Anda di halaman 1dari 10

Kode Etik Profesi Akuntan Menuju Era Global

RESUME

Oleh :

Destoe Christanto (170810301178)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JEMBER

2017
TANTANGAN PROFESI AKUNTAN GLOBAL
Dua persoalaan di bidang audit dan akuntansi yang belum sepenuhnya dapat mendukung
kearah kesatuan ekonomi global yaitu:
1. Setiap negara masih mempunyai prinsip akuntansi dan standar audit sendiri-sendiri, yang
terkadang berbeda antara negara satu dengan negara lainnya.
2. Profesi akuntan di dunia belum sepenuhnya serius dalam mengembangkan standar
perilaku etis profesi akuntansi.

Pada abad ke-20, dapat dikatakan ada tiga aliran akuntansi dan audit yang dominan diterapkan
oleh perusahaan atau organisasi, yaitu:
a. Sistem Anglo-Saxon yang dimotori oleh AS,
b. Sistem Kontinental yang berlaku di Belanda, Jerman, dan beberapa Negara Eropa lainnya,
c. Sistem yang berlaku di Inggris dan Negara-negara persemakmuran.

Pihak-pihak, badan, atau lembaga yang selama ini berkaitan langsung dengan profesi
akuntansi, antara lain:
a. Pemerintah dan Lembaga Legeslatif melalui produk peraturan dan perundang-undangan
b. Badan pengatur/otoritas pasar modal (Bapepam LK, BEI, SEC, NYSE, dan lain-lain)
c. Organisasi profesi akuntan di masing-masing negara (IAI, IAPI, AICPA, AAA, CICA,
IMA, dan lain-lain)
d. Badan atau Organisasi mandiri Internasional (IFAC dan IASB)
e. Para pemakai/pengguna laporan keuangan dan sebagainya.
KODE ETIK PROFESI AKUNTAN DI AS
Sebagaimana dikatakan oleh Duska dan Duska (2005), sedikitnya ada enam manfaat dari kode
etik profesi, yaitu:
1. Dapat memberikan motivasi melalui penggunaan tekanan dari rakan sejawat (peer
pressure)
2. Dapat memberikan pedoman yang lebih stabil tentang benar atau salah dari pada
mengandalkan kepribadian manuasiawi atau keputusan yang selalu bersifat ad hoc.
3. Dapat memberikan tuntunan, terutama dalam menghadapi situasi yang abu-abu
(ambiguous situations).
4. Kode etik tidak saja dapat menuntun perilaku karyawan (employees), namun dapat juga
mengawasi kekuasaan otokrasi atasan (employers)
5. Kode etik dapat merinci tanggung jawab sosial perusahaan itu sendiri
6. Kode etik sebenarnya untuk kepentingan bisnis itu sendiri, kalau bisnis tidak mau
mengawasi perilaku dirinya sendiri, maka pihak lain yang akan bertindak mengawasinya.

Tabel 8.1
Ringkasan Prinsip-prinsip dan aturan etika AICPA

Prinsip-prinsip
1. Tanggung Jawab: Dalam menjalankan tanggung jawab sebagai seorang profesional,
anggota harus menjalankan pertimbangan moral dan profesional secara snsitif (Artikel
1).
2. Kepentingan Publik: Anggota harus menerima kewajiban mereka untuk bertindak
sedemikian rupa demi melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik,
dan menunjukan komitmen atas profesionalisme (Artikel II).
3. Integritas: Untuk memelihara dan memperluas keyakinan publik, anggota harus
melaksanakan semua tanggung jawab profesinal dengan ras integritas tertinggi (Artikel
III)
4. Objektivitas dan Independensi: Seorang anggota harus memelihara objektivitas dan
bebas dari konflik kepentingan dalam menunaikan tanggung jawab profesional. Seorang
anggota dalam praktik publik seharusnya menjaga independensi dalam fakta dan
penampilan saat memberikan jasa auditing dan atestasi lainnya (Artikel IV).
5. Kehati-hatian (due care): Seorang anggota harus selalu mengikuti standar-standar
etika dan teknis profesi terdorong untuk secara terus menerus mengembangkan
kompetensi dan kualita jasa, dan menunaikan tanggung jawab profesional sampai
tingkat tertinggi kemampuan anggota yang bersangkutan (Artikel V).
6. Ruang Iingkup dan Sifat Jasa: Seorang anggota dalam praktik publik harus mengikuti
prinsip-prinsip kode Perilaku Profesional dalam menetapkan ruang lingkup an sifat jasa
yang diberikan (Artikel VI).
Aturan Etika AICPA
101 Independensi 302 FEE Kontigen
102 Integritas & Objektivitas 501 Tindakan mendiskreditkan
201 Standar umum 502 Advertensi dan solisitasi
202 kesesuaian dengan standar 503 komisi dan Fee rujukan
203 prinsip akuntansi 505 bentuk dan nama organisasi
301 informsi klien rahasia

