Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH FISIKA LANJUT

“ FLOUROSCOPY “
Dosen Pengampu : Ir. Vivi Vira Viridianti, M.Kes

Disusun Oleh

Nama : Retno Listiani

NIM : 1704080

Kelas : B. TEM Semester 2

DIII TEKNIK ELEKTROMEDIK

STIKES WIDYA HUSADA SEMARANG

Semarang 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayah-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah “
Flouroscopy “ dengan baik meskipun banyak kekurangan di dalamnya. Dan kami
mengucapkan terimakasih kepada Ir. Vivi Vira Viridianti, M.Kes Dosen mata kuliah Fisika
Lanjut yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Semoga makalah ini dapat berguna dan mudah dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun
bahasa maupun segi lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada dan tangan terbuka kami
membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami
sehingga kami dapat memperbaiki makalah kami di kemudian hari.

ii
DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH FISIKA LANJUT .................................................................................................. i

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. iii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................ iv

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 3

1.3 Tujuan.......................................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 5

2.1 Sinar-X ........................................................................................................................ 5

2.2 Flouroscopy ................................................................................................................. 9

2.3 Bagian – Bagian Flouroscopy ................................................................................... 12

2.4 Komponen – Komponen Flouroscopy ...................................................................... 13

2.5 Proses Terjadinya Gambaran pada Flouroscopy ....................................................... 17

2.6 Tata Cara Perancangan Flouroscopy ......................................................................... 18

2.7 Fungsi dari Flouroscopy ............................................................................................ 23

2.8 Jenis – Jenis Flouroscopy .......................................................................................... 23

2.9 Kelebihan Flouroscopy ............................................................................................. 27

2.10 Kekurangan Flouroscopy .......................................................................................... 27

BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 28

3.1 Kesimpulan................................................................................................................ 28

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 29

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Barium Platinocyanid ................................................................................................ 5


Gambar 2 Wilhelm Conrad Roentgen........................................................................................ 6
Gambar 3 Percobaan Sinar-X .................................................................................................... 6
Gambar 4 Sinar-X ...................................................................................................................... 8
Gambar 5 Flouroscopy Tahun 1919 dan Flouroscopy Tahun 1950 ........................................ 11
Gambar 6 Model Flouroscopy Saat Ini .................................................................................... 11
Gambar 7 Bagian - Bagian Flouroscopy.................................................................................. 12
Gambar 8 X-Ray Tube Generator ............................................................................................ 13
Gambar 9 Image Intensifier .................................................................................................... 14
Gambar 10 Anode dan Output Phospor ................................................................................... 15
Gambar 11 Komponen Flouroscopy ........................................................................................ 17
Gambar 12 Rancangan Perangkt Pembangkit Sinar-X ............................................................ 20
Gambar 13 Pengendali Utama Berbasis Mikrokontroler ......................................................... 21
Gambar 14 Penangkap Citra Berbasis Layar Pender ............................................................... 22
Gambar 15 Hasil Pengambilan Gambar CCD Kamera............................................................ 22
Gambar 16 Komponen pada Perangkat Lunak Pengendali dan Pengolah Citra ...................... 23
Gambar 17 Scatter Grid ........................................................................................................... 24
Gambar 18 Flouroscopy Modern ............................................................................................. 25
Gambar 19 Penyinaran Secara Flouroscopy ............................................................................ 26

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di dalam dunia kesehatan tidak luput dari penggunaan alat dan juga pemanfaatan
elektron, gelombang betha, sinar-X, sinar gama untuk pengobatan. Berdasarkan
pengelompokan radiasinya, gelombang betha dan elektron menggunakaan partike yang
ringan dan bermuatan sedangkan untuk sinar –X dan sinar gamma menggunakan Photon yang
tidak bermassa dan tidak bermuatan. Penggunaan sinar-X dan sinar gamma sering digunakan
dalam dunia kesehatan karena keduanya mempunyai radiasi yang cukup kuat dan mampu
menembus tulang, sehingga memudahkan dokter untuk melihat kelainan apa yang ada di
dalam tubuh pasiennya.

Penggunaan sinar-X berawal dari penemuan Wilhelm Rontge pada tahun 1895
yang melakukan penelitan mengenai keberadaan sinar yang tidak tampak oleh mata telanjang
dan dapat menembus objek seperti buku, kertas dan sebagainya. Penggunaanya untuk
keperluan medis ketika dia mendapati gambar tangan istrinya yang dihasilkan dari sinar-X.
Pada gambar tersebut terlihat jelas tulang-tulang yang ada dalam jari tangan. Saat ini, sinar-X
bukan hanya di gunakan di dunia kesehatan (untuk mendiagnosis) juga digunakan di berbagai
bidang seperti keamanan, karakteristik unsur, pengecekan cacat pada produk dan lain
sebagainya.

Dalam medis sendiri terdapat berbagai jenis perangkat diagnosis yang menggunakan
atau memanfaatkan sinar-X seperti, Pesawat Sinar-X Konvensional yang mengunakan film
untuk menagkap citra organ tubuh, Pesawat Sinar-X Flouroscopy untuk mendiagnosis secara
real-time, Pesawat Sinar-X Digital yang menggunakan image intesifier, Detektor Solid State
untuk menangkap citra, maupun CT ( Computed Temography) Scan yang dapat
menghasilkan citra tiga dimensi dari organ tubuh. Di Indonesia, penggunaan pesawat sina-X
sudah banyak di Rumah Sakit maupun di klinik-klinik. Hal ini disebabkan karena
pengoperasian dan perawatan sinar-X relatif mudah dan aman karena hanya menghasilkan
radiasi sinar-X pada saat dioperasikan.

Pesawat sinar-X Flouroscopy merupakan sebuah pesawat pembangkit sinar-X yang


dapat digunakan sebagai diagnose medis. Sinar-X yang dipancarkan hasil dari pencitraan

1
2

akan ditangkap oleh layar pendar ( Flouroscent Screen). Flouroscopy yang masih
konvensional hasil gambar dari layar pendar akan langsung diamati oleh dokter ditempat
pencitraan, sehingga dokter atau petugas beresiko terkena radiasi sinar-X. Untuk mengurani
resiko tersebut, perlu dilakukan upaya rekayasa pesawat sinar-X Flouroscopy Konvensional.
Perekayasaan pesawat sianr-X dilakukan bukan hanya untuk mengurangi resiko radiasi juga
bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai proses kerja pesawat sinar-X
Flouroscopy dan untuk membuat modul penangkap citra sinar-X berbasis layar pendar
menggunkan komponen yang did apatkan dipasaran lokal. Modul penangkap citra ini
diharapkan dapat digunakan untuk menghentikan film yang banyak digunakan pada pesawat
sinar-X konvensional. Pada makalah ini akan membahas tentang perancangan pesawat sinar-
X, kegunaan, kekurangan dan kelebiahan penggunaan Flouroscopy.
3

