Anda di halaman 1dari 16

Dalam sebuah bidang keilmuan terkhusus dalam rumpun ilmu sosial penelitian kualitatif menjadi

hal yang teramat penting dalam perkembangan ilmu pada rumpun tersebut. Penelitian kualitatif
berperan menelisik sebuah realita sosial secara mendalam sampai kepada aspek paling dalam
yang tak mampu dijawab oleh penelitian kuantitatif.

Gejala sosial yang dinamis membuat penelitian kualitatif menjadi metode yang tepat dalam
penelitian sosial. Termasuk di dalamnya penelitian pada ilmu komunikasi. Penelitian kualitatif
menempatkan manusia sebagai subyek utama penelitian yang mana dalam hal ini penelitian
secara mendalam tidak dapat diungkapkan melalui deskripsi angka sebagaimana dalam
penelitian kuantitatif. (Baca juga: Komunikasi Interpersonal)

Baca juga :

 Paradigma Komunikasi
 Teori Dramaturgi
 Teori Komunikasi Persuasif

Pengertian Paradigma

Penelitian pada hakikatnya adalah sebuah upaya untuk mencari kebenaran atau untuk
menemukan kebenaran atas suatu kebenaran bahkan membenarkan suatu kebenaran. Paradigma
menurut Bogdan dan Biklen adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang
bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan penelitian. (baca
juga: Model Komunikasi Lasswell)

sementara itu menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang
dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan
mode of knowing yang spesifik.

Senada dengan pendapat tersebut Friedrichs menambahkan bahwa paradigma merupakan suatu
pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan
yang semestinya dipelajari.

pendapat lain juga disampaikan oleh George Ritzer yang menyatakan paradigma sebagai
pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang
semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.

Baca Juga : Metode Penelitian Kualitatif – Metode Penelitian Komunikasi

Pengertian Paradigma Penelitian Kualitatif


Penelitian kualitatif merupakan suatu model penelitian yang bersifat humanistik, dimana
manusia dalam penelitian ini ditempatkan sebagai subyek utama dalam suatu peristiwa sosial.
Dalam hal ini hakikat manusia sebagai subyek memiliki kebebasan berfikir dan menentukan
pilihan atas dasar budaya dan sistem yang diyakini oleh masing-masing individu.
(baca: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi)

Paradigma kualitatif meyakini bahwa dalam suatu sistem kemasyarakatan terdapat suatu ikatan
yang menimbulkan keteraturan. Keteraturan ini terjadi secara alamiah, oleh karenanya tugas
seorang peneliti sosial adalah mencari dan menemukan keteraturan itu. (Baca juga: Jenis
Program Televisi)

Berdasarkan hal tersebut penelitian kualitatif pada dasarnya adalah satu kegiatan sistematis untuk
menemukan suatu teori dalam sebuah realita sosial bukan menguji teori atau hipotesis. Sehingga,
secara epistemologis paradigma kualitatif senantiasa mengakui adanya fakta empiris dilapangan
yang dijadikan sumber pengetahuan akan tetapi teori yang ada tidak dijadikan sebagai tolak ukur
verifikasi.

Dalam penelitian kualitatif ini, proses penelitian menjadi lebih penting dari pada sekedar hasil.
Dalam penelitian kualitatif, proses menjadi hal yang amat harus diperhatikan, dimana peneliti
sebagai pengumpul instrumen harus mampu menempatkan dirinya pada posisi seobjektif
mungkin sehingga data yang dikumpulkan menjadi data yang mampu untuk di
pertanggungjawabkan.

Baca juga :

 Pengertian Studi Kasus Menurut Para Ahli


 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi
 Model Komunikasi

ads

Pendekatan Dalam Penelitian Kualitatif

Terdapat beberapa pendekatan berdasarkan penelitian kualitatif, antara lain:

A. Pendekatan Fenomenologi
Menurut Bogdan dan Biklen peneliti dengan pendekatan fenomenologis berusaha memahami
makna dari suatu peristiwa dan bagaimana peristiwa tersebut pengaruhya dengan manusia dalam
kondisi dan situasi tertentu.

