Anda di halaman 1dari 16

SISTEM RUJUKAN KASUS GINEKOLOGI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada


mata kuliah : Obstetri dan Ginekologi

Disusun Oleh : Kelompok 4


1. Devi Nurindah Sari 16113005
2. Firda Ananda Sari 16113013
3. Grace Putri Clarita Karo-Karo 16113016
4. Resty Nipaladewi 16113026

PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN


STIKes Mitra RIA Husada
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang
berjudul “ Sistem Rujukan Kasus Ginekologi “.
Penulisan Makalah bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata
kuliah Obstetri dan Ginekologi.
Penyelesaian makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak baik secara
langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih
kepada rekan-rekan mahasiswa yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Semoga
makalah ini dapat memberikan pengetahuan pada kita semua serta memberikan
manfaat dan berguna di masa yang akan datang.

Jakarta, 17 November 2017


Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. 2


DAFTAR ISI............................................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 4
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................. 4
1.3 Tujuan ...................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................... 5
2.1 Melakukan Sistem Rujukan Kasus Ginekologi.......................................................... 5
2.1.1 Pengertian dan Jenis Sistem Rujukan ................................................................. 5
2.1.2 Indikasi, Tujuan, dan Keuntungan Sistem Rujukan .......................................... 6
2.2 Sistem Rujukan Kasus Ginekologi ............................................................................. 7
2.3 Prinsip Penanganan Penyakit Menular ...................................................................... 8
2.3.1 Penanganan Awal................................................................................................... 8
2.3.2 Penanganan Khusus............................................................................................. 10
2.4 Rujukan Ginekologi ................................................................................................... 11
2.5 Cara Merujuk Kasus-Kasus Ginekologi .................................................................. 12
BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 15
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas
pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab
secara timbal balik atas masalah yang timbul baik secara vertikal (komunikasi
antara unit yang sederajat) maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi
ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau,
rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi.
Tujuan umum sistem rujukan adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan
efisiensi pelayanan kesehatan secara terpadu. Tujuan khusus sistem rujukan
adalah :

 Setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-


baiknya.
 Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan
laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap
fasilitasnya.
 Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (transfer of
knowledge and skill) melalui pendidikan dan pelatihan antara pusat dan
daerah.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan sistem rujukan kasus ginekologi?
1.2.2 Apa tujuan dari sistem rujukan?
1.2.3 Bagaimana prinsip penanganan penyakit menular?
1.2.4 Bagaimana asuhan bidan dalam rujukan kasus ginekologi?
1.2.5 Bagaimana cara merujuk kasus-kasus ginekologi?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain :
1.3.1 Mengetahui apa itu sistem rujukan kasus ginekologi
1.3.2 Mengetahui tujuan dari sistem rujukan
1.3.3 Mengetahui prinsip penanganan penyakit menular
1.3.4 Mengetahui asuhan bidan dalam rujukan kasus ginekologi
1.3.5 Mengetahui cara merujuk kasus-kasus ginekologi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Melakukan Sistem Rujukan Kasus Ginekologi
2.1.1 Pengertian dan Jenis Sistem Rujukan
Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas
kasus atau masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal (dari satu unit
ke unit yang lebih lengkap/rumah sakit) untuk horisontal (dari satu bagian lain
dalam satu unit). (Muchtar, 1997).
Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan
fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan
tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang timbul baik secara
vertikal (komunikasi antara unit yang sederajat) maupun horizontal
(komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas
pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi oleh
wilayah administrasi. (Kebidanan Komunitas : hal 207)
Rujukan Pelayanan Kebidanan adalah pelayanan yang dilakukan oleh
bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau
sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima
rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan yang dilakukan
oleh bidan ke tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan atau fasilitas
kesehatan lain secara horizontal maupun vertikal.
Terdapat dua jenis istilah rujukan, yaitu rujukan medik dan rujukan
kesehatan.
1. Rujukan medic, yaitu pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas
satu kasus yang timbul secara vertikal maupun horizontal kepada yang lebih
berwenang dan mampu menanganinya secara rasional. Jenis rujukan medic :
a) Transfer of Patient. Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik,
pengobatan, tindakan operatif dll.
b) Transfer of Specimen. Pengiriman bahan (specimen) untuk pemeriksaan
laboratorium yang lebih lengkap.
c)Transfer of Knowledge / Personal. Pengiriman tenaga yang lebih
kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu layanan pengobatan setempat
2. Rujukan kesehatan, yaitu hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan
atau specimen ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan
yang menyangkut masalah kesehatan yang sifatnya preventif dan promotif.
Kegiatan :
1. Rujukan dan pelayanan kebidanan
2. Pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang lebih
lengkap
3. Rujukan khusus patologis pada kehamilan, persalinan, dan nifas.
4. Pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus
ginekologi atau kontrasepsi, yang memerlukan penanganan spesialis.
5. Pengiriman bahan laboratorium.
6. Jika penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan
dan kirimkan ke unit semula, jika perlu disertai dengan keterangan yang lengkap
(surat balasan).
Tata laksana rujukan :
1. Internal antar - petugas di satu rumah
2. Antara puskesmas pembantu dan puskesmas
3. Antara masyarakat dan puskesmas
4. Antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya
5. Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya
6. Internal antar – bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit
7. Antar rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan lain dari rumah sakit