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :

a Apa itu sinar-X ?


b Bagaimana proses terjadinya sinar-X ?
c Apa itu Flouroscopy ?
d Bagaimana bagian - bagian dari Flouroscopy?
e Apa saja komponen yang terdapat dalam Flouroscopy ?
f Bagaimana proses terjadinya gambaran pada Flouroscopy ?
g Bagaimana tata cara perancangan Flouroscopy ?
h Apa fungsi dari Flouroscopy ?
i Ada berapa jenis – jenis dari Flouroscopy ?
j Apa kelebihan dari penggunaan Flouroscopy ?
k Apa kekuranagn dari penggunaan Flouroscopy ?
4

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

a Untuk mengetahui apa itu sinar-X.


b Untuk mengetahui bagaimanan terjadinya sinar-X.
c Untuk mengetahui apa itu Flouroscopy.
d Untuk mengetahui bagian – bagian dari Flouroscopy.
e Untuk mengetahui komponen apa saja yang terdapat dalam Flouroscopy.
f Untuk mengetahui proses terjadinya gambaran pada Flouroscop.
g Untuk mengetahui tata cara perancangan Flouroscopy.
h Untuk mengetahui fungsi dari flouroscopy.
i Untuk mengetahui jenis – jenis dari Flouroscopy.
j Untuk mengetahui kelebihan penggunaan Flouroscopy dalam dunia kesehatan.
k Untuk mengetahui kekurangan penggunaan Flouroscopy dalam dunia kesehatan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sinar-X
Sebelum kita memebahas tentang Flouroscopy terlebih dahulu kita membahas
mengenai energi yang dipakai dalam Flouroscopy yaitu sinar-X. Seperti yang telah dituliskan
di latar belakang bahwa sejarah ditemukannya sinar-X adalah oleh seorang ilmuwan fisika
yang bernama Wilhelm Conrad Roentgen pada tahun 1895. Pada waktu itu Wilhelm Conrd
Rontgen atau biasa di panggil Rontgen sedang menginvestigasi tentang efek eksternal dari
berbagai macam perlengkapan tabung vakum ( perlengkapan peninggalan dari Heinrich
Hertz, Johann Hittorf, William Crookes, Nikola Tesla, dan Philipp von Lenard ) ketika ada
arus listrik yang dilewatkan melalui mereka hingga ia tak sengaja melihat sebuah layar
Barium Platinocyanide ( garam yang mengandung anion ) yang bercahaya di laboratoriumnya
ketika ia sedang melakukan generasi terhadap sinar katoda dalam tabung Crooke dengan
jarak yang agak jauh setelah sebelumnya pada bulan November, ia melakukan eksperimen
menggunakan tabung Lenard di mana kemudian ia menambahkan jendela aluminium untuk
membuat sinar katoda keluar dari tabung, tapi malah menyadari sinar katoda tadi
menyebabkan efek fluorescent. Karena hal itulah dia menghentikn pekerjaannya di
Universitas Wuzburg dimana dia ditunjuk menjadi riset dan dia menghabiskan waktu 6
minggu di laboratorium, bekerja sendiri, dan tidak membagikan apapun kepada kolega –
koleganya. Meskipun bukan orang pertama yang mengamati efek sinar-X, Rontgen dianggap
sebagai penemu Sinar-X, dimana X bis berarti sebuah angka yang tidak diketahui. Beberapa
orang juga menyebut sinar-X dengan nama Sinar Rontgen.

Gambar 1 Barium Platinocyanid

5
6

Gambar 2 Wilhelm Conrad Roentgen

Pada siang hari tanggal 8 November 1895, sejarah ditemukannya sinar X atau
sinar Rontgen dimulai dengan Rontgen yang sudah yakin untuk melakukan pengetesan ide
yang ia miliki. Dengan hati-hati, ia membuat penutup dari kardus hitam yang sama dengan
yang ia gunakan pada tabung Lenard. Sebelum percobaan dilakukan, Rontgen menggelapkan
ruangan tempat tes dilakukan untuk mengetahui tingkat kegelapan dari penutup kardus itu.
Ketika Rontgen melewatkan tegangan lewat coil Ruhmkorff, ia yakin bahwa penutup tersebut
kedap cahaya dan siap memulai bagian berikutnya dalam sejarah ditemukannya sinar X –
sinar Rontgen. Pada masa inilah Rontgen menyadari ada sebuah kilau lemah yang berasal
dari sebuah bangku beberapa kaki dari tabung. Rontgen berspekulasi bahwa ada sebuah sinar
baru yang bertanggung jawab akan hal ini, dan ia kembali melakukan eksperimen serta
menuliskan beberapa catatan. Percobaan pertama dari sinar baru yang diberi nama “sinar X”
oleh Rontgen ini baru dilakukan 2 minggu setelah penemuannya dimana ia mengambil foto
sinar-X menggunakan tangan dari istrinya,
Anna Bertha. Ketika Anna Bertha melihat
tulangnya dan berteriak “Aku telah melihat
kematianku!” inilah orang-orang menganggap
penemuan sinar X mulai tercatat sebagai
bagian dari perkembangan teknologi fisika.