KODE ETIK PROFESI AKUNTAN DI BEBERAPA NEGARA DILUAR AS


Tabel 8.2
Ringkasan Kode Etik Profesi Akuntan Kanada

Pendahuluan Meliputi filosofi yang melandasi aturan yang mengikat


tanggung jawab seorang Chartered Accountant.
Karakter seorang Delapan unsur, termasuk subordinasi kepentingan pribadi atas
profesional kepentingan publik
Prinsip-prinsip yang  Berasal dari kepercayaan publik atas kewajaran laporan
mengatur perilaku anggota keuangan dan nasihat yang kompenten atas berbagai
dan mahasiswa masalah bisnis.
 Memelihara reputasi, baik profesi maupun kemampuannya
untuk melayani kepentingan publik.
 Menjalankan integritas, kehati-hatian, kompetensi
profesional yang cukup, dan mematuhi berbagai peraturan.
 Tidak ada pengaruh, kepentingan, atau hubungan yang
dapat mencederai penilaian profesional atu objektivitas,
atau kesan demikian dari pengamat yang berakal sehat.
 Kewajiban untuk merahasiakan dan tidak mmanfaatkan
informasi uang berkaitan dengan urusan klien.
 Pengembangan praktik berdasarkan keunggulan
profesional, bukan atas dasar promosi pribadi.
 Menunjukkan rasa hormat dan pertimbangan dalam
berhungan dengan rekan sejawat.
 Memperhatikan kewajiban fidusa dan kewajiban
profesional yang diperlukan
Prinsip-prinsip yang  Menciptakan, memelihara, serta mempertahankan
mengatur tanggung jawab kebijakan dan prosedur yang sesuai dengan peraturan yang
firma berlaku.
 Kegagalan dalam mematuhi peraturan akan memicu
sanksi untuk firma secara keseluruhan atau untuk partner
yang mengetahui dan bertanggung jawab.
Karakter pribadi dan kode  Mengikuti prinsip-prinsip dan aturan etika, perilaku
etik terhormat melampaui larangan-larangan tertulis.
Penerapan aturan etika  Untuk semua anggota yang berpraktik sebagai akuntan
publik, dan/atau dimana publik dan/atau asosiasi
mengandalkan individu berdasarkan keanggotaanya di
ICAO.
 Kepada bukan anggota yang diawasi oleh atau bersekutu
dengan anggota
 Di dalam yuridiksi di luar Ontario, anggota harus
menghormati peraturan lokal, tetapi tidak menjelekkan
ICAO.
Interpretasi aturan etika  Aturan etika harus diinterpretasikan sejalan dengan
persoalan yang dikemukakan pada pendahuluan.
Aturan Etika
 Umum
 Standar-standar yang memengaruhi kepentingan publik
 Hubungan dengan anggota atau firma sejawat dan perikatan dengan non-anggota dalam
akuntansi publik
 Organisasi dan perilaku seseorang praktisi profesional
 Aturan yang berlaku bagi firma

SARBANES-OXLEY ACT
Badan skandal keuangan yang mempertontonkan pelanggaran etika secara nyata yang
dilakukkan oleh para eksekutif puncak perusahaan-perusahaan publik multinasional yang
berkantor pusat di AS yang juga melibatkan profesi akuntan publik ternama, sempat
mengguncang saham dan dunia perekonomian AS.
Tabel 8.2
Ringkasan Sarbanes-Oxley Act 2002 dan Dampaknya

1. Sabarnes Oxley Act 2002 ditujukan untuk memberikan kejelasan dan kepastian tentang
beberapa isu yang sering diperdepatkan.
2. Sabarnes Oxley Act memerlukan interprestasi melalui proses aturan SEC dan Public
Company Accounting Oversight Board.

