ke-80, Ratu Victoria
mengangkat Karim menjadi Commander
("Hulubalang", jenjang bintara) Ordo
Kerajaan Victoria, jenjang menengah di
antara Member dan Knight ("Kesatria",
jenjang perwira).[112]

Sang Munsyi pulang ke India pada


November 1899 selama setahun.
Waziruddin, yang digambarkan sebagai
"seorang pria tua yang santun" oleh Lord
Curzon, pengganti Elgin sebagai Raja
Muda India, wafat pada Juni 1900.[113]
Manakala Karim kembali ke Britania
pada November 1900, Ratu Victoria
sudah terlihat uzur, dan kesehatannya
menurun. Dalam tempo tiga bulan ia pun
mangkat.[114]

Sesudah Ratu Victoria mangkat,


putranya, Edward VII,
membebastugaskan Sang Munsyi
beserta orang-orang dekatnya dan
memulangkan mereka ke India. Tetapi
Edward mengizinkan Sang Munsyi
menjadi orang terakhir yang melayat
jenazah Ratu Victoria sebelum peti
matinya ditutup,[115] dan ikut serta dalam
arak-arakan pemakamannya.[116] Nyaris
seluruh surat-menyurat antara Ratu
Victoria dan Karim habis dibakar atas
titah Raja Edward.[117] Lady Curzon
mencatat pada 9 Agustus 1901 sebagai
berikut,

Charlotte Knollys mengatakan


padaku bahwa Sang Munsyi
iblis yang sudah membikin seisi
rumah di Windsor tercekam
selama bertahun-tahun terbukti
cuma seekor macan ompong
yang konyol, karena pria
malang itu tidak hanya
merelakan semua surat-
suratnya, bahkan juga foto-foto
yang ditandatangani Sri Ratu
dan pulang ke India seperti
seekor anjing habis dicambuk.
Seluruh pelayan India sudah
pulang kembali jadi sekarang
tak ada gambar & keganjilan
oriental di lingkungan
istana.[118]

Pada 1905–06, George, Pangeran Wales,


berkunjung ke India dan menyurati Raja
Edward dari Agra, "Pada malam hari kami
melihat Sang Munsyi. Ia tidak bertambah
bagus dan sudah gemuk. Harus saya
katakan bahwa ia sungguh santun dan
rendah hati dan benar-benar senang
melihat kami. Ia mengenakan bintang
kehormatan C.V.O. miliknya yang tidak
saya ketahui pernah ia terima. Saya
diberitahu bahwa ia hidup tenang di sini
dan tidak menimbulkan masalah sama
sekali."[119]

Sang Munsyi meninggal dunia di


kediamannya, Loji Karim, yang berdiri di
atas tanah miliknya di Agra pada
1909.[120] Ia meninggalkan dua orang
istri,[121] dan jenazahnya dimakamkan di
dalam sebuah mausoleum mirip pagoda
di area pemakaman Panchkuian
Kabristan di Agra bersebelahan dengan
ayahnya.[122]

Atas instruksi Raja Edward VII,


Komisioner Agra, W. H. Cobb, berkunjung
ke Loji Karim untuk mencari sisa-sisa
surat-menyurat antara Sang Munsyi dan
Sri Ratu atau warga Rumah Tangga
Istana beliau, yang kemudian disita dan
dikirim kepada Raja.[123] Raja Muda India
(saat itu dijabat oleh Lord Minto), Letnan-
Gubernur John Hewitt, dan para pejabat
sipil di Jawatan India tidak
membenarkan tindakan penyitaan itu,
dan mengajukan usulan agar surat-surat
tersebut dikembalikan.[124] Pada akhirnya
Raja mengembalikan empat pucuk surat,
dengan syarat surat-surat itu harus
dikirim kembali kepadanya bilamana istri
pertama Sang Munsyi meninggal
dunia.[125]