Gambar 3 Percobaan Sinar-X


7

Penggunaan sinar-X mulai sering digunakan untuk Medical Imaging. Sejarah


ditemukannya sinar-X dalam dunia medis pertama kali dicatat pada seubuah Paper tentang
subjek ini di tahun 2010 dan ada 5 triiun studi yang dilakukan dalam bidang Medical Imaging
diseluruh dunia. Meskipun begitu, radiasi yang ditimbulkan dari medical imaging
menyumbangkan 50% total radiasi ion di Amerika Serikat. Salah satu penggunaan sinar X
dalam dunia medis adalah sebagai radiograf. Radiograf sendiri merupakan gambar sinar X
yang didapat dari meletakkan bagian dari tubuh pasien di depan sebuah pelacak sinar X dan
kemudian menyinarinya menggunakan gelombang sinar X pendek. Karena tulang memiliki
banyak kalsium, mereka dapat menyerap sinar X secara efektif. Kegunaan lain dari sejarah
ditemukannya sinar X – sinar Rontgen – dalam dunia medis ialah dalam Tomografi
Terkomputasi (CT Scanning), sebuah model medical imaging dimana gambar-gambar
tomografik atau potongan dari beberapa area tubuh diambil melalui sinar X dua dimensi yang
besar.
Walaupun radiasi yang ditimbulkan cukup besar namu faktanya, meskipun sinar
X menyumbang 50% dari total radiasi yang ada di Amerika Serikat, banyak kemajuaan
teknologi terutama di bidang medis yang berhutang kepada sejarah ditemukannya sinar X –
sinar Rontgen.
Berikut ini adalah urutan proses terjadinya sinar-X :
A Katoda ( filamen ) dipanaskan lebih dari 2000oC sampai menyala dengan mengalirkan
listrik yang berasal dari transformator.
B Karena panas, elektron – elektron dari katoda( filamen ) terlepas.
C Sewaktu dihubungkan dengan transformator tegangan tinggi, elektron – elektron akan
dipercepat gerkannya menuju anoda dan dipusatkan ke alat pemusat ( Focusing Cup ).
D Filamen dibuat relatif negatif terhadap sasaran ( target ) dengan memilij potensial
tinggi.
E Awan – awan elektron mendadakan dihentikan pada sasaran ( target ) sehingga
terbentuk panas ( >99% ) dan Sinar-X ( <1% ).
F Pelindung ( perisai ) timah akan mencegah keluarnya sinar-X dari tabung, sehingga
sinar-X yang terbentuk hanya dapat keluar melalui jendela.
G Panas yang tinggi pada sasaran ( target ) ditiadakan oleh radiator pendingin.
H Jumlah sinar-X yang terlepas tiap satuan waktu dapat dilihat pada pengukuran mili
Ampere (mA), sedangkan jangka waktu pemotretan dikendalikan oleh pengukuran
waktu.
8

Gambar 4 Sinar-X

Bahaya Sinar-X

Sinar X kepentingan teraputik. Sinar-x sangat berbahaya bagi sel-sel hidup


khususnya sel-sel gonad dan sel-sel embrional yang belum dewasa. Sinar tersebut dapat
menyebabkan perubahan biologis baik somatik maupun genetik. Pada dosis yang tinggi sinar
tersebut dapat menyebabkan destruksi terhadap sel-sel secara langsung dan sinar tersebut
memiliki kemampuan khusus bagi jaringan malignan. Kemampuan ini memiliki keuntungan
pada penggunaan sinar-x untuk tujuan terapi dan juga untuk pengobatan lesi malignan.
Sebuah alat yang dinamakan r-meter atau Roentgen-meter ditempatkan pada alat sinar-x yang
dapat digunakan sebagai menetapkan jumlah sinar-x yang dikeluarkan oleh mesin sinar-x
untuk mengobati tumor dan penyakit lainnya. Ukuran kualitas sinar radiasi yang dikeluarkan
diukur dalam satuan „r“. Sejumlah unit dosis sinar-x yang terabsorbsi dinamakan rad.
Beberapa elemen seperti radium, bahan pewarna sinar-x dan elemen-elemen ini dapat
digunakan untuk kepentingan terapi seperti jarum Radium.
Sinar-x untuk Kepentingan Diagnostik, Sejak diketahui sinar-x dapat menembus
masuk hampir setiap unsur meliputi alumunium dan mampu untuk menghasilkan perubahan
kimia pada film fotografi maka dari itu dapat digunakan sebagai Radiografi.
Radiograf atau gambar sinar-x adalah hasil fotografik yang dihasilkan oleh sinar-
x yang menembus objek atau tubuh dan di rekord oleh film khusus.
9

Meskipun sinar-x tidak dapat terlihat oleh mata tetapi dapat menyebabkan
beberapa unsur kimia seperti (Kalsium tungstat, Barium sulfat, Seng sulfid, Seng cadmium
sulfid, Barium platinocyanida, dan sebagainya) menjadi bersinar atau dapat terlihat. Layar
fluoresen yang digunakan untuk tujuan ini terdiri dari papan yang telah di mengandung
kalsium tungstat. Sinar-x menembus tubuh pasien dan ditangkap pada papan dan gambar
kemudian dapat dilihat. Keuntungan dari fluoroscopy adalah pergerakan organ dalam dapat
diobservasi secara langsung namun pada radiografi hanya gambaran fotograf saja yang dapat
dilihat. Fluoroscopy lebih banyak membantu pada kasus dislokasi dan sebagainya.Tetapi
kekurangannya adalah tidak memberikan rekord yang permanen seperti layaknya radiograf
dan meliputi resiko radiasi tambahan kepada pasien dan pengamat dapat terekspose sinar-x
lebih lama. Namun terkadang fluoroscopy memiliki kepentingan untuk mendiagnosa
emfisema pulmoner dan gangguan perikardial yang dimana pada radiograf tidak bisa
memberikan hasil diagnostik yang baik. Fluoroscopy pada emfisema pulmoner akan
menampilkan diafragma yang datar yang dimana tidak menunjukkan pergerakan inspirasi dan
ekspirasi yang normal. Gambaran jantung pada gangguan perikardial akan menunjukkan
pergerakkan sistolik dan diastolik yang normal tetapi hanya vibrasi saja.

2.2 Flouroscopy
Flouroscopy adalah suatu alat yang digunakan untuk studi visual (langsung) dari
jatuhnya bayangan laten pada tabir fluoroskopi menjadi bayangan permanen pada film atau
spot film. Fluoroskopi adalah cara pemeriksaan yang menggunakan sifat tembus sinar
rontgen dan suatu tabir yang bersifat luminisensi bila terkena sinar tersebut. Fluoroskopi
adalah aplikasi khusus pencitraan sinar-X, di mana layar fluoresen dan tabung penegas
gambar dihubungkan ke sistem televisi sirkuit tertutup. Hal ini memungkinkan pencitraan
real-time dari gerakan dalam struktur atau pengumpulan agen radiokontras (Kamus
Kesehatan). Fluoroskopi adalah alat yang dilengkapi dengan sebuah layar yang dapat
berfluoresensi (Kamus Bahasa Indonesia). Tindakan ini menggunakan sinar-X dan bahan
pewarna pembanding, yang membuat bagian tubuh menjadi tidak tembus pandang dan
terlihat dengan lebih jelas.
Awal fluoroskopi dapat ditelusuri kembali ke 8 November 1895 ketika
Wilhelm Rontgen melihat barium platinosianida layar fluorescing akibat terkena apa yang ia
kemudian akan memanggil x-ray . Dalam beberapa bulan dari penemuan ini, para
10

fluoroscopes pertama diciptakan. Fluoroscopy awalnyal hanyalah saluran karton, terbuka