2.1.2 Indikasi, Tujuan, dan Keuntungan Sistem Rujukan


 Indikasi perujukan ibu :
a. Riwayat seksio sesaria
b. Perdarahan pervaginam
c. Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
d. Ketuban pecah dengan mekonium yang kental
e. Ketuban pecah lama (kurang lebih 24jam)
f. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan
g. Ikterus
h. Anemia berat
i. Tanda/gejala infeksi
j. Preeklamsia/hipertensi dalam kehamilan
k. Tinggi fundus 40cm atau lebih
l. Gawat janin
m. Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5
n. Presentasi bukan belakang kepala
o. Kehamilan gemeli
p. Presentasi majemuk
q. Tali pusat menumbung
r. Syok

 Tujuan Sistem Rujukan


Tujuan umum sistem rujukan adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan
efisiensi pelayanan kesehatan secara terpadu. Tujuan khusus sistem rujukan adalah:
a. Setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-baiknya.
b. Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan
laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap
fasilitasnya.
c. Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge
and skill) melalui pendidikan dan pelatihan antara pusat dan daerah.

 Keuntungan sistem rujukan, antara lain :


a. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa
pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah, dan secara psikologis
memberi rasa aman pada pasien dan keluarganya.
b. Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan
keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga semakin banyak
kasus yang dapat dikelola di daerah masing-masing.
c. Masyarakat desa dapat menikmati tenaga ahli.

2.2 Sistem Rujukan Kasus Ginekologi


Sistem rujukan kasus ginekologi meliputi :
a. Stabilisasi Klien
Merupakan hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pelayanan kasus
ginekologi yang akan dirujuk, misalnya : pemberian oksigen, pemberian cairan infus
atau transfusi darah, dan pemberian obat-obatan (antibiotik, analgetik, dll).
b. Persiapan Administrasi
Memberikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus berisi identifikasi mengenai
klien. Cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-
obatan yang diterima klien tersebut. Sertakan juga kartu klien atau status yang dipakai
untuk membuat keputusan klinik.
c. Melibatkan Keluarga
Beritahukan keluarga kondisi terakhir klien dan jelaskan pada mereka alasan atau
tujuan merujuk klien dirujuk ke fasilitas rujukan tersebut. Anggota keluarga harus
menemani klien ke tempat rujukan.
d. Persiapan Keuangan
Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk
membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang
diperlukan selama klien tersebut tinggal di fasilitas rujukan.
e. Organisasi antara pengirim dan penerima rujukan
Hubungan kerjasama antara petugas yang merujuk dan petugas di tempat
rujukan. Petugas yang merujuk perlu menghubungi petugas di tempat rujukan untuk
menyampaikan informasi mengenai kondisi klien. Dengan adanya informasi tersebut,
petugas di tempat rujukan mempunyai cukup waktu untuk menyiapkan segala
kebutuhan, sehingga kasus rujukan langsung dapat ditangani. Setiap tempat rujukan
harus selalu siaga 24 jam untuk menerima kasus rujukan.
Umpan balik rujukan dan tindak lanjut kasus pasca rujukan. Tempat rujukan
mengirim umpan balik mengenai keadaan klien beserta anjuran tindak lanjut pasca
rujukan terhadap klien ke petugas yang merujuk (puskesmas/polindes).