Warisan
Karena Sang Munsyi tidak memiliki
keturunan, maka kekayaan dan harta
bendanya diwarisi oleh kemenakan-
kemenakan dan anak-anak dari
kemenakan-kemenakannya. Keluarga
Sang Munsyi menetap di Agra sampai
India merdeka. Sesudah Peristiwa
Pemisahan India pada Agustus 1947,
mereka beremigrasi ke Pakistan. Tanah
dan bangunan keluarga, termasuk Loji
Karim, disita oleh pemerintah India dan
dibagi-bagikan kepada para pengungsi
Hindu dari Pakistan. Setengah dari Loji
Karim dibagi menjadi dua tempat tinggal
terpisah, sementara setengahnya lagi
dijadikan sebuah panti perawatan dan
kantor dokter.[126]
Sampai dengan diterbitkannya memoar
Frederick Ponsonby pada 1951, hanya
sedikit fakta yang diketahui sehubungan
dengan riwayat hidup Sang Munsyi.[127]
Kajian ilmiah atas riwayat hidup dan
hubungannya dengan Ratu Victoria
dimulai sekitar era 1960-an,[128] berfokus
pada Sang Munsyi sebagai "suatu
gambaran tentang prasangka ras dan
kelas di Inggris pada zaman Victoria".[129]
Mary Lutyens, ketika menyunting buku
harian neneknya, Edith (istri Lord Lytton,
Raja Muda India 1876–80),
menyimpulkan, "Sekalipun orang bisa
mengerti bahwa Sang Munsyi tidak
disukai, sebagaimana yang hampir selalu
dialami oleh anak-anak kesayangan ...
Orang mau tidak mau merasa bahwa
pemicu utama kedengkian warga Rumah
Tangga Istana terhadap dirinya adalah
perilaku gila hormat dan prasangka
terhadap warna kulit."[130] Elizabeth
Longford menulis, "Abdul Karim
menggugah kembali imajinasi yang
sama dalam diri Sri Ratu yang pernah
membuatnya begitu mengagung-
agungkan jasa-jasa John Brown ... Akan
tetapi, [hal itu] mempermulus jalan bagi
seorang pribadi rendahan untuk meraih
kepercayaan Sri Ratu, sementara hal itu
memperhebat mabuk kepayang bangsa
terhadap suatu impian rendahan, impian
akan Imperium Kolonial."[131]
Para sejarawan membenarkan
kecurigaan-kecurigaan warga Rumah
Tangga Istana bahwa Sang Munsyi telah
mempengaruhi opini-opini Sri Ratu
sehubungan dengan hal-ihwal India,
membuat Sri Ratu menentang umat
Hindu dan memihak umat Muslim.[132]
Tetapi kecurigaan-kecurigaan bahwa ia
telah membocorkan rahasia kepada
Rafiuddin Ahmed tidak termasuk di
dalamnya. Ratu Victoria menegaskan
bahwa "tidak ada surat-surat politik
dalam bentuk apa pun yang pernah
disentuh tangan Sang Munsyi, bahkan di
hadapan Sri Ratu sekalipun. Ia hanya
membantu Sri Ratu membaca kata-kata
yang tidak terbaca olehnya atau surat-
surat keputusan yang diajukan untuk
ditandatangani belaka. Ia tidak cukup
lancar membaca tulisan dalam bahasa
Inggris untuk dapat membaca hal-hal
penting."[133] Oleh karena itu, agaknya
tidak benar bahwasanya ia dapat
mempengaruhi kebijakan pemerintah
mengenai India atau membocorkan
informasi yang berguna bagi para aktivis
Muslim.[129]

