Anda di halaman 1dari 3

Sheila Wahyu Kamila

13303241051
Pendidikan Kimia C

Sejarah Ammonia (NH3(g))

Ammonia pertama kali ditemukan oleh Bangsa Romawi dalam bentuk yang
sekarang kita sebut “garam ammonia”. Mereka menemukan senyawa ini di dekat kuil tempat
mereka beribadah yang bernama “Kuil Jupiter Ammun”. Karena itulah meraka menyebut
senyawa itu “sal ammoniacus” atau “hammoniacus sal”.
Garam ammonia ini menjadi sangat penting bagi para alkimiawan muslim pada abad
ke-8. Kimiawan Persia, Jabir ibn Hayyan, yang pertama kali menyebutkannya. Selanjutnya,
senyawa ini juga banyak digunakan oleh para Alkimiawan Eropa pada abad ke-13 dan yang
pertama kali menyebutkannya adalah Albertus Magnus. Dan pada abad ke-15, Bacilius
Valentinus menunjukkan bahwa ammonia bisa didapatkan dengan memberikan perlakuan
alkali pada garam ammonia.
Pada zaman pertengahan, pembuatan amonia dengan cara memanaskan tanduk dan
kuku binatang ternak.
Barulah pada tahun 1774, Joseph Priestly untuk pertama kalinya memisahkan
ammonia dari senyawa garamnya. Dan rumus kimianya dipastikan setelah 11 tahun
kemudian, yakni pada tahun 1785, oleh Claude-Louis Berthollet.
Kimiawaan Inggris, Sir William Ramsay dan Sydney Young, pada tahun 1884
mencoba mempelajari penguraian ammonia pada suhu sekitar 800oC. Mereka menemukan
bahwa dalam setiap proses penguraian selalu tersisa sejumlah tertentu ammonia yang tidak
ikut terurai. Dengan kata lain, reaksi antara ammonia dengan unsur-unsur penyusunnya
(hidrogen dan nitrogen) telah mencapai keadaan setimbang.
Selanjutnya, pada tahun 1904 Fritz Haber mencoba mengulangi percobaan
Kimiawan Inggris tersebut untuk menentukan di titik mana kesetimbangan tercapai bila
dilakukan percobaan pada suhu mendekati 1000oC. Ia mencoba beberapa pendekatan,
mereaksikan hydrogen murni dengan nitrogen murni, dan memulai dengan ammonia murni
serta menggunakan besi sebagai katalis. Setelah menentukan titik kesetimbangannya, Haber
kemudian mencoba katalis yang berbeda dan menemukan nikel bisa digunakan juga sebagai
katalis (dengan efektifitas yang sama dengan besi), bahkan kalsium dan mangan bisa lebih
baik lagi.
Sampai saat perang dunia I, pembuatan amonia dipelopori oleh Amerika Serikat melalui proses
sianamida, sebagai berikut:
 Mula-mula batu tohor (CaO) dan batu bara (C) dipanaskan dalam tanur listrik untuk
memperoleh kalsium karbida (CaC2).
CaO(s) + 3 C(s) CaC2(s) + CO(g)
 Kemudian, kalsium karbida dialirkan gas nitrogen (N2) untuk membentuk kalsium
sianamida (CaCN2).
CaC2(s) + N2(g) CaCN2(s) + C(s)
 Akhirnya, kalsium sianamida dialiri uap air sehingga menghasilkan amonia.
CaCN2(s) + 3 H2O(g) CaCO3(s) + 2NH3(g)
Akhirnya, pada tahun 1908, sekaitan dengan kebutuhan terhadap nitrat yang semakin
meningkat sedangkan pasokan nitrat semakin berkurang, Haber menemukan proses yang
murah dan efisien untuk menghasilkan ammonia dan mengubahnya menjadi nitrat. Dan pada
tahun 1910, menjelang dimulainya Perang Dunia I, pasokan nitrat dari Chili ke Jerman benar-
benar diputus sehingga pabrik-pabrik Jerman berusaha menerapkan teknik-teknik Haber pada
skala besar. Oleh karena itulah, Haber dianggap sangat berjasa bagi kemanusiaan.
 Proses Haber-Bosch
Antara tahun 1908 sampai 1913, Fritz Haber (1868-1934) dari Jerman berhasil
mensintesis amonia langsung dari unsur-unsurnya, yaitu dari gas nitrogen dan gas hidrogen.
Kemudian proses pembentukan amonia ini disempurnakan oleh rekan senegaranya, Karl
Bosch (1874-1940) dengan metode tekanan tinggi sehingga proses pembuatan amonia
tersebut dikenal sebagai proses Haber-Bosch. Proses ini mendesak proses sianamida karena
proses Haber-Bosch adalah proses pembuatan amonia yang lebih murah. Dalam proses haber-
Bosch, bahan baku berupa N2 dan H2.
- N2 diperoleh dari hasil destilasi bertingkat udara cair
- H2 diperoleh dari gas alam (metana) yang dialirkan bersama uap air dengan katalisator nikel
pada suhu tinggi dan tekanan tinggi.
CH4(g) + H2O(g) CO(g) + 3 H2(g)
CO(g) + H2O(g) CO2(g) + H2(g)
Pembuatan amonia menurut proses Haber-Bosch adalah reaksi kesetimbangan yang
berlangsung eksoterm pada suhu sekitar 400-6000C dan tekanan sekitar 200-600 atm.
N2(g) + 3H2(g) 2 NH3(g) ΔH = -92 KJ
 Dalam laboratorium
Dalam laboratorium, NH3 dapat di hasilkan dari:
- Nitride ditambah air
Mg3N2(s) + 6 H2O(l) 3 Mg(OH)2(aq) + 2 NH3(g)
- Amonium klorida + basa kuat
NH4Cl(s) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l) + NH3(g)
2NH4Cl(s) + Ca(OH)2(aq) CaCl2(aq) + 2 H2O(l) + 2 NH3(g)

Karena kegunaannya yang sangat banyak, ammonia hingga kini terus menerus
diproduksi untuk berbagai kepentingan, di antaranya pupuk pertanian, industri kain, industri
karet, produksi soda abu, metalurgi, dan pembersih rumah tangga. Dan pada tahun 2004,
produksi ammonia di seluruh dunia tercatat mencapai 109 juta metrik ton.

Daftar Pustaka

Dhini, Anisa. 2012. “Sejarah Amonia”. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2014 dari
http://annisadhini.blogspot.com/2012/05/sejarah-ammonia.html

Fernandes, Octavio Lisboa Guterres. 2011. “Makalah Senyawa Amonia (NH3)”. Diunduh
pada tanggal 19 Maret 2014 dari
http://ligutfer27octo1991.blogspot.com/2011/04/makalah-senyawa-amonia-nh3-
octo.html