Karakteristik lain dari pendekatan fenomenologis adalah sebagai berikut.

1. Tidak berasumsi mengenai berbagai hal yang dianggap berarti bagi bagi manusia yang
menjadi subjek penelitian. (baca: Komunikasi Asertif)
2. Memulai suatu penelitian dengan ketenangan berfikir guna mengungkap apa yang sedang
diteliti.
3. Melakukan penelitian secara mendalam sampai pada aspek subyektif perilaku manusia,
sampai ke dalam dunia konseptual subjek sehingga mampu memahami makna bagaimana
dan apa yang terkonstruksi di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari dari
mereka yang diteliti.
4. Mempercayai adanya banyak cara dalam kehidupan manusia yang dapat digunakan untuk
menafsirkan pengalaman dari setiap individu melalui interaksinya dengan orang lain yang
akan menimbulkan makna atas pengalaman tersebut menjadi sebuah realita.
(baca: Konstruksi Realitas Sosial)
5. Dalam pendekatan ini penelitian kualitatif menggunakan pendekatan yang mana peneliti
menggunakan pandangan dari subjek yang ditelitinya.

Baca juga : Teori Fenomenologi –Teori Difusi Inovasi

B. Interaksi Simbolik
Interaksi simbolik merupakan suatu kerangka fenomenologi yang lebih baik dan terjabarkan atas
pokok-pokok pemikiran yang lebih kongkrit. Pokok – pokok pikiran pendekatan interaksi
simbolik adalah sebagai berikut:

1. Sesuai dengan dasar dan perspektif fenomenologis, dimana interaksi simbolis berasumsi
bahwa pengalaman manusia dijembatani oleh pemaknaan terhadap suatu peristiwa yang
dialami.
2. Manusia bertindak bukan atas dasar reaksi atau respon atas suatu yang ditetapkan
sebelumnya, melainkan merupakan interpretasi dan pendefisian yang hanya dapat
diketahui jika peneliti terlibat dalam proses interprestasi dan pendefinisian tersebut
melalui observasi partisipan.(baca juga: Literasi Media)
3. Interaksi bukan kegiatan yang terjadi begitu saja dan bukan pula kegiatan yang diataur
sedemikian rupa.
4. Interpretasi menjadi hal yang esensial dimana Interaksi simbolik menjadi paradigma yang
menjelaskan secara konseptual. (baca juga: Karakteristik Komunikasi Massa)
5. Teori dalam pendekatan ini bukanlah sebuah norma, aturan atau regulasi tertentu. Tetapi
bagaimana teori ini dapat didefinisikan dan dan digunakan dalam situasi dan kondisi yang
bersifat khusus.
6. Pendekatan ini juga memandang susunan diri sebagai hal yang penting.

Baca juga : Teori Konstruksi Sosial – Teori Interaksi Simbolik

C. Etnometodologi
Etnometodologi merupakan pendekatan yang lebih fokus pada bidang kajian yang diteliti atau
subjek matter. Bidang kajian etnometodelogi bukanlah suatu masyarakat yang khusus pada
peristiwa tertentu, melainkan orang-orang yang berada dalam berbagai situasi dan kondisi yang
ada dalam masyarakat.

Etnometodologi membahas berbagai hal untuk mengarti bagaimana dan apa yang manusia
kerjakan, bagaimana menusia melihat dan menelaskan suatu peristiwa, bagaimana
mendeskripsikan berbagai urutan dan golongan serta bagaimana tata tertib mengatur manusia
dalam dunia dan lingkungan serta sistem dimana manusia itu hidup.