Film fitur tahun 2017 Victoria & Abdul,


garapan Stephen Frears dan dibintangi
oleh Ali Fazal sebagai Abdul Karim dan
Judi Dench sebagai Ratu Victoria,
menawarkan versi fiksionalisasi dari
hubungan antara Karim dan ratu.[134]
Rujukan
1. ^ NIDIOT: Abdul Karim (Munshi) ,
diakses 2 Juli 2017
2. ^ First Post: Victoria & Abdul: The story
of the unlikely friendship between a queen
and her munshi , diakses 2 Juli 2017
3. ^ Dawn: The Munshi and the Queen ,
diakses 2 Juli 2017
4. ^ Basu, hal. 22
5. ^ Basu, hal. 22–23
6. ^ Basu, hal. 23
7. ^ Basu, hal. 23–24
8. ^ Basu, hal. 24
9. ^ Basu, hal. 25
10. ^ Surat Ratu Victoria kepada Lord
Lansdowne, 18 Desember 1890, dikutip
dalam Basu. hal. 87
11. ^ Basu, hal. 26–27
12. ^ Anand, hal. 13
13. ^ Basu, hal. 33
14. ^ Dikutip dalam Anand, hal. 15
15. ^ Dikutip dalam Basu, hal. 38
16. ^ Dikutip dalam Basu, hal. 43; Hibbert,
hal. 446 dan Longford, hal. 502
17. ^ Dikutip dalam Basu, hal. 44
18. ^ Basu, hal. 48
19. ^ Basu, hal. 57
20. ^ Basu, hal. 49
21. ^ Dikutip dalam Basu, hal. 60
22. ^ Queen Victoria's Sketchbook karya
Marina Warner, dikutip dalam "Abdul
Karim" . PBS. Diakses pada 15 April 2011
23. ^ Basu, hal. 64–65
24. ^ Basu, hal. 64
25. ^ "Queen Victoria's Journals" . RA
VIC/MAIN/QVJ (W). Royal Archives. 11
Agustus 1888. Diakses tanggal 24 Mei
2013.
26. ^ Basu, hal. 65; Longford, hal. 536
27. ^ Anand, hal. 16
28. ^ Basu, hal. 174
29. ^ Anand, hal. 15
30. ^ Surat Ratu Victoria kepada Adipatni
Connaught, 3 November 1888, dikutip
dalam Basu, hal. 65
31. ^ Surat Ratu Victoria kepada Sir
Theodore Martin, 20 November 1888,
dikutip dalam Basu, hal. 65
32. ^ a b c Nelson, hal. 82
33. ^ a b Anand, hal. 18
34. ^ Basu, hal. 68–69
35. ^ Ratu Victoria sendiri mengakui
bahwa "dia seorang pria yang berangasan,
berperangai keras, sungguh-sungguh
tidak pandai berbasa-basi, dan menjadi
musuh bagi dirinya sendiri, tetapi sangat
baik hati dan ramah, seorang pejabat yang
sangat baik, dan seorang tabib kelas
satu", yang dibalas oleh Lansdowne
dengan perkataan, "Yang Mulia telah
merangkum kelebihan-kelebihan
sekaligus kekurangan-kekurangan beliau
dengan kata-kata yang sangat sesuai
dengan kenyataannya." (Dikutip dalam
Basu, hal. 88)
36. ^ Anand, hal. 18–19; Basu, hal. 70–71
37. ^ Waller, hal. 441
38. ^ Basu, hal. 71; Hibbert, hal. 448
39. ^ Erickson, Carolly (2002) Her Little
Majesty , New York: Simon and Schuster,
hal. 241. ISBN 0-7432-3657-2. Peralihan
alinea sesudah kalimat ketiga sengaja
ditiadakan.
40. ^ Basu, hal. 70–71
41. ^ Surat Ratu Victoria kepada Dokter
Reid, 13 Mei 1889, dikutip dalam Basu,
hal. 70
42. ^ Anand, hal. 20–21; Basu, hal. 71–72
43. ^ Basu, hal. 72
44. ^ Basu, hal. 73, 109–110
45. ^ a b Basu, hal. 74
46. ^ Basu, hal. 75
47. ^ a b Basu, hal. 76
48. ^ Dikutip dalam Anand, hal. 22 dan
Basu, hal. 75
49. ^ Surat Ratu Victoria kepada Putri
Victoria (1840–1901), 17 Mei 1890,
dikutip dalam Basu, hal. 77
50. ^ Dikutip dalam Basu, hal. 77
51. ^ This Sceptered Isle: Bagian 66,
"Queen Victoria and Abdul Karim" BBC
Radio 4. Diakses pada 15 April 2011.
52. ^ Basu, hal. 78
53. ^ Basu, hal. 79–82
54. ^ Basu, hal. 83
55. ^ Anand, hal. 33; Basu, hal. 86
56. ^ Basu, hal. 85
57. ^ Basu, hal. 86–87
58. ^ a b Basu, hal. 100
59. ^ Basu, hal. 102–103
60. ^ Surat Lansdowne kepada Ratu
Victoria, Desember 1893, dikutip dalam
Basu, hal. 111
61. ^ Surat Ratu Victoria kepada Putri
Victoria, 9 Desember 1893, dikutip dalam
Anand, hal. 45
62. ^ Basu, hal. 104–105
63. ^ a b Basu, hal. 107
64. ^ Basu, hal. 106, 108–109
65. ^ Mallet, Victor (ed., 1968) Life With
Queen Victoria: Marie Mallet's Letters
From Court 1887–1901, London: John