DAMPAK SABARNES OXLEY ACT 2002


1. TERHADAP MANAJEMEN
1.1 Mengharuskan adanya setifikasi CEO/CFO atas laporan berkala yang disampaikan
ke SEC.
1.2 Laporan Internal Control
1.3 Pengungkapan baru yang diharuskan
1.4 Reformasi Corporate Governance
1.5 Meningkatkan tinjauan atas penyampaian (fillings) oleh SEC.

2. TERHADAP KOMITE AUDIT


2.1 Interaksi dengan auditor
2.2 Independensi dan keahlian komite audit
2.3 Keluhan dan saran
2.4 Persetujuan terdahulu

3. TERHADAP AKUNTAN PUBLIK


3.1 Membentuk Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB)
3.2 Melarang jasa nonaudit
3.3 Perputaran partner
3.4 Laporan kepada komite audit
3.5 Penugasan auditor
3.6 Studi tentang kewajiban perputaran kantor akuntan publik

KODE ETIK PROFESI AKUNTAN : INTERNATIONAL FEDERATION OF


ACCOUNTANT S (IFAC)
Struktur dan Kerangka Dasar Kode Etik IFAC
Untuk lebih memahami kode etik yang diterapkan oleh IFAC ini, maka Brooks (2007)
memberikan pendekatan cara memahami filosofi Kode Etik IFAC sebagai berikut:
1. Memahami Struktur Kode etik.
2. Memahami Kerangka Dasar Kode etik untuk melakukan penilaian yang bijak.
3. Proses menjamin indenpendensi pikiran dan indenpendensi penampilan.
4. Pengamanan untuk mengurangi resiko situasi konflik kepentingan.

Kerangka dasar Kode Etik IFAC sebagaimana dilukiskan pada Gambar 8.1 dan Gambar 8.2
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Melayani kepentingan publik.
2. Melayani kepentingan publik dari arti luas.
3. Profesionalisme,kinerja dan kepentingan publik.
4. Kredibilitas, profesionalisme , kualitas jangka tinggi, kerahasiaan.
5. Integritas, obyektif, integritas, objektifitas, kompetensi profesional dan kehati-hatian,
kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis.
6. Sikap indenpenden.
Gambar 8.1
Struktur Kode Etik IFAC

kewajiban kepada masyarakat


pelayan kepentingan publik

objektif
memenuhi harapan profesionalisme
kinerja, kepentingan publik

kebutuhan dasar:
kredibilitas, profesionalisme, jasa kualitas
tertinggi, kerahasiaan

Prinsip-prinsip fundamental:
Integritas, Objektifitas, Kompentensi profesional,
dan Kehati-hatian, perilaku profesional ,dan
standar teknis

Gambar 8.2
Kerangka Dasar Kode Etik IFAC

1.MELINDUNGI KEPENTINGAN PUBLIK


2.JASA PROFESIONAL KEPADA KLIEN

PENILAIAN

INTEGRITAS OBJEKTIVITAS SKEPTIME


PROFESIONAL

INDEPENDENSI PIKIRAN DAN PENAMPILAN

Pengamanan untuk mengurangi risiko situasi konflik kepentingan:


1. Pengamanan melalui profesi, legislasi, dan regulasi.
2. Pengamanan di dalam klien.
3. Pengamanan yang menyangkut sistem dan prosedur di dalam firma.

Prinsip-prinsip Fundamental Etika


Prinsip-prinsip Fundamental Etika terdiri atas:
a. Integritas (integrity)
b. Objektivitas (objectivity)
c. Kompetensi profesional kehati-hatian.
d. Kerahasiaan (confidentiality)
e. Perilaku profesional (professional behavior)

Independensi
Independensi dalam pikiran adalah suatu keadaan pikiran yang memungkinkan
pengungkapan suatu kesimpulan tanpa terkena pengaruh yang dapat mengompromikan
penilaian profesional, memungkinkan seorang individu bertindak berdasarkan integritas, serta
menerapkan objektivitas dan skeptisme profesional. Independensi dalam penampilan adalah
penghindaran fakta dan kondisi yang sedemikian signifikan sehingga pihak ketiga yang
paham dan berfikir rasional—dengan memiliki pengetahuan akan semua informasi yang
relevan, termasuk pencegahan yang diterapkan—akan tetap dapat menarik kesimpulan bahwa
skeptisme profesional, objektivitas, dan integritas anggota firma, atau tim penjaminan
(assurance team) telah dikompromikan.