pada ujung sempit untuk mata pengamat, sedangkan ujung lebar ditutup dengan sepotong
karton tipis yang telah dilapisi di dalam dengan lapisan garam logam neon. Gambar
fluoroscopic diperoleh dengan cara ini agak samar. Thomas Edison dengan cepat menemukan
bahwa kalsium tungsten layar menghasilkan gambar lebih terang dan dikreditkan dengan
merancang dan memproduksi fluoroskop komersial pertama yang tersedia. Dalam masa
pertumbuhan, banyak salah memperkirakan bahwa gambar bergerak dari fluoroskopi
sepenuhnya akan menggantikan masih x-ray radiografi , tetapi kualitas diagnostik unggul dari
radiografi sebelumnya dicegah ini terjadi. Ketidaktahuan dari efek berbahaya dari x-rays
mengakibatkan tidak adanya prosedur keselamatan radiasi standar yang digunakan saat ini.
Para ilmuwan dan dokter seringkali akan menempatkan tangan mereka langsung di sinar x-
ray yang mengakibatkan luka bakar radiasi . Edison asisten Clarence Dally Madison (1865-
1904) meninggal sebagai akibat dari paparan radiasi dari fluoroscopes, dan pada tahun 1903,
Edison meninggalkan karyanya pada fluoroscopes, mengatakan "Jangan bicara dengan saya
tentang X-ray, saya takut mereka menggunakan Trivial untuk teknologi juga mengakibatkan,
termasuk fluoroskop sepatu pas digunakan oleh toko sepatu di tahun 1930-1950-an.
Karena cahaya yang terbatas yang dihasilkan dari layar neon, awal ahli radiologi
yang diperlukan untuk duduk di sebuah ruangan yang gelap, di mana prosedur itu harus
dilakukan, accustomizing mata mereka ke gelap dan dengan demikian meningkatkan
sensitivitas mereka terhadap cahaya. Penempatan ahli radiologi di belakang layar
mengakibatkan signifikan dosis radiasi untuk ahli radiologi. kacamata adaptasi Red
dikembangkan oleh Wilhelm Trendelenburg pada tahun 1916 untuk mengatasi masalah
adaptasi gelap pada mata, yang sebelumnya dipelajari oleh Antoine Beclere . Lampu merah
yang dihasilkan dari penyaringan kacamata mata dokter benar peka sebelum prosedur
sementara masih memungkinkan dia untuk menerima cahaya yang cukup untuk berfungsi
secara normal.
Perkembangan intensifier gambar X-ray oleh Westinghouse pada tahun 1940-an
dalam kombinasi dengan sirkuit tertutup kamera TV pada 1950-an merevolusi fluoroskopi.
Para kacamata adaptasi merah menjadi usang sebagai penguat citra memungkinkan cahaya
yang dihasilkan oleh layar neon yang akan diperkuat, yang memungkinkan untuk dilihat
bahkan di ruang terang. Penambahan kamera memungkinkan tampilan gambar pada monitor,
memungkinkan ahli radiologi untuk melihat gambar dalam ruang yang terpisah jauh dari
risiko paparan radiasi .
11

Perbaikan yang lebih modern di layar fosfor, penguat gambar dan bahkan
detektor panel datar telah memungkinkan untuk kualitas gambar meningkat dan
meminimalkan dosis radiasi kepada pasien. Fluoroscopes modern menggunakan CsI layar
dan menghasilkan noise-terbatas gambar, memastikan bahwa hasil dosis radiasi minimal
sementara masih mendapatkan gambar dari kualitas yang dapat diterima.
Berikut ini merupakan transformasi bentuk flouroscopy :

Gambar 5 Flouroscopy Tahun 1919 dan Flouroscopy Tahun 1950

Gambar 6 Model Flouroscopy Saat Ini


12

2.3 Bagian – Bagian Flouroscopy

Gambar 7 Bagian - Bagian Flouroscopy

Tabung sinar-X diletakkan dibawah pasien (berada di meja pemeriksaan). Di atas


meja pemeriksaan terdapat penguat bayangan dan detektor penguat lainnya. Tetapi ada
beberapa pesawat fluoroskopi yang memiliki tabung sinar-X di atas dan juga terdapat film di
bawah meja pemeriksaan. Beberapa pesawat fluoroskopi dioperasikan dengan jarak jauh
yang berada di luar ruang pemeriksaan. Setiap pesawat pesawat fluoroskopi mempunyai
rancangan yang berbeda-beda, sehingga seorang radiographer harus mampu untuk
menguasainya.Pada pemeriksaan fluoroskopi mA yang digunakan berbeda dengan
pemeriksaan radiografi konvensional. Selama pemeriksaan fluoroskopi berlangsung, tabung
sinar-X dioperasikan tidak lebih dari 50 mAs. Meskipun menggunakan mA yang kecil, tetapi
dosis yang diterima pasien akan lebih besar dibandingkan dengan pemeriksaan radiografi
konvensional. Hal ini disebabkan karena sinar-X yang diemisikan oleh tabung pada pesawat
fluoroskopi membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan tabung pada pesawat
konvensional.Pengaturan kVp tergantung pada organ yang akan diperiksa. Ciri-ciri dari
fluoroskopi adalah adanya: Automatic Brightness Control (ABC), Automatic Brightness
Stabilization (ABS), atau Automatic Gain Control (AGC).Keuntungan dari fluoroskopi yaitu
meningkatkan ketajaman gambar yang dihasilkan. Tahap perpendaran diukur dalam satuan
Lambert (L) dan mililambert (mL), dimana 1L = 1000 mL.
13

Fluoroskopi adalah cara pemeriksaan yang menggunakan sifat tembus sinar


roentgendan suatu tabir yang bersifat luminisensi bila terkena sinar tersebut.
Fluoroskopi utamanyadiperlukan untuk menyelidiki fungsi serta pergerakan suatu organ atau
sistem tubuh seperti dinamika alat peredaran darah, misalnya jantung, dan pembuluh darah
besar, serta pernafasan berupa pergerakan diafragma dan aerasi paru-paru. (Sjahriar Rasad,
1998).

2.4 Komponen – Komponen Flouroscopy


A X-ray Tube dan Generator

Gambar 8 X-Ray Tube Generator


Tube sinar-X fluoroskopi sangat mirip desainnya dengan tube sinar-X diagnostik
konvesional kecuali bahwa tube sinar-X fluoroskopi dirancang untuk dapat
mengeluarkan sinar-X lebih lama dari pada tube diagnostik konvensional dengan mA
yang jauh lebih kecil. Dimana tipe tube diagnostik konvenional memiliki range mA
antara 50 – 1200 mA sedangkan range mA pada tube sinar-X Flouroscopy antara 0,5 –
5 mA.sebuah Intensification tube (talang penguat) dirancang untuk menambah
kecerahan gambar secara elektronik pencerah gambar modern sekarang ini mampu
mencerahkan gambar hingga 500 – 8000 kali lipat.
Generator X-Ray pada Flouroscopy unit mengguanakan tiga phasa atau High
Frequence Unit, untuk efisinsi maksimum Flouoscopy unit dilengkapi dengan Cine
Flouroscopy yang memiliki waktu eksposiyang sangat cepat, berkisar antara 5/6 ms
untuk pengambilan gambar sebanyak 48 gambar per detik.maka dari tiu generator X-
ray tube biasanya merupakan tabung berkapasitas tinggi (paling tidak 500.000 Heat
Unit) dibandingkan dengan tabung X-Ray radiografi biasa (300.000 Heat Unit).
14