Baca juga : Etnografi Komunikasi – Teori Semiotika Ferdinand De Saussure

Analisis dan Pengambilan Kesimpulan dalam Paradigma


Kualitatif
Terdapat beberapa cara untuk mengambil kesimpulan berdasarkan paradigma penelitian
kualitatif, diantaranya:

 Induksi analitis

Induksi analitis adalah satu pendekatan analisis dan pengolahan data yang mengelompokan
berbagai data tersebut ke dalam suatu konsep dan juga kategori tertentu. Dalam analisis ini data-
data kualitatif dikelompokan berdasarkan atas suatu konsep dan kategori tertentu yang diperoleh
berdasarkan data empiris dilapangan. (baca juga: Teori Komunikasi Antar Pribadi)

Dimana data-data tersebut dijabarkan bukan dalam bentu numerik melainkan dalam bentuk
deskripsi, yakni dengan cara merubah dan mengolah data ke formulasi tertentu berdasar teori
yang digunakan sehingga menjadi sebuah deskripsi atas suatu peristiwa atau realitas sosial yang
terjabarkan secara padat dan mudah dipahami.

 Ekstrapolasi

Ekstrapolasi merupakan cara analisis dan kesimpulan dengan cara melakukan simultan pada saat
proses induksi analitis. Analisis pengambilan kesimpulan pada pendekatan ini dilakukan secara
bertahap. Dalam hal ini mulai dari satu kasus ke kasus lainnya. Sehingga nantinya akan diperoleh
sebuah benang merah yang akan merujuak pada suatu teori tertentu. (baca: Pengantar Ilmu
Komunikasi)

Dari proses analisis tersebut akan diperoleh data akhir yang menunjukan suatu gejala atau
peristiwa tertentu yang nantinya menjadi suatu kesimpulan. Data akhir tersebutlah yang nantinya
menjadi sebuah kesimpulan dan dirumuskan serta dikaitkan dengan suatu pernyataan teoritis.

MAKALAH

PARADIGMA PENELITIAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian Kuantitatif

Yang di bimbing oleh Bpk. Dr. H. Mundir, M.Pd,


Oleh Kelompok 6:

Hikmatul Qomariyah (0841220)

Muhammad Sanusi ()

Ulva Nurmala Sari (084122069)

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER

MARET 2015

BAB II

PEMBAHASAN

A. Paradigma dalam Penelitian


Apabila seseorang melakukan penelitian, maka disadari atau tidak dia telah memiliki cara
memandang terhadap suatu obyek, masalah, atau peristiwa yang sedang diteliti. Di dalam dirinya
telah terbentuk suatu kepercayaan yang didasarkan pada asumsi – asumsi tertentu yang menurut
Guba (dalam Moleong, 2005: 48) dinamakan aksioma atau paradigma. Lalu apa yang dinamakan
paradigma ?1[1]

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962), dan kemudian
dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui
realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian
menghasilkan mode of knowing yang spesifik. Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs, sebagai
suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan
yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan
menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang
menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu
pengetahuan.2[2]

Moleong (2005:49) mendeskripsikan definisi paradigma dengan mengutip pendapat para


pakar. Menurut Bogdan dan Biklen (1982), paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi
yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan penelitian.
Harmon ( 1970), mendefinisikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berfikir,
menilai, dan melakukan yang terkait dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas. 3[3]

Paradigma penelitian merupakan dasar pijakan untuk mencermati hakikat fenomena atau
gejala alam semesta, yang dapat di pandang sebagai realitas tunggal, dan dapat pula dipandang
sebagai realitas ganda (jamak). Pandangan pertama mengembangkan pola pikir positivistik yang
melahirkan paradigma ilmiah yang lazim diikuti oleh penelitian kuantitatif. Sedangkan pandangan

1[1] Dr.H.Mundir,M.Pd. MetodePenelitian Kuantatif dan Kualitatif. 2013.STAIN Jember Press:Jember


(22)

2[2] http://gioakram13.blogspot.com. (09/03/2015: 09.37 PM)

3[3] Dr.H.Mundir,M.Pd. MetodePenelitian Kuantatif dan Kualitatif. 2013.STAIN Jember Press:Jember


(22)
kedua mengembangkan pola pikir fenomenologis dan melahirkan paradigma alamiah, yang lazim
diikuti oleh penelitian kualitatatif.