2.3 Prinsip Penanganan Penyakit Menular


Penyakit menular seksual merupakan penyakit yang ditakuti oleh setiap orang.
Angka kejadian penyakit ini termasuk tinggi di Indonesia. Kelompok resiko yang
rentan terinfeksi tentunya adalah seseorang yang sering “jajan” alias punya kebiasaan
perilaku yang tidak sehat. Prinsip penanganan penyakit menular meliputi 2 hal, yaitu
penanganan awal dan penanganan khusus.

2.3.1 Penanganan Awal


 Memutuskan rantai penularan infeksi PMS
 Mencegah berkembangnya PMS serta komplikasi-komplikasinya
Usaha-usaha pencegahan dan tindakan efektif terhadap penyebaran penyakit
menular dapat dilakukan antara lain:

 Kontrol terhadap sumber atau reservoir infeksi


Kasus atau karier penyakit yang merupakan sumber utama infeksi dapat di kontrol
dengan cara:
a. Diagnosis dini
Mendeteksi secara dini penyakit yang terjadi di masyarakat agar cepat
diobatin dan tidak menjadi kronis dan menular.
b. Notifikasi
Setiap kasus penyakit menular yang telah di deteksi perlu segera di laporkan
pada dinas kesehatan setempat agar dapat ditanggulangi dan melakukan persiapan
lain yang di perlukan untuk penanganan medis lebih lanjut.
c. Isolasi
Isolasi penderita bertujuan membatasi penyebaran penyakit ke masyarakat
seperti avian influenza dan lainnya.
d. Terapi
Merupakan bagian dari tindakan preventif yang bertujuan mengurangi periode
masa penularan dan hari kesakitan.
e. Karantina
Berupa isolasi orang sehat atau binatang yang berasal dari yang diduga
menderita penyakit infeksi, lama waktu isolasi biasanya dengan masa inkubasi
penyakit ada.
f. Surveilans epidemologi
Berupa penelitian atau survei di lapangan terhadap segala sesuatu diduga
penyebab terjadinya penyakit.
g. Desinfeksi
Melakukan suci hama pada tinja,urin,muntahan pasien serta peralatan yang
telah di pakai oleh penderita

 Memutuskan rantai penularan


Penularan penyakit dari orang sakit kepada orang lain dapat melalui beberapa
jalan. Untuk mencegah terjadinya penularan dapat dengan cara melakukan
blokade atau memutus rantai penularan.
a. Vehicle transmission
Penularan terjadi melalui media seperti air, makanan, sayuran, susu dan
lainnya.Usaha pencegahan yang dapat di lakukan berupa barier sanitasi yaitu
mencegah sumber air, makanan, susu dan lainnya terkontaminasi dengan tinja
penderita.
b. Vector transmission
Penularan terjadi melalui vektor penyakit atau arthropoda. Usaha yang dapat
dilakukan berupa kontrol vektor dan manipulasi lingkungan.
c. Airborne transmission
Penularan terjadi melalui udara pernafasan. Usaha yang dapat dilakukan
adalah dengan memakai masker, menjauhi atau isolasi penderita.
d. Contact transmission
Penularan terjadi melalui kontak intim. Usaha yang dapat dilakukan adalah
dengan tidak berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom.

 Proteksi pada kelompok penduduk yang rentan


a. Imunisasi aktif
Pemberian imunisasi aktif pada bayi yang sensitif terhadap penyakit menular
seperti TBC, campak, difteri, pertusis dan tetanus.
b. Imunisasi pasif
Pemberian gamma globulin dan antisera yang bertujuan untuk merangsang
pembentukan antibodi.
c. Kemoprofilaksis
Pemberian obat-obat untuk pencegahan agar orang tidak menjadi sakit, seperti
obat anti malaria, TBC dan lainnya.
d. Pendidikan Kesehatan
Higiene pribadi, sadar lingkungan dan lainnya.

2.3.2 Penanganan Khusus


a. Tidak melakukan hubungan seksual, tidak berganti-ganti pasangan,
menggunakan kondom setiap hubungan.
b. Menghindari transfusi darah dengan donor yang tidak jelas asal-usulnya.
c. Kebiasaan menggunakan alat kedokteran maupun non medis yang tidak steril.
Yang lebih penting dari semua itu adalah menjaga nilai-nilai moral, agama, nilai
etika dan norma kehidupan bermasyarakat karena dengan moral dan etika yang baik
kita akan terhindar dari gangguan atau penyakit yang akan membawa kita dalam
masalah serius.