B Image Intisifier

Gambar 9 Image Intensifier

Komponen – komponen tabung image intensifier sebagai berikut :


Semua sistem flouroscopi menggunakan Image Intisifier yang menghasilkan
gambar selama fluoroskopi dengan mengkonversi low intensity full size image ke high-
intensity minified image. Image Intisifier adalah alat yang berupa detektor dan PMT (di
dalamnya terdapat photocatoda, focusing electroda, dinode, dan output
phospor). Sehingga memungkinkan untuk melakukan fluoroskopi dalam kamar dengan
keadaan terang dan tanpa perlu adaptasi gelap (Sjahriar Rasad, 1998). Image Intisifier
terdiri dari:
1. Detektor
Terbuat dari crystals iodide (CsI) yang mempunyai sifat memendarkan cahaya
apabila terkena radiasi sinar-X.
2. PMT (Photo Multiplier Tube).
Terdiri Dari :
a. Photokatoda.
Terletak setelah input phospor. Memiliki fungsi untuk merubah cahaya
tampak yang diserap dari input phospor menjadi berkas elektron.
b. Focusing Electroda.
Elektroda dalam focus Image Intensifier meneruskan elektron-elektron
negatif dari photochatode ke output phospor.
15

c. Anode dan Output Phospor.


Elektron dari photochatode diakselerasikan secara cepat ke anoda karena
adanya beda tegangan seta merubah berkas elektron tadi menjadi sinyal listrik.

Gambar 10 Anode dan Output Phospor


d. Photomultiplier Tube (PMT).
Cara kerja PMT mirip Phototube, terdiri dari photocathode dan beberapa
buah anode (tidak seperti pada phototube yang hanya terdiri dari satu buah anode)
yang disusun secara serie (disebut dynode). Sinar UV (photons) yang ditembakan
ke cathode akan menyebabkan emisi electron dari cathode ke anode. Anode yang
satu dengan yang lainya diberi beda potensial, sehingga apabila emisi electron dari
cathode sampai di dynode pertama, akan ada tambahan electron yang diteruskan ke
dynode berikutnya, dan seterusnya sehingga secara akumulasi jumlah electron
yang emisi di dynode terakhir semakin banyak (arusnya semakin besar), itu
sebabnya mengapa PMT lebih sensitif dibandingkan dengan phototube.

Komponen-komponen tabung yang terdapat pada kaca atau pembungkus dari


logam berfungsi untuk melindungi komponen-komponen tersebut, tetapi fungsi yang
lebih penting yaitu agar tabung tetap hampa udara. Saat diinstall, tabung dimasukkan ke
dalam peti logam untuk melindunginya dari penanganan yang kasar.
Sinar-X yang keluar dari pasien dan terjadi pada tabung penguat gambar
ditransmisikan ke kaca pelindung (glass Envelope) dan berinteraksi dengan input
phosphor yaitu Cesium Iodide (CsI). Ketika sinar-X berinteraksi dengan input
phosphor, energinya diubah menjadi cahaya tampak sama dengan efek Intensifying
Screen (IS) radiografi.
16

C Sistem Motoring dan Vidio


Beberapa sistem penampilan gambar (Viewing System) telah mampu mengirim
gambar dari output screen menuju alat penampilan gambar (Viewer). Dikarenakan
output phospir hanya berdiameter 1 inchi (2,554 cm), gamabr yang dihasilkan relatif
kecil, karena itu harus diperbesar dan di monitor oleh sistem tambahan, termasuk
diantaranya Optical Mirror, Video Cine dan sistem Spot Film. Beberpa dari sistem
penampilan gamabar tersebut mampu menampilkan gamabar bergerak secara
langsung (Real Time Viewing) dan beberapa yang lainnya untuk gamabar diam
(Static Image). Waktu melihat gambar, resolusi dan waktu processing bervariasi
antar alat – alat tersebut.
Umumnya penempatan monitor berada di luar ruang pemeriksaan. Monitor
televisi juga digunakan untuk menyimpan gambar dalam bentuk elektronik untuk
ditampilkan kembali dan menipulasi gambar. Monitor televisi merupakan bagian
penting dari pesawat fluroskopi digital.
1. Kamera Televisi
Kamera terdiri dari rumah silindris dengan diameter 15 cm dan
panjangnya 25 cm, dimana inti kamera yaitu tabung kamera televisi. Kamera
televisi juga tersusun oleh gulungan-gulungan elektromagnetik untuk member
petunjuk sinar elekron ke dalam tabung.
2. Monitor Televisi
Video signal televisi diperkuat dan ditransmisikan oleh kabel monitor
televisi dimana monitor televisi ditransformasikan kembali menjadi gambar
tampak. Monitor televisi adalah tabung televisi gambar, atau cathode ray tube
(CRT).
3. Gambar televisi
Gambar pada monitor televisi dibentuk dalam bentuk komplek, yaitu
lebih simple. Gambar televisi mentransformasi gambar cahaya tampak pada
output fosfor menjadi signal video elektrik yang dibentuk oleh sinar electron
kontiyu pada tabung kamera televisi.
4. Perekam Gambar
Cassete loaded spot film konvensional adalah metode yang digunakan
oleh fluroskopi penguat gambar. Spot film diposisikan diantara pasien dan
penguat gambar.
17

5. Saat dieksposi spot film kaset dinginkan, radiolog harus mengontrol pergerakan
posisi dari kaset dan merubah operasi tabung sinar x dari fluroskopi mA rendah
ke radiografi mA tinggi.