Licoln dan guba (dalam ratna, 2010:38, dan kasiram,2010:147) mendefinisikan paradigma
sebagai sistem anggapan dasar, pandang dunia yang mengarahkan penelitian dalam menentukan
metologi dan kerangka ontologisnya, paradigma adalah system kepercayaan/keyakinan dasar atau
pandangan dunia yang membimbing peneliti, tidak hanya dalam pilihan metode tetapi dalam aspek
ontologis dan epistimologis. Paradigma adalah system kepercayaan/keyakinan dasar yang didasarkan
pada asumsi-asumsi ontologis, epistimologis, dan metodologis.4[4]

Dengan demikian, menurut Lincoln dan Guba, sebuah paradigma penelitian harus memuat
tiga elemen pokok, ontologis, epistimologis, dan metodologis, peneliti akan menentukan sikap dan
perlakuan terhadap sebuah gejala atau fakta dari fenomena, peristiwa atau masalah (kasiram,
2010:147). Apabila peneliti memperlakukan sebuah gejala atau peristiwa tersebut sebagai gejala
ganda, jamak, atau bahkan sebagai rangkaian kausalitas, lalu mengukurnya, menghitung, dan
memberi skor padanya, atau bahkan menguji hipotesis yang dirumuskannya, maka penelitian
kuantitatiflah yang tepat dijadikan sebagai model penelitian. Sementara itu apabila ia ingin
memperlakukannya sebagai gejala tunggal, ingin menggali lebih dalam makna yang tersembunyi di
balik gejala atau peristiwa tersebut, maka penelitian kuantitatiflah yang tepat dijadikan sebagai
model penelitian.

B. Konsekwensi Metodologis
Perlakuan peneliti terhadap sebuah gejala atau fenomena sebagai dampak dari paradigma
yang dipilih akan berdampak secara metodologis terhadap pendekatan (rancangan) penelitian,
pendekatan (rancangan) penelitian akan berdampak pada metodologi penelitian.

Pada sub bab sebelumnya telah dijelaskan tentang pengertian paradigma penelitian, yaitu
system anggapan dasar, pandangan dunia yang mengarahkan peneliti dalam menentukan metodologi

4[4] Dr.H.Mundir,M.Pd. MetodePenelitian Kuantatif dan Kualitatif. 2013.STAIN Jember Press:Jember


(22-23)
dan kerangka ontologisnya, yaitu bagaimana peneliti melihat hakikat fenomena yang di hadapi,
apakah fenomena itu dipandang sebagai realitas tunggal atau sebagai realitas ganda.5[5]

Konsekwensi dari kedua pandangan tersebut berbeda satu sama lain. Apabila realitas, maka
realitas itu dipandang sebagai realitas tunggal, maka realitas itu bisa dipisahkan dengan realitas yang
lain dan dengan demikian masing – masing dapat diteliti sendiri – sendiri secara konkrit dan obyektif.
Untuk itu diperlukan pola pikir yang cocok yakni logika berpikir positivistik.

Demikian juga apabila realitas itu dipandang sebagai realita ganda, maka realitas itu tidak bisa
dibagi – bagi menjadi bagian – bagian yang terpisah satu sama lain, akan tetapi harus diberlakukan
sebagai suatu kebulatan, yang utuh, yang holistic, seperti yang berjalan secara alamiah, tanpa
rekayasa. Untuk itu diperlukan juga pola pikir yang cocok yaitu pola pikir fenomenologis. Pola pikir
yang dipilih ini kemudian menjadi dasar pendekatan epistemology dari ilmu yang di kembangkan.6[6]

Paradigma ini berdampak pada jenis pendekatan, yaitu cara mendekati objek sehingga karya
budaya, sebagai struktur makna, dapat diungkap secara jelas. Kata lain yang sepadan dengan
pendekatan adalah kata penghampiran, perspektif, titik pijak, dimensi, dan kaca mata (Ratna, 2010:
45). Pendekatan pada akhirnya berdampak pada metodologi. Metodologi yang dimaksud bukan
sekedar ilmu tentang metode, melainkan sebuah prosedur ilmiah yang didalamnya termasuk
pembentukan konsep, proposisi, model, hipotesis, teori, dan termasuk metode itu sendiri (Ratna,
2010:41).