Ancaman terhadap Independensi


Seperti telah diungkapkan sebelumnya, ancaman terhadap independensi dapat berbentuk:
a. Kepentingan diri (self-interest)
b. Review diri (self-review)
c. Advokasi (advocacy)
d. Kekerabatan (familiarity)
e. Intimidasi (intimidation)

Ancaman Independensi Akuntan Publik


Contoh langsung ancaman kepentingan diri untuk akuntan publik, antara lain, namun tidak
terbatas pada:
 Kepentingan keuangan dalam perusahaan klien, atau kepentingan keuangan bersama pada
suatu perusahaan klien.
 Ketergantungan yang tidak wajar pada total fee dari suatu klien.
 Memiliki hubungan bisnis yang sangat erat dengan klien.
 Kekhawatiran berlebihan bila kehilangan suatu klien.
 Potensi akan dipekerjakan oleh suatu klien.
 Fee kontinjensi sehubungan dengan perikatan penjaminan (assurance engagement).
 Ada penjamin dari/atau kepada klien penjaminan, atau kepada/dari direktur atau pejabat
dari klien (IFAC, 200.4).

Pengamanan terhadap Ancaman


Ada dua kategori pokok pengamanan terhadap Ancaman Independensi, yaitu:
a. Pengamanan melalui profesi, legislasi, atau regulasi.
b. Pengamanan lingkungan kerja (IFAC, 100.11).

Pengamanan di temapt kerja untuk akuntan bisnis, antara lain, namun tidak terbatas pada:
 Penerapan struktur pengawasan korporasi (corporate oversight or oversight structure).
 Pedoman kode etik perilaku organisasi.
 Pedoman perekrutan yang menekankan pentingnya merekrut tenaga dengan kompetensi
tinggi.
 Pengendalian internal yang kuat.
 Proses pendisiplinan yang memadai.
 Kepemimpinan yang berbasis etika.
 Kebijakan dan prosedur pelaksanaan dan pemantauan kinerja karyawan.
 Komunikasi tepat waktu tentang berbagai kebijakan dan prosedur termasuk perubahannya
ke seluruh karyawan disertai pelatihan dan pendidikan yang memadai tentang kebijakan
dan prosedur yang ada (IFAC, 300.16).

Bagian B: Kode Etik Akuntan Publik


Daftar isi dan kode Bagian B adalah:
200 Pendahuluan
210 Penunjukan Profesional dan Penerimaan Klien
220 Konflik Kepentingan
230 Pendapat Kedua (Second Opinion)
240 Fee dan Jenis Imbalan Lainnya
250 Pemasaran Jasa Profesional
260 Hadiah dan Keramahtamahan
270 Penyimpanan Aset Klien (Custody of Client Assets)
280 Objektivitas Semua Jasa
290 Independensi Perikatan Penjaminan (Assurance Engagement)

Bagian C: Kode Etik Akuntan Bisnis


Daftar isi dan kode Bagian C ini adalah:
300 Pendahuluan
310 Potensi Konflik
320 Penyusunan dan Pelaporan Informasi
330 Bertindak dengan Keahlian yang Memadai

PROFESI AKUNTAN INDONESIA DAN IFAC


Saat ini profesi akuntan di Indonesia, baik akuntan publik maupun akuntan manajemen,
mengikuti standar kompetensi yang berlaku di AS. Namun dengan kecenderungan terjadinya
penyatuan sistem perekonomian dunia, mau tidak mau seluruh profesi akuntan di dunia juga
harus mendukung ke arah penyatuan sistem ekonomi global tersebut. Kabar terakhir pengurus
IAI bertekad untuk sesegera mungkin agar profesi akuntan Indonesia mengadopsi standar
teknis dan perilaku yang dikeluarkan oleh International Federation of Accountants (IFAC).