Gambar 11 Komponen Flouroscopy

2.5 Proses Terjadinya Gambaran pada Flouroscopy


Pada saat pemeriksaan fluoroskopi berlangsung, berkas cahaya sinar-x primer
menembus tubuh pasien menuju input screen yang berada dalam Image Intensifier
Tube yaitu sebuah tabung hampa udara yang terdiri dari sebuah katoda dan anoda. Input
screen yang berada pada Image Intensifier adalah layar yang menyerap foton sinar-x dan
mengubahnya menjadi berkas cahaya tampak, yang kemudian akan ditangkap oleh PMT
(Photo Multiplier Tube). PMT terdiri dari photokatoda, focusing elektroda, dan anoda dan
output phospor. Cahaya tampak yang diserap oleh photokatoda pada PMT akan dirubah
menjadi elektron, kemudian dengan adanya focusing elektroda elektron-elektron negatif
dari photokatoda difokouskan dan dipercepat menuju dinoda pertama. Kemudian elektron
akan menumbuk dinoda pertama dan dalam proses tumbukan akan menghasilkan elektron-
elektron lain. Elektron-elektron yang telah diperbanyak jumlahnya yang keluar dari dinoda
pertama akan dipercepat menuju dinoda kedua sehingga akan menghasilkan elektron yang
lebih banyak lagi, demikian seterusnya sampai dinoda yang terakhir. Setelah itu elektron-
elektron tersebut diakselerasikan secara cepat ke anoda karena adanya beda potensial yang
kemudian nantinya elektron tersebut dirubah menjadi sinyal listrik.
Sinyal listrik akan diteruskan ke amplifier kemudian akan diperkuat dan
diperbanyak jumlahnya. Setelah sinyal-sinyal listrik ini diperkuat maka akan diteruskan
menuju ke ADC (Analog to Digital Converter). Pada ADC sinyal-sinyal listrik ini akan
18

diubah menjadi data digital yang akan ditampilkan pada tv monitor berupa gambaran hasil
fluoroskopi.

2.6 Tata Cara Perancangan Flouroscopy


Perancanagn pesawat sinar-X Flouroscopy dilakukan unuk mengurangi resiko
radiasi pada dokter atau operator. Perekayasaaan ini dilakukan dengan cara mentransfer
data hasil pencitraan ke dalam sisitem komputer melalui sebuah CCD kamera.
Perancangan pesawat sinar-X Flouroscopy dibagi menjadi 3 bagian. Pertama perancangan
pesawat sinar-X itu sendiri sebagai pembangkit sinar-X. Kemudian yang kedua adalah
perancanagan penangkap citra berbasis layar padat dan yang ketiga adalah perancangan
perangkt luank pengolah citra pada komputer.

Rancangan pesawat sinar-X itu sendiri dibuat berdasarkan pada rancanagn


pesawat sinar-X yang sudah dibuat sebelumnya. Modifikasi dilakukan tertentu untuk
menyempurnakan kekuanagan pada rancanagan yang sudah ada. Selanjutnya untuk
penangkap citra dipilih CCO kamera dimana gain, exposure dan shutternya bisa diatur
melalui perangkat lunak atau hardware external. Anatar muka dengan koputer juga dipilih
yang kompak dan koneksinya yang mudah. Kemudian untuk perangkat lunak, dirancang
dari awal. Pertimbangan pada rancanagn perangkat lunak adalah pemilihan pustaka
(Library) atau Framework yang memungkinkan beroperasi pada berbagai sistem operasi,
baik komersial maupun yang berbasis opensource.

Tabel 1 merupakan spesifikasi teknis dari pesawat sinar-x yang akan dibuat.
Sebagian besar daya yang dikonsumsi digunakan olehtabung untukmembangkitkan sinar-x
yang memerlukan tegangan sampai 100 kV dengan arus filamenmaksimum 100 mA.
Sementara itu, sistem catu daya tegangan rendah digunakan untuk mensupply daya ke
sistem kendali, dankamera. Agar kompak, sistem kendali yangterdiri dari kendali daya,
arus dan pewaktu dibuat berbasis mikrokontroler. Sistemkendali dapat dihubungkan
kekomputer melalui port serial (RS232) dan apabila komputer tidak dilengkapi dengan
port serial, bisa menggunakan Serial-to-USB yang banyak beredar dipasaran. Sedangkan
interface antara komputer dan kamera menggunakan Ethernet, sehingga koneksinya sangat
mudah. Selanjutnya, komputer harus dilengkapi dengan .Net Framework versi 3.5 keatas
untuk membuat dan menjalankan perangkat lunak pengolah citra.
19

Konsumsi Daya 220 VAC 1 Phasa / 10 kVA


Sistem Catu Daya Tegangan Rendah 5 VDC @ 3A, 12 VDC @5A
Tegangan ~ 100 kV, Arus Filamen ~ 100
Tabung Sinar-X
mA
Sistem kendali Berbasis Mikrokontroler
Pewaktu 0,1 s/d 60 detik
Interface dengan Komputer RS232 ( bisa dikonvensi ke USB )
Layar Pendar Phosfor, 25 cm x 25 cm
Gain,exposure, timing bisa diatur. Antar
CCD Kamera
muka kekomputer melalui Ethernet
Perangkat Lunak Perlu.Net Framework 3.5keatas
Tabel 1 Spesifikasi Teknis Pesawat Sinar-X Fluoroscopy yang dirancang

Hasil rancangan pesawat sinar-x terdiri dari tiga bagian yaitu bagian perangkat
pembangkit sinar-x, penangkap citra serta perangkat lunak kendali dan pengolah citra.
Rancangan dari pesawat sinar-x sebagai pembangkit sinar-x ditunjukkan pada Gambar 2.
Perangkat ini akan menghasilkan sinar-x apabila ada tegangan tinggi dan arus yang
mengalir pada tabung sinar-x dalam waktu tertentu. Dengan kata lain, komponen utama
dari bagian perangkat pembangkit sinar-x ini adalah: pengendali tegangan, pengendali arus
dan pewaktu. Komponen pengendali tegangan berfungsi untuk mengendalikan besarnya
tegangan pada tabung sinar-x. Dari spesifikasi teknis pada Tabel 1 diketahui bahwa
besarnya tegangan yang akan dikendalikan mencapai 100 kV. Untuk merealisasikannya
diperlukan trafo 10 kVA, SCR dan penyearah (rectifier). Prinsip kerja dari pengendali
tegangan tinggi adalah:

A Tegangan AC melewati trafo 10 kVA yang sekaligus berfungsi untuk mengisolasi


rangkaian tegangan tinggi dantegangan rendah.
B Tegangan AC keluaran trafo masuk ke SCRyang dikendalikan dengan PWM (pulse
width modulation). Dengan menggunakan SCR dan kendali PWM, dapat diatur
prosentase daritegangan ACyang dilewatkan.
C Seberapa lama tegangan tinggi dilewatkan diatur berdasarkan pewaktu yang diset
oleh operator.
20

D Keluaran SCR yang masih berupa AC kemudian dirubah ke DC dengan rangkaian


penyearah sebelum dilewatkan ketabung sinar-x.

Sistem pengendali tegangan berbasis SCRdan PWMini merupakan


penyempurnaan dari rancangan pesawat sinar-x sebelumnya yang menggunakan SCR,
potensio dan stepper motor untuk mengendalikan besarnya tegangan yang akan
dilewatkan. Dengan penyempurnaan ini diharapkan tegangan yang dihasilkan lebih presisi
dan PCB(Printable Circuit Board) yang dihasilkan akan lebih kompak.