Murray, hal. 96, dikutip dalam Basu, hal.
141
66. ^ Basu, hal. 129; Hibbert, hal. 447;
Longford, hal. 535
67. ^ Basu, hal. 59–60, 66, 81, 100, 103
68. ^ Basu, hal. 104
69. ^ Birmingham Daily Post, 24 Maret
1893, dikutip dalam Basu, hal. 104
70. ^ sebagai contoh Basu, hal. 129
71. ^ sebagai contoh Basu, hal. 109
72. ^ Basu, hal. 114; Hibbert, hal. 450;
Nelson, hal. 83
73. ^ Basu, hal. 115
74. ^ Basu, hal. 116
75. ^ Basu, hal. 117; Hibbert, hal. 449;
Longford, hal. 536
76. ^ a b c Ponsonby, Frederick (1951)
Recollections of Three Reigns, London:
Odhams Press, hal. 12, dikutip dalam
Basu, hal. 120 dan Hibbert, hal. 449
77. ^ Basu, hal. 119–120; Longford, hal.
537
78. ^ Basu, hal. 121
79. ^ a b Dikutip dalam Anand, hal. 54;
Basu, hal. 125 dan Hibbert, hal. 451
80. ^ Basu, hal. 125
81. ^ Basu, hal. 123–124; Hibbert, hal.
448; Longford, hal. 535, 537
82. ^ Basu, hal. 148–151; Longford, hal.
540
83. ^ Basu, hal. 127–128
84. ^ London Gazette: no. 26628. hal.
3080. 25 Mei 1895.
85. ^ a b Basu, hal. 130
86. ^ a b Surat Hamilton kepada Elgin, 21
Februari 1896, dikutip dalam Basu, hal.
137; Hibbert, hal. 449 dan Longford, hal.
538
87. ^ Anand, hal. 71–74; Basu, hal. 138
88. ^ Anand, hal. 71–74
89. ^ Basu, hal. 140
90. ^ Basu, hal. 108
91. ^ Basu, hal. 141; Erickson, hal. 246;
Hibbert, hal. 451
92. ^ Basu, hal. 141–142; Hibbert, hal. 451
93. ^ a b Surat Frederick Ponsonby kepada
Henry Babington Smith, 27 April 1897,
dikutip dalam Anand, hal. 76–77, Basu,
hal. 148 dan Longford, hal. 539
94. ^ Basu, hal. 143; Longford, hal. 540–
541
95. ^ Basu, hal. 141–145; Hibbert, hal.
451–452
96. ^ a b Basu, hal. 144
97. ^ Surat Hamilton kepada Elgin, 30
April 1897, dikutip dalam Basu, hal. 149
98. ^ Basu, hal. 147, 151, 172
99. ^ Anand, hal. 105
100. ^ Dikutip dalam Basu, hal. 150
101. ^ Basu, hal. 162; Hibbert, hal. 451
102. ^ Surat Victoria kepada Karim, 12
Februari 1898, dikutip dalam Anand, hal.
96; Basu, hal. 167 dan Hibbert, hal. 453
103. ^ Surat Reid kepada Victoria, 23
September 1897, Basu, hal. 161
104. ^ Buku harian Reid, 18 Februari 1898,
dikutip in Basu, hal. 169 dan Hibbert, hal.
454
105. ^ Dikutip dalam Anand, hal. 101
106. ^ Anand, hal. 111
107. ^ Basu, hal. 173, 192
108. ^ Buku harian Reid, 4 April 1897,
dikutip dalam Basu, hal. 145–146, dan
Nelson, hal. 110
109. ^ Dikutip dalam Basu, hal. 161
110. ^ Basu, hal. 150–151
111. ^ Basu, hal. 156
112. ^ London Gazette: no. 27084. hal.
3427. 30 May 1899.
113. ^ Basu, hal. 178–179
114. ^ Basu, hal. 180–181
115. ^ Basu, hal. 182; Hibbert, hal. 498;
Rennell, hal. 187
116. ^ Anand, hal. 102
117. ^ Anand, hal. 96; Basu, hal. 185;
Longford, hal. 541–542
118. ^ Dikutip dalam Anand, hal. 102
119. ^ Dikutip dalam Anand, hal. 103–104
dan Basu, hal. 192
120. ^ Basu, hal. 193
121. ^ Basu, hal. 198
122. ^ Basu, hal. 19
123. ^ Basu, hal. 197–199
124. ^ Basu, hal. 200–201
125. ^ Basu, hal. 202
126. ^ Basu, hal. 206
127. ^ Longford, hal. 535
128. ^ Longford, hal. 536
129. ^ a b Visram, Rozina (2004). "Karim,
Abdul (1862/3–1909)" . Oxford Dictionary
of National Biography. Oxford University
Press. doi:10.1093/ref:odnb/42022 .
berlangganan atau keanggotan
perpustakaan umum Kerajaan Serikat
diperlukan
130. ^ Lutyens, Mary (1961) Lady Lytton's
Court Diary 1895–1899, London: Rupert
Hart-Davis, hal. 42
131. ^ Longford, hal. 502
132. ^ contoh Longford, hal. 541; Plumb,
hal. 281
133. ^ Surat Victoria kepada Salisbury, 17
Juli 1897, dikutip dalam Longford, hal.
540
134. ^ Al-Khadi, Amrou (16 September
2017). "Victoria and Abdul is another
dangerous example of British filmmakers
whitewashing colonialism" . The
Independent. Diakses tanggal 24
September 2017.