2.4 Rujukan Ginekologi


Dalam rujukan terhadap kelainan ginekologi, asuhan yang diberikan oleh
Bidan, antara lain :

 Anamnesa
Pada anamnesa hal-hal yang perlu ditanyakan :
a. Riwayat Kesehatan
Ini berhubungan dengan kebudayaan, ras, dan umur, ini berguna untuk membantu
bidan mengkaji kelompok resiko terjadinya penyakit-penyakit gangguan system
reproduksi.Kebudayaan kepercayaan/agama sangat mempengaruhi perilaku seseorang
dalam hal seksualitas, jumlah pasangan. Penggunaan kontrasepsi dan prosedur
spesifik terhadap mengakhiri kehamilan. Kebiasaan sehat pasien seperti : diet, tidur
dan latihan penting untuk dikaji. Pentingnya juga ditentukan apakah pasien peminum
alcohol, perokok dan menggunakan obat-obatan.
b. Status Sosial Ekonomi
Yang perlu dikaji : tempat lahir, lingkungan, posisi dalam keluarga, pendidikan,
pekerjaan, status perkawinan, situasi financial, sumber stress, agama, aktivitas-
aktivitas yang menyenangkan akan mempengaruhi kesehatan reproduksi.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Meliputi keluhan utama, misalnya : nyeri, perdarahan, pengeluaran cairan/secret
melalui vagina, ada masa keluhan.
d. Fungsi Reproduksi
Nyeri yang berhubungan dengan gangguan sistem reproduksi hampir sama
dengan nyeri pada gangguan pada system gastrointestinal dan perkemihan pasien
harus menguraikan tentang : nyeri, intensitas kapan dan dimana kesediaannya,
durasi dan menyebabkan nyeri bertambah dan berkurang, hubungan nyeri dan
menstruasi, seksual fungsi urinaris dan gastrointestinal.
Perdarahan perlu dikaji ke dalam perdarahan abnormal seperti : perdarahan
pada saat kehamilan dan setelah menopause, karakteristik perdarahan abnormal
harus dikaji mencakup : terjadinya durasi, interval, dan faktor-faktor pencetus
perdarahan. Kapan kejadiannya : pada siklus menstruasi atau menopause, setelah
berhubungan seksual, trauma atau setelah aktivitas juga dikaji jumlah darah,
warna konsistensi dan perubahan-perubahan yang terjadi.
Pengeluaran cairan melalui vagina dapat menyebabkan infeksi berair di
sekitarnya jaringan, gatal, nyeri, selanjutnya timbul rasa malu dan cemas. Perawat
harus menanyakan tentang jumlah, warna, konsistensi, bau dan pengeluaran terus
menerus. Gejalanya seperti luka, perdarahan, gatal, dan nyeri pada genital.

 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan ini mencakup :
a. Pemeriksaan fisik umum yaitu : tinggi badan, berat badan, bentuk/postur
tubuh, system pernafasan, kardiovaskuler, tingkat kesadaran.
b. Pemeriksaan spesifik yaitu :
- Pemeriksaan Payudara
Pemeriksaan inspeksi payudara dilakukan pada pasien dengan posisi
duduk. Hal yang diperiksa : ukuran, simetris, apakah ada pembengkakan,
masa retraksi, jaringan parut/bekas luka,kondisi putting susu.
- Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan abdomen untuk mengetahui adanya masa
abdominopelvic. Massa yang dapat ditemukan pada organ reproduksi,
sehingga perlu dikombinasikan riwayat kesehatan.
- Pemeriksaan Genetalia Eksternal
Bertujuan mengkaji kesesuaian umur dengan perkembangan system
reproduksi. Posisi pasien saat pemeriksaan genetalia eksternal adalah litotomi.
Kaji kondisi rambut pada simpisis pubis dan vulva, kulit dan mukosa
vulva dari anterior ke posterior hal yang dikaji mencakup adanya tanda-tanda
peradangan, bengkak, lesi dan pengeluarn cairan dari vagina.
- Pemeriksaan Pelvic
Pemeriksaan dalam pada vagina dan serviks, pertama kali dilakukan
secara manual dengan jari telunjuk, untuk menentukan lokasi serviks.
Lakukan inspeksi serviks, erosi, nodul, massa, cairan pervaginam dan
perdarahan, juga lesi atau luka.

2.5 Cara Merujuk Kasus-Kasus Ginekologi


Dalam merujuk kasus-kasus ginekologi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yaitu Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraaan, dan Uang (BAKSOKU).
Yang dimaksud dengan BAKSOKU yaitu :

 B (Bidan)
Pastikan ibu/klien/bayi didampingi oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan
memiliki kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan.