Gambar 12 Rancangan Perangkt Pembangkit Sinar-X

Selanjutnya untuk pengendali arus diperlukan stabilizer, resistor, relay dan


monitor suhu tabung. Hasil keluaran dari pengendali arus adalah arus dengan besaran
20mA,40mA,60 mA, 80 mA dan 100 mA. Untuk mendapatkan arus dengan besaran seperti
tersebut sebelumnya, digunakan resistor dengan besaran tertentu (11K,5.5K,3.7K, 2.75K
dan2.2K). Yang perlu diperhatikan adalah daya yang melewati resistor cukup besar sehingga
diperlukan resistor dengan nilai watt besar(- 22watt). Selanjutnya, stabilizer yang dipasang
sebelum resistor berfungsi untuk menstabilkan tegangan AC yang dilewatkan ke resistor,
sehingga hasilnya nanti arus yang lewat juga stabil dan konstan sesuai dengan yang
diinginkan (V dan Rkonstan). Kemudian, setelah resistor dipasang relay untuk memilih
resistor yang akan dilewatkan arus sehingga didapatkan nilai sesuai dengan yang diset oleh
operator. Terakhir, pada tabung dipasang thermocouple untuk memonitor suhu tabung. Apabila suhu
tabung terlalu tinggi, makaarusyangmelewatitabung harus diputus.
21

Gambar 13 Pengendali Utama Berbasis Mikrokontroler

Selain pengendali tegangan dan arus, pada perangkat sinar-x juga terdapat
pengendali expose. Pengendali expose akan aktif apabila operator menekan tombol expose.
Lama expose tergantung dari waktu yang diset oleh operator. Pengendali expose ini juga
berkaitan erat dengan pengendali tegangan danpengendali arus.Tegangan tinggi dan arus
ketabung hanya dilewatkan padasaat expose. Agar rancangan lebih kompak, bagian utama
dari pengendali tegangan, arus, pewaktu dan monitorsuhu dibuat berbasis mikrokontroler
dengan pertimbangan keberadaan komponen dipasaran lokal dan kemudahan memprogram,
makadipilih mikrokontroler dari keluarga 8051 keluaran Atmel Corporation [5,6].

Bagian selanjutnya dari rancangan adalah bagian penangkap citra seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 13. Bagian ini terdiri dari layar pendar yang terbuat dari posfor dan
CCO kamera. Apabila berkas sinar-x mengenai layar pendar, layar tersebut akan berpendar
dengan intensitas yang sebanding dengan sinar-x yang mengenai bagian pada layar. Sinar-x
ketika melewati organ-organ tubuh manusiaakan mengalami pelemahan yang besarnya
tergantung dari jaringan yang dilewati. Perbedaan kekuatan sinar-x yang mengenai layar
pendar inilah yang menghasilkan citra organ dalam bentuk pendaran (cahaya tampak).
Pendaran tersebut kemudian ditangkap oleh CCO kamera dan selanjutnya ditransfer ke
komputer sebagai citra digital. Bagian utama dari penangkap citra adalah CCOkamera.
Pemilihan kamera dengan kombinasi lensa yang tepat akan menghasilkan citra dengan
kualitas yang bagus. Pada penelitian ini, dipilih kamera dimana gain, exposure dan waktu
pengambilan gambar bisa diatur dari luar baik melalui perangkat lunak maupun rangkaian
tambahan. Dengan menggunakan kamera seperti ini, kualitas citra yang dihasilkan akan dapat
diatur disesuaikan dengan cahaya latar, kemudian waktu pengambilan gambar juga bisa
disinkronkan dengan waktu exposure. Selain itu, oleh karena citra yang dihasilkan pada
dasarnya berasal dari perbedaan intensitas, makakamera yang digunakan cukup kamera
monochrome. Saat ini, CCO kamera yang akan digunakan sudah ada yaitu kamera dari
22

Prosilica seri GigE(GC650) dengan fasilitas antarmuka melaluiEthernet [7]. Untuk uji fungsi
dan mengetahui kualitas gambar dari kamera yang ada maka dilakukan pengujian
pengambilan gambar terhadap objek yang diletakkan pada jarak masing-masing 30cm, 40cm
dan 50cm dari kamera. Hasilnya ditunjukkan pada Gambar 14. Hasil menunjukkan kamera
berfungsi dengan baik dan gambar pada posisi yang jauh lebih tajam dari yang lainnya.
Ketajaman ini dipengaruhi oleh jarak focus lensa yang digunakan. Kedepannya akan dipilih
lensa dengan titik focus yang lebih dekat sehingga bisa mengambil citra dari objek pada jarak
dekat dengan kualitas tajam. Titik focus lensa ini mempengaruhi dimensi dari box penangkap
citra. Makin dekat, box akan makin kompak.

Gambar 14 Penangkap Citra Berbasis Layar Pender

Gambar 15 Hasil Pengambilan Gambar CCD Kamera


23

Bagian terakhir dari rancangan adalah perangkat lunak pengendali dan pengolah
citra. Komponen-komponen penyusun dari perangkat lunak ini ditunjukkan pada Gambar 15,
yaitu: bagian pengendali, aksusisi dan pengolahan citra, user interface dan manajemen
storage. Pada bagian pengendali, setting tegangan tinggi dan arus serta perintah expose
diambil dari user interface kemudian dikiirim ke mikiokontio User. Sedangkan pada bagian
aksusi data, setting gain, exposure dan lainnya yang berkaitan dengan kamera juga diambil
dari user interface kemudian dilakukan akusisi citra digital melalui antarmuka ethernet.
Selanjutnya pada bagian managemen storage terdiri dari penyimpanan gambar (local harddisk
atau database) dan penyimpanan nilai-nilai setting yang sudah dimasukkan oleh operator.
Untuk memudahkan pengembangan perangkat lunak dan mengantisipas kemungkinan
penggunaan sistem operasi open source, akan digunakan framework .Net yang sudah
didukung oleh sistem operasi komersial maupun open source.

Gambar 16 Komponen pada Perangkat Lunak Pengendali dan Pengolah Citra

2.7 Fungsi dari Flouroscopy


Fungsi utama Flouroscopy adalah untuk menyelidiki fungsi serta pergerakan
suatu organ atau sistem tubuh seperti dinamika alat peredaran darah, misalnya jantung,
dan pembuluh darah besar, serta pernafasan berupa pergerakan diafragma dan aerasi paru
– paru.

2.8 Jenis – Jenis Flouroscopy


Flouroscopy mempunyai 2 jenis yaitu :

A Flouroscopy Konvensional
24

Dilengkapi dengan scatter grid dan spot film device. Flouroscopy konvensional
masih divisualisasikan dalam ruang yang kedap terhadap cahaya dan tingkat kecerahan
terbatas.