Paradigma memang banyak, namun yang mendominasi dalam ilmu pengetahuan ada dua,
yaitu paradigma ilmiah (scientific paradigm) dan paradigma alamiah (naturalistic paradigma)
(Moleong, 2005:50). Paradigma ilmiah lazim digunakan oleh peneliti yang bertujuan ingin menguji
hipotesis, sedangkan paradigma alamiah lazim digunakan oleh peneliti yang bertujuan untuk
memahami sebuah fakta atau fenomena secara mendalam, bahkan bila mungkin sampai menemukan
makna dibalik fakta atau fenomena tersebut. Tujuan yang telah dirumuskan oleh peneliti, baik dalam
penelitian penelitian kuantitatif maupun kualitatif, akan lebih jelas apabila didasari oleh pengetahuan

5[5] Dr.H.Mundir,M.Pd. MetodePenelitian Kuantatif dan Kualitatif. 2013.STAIN Jember Press:Jember


(23)

6[6] Prof.H.Moh.Kasiram, M.Sc. Metodologi Penelitian. 2008.UIN MALIKI PRESS:Malang (51)


tentang perbedaan aksioma (yaitu suatu pernyataan yang diterima sebagai kebenaran dan bersifat
umum, tanpa memerlukan pembuktian) antara paradigma ilmiah dan paradigma alamiah. 7[7]

1. Paradigma kuantitatif:
Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan
filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik
dari realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-
kadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan
Idealisme).8[8]

Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang


valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada
pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar
(reason). Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber
pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang
dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). Hal ini sekaligus mengindikasikan,
bahwa secara ontologis, obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan
umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang dimaksud dengan
fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external
appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang
diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi
dan observasi.

Bagaimana pandangan penganut kuantitatif tentang fakta? Dalam penelitian kuantitatif


diyakini sejumlah asumsi sebagai dasar otologisnya dalam melihat fakta atau gejala. Asumsi-asumsi
dimaksud adalah; (1) obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk,
struktur, sifat maupun dimensi lainnya; (2) suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan
dalam jangka waktu tertentu; dan (3) suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat
kebetulan, melainkan merupakan akibat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jadi diyakini
adanya determinisme atau proses sebab-akibat (causalitas).

7[7] Dr.H.Mundir,M.Pd. MetodePenelitian Kuantatif dan Kualitatif. 2013.STAIN Jember Press:Jember


(24)

8[8] http://gioakram13.blogspot.com (09/03/2015: 09.37 PM)


Sejalan dengan penjelasan di atas, secara epistemologi, paradigma kuantitatif berpandangan
bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional data empiris. Karena itu, ukuran
kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Koheren besarti sesuai dengan teori-teori
terdahulu, serta korespondens berarti sesuai dengan kenyataan empiris. 9[9]

Dalam penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek penelitian diarahkan pada variabel-
variabel tertentu saja yang dinilai paling relevan. Jadi, di sini paradigma kuantitatif cenderung pada
pendekatan partikularistis.

Lebih khusus mengenai metode analisis dan prinsip pengambilan kesimpulan, Julia Brannen,
ketika menjelaskan paradigma kuantitatif dan kualitatif, mengungkap paradigma penelitian kuantitaif
dari dua aspek penting, yaitu: bahwa penelitian kuantitatif menggunakan enumerative induction dan
cenderung membuat generalisasi (generalization). Penekanan analisis data dari pendekatan
enumerative induction adalah perhitungan secara kuantitatif, mulai dari frekuensi sampai analisa
statistik. Selanjutnya pada dasarnya generalisasi adalah pemberlakuan hasil temuan dari sampel
terhadap semua populasi, tetapi karena dalam paradigma kuantitatif terdapat asumsi
mengenai adanya “keserupaan” antara obyek-obyek tertentu, maka generalisasi juga dapat
didefinisikan sebagai universalisasi.