 A ( Alat)
Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan, seperti spuit, infuse set,
tensimeter, dan stetoskop.

 K (Keluarga)
Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien) dan alasan mengapa ia dirujuk.
Suami dan anggota keluarga lain harus menemani ibu (klien) ketempat rujukan.

 S (Surat)
Beri surat ketempat rujukan yang berisi identifikasi ibu (klien), alasan rujukan, uraian
hasil rujukan, asuhan atau obat-obatan yang telah diterima oleh ibu (klien).

 O (Obat)
Bawa obat-obat esensial diperlukan selama perjalan merujuk.

 K (Kendaraan)
Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan ibu dalam kondisi yang
nyaman dan dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu yang cepat.

 U (Uang)
Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli
obat dan bahan kesehatan yang di perlukan di tempat rujukan.
Langkah Langkah Rujukan Dalam Pelayanan Kebidanan
1. Menentukan kegawatdaruratan penderita
a. Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan penderita yang
tidak dapat ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka
segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat, oleh karena
itu mereka belum tentu dapat menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan.
b. Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas. Tenaga
kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus
dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai
dengan wewenang dan tanggungjawabnya, mereka harus menentukan
kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus
dirujuk.
2. Menentukan Tempat Rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang
mempunyai kewenangan dan terdekat termasuk fasilitas pelayanan swasta
dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita.
3. Memberikan Informasi Kepada Penderita dan Keluarga
Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarga. Jika perlu dirujuk,
siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan, perawatan dan
hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke
fasilitas rujukan. Jika ibu tidak siap dengan rujukan, lakukan konseling
terhadap ibu dan keluarga tentang rencana tersebut. Bantu mereka membuat
rencana rujukan pada saat awal persalinan.
4. Mengirimkan Informasi pada Tempat Rujukan yang Dituju
a. Memberitahukan bahwa akan ada tempat rujukan yang dituju
b. Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan
selama dalam perjalanan ke tempat tujuan.
c. Menerima petunjuk dan cara penanganan untuk menolong penderita bila
penderita tidak mungkin dikirim.

5. Persiapan Penderita
6. Pengiriman Penderita
7. Tindakan Lanjut Penderita
Jika upaya penanggulangan di berikan di tempat rujukan dan kondisi ibu
telah memungkinkan, segera kembalikan klien ke tempat fasilitas pelayanan
asalnya dengan terlebih dahulu memberi hal-hal berikut :
1. Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya
penanggulangannya.
2. Nasihat yang di perlukan.
3. Pengantar tertulis ke fasilitas pelayanan kesehatan mengenai kondisi
pasien, upaya penanggulangan yang telah di berikan dan saran-saran.
Untuk penderita yang telah dikembalikan (rawat jalan pasca penanganan).
Penderita yang memerlukan tindakan lanjut tapi tidak melapor harus ada
tenaga kesehatan yang melakukan kunjungan rumah.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus
atau masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal (dan satu unit ke unit
yang lebih lengkap/rumah sakit) untuk horisontal (dari satu bagian lain dalam
satu unit).(Muchtar, 1997)
Tujuan umum sistem rujukan adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan
efisiensi pelayanan kesehatan secara terpadu. Tujuan khusus sistem rujukan
adalah : setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-
baiknya, menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan
laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap
fasilitasnya, menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (transfer of
knowledge and skill) melalui pendidikan dan pelatihan antara pusat dan
daerah.
Keuntungan sistem rujukan, antara lain : pelayanan yang diberikan sedekat
mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa pertolongan dapat diberikan lebih
cepat, murah, dan secara psikologis memberi rasa aman pada pasien dan
keluarganya, dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan
dan keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga semakin banyak
kasus yang dapat dikelola di daerah masing-masing, masyarakat desa dapat
menikmati tenaga ahli. Dalam merujuk kasus-kasus ginekologi, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan, yaitu Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat,
Kendaraaan, dan Uang(BAKSOKU).
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, 2009. Ilmu Kandungan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka


http://ayumarthasari.blogspot.com/2010/05/sistem-rujukan.html
Safrudin, SKM, M.Kes & Hamidah, S.Pd, M.Kes. __. Kebidanan Komunitas.
Jakarta: EGC
http://chvalsakura.wordpress.com/2011/02/02/rujukan/
http://lydia-ginekologi.blogspot.com/