Gambar 17 Scatter Grid

Scatter grid digunakan untuk istilahnya mengayak sinar-X dari pasien yang
nantinya akan menghitamkan AgBr film agar gambar yang dihasilkan lebih halus dan
jelas. Sedangkan spot film device adalah tempat untuk penyimpanan film.
25

B Flouroscopy Modern

Gambar 18 Flouroscopy Modern

Fluoroskopi ini divisualisasikan dalam ruang bercahaya dan tingkat kecerahan


tinggi. Dengan menggunakan kamera dan fiber optic maka pemeriksaan dengan
fluoroskopi ini dapat dipantau melalui monitor.
Prosedur kerja pada penyakit :
1. Sebelum prosedur dilakukan
a Dokter akan menjelaskan prosedur dan menawarlan kesempatan untuk
menanyakan bagian yang kurang jelas.
b Pasien akan diminta untuk menandarangani formulir yang menyatkan
persetujuan.
c Doker akan memberikan persiapan yang harus dilakukan sebelum prosedur
dilakukan.
d Pasien memberitahu dokter apabila pernah mempunyai reaksi terhadap zat kimia
kontras atau alergi terhadap iodine.
2. Selama prosedur dilakukan
a Pasien akan diminta untuk memkai baju media bila perlu atau melepas perhiasan.
26

b Substansi kontras bisa saja diberikan, tergantung pada tipe prosedur yang
dilakukan.
c Pasien akan diposisiskan pada meja X-Ray (bila perlu).
d Scanner X-Ray digunakan untuk memproduksi citra flouroskopik.

Dosis radiasi maksimum ke pasien yang diizinkan adalah 10 R/mnt. Untuk


flouroscpy tertentu max eksposi yang diizinkan adalah 20 R/mnt.
A 1-2 R/mnt untuk pasirn dengan tubuh yang tipis yaitu 10 cm.
B 3-5 R/mnt untuk pasien dengan tubuh rata – rata.
C 8-10 R/mnt untuk pasien dengan tubuh yang tebal.
Semakin jauh jarak radiologi dengan pasien maka semakin rendah nilai dosis
serap yang diterima oleh radiolog.

Gambar 19 Penyinaran Secara Flouroscopy

Posisi tabung yang baik yaitu posisi tabung flouroscopy di bawah meja
pemeriksaan, tidak diatas meja pemeriksaan. Jumlah terbesar dari radiasi hambur yang
dihasilkan dari sinar-X memasuki pasien. Keuntungan dari pesawat tube undertable adalah
dengan posisi tabung X-ray dibawah meja pasien, kita dapat mengurangi jumlah radiasi
hambur yang mencapai tubuh bagian atas radiografer atau radiolog dan menghindari sinar
hambur yang mengenai lantai.
27

2.9 Kelebihan Flouroscopy


A Low Cost dibandingkan dengan MRI.
B Bisa melihat secara real time sedangkan yang lain hanya berupa hasil scan
(gambar).
C Membantu pada kasus dislokasi.

2.10 Kekurangan Flouroscopy


A Harga alatnya sangat mahal ( bisa mencapai Rp. 180.000.000,- ).
B Penggunaanya sulit dan memerlukan keterampilan khusus ( operator sudah
tersertifikasi ).
C Tidak memberikan rekord yang permanen seperti layaknya radiograf dan meliputi
resiko radiasi tambahan kepada pasien dan pengamat dapat terekspose sinar-x lebih
lama.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Flouroscopy merupakan sebuah alat kesehatan yang digunakan untuk melihat
organ – oragan yang ada dalam tubuh dan memanfaatkan sinar-X sebagai energinya.
Flouroscopy terdiri dari 3 komponen utama yaitu sinar-X tube generator, image intisifier
dan sistem motoring & vidio. Perancangan pesawat sinar-X dilakukan untuk mengurangi
resiko radiasi pada dokter ataupun operator. Fungsi dari flouroscopy itu sendiri adalah
untuk menyelidiki fungsi serta pergerakan suatu organ atau sistem tubuh seperti dinamika
alat peredaran darah, misalnya jantung, dan pembuluh darah besfloar, serta pernafasan
berupa pergerakan diafragma dan aerasi paru – paru. Ada dua jenis flouroscopy yaitu
flouroscopy konvensioal ( penggunaanya di dalam ruangan yang minim cahaya ) dan
flouroscopy modern ( penggunaanya dalam ruangan yang tingkat kecahayaanya tinggi ).
Kelebihan dari penggunaan flouroscopy adalah Low Cost dibandingkan dengan MRI, bisa
melihat secara real time sedangkan yang lain hanya berupa hasil scan (gambar) dan
membantu pada kasus dislokasi. Sedangkan kekurangan dari penggunaan flouroscopy
adalah harga alatnya sangat mahal ( bisa mencapai Rp. 180.000.000,- ), penggunaanya
sulit dan memerlukan keterampilan khusus ( operator sudah tersertifikasi ), tidak
memberikan rekord yang permanen seperti layaknya radiograf dan meliputi resiko radiasi
tambahan kepada pasien dan pengamat dapat terekspose sinar-x lebih lama

28
DAFTAR PUSTAKA

Amanda. (t.thn.). Bahan Makalah Flouroscopy. Diambil kembali dari


https://id.scribd.com/document/349242158/bahan-makalah-fluoroskopi

I Putu Susila, F. S. (2010, November 30). Rekayasa Pesawat Sinar-X Flouroscopy. Diambil
kembali dari
http://www.iaea.org/inis/collection/NCLCollectionStore/_Public/46/116/46116480.pdf

Mulyana, V. A. (2013, Oktober 16). Radiologi, Computere dan Teknologi. Diambil kembali
dari http://thinksofradiology.blogspot.co.id/2013/10/florouscopy.html

Pusat Radiologi Indonesia. (t.thn.). Diambil kembali dari


https://web.facebook.com/RadiologiIndonesia/posts/465898446761227?_rdc=1&_rdr

Pusat Radiologi Indonesia. (2012, Agustus 7). Diambil kembali dari


https://web.facebook.com/RadiologiIndonesia/posts/465898446761227?_rdc=1&_rdr

Rhyni. (2015, mei 30). Flouroskopi. Diambil kembali dari X-Ray:


http://raturhyni.blogspot.co.id/2015/05/fluoroskopi.html

Sejarah Ditemukannya Sinar-X Sinar Rontgen untuk Keperluan Medis dan Sebagainya.
(2014, Desember 30). Diambil kembali dari http://felt-o-
licious.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-ditemukannya-sinar-x-sinar.html

29