2. Paradigma Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia
sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat
fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber
(1864-1920) ke dalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan
tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial. Dalam pandangan
Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekwensi-konsekwensi dari sejumlah
pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian,
batasan-batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk
tingkah laku yang terkspresi secara eksplisit.10[10]

9[9] http://gioakram13.blogspot.com (09/03/2015: 09.37 PM)

10[10] http://gioakram13.blogspot.com (09/03/2015: 09.37 PM)


Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif, seperti Fenomenologi,
Interaksionisme simbolik, dan Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki
perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemuan mereka, yaitu
pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subyek yang mempunyai kebebasan
menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku.

Bertolak dari proposisi di atas, secara ontologis, paradigma kualitatif berpandangan bahwa
fenomena sosial, budaya dan tingkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang tampak
secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya.

Paradigma kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Keteraturan


itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu, bukan
menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan teori yang ada. Atas dasar itu,
pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari
kancah – bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya, secara epistemologis, paradigma
kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori
yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi.

Dalam penelitian kualitatif, ‘proses’ penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting
dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh. Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data
merupakan satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti alam proses pengumpulan datalah
hasil penelitian dapat dipertanggungjawakan.11[11]

Khusus dalam proses analisis dan pengambilan kesimpulan, paradigma kualitatif


menggunakan induksi analitis (analytic induction) dan ekstrapolasi (extrpolation). Induksi analitis
adalah satu pendekatan pengolahan data ke dalam konsep-konsep dan kateori-kategori (bukan
frekuensi). Jadi simbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numerik, melainkan dalam bentuk
deskripsi, yang ditempuh dengan cara merubah data ke formulasi. Sedangkan ekstrapolasi adalah
suatu cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan simultan pada saat proses induksi analitis dan
dilakukan secara bertahap dari satu kasus ke kasus lainnya, kemudian –dari proses analisis itu--
dirumuskan suatu pernyataan teoritis.

3. Perbedaan Paradigma Kuantitatif-Kualitatif

11[11] http://gioakram13.blogspot.com (09/03/2015: 09.37 PM)


Bertolak dari perbedaan-perbedaan disebut di atas, dapat dicatat berbagai perbedaan
paradigma yang cukup signifikan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Seperti dikemukakan
sebelumnya, penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigmatik dengan penelitian kualitatif.
Secara garis besar, perbedaan dimaksud mencakup beberapa hal:

a) Kuantitatif

 1. Positivistik
 2. Deduktif-Hipotetis
 3. Partikularistik
 4. Obyektif
 5. Berorientasi kpd hasil
 6. Menggunakan pandangan ilmu pengetahuan alam

b) KUALITATIF

 1. Fenomenologik
 2. Induktif
 3. Holistik
 4. Subyektif
 5. Berorientasi kpd proses
 6. Menggunakan pandangan ilmu sosial/antropological12[12]

Lebih lanjut perbedaan paradigma kedua jenis penelitian ini dapat dielaborasi sebagai berikut:
c) Paradigma Kuantitatif

1. Cenderung menggunakan metode kuantitatif, dalam pengumpulan dan analisa data, termasuk
dalam penarikan sampel.
2. Lebih menenkankan pada proses berpikir positivisme-logis, yaitu suatu cara berpikir yang
ingin menemukan fakta atau sebab dari sesuatu kejadian dengan mengesampingkan keadaan
subyektif dari individu di dalamnya.