Daftar pustaka

Anand, Sushila (1996) Indian Sahib:


Queen Victoria's Dear Abdul, London:
Gerald Duckworth & Co., ISBN 0-7156-
2718-X
Basu, Shrabani (2010) Victoria and
Abdul: The True Story of the Queen's
Closest Confidant, Stroud,
Gloucestershire: The History Press,
ISBN 978-0-7524-5364-4
Hibbert, Christopher (2000) Queen
Victoria: A Personal History, London:
HarperCollins, ISBN 0-00-638843-4
Longford, Elizabeth (1964) Victoria R.I.,
London: Weidenfeld & Nicolson, ISBN
0-297-17001-5
Nelson, Michael (2007) Queen Victoria
and the Discovery of the Riviera,
London: Tauris Parke Paperbacks,
ISBN 978-1-84511-345-2
Plumb, J. H. (1977) Royal Heritage: The
Story of Britain's Royal Builders and
Collectors, London: BBC, ISBN 0-563-
17082-4
Rennell, Tony (2000) Last Days of
Glory: The Death of Queen Victoria,
New York: St. Martin's Press, ISBN 0-
312-30286-X
Waller, Maureen (2006) Sovereign
Ladies: The Six Reigning Queens of
England , New York: St. Martin's Press,
ISBN 0-312-33801-5

Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki galeri
mengenai:
Abdul Karim (Sang Munsyi)

Queen Victoria's Last Love , film


dokumenter Channel 4 tahun 2012
dinarasikan oleh Geoffrey Palmer,
tentang Ratu Victoria (diperankan oleh
Veronica Clifford) dan Sang Munsyi
(diperankan oleh Kushal Pal Singh)
Queen Victoria's Last Love (2012) ,
rincian dari film dokumenter di atas di
Internet Movie Database
Queen Victoria and Abdul: Diaries reveal
secrets , BBC News, 14 Maret 2011
Abdul Karim, who taught Queen Victoria
Hindustani , British Library, koleksi
Asians in Britain.

Diperoleh dari
"https://id.wikipedia.org/w/index.php?
title=Abdul_Karim_(Sang_Munsyi)&oldid=134983
08"
Terakhir disunting 2 bulan yang lal…

Konten tersedia di bawah CC BY-SA 3.0 kecuali


dinyatakan lain.