12[12] http://gioakram13.blogspot.com (09/03/2015: 09.37 PM)


3. Peneliti cenderung ingin menegakkan obyektifitas yang tinggi, sehingga dalam pendekatannya
menggunakan pengaturan-pengaturan secara ketat (obstrusive) dan berusaha mengendalikan
stuasi (controlled).
4. Peneliti berusaha menjaga jarak dari situasi yang diteliti, sehingga peneliti tetap berposisi
sebagai orang “luar” dari obyek penelitiannya.
5. Bertujuan untuk menguji suatu teori/pendapat untuk mendapatkan kesimpulan umum
(generasilisasi) dari sampel yang ditetapkan.
6. Berorientasi pada hasil, yang berarti juga kegiatan pengumpulan data lebih dipercayakan
pada intrumen (termasuk pengumpul data lapangan).
7. Keriteria data/informasi lebih ditekankan pada segi realibilitas dan biasanya cenderung
mengambil data konkrit (hard fact).
8. Walaupun data diambil dari wakil populasi (sampel), namun selalu ditekankan pada
pembuatan generalisasi.
9. Fokus yang diteliti sangat spesifik (particularistik) berupa variabel-variabel tertentu saja. Jadi
tidak bersifat holistik. 13[13]

d) Paradigma Kualitatif

1. Cenderung menggunakan metode kualitatif, baik dalam pengumpulan maupun dalam proses
analisisnya.
2. Lebih mementingkan penghayat-an dan pengertian dalam menangkap gejala (fenomenologis).
3. Pendekatannya wajar, dengan menggunakan pengamatan yang bebas (tanpa pengaturan yang
ketat).
4. Lebih mendekatkan diri pada situasi dan kondisi yang ada pada sumber data, dengan
berusaha menempatkan diri serta berpikir dari sudut pandang “orang dalam”.
5. Bertujuan untuk menemukan teori dari lapangan secara deskriptif dengan menggunakan
metode berpikir induktif. Jadi bukan untuk menguji teori atau hipotesis.
6. Berorientasi pada proses, dengan mengandalkan diri peneliti sebagai instrumen utama. Hal ini
dinilai cukup penting karena dalam proses itu sendiri dapat sekaligus terjadi kegiatan analisis,
dan pengambilan keputusan.

13[13] http://gioakram13.blogspot.com (09/03/2015: 09.37 PM)


7. Keriteria data/informasi lebih menekankan pada segi validitasnya, yang tidak saja mencakup
fakta konkrit saja melainkan juga informasi simbolik atau abstrak.
8. Ruang lingkup penelitian lebih dibatasi pada kasus-kasus singular, sehingga tekannya bukan
pada segi generalisasinya melainkan pada segi otensitasnya.
9. Fokus penelitian bersifat holistik,meliputi aspek yang cukup luas (tidak dibatasi pada variabel
tertentu).14[14]

C. Kerangka Berfikir kualitatif dan Kuantitatif15[15]


Menurut Servaes (1993), kerangka berpikir merupakan frame of meaning. Menurut Guba
(1994), kerangka berpikir ialah a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimates or first
principles... a word of view that defines, for its holder, the nature of world . Singkatnya, kerangka
berpikir merupakan sudut pandang atau kerangka makna yang berisi landasan filosofis (ontologis,
epistemologis, dan aksiologis) terhadap suatu realitas.

Kerangka berfikir adalah titik tolak berfikir logika penelitian yang anggapan dasarnya diterima
oleh peneliti. Kerangka berfikir merupakan pijakan atau dasar dalam menyelesaikan masalah yang
akan diteliti. Seorang peneliti harus melakukan berbagai kegiatan sebelum menentukan kerangka
berfikir, seperti banyak membaca buku atau literature yang relevan, banyak mendengarkan berita-
berita yang mendukung abstraksi bagi perbendaharaannya. Jadi kerangka berfikir yang baik harus
didukung dengan studi pustaka untuk menguatkan teori yang mendukung penyelesaian masalah
dalam penelitian.16[16]

Kerangka berpikir kualitatif memandang bahwa empiris itu dikonstruksi secara sosial,
yakni berdasarkan kesepakatan (lihat Berger & Luckmann, 1966). Sementara itu, metode ialah
implementasi operasional dari epistemologis. Dalam tradisi penelitian kualitatif, seringkali kedua
hal tersebut tak dibedakan secara tegas dan hanya disebut sebagai metode penelitian
kualitatif.17[17]

14[14] http://gioakram13.blogspot.com (09/03/2015: 09.37 PM)

15[15] http://www.binasyifa.com/ (10/03/2015: 06.34 AM)

16[16]Drs. H. Subana, M.Pd. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. 2001.CV Pustaka Setia:Bandungr (73)

17[17] Drs. H. Subana, M.Pd. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. 2001.CV Pustaka Setia:Bandungr (15)
Jadi, jika disebut metode menelitian (riset) kualitatif, sebenarnya mencakup sebuah cara
pandang atau pemaknaan terhadap empiris yang dikonstruksi secara sosial berdasarkan kesepakatan
subjektif. Oleh sebab itu, "objektivitas” hasil riset kualitatif bergantung pada nilai subjektivitas orang
yang mengkonstruksi realitas.

Kualitatif sebagai sifat data seringkali disebut data kualitatif yang hakikatnya berisi
uraian, narasi, atau pelukisan yang hampir terhindar dari jumlah-kali-bagi, frekuensi atau
persentase. Sebagai sebuah bandingan dengan data kuantitatif yang menunjukkan data statistik
jumlah, persen, atau frekuensi.

Dalam suatu realitas, penelitian kualitatif ini melihat suatu objek atau empiris itu sebagai
sesuatu yang dinamis, hasil konstruksi pemikiran dan interprestasi terhadap gejala yang diamati,
serta utuh sebab setiap aspek dari objek itu mempunyai satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Di dalam penelitian kualitatif, seorang peneliti itu sebagai human instrument dan dengan
teknik pengumpulan data observasi berperan serta, dan wawancara mendalam, maka peneliti
harus berinteraksi dengan sumber data. Dengan begitu, peneliti kualitatif harus mengenal betul
orang yang memberikan data.

Selain itu, metode penelitian kualitatif dalam melihat interaksi antar variabel pada objek
yang diteliti lebih bersifat interaktif, yaitu saling mempengaruhi, sehingga tak diketahui mana
variabel inpedennya dan dependennya.

Kerangka berpikir atau kerangka pemikiran dalam sebuah penelitian kuantitatif, sangat
menentukan kejelasan dan validitas proses penelitian secara keseluruhan. Melalui uraian dalam
kerangka berpikir, peneliti dapat menjelaskan secara komprehensif variabel-variabel apa saja
yang diteliti dan dari teori apa variabel-variabel itu diturunkan, serta mengapa variabel-variabel
itu saja yang diteliti. Uraian dalam kerangka berpikir harus mampu menjelaskan dan menegaskan
secara komprehensif asal-usul variabel yang diteliti, sehingga variabel-variabel yang tercatum di
dalam rumusan masalah dan identifikasi masalah semakin jelas asal-usulnya.

Pada dasarnya esensi kerangka pemikiran berisi: (1) Alur jalan pikiran secara logis dalam
menjawab masalah yang didasarkan pada landasan teoretik dan atau hasil penelitian yang relevan. (2)
Kerangka logika (logical construct) yang mampu menunjukan dan menjelaskan masalah yang telah
dirumuskan dalam kerangka teori. (3) Model penelitian yang dapat disajikan secara skematis dalam
bentuk gambar atau model matematis yang menyatakan hubungan-hubungan variabel penelitian
atau merupakan rangkuman dari kerangka pemikiran yang digambarkan dalam suatu model. Sehingga
pada akhir kerangka pemikiran ini terbentuklah hipotesis.

Dengan demikian, uraian atau paparan yang harus dilakukan dalam kerangka berpikir adalah
perpaduan antara asumsi-asumsi teoretis dan asumsi-asumsi logika dalam menjelaskan atau
memunculkan variabel-variabel yang diteliti serta bagaimana kaitan di antara variabel-variabel
tersebut, ketika dihadapkan pada kepentingan untuk mengungkapkan fenomena atau masalah yang
diteliti.18[18]

18[18] http://sambas.staf.upi.edu (10/03/2015 : 3.01 PM)